Moderasi Islam dalam Musik Metal

Oleh Putrawan Yuliandri

Membincang Islam dalam beragam artefak kebudayaan populer Indonesia kontemporer (termasuk di dalamnya musik metal) merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan. Selain karena faktor mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim (Maarif dikutip dalam Wahid, 2009: 7). Dinamika politik di masa akhir rezim Orde Baru yang membangun hubungan mesra dengan Islam menentukan perkembangan politik Islam selanjutnya, baik di masa awal pasca Orde Baru – hingga saat ini (Heryanto, 2012: 19). Hasilnya adalah peningkatan politik Islami di kalangan masyarakat Indonesia yang terus-menerus menguat. Hal ini ditandai dengan maraknya simbol-simbol Islam di ruang publik, penerapan hukum Syariah di beberapa daerah dan peningkatan gaya hidup Islami dikalangan masyarakat muda perkotaan (Heryanto, 2015).

Dalam konteks yang lebih luas, realita ini membingkai narasi besar kebangkitan Islam (Islamisasi) di Indonesia, atau bahkan sebuah kondisi atau proyek post-Islamisme (Bayat, 2002 dikutip dalam Heryanto, 2015). Gejala ini dapat dilihat melalui praktik Islamisasi yang lebih luwes dalam ranah kebudayaan populer. Seperti misalnya, banyaknya kaum muda perkotaan yang ingin tetap menikmati selera kebudayaan dan kemerdekaan terhadap modernitas, tanpa mengorbankan keimanannya atau status identitasnya sebagai pemeluk Islam (Heryanto, 2015: 53).

Konser musik metal sebagai proyek Islamisasi

Minggu 30 Oktober 2016 di Bulungan Outdoor, tempat yang tidak asing bagi penikmat musik metal atau metalhead untuk melakukan ritus kulturalnya yakni, menonton konser. Bagi seorang metalheadseperti saya, Kawasan Bulungan Jakarta Selatan menjadi semacam simbol para metalhead Jakarta merebut ruang publik sekaligus menunjukkan eksistensinya. Menjelang tengah malam, saya menyaksikan penyerahan donasi uang sebesar Rp. 54.361.000,- untuk korban perang saudara di Suriah. Rencananya, dana tersebut akan digunakan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), sebuah organisasi kemanusiaan di bidang medis, untuk membeli sebuah unit mobil ambulans, melalui program MER-C “Ambulance(s) and Medical Aid for Syria”. Hadir di atas panggung adalah Husein Alatas (runner up Indonesian Idol 2014 sekaligus vokalis Children of Gaza) yang secara simbolik menyerahkan baki berisi uang kepada Ir. Faried Thalib (Presidium MER-C) dan Ir. Idrus M. Alatas (Ketua Divisi Konstruksi MER-C)[1].

Penyerahan dana dari hasil penjualan tiket dan lelang merchandiseband ini merupakan susunan acara terakhir dari konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria” yang diprakarsai oleh Metalheads Respect. Metalheads Respect adalah sebuah simpul kolektif dari para grup musik metal yang secara sukarela mengadakan konser amal untuk menghimpun dana. Mengusung slogan “dari metalheads, oleh metalheads untuk kemanusiaan”, konser-konser ini diadakan sebagai bentuk solidaritas komunitas metal terhadap beragam musibah yang terjadi di dunia dan Indonesia.

Ketika saya mewawancarai Mehdy, vokalis Melody Maker dan pengisi acara tersebut, ia menyatakan:

“Acara ini adalah murni salah satu bentuk aksi peduli kemanusiaan dari anak-anak metal kepada korban perang saudara di Suriah. Suriah adalah negara Muslim, saudara kita yang sedang dalam musibah. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak turun tangan membantu mereka. Sama seperti beberapa event charity sebelumnya untuk Palestina dan Rohingya[2].”

Saya tertegun dan cukup takjub mendengar pernyataan Mehdy yang memiliki empati luar biasa terhadap saudara Muslim di Suriah. Dalam benak saya kemudian, walaupun dibalut dengan aksi kemanusiaan, narasi kontemporer kebudayaan populer seperti ini setidaknya membingkai diskursus antara musik metal dan wacana kebangkitan Islam (Islamic Revivalism).

Meskipun bukan hal baru, preseden lain yang serupa namun bernuansa kental dengan praktik idoleogisasi Islam dalam musik metal telah terjadi sebelumnya pada awal 2010 lalu melalui beberapa momentum. Momentum pertama, melalui konser yang bertajuk Urban Garage Festival I. Acara konser musik yang diselenggarakan pada Maret 2010 di Rossi Music Center Fatmawati Jakarta Selatan ini menjadi penanda kemunculan gerakan politik kebudayaan Islam yang muncul dalam ranah musik metal.

Salah satu musisi metal senior yang menggaungkan gerakan baru ini adalah Ombat, vokalis dari kelompok musik metal Tengkorak. Dalam konser tersebut, ia mengumandangkan pergantian simbol metal yang tadinya berbentuk ‘kepala kambing’ atau biasa disebut baphomet[3], dengan salam tauhid satu jari yang berarti ikrar untuk mempercayai bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Esa. Menurut Ombat:

“Tidak ada patokan dalam simbol-simbol budaya metal. Simbol metal yang selama ini lekat dengan representasi kepala kambing (baphomet) merupakan simbol setan atau simbol yang digunakan oleh kaum Satanis (penyembah setan). Kita sebagai umat Islam tentu saja berperang dengan setan, makanya kita menggunakan simbol Tauhid. Kita tidak mau dijajah oleh budaya Barat melalui musik metal. Makanya, dengan budaya mereka kita menyerang balik. Kita ubah lirik lagu kita,  perilaku kita, kita jalanin juga agama kita”[4].

Melalui momentum tersebut, Ombat dan Tengkorak menyatakan dimulainya gerakan “Salam Satu Jari.”

Momentum kedua adalah acara lanjutan Urban Garage Festival II yang diadakan di lapangan basket SMA Yayasan Pendidikan Islam 45 di bilangan Bekasi, pada tanggal 16 Oktober 2010. Di sela-sela konser, para pengisi acara dan penonton shalat Isya berjamaah langsung di lapangan tersebut, bukan di Mushalla atau Masjid yang berada di lokasi konser. Grup musik yang tampil dalam acara ini serupa seperti kelompok musik yang tampil pada Urban Garage  Festival I. Yakni, grup musik metal yang memegang ideologi Islam, seperti Tengkorak, Purgatory, Children of Gaza, The Roots of Madinah, Qishash, Melody Maker dan lain sebagainya. Patut dicatat bahwa hasil penjualan tiket dari kedua konser ini didonasikan untuk membantu umat Muslim korban perang di Palestina.

Momentum selanjutnya yang tidak kalah penting, terjadi pada tanggal 25 Juli 2012. Salah satu grup musik kenamaan dalam kancah metal, Purgatory, memprakarsai konser yang bertajuk Approach Deen Avoid Sins I (ADAS I)[5]. Konser Approach Deen Avoid Sins I atau Dekati Agama Jauhi Dosa I dirancang sebagai sebuah ikhtiar restorasi keislaman dan syiar di kalangan metalheads. Dalam konser ini, Purgatory juga menyerukan untuk kembali ke “titik nol”, yaitu sebuah upaya sekaligus semangat untuk memulai dari awal gerakan perubahan budaya musik metal yang jauh dari nilai-nilai Islam dan mengembalikan Islam sebagai satu-satunya cara hidup.

Sekilas, suasana dalam tiga konser itu (Urban Garage Festival I, II dan ADAS I) tak jauh beda dengan konser metal pada umumnya: dipadati oleh metalheads berbaju hitam, berambut gondrong dan diringi dengan gemuruh musik. Namun, beberapa hal yang membedakan ialah adanya peraturan yang melarang para metalhead untuk mabuk-mabukan dan melakukan “tindakan pornoaksi” di lokasi konser. Selain itu, grup musik metal yang tampil tidak diizinkan untuk membawakan tema-tema lagu dan orasi yang bersifat atheis, bertentangan dengan nilai agama, berpotensi memecah-belah, mencemooh agama lain, dan mempromosikan paham-paham liberal, sekuler, dan lain sebagainya. Tradisi baru yang marak pada ketiga konser tersebut adalah adanya orasi kegamaan (Islam) dari grup musik yang tampil, dan sekali-sekali diselingi oleh pekikan takbir para metalhead.

Mengapa Konser?

Secara global, tradisi penyalahgunaan narkoba dan minuman keras di kalangan penonton maupun kelompok musik metal menjadi ritus yang tidak dapat dilepaskan dari peristiwa konser musik metal. Praktik subkultural adalah bentuk dari ekspresi akan kebebasan dan keluarnya para partisipan dari penindasan budaya dominan (Arnett, 1995). Selain itu, hal-hal dengan kecenderungan ‘negatif’ yang kerap diperlihatkan oleh budaya musik metal, merupakan gambaran psikologi sosial terhadap budaya kaum muda baik itu musisi ataupun penikmat musik metal (metalheads). Pada awal kemunculannya, tak dapat dipungkiri bahwa anak muda yang terlibat dalam kancah musik metal memiliki hasrat akan sensasi yang tinggi dan kehendak melakukan hal-hal yang baru, termasuk menyalahgunakan narkoba dan minum-minuman keras (Arnett, 1996: 80).

Kontras terhadap tradisi kultural yang dipraktikkan secara global, band seperti Purgatory dan Tengkorak ‘meminjam’ idiom kultural musik metal serta konser untuk menyebarluaskan syiar Islam. Walaupun terkesan paradoks, praktik apropriasi seni ini berhasil memantik perdebatan di ranah metal Indonesia. Kecendrungan paradoksikal ini dapat dilihat dari narasi ambivalen yang saya uraikan di atas. Para metalheads Satu Jari dengan senang hati menjadikan musik metal sebagai ‘kendaraan’ untuk berdakwah. Di sisi lain, mereka menolak elemen-elemen ekstra-musikal yang melekat dengan subkultur metal, yang dinilai tidak sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai agama Islam.

