Musik Indie Tidak Bisa jadi Pahlawan

Oleh Ferdhi Putra

 

Akhir dekade 1990-an adalah momen krusial bagi Indonesia. Suharto tumbang setelah 32 tahun bercokol sebagai penguasa tunggal, dan Indonesia memasuki fase transisi menuju demokrasi. Dalam banyak narasi sejarah mengenai periode tersebut, anak muda – terutama mahasiswa – kerap disebut sebagai biangnya. Sebagaimana periode 1965-66, mahasiswa angkatan 1998 juga memainkan peranan penting dalam proses peralihan kekuasaan. Bedanya, pada ‘98, ada kelompok anak muda lain yang dianggap turut berperan melengserkan Suharto. Mereka adalah para penikmat musik underground.

Esai etnomusikolog asal Amerika Serikat, Jeremy Wallach yang berjudul Underground Rock Music: And Democratization in Indonesia (2005) menyuratkan itu. Secara sederhana, Wallach mengajukan bahwa scene musik underground turut berperan dalam perubahan sosial pada tahun-tahun tersebut. Sebagai gerakan kebudayaan, musik populer — termasuk musik underground atau independen — memainkan peranan lain di luar Politik (dengan ‘P’ besar) selama kurun waktu krisis.

Scene inilah yang turut mempengaruhi perspektif anak muda, terutama yang bergiat dalam scene, agar mau ikut ambil pusing dalam urusan politik (dengan ‘p’ kecil). Bangkitnya kesadaran politik anak muda ini, tulis Wallach, terhitung penting setelah bertahun-tahun lamanya anak muda dijauhkan dari politik melalui berbagai kebijakan Orde Baru – mulai dari NKK/BKK hingga pelarangan rambut gondrong.

 Membaca selintas sejarah scene underground — termasuk punk — di Indonesia, kita akan menemukan banyak kisah mengenai bagaimana scene ini berdinamika pada senjakala hingga pasca kejatuhan Orde Baru. Di Bandung, misalnya komunitas-komunitas punk membentuk Front Anti Fasis (FAF) dan berafiliasi dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD), organisasi yang radikal pada masanya. Tidak hanya mengorganisir komunitas, ‘anak-anak punk’ ini terlibat dalam aksi politik kelompok lain, seperti aksi solidaritas pada Hari Buruh Internasional tahun 1997.

Pola serupa terjadi di Jakarta. Dalam tesisnya, Fathun Karib mencatat bahwa komunitas punk Jakarta terlibat dalam aktivitas politik seiring dengan memanasnya situasi nasional kala itu. Seperti di Bandung, komunitas punk Jakarta juga bergabung dengan PRD. Masih menurut Karib, pada masa itu PRD memang sengaja merekrut anak muda dari kelompok-kelompok punk di seluruh Indonesia. Meski sebetulnya, kecuali kasus Jakarta dan Bandung, saya belum menemukan literatur yang memperkuat kesimpulan itu.

Artinya, selain melalui gerakan kebudayaan seperti musik, konser, dan zine, sebagian anak punk atau scenester underground juga terlibat dalam gerakan politik. Hanya saja, tak banyak literatur yang menyorot keterlibatan punk dalam politik. Beberapa penelitian justru memberi panggung pada estetika musik underground semata, alih-alih politik. (Wallach 2003 & 2005, Martin-Iverson 2007 & 2014).

****

Dari sekian banyak produk budaya musik underground, lirik lagu-lagu underground memang kerap jadi favorit bagi para peneliti untuk membuktikan keberpihakan suatu subyek terhadap isu tertentu. Singkatnya, ia mudah diteliti. Wallach (2005), misalnya, mengambil contoh lirik band Death Metal bernama Slowdeath yang dianggapnya sangat tajam: “There’s no difference between Dutch Colonialism and the New Order! (Tak ada bedanya kolonialisme Belanda dan Orde Baru)”.

Bukan sekadar liriknya yang bikin Wallach terkesima. Lirik tersebut, yang diambil dari lagu berjudul The Pain Remains the Same, ditulis dan dinyanyikan di masa ketika Suharto masih berjaya. Tak banyak musisi – kalaupun ada – yang berani seterang-terangan itu mengkritik Orba ketika ia masih berkuasa.

Tapi, pertanyaannya: apakah analisis terhadap liri lagu – atau elemen kultural lainnya – sudah cukup representatif? Apakah dengan melihat 1-2 lirik lagu, kita bisa menyimpulkan bahwa ini adalah cikal bakal perubahan sosio-politik yang akan terjadi kelak?

 Salah satu eksponen gerakan ‘98 yang juga saksi hidup musik underground dan gerakan sosial di Bandung, Herry ‘Ucok’ Sutresna, meyakini bahwa musik tidak seperkasa itu. “Saya tidak percaya musik bisa berbicara banyak di gerakan sosial,” kata Ucok ketika diwawancarai Jurnal Ruang. “Kalau lu mau bikin gerakan sosial, terlibatlah. Turun dan organisir bersama masyarakat. Di luar itu, enggak ada hal lain. Para petani itu tidak akan tergerak untuk mereklaim lahan hanya karena mereka mendengar lagu lu.”

Pun pada kenyataannya, di Indonesia, lagu-lagu dengan lirik politis tidak serta merta menumbuhkan kesadaran politik para scenester underground. Salah satu buktinya, lirik-lirik bernada pembangkangan milik Sex Pistols, Crass, Black Flag atau Dead Kennedys, tidak berpengaruh apapun bagi Generasi Pertama Punk Jakarta. Kesadaran politik mereka baru tumbuh melalui zine seperti Profane Existence dan Maximum Rock N Roll, dan – ini kuncinya – infiltrasi organisasi politik seperti PRD (Karib, 2007).

Itulah mengapa meski hampir setiap produk lirik dari musik underground berisi nada-nada perlawanan nan politis, tidak semua scenester memiliki keinginan untuk berpolitik.

Yang Politis dan Apolitis

Sejatinya, perbedaan pilihan politik adalah kenyataan sosial yang tidak hanya terjadi di ranah underground. Ia terjadi di hampir setiap lapisan masyarakat. Tentu kita tidak membayangkan bahwa scene underground memiliki suara politik yang seragam – toh mereka bukan Orba. Tapi dalam konteks ini, pilihan politik sangat berimplikasi pada bagaimana kita melihat scene underground dan perannya dalam perubahan sosial.

Perbedaan pilihan politik ini, hemat saya, mestinya menjadi aspek yang penting digarisbawahi bila ingin melihat seberapa besar pengaruh scene underground terhadap perubahan sosial-politik. Sebab, di Jakarta dan Bandung misalnya, keberadaan punk politis diimbangi oleh keberadaan punk yang secara terang-terangan menolak politik.

Dalam risetnya, Fransiska Titiwening (2001; dalam Karib 2007) menemukan, perseteruan antara punk politis (anarcho-punk) dengan punk apolitis (street-punk) begitu mewarnai perjalanan komunitas punk Jakarta. Meski tidak ada konfrontasi fisik antara keduanya — beritahu saya jika ada — garis demarkasi ‘ideologis’-nya cukup jelas. Punk politis melihat bahwa keterlibatan dalam politik (bukan ‘P’ besar, artinya politik di sini dimaknai secara lebih luas) adalah sesuatu yang penting. Di masa-masa bergejolak, tidak sedikit scenester yang ikut mengorganisir massa, beradu batu dan molotov dengan aparat di jalanan, mengokupasi gedung radio milik pemerintah — laiknya Cakrabirawa pada 1 Oktober ‘65, hingga diculik dan disiksa oleh aparat (Yunus, 2004).

Sementara di sisi lain, punk apolitis melihat bahwa politik adalah omong kosong belaka. Tentu mereka tidak mempersetankan politik. Tapi, mereka cenderung enggan menyangkutpautkan politik dengan laku produksi dan konsumsi budaya mereka.

Di Bandung, Resmi Setia (2001; dalam Martin-Iverson, 2014) dalam studinya menemukan pola yang hampir serupa. Ada perbedaan yang cukup besar di salah satu tongkrongan punk di Bandung; antara scenester lawas dari kelas menengah yang punya komitmen kuat terhadap musik dan politik, dengan kelompok baru yang terdiri dari anak-anak jalanan kelas bawah yang hanya tertarik pada fashion dan gaya hidup ala punk.

Ini persoalan nyata yang masih bertahan sejak era awal punk di Indonesia hingga Pemilihan Presiden 2014 — dan mungkin pemilu-pemilu selanjutnya. Ada dua esai menarik dari Herry Sutresna yang berjudul Making Punk A Threat Again dan Rosemary, Punk Rock dan Endorsment Polisi: Garis Tipis antara Naif dan Moron. Keduanya ditulis berdasarkan peristiwa di lapangan, yang menurut saya mampu memperlihatkan anomali punk di Indonesia; bagaimana pilihan untuk menjadi politis atau apolitis akan sangat berdampak pada situasi kultural dan politik, bahkan dalam scene itu sendiri. Ini tidak hanya terjadi di scene punk, tapi juga di scene underground lain seperti metal, Hip Hop, dan alternatif — omong-omong, ini klasifikasi underground menurut Wallach.

Sejarah yang Berulang

Apa yang terjadi pada anak muda di senjakala kekuasaan Suharto, menurut saya, tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di penghujung kekuasaan Sukarno. Pada tahun 1965, 1998, serta fase setelah ’65 dan ’98, anak muda – terutama yang menyukai musik non-mainstream – hanya sedang merayakan kebebasannya tanpa memiliki kecenderungan politik apapun.

Seperti yang Wallach kutip dari pernyataan Yukie (Pas Band), “underground rock movement di Indonesia adalah bukti bahwa pemuda Indonesia sedang menentukan pilihannya sendiri,” (Wallach, 2005). Atau simak kesaksian Munif Bahasuan ketika diminta menggambarkan masa-masa pasca kejatuhan Sukarno: “Jujur saja, setelah Pak Harto berkuasa, semuanya jadi lebih terbuka. Kami merasakan masa-masa penuh kebebasan.”

Tentu saja kita bisa memaknai kedua pernyataan tersebut sebagai pilihan politik — toh saya meyakini kebebasan individual adalah tindakan politik. Tapi, apakah ini berdampak pada Politik (huruf ‘P’ besar) pada skala yang lebih besar? Belum tentu.

Ketika Orba membuka diri terhadap pengaruh Barat, termasuk budaya, para ‘pemuda’ berbondong-bondong mengadopsi gaya hidup ala Barat, lebih spesifik lagi budaya hippies. Jika di Amerika Serikat hippies melakukan pembangkangan budaya sekaligus politik, tidak demikian di Indonesia. Aria Wiratma dalam Dilarang Gondrong menyebut kelompok hippies di Indonesia sebagai hippies abal-abal (plastic hippies), karena hanya mengimitasi laku dipermukaan saja seperti berambut gondrong, mabuk-mabukan, seks bebas, dan mengkonsumsi musik rock.

Sejarah membuktikan, meruaknya kebebasan di setiap transisi tidak melulu bermakna politis. Ini hanya gejala industri budaya, yang membuat semangat perlawanan dalam hippies maupun gerakan underground beralihrupa menjadi komoditas belaka. Tak ada yang politis, kecuali kecenderungan untuk bebas mengonsumsi segala tetek bengek dari ‘budaya perlawanan’, tanpa peduli dengan perlawanan itu sendiri.

Dalam Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Dominic Strinati menyebut bahwa, “industri budaya telah membentuk selera dan kecenderungan massa, sehingga mencetak kesadaran mereka dengan cara menanamkan keinginan atas kebutuhan-kebutuhan palsu.” Boleh dikatakan, kebutuhan akan perubahan sistemik kondisi sosial-politik, disederhanakan menjadi perkara kebebasan berekspresi/menentukan pilihan sendiri belaka; menjadi perkara kebebasan memilih benda-benda atau gaya hidup ‘pembangkang’ yang sebetulnya sama sekali tidak menyentuh bagian yang substansial. Atau dalam bahasa Strinati, “mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan riil, konsep-konsep alternatif dan radikal, serta cara-cara berpikir dan bertindak oposisional politis.”

****

Apa yang kemudian terjadi pasca-Orba tumbang? Dalam wawancara dengan Jurnal Ruang, Wallach memberikan pandangan yang lebih jelas: “Mungkin, anak-anak kelas menengah ini (para scenester underground) lelah. Setelah politis selama beberapa tahun, mereka mulai berpikir, ‘Kita sudah terlalu banyak bikin lagu anti-Suharto.’ Buat apa? Toh dia sudah lengser. Biarin aja, tinggal kita sekarang mau apa? Lantas, musik independen bergeser. Band yang sangat politis seperti Burgerkill dan Puppen disusul oleh band yang lebih eksperimental dan ‘nyeni’ seperti The Upstairs, White Shoes & The Couples Company, dan Mocca.”

Sebetulnya tidak berhenti di situ. Pergeseran yang terjadi bukan cuma dari politis menjadi ‘nyeni’, tetapi juga dari segi komersil. Demokrasi pasar pasca-Orba telah mengakibatkan disorientasi wacana dan gerakan scene underground, menyamarkan musuh, dan yang paling penting, membuka peluang bagi setiap individu untuk semakin terlibat di sistem. Industri budaya memastikan kelompok-kelompok ini turut serta dalam sistem (Strinati, 2016).

 Penelitian Martin-Iverson (2012) menemukan bahwa pada dekade 2000-an di Bandung, scene underground terus mengalami depolitisasi dan malah berorientasi pada urusan gaya hidup semata. Ada pergeseran motif dari politik menjadi ekonomi yang pada akhirnya menghilangkan identitas mereka sebagai kelompok ‘lawan’. Distro adalah salah satu manifestasinya: ia bermula sebagai ruang alternatif, kemudian beralih menjadi ruang transaksional dan menjadi mata rantai ekonomi neo-liberalisme.

“Para pengikutnya aman secara finansial,” tulis Strinati. “bisa membeli banyak barang yang mereka inginkan; atau yang mereka pikir mereka inginkan, dan tak lagi memiliki alasan-alasan sadar untuk menghendaki tumbangnya kapitalisme dan menggantikannya dengan sebuah masyarakat tanpa kelas dan tanpa negara.” Pada akhirnya semua pelaku di scene underground — yang politis maupun apolitis — menjadi betul-betul apolitis.

****

Dalam kesempatan diskusi di Jakarta beberapa waktu silam, ada satu pertanyaan menarik dari partisipan diskusi untuk Jeremy Wallach. Orang itu kira-kira bertanya: “Seberapa signifikan pengaruh musik populer bagi perubahan sosial, terutama pada periode ’98?”

Wallach kemudian menjawab, “Kalau tidak ada pengaruhnya, Orba (mungkin) masih bertahan sampai sekarang.”

Ada raut kekecewaan dari si penanya. Ia tidak puas. Demikian dengan saya. Selama beberapa waktu, pertanyaan orang itu juga membenak di kepala saya. Dan menurut saya, jawaban Wallach saat itu terlalu menyederhanakan. Entah memang itu jawaban yang ada di kepalanya, atau ia cuma sedang malas menjawab saja.

Kita bisa bersepakat bahwa setiap budaya tanding punya daya ubah. Tapi seberapa besar pengaruhnya? Bagaimana ia bekerja? Hingga level mana? Cukupkah lagu-lagu itu ‘menginspirasi’ massa — bukan cuma individu — untuk bergerak? Dan yang paling penting, apakah perubahan pada skala individu atau kelompok kecil dapat berpengaruh terhadap situasi yang lebih makro?

Tanpa ekosistem, sebuah elemen radikal – lirik lagu, misalnya – tidak akan berarti apa-apa. Sebuah laku budaya bisa dianggap memiliki daya ubah hanya apabila ia bekerja secara sistemik sehingga memengaruhi situasi yang lebih luas. Lebih jauh lagi, ia mampu menandingi ekosistem arus utama.

Ucok pernah bertutur dengan sinis: “Kalau sekadar soal musik sebagai produk artistik yang menghipnotis massa dan meruntuhkan tirani, saya rasa itu cuma dongeng.” Memang, musik tidak akan meruntuhkan tirani. Musik cuma bakal menarik tirani untuk menonton, mendengar, dan ikut bernyanyi. (*)

 

Sumber: Jurnal Ruang

Advertisements

‘Rumangsamu Penak’: Analisis Wacana Politik Hidup Harian Buruh Migran Indonesia dalam Lagu Dangdut Koplo

Oleh Irfan R. Darajat

 

Abstrak

Penelitian ini hendak memaparkan bagaimana lagu dangdut ‘Rumangsamu Penak’ dapat hadir dan sekaligus menghadirkan wacana tentang buruh migran perempuan di Indonesia. Persoalan politik hidup harian kerap mewarnai tema-tema yang dihadirkan dalam syair-syair lagu dangdut. Salah satu contohnya adalah lagu dangdut berjudul ‘Rumangsamu Penak’. Lagu tersebut lahir dari curahan hati Prita Apria Risty, seorang buruh migran perempuan Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Dia merekam dan menyangkan curahan hatinya ke dalam situs Youtube dan memancing perdebatan panjang di media daring tersebut. Video tersebut kemudian menginspirasi Nur Bayan , seorang pencipta lagu dangdut dari Jawa timur, untuk membuat lagu dari curahan hati tersebut. Curahan hatinya tersebut berdasarkan pengalaman personal menjadi buruh migran, sekaligus memantulkan konteks sosial yang melatarinya. Dengan pendekatan analisis wacana Foucaudian, akan terurai bagaimana relasi kuasa yang terbangun antara buruh migran dengan pekerja lelaki di dalam negeri, serta relasi antara negara (pemerintah) dengan buruh migran itu sendiri yang terdokumentasi pada syair lagu ini.

