Nada Perlawanan Filastine & Nova

Ada satu permintaan khusus dari panitia ketika Filastine & Nova tampil di Calais Jungle, salah satu kamp pengungsian terbesar di Eropa. “Panitia bilang, penonton sangat ingin kami memulai konser tepat waktu,” tutur Grey Filastine. “Rupanya, setelah konser usai para penonton yang juga pengungsi ingin menghabiskan malam itu memanjat pagar perbatasan dan mencari tumpangan di truk atau kereta api.”

“Kami melempar £00T, uang masa depan yang kami ciptakan sendiri, di penutupan setiap konser,” ungkap Grey. Namun, melempar uang kertas palsu di ruangan sempit penuh pengungsi perang rupanya bukan ide bagus. Dua musisi yang tampil di kelompok tersebut nyaris sesak nafas diinjak-injak oleh massa. Ketika THUMP menemui Grey pada tahun 2016, ia berseloroh tanpa bermaksud sarkas: “Sebenarnya, penonton konser malam itu sempurna.”
Pada tahun 2009, Grey – seorang aktivis dan produser asal Amerika Serikat – bertemu dengan Nova Ruth, rapper sekaligus pemilik kedai kopi asal Malang, Jawa Timur. Sejak mulai berkolaborasi, duet lintas benua ini telah memainkan musik elektronik nan rancak tentang penambang sulfur di Kawah Ijen, tur keliling Indonesia dengan perahu pinisi, tampil di desa pesisir dan perumahan kumuh di lima benua, dan menyanyikan ulang salah satu lagu paling terlarang di Indonesia. Mereka dipuji Pitchfork sebagai “musik yang lain dunia”, dan digadang-gadang SPIN sebagai “musik latar keruntuhan peradaban urban.”

Melalui surel, kami mengobrol dengan Grey (G) dan Nova (N) tentang aktivisme radikal, Peristiwa 1965, dan konser mereka yang ‘dibubarkan’ oleh arwah penasaran.

Dalam sebuah wawancara, anda [Grey] berkata, “Saya bukan musisi yang menjadi radikal, melainkan seorang radikal yang menggunakan musik untuk mengekspresikan diri.” Seperti apa latar belakang kalian berdua, dan keterlibatan kalian pada isu sosial dan aktivisme?

G: Keterlibatan pertama saya ada di isu kehutanan. Saya terlibat di kelompok bernama Earth First! yang mengokupasi hutan-hutan kuno, agar tidak dibabat. Kemudian, saya mendirikan Infernal Noise Brigade – sebuah marching band yang dibentuk untuk mengiringi protes alter-globalisasi di awal tahun 2000-an. Selama ini saya tertarik pada isu-isu lingkungan, dan beberapa kali melakukan intervensi dengan medium bunyi di Konferensi Perubahan Iklim yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Belakangan, saya mulai lebih fokus pada isu migrasi. Saat ini saya tinggal di Eropa Selatan, dan isu tersebut mulai menjadi genting.

N: Kakek saya dulunya tentara. Tapi, ketika saya tumbuh besar, beliau sudah tidak bekerja lagi. Ia menderita diabetes dan akhirnya buta. Kakek saya terkenal anti korupsi, maka dari itu ia disingkirkan dan jabatannya baru dinaikkan ketika ia sudah meninggal. Maka, saya baru mengenal cara untuk bersikap lebih kritis ketika saya berusia 19 tahun. Sebelumnya, saya secara tidak sengaja saja dilengkapi dengan pengetahuan isu sosial ketika mendengarkan musik yang dimainkan Bapak saya – baik bersama Elpamas maupun bersama Iwan Fals, Kantata Takwa, dan Sirkus Barock.

Ketika saya mendirikan band Twin Sista, saya otomatis menulis lirik yang mengandung muatan isu sosial dan lingkungan. Untungnya, keluarga saya tidak hanya dari keluarga militer saja. Keluarga bapak saya, Toto Tewel, adalah keluarga Kristen yang sangat menyukai musik. Sebelum Kakek saya (dari sisi Bapak) menjadi pendeta, ia dulunya pemain biola di grup Orkes Melayu.

Apa yang mendorong kalian untuk bereksperimen dengan bunyi untuk aktivisme?

G: Tanpa gerakan sosial, tidak ada perubahan positif yang akan terjadi di dunia. Tapi, apa yang membuat orang tergerak untuk bergabung dengan gerakan? Tidak ada yang tertarik pada aktivisme hanya karena ia membaca buku teori membosankan dari Karl Marx atau Michel Foucault. Biasanya, orang terinspirasi oleh lagu, oleh film, oleh performans, atau novel tertentu. Budaya populer semacam inilah yang menjadi bibit-bibit awal kesadaran politik. Sedikit banyak, saya ingin musik dan performans kami menjadi salah satu bibit tersebut.

Musik adalah bahasa yang lebih tua dari kata-kata. Menurut saya, musik lebih bisa bermain dari sisi emosional ketimbang dari sisi intelektual. Pemikiran ini penting didedah lebih lanjut oleh produser seperti saya. Kami mengambil keputusan politis ketika kami memilih bagaimana metode kami memproduksi lagu, siapa yang kami ajak berkolaborasi, dan bagaimana cara kami membagikan musik kami di luar kanal-kanal yang mapan.

 

Pada tahun 2012, kalian merekam ulang lagu Gendjer-Gendjer. Mengapa kalian memilih lagu ini? Terutama mengingat latar belakang keluarga anda [Nova]?

N: Saya langsung merinding saat mendengarkan Lilis Suryani menyanyikannya. Ketika saya pindah ke Yogyakarta, informasi tentang Peristiwa 1965 semakin keras. Pada waktu bersamaan, saya mulai bertanya-tanya ke Ibu saya, apakah ia ingat kejadian tersebut walau saat itu ia masih berumur 6 tahun? Rupanya, beliau sangat ingat bagaimana tegangnya suasana di tahun 1965. Pada kenyataannya, semua orang dan keluarganya menjadi korban dari Peristiwa ini – baik mereka yang dituduh Komunis, para seniman, maupun pihak militer. Setiap malam, keluarga kami [militer] pun diancam oleh pihak-pihak tertentu yang ‘ingin membalas dendam’ soal 1965.

Namun, bukan berarti negara ini lepas dari kesalahan. Kejadian tersebut adalah tanggung jawab bersama. Dan menyanyikan lagi Gendjer-Gendjer adalah salah satu bentuk tanggung jawab. Jika kita sebangsa tidak berani mengakui kesalahan, kemakmuran dan kemajuan akan semakin sulit kita capai.

Anda sempat menuliskan pengalaman anda tampil di salah satu venue, di mana ‘arwah’ para tahanan politik mengganggu performans kalian saat kalian memainkan Gendjer-Gendjer.

N: Oh iya. Mau tidak mau, percaya tidak percaya, hampir semua dari kita orang Indonesia percaya pada keberadaan hal-hal yang bersifat metafisik. Di kampung tempat kami tampil itu, semua warga tahu bahwa di lingkungan mereka terdapat kuburan massal bagi korban pembantaian yang dituduh PKI. Maka, warga pun percaya bahwa arwah penasaran para korban masih ‘terperangkap’ di desa mereka.

Saya akui saya memang bebal. Juru kunci dari kuburan tersebut melarang saya untuk menyanyikan Gendjer-Gendjer, tapi tetap saya nyanyikan dengan dalih bahwa saya tidak berniat jahat. Ketika saya mulai bernyanyi, lampu seluruh desa langsung padam. Generator untuk berjaga-jaga jika listrik padam pun tidak bisa dinyalakan. Suasana sempat cukup mencekam.

Penduduk desa menyuruh kami berpegangan tangan supaya tidak ada yang menjadi sasaran kemarahan arwah penasaran. Baru setelah sekitar setengah jam, lampu menyala lagi. Saya lekas dipanggil juru kunci untuk menyiapkan sesajen. Kata arwah-arwah tersebut, mereka cukup tersinggung, ‘Kenapa ada pesta, namun mereka tidak diundang?’ Sejak kejadian tersebut, akhirnya saya berteman dengan salah satu petani anggur yang tinggal di dekat kuburan massal, dan saya beberapa kali datang lagi ke sana.

Apakah menurut anda, Indonesia telah berusaha menghadapi masa lalunya dengan lebih baik?