Dalam konteks kekinian, konsistensi syiar tetap tercermin pada salah satu grup musik metal, Purgatory. Selain terus terlibat dalam konser musik yang bertema Islam, mereka juga menginisiasi tradisi baru dalam praktik subkultural musik metal: membuat kelompok-kelompok diskusi dan kajian agama Islam. Walaupun diskusi ini dibuka untuk umum, mereka yang hadir dalam diskusi ini kebanyakan adalah MOGERZ, singkatan dari Messenger of God Lovers or Followers, julukan untuk fans Purgatory dan siapapun yang mengidentifikasi dirinya sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan data terakhir yang diakses melalui fanpage atau grup publik di laman Purgatory’s Official Group of Mogerz, pengajian sekaligus fansclub ini telah memiliki 10.545 anggota[6].

Penutup: Genre Baru – Metal Islam

Wacana penggabungan metal dan Islam (Metal Islam) yang digaungkan oleh grup musik Purgatory, Tengkorak, Melody Maker dan lain sebagainya dapat dilihat sebagai respon dan resistensi mereka terhadap hegemoni Barat. Hegemoni praktik kebudayaan Barat yang umumnya bercorak sekuler menjadi tantangan tersendiri tak hanya bagi pelaku subkultur metal Islam, namun juga bagi umat Islam secara umum.

Persoalan ini terangkum dalam pertanyaan klasik identitas Islam saat ini, yakni tantangan Islam dalam menghadapi modernitas. Islam dinilai harus selalu mawas diri terhadap berbagai dinamika dan perubahan sosio-kultural. Mengutip pemikiran Nurcholis Madjid, Islam adalah agama yang mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Islam memberi peluang bagi berlangsungnya perubahan dalam orientasi keagamaan dan kulturalnya, seperti tanggapannya terhadap tantangan waktu dan tempat, dan adaptasinya terhadap lingkungan temporal dan spasial yang berbeda beda (Madjid dikutip dalam Woodward, 1999: 105).

Gagasan Nurcholis Madjid merujuk pada salah satu surat dalam AlQuran (QS 2:62) yang menyatakan bahwa, “Kami tidak pernah mengutus seorang Utusan pun kecuali (untuk memberi pelajarandengan bahasa kaumnya, agar ia dapat membuat (segala sesuatunyajelas bagi mereka”.

Kemudian Nurcholis Madjid juga mengutip penafsiran Yusuf Ali dalam “The Holy Quran” atas ayat ini, berikut kutipannya:

Jika Pesan Suci (Risallah) adalah membuat sesuatu menjadi terang, maka ia harus disampaikan dalam bahasa yang digunakan di tengah masyarakat, yang kepada merekalah utusan itu dikirim. Melalui masyarakat tersebut, Pesan Suci itu dapat mencapai seluruh umat manusia. Bahkan ada pengertian yang lebih luas untuk ‘bahasa’. Ia tidak semata-mata masalah abjad, huruf, atau kata-kata. Setiap zaman atau masyarakat – atau dunia dalam pengertian psikologis – membentuk jalan pikirannya dalam cetakan atau bentuk tertentu. Pesan Suci Tuhan, karena bersifat universal, dapat diungkapkan dalam semua cetakan dan bentuk, dan sama-sama absah dan diperlukan untuk semua tingkatan manusia, dan karena itu harus diterangkan kepada masing-masing sesuai dengan kemampuannya atau daya penerimaannya. Dalam hal ini, Al-Quran menakjubkan. Ia sekaligus untuk orang yang paling sederhana dan untuk orang yang paling maju (Ali dikutip dalam Woodward, 1999: 106).

Keluwesan dan sifat universal AlQuran ini menjadikannya dinilai mampu beradaptasi dengan lingkungan kultural manapun – termasuk subkultur metal. Praksis musik metal Islam ini dinilai berhasil manakala banyak anak muda di subkultur metal merasa tergugah untuk kembali pada nilai-nilai Islam, tanpa berusaha keluar dari jalur musiknya.

Meski kondisi ini jelas paradoks, sentimen para metalheads Satu Jari tak jauh beda dengan pemikiran Madjid: ‘meminjam’ simbol-simbol budaya metal demi syiar Islam adalah praktik yang diperbolehkan, karena Islam sendiri dipandang sebagai agama yang universal dan mampu beradaptasi. Namun, mengutip Gellner (1981), upaya modernisasi Islam ini “harus berlangsung tanpa merusak keaslian dan otentisitasnya sebagai agama wahyu.”

Praktik pencipataan wacana Islam melalui musik metal yang dilakukan oleh kelompok Metal Satu Jari telah menjadi jalan para penikmat musik metal secara umum dalam membentuk identitas individualnya maupun identitas kolektifnya. Budaya populer – dalam hal ini musik metal – menjadi jalan para metalheads lokal untuk menemukan kembali nilai-nilai agama.

Terlepas dari soal apakah Metal Satu Jari berpotensi menjadi hegemoni baru di ranah musik metal Indonesia, metal Islam sebagai produk moderasi dapat dimaknai sebagai perkembangan genre baru dalam musik metal lokal.

 


Tentang Penulis

*Putrawan Yuliandri adalah lulusan Pascasarjana Fakultas Komunikasi UI. Pernah menjadi musisi metal bersama band Disagree. Memiliki minat yang tinggi pada kajian mengenai musik metal dan subkultur. Saat ini sedang menyelesaikan proyek buku mengenai musik metal dan Islam.

 


Catatan Kaki

[1] MER-C menjadi satu-satunya lembaga nirlaba penyalur dana sumbangan pada konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria”. Selain pada konser ini, MER-C juga pernah ikut menyalurkan dana sumbangan pada konser sebelumnya yaitu untuk membantu korban di Gaza Palsetina. Ulasan lengkap dapat dilihat melalui tautan dari laman : http://www.merc.org/index.php/Id/component/k2/item/791-dari-para-pecinta-musik-metal-untuk-suriah(diakses pada 27/05/2017)

[2] Kutipan ini adalah hasil obrolan saya di lokasi konser dengan Mehdy vokalis Melody Maker dan dilanjutkan dengan wawancara informal melalui email pada 24/11/2016

[3] Perdebatan mengenai simbol Baphomet (kepala kambing) sebagai simbol metal masih terus berlangsung, benang merah yang dapat ditarik mengenai sisi historisitas simbol ini, merujuk pada film dokumenter karya Samuel Dunn, Scot McFayden & Jessica Joy Wise (2005), yang berhasil mewawancarai Ronnie James Dio. Dio digadang-gadang sebagi orang yang menemukan dan mempopulerkan simbol Baphomet, sebagai sebuah simbol dari budaya metal. Dalam wawancara tersebut, Dio menjelaskan bahwa, simbol Baphomet atau tanduk kambing ini memiliki arti khusus yang diberikan oleh neneknya yang berasal dari Italy, sebagai sebuah simbol pertahanan diri dari niat jahat seseorang, kemudian simbol ini dipopulerkan Dio ketika konser-konser dihadapan para metalheads, hingga akhirnya diikuti olehmetalheads sebagai sebuah simbol metal. Kemudian, kontroversi mengenai simbol ini berlanjut, ketika simbol ini digunakan juga oleh Anton Szandor LaVey, seorang tokoh pendiri gereja setan (Church of Satan), sebagai tanda salam ketika menyembah Lucifer (iblis tertinggi), untuk lebih jelas mengenai Church Of Satan dapat dilihat pada situs: http://www.churchofsatan.com/pages/BaphometSigil.html (diakses pada 3/5/2016)

[4] Pernyataan ini adalah wawancara mendalam saya dengan Muhamad Hariadi Nasution atau yang akrab disapa Ombat pada 17 November 2012. Selain menjadi vokalis Tengkorak, Ombat juga disibukan dengan profesinya sebagai pengacara, wawancara ini pun dilakukan di kantor pengacara Ombat di Pesanggarahan Jakarta Selatan.

[5] Lihat ulasan lengkap mengenai konser Approach Deen Avoid Sins 1 versi Republika Online melalui situs:http://aqse2.blogspot.co.id/2010/08/republika-deen-avoid-sins.html diakses pada tanggal 3 Mei 2016

[6] diakses melalui laman fanpage Purgatory di facebook https://www.facebook.com/groups/78955924242/?fref=ts pada bulan Juni 2016

 


Daftar Pustaka

Gellner, Ernest. 1981. “Muslim Society.” Cambridge: Cambridge University Press.

Heryanto, Ariel (ed.). 2012. “Budaya Populer di Indonesia: Mencairnya Identitas Pasca Orde Baru.” Yogyakarta: Jalasutra

Heryanto, Ariel. 2015. “Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia.” Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.

Wahid, Abdurrachman (ed.). 2009. “Ilusi Negara IslamEkspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia.” Jakarta: The Wahid Institute

Wenstein, Deena. 2000. “Heavy MetalThe Music and Its Subcultures.” Cambridge: Da Capo Press.

Woodward, Mark R. Ed. 1999. “Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia” (Terjemahan Ihsan Ali Fauzi). Bandung: Mizan

Arnett, Jensen, Jeffrey. 1996. “Metalheads: Heavy Metal Music And Adolescent Alienation.” Boulder: West View Press

Sumber: Ruang Gramedia

Nada Perlawanan Filastine & Nova

Ada satu permintaan khusus dari panitia ketika Filastine & Nova tampil di Calais Jungle, salah satu kamp pengungsian terbesar di Eropa. “Panitia bilang, penonton sangat ingin kami memulai konser tepat waktu,” tutur Grey Filastine. “Rupanya, setelah konser usai para penonton yang juga pengungsi ingin menghabiskan malam itu memanjat pagar perbatasan dan mencari tumpangan di truk atau kereta api.”

“Kami melempar £00T, uang masa depan yang kami ciptakan sendiri, di penutupan setiap konser,” ungkap Grey. Namun, melempar uang kertas palsu di ruangan sempit penuh pengungsi perang rupanya bukan ide bagus. Dua musisi yang tampil di kelompok tersebut nyaris sesak nafas diinjak-injak oleh massa. Ketika THUMP menemui Grey pada tahun 2016, ia berseloroh tanpa bermaksud sarkas: “Sebenarnya, penonton konser malam itu sempurna.”
Pada tahun 2009, Grey – seorang aktivis dan produser asal Amerika Serikat – bertemu dengan Nova Ruth, rapper sekaligus pemilik kedai kopi asal Malang, Jawa Timur. Sejak mulai berkolaborasi, duet lintas benua ini telah memainkan musik elektronik nan rancak tentang penambang sulfur di Kawah Ijen, tur keliling Indonesia dengan perahu pinisi, tampil di desa pesisir dan perumahan kumuh di lima benua, dan menyanyikan ulang salah satu lagu paling terlarang di Indonesia. Mereka dipuji Pitchfork sebagai “musik yang lain dunia”, dan digadang-gadang SPIN sebagai “musik latar keruntuhan peradaban urban.”