Abstract

This paper explicates how a dangdut song ‘Rumangsamu Penak’ [So you think it’s pleasant] brings forward discourses on Indonesian female migrant workers. Themes in dangdut song lyrics are often colored with the problems of everyday life politics; ‘Rumangsamu Penak’ is the case in point. The song was born out of the crying heart of Prita Apria Risty an Indonesian migrant worker in Hong Kong, who recorded and uploaded her soliloquy on Youtube to respond online debates about the reality of Indonesian migrant workers living and working abroad. The video went viral and inspired an East Javanese dangdut song writer, Nur Bayan, to create a song based on Prita’s video. ‘Rumangsamu Penak’ remarks the personal experience of a migrant worker and reflects the social context of Indonesian labor migration. Using Foucauldian discourse analysis approach, the paper is disentangling power relation among the community of migrant workers; between female migrant workers and male domestic workers; and lastly between the State and the migrant workers, all of which were documented in the lyrics of ‘Rumangsamu Penak.’

 

Pendahuluan

Lagu-lagu dangdut terkenal dengan kemampuannya dalam mengadaptasi tema-tema persoalan hidup harian. Dari persoalan kemiskinan, putus cinta, hingga kasus-kasus atau istilah-istilah fenomenal terkini yang menguak ke permukaan. Rhoma Irama telah mengangkat persoalan gelandangan dalam lagu yang yang berjudul ‘Gelandangan’ sejak tahun 1972. Bahkan, Rhoma Irama pernah menulis lagu yang mengangkat tema tentang persoalan yang lebih personal seperti ‘Mandul’ dan ‘Kandungan’.

Zaman terus bergerak, irama yang dihadirkan oleh dangdut makin berkembang dan bervariasi. Tetapi karakternya yang selalu ramah dengan tema yang seringkali dianggap remeh temeh tetap bertahan. Kini irama yang paling banyak diperdengarkan pada telinga kita ialah irama varian dari dangdut yang disebut dangdut koplo.

Dangdut koplo adalah varian dari irama dangdut yang mulai dikenal luas pada tahun 2003 dengan kontroversi Inul sebagai penandanya. Irama Koplo memiliki perbedaan dengan irama dangdut melayu yang dipopulerkan oleh Rhoma Irama, khususnya pada tempo dan ketukan gendangnya. Ketukan gendang yang dimiliki oleh dangdut koplo banyak terpengaruh idiom musik tradisonal daerah, khususnya dari daerah Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tidak berhenti di situ, perbedaan antara dangdut koplo dengan dangdut melayu (Rhoma Irama) ada pada cara produksi dan distribusinya. Dalam wilayah produksi musik, yang berkaitan dengan produksi lagu, dangdut koplo memiliki dua cara. Cara yang pertama adalah dengan menyanyikan ulang lagu yang sudah ada dengan aransemen irama koplo dan yang kedua adalah membuat lagu sendiri. Cara yang pertama adalah cara yang paling banyak digunakan oleh beberapa orkes dangdut koplo karena dinilai lebih praktis dan hemat. Lagu-lagu yang mereka bawakan ulang pun ada tipe, yang pertama dari grup musik yang sudah besar dan terkenal, dari lagu-lagu irama campursari yang diaransemen ulang, atau dari lagu-lagu pengamen yang terkenal di jalanan atau di suatu daerah tertentu, contohnya adalah lagu yang berjudul ‘Ngamen’. Sedangkan pada irama dangdut sebelumnya, kebanyakan mereka bekerja dengan menciptakan lagu sendiri. Tetapi hal tersebut tidak menandakan bahwa tidak ada kerja yang dilakukan oleh pencipta lagu pada orkes dangdut koplo. sumbernya bisa datang dari mana saja. seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dari kasus-kasus atau istilah-istilah fenomal terkini. Contohnya seperti, ‘Pokemon’ saat demam permainan Pokemon (Pokoe Move On), ‘Om Telolet Om’, dan lain sebagainya.

Pola distribusinya juga menarik untuk diikuti, karena pada dangdut koplo, orkes menitikberatkan pada penampilan panggung dan pada penampilan panggung tersebut, sang empunya acara biasanya menyediakan jasa dokumentasi video. Dari dokumentasi tersebut, lalu disebarluaskan dengan atau tanpa sepengetahuan pemilik acara. Kemudian beredar dalam bentuk VCD dan dikonsumsi orang banyak. Hal ini dirasa tidak sepenuhnya merugikan orkes dangdut koplo, karena mereka tidak menyanyikan lagu mereka sendiri, kedua, karena mereka menitikberatkan pada penampilan panggung, peredaran vcd ini menjadi ajang promosi bagi kelompok orkes mereka. VCD adalah satu jalan bagi distribusi musik dangdut koplo, jalan yang lain adalah Youtube.

Salah satu contoh yang paling menarik adalah lagu yang berjudul ‘Rumangsamu Penak’. Lirik dalam lagu tersebut diambil dari ungkapan curahan hati seorang buruh migran di Facebook dan Youtube. Dalam video tersebut ujaran-ujaran yang dikeluarkan oleh sang buruh migran dirangkai satu-persatu menjadi syair dalam lagu tersebut. Lagu ini membuat sang penyanyi, Prista, menjadi terkenal dan sempat tampil di televisi1. Dari lagu ini pembicaraan terkait kehidupan parah buruh migran Indonesia pun kemudian turut terangkat ke permukaan.

Persoalan ini dapat dilihat titik pijak untuk melihat bagaimana sebuah lagu dapat menghadirkan wacana. Dari wacana tersebut kita dapat melihat bagaimana relasi kuasa bekerja di dalamnya. Secara spesifik terkait dengan persoalan buruh migran Indonesia. Bagaimana mereka dilihat dan diposisikan oleh negara, sekaligus oleh masyarakat? Dengan menelusuri lebih dalam terkait teks dan konteks yang melingkupi lagu ini, kiranya akan dapat terbaca peta diskursif yang ada dalam lagu tersebut.

Dalam hal ini perlu kiranya untuk terlebih dahulumemahami kekuasaan dalam cara pandang Michel Foucault. Kekuasaan dapat terus menerus hadir melalui alam bawah sadar dengan perantara kategori-kategori seperti, benar-salah; baik-buruk; normal-tidak normal yang terus-menerus direproduksi. Kekuasaan ialah pengejawatahan dari hubungan sosial dan terlahir dan dinyatakan melalui hubungan sosial antarindividu dalam masyarakat. Kekuasaan oleh Foucault dianggap tidak dimiliki oleh seseorang (dapat dilokalisir), tetapi tersebar dan menjadi suatu strategi kompleks dalam suatu masyarakat dengan perlengkapan, manuver, teknik, dan mekanisme tertentu (Haryatmoko, 2002:12).

Berlandaskan pada pemahaman tersebut, Foucault memberi pemaknaan yang berbeda dalam melakukan pendekatan analisis wacana. Wacana menurut Michel Foucault merupakan sistem pengetahuan yang memberi informasi tentang teknologi memerintah yang merupakan bentuk kekuasaan masyarakat modern. Wacana, berarti berbicara tentang aturan-aturan, praktik-praktik yang menghasilkan pernyataan-pernyataan (statements) tertentu yang bermakna pada suatu rentang historis tertentu (Hall, 1997:44). Hal ini berbeda dari yang sebelumnya bagaimana wacana hadir dalam konsep linguistik yang dimaknai sebagai passsage of connected writing or speech atau bagian-bagian dalam sebuah susunan tulisan atau ujaran-ujaran. Foucault mendekati wacana bukan hanya sebagai bahasa, melainkan juga sebagai sistem representasi. Dengan demikian wacana dibayangkan sebagai kumpulan pernyataan yang menyediakan bahasa untuk membicarakan tentang—sebuah acara untuk merepresentasikan pengetahuan tentang—topik tertentu pada periode waktu tertentu (Hall, 1997: 44). Wacana adalah produksi adalah produksi pengetahuan melalui bahasa.

Wacana dapat hadir dalam bentuk ide, opini, hukum, norma, ,oralitas, ataupun pandangan hidup yang dibentuk atau dinyatakan sedemikian rupa sehingga mempengaruhi cara orang berpikir berucap, dan bertindak. Wacana dalam hal ini, bukan lagi merupakan kajian linguistik secara spesifik, sejak semua tindakan pun memiliki makna, maka wacana berada dalam kaidah bahasa dan praktik. Wacana mendefinisikan dan memproduksi objek dalam pengetahuan kita, ia mengatur topik apa yang akan dibicarakan dan mengapa harus dibicarakan. Wacan juga memengaruhi bagaimana sebuah ide digunakan dan dipraktikkan dalam mengatur sesuatu.

Ketika pemahaman tentang kekuasaan dan wacana telah mengalami pergeseran pemaknaan, maka terjadi pula pergeseran dalam titik analisis wacana. Barry Smart merumuskannya dalam lima hal (Smart, 1985:77-80). Pertama, analisis kekuasaan merupakan analisis terhadap teknik yang melekat pada institusi—beukan terhadap bentuk legitimasi kekuasaan institusi tersebut. Kedua, fokus dari analisis kekuasaan ala Foucault adalah penerapan kekuasaan, bukan pada siapa yang memiliki dan menerapkannya. Ketiga, individu dibayangkan sebagai medan berlangsungnya kekuasaan, bukan pelakon atau agen dari kekuasaan. Individu merupakan efek dari kekuasaan sekaligus elemen artikulasinya. Keempat, menekankan pada level mikri untuk mencatat sejarah, teknik, dan taktik kekuasaan. Kelima, kekuasaan perlu dipahami sebagai sesuatu yang positif dan produktif, bukan negatif dan represif.

Dengan menggunakan pendekatan analisis wacana foucault inlah kemudian hubungan diskursif antara teks dengan konteks dalam lagu berjudul ‘Rumangsamu Penak’akan ditelusuri lebih lanjut.

Curahan Hati yang Musikal

Lagu berjudul ‘Rumangsamu Penak’ mulanya berasal dari curahan hati Prista, buruh Migran Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Prista dan kebanyakan buruh migran lainnya tergabung dalam komunitas buruh migran Indonesia, baik itu formal maupun tidak. Jejaring buruh migran ini sangat akrab dengan media sosial terutama facebook dan youtube. Mereka menggunakannya sebagai media informasi, ekspresi diri, dan pengisi waktu luang (yang tidak banyak). Mereka sangat aktif dalam menanggapi situasi negara terkini, terutama yang terkait dengan isu buruh migran.

Curahan hati Prista adalah sebuah reaksi dari status Facebook dari buruh migran yang bernama Tery Yanti. Dalam laman Facebook-nya Tery menyatakan hal yang yang menyinggung lelaki Indonesia yang bekerja sebagai kuli. Hal tersebut sontak membikin kontroversi. Tanggapan yang mengecam pernyataan Tery berdatangan, baik dari kaum lelaki di kampung halaman di Indonesia, maupun dari kalangan buruh migran itu sendiri. Tidak berhenti di situ, Tery kemudian mengunggah video yang membuat keadaan semakin keruh. Dalam videonya dia menantang semua orang yang mengecamnya dan menyuruhnya untuk tidak mengurusi kehidupan Tery. Tery malah justru memunculkan perkataan lain yang menyinggung soal status salah satu Buruh Migran Indonesia (BMI) yang memiliki status sebagai janda. Saling berbalas video pun terjadi, hingga persoalannya semakin berkembang semakin jauh. Prista pun sempat membalas, atau lebih tepatnya menanggapi video pernyataan Tery, khususnya pada hinaannya di bagian merendahkan status janda2.

Tidak bisa dimungkiri, bekerja merantau ke negeri orang seringkali menimbulkan persoalan-persoalan mendasar dalam hubungan suami-istri. Kesepian, kerinduan, dan kebosanan menunggu adalah persoalan yang dilahirkan oleh jarak. Persoalan ini seringkali mendorong pasangan initerperosok dalam jurang ketidaksetiaan. Main gila, main serong seringkali jadi hiburan yang beranjak serius. Membuat ikrar yang pernah diungkapkan oleh pasangan tersebut harus cerai di meja pengadilan. Hal ini hanya salah satu saja dari sekian banyak persoalan yang harus dihadapi oleh para Buruh Migran dan hal ini kiranya dapat menggambarkan bahwa pekerjaan dan tantangan yang mereka tanggung bukanlah hal yang mudah belaka.

Polemik berlanjut, para lelaki yang merasa dihina oleh Tery pun membalas dengan mengunggah video yang menjawab olok-olok Tery. Dengan nada yang ironis, para pekerja lelaki di dalam negeri ini memamerkan bagaimana “enak atau penak” mereka definisikan. dalam menjalani pekerjaan mereka. Mereka mengunggah rutinitas melinting rokok, minum kopi, kegiatan lainnya dan memberi definisi baru, bahwa hidup seperti demikian pun sudah enak. Tidak berhenti sampai di situ, para pekerja lelaki ini mencoba menyindir para buruh migran yang berenak-enakan kerja di luar negeri jauh dari suami atau keluarga.

Pernyataan inilah yang kemudian mendorong Prista untuk membalas pernyataan para lelaki ini tentang kehidupan menjadi TKI3. Tapi bukan hal itu saja yang menjadi fokus pembicaraan Prista, ujaran yang dilontarkannya tidak hanya meluncur pada satu arah saja. Perhatian Prista juga terarah pada sikap yang dianggapnya kurang menyenangkan yang dipertunjukkan oleh Tery, serta rencana Jokowi yang terkait dengan pemulangan TKI.

Video yang diunggahnya pun kemudian menjadi viral. Mulanya video tersebut diunggah pada situ facebook pribadinya dan kemudian beredar hingga situs youtube dan terus mengalir ampai jauh. Gaya dan cara tutur yang khas yang diragakan oleh Prista membikin produser label rekaman ProAktif kesengsem dan mengajaknya rekaman. Adalah Nurbayan (pencipta lagu ‘Oplosan’ dan ‘Pokoke Joget’) yang kemudian menggubah ujaran-ujaran tersebut menjadi syair lagu, sekaligus menyusun aransemen musik yang kemudian disatukan dengan syair tersebut.

Begitu mendengar suara Prista dan nonton videonya di Youtube ide untuk membuat lagu langsung mengalir.” (Dari TKI ke Penyanyi Rekaman, Wawasan, 8 Mei 2015. hal.2)

Dari ujaran-ujaran Prista dalam videonya Nurbayan menggubahnya menjadi syair 16 baris, dengan pembagian 4 bait, dan satu bait berisikan empat baris, ditambah dengan dua bait ujaran (spoken words) asli yang merupakan bagian dari video yang pernah dibuat Prista yang kemudian disertakan dalam lagu. Penempatan ujaran tersebut yang pertama ada pada posisi setelah syair reffrain selesai dinyanyikan. Ia menempati posisi interlude, sebelum intro kedua. Sedangkan ujaran yang kedua berada pada akhir lagu setelah reffrain kedua.

Secara musikal, formasi yang digunakan oleh Nurbayan dalam lagu ‘Rumangsamu Penak’ terbilang standar. Aransemen lagu tersebut menggunakan formasi intro (4 bar), verse1 (4 bar), verse2 (4 bar), reff (3 bar) disusul dengan 1 bar bridge, kemudian kembali lagi ke reff (4 bar) ditutup dengan satu bar penutup reffrain. Lalu beralih ke format ujaran yang diiringi dengan ketukan kendang dan seruling pada dua bar pertama dan ketukan drum pada 2 bar selanjutnya. Formasi ini kemudian berulang pada bagian kedua lagu ini tanpa perubahan yang berarti, kecuali pada penekanan atau intonasi pada setiap akhir frasa musiknya.

Verse:

rumangsamu opo penak mas (yo penak)

ditinggal bojo dewekan mas (yo penak)

aku dadi tki, mbabu neng luar negeri

kanti niat ati nggo golek rejeki

Verse:

rumangsamu penak mas (yo penak)

gesek gesek gesek ndledek mas (yo penak)

bayangno lehku kerjo neng negorone tonggo

duit sing tak kirim ojo mbok entekno

Reff:

opo rumangsamu aku neng kene

mung facebookan karo dolanan hp

dewei loo kudune ndungo

mugo-mugo lancaro anggone makaryo

Reff:

opo rumangsamu aku neng kene

mung seneng seneng ora ngosek wc, yo ngosek

piro piro rejeki sing tak tompo

tak simpen wae ora tak sombong-sombongno

Ujaran (spoken words):

(Dewe ki lho wayahe ndongo

Mugo-mugo sing neng luar negeri ora dibalekne

Kok sih ngomong penak sing neng luar negeri

Yo penak

Engko-engko deloken diluk meneh

Dikon balik matun neng sawah

Kapok weee)

Kembali ke Intro, verse1, verse2, reff1, reff2

Ujaran (spoken words):

(Ra penak piye? Neng umah, nduwe duit, Rokokan, Facebookan, upload video, kon ra penak piye?

Duite entek tinggal telpon bojo, gesek gesek gesek, ndledek

Kon ra penak piye? Lemu, yo to, lemu…)

Verse:

Kamu pikir enak mas (ya enak)

Ditinggal pasangan sendirian mas (ya enak)

Aku jadi TKI, bekerja di luar negeri

Berniat untuk mencari rezeki

Verse:

Kamu pikir enak mas (ya enak)

Gesek gesek gesek keluar mas (ya enak)

bayangkan bagaimana aku bekerja di negara tetangga

uang yang ku kirim jangan kamu habiskan

Reff:

Apa kamu pikir aku di sini

Cuma main Facebook dan handphone

Kamu itu sendirian, harusnya berdoa

Semoga lancar dalam bekerja

Reff:

Apa kamu pikir aku di sini

Cuma bersenang-senang tidak membersihkan (ngosek) WC (ya ngosek)

Berapapun rezeki yang kuterima

Aku simpan saja tidak aku sombongkan

Ujaran (spoken words):

(saat sendiri waktunya berdoa

Mudah-mudahan yang di luar negeri tidak dipulang

Kok masih saja bilang lebih enak yang di luar negeri

Ya enak

Nanti, lihat saja sebentar lagi

Disuruh pulang kembali menggarap sawah

Baru tahu tasa)

Kembali ke Intro, verse1, verse2, reff1, reff2

Ujaran (spoken words):

(Bagaimana tidak enak? Di rumah, punya uang, merokok, main facebook, upload video, bagaimana tidak enak?

