Mantra Senyawa

oleh Irene Sarwindaningrum

Di perjalanan melintasi Sumatera Selatan, menembus hutan karet yang seolah tak bertepi, mendekati tengah malam, sang sopir yang awalnya sudah terkantuk-kantuk mendadak terbelalak mendengar suara yang keluar dari speaker somber mobilnya.

“Ya Allah, siapo lah nyanyi lagu ma’i ni?” serunya terbangun dari kantuknya.

Saya tertawa di sampingnya. “Senyawa Pak, ini Senyawa,” saya jawab sambil menurunkan volume.

Itu beberapa tahun lalu, saat Senyawa menemani perjalanan pulang di larut malam melintasi kegelapan jalan lintas tengah di Sumatera Selatan. Malam Jumat, Kamis (22/12), akhirnya saya bisa menonton mereka langsung di Jakarta.

Lagu yang dikeluhkan pak sopir Mulyadi, Abu judulnya. Alunannya menyayat setengah mistis karena menceritakan orang yang gugur dalam perang. Lagu-lagu lainnya di album Tanah + Air itu menghentak dan menjerit, cukup ampuh membuat Pak Mulyadi tak sempat ngantuk lagi.

Tak banyak kata-kata di lagu-lagu Senyawa. Bahkan ada yang tanpa kata sama sekali. Rully Shabara, sang vokalis, lebih banyak berteriak atau menggumam atau mendehemkan atau menggeram chant yang berakar pada tradisi berbagai daerah di Nusantara.

Chant, sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Tapi bangsa ini kaya akan chant. “cak cak” yang mengiringi tari Kecak dari Bali, misalnya, atau seruan Suku Dayak atau Papua yang bikin merinding.

Mari menyebutnya mantra.

Ya, musik Senyawa adalah musik mantra. Alat musik pengiring vokal Rully pun tak kalah ajaib. Wukir Suryadi, satu-satunya pemusik di Senyawa, menciptakan alat-alat musiknya sendiri. Yang paling klasik adalah alat petik dari seruas utuh batang bambu.

Malam Jumat di Gedung Kesenian Jakarta itu, Wukir mengenalkan alat bersenar dari garu, alat penggaruk padi. Tampilannya lumayan dahsyat, seperti mahkluk canggung dari era dinosaurus dari zaman Trias sampai Kretasius yang tiba-tiba dikirim ke masa depan ke panggung berbalut sinar lampu sorot dan laser proyektor.

Mahkluk itu dipetik, ditarik dan dibetot dan digesek. Mungkin garu, si bakal mahkluk, itu dipinjam dari pak tani di desa di Bantul atau Kulon Progo. Juga sothil, alias spatula khas desa, jadi alat musik semacam ukulele. Si sothil dipetik, dibetot, dan digaruk-garuk. Mungkin si sothil dicomot dari pawon ibu-ibu yang bisa jadi puyeng sothilnya hilang.

Konser Tanah + Air di malam Jumat di Gedung Kesenian Jakarta itu ditemani aroma harum kayu cendana di seantero ruangan. Di antara jeda pertunjukan, diputar lagu anak-anak “Mari Menanam Jagung” yang sepertinya direkam di tahun 1970-an.

Pertunjukan Senyawa ini terbilang langka. Dua orang yang bersenyawa di Jogja itu justru jarang manggung di tanah air. Mereka lebih sering ke luar negeri, dari Amerika Serikat, Eropa dan Australia. Baru-baru ini mereka luncurkan album terbaru di Denmark.

Selama 3,5 jam, 400-an penonton dihentak musik mantra Senyawa. Ada beberapa yang tertidur . Mungkin mereka lelah. Maklumlah, sebagian penonton adalah karyawan yang harus menerobos macet Jakarta yang brutal di tengah pekan sepulang kerja, ditambah efek hipnotis alunan mantra yang statis, pendek dan berulang.

Rully dan Wukir sendiri, tampaknya, di ujung penampilan, mencapai trance (bukan kesurupan) di panggung, terhubung dengan alam bawah sadar, larut dalam alam semesta raya. Rully menari seperti pemain reog tapi bercelana jins ketat, bersepatu bot dan bertelanjang dada. Perutnya berhias tato besar “Father”. Wukir berguling-guling di panggung sambil memeluk sothilnya dengan rambut panjang yang awut-awutan.