Melalui surel, kami mengobrol dengan Grey (G) dan Nova (N) tentang aktivisme radikal, Peristiwa 1965, dan konser mereka yang ‘dibubarkan’ oleh arwah penasaran.

Dalam sebuah wawancara, anda [Grey] berkata, “Saya bukan musisi yang menjadi radikal, melainkan seorang radikal yang menggunakan musik untuk mengekspresikan diri.” Seperti apa latar belakang kalian berdua, dan keterlibatan kalian pada isu sosial dan aktivisme?

G: Keterlibatan pertama saya ada di isu kehutanan. Saya terlibat di kelompok bernama Earth First! yang mengokupasi hutan-hutan kuno, agar tidak dibabat. Kemudian, saya mendirikan Infernal Noise Brigade – sebuah marching band yang dibentuk untuk mengiringi protes alter-globalisasi di awal tahun 2000-an. Selama ini saya tertarik pada isu-isu lingkungan, dan beberapa kali melakukan intervensi dengan medium bunyi di Konferensi Perubahan Iklim yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Belakangan, saya mulai lebih fokus pada isu migrasi. Saat ini saya tinggal di Eropa Selatan, dan isu tersebut mulai menjadi genting.

N: Kakek saya dulunya tentara. Tapi, ketika saya tumbuh besar, beliau sudah tidak bekerja lagi. Ia menderita diabetes dan akhirnya buta. Kakek saya terkenal anti korupsi, maka dari itu ia disingkirkan dan jabatannya baru dinaikkan ketika ia sudah meninggal. Maka, saya baru mengenal cara untuk bersikap lebih kritis ketika saya berusia 19 tahun. Sebelumnya, saya secara tidak sengaja saja dilengkapi dengan pengetahuan isu sosial ketika mendengarkan musik yang dimainkan Bapak saya – baik bersama Elpamas maupun bersama Iwan Fals, Kantata Takwa, dan Sirkus Barock.

Ketika saya mendirikan band Twin Sista, saya otomatis menulis lirik yang mengandung muatan isu sosial dan lingkungan. Untungnya, keluarga saya tidak hanya dari keluarga militer saja. Keluarga bapak saya, Toto Tewel, adalah keluarga Kristen yang sangat menyukai musik. Sebelum Kakek saya (dari sisi Bapak) menjadi pendeta, ia dulunya pemain biola di grup Orkes Melayu.

Apa yang mendorong kalian untuk bereksperimen dengan bunyi untuk aktivisme?

G: Tanpa gerakan sosial, tidak ada perubahan positif yang akan terjadi di dunia. Tapi, apa yang membuat orang tergerak untuk bergabung dengan gerakan? Tidak ada yang tertarik pada aktivisme hanya karena ia membaca buku teori membosankan dari Karl Marx atau Michel Foucault. Biasanya, orang terinspirasi oleh lagu, oleh film, oleh performans, atau novel tertentu. Budaya populer semacam inilah yang menjadi bibit-bibit awal kesadaran politik. Sedikit banyak, saya ingin musik dan performans kami menjadi salah satu bibit tersebut.

Musik adalah bahasa yang lebih tua dari kata-kata. Menurut saya, musik lebih bisa bermain dari sisi emosional ketimbang dari sisi intelektual. Pemikiran ini penting didedah lebih lanjut oleh produser seperti saya. Kami mengambil keputusan politis ketika kami memilih bagaimana metode kami memproduksi lagu, siapa yang kami ajak berkolaborasi, dan bagaimana cara kami membagikan musik kami di luar kanal-kanal yang mapan.

 

Pada tahun 2012, kalian merekam ulang lagu Gendjer-Gendjer. Mengapa kalian memilih lagu ini? Terutama mengingat latar belakang keluarga anda [Nova]?

N: Saya langsung merinding saat mendengarkan Lilis Suryani menyanyikannya. Ketika saya pindah ke Yogyakarta, informasi tentang Peristiwa 1965 semakin keras. Pada waktu bersamaan, saya mulai bertanya-tanya ke Ibu saya, apakah ia ingat kejadian tersebut walau saat itu ia masih berumur 6 tahun? Rupanya, beliau sangat ingat bagaimana tegangnya suasana di tahun 1965. Pada kenyataannya, semua orang dan keluarganya menjadi korban dari Peristiwa ini – baik mereka yang dituduh Komunis, para seniman, maupun pihak militer. Setiap malam, keluarga kami [militer] pun diancam oleh pihak-pihak tertentu yang ‘ingin membalas dendam’ soal 1965.

Namun, bukan berarti negara ini lepas dari kesalahan. Kejadian tersebut adalah tanggung jawab bersama. Dan menyanyikan lagi Gendjer-Gendjer adalah salah satu bentuk tanggung jawab. Jika kita sebangsa tidak berani mengakui kesalahan, kemakmuran dan kemajuan akan semakin sulit kita capai.

Anda sempat menuliskan pengalaman anda tampil di salah satu venue, di mana ‘arwah’ para tahanan politik mengganggu performans kalian saat kalian memainkan Gendjer-Gendjer.

N: Oh iya. Mau tidak mau, percaya tidak percaya, hampir semua dari kita orang Indonesia percaya pada keberadaan hal-hal yang bersifat metafisik. Di kampung tempat kami tampil itu, semua warga tahu bahwa di lingkungan mereka terdapat kuburan massal bagi korban pembantaian yang dituduh PKI. Maka, warga pun percaya bahwa arwah penasaran para korban masih ‘terperangkap’ di desa mereka.

Saya akui saya memang bebal. Juru kunci dari kuburan tersebut melarang saya untuk menyanyikan Gendjer-Gendjer, tapi tetap saya nyanyikan dengan dalih bahwa saya tidak berniat jahat. Ketika saya mulai bernyanyi, lampu seluruh desa langsung padam. Generator untuk berjaga-jaga jika listrik padam pun tidak bisa dinyalakan. Suasana sempat cukup mencekam.

Penduduk desa menyuruh kami berpegangan tangan supaya tidak ada yang menjadi sasaran kemarahan arwah penasaran. Baru setelah sekitar setengah jam, lampu menyala lagi. Saya lekas dipanggil juru kunci untuk menyiapkan sesajen. Kata arwah-arwah tersebut, mereka cukup tersinggung, ‘Kenapa ada pesta, namun mereka tidak diundang?’ Sejak kejadian tersebut, akhirnya saya berteman dengan salah satu petani anggur yang tinggal di dekat kuburan massal, dan saya beberapa kali datang lagi ke sana.

Apakah menurut anda, Indonesia telah berusaha menghadapi masa lalunya dengan lebih baik?

N: Ada contoh yang bisa kita ambil dari Australia. Sejak tahun 1998, setiap tanggal 26 Mei mereka memperingati National Sorry Day atau Hari Permintaan Maaf Nasional. Hari ini diperingati sebagai permohonan maaf negara – dan secara simbolik, rakyat Australia – pada perlakuan buruk terhadap suku bangsa Aborigin oleh imigran kulit putih. Namun, kenyataannya hingga kini pemerintah mereka malah membuat rangkaian kebijakan tentang imigran yang sangat tidak progresif. Tidak ada perubahan yang mengakar dari pemerintah.

Jadi, mungkin pernyataan maaf dari ‘pemerintah’ tak akan otomatis jadi solusi bagi segala kesalahan yang kita lakukan dari masa lalu. Namun, permintaan maaf bisa menjadi awal yang baik bila diteruskan dengan terwujudnya pemerintahan yang memang adil dan bijaksana. Ruang rekonsiliasi independen seperti yang dilakukan kelompok Taman 65 di Bali, misalnya, adalah contoh yang baik. Di sana, baik keluarga militer maupun korban tertuduh Komunis bekerjasama dalam proyek-proyek seni dan budaya.

Salah satu proyek terbaru kalian adalah serial ABANDON, yang berbicara tentang “pembebasan dari pekerjaan hina.” Bagaimana pengaruh latar belakang kalian sendiri dalam produksi serial tersebut?

G: Ketika masih tinggal di Amerika Serikat, saya menjadi sopir taksi selama hampir 10 tahun. Pengalaman itu sangat mengubah pemahaman saya tentang kemanusiaan, dan karya yang saya hasilkan. Tapi, khusus serial ABANDON, saya terinspirasi dari beberapa pekerjaan ‘hina’ yang pernah saya lakukan.

Pekerjaan pertama saya adalah di gerai ayam goreng fast food di sebuah pusat perbelanjaan di Oklahoma, Amerika Serikat. Pemilik gerai itu adalah korporasi dengan nilai-nilai Fundamentalis Kristen yang sangat ketat, dan mereka mengancam akan memecat siapapun yang tak selalu tersenyum bagi pembeli. Pekerjaan saya yang paling buruk adalah di sebuah tempat live peepshow [tempat di mana pelanggan bisa mengintip orang lain berhubungan seks – Red] bernama The Lusty Lady. Tempat itu sangat mencurigakan, tak ada jendela, dan lampunya merah menyala. Tugas saya adalah membersihkan sisa-sisa sperma yang ditinggalkan pelanggan setelah mereka merancap.

Pengalaman-pengalaman seperti ini yang menjadi latar belakang ABANDON. Pekerjaan yang merendahkan diri anda, dan sebenarnya juga tidak baik bagi lingkungan hidup. Pekerjaan yang sepenuhnya bersifat transaksi – karena anda tak mungkin mengambil pekerjaan semacam itu secara sukarela. Mereka murni membeli waktu hidup anda dengan uang.

 

Anda memilih empat profesi sebagai subyek – ada alasan khusus di balik pemilihan tersebut?