Ketika uang habis tinggal telepon istri, gesek gesek gesek gesek ‘ndledek’ (keluar)

Enak kan?! Gemuk, kan, gemuk…)

Lagu ini dibuka dengan ujaran “Rumangsamu penak, mas?!” sebelum akhirnya musik masuk mengiringi. Aransemen yang dikerjakan oleh Nurbayan tidak berbeda jauh dari lagu hits yang pernah dibuatnya yaitu ‘Oplosan’. Dengan campuran instrumen gamelan yang diambil dari synthesizer, drum, tamborin, kendang, keyboard/orjen. Dari hal tersebut, kiranya ada berapa hal yang dapat dibaca. Pertama, ujaran ‘Rumangsamu Penak’ yang muncul pada awal lagu, dan terulang pada awal kalimat yang menyusun syair verse pertama dan kedua menandakan kata-kata ini digarisbawahi atau ditekankan. Ini adalah sebuah pernyataan penting yang harus muncul. Ia berfungsi sebagai sebuah sindiran dan tidak memerlukan jawaban. Jawaban dari pertanyaan tersebut pun sebenarnya sudah muncul sendiri pada suara backing vokal ‘yo penak’. Hal ini seperti sebuah pertanyaan retoris.

Penekanan dan pengulangan yang dilakukan pada kata ini pun terjadi pada video-video yang diunggah oleh Prista di kanal youtube atau facebooknya. Hal ini, berfungsi juga untuk menggaet telinga pendengar. Agar mudah dihapalkan dan tertinggal dalam benak pendengar. Selanjutnya, pada formasi lagu yang digubah oleh Nurbayan yang merupakan tiruan pucat dari lagu hits sebelumnya. Dengan melandaskan kepada pandangan Adorno terkait dengan musik populer, kita dapat melihat bagaimana musik populer telah distandarisasi, bahwa tidak ada kebaruan dalam musik populer. Hal itu dijelaskan oleh Adorno, dan sebagaimana juga terjadi dalam lagu ini, yaitu proses plugging. Sebuah proses yang digunakan oleh produser musik populer dengan meniru unsur-unsur atau formasi pada lagu yang pernah menjadi hits, dengan harapan lagu yang “baru” dapat menjadi hits lagi. Hal ini akan memberikan efek ilusi kepada pendengar bahwa lagu yang mereka dengarkan dapat memiliki dua sifat sekaligus yaitu, seolah-olah lagu tersebut berbeda dan baru tapi sekaligus ia mirip dengan lagu yang pernah didengar sebelumnya (Adorno, 2008: 271-275).

Lantas, apakah dengan demikian tidak ada yang tersisa lagi untuk membaca fenomena lagu ini selain dengan bingkai komodifikasi dan komersialisasi tema-tema hidup harian dari kelompok buruh migran ini? Tentu saja tidak demikian. Dalam hal ini kita dapat melihat bagaimana irama dangdut digunakan sebagai cara tutur. Apakah irama dangdut yang digunakan adalah irama yang sama dengan irama dangdut yang dipopulerkan oleh Rhoma irama? Tentu saja tidak, irama ini secara musikal berbeda dengan irama dangdut rhoma Irama. Meskipun tidak serta-merta dapat langsung disimpulkan sebagai irama yang sama persis dengan irama yang berkembang di daerah pantai utara, tapi unsur musik seperti ketukan perkusi dan percampuran dengan unsur musik daerah, rasanya lebih tepat jika lagu ini masuk dalam varian irama dangdut koplo. Ditambah lagi dengan bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa dengan dialek Jawa Timur, hal ini menunjukkan siapa dirinya dan siapa yang dia ajak berbicara.

Dalam hal ini Nurbayan tidak dapat serta-merta disebut sebagai penulis syair, karena bahan syair tersebut seluruhnya berasal dari ujaran Prista. Dari curahan hati, Nurbayan mampu menangkap, memilih, dan memilah kata-kata yang penting yang kemudian diperasnya menjadi syair yang kemudian memiliki unsur musikal. Membingkai statemen-statemen yang memiliki unsur diskursif. Dengan demikian Prista tetap dapat menemukan dirinya dan suaranya sendiri dalam lagu tersebut.

Protes yang Liris

Dengan memaparkan konteks yang melatari polemik kemunculan lagu ‘Rumangsamu Penak’, sekiranya dapat memudahkan untuk memeriksa praktik diskursif yang melekat pada ujaran-ujaran Prista yang terangkum dalam syair lagunya. Pada bait pertama, syair berbunyi rumangsamu opo penak mas (yo penak)/ditinggal bojo dewekan mas (yo penak)/aku dadi tki, mbabu neng luar negeri/kanti niat ati nggo golek rejeki (Kamu pikir enak mas (ya enak)/Ditinggal pasangan sendirian mas (ya enak)/Aku jadi TKI, bekerja di luar negeri/Berniat untuk mencari rezeki). Dari syair tersebut dapat dilihat bagaimana Prista memposisikan dirinya sebagi seorang pekerja yang bekerja sepenuh hati untuk mendapatkan rezeki.

Selain itu, kita mesti lihat penggunaan kata ‘Babu’ di dalam syair ini. Dalam syair ini, kata-kata babu tidak begitu dipersoalkan oleh buruh migran lainnya, karena dalam hal ini Prista sedang menyebut dirinya sendiri. lain persoalannya pada kasus yang terjadi ketika Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR yang mengeluarkan cuitan di akun pribadi twitter miliknya yang berbunyi: “Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela…”4. Ujaran ini menuai kritik dan kecaman keras dari berbagai kalangan termasuk dari kalangan pejabat dan buruh migran sendiri. Hal ini hampir sama logikanya jika dibandingkan dengan bagaimana kata-kata ‘negro’ digunakan di Amerika. Jika orang Amerika keturunan Africa sendiri yang mengucakannya maka tidak akan menjadi terlalu bermasalah, namun jika diungkapkan oleh kaum kulit putih maka ini menjadi persoalan besar menyangkut isu rasisme. Dalam hal ini, ungkapan yang digunakan oleh Fahri Hamzah dianggap merendahkan harkat para buruh migran.

Pada bait selanjutnya, syair berbunyi; rumangsamu penak mas (yo penak)/gesek gesek gesek ndledek mas (yo penak)/bayangno lehku kerjo neng negorone tonggo/duit sing tak kirim ojo mbok entekno (Kamu pikir enak mas (ya enak)/Gesek gesek gesek keluar mas (ya enak)/bayangkan bagaimana aku bekerja di negara tetangga/uang yang ku kirim jangan kamu habiskan). Kalimat selanjutnya adalah gesek, geek, gesek, ndhledek (keluar), kalimat ini kemudian diperjelas konteksnya dengan kalimat lanjutannya yang berbunyi, ‘kerja di negara tetangga, uang yang aku kirim jangan kamu habiskan’. Dengan begini, dapat dimengerti bahwa yang keluar adalah uang kiriman hasil bekerja di luar negeri. Di sini, Prista sebagai buruh migran dan perempuan memiliki statemen yang penting. Yaitu bahwa dialah penopang ekonomi keluarga, dan bekerja dengan lokasi yang jauh dan asing tentu tidak semudah itu dijalani. Hal ini digunakan sebagai pengingat kaum lelaki yang tinggal di kampung halamannya, yang ditinggal istrinya pergi bekerja di luar negeri agar dapat menggunakan uang hasil kirimannya dengan sebaik-baiknya. Pada bait ini pun kita dapat melihat bagaimana Prista mengulang penjelasan tentang perjuangannya bekerja di luar negeri, bahwa hal itu tidak mudah.

Hal tersebut diperkuat dengan bait selanjutnya yang berbunyi, opo rumangsamu aku neng kene/mung facebookan karo dolanan hp/dewe i lho kudune ndungo/mugo-mugo lancaro anggone makaryo (Apa kamu pikir aku di sini/Hanya bermain Facebook dan handphone/Kamu itu sendirian, harusnya berdoa/Semoga lancar dalam bekerja). Di sini Prista terlihat mengklarifikasi pandangan lelaki yang menyindir para buruh migran yang bekerja hanya ‘enak-enakan’ dan rajin bermain facebook. Hal ini didasarkan pada kegiatan para buruh migran yang sangat aktif dalam menggunakan sosial media. Hal ini mungkin terjadi karena kaitannya dengan waktu luang yang dimiliki di dalam rumah oleh para buruh migran. Karena melakukan kerja domestik bukanlah melakukan pekerjaan yang berdurasi 24 jam, namun hanya sesuai yang dibutuhkan saja.

Meskipun demikian, pekerjaan buruh migran pun dikatakan tetap melakukan pekerjaan yang paling mendasar seperti membersihkan kamar mandi, hal ini diungkapkan dalam syair lagu selanjutnya yang berbunyi, opo rumangsamu aku neng kene/mung seneng seneng ora ngosek wc, yo ngosek/piro piro rejeki sing tak tompo/tak simpen wae ora tak sombong-sombongno (Apa kamu pikir aku di sini/Cuma bersenang-senang tidak membersihkan (ngosek) WC (ya ngosek)/Berapapun rezeki yang kuterima/Aku simpan saja tidak aku sombongkan). Selanjutnya Prista menjelaskan tentang bagaimana sikap rendah hati mestinya tetap dimiliki oleh pekerja. Dalam ini, niatan untuk mengingatkan kesombongan yang dimaksud mengarah pada dua sisi, yaitu para rekan buruh migran, berkaca dari kasus Tery, dan para pekerja lelaki dalam negeri. Karena sejatinya keduanya memiliki kesusahan dan kesenangan masing-masing.

Struktur lagu selanjutnya kemudian berisi dengan ujaran Prista yang diambil dari video curhatnya. Artinya, kata-kata yang keluar termasuk bagian dari lagu tapi tidak dinyanyikan. Syairnya berbunyi, Dewe ki lho wayahe ndongo/Mugo-mugo sing neng luar negeri ora dibalekne/Kok sih ngomong penak sing neng luar negeri/Yo penak/Engko-engko deloken diluk meneh/Dikon balik matun neng sawah/Kapok weee (saat sendiri waktunya berdoa/Mudah-mudahan yang di luar negeri tidak dipulangkan/Kok masih saja bilang lebih enak yang di luar negeri/Ya enak/Nanti, lihat saja sebentar lagi/Disuruh pulang kembali menggarap sawah/Baru tahu tasa). Dalam bait ini kita melihat bagaimana Prista membicarakan harapan, agar ‘sing neng luar negeri ora dibalekne/yang di luar negeri tidak dipulangkan dan kembali bekerja di sawah. Hal ini merujuk pada pernyataan Jokowi yang ingin memberhentikan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Alasannya karena terkait dengan harga diri bangsa. Artinya, masih ada persoalan dalam memandang para pekerja ini, para buruh migran ini. Bagaimana para pekerja ini, dipandang sebagai hal yang memalukan, sementara alasan keberangkatan mereka mencarai pekerjaan di luar negeri adalah karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang layak dan mencukupi bagi mereka.

Lebih lanjut, ungkapan yang menarik adalah bagaimana ketakutan Prista untuk kembali menggarap sawah. Terbaca pada ujaran yang berbunyi, Dikon balik matun neng sawah/Kapok weee. Dalam hal ini, terlihat bagaimana kerja menjadi petani rupanya menjadi hal yang dihindari oleh tenaga kerja yang berusia masih muda. Hal ini tentu saja dapat lebih jauh ditelisik muasalnya. Apakah karena sistem yang membuat petani sulit hidup dengan layak di negara ini, apakah karena negara yang tidak berpihak pada petani, apakah karena sawah yang dikerjakan bukan merupakan miliknya, sehingga dalam perekonomian menjadi lebih sulit, atau jika lahan itu milik mereka sendiri namun negara malah menggusurnya seperti yang terjadi pada kasus petani Rembang dan Kulon Progo5?

Syair selanjutnya intinya merupakan penjabaran tentang hal yang lebih detil tentang sindiran Prista yang dialamatkan pada lelaki di kampung halaman (Indonesia). Ra penak piye? Neng umah, nduwe duit, Rokokan, Facebookan, upload video, kon ra penak piye?/Duite entek tinggal telpon bojo, gesek gesek gesek, ndledek/Kon ra penak piye? Lemu, yo to, lemu… (Bagaimana tidak enak? Di rumah, punya uang, merokok, main facebook, upload video, bagaimana tidak enak?/Ketika uang habis tinggal telepon istri, gesek gesek gesek gesek ‘ndledek’ (keluar)/Enak kan?! Gemuk, kan, gemuk…. Terlihat bagaimana dia menjabarkan semua aktifitas yang dilakukan oleh para pria di sebuah video yang mulanya tuduhan tersebut ditujukan pada para buruh migran seperti dirinya. Dengan menggunakan gaya bahasa ironi, sekali lagi Prista menunjukkan siapa yang menjadi penopang ekonomi keluarga.

Secara keseluruhan dalam teks ini dapat dilihat bagaimana statemen-statemen yang tersebar pada syair lagu ‘Rumangsamu Penak’ menghadirkan sebuah wacana. Sebuah wacana protes yang dikemas dalam cara tutur yang jujur, yang menggambarkan keadaan yang dialami kaum buruh migran. Dan dari sana pula kiranya dapat terlacak, wacana apa saja yang kemudian melingkupinya, bagaimana wacana tersebut menekan dan menghimpit buruh migran Indonesia. Melalui penggambaran persoalan hidup harian, syair yang terkesan liris ini tidak lain adalah sebuah bentuk protes.

Kesimpulan

Indonesia menjadi negara terbesar kedua dalam urusan mengirim pekerja migran dan 90% di antaranya adalah perempuan (Isabella, 2016). Hal ini terjadi tentu bukan tanpa sebab. Kita harus bisa melihat apa yang bisa didapatkan di luar negeri sebagi TKI yang tidak bisa didapatkan di dalam negeri sebagai perempuan. Arus pengiriman pekerja domestik ke luar negeri telah terjadi semenjak tahun 1970-an, dan terus bertambah pada tahun 1980-an ketika negara-negara yang termasuk dalam sebutan “Macan Asia” (Singapura, Jepang, Taiwan, Korea Selatan) mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dan memiliki permintaan atas kebutuhan pekerja domestik dari negara-negara berkembang di Asia Tenggara (Kaur, 2009: 288).

Menjalani kehidupan sebagai buruh migran terutama perempuan memang berat. Pada satu sisi kehadirannya dianggap dan dielu-elukan sebagai pahlawan devisa. Tetapi negara pun ternyata tidak terlalu bangga terhadapnya. Belum lagi pandangan masyarakat terkait persoalan rumah tangga buruh migran yang kebanyakan tidak berlangsung dengan baik. Jarak dan kesepian membuat banyak pasangan terlibat pada kasus perselingkuhan hingga perceraian. Belum lagi kasus kekerasan yang kerap kali menimpa para buruh migran, juga seringkali terjerumusnya para calon pekerja ke dalam sindikat perdagangan manusia. Hal ini menjelaskan bagaimana latar persoalan dan resiko yang dihadapi oleh buruh migran sejak awal dirinya memutuskan untuk bersedia bekerja di luar negeri.

Dari rentetan peristiwa dan konteks yang melatari lagu ‘Rumangsamu Penak’ ini dapat terlihat bagaimana praktik wacana bekerja dalam kerangka berpikir Michel Foucault. Wacana dalam hal ini terkait erat dengan politik, politik dalam hal ini terkait erat dengan persoalan kuasa, dan kekuasaan tidak terpusat pada institusi negara saja. Ia tersebar bahkan dalam praktik hidup harian dan memengaruhi cara pandang manusia terkait dalam menentukan kategori mana yang baik dan buruk; mana yang wajar mana yang tidak wajar; mana yang normal dan mana yang tidak normal (Haryatmoko, 2016: 14-15).

Kesombongan yang ditampilkan oleh Tery dan para pekerja lelaki dalam negeri (kuli) dirasa oleh Prista sebagai hal yang tidak perlu. Karena masing-masing menanggung bebannya masing-masing. Kesombongan yang ditampilkan oleh Tery merupakan sebuah respon atas pandangan umum yang seringkali merendahkan posisi Buruh Migran. Sehingga kesombongannya merupakan sebuah upaya untuk mendefinisikan kembali posisinya. Dia ingin memunculkan wacana kesuksesan dan gengsi dalam dirinya melalui bahasa yang dinilai kasar. Kesombongan Tery lahir dari pandangan yang merendahkan dirinya, yang sudah terjadi selama ini terhadap buruh migran. Begitupun yang terjadi dengan para lelaki yang bekerja sebagai kuli di kampung halaman Indonesia. Wacana patriarki yang bekerja terlalu lama dan mendalam dalam sistem sosial Indonesia membikin para lelaki yang bekerja sebagai kuli ini merasa direndahkan. Dengan cara pandang ptriarki, lelaki memiliki pemikiran bahwa beban ekonomi harus ditanggung olehnya, dan ketika hal tersebut tidak dapat dipenuhi maka lelaki akan lari kepada kekerasan, baik yang berupa verbal, psikis maupun fisik. Dalam sistem patriarki lelaki pun sebenarnya dirugikan, dan lebih parahnya pelarian yang diambil oleh lelaki terkadang justru semakin merugikan perempuan. Porsi kerugian yang diterima perempuan tentu saja lebih jauh ketimbang yang dialami oleh perempuan. Video Prista yang tidak terima atas ujaran Tery—yang menghina buruh yang memiliki status janda—pun merupakan sebuah respon. Respon yang menentang pandangan masyarakat bahwa janda itu buruk, lebih hina karena tidak berhasil membina hubungan rumah tangga, atau karena alasan apapun. Begitupun respon terhadap pandangan lelaki yang melayangkan tuduhan bahwa hidup kaum buruh melulu ber-enak-enak-an saja.