N: Ada contoh yang bisa kita ambil dari Australia. Sejak tahun 1998, setiap tanggal 26 Mei mereka memperingati National Sorry Day atau Hari Permintaan Maaf Nasional. Hari ini diperingati sebagai permohonan maaf negara – dan secara simbolik, rakyat Australia – pada perlakuan buruk terhadap suku bangsa Aborigin oleh imigran kulit putih. Namun, kenyataannya hingga kini pemerintah mereka malah membuat rangkaian kebijakan tentang imigran yang sangat tidak progresif. Tidak ada perubahan yang mengakar dari pemerintah.

Jadi, mungkin pernyataan maaf dari ‘pemerintah’ tak akan otomatis jadi solusi bagi segala kesalahan yang kita lakukan dari masa lalu. Namun, permintaan maaf bisa menjadi awal yang baik bila diteruskan dengan terwujudnya pemerintahan yang memang adil dan bijaksana. Ruang rekonsiliasi independen seperti yang dilakukan kelompok Taman 65 di Bali, misalnya, adalah contoh yang baik. Di sana, baik keluarga militer maupun korban tertuduh Komunis bekerjasama dalam proyek-proyek seni dan budaya.

Salah satu proyek terbaru kalian adalah serial ABANDON, yang berbicara tentang “pembebasan dari pekerjaan hina.” Bagaimana pengaruh latar belakang kalian sendiri dalam produksi serial tersebut?

G: Ketika masih tinggal di Amerika Serikat, saya menjadi sopir taksi selama hampir 10 tahun. Pengalaman itu sangat mengubah pemahaman saya tentang kemanusiaan, dan karya yang saya hasilkan. Tapi, khusus serial ABANDON, saya terinspirasi dari beberapa pekerjaan ‘hina’ yang pernah saya lakukan.

Pekerjaan pertama saya adalah di gerai ayam goreng fast food di sebuah pusat perbelanjaan di Oklahoma, Amerika Serikat. Pemilik gerai itu adalah korporasi dengan nilai-nilai Fundamentalis Kristen yang sangat ketat, dan mereka mengancam akan memecat siapapun yang tak selalu tersenyum bagi pembeli. Pekerjaan saya yang paling buruk adalah di sebuah tempat live peepshow [tempat di mana pelanggan bisa mengintip orang lain berhubungan seks – Red] bernama The Lusty Lady. Tempat itu sangat mencurigakan, tak ada jendela, dan lampunya merah menyala. Tugas saya adalah membersihkan sisa-sisa sperma yang ditinggalkan pelanggan setelah mereka merancap.

Pengalaman-pengalaman seperti ini yang menjadi latar belakang ABANDON. Pekerjaan yang merendahkan diri anda, dan sebenarnya juga tidak baik bagi lingkungan hidup. Pekerjaan yang sepenuhnya bersifat transaksi – karena anda tak mungkin mengambil pekerjaan semacam itu secara sukarela. Mereka murni membeli waktu hidup anda dengan uang.

 

Anda memilih empat profesi sebagai subyek – ada alasan khusus di balik pemilihan tersebut?

G: Kami merasa perlu membuat karya yang berbicara tentang ekstraksi bahan bakar fosil, jadi kami memilih The Miner [Sang Penambang – Red] sebagai serial pertama. Nova dan saya sama-sama terobsesi dengan isu ini, karena banyak orang di Indonesia tidak paham betapa parahnya penambangan batubara di pulau Kalimantan.

Setelah itu, kami memilih The Cleaner [Sang Pembantu – Red] untuk mengkritik pekerjaan yang bias gender dan tidak manusiawi. Kami banyak merenung tentang awal mula era Internet sebelum memproduksi lagu The Salarymen [Sang Pekerja Kantoran – Red]. Mendadak, kita semua seharian mendekam di depan layar komputer – entah apa yang kita lakukan sebelum tahun 1990-an akhir. Saya ingat masa-masa di mana para pekerja diharuskan menggunakan seluruh tubuh, tidak hanya jemari dan mata untuk mengetik.

Kemudian, The Chatarreros [julukan untuk pemulung besi bekas di Spanyol – Red] adalah cara kami untuk berbicara tentang ekonomi di Eropa Selatan yang mulai kolaps, pilihan-pilihan hidup yang mulai hilang bagi migran dari Afrika, dan pengaruh satu pekerjaan pada lingkungan.

Apa rencana kalian di tahun 2017? Ada tempat yang masih ingin dikunjungi untuk konser?

G: Ini tahun yang penting bagi kami. Kami akan merilis album baru (Drapetomania) dan performans baru, jadi sepanjang tahun ini kami akan tur untuk berbagi dengan sebanyak mungkin orang. Salah satu tempat yang belum pernah kami sambangi adalah Amerika Latin, jadi ini target kami tahun depan. Kami ingin mampir dan tampil di Meksiko, Kolombia, Cile, dan Brazil, misalnya. Nova mulai fasih berbahasa Spanyol, jadi mungkin sekarang tur ini lebih mudah kami wujudkan.

Mungkin ini pertanyaan yang terlalu sederhana. Tapi, apakah menurut kalian tak ada harapan lagi bagi kemanusiaan dan sebaiknya kita menunggu mati saja?

G: Justru, ini salah satu pertanyaan paling kompleks yang bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri. Pertama-tama, abaikan fakta bahwa dalam beberapa juta tahun dari sekarang, matahari akan memuai dan membakar Bumi. Jutaan tahun dari sekarang, manusia mungkin sudah berevolusi menjadi spesies yang berbeda, atau sudah bermigrasi dari bumi. Kemungkinan ini terlalu jauh dan tak terlalu relevan. Mari bicara tentang ratusan, dan ribuan tahun ke depan.

Kita spesies yang tangguh, jadi kita takkan binasa sepenuhnya. Tapi, mungkin kita terkutuk untuk menghabisi semua spesies liar lain dan tinggal di dunia yang penuh dengan polusi dan sampah manusia. Saya tidak mau tinggal di dunia seperti itu. Saya juga tak mau terus melangkah di jalur yang akan membuat kita mewariskan dunia semacam itu pada generasi-generasi berikutnya. Bisa dibilang, ini motivasi yang kuat untuk menciptakan karya seni dan mendorong munculnya jalur berbeda. Persoalannya, setiap hari kita tinggal di dunia yang semakin padat dan lelah secara ekologis. Jadi, mudah sekali bagi kita untuk berpulang lagi pada tribalisme, nasionalisme dan sentimen agama yang ekstrim.

Anggap saja ini The Trump Effect – sekarang, semua orang bertarung untuk kepentingan individu, suku, kepercayaan, atau rasnya sendiri, bukannya memperjuangkan sesuatu yang penting bagi semua orang di bumi.

Bahaya Laten Herry Sutresna

Oleh Raka Ibrahim

“Tambah gendut aja lu, Ka,” sambutnya, menjabat tangan saya erat-erat.

“Lu juga sama,” balas saya. “Bagaimana, nikmat hidup jadi orang kiri?”

Herry Sutresna tertawa terbahak-bahak dan mempersilakan saya berkeliling. Kantor Grimloc Records, label rekaman yang ia dirikan, sedang ditata ulang. Mata saya langsung tertuju pada ratusan CD dan kaset yang menumpuk di ruang tengah, sebagian tercecer dari kardusnya dan bertebaran di lantai. Ucok – begitu ia akrab disapa – menjelaskan bahwa koleksi lama ini hampir musnah dimakan rayap di gudang. Saya tersenyum sendiri ketika ia menghampiri tumpukan CD tersebut, dan mulai menimang-nimang CD Public Enemy seperti anak sendiri.

Pada tahun 1994, ia bersama dua rapper muda lain – Sarkasz (M. Aszy Syamfizie) dan Punish (Adolf ‘Lephe’ Triasmoro) – mendirikan Homicide, salah satu kolektif hip hop paling legendaris di Indonesia. Selama 13 tahun berikutnya, mereka mengguncang scene hip hop lokal dengan musik mereka yang bising, rima yang berbahaya dan sarat referensi, serta keterlibatan mereka dengan gerakan revolusioner pasca-Reformasi.

“Enaknya kita ngobrolin apa?” tanya Ucok, sembari menyeruput kopi.

“Agak klise,” balas saya. “Musik yang berpihak. Gerakan sosial. Kira-kira seperti itu, lah.”