G: Kami merasa perlu membuat karya yang berbicara tentang ekstraksi bahan bakar fosil, jadi kami memilih The Miner [Sang Penambang – Red] sebagai serial pertama. Nova dan saya sama-sama terobsesi dengan isu ini, karena banyak orang di Indonesia tidak paham betapa parahnya penambangan batubara di pulau Kalimantan.

Setelah itu, kami memilih The Cleaner [Sang Pembantu – Red] untuk mengkritik pekerjaan yang bias gender dan tidak manusiawi. Kami banyak merenung tentang awal mula era Internet sebelum memproduksi lagu The Salarymen [Sang Pekerja Kantoran – Red]. Mendadak, kita semua seharian mendekam di depan layar komputer – entah apa yang kita lakukan sebelum tahun 1990-an akhir. Saya ingat masa-masa di mana para pekerja diharuskan menggunakan seluruh tubuh, tidak hanya jemari dan mata untuk mengetik.

Kemudian, The Chatarreros [julukan untuk pemulung besi bekas di Spanyol – Red] adalah cara kami untuk berbicara tentang ekonomi di Eropa Selatan yang mulai kolaps, pilihan-pilihan hidup yang mulai hilang bagi migran dari Afrika, dan pengaruh satu pekerjaan pada lingkungan.

Apa rencana kalian di tahun 2017? Ada tempat yang masih ingin dikunjungi untuk konser?

G: Ini tahun yang penting bagi kami. Kami akan merilis album baru (Drapetomania) dan performans baru, jadi sepanjang tahun ini kami akan tur untuk berbagi dengan sebanyak mungkin orang. Salah satu tempat yang belum pernah kami sambangi adalah Amerika Latin, jadi ini target kami tahun depan. Kami ingin mampir dan tampil di Meksiko, Kolombia, Cile, dan Brazil, misalnya. Nova mulai fasih berbahasa Spanyol, jadi mungkin sekarang tur ini lebih mudah kami wujudkan.

Mungkin ini pertanyaan yang terlalu sederhana. Tapi, apakah menurut kalian tak ada harapan lagi bagi kemanusiaan dan sebaiknya kita menunggu mati saja?

G: Justru, ini salah satu pertanyaan paling kompleks yang bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri. Pertama-tama, abaikan fakta bahwa dalam beberapa juta tahun dari sekarang, matahari akan memuai dan membakar Bumi. Jutaan tahun dari sekarang, manusia mungkin sudah berevolusi menjadi spesies yang berbeda, atau sudah bermigrasi dari bumi. Kemungkinan ini terlalu jauh dan tak terlalu relevan. Mari bicara tentang ratusan, dan ribuan tahun ke depan.

Kita spesies yang tangguh, jadi kita takkan binasa sepenuhnya. Tapi, mungkin kita terkutuk untuk menghabisi semua spesies liar lain dan tinggal di dunia yang penuh dengan polusi dan sampah manusia. Saya tidak mau tinggal di dunia seperti itu. Saya juga tak mau terus melangkah di jalur yang akan membuat kita mewariskan dunia semacam itu pada generasi-generasi berikutnya. Bisa dibilang, ini motivasi yang kuat untuk menciptakan karya seni dan mendorong munculnya jalur berbeda. Persoalannya, setiap hari kita tinggal di dunia yang semakin padat dan lelah secara ekologis. Jadi, mudah sekali bagi kita untuk berpulang lagi pada tribalisme, nasionalisme dan sentimen agama yang ekstrim.

Anggap saja ini The Trump Effect – sekarang, semua orang bertarung untuk kepentingan individu, suku, kepercayaan, atau rasnya sendiri, bukannya memperjuangkan sesuatu yang penting bagi semua orang di bumi.

Bahaya Laten Herry Sutresna

Oleh Raka Ibrahim

“Tambah gendut aja lu, Ka,” sambutnya, menjabat tangan saya erat-erat.

“Lu juga sama,” balas saya. “Bagaimana, nikmat hidup jadi orang kiri?”

Herry Sutresna tertawa terbahak-bahak dan mempersilakan saya berkeliling. Kantor Grimloc Records, label rekaman yang ia dirikan, sedang ditata ulang. Mata saya langsung tertuju pada ratusan CD dan kaset yang menumpuk di ruang tengah, sebagian tercecer dari kardusnya dan bertebaran di lantai. Ucok – begitu ia akrab disapa – menjelaskan bahwa koleksi lama ini hampir musnah dimakan rayap di gudang. Saya tersenyum sendiri ketika ia menghampiri tumpukan CD tersebut, dan mulai menimang-nimang CD Public Enemy seperti anak sendiri.

Pada tahun 1994, ia bersama dua rapper muda lain – Sarkasz (M. Aszy Syamfizie) dan Punish (Adolf ‘Lephe’ Triasmoro) – mendirikan Homicide, salah satu kolektif hip hop paling legendaris di Indonesia. Selama 13 tahun berikutnya, mereka mengguncang scene hip hop lokal dengan musik mereka yang bising, rima yang berbahaya dan sarat referensi, serta keterlibatan mereka dengan gerakan revolusioner pasca-Reformasi.

“Enaknya kita ngobrolin apa?” tanya Ucok, sembari menyeruput kopi.

“Agak klise,” balas saya. “Musik yang berpihak. Gerakan sosial. Kira-kira seperti itu, lah.”

Ucok mengangguk. “Mungkin, apa yang kita anggap klise sebenarnya perlu dibicarakan lebih jauh.” Tuturnya. “Konteks selalu berubah. Apa yang klise bagi gue, mungkin masih baru bagi orang lain. Dan pemahamannya bisa berbeda sama sekali.”

Ia menyulut rokok, lantas terdiam agak lama. “Jadi,” ucapnya, menyeringai. “Sejak kapan lu jadi kapitalis?”

“Karena buku sejarah, ditulis dengan darah, dengan anggur dan nanah, dengan khotbah dan sampah;

Maka argumen terlahir dari kerongkongan korban, digorok di pagi buta di lapangan pedesaan.”

– Homicide, “Rima Ababil” (2006)

—-

Bandung adalah kawah candradimuka yang tepat bagi calon pemberontak. Pada awal dekade 1990-an, scene musik independen di sana tumbuh menjadi arus perlawanan yang solid terhadap dominasi industri musik. “Logika bahwa kita harus kirim demo ke label besar dan tanda tangan kontrak mulai hancur,” kenang Ucok. “Secara politis, di budaya ini sudah terbentuk semangat untuk menandingi sesuatu yang dominan, paling tidak di wilayah produksi dan distribusi.” Pengetahuan tentang cara memproduksi dan mendistribusikan musik secara mandiri mulai menyebar, dan membuka jalan bagi scenester muda Bandung untuk membangun ranah sendiri.

Pada saat bersamaan, kelompok belajar independen mulai bermunculan di berbagai kampus. Buku karya Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer, kisah Ucok, tersebar “dari tangan ke tangan, dari fotokopian ke fotokopian,” sama halnya dengan literatur dari scene punk, semisal zine Profane Existence dan Maximum Rock N Roll. Setelah Reformasi, scene musik Bandung kian berkelindan erat dengan gerakan radikal. Tempat berkumpul pegiat musik independen mulai sering menjadi tuan rumah rapat pengorganisiran aksi, dan musisi di scene independen Bandung mulai ikut terlibat dalam aksi massa.

Homicide besar dari semangat zaman ini. Berbekal kosakata dan referensi serupa – Public Enemy, BDP, Rakim, Gangstarr, dan EPMD – tiga MC yang tergabung di kolektif tersebut mulai tampil di panggung-panggung kecil bersama grup hardcore, punk, dan metal Bandung. Mereka merekam demo perdana di tahun 1998, lantas bergabung dengan kolektif Front Anti-Fasis (FAF) yang isinya mayoritas penghuni scene hardcore punk Bandung.

Perlahan-lahan, pertemuan scene independen Bandung dengan gerakan radikal mulai disorot oleh aparat. “Mereka bahkan pernah menyamar jadi tukang bakso tahu!” kisah Ucok sembari tergelak. “Awalnya kami sudah curiga – dia datang pergi seenaknya, dagangannya diambilin sama anak-anak dia enggak pernah komplain.” Suatu ketika, tukang bakso tahu yang murah hati itu datang ke markas mereka di Cihampelas yang juga distro punk hardcore. “Pas seorang teman nepok buat nanya kabar, ada surat jatuh dari punggungnya, dan kop suratnya dari Kodam. ‘Oh, ternyata lu intel!’ Buat apa coba tukang bakso tahu bawa surat tugas dari Kodam? Akhirnya dia kabur!”

Satu per satu, instrumen gerakan radikal dipreteli. Sementara media mengecap mereka sebagai gerakan amoral dan aparat tak kunjung jemu merongrong para aktivis, gerakan itu sendiri mengalami perpecahan internal. Puncaknya, gerakan mahasiswa radikal berkonflik dengan Partai Rakyat Demokratik, salah satu partai yang menjadi naungan aktivis-aktivis anti Orde Baru. “Kami mulai capek, termasuk saya sendiri,” kenang Ucok. “Kawan-kawan ada yang lari ke narkoba, ada yang keluar dari Bandung, ada yang menyebrang ke gerakan kanan, ada yang berhenti dari gerakan. Banyak yang pergi, dan banyak yang kami tinggalkan.”

Ucok sendiri mengambil langkah yang tak lazim. Pada tahun 2001, ia memutuskan untuk menikah dan berkeluarga.

—-

Ada yang bangkit setelah molotov terakhir terlempar di Semanggi, dan FAF mulai memudar. Ucok dan Aszy mulai mengaktifkan lagi Homicide. Pada tahun 2002, setelah delapan tahun terbentuk dan ribuan alasan penundaan, kolektif itu akhirnya merilis EP perdana berjudul Godzkilla Necronometry.

Hanya Homicide yang berani membuka EP dengan rima brengsek macam “jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov/dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov” (Boombox Monger), atau menghabisi fasisme berkedok agama dengan seruan “jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap, maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap” (Puritan). Ketika Sarkasz berdeklarasi di nomor Semiotika Rajatega bahwa hip hop hanya memiliki empat unsur (“dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur!”), Bandung mendadak memiliki duet MC paling berbahaya di ranah hip hop lokal.