Respon-respon tersebut tercantum dalam syair lagu rumangsamu penak. Setiap respon yang muncul dapat kita baca sebagai sebuah statemen yang melahirkan wacana. Sebuah wacana tandingan yang lahir dari suatu wacana yang lebih besar. Dalam hal ini, kekuasaan dapat kita maknai sebagai sesuatu yang bersifat produktif. Dia melahirkan anti-kuasa. Anti-kuasa yang lahir bukan dari luar atau dari mana pun, tapi dari kekuasaan itu sendiri.

Selain itu, wacana lain yang berurusan dengan lagu ‘Rumangsamu Penak’ adalah wacana bagaimana negara memandang buruh migran. Negara dalam hal ini mewujud pada Jokowi dan Fahri Hamzah. Instrumen kekuasaan yang mereka gunakan adalah bahasa. Bahasa merupakan hasil dari praktik sosial dan di sana bekerja juga kekuasaan. Wakil Ketua DPR menyebut mereka sebagai babu pengemis. Presiden malu menanggung malu karena negara yang dipimpinnya merupakan tiga besar negara pengirim pekerja domestik di dunia. Dari statemen tersebut dapat kita lihat bagaimana kekuasaan bekerja lewat bahasa. Sementara itu semua statemen itu tidak diimbangi dengan penyelesaian yang jelas. Terkait bagaimana pemerataan ekonomi dan lapangan pekerjaan, perlindungan terhadap pekerja domestik yang di luar negeri, dan lain sebagainya.

Posisi dangdut koplo dalam hal ini berfungsi sebagi medium yang mewadahi cara tutur Prista yang khas. Meskipun dangdut memiliki sejarah kaitan yang kuat dengan tema-tema persoalan hidup harian, tapi penggunaan bahasa di sini menjadi penting. Bahasa Jawa digunakan sebagai cara tutur yang khas, yang mewakili siapa dirinya dan siapa yang dia ajak bicara. Begitupun dengan irama yang dangdut yang dipilih. Secara diskursif, posisi dangdut koplo pun dalam ranah musik dapat dibilang terpinggirkan. Pada awal kemunculannya, Rhoma Irama mengecam Inul, dan menolak mengatakan musik dangdut koplo sebagai musik dangdut6. Irama musik dangdut koplo digemari oleh banyak kalangan buruh migran dan pekerja di Indonesia. Dalam kaitannya dengan beredarnya lagu ini di wilayah industri populer tidak serta-merta membuat tema ini menjadi bisu belaka. Masuknya tema ini dalam wilayah industri populer, direkam dengan layak dan profesional, serta dikelola oleh label rekaman besar dapat menjadi sebuah siasat. Bagaimana tema ini dapat tersebar pada pendengar yang lebih luas. menyentuh telinga-telinga orang-orang yang awalnya tidak peduli atau tidak pernah tersentuh dengan wacana macam ini. Jadi perpaduan irama koplo dan tema curahan hati seorang buruh migran dapat dimaknai sebagai perpaduan yang artikulatif dalam menyuarakan suara-suara orang kalah; yang rupanya masih mampu untuk melawan; masih mampu untuk menolak kalah.

 

Daftar Pustaka

Adorno, Theodor. On Popular Music (dalam Current of Music). Cambridge: Polity Press, 2008. (Artikel)

Fairclough, Norman. Language and Power. New York: Longman Inc, 1941. (Buku)

Foucault, Michel. The Archaeology of Knowledge. New York: Tavistock, 1972. (Buku)

Hall, Stuart (ed). Representation. London: Sage Publication Ltd, 1997. (Buku)

Haryatmoko. Critical Discourse Analysis (Analisis Wacana Kritis); Landasan Teori, Metodologi dan Penerapa. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2016. (Buku)

—, Membongkar Rezim Kepastian. Yogyakarta: Kanisius, 2016. (Buku)

Smart, Barry. Michel Foucault. New York: Routledge, 1985. (Buku)

Jie, Buyil. Dari TKI ke Penyanyi Rekaman. Koran Pagi Wawasan, 8 Mei 2015. (Koran)

Internet

Isabella, Brigitta. The Production of Shared Space: Notes on Indonesian Migrant Workers in Hong Kong and Japan. (https://kyotoreview.org/yav/indonesian-migrant-workers-hong-kong-japan/). Diakses pada 1 April 2016, pukul 19.23.

http://regional.kompas.com/read/2015/02/14/03274001/Jokowi.Akan.Stop.Pengiriman.TKI. Diakses pada tanggal 30 Maret 2017, pukul 13.00.

Catatan akhir

[1] Prista sempat tampil dalam beberapa acara talkshow diantaranya ‘Bukan Empat Mata’ (Trans7), ‘Curahan Hati Perempuan’ (Trans TV), ‘Trending Topic’ (Metro TV), dan ‘Dhasyat’ (RCTI).

[2] Videonya dapat diakses pada alamat https://www.youtube.com/watch?v=8_U6pYn2Vo4.

[3] Video tersebut dapat diakses pada laman berikut; https://www.youtube.com/watch?v=Z1vLLLYG8QY.

[4] http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-38728106 diaksees pada 30 Maret 2017, pukul 17.21.

[6] Konferense PAMMI (Persatuan Artis Musisi Melayu Indonesia), Rhoma Irama menyatakan menolak istilah dangdut koplo, dia membedakan islah dangdut dan koplo. “Dangdut ya dangdut, koplo ya koplo. Jangan sebut dangdut koplo.”

 

Sumber: Jurnal Kajian Seni PSPR UGM

Artikel dalam format pdf dapat diunduh di sini.

Homicide and Hip-hop

Oleh Ben Harkness

Hip-hop, or rap music, is on the rise in Indonesia. Groups rapping about the frustrations and uncertainties they face in everyday life are finding a large audience among urban youth. Michael Bodden’s article Urban poets detailed this trend in the July-September 2005 edition of Inside Indonesia.

The current wave of hip-hop is not the first time the genre has risen to popularity. The early nineties saw the first hip-hop acts gain varying degrees of success in Indonesia. Unlike other forms of often politically-conscious music such as punk, which thrived in the underground music scene in the nineties, hip-hop has had much less to show for its efforts.

The Bandung hip-hop band Homicide formed in early 1995. Relative veterans of the hip-hop scene, Homicide pride themselves on being overtly political. With their aggressive style and confrontational on-stage oration, Homicide has collected a loyal fan base and a notorious reputation.

I spoke to Homicide’s front man, Ucok, about their music, politics and the state of hip-hop in Indonesia.

Homicide has been part of the hip-hop scene for over ten years. Have there been many changes over that period?

A lot has changed since the early nineties. There are a lot of really good groups in Indonesia now that are very different to the earlier hip-hop groups and really different to Homicide too. These days there are a lot of styles and approaches.

When the original line-up behind Homicide first got together, hip-hop was still in its infancy. A few years prior, hip-hop had made some inroads in Indonesia. But there wasn’t really a hip-hop scene so to speak. This meant that looking for people with similar interests in making this sort of music was really tough. Finding someone to help record and produce the music was even tougher.

These days it seems the music scene in Indonesia is a little more conducive to allowing new groups to go their own way. The infrastructure of the independent music industry is far more developed than it was a few years ago.

The problem now is that radio stations aren’t ready and the media are still scared. That is one of the main differences between Indonesia and say America or Europe, where more outspoken or controversial bands can be appreciated for what they are.

Your lyrics are often critical of society. What issues does Homicide consider important?

When we were starting out, we took a lot of inspiration from bands like the New York groups The Last Poets and Public Enemy. The Last Poets were a group of African-American Muslims. These guys met in prison after refusing to go to Vietnam. They used to perform their poetry, a lot of it politically-charged, on the street corners of Harlem. Public Enemy, on the other hand, brought a social and political conscience to hip-hop in the eighties. Their approach was about more than just the music. They were intent on enjoying themselves but having something to say at the same time. Our style is quite similar to theirs.

Our music expresses our views of the world. The issues we deal with are quite varied but essentially we encourage young Indonesians to look beyond the lifestyles that the government and the corporations feed them. We want to encourage discussion about individual and collective ways to establish economic, cultural and political autonomy.

Have the issues that Homicide sees as important changed since the band first formed?

Yes, a lot has changed. If it hadn’t I think that would be dangerous. A band should never become stagnant.

We see a lot of issues differently now. When Homicide began, most local bands were atrocious. The Indonesian music scene was really uninspiring for young, up and coming artists. We were very vocal in criticizing the state of Indonesian hip-hop in particular. It was a common theme in our earlier songs. We saw many groups using hip-hop as a means to fame or fortune, and not for raising awareness among young people.

This doesn’t bother us so much anymore. We’re more focused about what we as a group are doing, rather than the industry as a whole. It is often hard for young Indonesians to find easily accessible creative outlets. If hip-hop can provide opportunities for creative expression then that is a positive thing.

Some Indonesian hip-hop acts rap about their frustrations, their relationships. Others are just rapping about nothing. Not many Indonesian hip-hop groups are concerned with social or political issues. Very few are pushing the envelope, or could be considered controversial. Most are just playing it safe, staying within a comfort zone. But we’re fine with that now.

What is Homicide’s relationship with the media like?

Homicide has avoided media attention. We have largely ignored market pressures. This wasn’t a deliberate choice though. We just went with our instincts. We were far more comfortable being who we were, rather than becoming a market-orientated mouthpiece.

In all honesty, we don’t have a problem if we appeal to a mainstream audience, as long as we stay true to ourselves. If we achieve our main aims and enlighten the community, there’s no problem.

Hip-hop, much like punk, has its roots in social commentary and protest. Does it surprise you that hip-hop in Indonesia is only now gaining its feet while punk as a movement reached its peak a few years ago?

No. Hip-hop is different to punk. Its impact has also been very different. Punk has, over a number of years, built a strong foundation in the music industry. Today there is strong infrastructure behind punk and punk makes a significant contribution to the musiccommunity.

Compare this to hip-hop. There have been several waves of hip-hop in Indonesia over the years, but there is nothing to show for this, with the exception perhaps of passé trends.

But with the current resurgence of hip-hop in Indonesia I hope things can change. I strongly believe hip-hop should establish its own record label and its own networks, much like those established by the punk movement a few years ago. The lack of such support has been a big factor in hip-hop being only a transient force.

The larger record labels signing new hip-hop acts still turn many of these acts into half-baked entertainment for the sake of profit. A hip-hop label would allow a greater appreciation of hip-hop as a genre, and greater appreciation of the talents of young hip-hop groups.

Since the fall of Suharto, much has changed in Indonesia. Have these changes affected the potency of hip-hop?

No. Government change hasn’t affected hip-hop’s capacity to be a mouthpiece for social and political issues. That’s true for Homicide anyway. We have never let ourselves be intimidated by the government. If you want to voice an opinion, then voice it! At most you are followed by intelligence agents, or taken into custody after coming off stage and threatened with this and that. And that for me is no problem

Ben Harkness(ben.harkness@gmail.comis joint guest editor of this edition of Inside Indonesia.
Homicide (www.nekrophone.com) will shortly be releasing a retrospective album entitled, ‘The Necrophone Days: Remnants and Traces from the Days Worth Living’ through Subciety Records. Ucok publishes an online newsletter through www.zahramentari.com

 

Sumber: insideindonesia.org

Punks, Rastas and Headbangers: Bali’s Generation X

Oleh Emma Baulch

Every second Sunday at around dusk, a stream of motorbikes starts trickling down from the Sanur bypass towards the beach at Padang Galak. They turn east at the shore, traverse the vast expanse of graded earth that is to be Bali’s first ‘Recreation Park’, and come to rest at a grassy flat beneath the Penyu Dewata swimming pool. By nightfall, around 1000 two wheeled vehicles have banked up. They have come to witness what is currently Bali’s biggest local music event – the bi-weekly Sunday Hot Music.

Most visitors to Bali will have heard a local band play at one of the pubs or clubs around Kuta or Sanur. But unknown to most of them, a locally oriented rock scene lies beneath this gloss of tourist entertainment venues and less than perfectly rendered covers of ‘Hotel California’. This local music scene is booming and some attribute the boom to Sunday Hot Music.

Snowball

‘Sunday Hot Music has produced a snowball effect whereby the more gigs there are, the more kids want to be in a band’, says Gus Martin, Bali Post’s resident rock historian who originally proposed the idea to the backer of Sunday Hot Music, Crapt Entertainment. According to Martin, Sunday Hot Music is more than just a music event, ‘it has become an important part of teen life in Denpasar’.

Whether Sunday Hot Music can be credited with creating the boom is a moot point. But clearly, the local music scene has shown signs of invigoration since the event started two years ago. Because of the increasing number of bands, Crapt has recently been forced to turn many hopefuls away. Each Sunday Hot Music showcases six bands, three of which are invited without audition and three selected after auditioning. Now Crapt has started to use a random pre-selection system to cull the pool.

Some veteran Balinese musicians see the greater accessibility of musical equipment as having prompted the boom. According to Agus Lempog, a guitarist who plays in several of the well-known clubs in Kuta and Sanur, ‘musical instruments are easier to come by now. Look in Jimbaran for example. People sell their land and if they’ve got teenage kids they buy musical instruments. For the kids, it’s a form of prestige and it gives them a hobby.’

I’ll dump you anyway

At dusk, the crowd at Padang Galak is still sparse. A single strip of Hondas – Sunday Hot Music‘s ‘back row seats’- lines up 200m back from the stage. Clutches of adolescents group on the rise under the trees and on the flat. Not until darkness descends does the flow of incoming traffic increase. The vast empty space between the stage and the back row fills with an ever thickening crowd. Under the night sky, spectators sit cross legged, knee to knee on the dusty earth. Together they form a silent mass, completely focussed on the floodlit stage to the north, waiting for the show to commence.

When the first players appear, they are wearing jeans cut off at calf length, runners, and the vocalist dons a fat tie over his ripped T-shirt. Superman is Dead (SID) is a Kuta-based punk band formed at the end of 1995 by three university students – Bobbie (vocals), Eka (rhythm) and Jerink (drums). If I can’t have you/ That’s alright/ Because I’ll dump you anyway/ I’ve got no love mother fucker. Lips resting on the mike, Bobbie screams out the phrases.

‘Our punk is about an anti-establishment attitude that’s communicated musically with a letting go, anything goes kind of approach’, Jerink explains later backstage where some crop-headed teens had minutes before been moshing to the music.

Alternative

‘We want to stress the value of taking things lightly, don’t get into anything too heavy, just be realistic, play whatever’, Jerink says. SID’s punk style is commonly lumped with the broader alternative genre, widely quoted by musicians as currently the trendiest. Since the Green Day and the Alternative Rock concerts in Jakarta earlier this year, ‘alternative’ music has fast become an integral part of what it is to be an ultimately modern teen.

While the gathering places of Bali’s other music genres tend to be private spaces – studios or family compounds – it is the NDA shopping centre in central Denpasar that is the major hangout for ‘alternative’ adolescents. The SID groupies backstage had met up there before moving on to Padang Galak, and now they were about to return, get a snack at McDonalds and play a few rounds of Street Fighter before going back to someone’s place to watch MTV.

Despite the opportunities it offers to advertise to the youth market, Sunday Hot Musichas failed to capture the attention of other potential sponsors, and Crapt remains the sole main backer of the event. In 1994 and 1995, when it consisted of four consecutive shows in the month of May, Sunday Hot Music took place at the Art Centre in Jalan Nusa Indah. But since January this year, when it’s been running every two weeks, the event has been moved to Padang Galak.

Crapt manager Rahmat Hariyanto quotes lack of sponsorship as the reason for relocating from the under-used Art Centre to the windy dust bowl of Padang Galak. ‘Income from ticketing wasn’t covering overheads at the Art Centre which came to a million rupiahs a show’, he said. ‘Now at Padang Galak, Penyu Dewata supplies the venue and electricity for free, and we no longer ticket the event. With the move, we’ve cut our operational costs in half.’

Death thrashers

As the punk rockers wind down, a small group of boys in black T-shirts start to gather backstage. They are the ‘death thrashers’ – supporters, roadies and managers for the ‘death metal’ band Behead, which is next to appear. When Behead kicks off with Cerebral Fix’s ‘Quest of Midion’, more death thrashers emerge individually from the silent crowd and walk briskly to the edge of the stage. Backs to the spectators, bent over like a rugby scrum they surge and recede, whirling their black manes to vocalist Lolot’s death growl.

‘Most of us are not so much inspired by the themes of death metal lyrics’, says rhythm guitarist Kadek on the ‘underlying concept’ of his music of choice. ‘The attraction is more the music itself, it gives us hope, it’s about freedom, it’s an expression of our soul.’

Death metal is the only genre to be represented by a formal organisation. 1921 takes its name from the now axed death metal program on Denpasar’s Radio Yudha that ran nightly from 7pm to 9pm (19.00 to 21.00). At almost every Sunday Hot Music, one of 1921’s seven member bands performs and this time Behead carries the organisational banner. Member bands get assistance from the organisation in applying to perform at gigs, and in the form of musical equipment. At gigs, 1921 ‘officials’ regularly flank the stage and ensure that headbangers don’t inadvertently stomp on cables.