Ucok mengangguk. “Mungkin, apa yang kita anggap klise sebenarnya perlu dibicarakan lebih jauh.” Tuturnya. “Konteks selalu berubah. Apa yang klise bagi gue, mungkin masih baru bagi orang lain. Dan pemahamannya bisa berbeda sama sekali.”

Ia menyulut rokok, lantas terdiam agak lama. “Jadi,” ucapnya, menyeringai. “Sejak kapan lu jadi kapitalis?”

“Karena buku sejarah, ditulis dengan darah, dengan anggur dan nanah, dengan khotbah dan sampah;

Maka argumen terlahir dari kerongkongan korban, digorok di pagi buta di lapangan pedesaan.”

– Homicide, “Rima Ababil” (2006)

—-

Bandung adalah kawah candradimuka yang tepat bagi calon pemberontak. Pada awal dekade 1990-an, scene musik independen di sana tumbuh menjadi arus perlawanan yang solid terhadap dominasi industri musik. “Logika bahwa kita harus kirim demo ke label besar dan tanda tangan kontrak mulai hancur,” kenang Ucok. “Secara politis, di budaya ini sudah terbentuk semangat untuk menandingi sesuatu yang dominan, paling tidak di wilayah produksi dan distribusi.” Pengetahuan tentang cara memproduksi dan mendistribusikan musik secara mandiri mulai menyebar, dan membuka jalan bagi scenester muda Bandung untuk membangun ranah sendiri.

Pada saat bersamaan, kelompok belajar independen mulai bermunculan di berbagai kampus. Buku karya Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer, kisah Ucok, tersebar “dari tangan ke tangan, dari fotokopian ke fotokopian,” sama halnya dengan literatur dari scene punk, semisal zine Profane Existence dan Maximum Rock N Roll. Setelah Reformasi, scene musik Bandung kian berkelindan erat dengan gerakan radikal. Tempat berkumpul pegiat musik independen mulai sering menjadi tuan rumah rapat pengorganisiran aksi, dan musisi di scene independen Bandung mulai ikut terlibat dalam aksi massa.

Homicide besar dari semangat zaman ini. Berbekal kosakata dan referensi serupa – Public Enemy, BDP, Rakim, Gangstarr, dan EPMD – tiga MC yang tergabung di kolektif tersebut mulai tampil di panggung-panggung kecil bersama grup hardcore, punk, dan metal Bandung. Mereka merekam demo perdana di tahun 1998, lantas bergabung dengan kolektif Front Anti-Fasis (FAF) yang isinya mayoritas penghuni scene hardcore punk Bandung.

Perlahan-lahan, pertemuan scene independen Bandung dengan gerakan radikal mulai disorot oleh aparat. “Mereka bahkan pernah menyamar jadi tukang bakso tahu!” kisah Ucok sembari tergelak. “Awalnya kami sudah curiga – dia datang pergi seenaknya, dagangannya diambilin sama anak-anak dia enggak pernah komplain.” Suatu ketika, tukang bakso tahu yang murah hati itu datang ke markas mereka di Cihampelas yang juga distro punk hardcore. “Pas seorang teman nepok buat nanya kabar, ada surat jatuh dari punggungnya, dan kop suratnya dari Kodam. ‘Oh, ternyata lu intel!’ Buat apa coba tukang bakso tahu bawa surat tugas dari Kodam? Akhirnya dia kabur!”

Satu per satu, instrumen gerakan radikal dipreteli. Sementara media mengecap mereka sebagai gerakan amoral dan aparat tak kunjung jemu merongrong para aktivis, gerakan itu sendiri mengalami perpecahan internal. Puncaknya, gerakan mahasiswa radikal berkonflik dengan Partai Rakyat Demokratik, salah satu partai yang menjadi naungan aktivis-aktivis anti Orde Baru. “Kami mulai capek, termasuk saya sendiri,” kenang Ucok. “Kawan-kawan ada yang lari ke narkoba, ada yang keluar dari Bandung, ada yang menyebrang ke gerakan kanan, ada yang berhenti dari gerakan. Banyak yang pergi, dan banyak yang kami tinggalkan.”

Ucok sendiri mengambil langkah yang tak lazim. Pada tahun 2001, ia memutuskan untuk menikah dan berkeluarga.

—-

Ada yang bangkit setelah molotov terakhir terlempar di Semanggi, dan FAF mulai memudar. Ucok dan Aszy mulai mengaktifkan lagi Homicide. Pada tahun 2002, setelah delapan tahun terbentuk dan ribuan alasan penundaan, kolektif itu akhirnya merilis EP perdana berjudul Godzkilla Necronometry.

Hanya Homicide yang berani membuka EP dengan rima brengsek macam “jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov/dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov” (Boombox Monger), atau menghabisi fasisme berkedok agama dengan seruan “jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap, maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap” (Puritan). Ketika Sarkasz berdeklarasi di nomor Semiotika Rajatega bahwa hip hop hanya memiliki empat unsur (“dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur!”), Bandung mendadak memiliki duet MC paling berbahaya di ranah hip hop lokal.

Di bawah tanah, kemerosotan gerakan radikal berlanjut pasca Godzkilla. Tamparan paling keras datang pada tahun 2004, ketika aktivis Munir Said Thalib dibunuh di udara dalam perjalanan ke Belanda. Tahun itu pula, Aszy memutuskan untuk menyusul Lephe dan mundur dari Homicide. “Saat itu, ada perasaan kalah yang luar biasa,” kenang Ucok. “Seperti ada utopia yang hilang.” Hampir sendirian, Ucok yang nyaris patah arang merekam EP Barisan Nisan, dan merilisnya pada tahun 2004.

“Itu album kami yang paling gelap,” kisah Ucok. Didapuk menjadi MC tunggal, ia mengisi verse EP tersebut dengan rima tentang gerakan yang sekarat, musuh yang menjelma jadi raksasa, dan pemberontakan yang menolak padam. Pada Rima Ababil, ia bernyanyi tentang “menaruh rima di atas hitungan ritme pukulan rotan Brimob.” Sementara di nomor Belati Kalam Profan, ia berpegang teguh pada sisa-sisa perlawanan. “Berlindung di balik kosakata stabilitas dan konstitusi, belati para profan,” sembur Ucok. “Di bawah serapahmu kami bersumpah, lebih baik kami mati terlupakan daripada selamanya dikenang orang karena menyerah!

Kegagalan gerakan radikal pasca 1998 memaksa Ucok mengubah perspektifnya. “Kalau fondasinya tidak kuat, perubahan monumental tidak akan jadi apa-apa,” tutur Ucok. “Akhirnya kami bakal dikooptasi, atau kami terpatok pada figur. Warga pun tidak sadar apa yang diperjuangkan dan cuma ikut-ikutan. Sedangkan, kami tidak mau itu. Kami mau ada gerakan sosial yang berkesadaran dan lebih desentralis. Lebih baik kami bikin sel-sel otonom yang banyak dan kuat, ketimbang bikin satu gerakan massa yang besar tapi keropos.”

Momentum politik baru ini membuat EP mereka berikutnya, Illshurekshun, terdengar lebih optimis dan berapi-api. “Di saat dinding keterasingan hasrat menjadi kota terlarang,” nyanyi mereka di Klandestin. “Kami tak meminta Valhalla, kami jadikan surga kalian rampasan perang!” Namun, kesadaran baru itu datang seiring dengan habisnya energi Ucok di Homicide. Mereka membubarkan diri, lantas melepas EP tersebut pada tahun 2008.

—-

Percakapan kami dipotong oleh telepon penting yang harus diangkat Ucok. Selagi ia berceloteh di ponsel, saya memeriksa buku yang tergeletak di meja teras tempat kami berjumpa. Ia baru selesai membaca Hikayat Tirai Besi, karya filsuf anarkis Alexander Berkman yang baru diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saat saya tiba, ia sedang iseng menjajal kumpulan esai Reading Capital, yang ditulis Louis Althusser dan kawan-kawan.

Suka tidak suka, telah tiba saatnya untuk membahas perkara klise yang saya bawa dari Jakarta: bagaimana musik bisa berperan dalam perubahan sosial? Pertanyaan mengawang yang, pikir saya, akan dibantai habis-habisan oleh mulut nyinyir Ucok.

Ia menutup telpon dan meminta saya mengulangi pertanyaan. Setelah saya selesai berbicara, Ucok mengangguk dan lanjut bercerita. “Dulu, ada yang pernah bilang ke saya, ‘Kalau kamu memang mau bikin musik yang menyentuh rakyat, kamu harus bikin lirik yang bisa dicerna oleh tukang becak!’”