Di bawah tanah, kemerosotan gerakan radikal berlanjut pasca Godzkilla. Tamparan paling keras datang pada tahun 2004, ketika aktivis Munir Said Thalib dibunuh di udara dalam perjalanan ke Belanda. Tahun itu pula, Aszy memutuskan untuk menyusul Lephe dan mundur dari Homicide. “Saat itu, ada perasaan kalah yang luar biasa,” kenang Ucok. “Seperti ada utopia yang hilang.” Hampir sendirian, Ucok yang nyaris patah arang merekam EP Barisan Nisan, dan merilisnya pada tahun 2004.

“Itu album kami yang paling gelap,” kisah Ucok. Didapuk menjadi MC tunggal, ia mengisi verse EP tersebut dengan rima tentang gerakan yang sekarat, musuh yang menjelma jadi raksasa, dan pemberontakan yang menolak padam. Pada Rima Ababil, ia bernyanyi tentang “menaruh rima di atas hitungan ritme pukulan rotan Brimob.” Sementara di nomor Belati Kalam Profan, ia berpegang teguh pada sisa-sisa perlawanan. “Berlindung di balik kosakata stabilitas dan konstitusi, belati para profan,” sembur Ucok. “Di bawah serapahmu kami bersumpah, lebih baik kami mati terlupakan daripada selamanya dikenang orang karena menyerah!

Kegagalan gerakan radikal pasca 1998 memaksa Ucok mengubah perspektifnya. “Kalau fondasinya tidak kuat, perubahan monumental tidak akan jadi apa-apa,” tutur Ucok. “Akhirnya kami bakal dikooptasi, atau kami terpatok pada figur. Warga pun tidak sadar apa yang diperjuangkan dan cuma ikut-ikutan. Sedangkan, kami tidak mau itu. Kami mau ada gerakan sosial yang berkesadaran dan lebih desentralis. Lebih baik kami bikin sel-sel otonom yang banyak dan kuat, ketimbang bikin satu gerakan massa yang besar tapi keropos.”

Momentum politik baru ini membuat EP mereka berikutnya, Illshurekshun, terdengar lebih optimis dan berapi-api. “Di saat dinding keterasingan hasrat menjadi kota terlarang,” nyanyi mereka di Klandestin. “Kami tak meminta Valhalla, kami jadikan surga kalian rampasan perang!” Namun, kesadaran baru itu datang seiring dengan habisnya energi Ucok di Homicide. Mereka membubarkan diri, lantas melepas EP tersebut pada tahun 2008.

—-

Percakapan kami dipotong oleh telepon penting yang harus diangkat Ucok. Selagi ia berceloteh di ponsel, saya memeriksa buku yang tergeletak di meja teras tempat kami berjumpa. Ia baru selesai membaca Hikayat Tirai Besi, karya filsuf anarkis Alexander Berkman yang baru diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saat saya tiba, ia sedang iseng menjajal kumpulan esai Reading Capital, yang ditulis Louis Althusser dan kawan-kawan.

Suka tidak suka, telah tiba saatnya untuk membahas perkara klise yang saya bawa dari Jakarta: bagaimana musik bisa berperan dalam perubahan sosial? Pertanyaan mengawang yang, pikir saya, akan dibantai habis-habisan oleh mulut nyinyir Ucok.

Ia menutup telpon dan meminta saya mengulangi pertanyaan. Setelah saya selesai berbicara, Ucok mengangguk dan lanjut bercerita. “Dulu, ada yang pernah bilang ke saya, ‘Kalau kamu memang mau bikin musik yang menyentuh rakyat, kamu harus bikin lirik yang bisa dicerna oleh tukang becak!’”

Saya tersenyum. “Lalu?”

“Saya tidak sepakat. Kalau mau mendekati warga, jangan bikin lagu. Terlibat saja langsung!” balas Ucok. “Saya tidak percaya musik bisa berbicara banyak di gerakan sosial. Kalau lu mau bikin gerakan sosial, terlibatlah. Turun dan organisir bersama masyarakat. Di luar itu, enggak ada hal lain. Para petani itu tidak akan tergerak untuk mereklaim lahan hanya karena mereka mendengar lagu lu.”

Scene musik, tuturnya, harus mencari cara yang lebih inovatif untuk mendorong perubahan sosial. “Persoalan kebebasan berekspresi dan ‘melawan industri’ itu sudah selesai,” tuturnya. “Teknologi sudah membunuh mereka. Semua orang bisa bikin musik di kamar masing-masing tanpa embel-embel perlawanan. Sekarang, bagaimana caranya supaya pemberdayaan seperti itu menyebar keluar dari kota dan orang-orang yang memiliki privilege? Dalam wilayah ekonomi politik, bagaimana caranya musik bisa memberdayakan masyarakat?”

“Bagaimana caranya kawan-kawan yang tadinya enggak punya alat produksi, kemudian jadi punya alat produksi baru bernama musik?” ujar Ucok. “Kita bisa terlibat di titik penggusuran, misalnya, dan bikin sesuatu secara swadaya dengan warga. Lalu, musik itu sendiri bisa menjadi alternatif untuk menghidupi mereka.”

“Misalkan ada label yang dikelola secara swadaya oleh warga di titik penggusuran,” ucap saya, mengandaikan. “Dan mereka mampu berdiri sendiri. Terlepas dari seperti apa musik yang mereka mainkan, mereka politis?”

Ucok mengangguk. “Bukan produk artistiknya yang jadi masalah. Yang politis justru ekosistemnya, konteksnya. Walau pergulatan politis seperti itu pasti tercermin dalam musiknya.”

Dalam waktu dekat, ia dan kawan-kawan di scene musik lokal berencana mengembangkan ruang kota di salah satu kampung kota di Bandung. Banyak pegiat scene lokal tinggal atau berasal dari daerah tersebut, dan hubungan scene musik independen dengan warga di sana telah terjalin erat. “Ada lapangan basket yang bisa kita pakai di sana,” kisah Ucok. “Kami terpikir untuk bikin tempat permanen di mana warga bisa berjualan, dan teman-teman di scene musik bisa bikin acara,” lanjutnya. “Ruang itu penting. Kami berkali-kali kalah hanya karena tak punya ruang.”

“Saya pikir, pemberdayaan ekonomi politik semacam itu yang justru mengubah keadaan,” tuturnya. “Kalau sekadar soal musik sebagai produk artistik yang menghipnotis massa dan meruntuhkan tirani, saya rasa itu cuma dongeng.”

“Aku katakan sebuah sabda rajah batu kepada lidah-lidah api;

Bahwa ada adalah tiada dan kekosongan itu bernyawa;

Bahwa ketidakberujungan semesta adalah kehampaan bernyala;

Bagi mereka yang bernazar hidup tanpa hamba dan paduka.”

– Homicide, “Siti Jenar Cypher Drive” (2008)

—-

Setelah percakapan kami usai, Ucok pamit sebentar untuk menjemput anak-anaknya dari sekolah. Sekitar satu jam kemudian, ia baru bergabung lagi dengan kami di beranda Grimloc. “Anak gue lumayan suka baca buku,” kisahnya, bangga. “Gue ada kesepakatan dengan dia. Jadi, kalau dia mau beli buku baru, dia harus tulis ulasan buku yang belum dia baca dulu, lalu didiskusikan dengan gue.”

“Lo sudah kasih buku-buku yang radikal?” tanya saya.

“Wah, pelan-pelan itu!” balasnya, tergelak. “Tapi kemarin dia sudah mulai nanya-nanya soal Pramoedya. Ya sudah, gue kasih yang gampang-gampang dulu. Gadis Pantai, misalnya. Baru nanti gue cekokin Tetralogi Buru.”

Saya tidak pulang dari Bandung dengan tangan kosong. Ucok menghibahkan satu kopi zine Uprock’83 yang ia terbitkan sendiri, dan buku kumpulan esainya, Setelah Boombox Usai Menyalak. Dirilis oleh Elevation Books, buku itu baru saja dicetak ulang untuk kali ketiga. “Ternyata, ada juga yang mau baca, ya?” selorohnya. Seperti lirik Ucok di Homicide dan Bars Of Death (proyek terbarunya), esai di buku itu sarat dengan referensi bacaan dan musik yang penuh kejutan – mulai dari obituari bagi Adam Yauch, pembangkangan sipil, menggunakan Marx dan Nietzsche untuk mendedah Company Flow, hingga surat cinta yang panjang bagi Godspeed You! Black Emperor.

Ada satu esai yang masih menghantui hingga kini. Di esai Bapa, Ucok menulis dengan sangat personal tentang Ayahnya – seorang eks-loyalis Soekarno yang pernah bergabung dalam organisasi pelajar yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Tumbuh dewasa di bawah kuasa Orde Baru, Ucok menulis tentang sore-sore girang di mana Ayahnya mengenalkan sang anak pada Black Sabbath, The Beatles, hingga Koes Plus.

“[Ibu] selalu mengingatkan Bapak untuk tidak terlalu banyak mendidik anaknya dengan perspektif politik yang ia yakini,” tulis Ucok. “Namun, Bapa tetaplah Bapa. Tanpa banyak menasehati dan berkata-kata, ia memberikan perspektif tentang kehidupan di luar sana yang tak baik-baik saja […] Membawa saya ke tempat-tempat di mana langit tak berpihak dan pojokan-pojokan yang nampak ogah disinggahi malaikat.” Nasihat tanpa kata ini ia pegang erat-erat pada tahun 1999, saat Ucok dan kawan-kawannya menghindari desingan peluru aparat di pelataran Semanggi.

Sore itu, setelah anaknya aman di rumah, Ucok tetap berniat mampir ke diskusi tentang pembangunan kota yang berkelanjutan di kantor LBH Bandung. Seperti Bapa di esai tersebut, perlawanan bisa dinyatakan dengan cara yang lebih terselubung. Berbulan-bulan setelah pertemuan kami, saya tertegun saat menyadari bahwa Ababil bukan saja judul salah satu lagu Homicide dengan lirik paling beringas (Rima Ababil), namun juga nama anak bungsunya. Saya pun teringat lagi, bahwa nomor Barisan Nisan yang menyindir kapitalisme habis-habisan itu ia akhiri dengan sumpah seorang Ayah kepada anaknya – “Zahraku, Mentariku.”