Dalam matakuliah akustik diajarkan bagaimana efek frekuensi suara pada otak manusia. Mantra, seperti “cak cak” mengantar orang pada kondisi trance. Lalu “ohm” dari Tibet, India, Nepal, Bhutan dan sekitarnya yang membuat otak dalam kondisi tenang dan rileks. Penelitian neurosains dan frekuensi di ilmu akustik ini juga menjelaskan kenapa derit pintu yang dibuka perlahan membawa efek horor. Ini bukan jopa-japu.

Setiap daerah, tiap kultur, punya musik-musik mantra, chant-chant mereka sendiri. Chant Indian dan Aborigin sudah banyak direkam dalam album musik. Inilah ekspresi manusia paling purba untuk berhubungan dengan alam di luar dirinya sendiri, atau justru masuk dalam perjalanan ke dirinya sendiri.

Nusantara kaya-raya dengan khasanah mantra dan chant ini. Di sastra, puisi mantra bisa ditemukan dalam karya Sutarji Calzoum Bachri di era 1970-1980-an. Puisi Tarji kala itu, betul-betul mantra dalam bentuk teks.

Dalam kemininan kata, musik mantra meletakkan bebunyian dan suara dalam hakikatnya yang paling jujur. Ekspresi. Rasa. Emosi.

Di lidah peradaban yang kian lihai zaman ini, begitu mudah kata-kata digunakan mengkhianati kejujuran. Padahal, kata-kata adalah kemuliaan peradaban manusia. Tanpa kata-kata, pengetahuan tak bisa diturunkan ke generasi selanjutnya. Peradaban kita akan tak lebih dari peradaban kucing atau gajah. Meski kadang-kadang terpikir, justru lebih baik seperti itu.

Kini, kata-kata digelincirkan dari kemuliaannya, dipakai berdusta, merekayasa, komunikasi politik taikucing, dan senjata — termenyemenye dengan semua kelebihannya yang menjadi kekurangannya.

Mantra tak akan bisa digunakan seperti itu. Dalam kesederhanaan bunyinya, mantra tak bisa merangkai kebohongan. Dalam kebebasannya dari belenggu makna, mantra tak bisa merangkai basa-basi.

Zaman makin tak terbiasa dengan kejujuran seperti mantra. Maka di era berjubal kata-kata ini, banyak orang tak lagi paham atau tak mau paham mantra. Mungkin kejujuran jadi terlalu menakutkan. Mungkin kejujuran terlalu sulit dipahami. Mungkin, bagi peradaban yang ketagihan basa-basi ini, kejujuran menjadi terlalu kasar didengar. (Ice breaker baby, ice breaker! Begitu anak-anak sekarang memulai percakapan)

Toh, apa gunanya belajar jujur di zaman serba tak jujur. Belajar bohong atau basa-basi lebih penting untuk berlangsungnya penghidupan.

Hampir tanpa kata, musik mantra Senyawa dengan jujur menyampaikan amarah, duka, pengharapan, atau kutukan pada teror dan kekacauan. Penonton mengernyit, terpukau, terhipnotis, atau merinding di kursinya. Abu, termasuk salah satu yang dimainkan paling akhir.

Sayang, mereka tak bisa berjingkrak ikut trance. Tata ruang sarat kursi terpasang permanen memaksa penonton yang didominasi anak-anak muda bertato itu duduk manis.

Usai pertunjukan, malam sudah mencapai puncaknya. Mantra yang dingin tanpa rasa bergumam dari kendaraan yang masih saja ramai di jalanan metropolitan.

 

Sumber: Serunai.co

Advertisements

Membaca Setelah Boombox Usai Menyalak

Oleh Ferdhi Putra

Saya adalah salah satu dari ribuan, atau bahkan lebih, penggemar tulisan Herry Sutresna. Melalui blognya, saya mendapati banyak kisah-kisah menarik tentang banyak hal. Membentang dari musik, aktivisme sosial, hingga filsafat. Saya termasuk generasi yang terlambat mengenal dunia musik bawah tanah, dengan demikian terlambat pula pertemuan saya dengan gagasan-gagasan brilian Herry Boogaloo ini. Tak ada saluran lain untuk membacanya kecuali lewat blog pribadi dan media-media musik daring masa kini yang sering memuat tulisannya, sehingga praktis tulisan-tulisannya di zine atau newsletter indie saya lewatkan. Sekali lagi, karena saya terlambat mengenalnya.