Saya tersenyum. “Lalu?”

“Saya tidak sepakat. Kalau mau mendekati warga, jangan bikin lagu. Terlibat saja langsung!” balas Ucok. “Saya tidak percaya musik bisa berbicara banyak di gerakan sosial. Kalau lu mau bikin gerakan sosial, terlibatlah. Turun dan organisir bersama masyarakat. Di luar itu, enggak ada hal lain. Para petani itu tidak akan tergerak untuk mereklaim lahan hanya karena mereka mendengar lagu lu.”

Scene musik, tuturnya, harus mencari cara yang lebih inovatif untuk mendorong perubahan sosial. “Persoalan kebebasan berekspresi dan ‘melawan industri’ itu sudah selesai,” tuturnya. “Teknologi sudah membunuh mereka. Semua orang bisa bikin musik di kamar masing-masing tanpa embel-embel perlawanan. Sekarang, bagaimana caranya supaya pemberdayaan seperti itu menyebar keluar dari kota dan orang-orang yang memiliki privilege? Dalam wilayah ekonomi politik, bagaimana caranya musik bisa memberdayakan masyarakat?”

“Bagaimana caranya kawan-kawan yang tadinya enggak punya alat produksi, kemudian jadi punya alat produksi baru bernama musik?” ujar Ucok. “Kita bisa terlibat di titik penggusuran, misalnya, dan bikin sesuatu secara swadaya dengan warga. Lalu, musik itu sendiri bisa menjadi alternatif untuk menghidupi mereka.”

“Misalkan ada label yang dikelola secara swadaya oleh warga di titik penggusuran,” ucap saya, mengandaikan. “Dan mereka mampu berdiri sendiri. Terlepas dari seperti apa musik yang mereka mainkan, mereka politis?”

Ucok mengangguk. “Bukan produk artistiknya yang jadi masalah. Yang politis justru ekosistemnya, konteksnya. Walau pergulatan politis seperti itu pasti tercermin dalam musiknya.”

Dalam waktu dekat, ia dan kawan-kawan di scene musik lokal berencana mengembangkan ruang kota di salah satu kampung kota di Bandung. Banyak pegiat scene lokal tinggal atau berasal dari daerah tersebut, dan hubungan scene musik independen dengan warga di sana telah terjalin erat. “Ada lapangan basket yang bisa kita pakai di sana,” kisah Ucok. “Kami terpikir untuk bikin tempat permanen di mana warga bisa berjualan, dan teman-teman di scene musik bisa bikin acara,” lanjutnya. “Ruang itu penting. Kami berkali-kali kalah hanya karena tak punya ruang.”

“Saya pikir, pemberdayaan ekonomi politik semacam itu yang justru mengubah keadaan,” tuturnya. “Kalau sekadar soal musik sebagai produk artistik yang menghipnotis massa dan meruntuhkan tirani, saya rasa itu cuma dongeng.”

“Aku katakan sebuah sabda rajah batu kepada lidah-lidah api;

Bahwa ada adalah tiada dan kekosongan itu bernyawa;

Bahwa ketidakberujungan semesta adalah kehampaan bernyala;

Bagi mereka yang bernazar hidup tanpa hamba dan paduka.”

– Homicide, “Siti Jenar Cypher Drive” (2008)

—-

Setelah percakapan kami usai, Ucok pamit sebentar untuk menjemput anak-anaknya dari sekolah. Sekitar satu jam kemudian, ia baru bergabung lagi dengan kami di beranda Grimloc. “Anak gue lumayan suka baca buku,” kisahnya, bangga. “Gue ada kesepakatan dengan dia. Jadi, kalau dia mau beli buku baru, dia harus tulis ulasan buku yang belum dia baca dulu, lalu didiskusikan dengan gue.”

“Lo sudah kasih buku-buku yang radikal?” tanya saya.

“Wah, pelan-pelan itu!” balasnya, tergelak. “Tapi kemarin dia sudah mulai nanya-nanya soal Pramoedya. Ya sudah, gue kasih yang gampang-gampang dulu. Gadis Pantai, misalnya. Baru nanti gue cekokin Tetralogi Buru.”

Saya tidak pulang dari Bandung dengan tangan kosong. Ucok menghibahkan satu kopi zine Uprock’83 yang ia terbitkan sendiri, dan buku kumpulan esainya, Setelah Boombox Usai Menyalak. Dirilis oleh Elevation Books, buku itu baru saja dicetak ulang untuk kali ketiga. “Ternyata, ada juga yang mau baca, ya?” selorohnya. Seperti lirik Ucok di Homicide dan Bars Of Death (proyek terbarunya), esai di buku itu sarat dengan referensi bacaan dan musik yang penuh kejutan – mulai dari obituari bagi Adam Yauch, pembangkangan sipil, menggunakan Marx dan Nietzsche untuk mendedah Company Flow, hingga surat cinta yang panjang bagi Godspeed You! Black Emperor.

Ada satu esai yang masih menghantui hingga kini. Di esai Bapa, Ucok menulis dengan sangat personal tentang Ayahnya – seorang eks-loyalis Soekarno yang pernah bergabung dalam organisasi pelajar yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Tumbuh dewasa di bawah kuasa Orde Baru, Ucok menulis tentang sore-sore girang di mana Ayahnya mengenalkan sang anak pada Black Sabbath, The Beatles, hingga Koes Plus.

“[Ibu] selalu mengingatkan Bapak untuk tidak terlalu banyak mendidik anaknya dengan perspektif politik yang ia yakini,” tulis Ucok. “Namun, Bapa tetaplah Bapa. Tanpa banyak menasehati dan berkata-kata, ia memberikan perspektif tentang kehidupan di luar sana yang tak baik-baik saja […] Membawa saya ke tempat-tempat di mana langit tak berpihak dan pojokan-pojokan yang nampak ogah disinggahi malaikat.” Nasihat tanpa kata ini ia pegang erat-erat pada tahun 1999, saat Ucok dan kawan-kawannya menghindari desingan peluru aparat di pelataran Semanggi.

Sore itu, setelah anaknya aman di rumah, Ucok tetap berniat mampir ke diskusi tentang pembangunan kota yang berkelanjutan di kantor LBH Bandung. Seperti Bapa di esai tersebut, perlawanan bisa dinyatakan dengan cara yang lebih terselubung. Berbulan-bulan setelah pertemuan kami, saya tertegun saat menyadari bahwa Ababil bukan saja judul salah satu lagu Homicide dengan lirik paling beringas (Rima Ababil), namun juga nama anak bungsunya. Saya pun teringat lagi, bahwa nomor Barisan Nisan yang menyindir kapitalisme habis-habisan itu ia akhiri dengan sumpah seorang Ayah kepada anaknya – “Zahraku, Mentariku.”

Kami bertukar lelucon nyinyir dan berjabat tangan erat-erat, sebelum berpisah menjelang Maghrib. Setibanya saya di pintu gerbang, Ucok mendadak berdeklamasi: “Hidup perjuangan kelas… menengah!”

Satir, untungnya.

Sumber: Ruang Gramedia

Musik Bising dalam Kajian

Oleh Ferdhi Putra

Not Your World Music.

Mungkin sebagian besar dari kita masih cukup asing dengan musik noise. Jika Anda tidak terbiasa dengan bebunyian yang tak lazim, mungkin seketika Anda akan berceletuk, “musik apaan sih nih?” Begitu kira-kira stigma khalayak terhadap genre ini.

Kalimat pembuka di depan adalah judul buku yang mengulas tentang keberadaan skena musik noise di Asia Tenggara. Adalah Cedrik Fermont dan Dimitri della Faille yang gigih menelusuri keberadaan musik ini di negara-negara seperti Indonesia, Myanmar, Singapura, Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Selasa malam (7/12), buku berjudul lengkap Not Your World Music, Noise In South East Asia: Art, Politics, Identity, Gender, and Global Capitalism dibedah di markas sebuah komunitas kajian musik, Laras, di bilangan Kranggan, Yogyakarta. Cedrik yang berkesempatan hadir langsung ditemani oleh Dyah Isaka, musisi musik bising yang menjadi salah seorang narasumber penelitian tersebut.