Headbangers

The headbangers themselves are an integral part of the organisation. While emerging separately from the crowd, they join as a community in the scrum. The action of headbanging is a statement of alliance with 1921, an organisation which claims to stand for ‘its members right to be different, in whatever form, and the right of young people to adopt images of extremity’. It also aims to ‘challenge negative public perceptions of rock music in general’.

Although ‘metal’ music in Bali has been free of violence, it is perhaps a public perception of violence that prompted Crapt to line reggae bands up immediately after ‘thrash’ or ‘death metal’ bands. According to Rahmat, ‘to place metal bands end on end could be like adding fuel to a fire, so we try to cool the situation down with reggae’.

Reggae

So, when Behead strike their final metal chord, the Sanur-based reggae band Adi Thumb move in to take their place. As if repelled by the tassled rayon shirts and bright colours, the black robed death thrashers quickly back away from the edge of the stage and slip back in to the quiet mass, or just go straight home. Adi Thumb’s vocalist Goes Toet drives a peace sign into the air above his head and shouts a cheery Rasta ‘Jah’, before the seven piece band launches into ‘Caribbean Blues’.

Unlike the ‘moshers’ of alternative music, and metal’s headbangers, reggae has no visible mass of fans at Sunday Hot Music. Being the last pre-alternative trend to hit Bali, reggae is now considered passe by much of the Sunday Hot Music audience, despite the numerous reggae bands that live on.

In other ways though, reggae has a lot going for it. Unlike the other musical genres, it is regarded as appropriate for the tourist market. This provides an opportunity for work in hotels and clubs and, consequently, real career prospects for reggae musicians. In turn, reggae affirms an image of Bali as a perfect beach paradise.

Although dominated by covers of Bob Marley songs, the Bali reggae scene is much less about the struggle for Rastafarian liberation than about creating a Caribbean atmosphere and promoting Bali as a beach culture. ‘Reggae is always associated with the beach, and the lyrics often refer to peace, which fits in well with Bali being a peace-loving island’, according to Goes Amin, keyboardist with Adi Thumb.

Bar circuit

While the future looks bright for reggae musicians in Bali’s expanding tourism market, the reality is different for most Balinese bands. Tourist-oriented venues are not interested in the same kind of music as Balinese youth, while many young musicians claim disinterest in the hotel and club scene because they don’t like being told what to play. ‘If we want to play in a bar, we have to have a repertoire of about 40 songs, provided by the employer’, according to SID drummer Jerink. ‘And they’re bound to be songs we’re not into, ’cause there’s no punk bar in Bali yet.’

The result is that the tourist and locally oriented music scenes are almost exclusively separate, as Crapt manager Rahmat, who has interests in both markets, found. As well as running a rental business at Crapt, he manages local bands that play the bar circuit. His original idea with Sunday Hot Music was to ‘bring together all elements of the musicscene, including hotel musicians’.

‘But’, he said, ‘I found the tastes of Balinese youth were totally different to what the hotel bands were playing, so in the end I scrapped the whole idea.’

Signing a contract with a record company is likewise a fairly unlikely prospect for most Balinese musicians. There are no locally based recording studios, and few bands have enough original music in their repertoire to record an album. The future of the Balinese music scene is caught in a bind between a tourism oriented circuit that demands adeptness at covering classics and a recording industry firmly based in Jakarta that has as yet shown little interest in the budding Balinese scene.

Rahmat sees the way forward as offering initiatives for local bands to produce more originals, then promoting them at the national level. During July this year, bands performing at Sunday Hot Music were required to play 75 per cent originals, which was recorded by Crapt to make an album. In early 1997, Crapt plans to tour Balinese bands through Java to promote the album.

Globalisasi

Recording opportunities, though, lie a long way off for most local musicians. For them music is neither about making money nor carving a career path. So why the youth music boom? Perhaps it is a youth response to social change in the 1990s or, to use the less cumbersome local coinage, globalisasi.

As physical space on the island is increasingly crowded with hotels and clubs from which locals are often barred, and as colossal shopping centres fill spaces where sports grounds once lay, many young Balinese are choosing to fill their leisure time with music. It may be that music takes them beyond an increasingly alien landscape to a state of mind that is harder to colonise.

Perhaps the emerging genres of music also represent to Balinese youth their contribution to shaping globalisasi. Through reggae, Balinese musicians are gaining the power to play a part in economic growth, ensuring that they too get a piece of the mass tourism pie. After half a century of being anthropologically romanticised, young Balinese are discovering their souls in ‘death metal’, one of Western music‘s most esoteric underclass products. Via alternative music, Balinese youth are asserting a demand to enjoy capitalism’s fantasy land free of the shackles of cultural preservation.

Emma Baulch is an Australian volunteer from Melbourne currently living in Bali.

Sumber: insideindonesia.org

Mereka yang Menjadi Marjinal

Oleh Raka Ibrahim

Tanyakan kenapa jari tengahnya rusak, ujarnya. Suruh Mike cerita.

Bobby Firman Adam tertawa terbahak-bahak, dan menyeruput kopinya dengan riang. Seorang anak kecil baru saja lolos dari genggamannya, dan berlari masuk ke dalam rumah. Anak itu berteriak meminta izin memainkan djembe yang berdiri di pojok ruangan. Bob menyahut balik, memberi restu asal djembe itu dikembalikan lagi pada tempatnya.

Rumah kecil di gang Setiabudi, Setu Babakan itu memang selalu ramai. Apalagi sore itu, sehari sebelum perayaan hari Kemerdekaan. Kami duduk bersama di teras, selagi anak itu bermain di ruang tamu yang dindingnya ditutupi poster. Saya mengenali beberapa poster tersebut dari aksi-aksi solidaritas dan protes yang ramai beberapa tahun belakangan – mulai dari Samin vs Semen, slogan Anti Korupsi, hingga Tolak Reklamasi.

Mereka menyebut rumah ini Taring Babi. Sejak tahun 2002, Taring Babi menjadi ruang berkreasi bagi Marjinal, salah satu kolektif punk paling kawakan di Indonesia. Hanya saja, mereka bukan band punk yang tipikal. Musik mereka mungkin lebih dekat dengan tradisi folk Leo Kristi dan Benyamin S ketimbang punk ala Sex Pistols dan Exploited. Reputasi mereka pun tidak dibangun di kancah musik independen Jakarta. Marjinal lebih sering tampil di aksi dan demonstrasi ketimbang di konser konvensional. Pada mulanya, nama mereka pun lebih dikenal di kalangan aktivis Reformasi ketimbang di antara para penikmat punk.

Obrolan saya dengan Bob diganggu oleh celoteh singkat itu. Ketika Mike masih ada tadi, saya tidak sadar bahwa jari tengahnya tidak bisa bengkok sebagaimana semestinya. Tawa Bob masih terngiang di kepala saya, bahkan berhari-hari kemudian – tanyakan kenapa jari tengahnya rusak. Suruh dia cerita.

****

Hikayat kita dimulai di Timor Leste, tahun 1975. Ratusan ribu serdadu Indonesia dikirim untuk menginvasi negara yang baru merdeka tersebut. Salah seorang tentara yang berangkat ke sana melewatkan kelahiran anaknya yang keempat. Bayi mungil yang kemudian diberi nama Mikail Israfil.

Bertahun-tahun kemudian, seorang bocah tanggung bernama Bob disuruh keluar dari rumah keluarganya di Cimanggis. Bapaknya beralasan bahwa lingkungan tempat mereka tinggal tak lagi kondusif. Saat itu, 12 teman sepermainan Bob tewas satu per satu karena narkoba. Ia pun tinggal sendiri, selagi melanjutkan pendidikan jenjang D-3. Di tongkrongan kampus ini ia berkenalan dengan Mikail, yang akrab disapa Mike.

“Gue anak kolong [istilah untuk anak tentara – RED] berpangkat rendah, yang secara ekonomi kurang,” kenang Mike. “Gue mau sekolah, tapi gue harus putus sekolah karena tidak bisa bayar SPP 7 bulan. Jadi, gue tumbuh sebagai anak yang penuh rasa marah dan tidak terima.”

Memasuki tahun 1990-an, kemuakan ini mulai menemukan jalan. “Pada masanya,” ucap Mike, “menjadi punk mewakili rasa marah dan tidak terima dari satu generasi.” Namun, kesadaran mereka belum terbangun sempurna. “Ada satu kegelisahan yang tidak bisa diterjemahkan dan dipahami oleh diri kami sendiri, sehingga kami perlu penyaluran,” tutur Mike.

Pada pertengahan dekade 1990-an, aktivis radikal dan mahasiswa makin rajin menggalang gerakan protes terhadap Orde Baru, serta mengadakan kelompok-kelompok studi kecil yang mendiskusikan persoalan sosial-politik. “Jika di kelompok itu ada yang berteman dengan orang di luar negeri, mereka bisa dapat literatur anti-fasis berbahasa Inggris,” kisah Bob. “Kami cari teman, lalu kami paksa dia terjemahin. Akhirnya kami kumpul, bedah bareng, dan kami perbanyak di tukang fotokopi yang kami percayai.”

“Mereka mengundang orang ke lingkaran itu atas dasar kepercayaan,” lanjut Mike. “Kami juga saling pinjam buku yang menurut kami layak dibaca.” Di lingkar kecil ini, buku ‘berbahaya’ seperti Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno, Madilog karya Tan Malaka, hingga Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer disebar secara sembunyi-sembunyi, dan dipinjamkan dalam jangka waktu terbatas.

“Salah satu buku yang paling sering disebarluaskan itu Nyanyian Sunyi Seorang Bisu-nya Pramoedya,” kenang Bob. “Gue enggak pernah tahu pemilik asli buku itu siapa. Dan belum tentu pemiliknya melepas secara ikhlas – mungkin buku itu dicuri, atau ‘lupa’ dikembalikan.”

****

“Rupanya, lingkar diskusi dan buku-buku ini penting untuk mengenali persoalan yang membentuk masa kecil gue,” tutur Mike. “Ternyata tidak ada sesuatu yang tanpa sebab, dan ada alasan di balik semua yang menjadi kemarahan dan kegelisahan kami semua.”

Pencerahan ini membuat Mike bersitegang dengan Ayahnya. “Kami dikasih kebebasan sebagai anak tentara,” kenang Mike, geram. “Sehingga kami bisa petantang-petenteng, tapi secara kehidupan kami tidak ada. Kami tetap diabaikan negara. Kami seperti binatang yang diizinkan untuk mengumbar diri, kemudian harus kembali masuk kandang. Tidak ada kemerdekaan di sana.”

“Gue pun marah dengan apa yang gue lihat,” lanjut Mike. “Gue ditinggalkan oleh orang tua gue bertahun-tahun, bahkan Bokap enggak ada ketika gue lahir karena beliau lagi tugas, tapi kami tetap sengsara. Ini permasalahan yang tidak bisa gue terjemahkan waktu itu. Baru pada akhirnya, gue sadar bahwa ada hak yang diabaikan.”

Mike tampak gusar ketika mengenang perdebatannya dengan almarhum Ayahnya. “Gue bilang, ‘Ayah sudah betul! Ayah sudah bekerja benar sebagai tentara!’” kenangnya. “Tapi bukan berarti Ayah harus otomatis tunduk pada Presiden. Ayah punya hak! Kita boleh bicara soal nasionalisme, tapi kebanggaan tidak semestinya berhenti pada kata iya.”

Percakapan itu meyakinkan keluarga Mike bahwa sikapnya dapat ia pertanggungjawabkan. Pada tahun 1996, ia membentuk band punk bernama Anti-ABRI dengan formasi awal Romi Jahat (vokal), Mike (gitar), Bob (bass), dan Stevie (drum). “Kami biasanya main di truk paling depan, sementara di belakang ada demonstran,” kenang Bob. Jelang dan sesudah Reformasi, mereka aktif dalam jaringan anti-fasis bernama Anti Fascist and Racist Action, atau AFRA.

Menurut Mike, mereka merilis album perdana pada tahun 1997. “Nasib album kami sama dengan buku-buku yang dulu kami ‘pinjam,’” ujar Bob. “Kami kasih master-nya ke teman, kami suruh dia perbanyak sendiri, lalu berpindah dari tangan ke tangan. Terakhir, kami menemukan master tape itu di daerah Blitar!”

Setahun kemudian, Reformasi terjadi. “Sebenarnya, masyarakat Indonesia tidak pernah menciptakan momen,” kritik Mike. “Momen itu diciptakan oleh Orde Baru demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Kita tidak dikonstruksi sebagai masyarakat yang berkesadaran, sehingga apa yang kita anggap sebagai ‘kemerosotan’ pasca 1998 itu sebenarnya konsekuensi logis. Masyarakat akan membunuh dirinya sendiri. Masyarakat akan menggagalkan semangat perubahan yang mereka bangun sendiri.”

Konklusi pahit ini tidak perlu menjadi warisan pamungkas dari Reformasi. “Kita harus akui bahwa kita tidak dibiasakan untuk merdeka sejak dalam pikiran, sehingga pola pikir kita harus diubah. Titik utama untuk membangun kesadaran ada di masyarakat,” ucap Bob. “Kita enggak bisa mengajari masyarakat, kita yang harus belajar bersama mereka. Mereka yang secara sadar mengubah mindset mereka sendiri.”

“Setelah 1998, kuantitas tidak lagi mewakili kualitas,” tutur Mike. “Kalau kita yakin bahwa masyarakat adalah aset perubahan, kita tidak bisa berdiam diri pada idealisme semata. Idealisme itu harus diuji dengan konteks dan realita sosial. Biarkan masyarakat menentukan pilihan mereka sendiri. Biarkan mereka menjadi diri sendiri.”

Pada akhirnya, praktik seperti ini (semestinya) melahirkan solusi yang lebih masuk akal dan kontekstual. “Buat apa kita ribut di sini soal Zapatista?” tanya Mike. “Persoalan petani lo itu sudah jelas ada di Kendeng. Kenapa lo enggak bisa memunculkan teori dan analogi baru yang lebih pas dengan konteks kita, dan mengawali era perubahan yang sudah semestinya?”

“Lo akan jadi seperti punk lokal yang sibuk teriak All Cops are Bastards [semua polisi bajingan – RED] hanya karena punk di luar sana bilang begitu,” ucap Bob. “Padahal, di sini polisi dan tentara juga orang susah kayak lo.”

Berangkat dari kesadaran tersebut, mereka kian berkembang setelah Reformasi. Kelompok tersebut berubah nama menjadi Anti-Military, sebelum mengganti nama lagi menjadi Marjinal pada tahun 2001. Lantas, Mike berganti tugas menjadi vokalis sekaligus gitaris grup tersebut, dan mereka merilis album Marsinah pada tahun 2003, disusul Predator (2005), parTAI Marjinal (2009), dan Kita Perangi Korupsi (2015).

****

Malam jatuh di Gang Setiabudi. Lapangan kecil di sebelah Taring Babi sedang ramai, penuh warga yang bahu membahu memasang dekorasi 17-an. Selusin anak-anak dari rumah tetangga datang berduyun-duyun ke Taring Babi, menginvasi ruang tamu dan menjajal setiap alat musik yang ada di sana. Di teras, Bob menyulut rokok dan tersenyum lebar.

“Sudah di sini sejak kapan, Bang?” tanya saya.

“Sejak 2002 akhir,” balas Bob, santai. “Awalnya kami enggak diterima. Sampai dibikin rapat khusus di Mushola. Bu Haji yang dulu punya rumah ini ditegur, kok bisa sewain kontrakan ke anak-anak seperti kami? Akhirnya kami dikasih kesempatan 3 bulan untuk membuktikan diri. Dari awal anak-anak sudah sepakat, ‘Kita yang harus membaur. Kita yang belajar dari mereka.’”

“Menarik juga,” komentar saya. “Lo bilang kalian yang harus belajar dan membaur. Bukan sebaliknya,”

“Kesadaran memang harus dibangun, termasuk persepsi mereka soal orang-orang kayak kita ini,” balas Bob. “Sesederhana ini deh: orang tua kita tahu kalau kita kayak begini? Mereka sepakat? Lo sempat berdialog atau enggak?”

Ayah Bob seorang guru mengaji. Setelah Bob dikirim pergi dari rumah dan disuruh tinggal sendiri, ia menyambung hidup dengan berjualan buku di daerah Blok M. Sebelum akhirnya, ia banting setir menjadi penjaja kartu ucapan selamat yang ia bikin bersama Mike.

“Gue orang pertama di keluarga gue yang bertato,” kisah Bob. “Untung, orang tua gue enggak kolot-kolot amat. Mereka bisa menyelesaikan masalah dengan dialog. Jadi saat mereka gelisah karena gue bertato dan terlibat di punk, mereka panggil gue ke rumah.”

Kegiatan Marjinal di Taring Babi meluluhkan hati guru mengaji tua itu. “Tempat ini memang selalu terbuka bagi siapa saja,” ucap Bob. “Kita juga membuktikan kalau kita bisa membaur dengan masyarakat. Akhirnya Bokap bilang, ‘Rumah lo keren juga, Bob! Karena semua orang masuk tanpa lihat latar belakangnya apa!’ Beliau jadi tahu kalau di sini, kami sedang berbuat sesuatu.”

Alkisah, keterbukaan Taring Babi menginspirasi ayah Bob mendirikan program pesantren bernama Santri Jalanan. “Yang ikut ngaji sama dia itu dari mulai preman pasar di Cibinong, jagoan di sana, sampai anak punk dan polisi,” kisah Bob dengan bangga. “Preman yang tadinya selesaikan masalah pakai tangan, sekarang cuma pakai omongan. Wah, seru ini!”