Jadi, ketika ada kabar bahwa ia akan menerbitkan buku kumpulan tulisan, saya adalah salah satu di antara sekian banyak orang yang antusias menantinya. Ini yang ditunggu-tunggu.

Ucok adalah seorang perangkai kata yang ulung. Saya rasa tidak ada yang menyangsikan itu. Taufiq Rahman, dalam pengantarnya mengatakan, “Ucok adalah penulis yang baik, sangat baik malah […] Ucok melebihi ekspektasi saya […] ia menulis dengan lugas tanpa metafora dan simbolisme yang biasanya menjadi titik lemah penulis berbahasa Indonesia,” (hlm. 1-2).

Saya tidak ragu dengan penilaian tersebut. Walaupun Ucok dengan cukup rendah hati membantahnya dan bilang, “[…] saya penulis yang buruk. Membaca tulisan-tulisan banyak kawan saat kuliah cukup membuat saya sungkan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan saya. Karena memang buruk” (hlm. 5). Persetan, kami tidak percaya.

Tulisan Ucok, dengan tema apapun, akan selalu menarik untuk disimak. Seperti kata Taufiq, bahkan jika ia menulis manual memasak sayur buncis pun, rangkaian-rangkaian katanya akan tetap hidup dan tidak membosankan.

Saya tidak betul-betul paham subyek yang ia paparkan di sejumlah tulisan. Saya acapkali mencari jeda waktu membaca tulisannya hanya untuk mencari tahu apa yang sedang ia biacarakan. Mungkin bisa dimaklumi, mengingat referensi saya tentang musik, khususnya hiphop—walaupun ia tak hanya membicarakan hiphop—tidak banyak, jika tidak dibilang nggak ada. Tapi, meski saya tidak begitu tahu, saya tidak pernah terpikir untuk berhenti membaca dan menutup blog—atau sekarang bukunya. Malah dari situ, referensi saya soal musik jadi bertambah.

Ucok, sangat mirip dengan karakter Bapanya—setidaknya dalam tangkapan saya. Ia tidak banyak ‘menasehati’ untuk menunjukkan betapa menariknya sebuah album, lagu, atau buku, atau kehidupan suburban yang lebih sering menjadi figuran dalam skenario makro masyarakat urban. Atau untuk menunjukkan seberapa pentingnya bersolidaritas pada kelompok-kelompok marjinal yang berhadap-hadapan dengan negara dan korporasi. Tidak heran jika lirik-lirik besutannya kerap direproduksi untuk berbagai kutipan di buku, kaos, atau bahkan status facebook. Selain karena sarat makna, kata-kata buatannya bisa membuat orang yang mereproduksinya terlihat keren. Ini serius (untuk yang satu ini, mungkin kita bisa lakukan survey bersama).

Beberapa tulisan di buku Setelah Boombox Usai Menyalak sudah pernah saya baca. Tapi tak ada sedikitpun keinginan untuk melewatinya. Mungkin lantaran ringan namun berbobot, sehingga membacanya ulang tidak menjadi sebuah kesia-siaan. Di beberapa tulisan yang mendedah album atau lagu—untuk menyebut beberapa misalnya, Got More Rhymes Than I Got Grey Hairs: RIP Adam Yauch, Tentang The Shape of Punk to Come Pasca Rilis Ulang Epitaph, 10 Lagu Protes Lokal Terbaik, dll.—saya sering mendadak berhenti membaca untuk kemudian menyalakan pemutar musik di komputer. Saya mencari album atau lagu yang ia sebut—dan yang saya punya tentunya—untuk bisa ikut mengalami apa yang dialaminya.

Brengsek betul, pikir saya. Saya jarang merasakan kuatnya distraksi yang dimunculkan oleh penulis dalam tulisannya, seperti yang Ucok lakukan. Ia tidak perlu memersuasi orang agar juga mendengarkan album atau lagu yang disebut. Ya, meskipun ia memang tidak sedang melakukan itu—kecuali di beberapa tulisan mixtape.