Diskusi dibuka dengan paparan Cedrik mengenai perjalanannya ke berbagai negara dan bertemu dengan skena noise di tiap-tiap negara. Dari Eropa Barat hingga Amerika Utara. Dari Afrika hingga Asia. Ia sendiri memang musisi yang menekuni genre tersebut, meski tak menutup diri dari jenis musik lain. “Noise memang menjadi prioritas saya,” katanya.

Musik noise memang tidak seperti genre lain yang memiliki pola nada tertentu sehingga membuatnya menjadi unik. Musik noise dapat dikenali dengan mudah lantaran komposisinya yang kerap tak beraturan. Dan sudah pasti, bising.

Namun tak sekadar bising. Menurut Dyah, atau akrab disapa Woro, sebuah karya musik noise tetap harus punya detail untuk membedakan antara musisi yang satu dengan yang lainnya. “Noise itu spontan, terbebas dari konten-konten musikal,” ujar Woro. “Jika dianalogikan sebagai lukisan, maka ia adalah lukisan abstrak.”

Dalam buku disebutkan, awal mula sejarah musik noise modern seringkali merujuk pada kiprah artis avant-garde asal Italia, Luigi Russolo. Ia disebut-sebut sebagai artis noise pertama. Manifestonya yang berjudul L’arte del rumori (The Art of Noise) yang terbit pada 1913, menjelaskan bahwa revolusi industri memberikan peluang kepada manusia untuk mengapresiasi bebunyian yang kian kompleks. Suara-suara mesin dianggap menawarkan cara lain menuju dunia baru, dan meninggalkan era tradisi kegelapan.

Namun noise tidak harus merujuk pada apa yang didefinisikan Russolo. Noise, yang dalam bahasa Indonesia memiliki cukup banyak padanan (bising, pekak, hiruk pikuk, berisik, gaduh), bisa juga berwujud suara-suara yang kerap hadir dalam keseharian kita. Gemersik air, suara burung, derap langkah, hembusan angin, dan lain sebagainya, bisa dimaknai sebagai noise. “Noise adalah bagian dari kehidupan. Ia ada di manapun dan kapanpun,” kata Rully Shabara, salah seorang musisi eksperimental Yogyakarta.

Musisi avant-garde fenomenal, John Cage, bahkan menyebut karya sunyinya yang berjudul 4’33 sebagai musik lantaran lagu tanpa suara sama sekali itu disokong oleh noise yang ada di sekitarnya. Ia menyebut suara derap langkah, gesekan kaki kursi yang didudukinya, dan bisikan penonton sebagai bagian dari komposisi lagu yang hanya disajikan secara langsung tersebut.

Di Indonesia sendiri, menurut Indra Menus pegiat komunitas Jogja Noise Bombing melihat skena musik bising belum cukup masif. “Skena musik noise di sini masih dalam tahap berkembang. Banyak orang masih meraba-raba instrumen apa yang ingin mereka gunakan dalam berkarya. Banyak dari mereka juga masih mencari bentuk bunyi yang mereka harapkan,” kata Menus.

Problem lainnya adalah pendokumentasian skena musik bising belum cukup baik. “Banyak band noise yang tidak punya album,” kata pria yang menggawangi band noise To Die ini. Namun tidak semua memiliki pengarsipan yang buruk. Senyawa, misalnya, grup eksperimental asal Yogyakarta adalah salah satu yang paling menonjol di antara musisi noise yang ada di Indonesia. Selain karyanya sudah direkam dan dirilis dalam berbagai bentuk medium, jam terbang mereka pun terbilang tinggi lantaran kerap tampil pada festival musik di dalam maupun luar negeri.

Kendati demikian, dalam buku tersebut Cedrik dan Dimitri tidak berkutat pada asal muasal dan estetika musik noise belaka. Seperti tertera pada judul, kajian ini tidak semata-mata membahas musik noise sebagai seni, melainkan juga menelisik kelindan antara noise dengan fenomena sosial, politik, ekonomi. Kedua penulis tegas mengatakan bahwa, “Buku ini politis: ini soal anti-seksis dan anti-kolonial. Buku ini diharapkan dapat memicu diskusi tentang masyarakat, representasi sosial, ketidaksetaraan, marjinalisasi dan kolonialisme.” Alih-alih obyektif, Cedrik dan Dimitri mengakui dengan jujur bahwa tak ada penulis netral. Bahwa mereka adalah bagian dari apa yang mereka tulis.

Soal sikap politik, Menus misalnya, menganggap musik noise memiliki pesan politis di dalamnya. Noise kini menjadi alternatif ketika punk sudah begitu komersil. “Saya tertarik dengan punk lantaran ia menjadi ancaman dengan sikap do-it-yourself-nya. Namun saya melihat punk mulai diterima [pasar] dan kemudian saya menemukan musik noise dan merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu dengan punk. Ya, Bagi saya, noise sangat politis, sama seperti halnya punk,” ujar Menus. Akan tetapi tidak semua musisi noise di Indonesia mengamini soalan politik ini. Woro, misalnya, mengakui bahwa sebagian artis menjadikan karyanya sebagai manifestasi politik, tapi tidak bagi dia. “Saya membuat musik hanya berdasar pada apa yang saya rasakan,” katanya.

Gairah Hip Hop di Indonesia

Oleh Andi Baso Djaya

Pernyataan di atas menyembur dari mulut Doyz, salah satu rapper veteran lokal yang bersama Erik Probz mendirikan Black Kumuh, sempat memperkuat P-Squad, dan telah merilis dua album solo.

Kancah hip hop di tanah air saat ini memang (kembali) ramai. Young Lex (24) dan Rich Chigga (17) adalah dua di antaranya yang ikut bertanggung jawab membuat publik menoleh kembali ke arah scene hip hop lokal. Kiprah mereka banyak mendapat sorotan dari media massa.

Para penggemar musik seolah tersadarkan betapa ranah hip hop tanah air sesungguhnya terus eksis, heterogen, dan tidak statis. Kemunculan rapper baru menghasilkan beragam karya dengan caranya masing-masing tidak pernah sepi.

Laze yang pernah bersama Young Lex dalam Zero One, salah satu komunitas hip hop besar di Jakarta, menyadari ombak hip hop di Indonesia sekarang sedang besar.

“Kelas menengah atas lagi membicarakan Rich Chigga dengan karakternya. Role model kelas menengah ke bawah ada Young Lex. Gue tinggal ambil papan seluncur untuk menunggangi ombak itu,” kata rapper yang aslinya bernama Havie Parkasya.

Senada dengan Laze, Ferri Yuniardo, salah satu personel Sweet Martabak sekaligus pendiri situs web hiphopindo.net, menyebut kedua rapper itu memang berasal dari kutub berbeda.

Brian Imanuel alias Rich Chigga murni mewakili generasi milenial. Segala sesuatu dikerjakannya sendiri tanpa pernah melibatkan diri dengan komunitas.

“Hidupnya di internet. Kenal teman-temannya juga dari internet. Ibaratnya bukan kenal orang dari hasil nongkrong seperti kami dulu,” kata Ferri.

Berbeda dengan Young Lex. Pemilik nama asli Samuel Alexander Pieter itu merupakan gambaran generasi kiwari, tapi masih sempat bersentuhan dengan komunitas.

“Young Lex ini ada di tengah sebenarnya. Dia milenial, tapi dari komunitas juga,” tambah Ferri.

Kesamaan antara mereka adalah keberhasilan memanfaatkan medium internet sebagai kendaraan untuk menciptakan basis massa dan popularitas.

Rich Chigga (17) memulai semuanya dengan menerbitkan aneka video komedi melalui Twitter dan aplikasi Vine. Bungsu dari empat bersaudara ini baru serius menjadi rapper mulai 2014. Beberapa lirik lagu coba diciptakannya berbekal hasil belajar secara otodidak. Lagi-lagi melalui internet.

Usahanya mulai berbuah saat video klip lagu “Dat $tick” mengumpulkan lebih dari 27 juta views (hingga 2/12/2016) sejak hadir di YouTube pada 22 Februari 2016.

Pencapaian tersebut membuat sejumlah media arus utama dalam dan luar negeri seperti Time dan Vice seketika melirik dan berebut memuat profil Rich Chigga.

Bahkan rapper sekelas Ghostface Killah (46) dari grup kenamaan Wu-Tang Clan dan Kevin Pouya asal Miami, AS, ikut ambil bagian dalam versi remix lagu tersebut. Karya terbaru yang dirilis Rich Chigga adalah single “Who That Be” (29/11).