“Bokap pernah bilang, ‘Ingat, Bob, hati lo harus selalu terbuka! Lo harus belajar dari semua orang, berteman dengan semua orang. Karena mereka manusia juga, siapapun itu,’” lanjut Bob. “Dan setelah gue lihat ke belakang, gue baru sadar: ternyata Bokap itu dari dulu kalau punya rumah enggak pernah dikasih pagar. Lucu, ya?”

Kami menatap pagar Taring Babi yang terbuka lebar. Dari lapangan sebelah, beberapa orang anak berlarian dengan raut wajah ceria ke teras rumah. Mereka menarik-narik Bob dan kompak memintanya bermain gitar. Lelaki berpenampilan sangar itu tersipu malu. Ia menyuruh mereka masuk duluan, dan berjanji akan menyusul sebentar lagi.

“Almarhum Bokap akhirnya ketemu sama Almarhum Bapaknya Mike, dan mereka jadi teman,” kenang Bob. “Sering ngopi di sini, main catur, sharing sama teman-teman. Kami buktikan juga kalau keluarga yang jalan hidupnya berbeda bisa harmonis. Orang kampung sini saja sempat kaget lihat hal itu,”

Bocah terkecil dari gerombolan itu kembali ke teras dan menarik-narik kerah baju Bob. Ia tertawa, dan masuk ke ruang tamu. Anak-anak itu semua telah mengambil posisi – ada yang duduk bersila dengan tambourine di tangan, ada yang memegang ukulele, sementara kawannya bersandar di dinding dengan djembe diapit kedua kaki. Bob mengambil gitar dan duduk di tengah mereka, berlagak seperti dirigen. “Tanah Airku tidak kulupakan,” ia bernyanyi, disambut koor meriah anak-anak. “Kan terkenang sepanjang hidupku…”

Di luar sana, kembang api pertama Hari Kemerdekaan meledak di udara, dan pikiran saya berpaling pada masa lalu yang tak pernah saya saksikan. Ketika seorang guru mengaji dan tentara duduk bersila di ruang tengah, bermain catur berdua, dan menyeruput kopi dikelilingi poster-poster perlawanan.

****

Kemudian, Mike terdiam dan saya teringat lagi akan seruan Bob. Tanyakan kenapa jari tengahnya rusak. Suruh Mike cerita.

“Jadi,” ucap saya. “Jari tengah lo itu kenapa, bang?”

Ia terkekeh dan menggaruk lehernya. “Kejadiannya tahun 1998,” tuturnya. “Setelah aksi di Komnas HAM, kami diundang main di gigs. Di sana…” ia terdiam lagi, sejenak. “Terjadi suatu tontonan yang bikin gue yakin bahwa militerisme itu bukan soal seragam, tapi soal bagaimana pola pemikiran kita selalu mengedepankan kekerasan dan dominasi.”

“Jadi dulu begini, Ka,” ucapnya. “Kalau lo dan tongkrongan lo ‘memegang’ kekuatan di scene atau venue tertentu, lo boleh bertindak seenaknya. Dan semua orang mengakui itu. Kalau lagi ada acara, mereka bakal pilih satu orang di antara penonton – enggak peduli itu siapa – dan mereka akan pukuli, mereka tendangi orang itu. Hanya agar semua orang tahu siapa yang berkuasa di sana. Kebetulan, hari itu yang ‘kena’ teman kami.”

Saya terdiam. Asap rokok mengepul di udara.

“Ini cermin dari fasisme,” lanjutnya. “Kalau kami diam saja, kami jadi bagian dari fasis itu sendiri.”

“Jadi?”

“Jadi kami gempur mereka, Ka,” balasnya, penuh semangat. Setelah pertarungan heboh di tengah konser tersebut, tangan Mike terluka parah. Ia dilarikan ke klinik, dijahit oleh perawat, dan tangannya dibebat perban. Habis perkara.

“Besoknya, kami diundang aksi di depan Polda, menolak DOM Aceh,” lanjut Mike. “Ketika kami aksi dan duduk di jalan, kami ditangkap. Pasukan yang menjaga kami di sana ada sebagian dari Polda, dan ada juga tentara yang dipanggil dari Aceh untuk dihadapkan dengan kami. Kami menolak mengosongkan area, dan mereka menyerang.”

“Mereka memukuli kami, menendangi kami,” lanjut Mike. “Kami dipaksa masuk mobil tahanan. Salah satu dari mereka melihat tangan ogut dibebat perban. Ogut ingat sekali sampai sekarang – dia tahu ogut terluka. Dia sadar ogut punya luka, dan tangan itu yang sengaja dia injak pakai sepatu lars.”

“Dari situ, gue langsung dilempar ke truk, dimasukkan ke sel, dan ditahan dua hari. Tanpa perawatan apa-apa. Ogutpakai perban yang sama – berdarah-darah.”

Ia bermain-main dengan jari tengahnya. Jika jari itu dibengkokkan secara paksa dengan tangannya yang lain, ia akan bertekuk lutut. Selebihnya, jari itu akan berdiri tegap dan merepotkan pemiliknya. Termasuk sekarang, saat Mike mencoba merogoh korek api.

“Setelah akhirnya lepas dari Polda, ogut ke klinik lagi,” ucap Mike. “Ogut ingat betul, ogut enggak ada duit, tapi ada pager. Karena enggak bisa bayar, ogut masuk klinik dengan ‘jaminan’ pager. Setelah diobati, dijahit lagi, tetap tidak ada perkembangan.”

Mike menyeruput kopinya dan termenung agak lama. Berbulan-bulan setelah kejadian tersebut, ia masih rajin membebat tangannya, mengganti perban tersebut ketika perlu. “Gue masih percaya bahwa tangan gue sedang dalam proses penyembuhan,” tuturnya. Selama itu pula, ia berhenti bermain gitar. Jari tengahnya tak bisa bergerak sama sekali, dan terus berdiri seperti tentara sedang memberi hormat.

Kisah ini berakhir bahagia. Syahdan, di lingkungan tempatnya tinggal, terdapat seorang teman yang “terbiasa hidup dalam kesialan.” Si Sial ini sejatinya adalah gitaris jagoan, namun ia menyambung hidup sebagai buruh di percetakan. Suatu ketika, jari telunjuk lelaki malang ini terpotong satu ruas akibat kecelakaan di kantor. Si Sial membebat jemarinya yang tumpul dengan kain, lantas menyambangi tongkrongan Marjinal seperti biasa.

“Kami tanya, ‘kenapa jari lo diperban?’” kisah Mike. “Dan dia dengan entengnya bilang, ‘Jari gue kepotong.’ Busyet!” Lebih brengseknya lagi, Si Sial ini hanya tertawa terbahak-bahak, lantas mengambil gitar dan bernyanyi.

“Itu yang memotivasi gue,” kenang Mike. “Oke, gue coba lagi. Gue lanjutkan hidup gue. Gue main gitar lagi. Akhirnya, keterusan sampai sekarang.”

Saya tersenyum, dan menyeruput sisa teh sampai tandas. Mike terkekeh dan mengintip jam di ponselnya. Sudah lewat jam 2 siang – sebelum wawancara, ia berujar bahwa ia janji akan ke empang untuk mengajar anak-anak di sana. Mike mengangguk perlahan, seolah mengingatkan saya.

“Tuhan memang punya selera humor yang bagus,” tutupnya,. “Pas nyanyi gue harus bilang persetan ke seluruh dunia. Padahal, kan bisa saja jari telunjuk atau kelingking gue yang rusak?”

Mike menyalakan satu batang rokok pamungkas, dan mengakhiri wawancara kami. Ia berpura-pura mengecek jam, tersenyum lebar, lantas berangkat dengan jari tengah mengacung ke udara. (*)

 

Sumber: Jurnal Ruang

Sejarah Kancah Musik Indonesia

Oleh Anonim
Saya mencoba menyelamatkan sebuah arsip menarik yang penting tentang runutan sejarah perkembangan musik Rock Di Tanah Air. Untuk referensi dan sumber yang saya dapatkan dari hasil Googling ternyata berada dalam arsip mail seseorang. Silakan nikmati, niscaya anda akan seperti saya, yang terkaget-kaget membacanya. (Andrias)

Awal Mula

Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia.

Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones, hingga ELP.

Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album ketiga God Bless, “Semut Hitam”, yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.

Menjelang akhir era 80an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi “gods”-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut.

Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal.

Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (G ‘n R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary). Beberapa band di atas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal, Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi sekolah lama’, bangga menjadi band cover version! Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia.

Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock n’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya majalah HAI, tabloid Citra Musik dan majalah Vista.

Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai istri oleh (alm.) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan juga mantan vokalis Rotor.

Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini. Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock underground
manggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café).

Di luar itu, pentas seni MA dan acara musik kampus sering kali pula di-‘infiltrasi’ oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).

Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia, Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama setelah Sepultura sukses ‘membakar’ Jakarta dan Surabaya, band speed metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawah label Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album speed metal klasik Indonesia era 90an. Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, “Behind The 8th Ball” (AIRO).

Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim) lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding band seangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, Aquarius Musikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album “The Head Sucker”. Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.

Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air, mungkin baru di paruh pertama dekade 90an lah mulai banyak terbentuk scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal sering
terlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan internasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah.

Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin mengilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul “It’s A Proud To Vomit Him”. Album ini direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta, dengan sound engineer Harry Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan PAS).

Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground pertama di Jakarta, Brainwashed Zine. Edisi pertama Brainwashed terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay out cut n’ paste tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska.

Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997 Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di internet (www.bisik.com). Media-media serupa yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid Noise Zine, Gerilya Zine, Rottrevore Zine, Cosmic Zine dan
sebagainya.

29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café. Acara bernama “Underground Session” ini digelar tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaek Ahmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif.

Lahirnya scene brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Bequiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di sana, “Subnormal Revolution”, yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster Café di luar dugaan malah banyak melahirkan venue-venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie.

Café Kupu- Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 Café dan Café Gueni di Cikini untuk scene brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super-sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi.

Di antara semuanya, mungkin yang paling netral dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yang terletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen menghabisi riwayat mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen: Last Show Ever”, sebuah rentetan show akhir band Bandung ini sebelum membubarkan diri.

Scene Punk/Hardcore/Brit/Indie Pop

Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang diawal kiprahnya sering mengcover lagu-lagu Sex Pistols lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawk-nya. Uniknya, pada perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre british/indie pop ala The Stone Roses.

Konon, peristiwa historik ini kemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997 mereka sempat merilis album debut bertitel “…Jang Doeloe”. Generasi awal dari scene brit pop ini antara lain adalah Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V, Parklife dan Death Goes To The Disco.

Pestol Aer memang bukan band punk pertama ibukota. Di tahun 1989 sempat lahir band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II, pada akhir 1994. Album debut Antiseptic sendiri yang bertitel “Finally” baru rilis delapan tahun kemudian (1997) secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang memainkan musik ala Jane’s Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak sempat merilis rekaman.

Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots yang awalnya sering manggung mengcover lagu-lagu The Exploited. Tidak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel “Living Comfort In Anarchy” via label indie Movement Records. Komunitas-komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90an tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di Rawamangun.

Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth Against Fascism, Antiseptic, Straight Answer, Dirty Edge dan sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.

Scene Bandung

Di Bandung sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yang menjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya Studio Reverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio ini digagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketika semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro (akronim dari distribution store) yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya.

Selain distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang bertitel “Masaindahbangetsekalipisan”. Band-band indie yang ikut serta di kompilasi ini antara lain adalah Burgerkill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta.

Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain PAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel “Four Through The S.A.P” ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm.) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas tak bernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta.

Yang mengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End dari album Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamar Krisna. Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salah satu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002 sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) dan Puppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya, “Self-titled”. Album ini kemudian dibantu promosinya oleh majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonus kaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.

Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuah komunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana: Komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri Studio Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macam Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic Membrane, Infamy, Burgerkill dan sebagainya.

Di sinilah kemudian pada awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama Revograms Zine. Editornya, Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yang memiliki single unik berjudul “Golok Berbicara”. Revograms Zine tercatat sempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-band metal/hardcore lokal maupun internasional.

Kemudian tak lama kemudian fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestyle-nya. Trolley bangkrut tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis. Serunya di Bandung tak hanya musik ekstrim yang maju tapi juga scene indie popnya.

Sejak Pure Saturday muncul, berbagai band indie pop atau alternatif, seperti Cherry Bombshell, Sieve, Nasi Putih hingga yang terkini seperti The Milo, Mocca, Homogenic. Begitu pula scene ska yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum trend ska besar. Band seperti Noin Bullet dan Agent Skins sudah lama mengusung genre musik ini.

Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di-`baptis’ di sini belum afdhal rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiket masuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala oleh para calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini.

Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burgerkill, band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini. Belum lagi majalah Trolley (RIP) dan Ripple yang seakan menjadi reinkarnasi Aktuil di jaman sekarang, tetap loyal memberikan porsi terbesar liputannya bagi band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T. Coba cek webzine Bandung, Death Rock Star (www.deathrockstar.tk) untuk membuktikannya. Asli, kota yang satu ini memang nggak ada matinya!

Scene Jogjakarta

Kota pelajar adalah julukan formalnya, tapi siapa sangka kalau kota ini ternyata juga menjadi salah satu scene rock underground terkuat di Indonesia? Well, mari kita telusuri sedikit sejarahnya. Komunitas metal underground Jogjakarta salah satunya adalah Jogja Corpse Grinder (JCG). Komunitas ini sempat menerbitkan fanzine metal Human Waste, majalah Megaton dan menggelar acara metal legendaris di sana, Jogja Brebeg. Hingga kini acara tersebut sudah terselenggara sepuluh kali! Band-band metal underground lawas dari kota ini antara lain Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, Ruction.

Untuk scene punk/hardcore/industrial-nya yang bangkit sekitar awal 1997 tersebutlah nama Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti. Sedangkan untuk scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut di-highlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop sampai The Monophones. Selain itu, band ska paling keren yang pernah terlahir di Indonesia, Shaggy Dog, juga berasal dari kota ini.

Shaggy Dog yang kini dikontrak EMI belakangan malah sedang asyik menggelar tur konser keliling Eropa selama 3 bulan! Kota gudeg ini tercatat juga pernah menggelar Parkinsound, sebuah festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Parkinsound #3 yang diselenggarakan tanggal 6 Juli 2001, di antaranya menampilkan Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch hingga Mesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene underground rock di Surabaya bermula dengan semakin tumbuh-berkembangnya band-band independen beraliran death metal/grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Sejarah terbentuknya berawal dari event Surabaya Expo (semacam Jakarta Fair di DKI – Red) dimana band- band underground metal seperti, Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, Bushido manggung di sebuah acara musik di event tersebut.

Setelah event itu, masing-masing band tersebut kemudian sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen. Base camp dari organisasi yang tujuan dibentuknya sebagai wadah pemersatu serta sarana sosialisasi informasi antar musisi/band underground metal ini waktu itu dipusatkan di daerah Ngagel Mulyo atau tepatnya di studio milik band Retri Beauty (band death metal dengan semua personelnya cewek, kini sudah bubar–Red). Anggota dari organisasi yang merupakan cikal bakal terbentuknya scene underground metal di Surabaya ini memang sengaja dibatasi hanya sekitar 7-10 band saja.

Rencana pertama Independen waktu itu adalah menggelar konser underground rock di Taman Remaja, namun rencana ini ternyata gagal karena kesibukan melakukan konsolidasi di dalam scene. Setelah semakin jelas dan mulai berkembangnya scene underground metal di Surabaya pada akhir bulan Desember 1997 organisasi Independen resmi dibubarkan. Upaya ini dilakukan demi memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya organisasi Independen, divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buah album milik band-band death metal/grindcore Surabaya. Misalnya debut album milik Slowdeath yang bertitel “From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction” (September 1996), debut album Dry berjudul “Under The Veil of Religion” (1997), Brutal Torture “Carnal Abuse”, Wafat “Cemetery of Celerage” hingga debut album milik Fear Inside yang bertitel “Mindestruction”. Tahun-tahun berikutnya barulah underground metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan album milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Sebagai ganti Independen kemudian dibentuklah Surabaya Underground Society (S.U.S) tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 45, saat diselenggarakannya event AMUK I. Saat itu di Surabaya juga telah banyak bermunculan band-band baru dengan aliran musik black metal. Salah satu band death metal lama yaitu, Dry, kemudian berpindah konsep musik seiring dengan derasnya pengaruh musik black metal di Surabaya kala itu.

Hanya bertahan kurang lebih beberapa bulan saja, S.U.S di tahun yang sama dilanda perpecahan di dalamnya. Band-band yang beraliran black metal kemudian berpisah untuk membentuk sebuah wadah baru bernama Army of Darkness yang memiliki basis lokasi di daerah Karang Rejo. Berbeda dengan black metal, band-band death metal selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru.

Selanjutnya di bulan September 1997 digelar event AMUK II di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai event paling sukses di Surabaya kala itu. Sebanyak 25 band death metal dan black metal tampil sejak pagi hingga sore hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang. Arwah, band black metal asal Bekasi juga turut tampil di even tersebut sebagai band undangan.

Scene ekstrem metal di Surabaya pada masa itu lebih banyak didominasi oleh band-band black metal dibandingkan band death metal/grindcore. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black metal karena banyaknya jumlah band black metal yang muncul. Tercatat kemudian event black metal yang sukses digelar di Surabaya seperti Army of DarknessI dan II.

Tepat tanggal 1 Juni 1997 dibentuklah komunitas underground Inferno 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada (Jl. Prof. DR. Moestopo-Red). Di tempat yang agak mirip dengan rumah-toko (ruko) ini tercatat ada beberapa divisi usaha yaitu, distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet dan event organizer untuk acara-acara underground di Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh Inferno 178 antara lain adalah, Stop The Madness, Tegangan Tinggi I & II, hingga Bluekhutuq Live.