Pemilihan diksi yang ciamik dan penentuan alur yang asik membuat tulisan-tulisan dalam buku ini seperti, meminjam frasa umum dalam resensi buku, “menggoda kita untuk terus membuka halaman-halaman berikutnya dan menemukan kejutan.” Yang membuatnya begitu luwes adalah karena ia sangat menguasai topik—tentu saja!—dan sangat intim. Pertemuan seseorang dengan sesuatu yang mengubah—atau memengaruhi—hidupnya selalu menarik untuk disimak. Apalagi orang sekaliber dirinya. Saya tidak sedang meninggi-ninggikan, karena faktanya memang demikian. Siapa yang bisa memungkiri bahwa ia memiliki penggemar yang bertebaran dari ujung barat hingga timur.

Sebagai contoh, dalam Bapa, ia dengan akrab menceritakan sejarah bagaimana keluarga, khususnya ayahnya yang begitu mencintai seni, telah menancapkan fondasi utama yang membentuk Ucok hari ini. “Bapa lah orang yang pertama kali mengenalkan saya pada sisi lain kehidupan yang bisa meriah jika dijalani dengan passion yang pedal gasnya diinjak hingga pol dan sebisa mungkin tidak menginjak rem,” (hlm. 17).

Pengalaman-pengalamannya dengan piringan hitam, kaset dan boombox pertamanya, menjadi penanda awal perjalanannya sebagai seorang yang “membaktikan 75 persen hidupnya untuk musik yang dia cintai.” Entah siapa yang memutuskan menempatkan Bapa sebagai tulisan pembuka—Ucok atau Taufiq sebagai penyunting—menurut saya, ia berada di tempat yang sangat tepat.

Kendati sejak awal dikatakan bahwa musik menjadi tema utama buku ini, kita akan bisa menemukan banyak sisipan—jika bukan yang utama—topik selainnya. Salah satu yang menjadi ciri khas Ucok sebagai seorang ‘penulis musik’ adalah, ia tidak pernah membiarkan musik berdiri sendiri dan terisolasi dari konteks sosial yang melahirkannya. Di sejumlah tulisan, kita akan dengan mudah menemukan pola semacam itu. Sangat kentara terlihat pada tulisan misalnya, Making Punk a Threat Again, Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan, Mixtape Boikot “Bela Negara”, dlsb. Ucok kadang terlihat seperti Gonawan Mohammad (maaf jika ada yang tidak berkenan saya menyandingkan MV dengan GM) yang sering bermain-main dengan ruang dan waktu. Melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dari abad lampau, ke masa kini. Begitu reflektif.

Pada tulisan Amiri Baraka, Kelas Menengah dan Pembangkangan Sipil, dengan latar sedikit gloomy, ia mengisahkan ‘kekalahan’ perjuangan warga urban Bandung menghadapi penggusuran. Lagu Amiri Baraka yang dikutip, seakan menjadi lagu pengantar sebelum meninggalkan lokasi. Tapi tidak untuk meratap. Lagu itu menjadi suplemen untuk menjaga kepala tetap tegak di tengah tudingan ‘kelas menengah kurang kerjaan’. Setidaknya, untuk ‘menghibur’ diri atau ‘masturbasi’. That’s the way of things in town.”

Setelah Boombox Usai Menyalak adalah kisah otentik dari seorang scenester organik. Tiap cerita yang diguratkan di dalamnya boleh jadi merupakan representasi skena underground Bandung–dan Indonesia—yang sahih. Hingga hari ini, saya belum menemukan orang, meski sarjana sekalipun, yang menuliskan sejarah skena lokal dengan begitu baik.

Saat menulis ini, tiba-tiba terbersit adegan futuris di kepala saya: andai ia punya kepala ditempeli kabel-kabel yang terhubung dengan komputer canggih yang dapat merekam memorinya, maka kita akan mendapatkan ensiklopedi skenaunderground Bandung yang sangat lengkap. Lengkap beserta analisis-analisis tajamnya.