Young Lex (24) secara cerdik mengolah –bahkan menciptakan– berbagai kontroversi yang viral di internet sebagai amunisi. Mengajak selebgram Karin Novilda alias Awkarin yang sebelumnya banyak mendapat sorotan adalah bentuk ikhtiar tersebut.

“Itu bagian dari strategi agar musik rap meluas,” ungkapnya kepada Heru Triyono dan Yandi Mohammad dari Beritagar.id (14/10).

Selanjutnya ia menyebut, “Iwa K dianggap legend karena terkenal duluan, tetapi bukan karena kemampuannya. Iwa K populer di sini karena di luar negeri hip hop sedang booming.”

Kontan pernyataan tersebut jadi pembahasan ramai di media sosial. Hip hop lokal yang selama ini tidak entertainment friendly, menyitir pernyataan JFlow, kemudian hadir menghiasi acara gosip di berbagai stasiun televisi.

Fenomena di atas hanya gambaran kecil dari dinamika hip hop di Indonesia. Ada beragam kisah lainnya. Laporan khas kali ini mencoba menyajikan beberapa di antaranya.

“Kutukan” untuk Iwa K

Repro foto Iwa K di majalah Trax (2007)
Repro foto Iwa K di majalah Trax (2007) © Agan Harahap /Majalah Trax edisi November 2007


Menyebut hip hop lokal tanpa menyertakan Iwa K rasanya kurang sahih. Sejak pertama kali hadir mengisi bagian rap dalam mini album kelompok Guest Music bertajuk Ta’kan (1990), pemilik nama lengkap Iwa Kusuma yang kini genap berusia 46 tetap konsisten berada di jalur rap hingga sekarang.

Pun demikian, Iwa selalu menampik berbagai julukan prestisius yang diberikan kepadanya, mulai dari sebutan legenda, pionir, pelopor, hingga bapak rapper Indonesia.

“Buat gue gelar-gelar kayak gitu biasa saja. Orang mau menyebut apa sih terserah. Itu ekspresi mereka. Kalau memang mau mendefinisikan, gue itu murni penikmat musik. Kebetulan lewat musik rap. Sudah begitu saja. Makanya, kalau gue lihat ada rapper bagus, gue ikut senang,” tegas Iwa.

Muncul di Bronx, kawasan kumuh di bagian selatan New York, Amerika Serikat, sejak medio dekade 70-an, hip hop baru masuk ke Indonesia satu dekade kemudian.

Kemunculannya pun pada saat itu datang secara bertahap. Baik Iwa, Doyz, dan Herry Sutresna alias Ucok (ex-Homicide) mengaku berkenalan dengan breakdance terlebih dahulu.

Tari kejang alias breakdance merupakan salah satu unsur dalam dunia hip hop selain DJ (disc jockey), MC (master of ceremony), dan grafiti. Sepanjang dasawarsa 80-an, demam menari ala robot atau orang kesetrum itu mewabah di kalangan remaja Indonesia.

Film yang menangkap fenomena tersebut juga laris diproduksi. Sebutlah misalnya Tari Kejang Muda-Mudi, Demam Tari, hingga Gejolak Kawula Muda.

“Hampir semua teman sekelas dan se-RT saya nge-breakdance, kecuali saya karena memang tidak bisa. Saya hanya menyukai musiknya yang merupakan musik prototipe hip hop,” jelas Ucok kepada Beritagar.id melalui surat elektronik.

Beda cerita dengan Iwa K. Dalam wawancaranya yang termuat dalam majalah Trax edisi November 2007 (hal. 30), ia mengaku sangat menyukai breakdance bahkan menggelutinya dan mulai nge-rap untuk mengiringi teman-temannya menari.

Singkat cerita, Iwa kemudian makin serius menggeluti musik rap (saat itu istilah hip hop belum dikenal di Indonesia). Pada 1993, dibantu Guest Music Production, ia merilis album solo perdana, Kuingin Kembali, yang diedarkan Musica Studio’s.

Tak disangka, penjualannya menembus angka 100.000 keping. Padahal genre ini masih terbilang baru di dunia musik Tanah Air yang didominasi pop dan rock.

Gebrakan Iwa tersebut membuat majalah Rolling Stone Indonesia mereken Kuingin Kembali sebagai salah satu dari “150 Album Indonesia Terbaik”.

Album keduaTopeng dengan single “Bebas”, laris 260 ribu keping, semakin meroketkan nama Iwa K.

Oleh majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2009, “Bebas” ditempatkan pada peringkat 36 dalam daftar “150 Lagu Indonesia Terbaik”.

Selepas itu, Iwa menelurkan empat album lagi, termasuk Living in the Fastlane (2014) yang berisi enam lagu alias mini album.

Perihal namanya yang selalu hadir jika pembicaraan mengarah pada tumbuh kembang hip hop di tanah air, Iwa K menyebutnya sebagai kutukan. Dengan tulus ayah Mikala Saka Pandhiya Hamada (7) itu mengatakan bahwa rap bukan hanya dirinya.

Album Pesta Rap

Setelah Iwa K melejit dengan dua album awalnya, Guest Music Production tidak berhenti mencari talenta rapper baru. Pasalnya, menurut Masaru Riupassa dari Guest Music, dengan kondisi pasar yang sudah mulai terbuka untuk rap, sangat disayangkan jika hanya Iwa yang berkibar.

“Akhirnya Guest Music bikin semacam festival rap, kerjasama dengan majalah Kawanku. Dari situ dapatlah nama-nama baru seperti Sweet Martabak, Black Skin, Black Kumuh, Yacko, Boyz Got No Brain, Paper Clip, Sound Da Clan, dan lainnya yang kita keluarin dalam album kompilasi Pesta Rap,” cerita Macang, sapaan akrab Masaru.

Bagian pertama album Pesta Rap meluncur 1995. Terpilih sebagai lagu jagoan kala itu adalah “Cewek Matre” dari Black Skin. Dibandingkan dua album solo awal Iwa K, kompilasi perdana Pesta Rap dari segi penjualan mencatat kenaikan karena laku 270 ribu keping.

Pesta Rap 2 menyusul setahun kemudian dan berakhir pada Pesta Rap 3 (1997).

Kehadiran trilogi album Pesta Rap memberikan pilihan lebih luas kepada khalayak yang sebelumnya melulu terpaku Iwa K.

Bak mendapat angin, berbagai rilisan album kompilasi rap (juga solo MC/grup) kemudian hadir setelah itu. Bersamaan dengan mulai menggeliatnya kancah musik sidestream, beberapa album juga beredar dengan pola distribusi independen.

Untuk menyebutkan beberapa dari album kompilasi tersebut, antara lain Berontak dan Berontak Kembali (Rontak Production), Perang Rap (Pasukan Record), Provocateur (Hiphopindo), Rapteritorial (Musica Studio’s), Rapvolusi (Alfa Records), serta dua seri album Poetry Battle (Jogja Hip Hop Foundation).

Salah kaprah tentang hiphopindo.net

Rap makin berkembang di Indonesia. Namun, tak seperti di negara asalnya, AS, belum ada media yang khusus membahas tentang genre musik tersebut. Hingga lahirnya hiphopindo.net.

Beritagar.id bertemu dengan John Norman Parapat dan Ferri Yuniardo, motor penggerak utama situs web tersebut, di kompleks La Codefin, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (24/11).

Mereka adalah eksponen saat hip hop mulai merebak di seluruh Indonesia pada pertengahan dekade 90-an. Melalui kelompok Sweet Martabak, John dan Ferri mengisi album Pesta Rap 2 bermodalkan lagu “Metropolitan”.

Nama duo asal Pekanbaru ini baru benar-benar terangkat setelah “Tididit” terpilih menjadi lagu jagoan untuk Pesta Rap 3.

Pada awalnya, jelas John, motivasi mendirikan hiphopindo.net karena melihat di Indonesia saat itu tidak ada media yang isinya khusus membahas perkembangan hip hop Indonesia.

“Awalnya gue dan Ferri malah mau bikin zine. Namanya Basement. Ternyata ongkosnya mahal. Akhirnya Ferri usul bikin situs web karena kebetulan dia kuliahnya di bidang IT,” kenang John.

Tarikh 2000 situs tersebut hadir pertama kali di dunia maya menggunakan nama hiphopindo.com. Saat itu masih nebeng dengan namezero.com yang menyediakan layanan pemakaian situs web gratis selama dua tahun.