Band-band underground rock yang kini bernaung di bawah bendera Inferno 178 antara lain, Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, Bluekuthuq dan sebagainya. Fanzine metal asal komunitas Inferno 178, Surabaya bernama Post Mangled, pertama kali terbit kala itu di event Tegangan Tinggi I di kampus Universitas Airlangga dengan tampilnya band-band punk rock dan metal.

Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah event black metal. Sayangnya, hal ini juga diikuti dengan mandegnya proses penggarapan Post Mangled Zine yang tidak kunjung mengeluarkan edisi terbarunya hingga kini.

Maka, untuk mengantisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene, lahirlah kemudian Garis Keras Newsletter yang terbit pertama kali bulan Februari 1999. Newsletter dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman itu banyak mengulas berbagai aktivitas musik underground metal, punk hingga HC tak hanya di Surabaya saja, tetapi lebih luas lagi. Respons positif pun menurut mereka lebih banyak datang justru dari luar kota Surabaya itu sendiri.

Entah mengapa, menurut mereka publik underground rock di Surabaya kurang apresiatif dan minim dukungannya terhadap publikasi independen macam fanzine atau newsletter tersebut. Hingga akhir hayatnya Garis Keras Newsletter telah menerbitkan edisinya hingga ke-12.

Divisi indie label dari Inferno 178 paling tidak hingga sekitar 10 rilisan album masih tetap menggunakan nama Independen sebagai nama label mereka. Baru memasuki tahun 2000 yang lalu label Inferno 178 Productions resmi memproduksi album band punk tertua di Surabaya, The Sinners yang berjudul “Ajang Kebencian”.

Selanjutnya label Inferno 178 ini akan lebih berkonsentrasi untuk merilis produk-produk berkategori non-metal. Sedangkan untuk label khusus death metal/brutal death/grindcore dibentuklah kemudian Bloody Pigs Records oleh Samir (kini gitaris Tengkorak) dengan album kedua Slowdeath yang bertitel “Propaganda” sebagai proyek pertamanya yang dibarengi pula dengan menggelar konser promo tunggal Slowdeath di Café Flower sekitar bulan September 2000 yang dihadiri oleh 150-an penonton. Album ini sempat mencatat sold out walau masih dalam jumlah terbatas saja. Ludes 200 keping tanpa sisa.

Scene Malang

Kota berhawa dingin yang ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Surabaya ini ternyata memiliki scene rock underground yang ‘panas’ sejak awal dekade 90-an. Tersebutlah nama Total Suffer Community (T.S.C) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rock underground di Malang sejak awal 1995. Anggota komunitas ini terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, namun dominasinya tetap saja anak-anak metal. Konser rock underground yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini.

Acara bertajuk “Parade Musik Underground” tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai (grindcore), Ritual Orchestra (black metal), Sekarat (death metal), Knuckle Head (punk/hc), Grindpeace (industrial death metal), No Man’s Land (punk), The Babies (punk) dan juga band-band asal Surabaya, Slowdeath (grindcore) serta The Sinners (punk).

Beberapa band Malang lainnya yang patut diberi kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor style brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yang bertitel “Maggot Sickness” saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top notch.

Belakangan band ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast zine yang diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yang kini eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Sementara indie label pionir yang hingga kini masih bertahan serta tetap produktif merilis album di Malang adalah Confused Records.

Scene Bali

Berbicara scene underground di Bali kembali kita akan menemukan komunitas metal sebagai pelopornya. Penggerak awalnya adalah komunitas 1921 Bali Corpse Grinder di Denpasar. Ikut eksis di dalamnya antara lain, Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit di Jogjakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal Indonesia Corpsegrinder (kini Anorexia Orgasm) sejak 1998, Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali dan Moel adalah gitaris/vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser underground di sana. Nama 1921 sebenarnya diambil dari durasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise pada tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser underground besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- band luar Bali adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Jogjakarta).

Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival rock underground tahunan di sana. Salah satu alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead (SID). Mereka malah menjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tiga mereka dalam waktu dekat (tidak diketahui pertama kali catatan ini terbit-Red).

Memasuki era 2000-an scene indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan SID memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh SID secara konkret sudah membuktikan kalau band `putera daerah’ pun sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer SID, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara rock reguler di tempat ini.

Indie Indonesia Era 2000-an

Bagaimana pergerakan scene musik independen Indonesia era 2000-an? Kehadiran teknologi internet dan e-mail jelas memberikan kontribusi besar bagi perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan (networking) antar komunitas ini semakin luas di Indonesia. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan style musik yang lebih beragam. Trend indie label berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga menggembirakan, minimal ini adalah upaya pendokumentasian sejarah yang berguna puluhan tahun ke depan.

Yang menarik sekarang adalah dominasi penggunaan idiom`indie’ dan bukan underground untuk mendefinisikan sebuah scene musik non-mainstream lokal. Sempat terjadi polemik dan perdebatan klasik mengenai istilah `indie’ atau ‘underground’ ini di tanah air. Sebagian orang memandang istilah `underground’ semakin bias karena kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground yang ‘sell-out’, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga puluhan ribu keping.

Sementara sebagian lagi lebih senang menggunakan idiom ‘indie’ karena lebih elastis dan, misalnya, lebih friendly bagi band-band yang memang tidak memainkan style musik ekstrem. Walaupun terkesan lebih kompromis, istilah indie ini belakangan juga semakin sering digunakan oleh media massa nasional, jauh meninggalkan istilah ortodoks `underground’ itu tadi.

Di tengah serunya perdebatan indie/underground, major label atau indie label, ratusan band baru terlahir, puluhan indie label ramai-ramai merilis album, ribuan distro/clothing shop dibuka di seluruh Indonesia. Infrastruktur scene musik non-mainstream ini pun kian established dari hari ke hari. Mereka seakan tidak peduli lagi dengan polarisasi indie-major label yang makin tidak substansial. Bermain musik sebebas mungkin sembari bersenang-senang lebih menjadi `panglima’ sekarang ini.

…And history is still in the making here…..

 

Sumber: andrias-secangkirkopipagi.blogspot.co.id

Perkembangan Zine pada Komunitas Hardcore Punk di Bandung

Oleh Andrias

Introduksi

Sebagai salah satu bentuk media massa, majalah mempunyai fungsi pokok yakni sebagai sumber informasi dan sebagai fungsi komunikasi. Menurut Dominick, klasifikasi majalah dibagi ke dalam lima kategori utama, yakni : General consumer magazine (majalah konsumen umum), Business publication (majalah bisnis), Literacy reviews and academic journal (kritik sastra dan majalah ilmiah),Newsletter (majalah khusus terbitan berkala), dan Public relations magazines (majalah humas).

Dalam makalah ini yang menjadi pokok utama bahasan adalah zine yang menjadi media komunikasi khususnya di kalangan komunitas HC/Punk di Bandung. Tema mengenai zine ini diangkat karena dianggap sebagai fenomena yang cukup menarik yang berada diluar media komunikasi massa mainstream lainnya. Jika dimasukkan ke dalam klasifikasi Dominick, bisa termasuk ke dalam kelompok newsletter atau majalah khusus terbitan berkala walaupun ada sedikit yang berbeda. Dijadikannya zine ini sebagai tema utama dalam makalah ini karena merupakan sebuah fenomena yang menarik, dimana dalam penerbitannya ternyata membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap kondisi interaksi dan pemikiran di kalangan komunitas tempat zine itu muncul.

Dilihat dari kemunculannya yang berasal dari orang-orang di kalangan scene HC/Punk, perlu juga ditelaah lebih lanjut. Dimana kemunculannya itu berasal di sebuah komunitas yang sering disebut sebagai komunitas underground. Sehingga perlulah diterangkan sedikit mengenai komunitas HC/Punk ini, agar dapat dipahami mengenai munculnya zine sebagai media komunikasi.

Digunakannya zine sebagai media komunikasi dalam scene HC/Punk menjadi sesuatu yang menarik karena sebagai komunitas minor yang berada dan hidup di jalanan di kota-kota besar ternyata mampu mengorganisir dan dengan keterbatasannya itu bisa melakukan penyebaran informasi dengan efektif.

Zine Sebagai Media Komunikasi dan Ekspresi

Informasi yang dikomunikasikan dalam media zine di kalangan scene HC/Punk sekarang ini isinya sangat beragam seiiring dengan perkembangan jaman. Zine dibuat oleh setiap orang di kalangan scene HC/Punk itu sendiri, jadi setiap orang mempunyai kebebasan untuk membuatnya. Oleh karena itu isi zine sendiri tidak ada patokan atau batasan, karena setiap orang mempunyai kebebasan untuk mengisi zinenya itu dengan segala hal yang diinginkan. Apapun yang dimuat dalam zine itu tergantung dengan sang pembuatnya.

Dari zine-zine yang dibuat oleh scene HC/Punk hampir semuanya isinya sungguh bebas. Tidak adanya sensor atas segala isi yang ingin ditampilkan. Dari mulai gambar-gambar, tulisan, sampai lay out, semuanya tidak ada batasan. Sehingga merupakan sesuatu yang sangat lumrah jika ditemukan kata-kata yang sungguh kasar dan sarkasme dalam tulisan-tulisan di zine-zine itu atau gambar-gambar yang oleh orang timur dianggap tidak senonoh.

Selain sebagai media komunikasi, seringkali zine dijadikan media ekspresi sehingga maksud, tujuan dan perasaan yang ingin diungkapkan oleh pembuatnya dalam zine adalah tanpa batas. Mungkin sesuatu yang membatasi ekspresi itu hanyalah kesadaran si pembuatnya. Untuk menilai apakah zine ini baik atau tidaknya itu semua dikembalikan kepada pihak yang membacanya. Karena esensi dari zine yang tumbuh di kalangan scene HC/Punk ialah kebebasan sebab tidak adanya otoritas yang boleh mencampuri ekspresi manusia.

Ketika keadaan sekitar memungkinkan manusia untuk mengekpresikan perasaannya maka ia akan segera mencari media untuk mengekspresikannya. Begitupun dengan zine, di mana seorang Punk ingin mengekspresikan perasaan ataupun ingin menyampaikan pemikirannya melalui tulisan mengenai suatu hal maka zine bisa dijadikan media itu selain tentu saja musik. Sehingga di saat Punk dengan berbagai ide, pemikiran, dan ideologinya merasa usaha untuk mencapai tujuan yang ingin ia raih ialah melalui zine ini, maka dengan kebebasan yang dimiliki, ia akan membuatnya. Oleh karena itu, isi dari zine-zine yang ada di kalangan HC/Punk selain isinya mengenai segala hal yang berbau musik HC/Punk, mereka pun memuat tulisan-tulisan yang merupakan tanggapan atas keadaan sekitar. Banyak propaganda-propaganda sesuai dengan ideologi si pembuatnya yang dimuat dalam zine termasuk propaganda politik, dalam hal ini kebanyakan berkaitan dengan anarkis dan anti kapitalis. Walaupun ada sedikit kesamaan munculnya zine di berbagai daerah memunculkan kekhasannya tersendiri sesuai dengan situasi kelokalannya masing-masing.

Jika saja adanya peraturan atau perundang-undangan yang melarang dibuatnya tulisan-tulisan yang dianggap melawan pemerintah, itu tidak pernah menjadi kendala berarti dalam pembuatan dan penyebaran zine. Hal ini karena selain pembuatan dan penyebarannya yang terbatas ataupun dijual di tempat-tempat tertentu, biasanya sang pembuat tulisan akan menggunakan nama samaran atau inisial agar identitasnya tidak diketahui umum. Mungkin jika kita melihat peraturan di negara-negara barat yang menjamin kebebasan berekspresi, maka tidak aneh jika isu-isu politik yang kontra pemerintah bisa disebarkan secara luas. Coba bandingkan dengan di Indonesia yang peraturannya serba tidak jelas.

Contohnya ialah zine Profane Existence yang dibuat oleh sebuah kolektif yang namanya sama dengan nama zinenya. Profane Existence zine isinya kebanyakan adalah tulisan-tulisan mengenai tanggapan atas keadaan sosial politik di AS. Dimana informasi yang dimuat dalam zine itu salah satunya berisi data-data kebobrokan AS dalam perang di Timur Tengah, selain opini-opini dari perorangan yang menulis berbagai hal. Ada juga propaganda-propaganda untuk melakukan pemboikotan atau ajakan berdemo menentang kesewenang-wenangan pemerintah. Sebagian besar isu-isu yang diangkat dalam zine ini adalah isu sosial politik yang sedikit banyak berkaitan dengan scene HC/Punk. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa orang-orang dari kalangan scene HC/Punk bukanlah sekelompok pengacau atau pembuat onar, tetapi mereka juga mampu untuk berpikir ilmiah dan berperilaku intelek walaupun dengan bahasa mereka sendiri. Selain mengangkat isu sosial politik, zine yang dikeluarkan di scene Hardcore/Punk ada juga yang mengangkat isu animal liberation, vegetarian, feminisme, straight edge, pencemaran lingkungan, globalisasi dll.

Pada umumnya zine yang dibuat perorangan ataupun kolektif sering berformat fotokopian, sering juga disebut sebagaixeroxzine. Hal ini dimaksudkan agar biaya yang digunakan tidaklah besar karena tinggal memfotokopi. Paling penting dari penerbitan zine ini ialah bahwa mereka yang berasal dari scene Punk tidaklah pernah menganggap adanya aturan atau regulasi atas hak cipta, sehingga mereka sendiri –bisa dikatakan- tidak pernah memberi zine mereka label hak cipta (copyright). Bahkan untuk sebagian zine, si pembuat menulis ajakan untuk memperbanyak zinenya agar informasi yang ada di zine itu bisa disebarkan seluas-luasnya. Sehingga dalam penyebarannya tidak bisa diawasi secara jelas karena setiap orang yang memegang zine bebas untuk memperbanyak dan kemudian menyebarkannya. Ini adalah salah satu kunci keefektifan zine dengan tanpa copyright, yang mampu mengkomunikasikan informasi kepada semua pihak yang merasa tertarik.

Zine di Komunitas Hardcore/Punk Bandung

Musik Hardcore/Punk sendiri diperkirakan telah ada di Bandung sejak pertengahan tahun 1970-an. Sekitar pada tahun 1980-an musik Punk dapat dipastikan telah ada di Indonesia karena orang-orang yang pernah berkecimpung dalam scene Punk pun masih bisa dimintai keterangannya. Musik Punk mulai berkembang seiring dengan trend musik new wave ataupun tari kejang (breakdance) yang sempat mewabah pada tahun 1980-an.

Pada pertengahan tahun 1990-an bisa dikatakan baik musik Punk, Hardcore, maupun musik underground lainnya mengalami perkembangan yang cukup berarti. Hal ini dibuktikan dengan telah adanya beberapa band yang mengeluarkan album secara independen, dan juga mulai marak diadakannya acara-acara musik underground. Pada saat itu Punk di Bandung bisa katakan masih sekedar trend musik, belum dimengerti secara menyeluruh.

Komunitas Punk mulai jelas terlihat sekitar tahun-tahun 1994-1995an. Panggung-panggung untuk musik ini pun semakin banyak dari mulai acara tujuhbelas agustusan sampai acara yang diorganisir secara profesional. GOR Saparua adalah satu saksi bisu berkembangnya Punk di Bandung. Pada tahun-tahun di akhir 90-an, terutama di hari minggu sering diadakan acara musik underground. Tidak jarang dalam sebuah acara disertai dengan kericuhan seperti perkelahian yang sering berujung pemberhentian acara oleh pihak berwenang karena situasi dianggap sudah tidak kondusif. Diantaranya adalah muncul acara seperti Gorong-gorong 1&2, juga Punk Rock Party 1&2. Acara-acara itu juga melahirkan band-band Punk Rock semisal Keparat, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dll. Pada waktu itu komunitas Punk belum diakui oleh masyarakat seperti sekarang karena hanya dianggap sebagai sekelompok anak muda bergaya berandalan yang kerjaannya hanya mabuk-mabukan.

Saat itu Suharto masih berkuasa, dan militer masih sangat ditakuti, tidak ada yang berani mengritik kebijakan pemerintah apalagi menghina aparat. Tetapi hegemoni orde baru mungkin tidak berlaku bagi komunitas Punk/Hardcore. Seakan-akan tidak ada hukum yang berlaku, setiap penampilan panggungnya band Punk berani menghina-hina keotoriteran pemerintah ataupun mencaci aparat karena sewenang-wenang. Subversif mungkin pantas dikatakan untuk kelakuan seperti itu pada saat orde baru, tetapi toh tidak ada tanggapan serius dari pihak berwenang karena mungkin Punk pada saat itu masih dianggap sampah.

Salah satu komunitas Punk di Bandung ialah sekelompok anak Punk yang sering nongkrong di belakang pusat perbelajaan Bandung Indah Plaza (BIP) yang pada saat itu tengah ramai-ramainya karena belum ada mall saingan. Dari komunitas Punk yang sering disebut Barudak PI itu lahirlah sebuah record label yang diberi nama Riotic Record pada tahun 1997. Berawal dari keinginan Chaerul, Dadan “Ketu”, Pam, Azis, Awing.dkk untuk mendirikan sebuah record label yang bisa menjembatani keinginan band-band HC/Punk untuk membuat rekaman, jadilah record label itu didirikan beserta dengan distro(distribution outlet)nya.

Pada awal pendiriannya, Riotic record dan distro sering berpindah-pindah. Seperti pernah memilih di daerah Riung Bandung, Cicadas, Melong Green dan belakang BIP sendiri. Pada saat itu Riotic distro menjual berbagai pernak-pernik band, semisal t-shirt, kaset, dan stiker. Dari usaha untuk menjual pernak-pernik band itu, dibuatlah katalog barang-barang yang dijual di Riotic sebagai cara untuk menginformasikan kepada komunitas Punk lainnya. Dari munculnya katalog itulah cikal bakal dibuatnya zine dan newsletter Punk di Kota Bandung, mungkin juga bisa dikatakan di Indonesia.