Di beberapa kesempatan, baik lewat tulisan maupun diskusi, saya menyaksikan Ucok dengan sangat apik mengonstruksi babak-babak sejarah skena musik di Kota Kembang. Saya membayangkan jika ia menulis seperti Stacy Thompson dalam buku Punk Productions: Unfinished Business, maka akan purna sudah tugas sarjana studi budaya untuk menelanjangi fenomena-fenomena skena musik di Bandung. Tapi pertanyaannya kemudian, apakah Ucok mau melakukannya? Cuma ia yang bisa menjawabnya.

Buku ini mungkin menjadi awalan yang bagus buat Ucok untuk mau mengarsipkan tulisan-tulisannya di kemudian hari. Seberapa pun kuatnya ia menolak (silakan baca catatan pengantar olehnya, orang ini terlalu rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya lebih dari yang ia pikir), ada begitu banyak orang yang menantikan olahan kalimat-kalimat canggih yang keluar dari kepalanya. Jika kami masih harus menunggu untuk bisa mendengarkan lirik-lirik sakti Bars of Death, mengapa tidak bukukan saja tulisan-tulisan lainnya yang masih tercecer?

Setelah boombox usai menyalak, lalu apalagi?

Judul buku : Setelah Boombox Usai Menyalak
Penulis : Herry Sutresna
Penerbit : Elevation Books
Halaman : 227 hlm
Tahun terbit : 2016

Sumber: Serunai.co

Melawan Arus Para Pelawan Arus

Oleh Ferdhi Putra

Punk Muslim. Punk Islam. Mungkin kedua istilah itu sudah tidak terlalu asing lagi hari ini. Sejak beberapa tahun lalu, kemunculan kelompok agama dalam skena underground menjadi pembahasan yang menarik di banyak komunitas. Muncul berbagai respons atas kehadiran kelompok ini, dan respons negatif tentu saja mendominasi. Pasalnya, skena underground kadung ‘mapan’ dengan tata nilainya sendiri, sehingga seolah tidak ada celah bagi nilai-nilai lain untuk masuk dan menjadi bagian. Terlebih lagi nilai agama yang selama ini kerap menjadi oposan. Tetapi bukankah cara kerja setiap ide memang demikian? Mengeksklusi diri dan menjadikannya berbeda dari yang lain.

Buku Melawan Arus: Membedah Pemikiran Subkultur Punk Islam di Indonesia mungkin menjadi buku pertama yang ditulis oleh mereka yang menyebut diri sebagai Punk Islam. Buku ini berisi esei-esei pendek tentang topik-topik yang lazim menjadi bahan perbincangan di kalangan punk. Sebut saja misalnya, soal kebebasan, kapitalisme, anarkisme, feminisme, laku do it yourself, lingkungan, animal liberation, straight edge dan tentu saja, agama. Buku ini semacam manifesto ‘subkultur baru’ dalam subkultur punk. “Kami Punk Muslim hadir sebagai counter dari counter-culture itu sendiri!” (hlm. 104).

Adalah Aditya Rahman Yani alias Aik yang mewujudkan buku ini dan ingin menjadikannya sebagai tonggak pemikiran Punk Islam di Indonesia. Aik, scenester lawas asal Surabaya, mencoba mendekonstruksi topik-topik di atas dengan worldview Islam.

Buku tersebut dibuka dengan artikel “Mendefinisikan Punk, Islam dan Punk Islam” (hlm. 7-14). Artikel ini menjadi pintu masuk untuk memahami posisi Punk Islam di antara dua arus besar pemikiran yang menjadi latar belakang kemunculan kelompok ini, yakni punk dan Islam.

Memadukan punk dan Islam memang bukan perkara gampang. Punk dan Islam (sebagai agama yang terinstitusikan) sejak lama dipertentangkan oleh para pengikutnya, sehingga ketika ada pihak yang hendak menggabungkan keduanya, gejolak penolakan akan datang dari kedua kubu. Pendapat yang kerap kita temukan soal pertentangan itu, misalnya: “seorang punk tentu tidak beragama, dan menjadi seorang beragama tentu tidak bisa menjadi seorang punk.” Dalam rangka itulah, sepertinya, Aik mendefinisikan Punk Islam sebagai “mediasi, perantara, saluran bagi siapa pun di dalam subkultur punk yang mencoba kembali mengenal agamanya dan mulai tertarik untuk mengadopsi nilai-nilai Islam untuk kehidupan sehari-hari mereka.” (hlm. 6).