Kesal karena terlalu banyak iklan yang mengganggu, duo ini memutuskan cabut. Ferri kemudian membeli domain baru melalui kartu kredit abangnya. Lahirlah hiphopindo.net.

Tidak ingin hanya terpaku mengurusi ranah dalam jaringan, hiphopindo.net kerap menyelenggarakan acara off air. Sebutlah misalnya Sunday Noize, Boombox Therapy, atau Ground Zero.

Aktivitas tersebut terhenti karena John merasa capai sekaligus kesal karena dituduh terlalu mengejar keuntungan dengan menjual tiket masuk.

“Padahal maksudnya biar dapat pemasukan sebagai modal untuk bikin acara lagi,” gerutu John.

John dan Ferri mengaku tidak pernah menangguk laba dengan memanfaatkan nama hiphopindo.net. Bahkan hingga sekarang keberlangsungan situs web tersebut masih bergantung pada pendanaan dari kocek pribadi mereka.

Situs tersebut kerap dituding terlalu Jawa sentris, namun Ferri membantah mereka dengan sengaja melakukannya.

“Sebenarnya ada banyak MC/grup potensial dari luar Jawa. Hanya saja mereka kerap menampik jika profil dan karya mereka mau kita muat. Alasannya karena hanya ingin menjadi rapper dalam kamar, tanpa mau profilnya muncul apalagi manggung,” jelas Ferri.

Ada juga yang salah kaprah menganggap hiphopindo.net adalah payung atau induk dari semua komunitas hip hop di Indonesia.

“Kami ini hanya media kecil yang coba memberikan alternatif karena belum ada media yang spesifik membahas soal kancah hip hop Tanah Air,” ucap John dan Ferri kompak.

Hip hop dan kearifan lokal

JHHF saat berada di San Francisco, AS (2012)
JHHF saat berada di San Francisco, AS (2012) © hiphopdiningrat.com


Saat gerbong musik rap pertama yang dimotori Iwa K dan kawan-kawan masuk ke Indonesia, usaha untuk melekatkan local wisdom ke dalam musik rap sebenarnya mulai hadir perlahan.

Pada awalnya hanya sebatas memasukkan bahasa daerah ke dalam lirik, seperti yang dilakukan Iwa dalam lagu “Batman Kasarung”.

Lambat laun unsur tersebut semakin kental terasa. Jogja Hip Hop Foundation (JHHF) yang terbentuk pada 2003 adalah contohnya.

Kill the DJ (Marzuki Mohamad), Jahanam (Heri Wiyoso aka Mamok dan Balance alias Perdana Putra), Rotra (Janu Prihaminanto), Radjapati (Lukman), serta DJ Vanda dan pesinden Soimah Pancawati tidak sekadar mengenakan batik bermotif Jawa setiap tampil.

Mereka juga meleburkan beat urban hip hop dengan gamelan dan bahasa Jawa. Tak jarang lirik mereka berasal dari karya sastra seperti Serat Centhini dan mantra tradisional.

Diakui Juki, panggilan Marzuki, ide membentuk JHHF datang karena melihat beberapa MC asal Yogyakarta kerap nge-rap menggunakan bahasa Jawa. Salah satunya Rotra.

Bersama G-Tribe, Rotra telah mengenalkan rap berbahasa Jawa sejak album Pesta Rap lewat lagu “Watchout Dab”.

Menurut Juki, alasan penggunaan bahasa dan musik pentatonik ala Jawa dalam musik JHHF terjadi secara natural.

“Bahasa Jawa dan gamelan sudah jadi bagian dari keseharian kami,” tambahnya saat ditemui Beritagar.id pada malam puncak Festival Film Indonesia 2016 (6/11).

Direktur Ruang MES 56 dan inisiator netlabel Yes No Wave, Woto Wibowo alias Wok the Rock, mengatakan bahwa ada sebuah tradisi di Jawa yang mirip dengan hip hop.

“Namanya mocopat. Masyarakat Yogya jadinya lebih mudah menerima suguhan hip hop JHHF. Apalagi dengan tambahan aransemen pentatonik yang mirip bunyi gamelan sebagai pengiringnya,” jelas Wok.

Saat ramuan hip hop ala JHHF terasa sudah jamak, NDX A.K.A Familia yang berasal dari Imogiri, Bantul, hadir menawarkan alternatif.

“NDX mengawinkan hip hop dengan campursari. Menurut saya itu nilai paling kuat dari komposisi yang mereka miliki,” pungkas Wok.

Dari Bandung muncul Sundanis. Dalam akun Twitter-nya, kelompok yang terbentuk sejak 2007 itu mengidentifikasi diri mereka sebagai “sundanese hip hop ethnic contemporer”.

Sundanis mengombinasikan hip hop dengan musik etnik sunda seperti kendang, suling, kacapi, bonang, tarompet, dan karinding. Lirik setiap lagunya sebagian besar menggunakan bahasa Sunda.

Motivasi Rudi Supriyadi a.k.a Ghetto Rude membentuk Sundanis berawal dari keresahan melihat kultur Sunda yang mulai terlupakan oleh generasi muda. Laiknya JHHF, kelompok ini juga telah sering tampil di mancanegara, mulai dari Malaysia, Singapura, dan Belanda.

“Hip hop itu memang kita impor dari Amerika Serikat. Tapi ibarat pohon, saat kita tanam di sini, rasanya menjadi Indonesia,” ujar Iwa K saat tampil dalam peresmian layanan pengaliran musik Yonder di Jakarta (23/5).

Darah muda hip hop lokal

Young Lex mewakili rapper muda yang digandrungi para remaja
Young Lex mewakili rapper muda yang digandrungi para remaja © Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id


Ramai sorotan media ke ranah hip hop muncul kembali setelah melihat pencapaian Young Lex dan Rich Chigga. Memanfaatkan kanal internet, keduanya berkarya, mengumpulkan massa, hingga akhirnya meraih popularitas. Tentu saja untuk mencapai posisi tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan.

“Saya pribadi tidak mempunyai kesamaan selera dengan musik ataupun konten lirik baik dari Young Lex maupun Rich Chigga. Tapi saya angkat topi dengan kerja keras mereka menggapai pencapaiannya sekarang,” tutur Doyz.

Selain dua nama tadi sesungguhnya masih ada sederet rapper generasi baru lainnya yang tak kalah berbakat. Datangnya dari seantero Indonesia, mulai Lhokseumawe hingga Manokwari. Tebaran karya mereka ada di YouTube, Soundcloud, atau Reverbnation.

John dan Ferri mengakui hal tersebut. “Kami banyak menemukan talenta-talenta baru. Mereka bisa bikin video klip yang oke, lirik mereka jago, flow-nya asyik, musiknya juga keren. Tinggal merapikan dandanan orang-orangnya alias packaging-nya,” ungkap Ferri.

Maraknya grup atau MC yang bermekaran di daerah bikin John senang. “Sekarang para penggemar hip hop bisa punya rapper idola dari daerahnya masing-masing. Ada local pride lah. Tidak melulu mengidolakan rapper asal Jakarta misalnya.”

Hal tersebut dimungkinkan karena kemudahan teknologi yang ada sekarang di mana setiap orang bisa merekam dan mempublikasikan karyanya sendiri, bahkan dari dalam kamar.

Dalam artikel “10 Penggawa Hip Hop Indonesia Terkini” yang termuat dalam majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 (halaman 72-79), selain Young Lex muncul nama Laze, Niska, dan A. Nayaka dari Jakarta, Sonjah (Surabaya), Rain City Rap Crew (Bogor), Legit! (Semarang), Jere (Medan), serta Dua Petaka Membawa Bencana (DPMB) dan Begundal Clan wakil dari Yogyakarta.

Nama-nama rapper baru tanah air yang menjadi pilihan Doyz saat ini adalah Insthinc, Regia Oskar, Matter, dan Scario da Sylva alias Mila Nabilah.

“Tuan 13, Jagal Sangkakala, Retorika, Das Aufklarung, dan juga DPMB bagus. Termasuk favorit saya. Namun mereka masih terbilang senior, di banding nama-nama yang saya sebut sebelumnya,” sebut Adoy, sapaan Doyz.

Favorit Ucok adalah Joe Million asal Papua. “He’s the baddest youngin from this generation ever touch the mic.”