Kami bertukar lelucon nyinyir dan berjabat tangan erat-erat, sebelum berpisah menjelang Maghrib. Setibanya saya di pintu gerbang, Ucok mendadak berdeklamasi: “Hidup perjuangan kelas… menengah!”

Satir, untungnya.

Sumber: Ruang Gramedia

Jalan Lain dan Batas Kompromi

Oleh Herry Sutresna

“What’s important about punk rock is its independence of government & of corporations & its network that exist outside of that. That is what is political…not the words, not the music as much as the independence…” —Tim Yohannan

Punk sudah lama mati. Itu pun jika memang pernah hidup di sini. Kecuali jika coretan-coretan Circle A di dinding-dinding kota, penampakan spikes di mall, kaos lusuh Discharge dan mohawk di perempatan jalanan kalian anggap demikian.

Pada satu siang, Kimung mengirim pesan teks. Dengan hawa sepanas siang itu seharusnya ia mengirim sebotol minuman dingin. Ia bertanya apakah saya berniat menulis tentang kondisi komunitas (musik) di Bandung hari ini. Dengan kesadaran penuh ia tahu bahwa saya sudah malas berurusan lagi dengan hal-hal seperti itu, pasti ada alasan penting baginya untuk bertanya demikian. Ia melanjutkan pesan teksnya dengan serentetan kegelisahannya tentang bagaimana hari ini komunitas terpeta-petakan relasi sosialnya berdasarkan program kampanye korporasi yang memberinya makan. Ini terdengar seperti album Strife pasca bubar lalu reunian. Baru tapi lama, nyaris redundan.

Tentu saja saya menolaknya. Saya menikmati waktu saya berjarak dengan urusan kritik-otokritik di wilayah yang hasilnya pun tak kemana-mana. Jika saya membutuhkan itu sekalipun, pastinya akan dilakukan dengan teh hangat dan lingkaran kecil obrolan. Kalau bisa di saat hujan.

Bukan karena tak tahan dengan segala label yang ditempelkan di jidat dan pantat, dari mulai Punk Police, Polisi Skena, Punk Khawarij atau Tukang Urus Urusan Orang. Namun lebih karena emansipasi ala punk tersebut tak lagi saya anggap sebagai kalimat dengan tanda seru. Lebih merupakan kata kerja. Seringnya bahkan bermain-main setelah bertemu dengan tanda tanya, dengan permasalahan nyata dan dengan kerendahan hati.

Membangun alternatif dari apa yang ada merupakan hal yang jauh lebih berguna dan produktif dibanding mencatat apapun yang tak saya sepakati di luar sana. Saya pernah berpikir mencatat pergulatan membenturkan ide dan praktek itu sama pentingnya dengan menjalani pilihan membangun alternatif  dan bisa dilakukan secara simultan. Tapi rasanya tidak demikian pasca beberapa tahun terakhir ini. Kritik otokritik hanya membuat yang melakukannya nampak seperti pertunjukan doger monyet. Hanya saja dalam hal ini tak ada yang tertawa. Sinis mungkin banyak.

Namun demikian saya sungguh sadar, Bandung pula bukan skena DC dengan Positive Force-nya. Dengan sejumlah kawan yang tersisa hari ini, sangat tidak mungkin untuk mengeliminir relasi sosial berdasarkan asosiasi mereka dengan korporasi besar.  Bukan karena saya tak yakin dengan pilihan dan konsekuensi dari pilihan saya. Namun jika tetap dilakukan, bisa-bisa saya nyaris tak punya teman. Untuk hal sepele seperti merilis rekaman dari band satu kota yang sirkulasi aktivitasnya intim di lingkaran komunitas saja sudah sulit, apalagi jika dilengkapi dengan syarat tak pernah berurusan dengan kampanye korporasi di komunitas. Bisa dibayangkan upaya lain yang lebih besar lagi seperti membangun ruang alternatif di kota misalnya.

Faktor itu sudah lama saya skip. Sejauh yang saya ingat, kritik saya pada helatan akbar di Gasibu lampau pun lebih karena terseretnya komunitas pada acara kampanye calon pemimpin daerah (baca: politik elektoral). Bukan persoalan ekspansi korporasi di tengah komunitas yang bahkan jauh hari sebelum saya menulis itu pun sudah saya anggap sebuah ‘bukan masalah’. Bagian dari ‘toleransi’. Pilihan kompromis.

Dan ketika suatu hari politik elektoral itu mentradisi dan kecenderungan baru hadir dalam modus lama, saya masih bisa memalingkan muka. Saya bisa tak peduli sejuta orang di komunitas ini beririsan dengan pemerintah kota dan walikotanya, selama saya masih punya banyak kawan yang masih bersepakat untuk membangun tradisi dan jejaring alternatif lain di luar itu semua. Melawan konformitas bersama-sama. Tapi rasanya saya keliru, atau mungkin memang terlalu berekspektasi tinggi. Karena saya sadar ‘banyak kawan’ dalam kalimat tadi adalah hiperbola, atau bisa disebut sebagai upaya menghibur diri sendiri ketika melihat realitasnya hanya tinggal ‘sedikit saja kawan’.

Tentu saja hal tersebut lagi-lagi bisa dikompromikan. Siapa bilang tidak bisa? Bisa kita pedulisetankan apapun yang pernah kita baca tentang ide-ide ‘alternatif’ itu. Ayolah, punk sudah bukan lagi sesuatu yang relevan. Eksistensinya sudah mirip parodi yang sulit dianggap lucu. Bagian dari jokes generasi milenial, hadir di meme-meme. Ia hanya stasiun pemberhentian sementara bagi kawan-kawan yang hari ini berumur 30/40-an. Bahkan sebagian besar mencampakkannya ketika umur belum mencapai 20-an. Bagian dari banyak cerita-cerita penyesalan orang “insyaf”. Seburuk itu memang punk.

Ayo kita tarik kendor lagi, siapa bilang tidak bisa? Tinggal kita hapus garis batas lama dan melihat sampai di mana garis kompromi yang baru. Sampai semua kawan disponsori partai? sampai semua rekan menjadi corong kampanye calon pemimpin daerah? bermain band di acara tentara? sampai semua teman beririsan dengan ormas fasis? sampai band metal kanan kiri kalian bermain di acara megaloman rasis? Lupakan semua etos punk yang tak lagi relevan itu, mari buat garis baru. Sampai mana? Kagok edan.

Punk memang tak pernah lagi relevan. Siapapun yang meredefinisinya akan kecolongan dan berteriak copet. Sama halnya dengan berharap para punks terlibat di dalam pergolakan sosial. Tentu kalian paham yang saya maksud. Bukan solidaritas sosial seperti donor darah, kerja bakti, membantu yang tidak beruntung dan hal-hal filantrofis lain. Jika itu yang dimaksud, tentu saya sudah melecehkan dengan amat sangat, seolah komunitas di Bandung tidak melakukan itu. Persis isi kotbah para pejabat menjelang Mayday.

Rentang waktu punk hadir sebagai pencerahan dengan tanda seru sudah lewat. Saya pernah bisa bersyukur, paling tidak masih menemukan teman yang masih sepakat untuk menjalani jalan lain itu. Itu sudah lebih dari cukup, sampai beberapa minggu kemarin ketika saya sadar saya keliru. Ada baiknya saya merevisi lagi makna dari ‘paling tidak’ yang biasa saya ingat-ingat. Mereka tetap teman, sahabat dan kerabat. Hanya saja “Jalan Lain” tak lebih dari sekedar judul buku almarhum Mansour Fakih. Tak lebih.

Saya tak lagi percaya kalimat “Punk Is Dead”, jangan-jangan memang punk tak pernah lahir di kota ini. Hanya desas-desus mitos yang kalian dengar pernah hadir di dua dekade lampau, atau dalam versi generiknya; berupa tajuk kecil “punk diciduk saat mengemis” di satu sudut kolom surat kabar tak terkenal. Fosil dan gaib. Saya hampir tak percaya saya membahasnya lagi.

Jika ada yang bertanya soal jejaknya, paling tidak hari ini saya bisa menunjuk ke segilintir kepala yang hadir pada penghadangan penggusuran di satu sudut kota, di sekitar berisik toa pada aksi solidaritas terhadap penangkapan petani Majalengka yang bergaung sampai ke Bandung seperti halnya ke kota lain. Di deretan buku yang dijejerkan saat aksi simbolik bagi kawan-kawan Perpustakaan Jalanan yang disikat militer di tengah kota kita sendiri, di antara rintik hujan menggotong pompa penyedot air hasil udunan menuju lokasi banjir di Bale Endah. Di ruang-ruang sempit kontrakan membuat ruang belajar alternatif dan lingkar studi koperasi. Tapi saya yakin, tak akan ada yang bertanya.

Saya menolak tawaran Kimung hari itu, pun tulisan ini bukan penggantinya. Di tengah badai perang politik identitas dan huru-hara politik elektoral, seharusnya ia mengirim saya satu termos minuman hangat. Dan saya masih menyukai album baru Strife pasca reunian meski terdengar generik dan redundan.

Sumber: gutterspit.com

Mantra Senyawa

oleh Irene Sarwindaningrum

Di perjalanan melintasi Sumatera Selatan, menembus hutan karet yang seolah tak bertepi, mendekati tengah malam, sang sopir yang awalnya sudah terkantuk-kantuk mendadak terbelalak mendengar suara yang keluar dari speaker somber mobilnya.

“Ya Allah, siapo lah nyanyi lagu ma’i ni?” serunya terbangun dari kantuknya.

Saya tertawa di sampingnya. “Senyawa Pak, ini Senyawa,” saya jawab sambil menurunkan volume.

Itu beberapa tahun lalu, saat Senyawa menemani perjalanan pulang di larut malam melintasi kegelapan jalan lintas tengah di Sumatera Selatan. Malam Jumat, Kamis (22/12), akhirnya saya bisa menonton mereka langsung di Jakarta.

Lagu yang dikeluhkan pak sopir Mulyadi, Abu judulnya. Alunannya menyayat setengah mistis karena menceritakan orang yang gugur dalam perang. Lagu-lagu lainnya di album Tanah + Air itu menghentak dan menjerit, cukup ampuh membuat Pak Mulyadi tak sempat ngantuk lagi.