Pada awalnya isi dari katalog itu hanya berisi daftar barang-barang yang dijual di Riotic dan hanya sedikit tulisan tentang Punk pada kertas katalog, itu pun agar ruang kosong di katalog tidak percuma. Setelah mempunyai jaringan di antara komunitas baik di beberapa kota besar di Indonesia maupun di luar negeri, mereka sering bertukar informasi maupun berupa barang dan salah satunya adalah dikirimnya sebuah zine -yang oleh anak-anak Riotic sendiri baik isi maupun lay outnya disebut jelek- oleh komunitas Punk dari Singapura. Setelah membaca dan mengamati tampilan zine dari Singapura itu, beberapa orang di Riotic sepakat untuk membuat zine. Dan lahirlah zine/newsletter pertama di kalangan Hardcore/Punk di Indonesia itu, namanya Submissive Riot.

Tahun 1998, di Indonesia apalagi di Bandung pembuatan zine belumlah membudaya seperti sekarang. Hanya ada satu-dua zine yang dibuat oleh komunitas underground Ujung Berung seperti Revogram dan Mindblast, akan tetapi karena peredarannya sangat terbatas sehingga tidak terlalu bisa dikatakan sebagai topangan yang jelas atas munculnya budaya pembuatan zine di Bandung. Paling-paling newsletter hanya bisa ditemukan di mesjid ketika jumatan ataupun di kampus-kampus, dan tidak pernah ada info mengenai anarkisme, pemboikotan korporasi, etos DIY, dan Punk Rock di newsletter mesjid.

Submissive Riot dibuat oleh tiga orang, yakni Pam, Linggo, dan Behom. Awalnya mereka membuat Submissive Riot karena merasa tertantang untuk membuat newsletter/zine yang lebih bagus dari zine yang dikirim oleh teman-temannya di Singapura. Isinya berisi hal-hal yang pada saat itu bisa dikatakan tidak umum, lebih tepatnya seluruh isinya adalah propaganda. Anarkisme bisa dikatakan sebagai ideologi yang sangat mempengaruhi tulisan-tulisan mereka, tidak adanya otoritas yang mendominasi adalah pokok utama tulisan yang mereka buat. Juga upaya pemboikotan perusahaan siap saji McDonnald yang dianggap sebagai perusahaan kapitalis cabang dari negara komprador AS pada saat itu.

Submissive Riot terbit setiap bulan, dalam setiap penerbitannya tiga sekawan itu paling-paling hanya membuat sekitar 30-40 eksemplar dengan format fotokopian. Setiap eksemplar biasanya hanya berisi 4-8 halaman ukuran A5. Zine atau newsletter itu dijual seharga Rp. 500,- sebagai ganti biaya produksi. Peredaran zine ini dijual hand-to-hand kepada teman-teman mereka sendiri, dan karena pada saat itu merupakan sebuah fenomena yang baru pada kultur Punk di Bandung sehingga setiap kali penerbitan selalu habis. Untuk setiap Submissive Riot yang dibeli selalu dianjurkan untuk memfotokopinya lagi untuk disebarkan, jadi jika setiap edisinya yang diketahui hanya ada sekitar 30-40 eksemplar tetapi untuk keseluruhan Submissive Riot yang tersebar tidaklah dapat diketahui jelas. Oleh karena itu penyebaran zine ini cakupannya sungguh luas, selain karena setiap orang mempunyai kebebasan untuk memperbanyaknya, distribusi zine ini juga disebarkan diantara komunitas-komunitas Punk di kota-kota besar di Indonesia. Submissive Riot dapat tersebar di beberapa kota selain Bandung seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Lampung, Medan, Pontianak, bahkan sampai ke Menado dan Ujung Pandang.

Munculnya Submissive Riot ternyata mendapat respon yang beragam. Pembuatan zine dan newsletter menjadi mewabah di kalangan scene HC/Punk baik di Bandung maupun kota-kota lainnya. Karena biasanya komunitas Punk lainnya yang mendapat newsletter ini, kemudian merasa tertarik untuk membuatnya sehingga ibarat jamur di musim hujan, pembuatan zine semakin banyak dan meluas. Tentu ini dampak yang positif, setidaknya budaya tulis dan baca meningkat walaupun hanya untuk segelintir pihak dalam komunitas.

Sedangkan tanggapan dari pihak aparat berwenang tidak ada sama sekali. Hal ini juga cukup menarik karena pihak pemerintah serta aparaturnya sering menjadi objek tulisan-tulisan mereka ini, apalagi ditulis dengan bahasa yang sarkasme, ternyata tidak memberi respon apa-apa. Bahkan jika digolongkan ke dalam ‘selebaran gelap’ subversif yang menghasut pun, newsletter ini tidak masuk kategori BAKIN. Penyebabnya ternyata tulisan-tulisan dalam Submissive Riot tidak dianggap secara serius atau bahkan dianggap bualan sesaat baik oleh pihak pemerintah ataupun masyarakat awam lainnya. Punk yang pada waktu hanya dianggap sebagai sekelompok anak muda yang berpakaian kotor seperti gembel menjadikan dikotomi itu melekat dalam benak masyarakat. Sehingga disaat mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataannya melalui tulisan, hal itu tidak ditanggapi sama sekali.

Submissive Riot hanya bertahan sekitar satu tahun, atau sekitar 12-13 edisi. Alasan berhentinya pembuatan zine ini kurang jelas tetapi bisa jadi karena tiga orang pembuatnya yang mulai memasuki kegiatan politik praktis. Sekitar tahun 1999, mereka bertiga telah dikenal sebagai “corong” PRD, bahkan bisa menempati posisi-posisi strategis dalam aliansi gerakan kota.

Selanjutnya akan dibeberkan mengenai salah satu zine yang cukup legendaris di kalangan scene Hardcore/Punk baik di Bandung maupun di kota lainnya. Zine yang baik format maupun tulisan-tulisannya banyak diperbincangkan bahkan diperdebatkan. Inilah zine yang ternyata membawa sang editornya ke pintu karir yang menjanjikan, ya inilah Tigabelas Zine.

Tigabelas zine mulai dibuat pada tahun 1998 oleh Arian yang pada waktu itu dikenal sebagai vokalis band yang menjadi ikon HC Indonesia, Puppen. Arian sebagai editor dalam pengerjaannya dibantu oleh Ucok Homicide sebagai kontributor tetap. Setelah kemunculan Submissive Riot di tahun yang sama, Arian membuatzine sebagai proyek sampingannya selain sibuk di bandnya. Edisi pertama Tigabelas zine terbit pada bulan Agustus 1998.

Format Tigabelas zine adalah fotokopian ukuran A5 dan dihadirkan dengan lay out yang eye catching setiap halamannya yang rata-rata berjumlah sekitar 60 halaman setiap edisinya. Terbitnya zine ini sangat tidak teratur, tergantung nasib sang editor, dan karena ini bukanlah sebuah penerbitan majalah yang terorganisir dengan baik jadi tidak ada deadline dalam pengumpulan materinya. Bahkan rentang waktu antara Tigabelas edisi ke edisi berikutnya selalu terlambat dari jadwal yang ditentukan sebelumnya. Tetapi karena zine ini merupakan sebuah fenomena yang sungguh menarik dalam dunia penerbitan media sehingga selalu di tunggu-tunggu oleh pembacanya baik dari kalangan scene Hardcore/Punk maupun luar.

Kolom-kolom yang ada dalam zine ini antara lain adalah :

Kolom 13. Dalam kolom ini terdapat opini tamu yang berasal dari teman-teman editor sendiri di scene HC/Punk di Bandung. Selain berisi opini mengenai perkembangan HC/Punk, sering juga berisi tulisan berbau politik, puisi, unek-unek, bahkan dumelan dari sang kontributor.

Scene Report. Dalam bagian ini berisi laporan-laporan dari perkembangan scene HC/Punk di luar kota Bandung, seperti dari Malang, Bekasi, Yogyakarta bahkan dari kota-kota di negara-negara Asia Tenggara. Laporan ini di dapat oleh sang editor dengan mengadakan kontak langsung dengan scenester di kota-kota itu, bisa sang editor datang langsung ke kota-kota itu ataupun scenester dari luar kota yang memberi laporan sendiri agar kegiatannya diliput, ataupun melalui email jika sang sumber berasal dari luar negeri.

Interview. Dalam bagian ini memuat hasil interview/wawancara dengan band, editor zine atau orang-orang yang berkecimpung dalam scene HC/Punk lainnya. Interview dilakukan oleh sang editor dengan bertemu langsung si sumber, ataupun melalui email jika tempat si sumber berada di daerah yang cukup jauh, semisal interview dengan band dari New York, maka interview dilakukan via email. Selain itu, editor bisa juga memuat hasil interview dari majalah lain seperti hasil interview band The Business oleh majalah punk Maximum Rock’N’Roll, hasil interview itu dimuat dalam Tigabelas zine dengan mencantumkan pula sumbernya.

Artikel. Tema yang diangkat dalam tulisan di artikel pada zine bermacam-macam, seperti cerita mengenai tokoh antara lain Mahatma Gandhi dan Wiji Thukul, ataupun tema mengenai animal liberation, dan juga memuat tentang undang-undang yang menjamin kebebasan berpendapat yang bahannya di dapat LBH setempat.

Resensi Rekaman. Isinya adalah resensi rekaman yang dilakukan oleh Arian dan Ucok. Resensi adalah hal sangat subjektif, karena itu dalam resensi rekaman ini Arian dan Ucok mengeluarkan pendapatnya atas rekaman-rekaman yang mereka anggap menarik untuk di resensi. Tidak semua yang diresensi isinya bagus atau memuji karena terkadang sang peresensi melakukan sindiran dan kritik atas rekaman yang ia dapat.

Resensi Majalah dan Buku. Disini Arian dan Ucok melakukan resensi pada majalah atau buku yang mereka baca. Majalah yang diresensi biasanya adalah majalah atau zine yang berbau HC/Punk baik dari dalam maupun luar negeri. Sedangkan buku yang diresensi tidak hanya buku-buku yang ber’atmosfer’ HC/Punk tetapi juga ada buku ‘serius’ yang mereka resensi semisal buku-buku politik. Salah satunya ialah buku berjudul Pemikiran Karl Marx, yang masuk resensi dalam Tigabelas zine edisi ketiga. Selain berisi tulisan-tulisan yang semuanya mempunyai relevansi tehadap pergerakan scene HC/Punk, zine ini juga banyak menampilkan iklan-iklan yang masih berbau HC/Punk semisal desain iklan dari riotic record, reverse, ataupun kampanye-kampanye animal liberation.

Setiap edisinya Tigabelas zine dijual sekitar Rp.3000 – Rp.5000 tergantung ketebalannya, untuk mengganti ongkos produksi. Usaha penyebarannya secara hand-to-hand merupakan cara penjualan yang efektif, selain karena dijual di lingkungan sendiri, zine pada waktu itu juga masih merupakan (sekali lagi) fenomena baru di kalangan komunitas scene HC/Punk. Dari setiap edisinya pun zine ini selalu sold out.

Melalui media zine yang dibuat ini Arian dan Ucok secara tidak langsung memacu orang-orang untuk membuat zine dan mulai berpikir bahwa dibalik HC/Punk ada misi dan movement. Selain itu, melalui Tigabelas zine ini anak-anak muda dipacu untuk tidak hanya menyukai dan mendengarkan hardcore dan punk saja, tetapi lebih mendalaminya dan ber”attitude” dalam bermusik.

Karena sang editor tidak melabelkan hak cipta pada zine ini bahkan ia sendiri mengusulkan untuk memperbanyaknya sehingga penyebarannya sangat luas. Di komunitas scene HC/Punk sendiri baik tertulis maupun tidak, mereka tidak mengakui adanya hak cipta (copyright). Sehingga bukan sesuatu yang akan berbuntut masalah jika seseorang memperbanyak rekaman atau zine dari lingkungan HC/Punk sepanjang tidak untuk mendapat keuntungan.

Respon terhadap zine ini juga bermacam-macam. Banyak orang di kalangan komunitas musik underground lainnya kemudian mulai membuat zine juga, dan orang-orang di luar komunitas itu pun mulai melirik media zine sebagai media komunikasi alternatif.

Zine yang fenomenal ini hanya sanggup bertahan 4 edisi (terbit tahun 2001), dan merupakan suatu yang luar biasa pada saat itu dengan penjualan dari 4 edisi mencapai lebih dari 1000 eksemplar (menurut sang editor). Alasan berhentinya pembuatan zine ini pun dikarenakan editornya, Arian sibuk dengan kegiatannya yang lain. Sedangkan Ucok yang pada nomor empat sudah tidak lagi menjadi kontributor Tigabelas zine, di tahun 1999-2000 Ucok sempat meluncurkan zinenya sendiri yang diberi nama Membakar Batas.

Arian sendiri kemudian sempat ikut terlibat dengan pembuatan majalah-majalah yang dibuat secara independen, seperti majalah Ripple dan Trolley dimana ia menjadi musik director. Majalah Trolley sendiri akhirnya bangkrut setelah terbit kurang lebih 10 edisi (edisi terakhir terbit sebanyak 5000 eksemplar) karena kehabisan modal. Sedangkan majalah Ripple sampai sekarang mampu bertahan dan semakin berkembang, bahkan dianggap menjadi salah satu majalahavant-garde dalam media independen. Sekarang ini Arian bekerja sebagai seorang editor di majalah Playboy Indonesia, setelah sebelumnya sejak tahun 2002 bekerja di majalah MTV Trax sebagai senior editor.

Zine Hari Ini

Dua zine yang telah dibahas tersebut bisa dikatakan sebagai pencetus munculnya media komunikasi cetak yang dibuat secara independen. Baik Submissive Riot maupun Tigabelas zine merupakan salah satu bentuk media komunikasi alternatif diluar media yang telah ada sebelumnya.

Setelah era Submissive Riot dan Tigabelas Zine, muncul zine-zine baru baik dari kalangan scene HC/Punk maupun dari luar yang merasa tertarik dengan zine sebagai media baru. Dari orang-orang di kalangan scene HC/Punk kemudian muncul Kontaminasi Propaganda, Membakar Batas, Puncak Muak, Shaterred, Lysa Masih Bangun, Akuadalahaku, Emphaty Lies Far Beyond, New Noise, Rebelliousickness, Cukup Adalah Cukup, Lady Anarchy dll. Kesemuanya itu mengusung tema yang bermacam-macam seperti Cukup Adalah Cukup dan Lady Anarchy yang menjadikan isu feminisme sebagai isu utama zinenya, kemudian Emphaty Lies Far Beyond yang berisi semacam hal semisal globalisasi dan neo liberalisme, dsb. Tetapi kesemua zine itu sekarang ini bisa dikatakan sudah mati karena berbagai alasan.

Zine generasi terbaru (bisa dikatakan begitu) yang terbit di scene HC/Punk Bandung sekarang diantaranya Beyond The Barbed Wire, Lapuk, Hardcore Heroes vs Punk Partisans. Para pembuat zine itu tetap berasal dari scene HC/Punk yang masih ingin mempertahankan budaya penulisan zine ditengah gempuran majalah-majalah glossy anak muda yang hanya menjual gaya hidup.

Beyond The Barbed Wire (selanjutnya BtBW) dibuat oleh Tremor yang juga mantan vokalis band Rajasinga. Zine yang telah keluar dalam dua edisi ini dicetak rata-rata 100 eksemplar per edisinya, dengan harga edisi pertama Rp 3500 dan edisi kedua karena dibuat lebih tebal dijual seharga Rp 5000. Dengan adanya jaringan pertemanan yang cukup baik di dalam scene HC/Punk memudahkan pendistribusian zine dari kota ke kota. Dalam hal ini Dani mampu membuka jaringan sehingga BtBW bisa didistribusikan sampai ke berbagai kota di Jawa dan yang paling jauh ialah kota Menado. Caranya dengan mengirimkan master hasil print BtBW ke teman di kota lain, kemudian yang menerima master tersebut akan menggandakannya lagi untuk di sebarluaskan. Sedangkan keuntungan penjualannya seluruhnya untuk kemajuan scene HC/Punk di kota yang menyebarluaskannya, jadi dari penjualan itu Dani sama sekali tidak mendapat keuntungan.

Di zinenya, Tremor sebagai pembuatnya dibantu juga oleh teman-temannya yang lain. Mereka menyumbangkan tulisan-tulisan yang berkesesuai dengan tema yang diusung BtBW. Format BtBW sebenarnya sedikit mengingatkan dengan format Tigabelas zine. Di lay out dengan softwear desain secara rapi dan apik sehingga menghasilkan tampilan yang menarik. Berbeda dengan zine yang lain, BtBW setiap edisinya mempunyai tema. Pada edisi pertama bertemakan tentang punk dan definisinya kemudian yang kedua mengambil tema etika DIY. Pada edisi kedua, Dani memasang iklan, tetapi tidak sembarang iklan yang ia muat. Hanya iklan yang berasal dari kalangan scene HC/Punk yang mendukung DIY saja yang bisa terpasang di BtBW seperti PenitiPink dan Kolektif Dor Dar Gelap yang menawarkan pembuatan pin. Biaya iklan untuk setengah halaman kertas ukuran A5 paling mahal hanya dipatok sekitar Rp 10.000. Uang dari iklan tersebut sebenarnya adalah untuk menutupi biaya kirim BtBW ke kota lain jadi harga yang dipatok pun tidak mahal.

Sumber: andrias-secangkirkopipagi.blogspot.co.id