Sebelum Punk Islam populer di Indonesia, mungkin kita telah mengenal taqwacore. Taqwacore adalah buah imajinasi seseorang bernama Michael Muhammad Knight tentang perkawinan antara Islam dan punk. Imajinasi tersebut tertuang dalam novel berjudul The Taqwacore yang terbit pada 2001 secara indie dan terbatas—pada 2003 buku ini diproduksi massal karena animo besar. Novel inilah yang kemudian menginspirasi sekumpulan pemuda—scenester—dan mewujudkan taqwacore sebagai sebuah komunitas yang nyata. Beberapa tahun setelah novel itu terbit, sebuah band punk asal California, The Kominas, bersama Knight membuat video dokumenter yang merekam napak tilas para personil band tersebut ke kampung halamannya, Pakistan. Video tersebut kemudian dirilis dan diberi judul Taqwacore: The Birth of Punk Islam (2009).

Dari permukaan terlihat ada kesamaan, yakni upaya untuk menggabungkan dua konsep pemikiran yang selama ini dipertentangkan. Namun secara esensial, kedua gerakan tersebut sangat berbeda. Perbedaan tersebut ditekankan oleh Aik dalam tulisan “Dosa-dosa Taqwacore (I)” (hlm. 113). Ia bahkan menuliskan dua bagian dalam buku tersebut untuk mengritik gerakan taqwacore di Barat. Taqwacore menjadi salah satu motivasi utama Aik untuk membukukan esei-esei yang sebagian pernah dipublikasi melalui blog pribadinya. “Hal ini mendorong penulis untuk menyelesaikan buku ini, sebagai bentuk koreksi, sekaligus sebagai pernyataan sikap terhadap pemikiran-pemikiran sekuler yang mengakar dalam tubuh subkultur punk,” tulisnya. (hlm. #intro).

Menurutnya, taqwacore yang berkembang di Barat hanya manifestasi dari pemikiran liberalisme sebab ada “banyak penyimpangan (bahkan perlawanan) yang dilakukan orang-orang Taqwacore terhadap prinsip-prinsip Islam yang telah fix (qadh’i)” (hlm. 114). Ia menyebut beberapa contoh ‘penyimpangan’ a la taqwacore, di antaranya gaya hidup dan akhlak yang dianggap tidak islami—cenderung liberal, mendukung homoseksualitas, penampilan fisik yang tidak syariat, menentang otoritas ulama, dlsb. Intinya, taqwacore dinilai banyak melanggar prinsip dasar Islam, sehingga tidak layak disebut sebagai Punk Islam.

Saya sendiri hingga hari ini tidak pernah betul-betul tahu apakah taqwacore yang tergambar dalam novel dan film adalah bayangan ideal seorang Knight akan penggabungan kedua ide tersebut. Ataukah sebenarnya ia memiliki bayangan ideal tersendiri tentang Punk Islam.

Dalam sebuah kolom di media massa, Knight pernah bercerita tentang pengalamannya sewaktu membedah bukunya di Jerman. Ia mengatakan, “Selama bedah buku terakhirku di Berlin, seseorang mengatakan bahwa novelku mendapat apresiasi yang luar biasa di Jerman, itu membuktikan bahwa orang-orang Jerman begitu terbuka dan toleran terhadap kaum Muslim. Aku menjawab: buku itu dipenuhi oleh narasi Muslim yang mabuk-mabukan, merokok, berhubungan seks, menelantarkan komunitasnya dan menghina Nabi; itu hanya memenuhi fantasi orang-orang Eropa tentang bagaimana Muslim seharusnya berlaku. Aku berkata kepada orang itu, jika orang-orang Jerman ingin membuktikan bahwa mereka betul-betul terbuka, mereka bisa menemukan lebih banyak jenis Muslim untuk bisa diterima di masyarakat mereka.”

Tulisan itu dibuat sebagai refleksi sepuluh tahun setelah novel The Taqwacore terbit. “Menulis Taqwacore tidak mengajarkan saya Islam secara utuh, sebab ternyata masih ada Muslim konservatif yang menerima saya sebagai saudaranya setelah membaca novel tersebut,” katanya (Vice, 2012).