Tak banyak kata-kata di lagu-lagu Senyawa. Bahkan ada yang tanpa kata sama sekali. Rully Shabara, sang vokalis, lebih banyak berteriak atau menggumam atau mendehemkan atau menggeram chant yang berakar pada tradisi berbagai daerah di Nusantara.

Chant, sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Tapi bangsa ini kaya akan chant. “cak cak” yang mengiringi tari Kecak dari Bali, misalnya, atau seruan Suku Dayak atau Papua yang bikin merinding.

Mari menyebutnya mantra.

Ya, musik Senyawa adalah musik mantra. Alat musik pengiring vokal Rully pun tak kalah ajaib. Wukir Suryadi, satu-satunya pemusik di Senyawa, menciptakan alat-alat musiknya sendiri. Yang paling klasik adalah alat petik dari seruas utuh batang bambu.

Malam Jumat di Gedung Kesenian Jakarta itu, Wukir mengenalkan alat bersenar dari garu, alat penggaruk padi. Tampilannya lumayan dahsyat, seperti mahkluk canggung dari era dinosaurus dari zaman Trias sampai Kretasius yang tiba-tiba dikirim ke masa depan ke panggung berbalut sinar lampu sorot dan laser proyektor.

Mahkluk itu dipetik, ditarik dan dibetot dan digesek. Mungkin garu, si bakal mahkluk, itu dipinjam dari pak tani di desa di Bantul atau Kulon Progo. Juga sothil, alias spatula khas desa, jadi alat musik semacam ukulele. Si sothil dipetik, dibetot, dan digaruk-garuk. Mungkin si sothil dicomot dari pawon ibu-ibu yang bisa jadi puyeng sothilnya hilang.

Konser Tanah + Air di malam Jumat di Gedung Kesenian Jakarta itu ditemani aroma harum kayu cendana di seantero ruangan. Di antara jeda pertunjukan, diputar lagu anak-anak “Mari Menanam Jagung” yang sepertinya direkam di tahun 1970-an.

Pertunjukan Senyawa ini terbilang langka. Dua orang yang bersenyawa di Jogja itu justru jarang manggung di tanah air. Mereka lebih sering ke luar negeri, dari Amerika Serikat, Eropa dan Australia. Baru-baru ini mereka luncurkan album terbaru di Denmark.

Selama 3,5 jam, 400-an penonton dihentak musik mantra Senyawa. Ada beberapa yang tertidur . Mungkin mereka lelah. Maklumlah, sebagian penonton adalah karyawan yang harus menerobos macet Jakarta yang brutal di tengah pekan sepulang kerja, ditambah efek hipnotis alunan mantra yang statis, pendek dan berulang.

Rully dan Wukir sendiri, tampaknya, di ujung penampilan, mencapai trance (bukan kesurupan) di panggung, terhubung dengan alam bawah sadar, larut dalam alam semesta raya. Rully menari seperti pemain reog tapi bercelana jins ketat, bersepatu bot dan bertelanjang dada. Perutnya berhias tato besar “Father”. Wukir berguling-guling di panggung sambil memeluk sothilnya dengan rambut panjang yang awut-awutan.

Dalam matakuliah akustik diajarkan bagaimana efek frekuensi suara pada otak manusia. Mantra, seperti “cak cak” mengantar orang pada kondisi trance. Lalu “ohm” dari Tibet, India, Nepal, Bhutan dan sekitarnya yang membuat otak dalam kondisi tenang dan rileks. Penelitian neurosains dan frekuensi di ilmu akustik ini juga menjelaskan kenapa derit pintu yang dibuka perlahan membawa efek horor. Ini bukan jopa-japu.

Setiap daerah, tiap kultur, punya musik-musik mantra, chant-chant mereka sendiri. Chant Indian dan Aborigin sudah banyak direkam dalam album musik. Inilah ekspresi manusia paling purba untuk berhubungan dengan alam di luar dirinya sendiri, atau justru masuk dalam perjalanan ke dirinya sendiri.

Nusantara kaya-raya dengan khasanah mantra dan chant ini. Di sastra, puisi mantra bisa ditemukan dalam karya Sutarji Calzoum Bachri di era 1970-1980-an. Puisi Tarji kala itu, betul-betul mantra dalam bentuk teks.

Dalam kemininan kata, musik mantra meletakkan bebunyian dan suara dalam hakikatnya yang paling jujur. Ekspresi. Rasa. Emosi.

Di lidah peradaban yang kian lihai zaman ini, begitu mudah kata-kata digunakan mengkhianati kejujuran. Padahal, kata-kata adalah kemuliaan peradaban manusia. Tanpa kata-kata, pengetahuan tak bisa diturunkan ke generasi selanjutnya. Peradaban kita akan tak lebih dari peradaban kucing atau gajah. Meski kadang-kadang terpikir, justru lebih baik seperti itu.

Kini, kata-kata digelincirkan dari kemuliaannya, dipakai berdusta, merekayasa, komunikasi politik taikucing, dan senjata — termenyemenye dengan semua kelebihannya yang menjadi kekurangannya.

Mantra tak akan bisa digunakan seperti itu. Dalam kesederhanaan bunyinya, mantra tak bisa merangkai kebohongan. Dalam kebebasannya dari belenggu makna, mantra tak bisa merangkai basa-basi.

Zaman makin tak terbiasa dengan kejujuran seperti mantra. Maka di era berjubal kata-kata ini, banyak orang tak lagi paham atau tak mau paham mantra. Mungkin kejujuran jadi terlalu menakutkan. Mungkin kejujuran terlalu sulit dipahami. Mungkin, bagi peradaban yang ketagihan basa-basi ini, kejujuran menjadi terlalu kasar didengar. (Ice breaker baby, ice breaker! Begitu anak-anak sekarang memulai percakapan)

Toh, apa gunanya belajar jujur di zaman serba tak jujur. Belajar bohong atau basa-basi lebih penting untuk berlangsungnya penghidupan.

Hampir tanpa kata, musik mantra Senyawa dengan jujur menyampaikan amarah, duka, pengharapan, atau kutukan pada teror dan kekacauan. Penonton mengernyit, terpukau, terhipnotis, atau merinding di kursinya. Abu, termasuk salah satu yang dimainkan paling akhir.

Sayang, mereka tak bisa berjingkrak ikut trance. Tata ruang sarat kursi terpasang permanen memaksa penonton yang didominasi anak-anak muda bertato itu duduk manis.

Usai pertunjukan, malam sudah mencapai puncaknya. Mantra yang dingin tanpa rasa bergumam dari kendaraan yang masih saja ramai di jalanan metropolitan.

 

Sumber: Serunai.co

Memelihara Nyala dan Berbagi Api: Sebuah Pengantar

Oleh Herry Sutresna

Skena musik Bandung memiliki sejarah yang cukup panjang jika melihat konteksnya dengan dinamika kota yang melahirkannnya. Berbicara tentang lahirnya komunitas musik yang mandiri di Bandung tak bisa dilepaskan dari persoalan bagaimana secara sosiologis mereka terhubungkan oleh semangat petualangan. Petualangan yang menggiring pada ide-ide dan praktek-praktek aktivitas di luar sistem yang ada.

Pada awal hingga pertengahan 90-an, ketika alternatif tidak tersedia di luar sana, komunitas musik di Bandung pada awalnya merupakan salah satu contoh bagaimana upaya membangun infrastruktur mereka sendiri untuk menjawab kebutuhan itu. Dari mulai menguasai pengetahuan atas proses produksi hingga membuat jejaring (network) distribusi produk dan informasinya sendiri.

Persoalan musik dan komunitas ini menjadi lebih penting lagi ketika melihat fase berikutnya, saat melihat bagaimana mereka yang menjadi bagian dari skena musik adalah mereka yang terlibat dalam perubahan di sudut-sudut kota, disadari atau tidak. Pernah ada waktu komunitas yang lahir dari kecintaan terhadap musik ini pula terlibat dalam pergolakan pada waktu-waktu krusial, dalam skala nasional maupun regional. Paling tidak jejaknya dapat dilacak sejak momen transisi sebelum dan sesudah 1998.

Sejak akhir 90-an, komunitas musik memiliki arti lebih dari sekadar sejumlah orang yang mencintai musik dan membuat ‘klub sosial’. Secara organik, komunitas-komunitas tersebut tak hanya berdiaspora namun juga bersimbiosa dengan komunitas lain membuat simpul-simpul, ruang-ruang baru dan memperluas aktivitasnya ke ranah sosial-politik lebih intens dari sebelumnya. Berbekal kemandirian ketika memulai skena musik, para individu ini melebarkan definisi kemandirian ini ke wilayah-wilayah yang lebih besar lagi, tak hanya lingkaran budaya, juga wilayah ekonomi-politik. Tak hanya beririsan dengan komunitas kultural seperti lingkaran literasi namun juga dengan kelompo-kelompok yang termarjinalkan secara sosial dan politik seperti buruh dan kaum miskin kota.

Bandung pada rentang waktu awal hingga akhir 2000-an merupakan tempat yang subur bagi eksperimen-eksperimen komunitas di wilayah sosial-politik tersebut, terutama yang beririsan dengan isu-isu kota. Pada rentang waktu itu lahir ruang-ruang publik yang diinisiasi individu-individu dengan beragam latar belakang. Ruang-ruang tersebut merupakan arena bermain, belajar dan tempat individu-individu berdialektika dalam proses aktualisasi dan jati diri mereka. Tempat individualitas dan komunitas menciptakan dan menumbuhkan satu sama lain. Di mana secara politik memperkuat wilayah personal dan memberdayakan, dan sebaliknya, domain personal memperkuat ranah politik karena ia memperkayanya. Individu dan kolektivitas saling memelihara bukan saling menundukkan satu sama lain.

Dengan segala keterbatasannya, tempat-tempat itu menjadi titik temu bagi individu dari lintas komunitas dapat bertemu pada banyak momen dan melahirkan lagi kemungkinan-kemungkinan aktivitas kolektif lainnya. Gigs musik dibuat beririsan dengan isu-isu dan aktivitas pemberdayaan yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan di sekitar mereka (kasus penggusuran, perampasan lahan dan konsolidasi bencana alam, misalnya), pameran seni rupa, festival zine, dan fotografi dari para punks pula berbicara tentang pergulatan di keseharian para buruh. Acara literasi berdampingan dengan diskusi isu warga dan solidaritas bagi mereka yang berjuang seperti para korban penggusuran, misalnya. Ruang-ruang baca hadir bersama dengan penolakan terhadap pemberangusan buku dan kebebasan berekspresi, berkumpul dan berorganisasi. Para kurun waktu itu individu dan komunitas memasuki fase penting menjadikan musik bagian yang tak terpisahkan dari dinamika sosial politik yang hadir di kota. Musik dan aktivisme secara organik bersenyawa. Meruntuhkan dinding penyekat antara definisi musisi, aktivis dan warga kota. Dengan relasi sosial sedemikian rupa, musik berkesempatan menjadi elemen perubahan sebagai bagian dari yang partisipatoris dan egaliter, tidak lagi menjadi media komoditas politik pasif yang selama ini kita alami di rezim orde baru (atau bahkan hingga hari ini ketika dangdutan hadir pada masa kampanye dan musisi menjadi caleg dan pimpinan daerah).

Ketika ruang-ruang itu melenyap satu persatu saat akhir 2000-an dan memasuki duaribubelasan, dinamika komunitas yang otonom dan egaliter tersebut sedikit demi sedikit mengendur. Aktivitas politik warga yang partisipatoris semakin terkikis dan teralienasi. Ruang-ruang itu harus menyerah pada hal-hal yag pragmatis yang tak siap diantisipasi oleh individu-individu di komunitasnya, sebut saja salah satunya, semakin mahalnya uang sewa tempat/lokasi.

Ini diperburuk dengan fenomena pembatasan ruang berekspresi di Bandung dalam bentuk politik perizinan dan terkooptasinya relasi sosial otonom yang mandiri dan egaliter digantikan oleh proses kooptasi perusahaan besar/korporasi dalam memfasilitasi kebutuhan di skena musik. Ditambah pula oleh bergantinya generasi di dalam skena Bandung sendiri tanpa sempat terjadi transformasi pengalaman mempertahankan tradisi yang sudah dicapai.

Apa yang terjadi dalam lima tahun ke belakang merupakan sebuah hasil dari proses dekadensi itu. Namun ada beberapa hal yang menggembirakan kiranya lahir di Bandung seiring dengan munculnya generasi baru yang bergulat dalam ruang-ruang dan pilihan-pilihan yang terbatas itu. Generasi ini adalah mereka yang tak lagi menyerah pada keterbatasan ruang mandiri yang melenyap ditelan pragmatisme. Mereka justru mencoba membawanya keluar dari zona aman, dan melakukan pertaruangan di ruang-ruang publik kota.

Kali ini, meski mereka tak lagi terlalu mengidentifikasikan diri sebagai komunitas berbasiskan musik, namun kita bisa melihat dari individu yang terlibat, mereka datang dari latar belakang yang sama dengan pendahulu mereka, tak hanya membuat acara-acara musik otonom, mereka pula secara inklusif membaur dengan warga (marjinal) kota dan elemen-elemen progresif lain seraya memberi solidaritasnya bagi mereka yang sedang berada dalam krisis dan berjuang di luar Bandung.

Tak hanya terlibat dalam pengorganisiran aktivitas warga seperti ruang-ruang belajar anak, juga terlibat dalam pengkonsolidasian bantuan bencana alam, pendistribusian akses literasi, krisis konflik ruang hidup di kota hingga bahu membahu bersama elemen lain melawan kebangkitan fasisme yang belakangan kembali menyeruak dalam bentuk pelarangan acara, pemberangusan bacaan dan penyerbuan markas-markas/tempat-tempat berkumpul. Mereka menantang dan berpikir ulang perihal ruang publik, aktivitas (publik) otonom, hingga gerakan sosial dalam konteks yang lebih luas.

Dengan berkaca pada pengalaman selama dua dekade ke belakang, kita dapat memahami mengapa kemudian keberhasilan ikhtiar mengubah kota selama ini di Bandung tak pernah terlepas dari ruang dan pertarungan untuk merebutnya.

Sumber: Booklet CD Organize! Benefit Compilation for Community Empowerment

Musik Bising dalam Kajian

Oleh Ferdhi Putra

Not Your World Music.

Mungkin sebagian besar dari kita masih cukup asing dengan musik noise. Jika Anda tidak terbiasa dengan bebunyian yang tak lazim, mungkin seketika Anda akan berceletuk, “musik apaan sih nih?” Begitu kira-kira stigma khalayak terhadap genre ini.

Kalimat pembuka di depan adalah judul buku yang mengulas tentang keberadaan skena musik noise di Asia Tenggara. Adalah Cedrik Fermont dan Dimitri della Faille yang gigih menelusuri keberadaan musik ini di negara-negara seperti Indonesia, Myanmar, Singapura, Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Selasa malam (7/12), buku berjudul lengkap Not Your World Music, Noise In South East Asia: Art, Politics, Identity, Gender, and Global Capitalism dibedah di markas sebuah komunitas kajian musik, Laras, di bilangan Kranggan, Yogyakarta. Cedrik yang berkesempatan hadir langsung ditemani oleh Dyah Isaka, musisi musik bising yang menjadi salah seorang narasumber penelitian tersebut.

Diskusi dibuka dengan paparan Cedrik mengenai perjalanannya ke berbagai negara dan bertemu dengan skena noise di tiap-tiap negara. Dari Eropa Barat hingga Amerika Utara. Dari Afrika hingga Asia. Ia sendiri memang musisi yang menekuni genre tersebut, meski tak menutup diri dari jenis musik lain. “Noise memang menjadi prioritas saya,” katanya.

Musik noise memang tidak seperti genre lain yang memiliki pola nada tertentu sehingga membuatnya menjadi unik. Musik noise dapat dikenali dengan mudah lantaran komposisinya yang kerap tak beraturan. Dan sudah pasti, bising.

Namun tak sekadar bising. Menurut Dyah, atau akrab disapa Woro, sebuah karya musik noise tetap harus punya detail untuk membedakan antara musisi yang satu dengan yang lainnya. “Noise itu spontan, terbebas dari konten-konten musikal,” ujar Woro. “Jika dianalogikan sebagai lukisan, maka ia adalah lukisan abstrak.”

Dalam buku disebutkan, awal mula sejarah musik noise modern seringkali merujuk pada kiprah artis avant-garde asal Italia, Luigi Russolo. Ia disebut-sebut sebagai artis noise pertama. Manifestonya yang berjudul L’arte del rumori (The Art of Noise) yang terbit pada 1913, menjelaskan bahwa revolusi industri memberikan peluang kepada manusia untuk mengapresiasi bebunyian yang kian kompleks. Suara-suara mesin dianggap menawarkan cara lain menuju dunia baru, dan meninggalkan era tradisi kegelapan.

Namun noise tidak harus merujuk pada apa yang didefinisikan Russolo. Noise, yang dalam bahasa Indonesia memiliki cukup banyak padanan (bising, pekak, hiruk pikuk, berisik, gaduh), bisa juga berwujud suara-suara yang kerap hadir dalam keseharian kita. Gemersik air, suara burung, derap langkah, hembusan angin, dan lain sebagainya, bisa dimaknai sebagai noise. “Noise adalah bagian dari kehidupan. Ia ada di manapun dan kapanpun,” kata Rully Shabara, salah seorang musisi eksperimental Yogyakarta.

Musisi avant-garde fenomenal, John Cage, bahkan menyebut karya sunyinya yang berjudul 4’33 sebagai musik lantaran lagu tanpa suara sama sekali itu disokong oleh noise yang ada di sekitarnya. Ia menyebut suara derap langkah, gesekan kaki kursi yang didudukinya, dan bisikan penonton sebagai bagian dari komposisi lagu yang hanya disajikan secara langsung tersebut.

Di Indonesia sendiri, menurut Indra Menus pegiat komunitas Jogja Noise Bombing melihat skena musik bising belum cukup masif. “Skena musik noise di sini masih dalam tahap berkembang. Banyak orang masih meraba-raba instrumen apa yang ingin mereka gunakan dalam berkarya. Banyak dari mereka juga masih mencari bentuk bunyi yang mereka harapkan,” kata Menus.

Problem lainnya adalah pendokumentasian skena musik bising belum cukup baik. “Banyak band noise yang tidak punya album,” kata pria yang menggawangi band noise To Die ini. Namun tidak semua memiliki pengarsipan yang buruk. Senyawa, misalnya, grup eksperimental asal Yogyakarta adalah salah satu yang paling menonjol di antara musisi noise yang ada di Indonesia. Selain karyanya sudah direkam dan dirilis dalam berbagai bentuk medium, jam terbang mereka pun terbilang tinggi lantaran kerap tampil pada festival musik di dalam maupun luar negeri.

Kendati demikian, dalam buku tersebut Cedrik dan Dimitri tidak berkutat pada asal muasal dan estetika musik noise belaka. Seperti tertera pada judul, kajian ini tidak semata-mata membahas musik noise sebagai seni, melainkan juga menelisik kelindan antara noise dengan fenomena sosial, politik, ekonomi. Kedua penulis tegas mengatakan bahwa, “Buku ini politis: ini soal anti-seksis dan anti-kolonial. Buku ini diharapkan dapat memicu diskusi tentang masyarakat, representasi sosial, ketidaksetaraan, marjinalisasi dan kolonialisme.” Alih-alih obyektif, Cedrik dan Dimitri mengakui dengan jujur bahwa tak ada penulis netral. Bahwa mereka adalah bagian dari apa yang mereka tulis.

Soal sikap politik, Menus misalnya, menganggap musik noise memiliki pesan politis di dalamnya. Noise kini menjadi alternatif ketika punk sudah begitu komersil. “Saya tertarik dengan punk lantaran ia menjadi ancaman dengan sikap do-it-yourself-nya. Namun saya melihat punk mulai diterima [pasar] dan kemudian saya menemukan musik noise dan merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu dengan punk. Ya, Bagi saya, noise sangat politis, sama seperti halnya punk,” ujar Menus. Akan tetapi tidak semua musisi noise di Indonesia mengamini soalan politik ini. Woro, misalnya, mengakui bahwa sebagian artis menjadikan karyanya sebagai manifestasi politik, tapi tidak bagi dia. “Saya membuat musik hanya berdasar pada apa yang saya rasakan,” katanya.