Dari paparan tersebut, saya menangkap bahwa Knight sendiri tidak melihat taqwacore sebagai sebuah konsep yang final. Hal itu dapat dipahami mengingat ia menulisnya di masa-masa peralihannya menjadi seorang Muslim. Proses ‘pencariannya’ boleh jadi masih berlangsung hingga kini.

Kita kembali ke buku Melawan Arus. Bagi saya, ide-ide dalam buku tersebut sangat menarik sebagai sebuah kritik, terlepas dari tawaran nilai yang diajukan menimbulkan kontroversi. Punk sebagai ideologi kritis dengan ‘kemapanannya’ kini, misalnya, perlu digugat lantaran kian mengalami dekadensi. Dalam bukunya yang fenomenal, Subculture: The Meaning of Style, Dick Hebdige mengatakan, “punk begitu otentik hanya pada saat ia muncul sebagai sebuah gagasan yang inovatif, namun setelah industri budaya menghegemoni punk berubah menjadi komoditas yang kemudian dijual kembali kepada konsumen generasi mendatang.” Pun dengan agama yang selama ini dipahami begitu eksklusif. Sebagian kalangan tentu mempertanyakan konsep Punk Islam: bagaimana mungkin punk—yang diterjemahkan sebagai ‘sesuatu’ yang urakan beserta stigma negatif lain yang melekat padanya—bisa mengklaim dirinya Islam? Bahkan boleh jadi Punk Islam dituding sebagai bid’ah lantaran tidak sesuai dengan syariat.

Terlepas bahwa ide-ide dalam buku tersebut menarik untuk dilihat sebagai dinamika subkultur, khususnya di Indonesia, bagi saya argumentasi yang dipaparkan Aik cenderung lemah. Saya merasa tulisan-tulisan tersebut masih berupa luapan reaktif untuk merespons tudingan-tudingan yang selama ini ditujukan ke Islam—atau Punk Muslim?.

Ketika hal yang diperdebatkan berada di ranah teologis, Aik seharusnya bisa memaparkan lebih jauh tentang punk dari perspektif Islam dengan pijakan yang lebih kokoh. Misalnya, dari perspektif fikih (kaidah hukum), sebagaimana yang pernah ia tulis tentang “fikih pertemanan dalam skena underground” dalam blognya. Jadi tidak cuma argumen yang mengacu pada ayat dan hadis yang dikutip seadanya, sebab kuatir menjadi sekadar debat kusir soal “bagaimana seharusnya ber-Islam”.

Dalam film fiksi Taqwacore (2012) karya Eyad Zahra yang merupakan hasil adopsi dari novel Knight, ada beberapa adegan yang mempertontonkan bagaimana pengutipan ayat dan hadis seadanya untuk melegitimasi apa yang mereka yakini. Misalnya dalam sejumlah adegan khotbah Jumat, beberapa tokoh yang berperan sebagai khatib shalat Jumat mengutip ayat-ayat untuk meneguhkan makna Islam menurutnya. Artinya siapapun yang berkepentingan bisa mengutip ayat ‘yang dibutuhkan’ untuk memperkuat argumennya. Padahal dalam kitab itu sendiri, ada banyak ragam ‘cerita’ dengan konteks sosialnya masing-masing, sehingga kadang terlihat kontradiktif. Kalam-kalam tersebut hanya akan bisa dipahami dengan utuh apabila ditelaah melalui kajian-kajian yang komprehensif.

Hemat saya, karena Aik berusaha menarik punk ke ranah teologis, maka sudah sepatutnya pembedahannya pun bisa lebih dalam dari sekadar pengutipan ayat. Tetapi mungkin ekspektasi saya pun terlalu tinggi. Sebab jika apa yang saya katakan di atas benar-benar dilakukan, boleh jadi yang terbit bukan buku kumpulan esei ini, melainkan kitab fikih tentang punk. Tapi, namanya juga manifesto.

 

Judul buku : Melawan Arus, Membedah Pemikiran Subkultur Punk Islam di Indonesia
Penulis : Aditya Rahman Yani
Penerbit : Kanzun Books
Halaman : 124 hlm
Tahun terbit : 2016

 

Sumber: Serunai