Ucok, yang sudah menggeluti rap sejak awal 90-an, menyatakan sangat menghargai para rapper muda yang bermunculan dan kemudian menjadi besar itu, walau “alam hip hop mereka berbeda dengan alam saya.”

“Hanya saja bagi generasi sekarang yang punya kekuatan ekonomi dan pengaruh sebesar itu baiknya selalu ingat bahwa ‘with great power comes great responsibility‘,” tuturnya.

“Tergantung mereka, seperti apa dan bagaimana memanfaatkan kekuatan itu untuk hal yang lebih besar dari hip hop dan diri mereka.”

Sumber: Beritagar.id

Ucok, Homicide, dan Perjuangan Hip Hop

Homicide tampil di toko buku Ultimus, Bandung, pada 2006.
Homicide tampil di toko buku Ultimus, Bandung, pada 2006. © Noorman/Istimewa

Oleh Andi Baso Djaya

“Generasi sekarang punya peluang sangat besar untuk berkarya tanpa harus didikte industri musik. Kalian bisa membuat album sesuka kalian.”

Berbeda dengan beberapa kompatriotnya yang merilis album bersama major label, Herry Sutresna alias Ucok sejak awal membentuk Homicide pada 1994 betah mengeluarkan karya melalui jalur label independen hingga sekarang.

Gelontoran rima yang disusunnya kadang penuh metafora, tapi tak jarang menyeruak lugas, sarkas, lagi bernas.

Di tangannya, kata berubah menjadi senjata. Suaranya lantang –jika tidak ingin disebut berteriak– memprotes fasisme, kesewenang-wenangan aparatus negara, rakusnya korporasi menghabisi petani, anti neoliberalisme, dan isu sosio-politik lainnya. Seperti pada album Tha Nekrophone Dayz (2006), yang menempati urutan ke-124 dalam daftar “150 Album Indonesia Terbaik” versi Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2007.

Ucok alias Morgue Vanguard tidak sekadar menyalak lewat rima, tapi juga terjun langsung dalam kesatuan aksi menghadapi angkara. Berbagai demo ia ikuti.

Setelah menamatkan perjalanan Homicide pada 2007, alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dan Sastra Inggris Universitas Padjajaran membentuk Trigger Mortis yang usianya ternyata tak lebih panjang dari Homicide.

Beberapa tahun belakangan, Ucok bersama Sarkasz alias Aszy Syamfizie –rekannya di Homicide– menjalankan proyek baru bernama Bars of Death.

Hasilnya adalah single “All Cops Are Gods” (termuat dalam album kompilasi Memobilisasi Kemuakan, 2014) dan “Tak Ada Garuda Di Dadaku” (Organize! : Benefit Comp for Community Empowerment, 2016).

Seolah belum berhenti sampai di situ, Ucok juga rajin menulis dan memproduksi zine. Beberapa yang pernah diterbitkannya adalah Membakar Batas, Gandhi Telah Mati, Lyssa Belum Tidur, dan Uprock’83.

Yang disebut terakhir spesifik membahas tentang hip hop, sesuatu yang jarang ditemukan dalam kancah hip hop tanah air. Hingga sekarang masih terus terbit dan telah memasuki edisi kelima.

Menurut John Norman Parapat dan Ferri Yuniardo dari hiphopindo.net, Ucok adalah contoh dari sedikit rapper yang mengerjakan tugasnya dengan baik dan konsisten.

Pendeknya, kancah hip hop di tanah air beruntung memiliki seorang Ucok yang gigih berjuang bukan hanya untuk scene hip hop, tapi juga penegakan hak asasi manusia.

Bagaimana Ucok memandang kondisi hip hop terkini di Indonesia dan desas-desus bahwa dirinya berseteru dengan Iwa K? Berikut hasil wawancara kami yang berlangsung melalui surel.

Ceritakan sedikit awal ketertarikan Ucok dengan hip hop?

Saat saya mulai mengenal hip hop, term hip hop belum eksis sebagai genre apalagi sebagai sebuah dunia.

Saya berkenalan dengan hip hop sebelum ia populer disebut hip hop lewat gelombang pertama tren breakdance yang datang ke Indonesia pas awal hingga pertengahan 80-an.

Hampir semua teman sekelas dan se-RT saya nge-break, kecuali saya karena memang tidak bisa. Saya hanya menyukai musiknya, yang merupakan musik proto hip hop yang sudah ada rap-nya namun masih belum seperti yang di kemudian hari berevolusi, seperti lagu Ice-T, “Reckless” misalnya.

Baru 2-3 tahun kemudian Run DMC, Beastie Boys dan LL.Cool J datang. Album-album awal mereka yang membuat saya kemudian memutuskan untuk belajar nge-rap.

Tapi tak ada yang membuat saya memutuskan untuk menekuni rap lebih serius lagi selain Public Enemy dan Rakim. Mempelajari flow, delivery, cadence, syllable, dan hal-hal teknis lainnya.

Dari situ semuanya mengalir seiring dengan progres musik rap yang semakin eksploratif, berpetualang dari dobrakan ke dobrakan artistik lainnya, rap mulai kokoh sebagai sebuah musik dan mulai disebut hip hop seperti yang kalian kenal sekarang.

Saya baru membuat Homicide itu pas kuliah, saat baru bertemu teman-teman satu passion soal hip hop. Yang patut dicatat, bahkan pada era awal 90-an sekalipun sangat sulit menemukan teman yang memang menyukai musik rap yang melampaui Vanilla Ice, MC Hammer atau apa pun yang beredar di radio pada saat itu.

Teman sekelas saya rata-rata anak metal dan punk, begitu juga tetangga saya. Metal memang sangat mengakar di Bandung sehingga kalian bisa menemukan anak SD/SMP mendengarkan metal secara fanatik di era 80-90-an.

Adhi ex-Pure Saturday adalah sahabat saya sejak SMP. Pas SMP dia sudah sangat eksplor mendengarkan metal. Saat itu rap lebih identik dengan musik pop seperti Milli Vanilli. Sulit bagi awam untuk membedakan mana yang serpihan komersil dari musik rap dan yang rap yang betulan sebagai rap.

Adhi suka mencela habis-habisan jika saya membawa kaset LL Cool J ke sekolah. Kami teman sebangku, ia sering menggambar logo Slayer dan ikon Iron Maiden di meja kami, dan saat saya menulisi meja juga dengan logo Eric B & Rakim, ia coret silang dan menggambar logo Exodus di sebelahnya. Ha-ha-ha. Good old days.

Banyak alasan mengapa saya memilih rap, salah satunya adalah karena saya tak pernah bisa mahir bermain alat musik, tak satupun yang saya bisa. Jadi awalnya saya berpikir nge-rap adalah media aktualisasi dan ekspresi paling cocok buat saya.

Selain tentunya saya sangat menyukai sajak atau pantun. Saya selalu mendapat nilai tertinggi jika ada tes membuat pantun pas pelajaran Bahasa Indonesia saat SD. Ha-ha-ha.

Sebagai MC yang tumbuh dan berkembang di Bandung, seperti apa waktu itu iklim atau kondisi hip hop di sana?

Saat saya mulai menyukai hip hop, sama sekali tidak ada yang namanya iklim dan kondisi karena hip hop juga memang tidak ada, atau belum eksis sebagai komunitas.

Jangankan sebagai skena atau komunitas, sebagai musik pun belum dianggap sebagai sesuatu yang serius dan boro-boro diminati mayoritas. Bahkan ketika saya memulai Homicide, skena hip hop itu belum ada di Bandung, jika saya tidak bisa menyebut “belum ada di Indonesia”.

Saya (kebetulan atau tidak) bersikulasi di skena hardcore/punk/metal karena memang teman saya nyaris semuanya fans hardcore/punk/metal, selain memang saya menyukai musik-musik itu.

Saat fenomena skena independen hardcore/punk/metal menyeruak di Bandung, tidak ada yang namanya komunitas hip hop. Masih berupa musik yang digemari oleh satu dua orang yang tidak terkoneksi dan tidak berelasi sebagai sebuah kumpulan.

Hip hop sebagai komunitas itu baru bisa dibilang ada di Bandung di akhir 90-an atau awal 2000-an. Sedangkan hardcore/punk/metal itu eksis jauh hari sebelumnya. Tahun 1990 juga sudah ada mereka itu.Hiphop lahir sebagai sebuah habitat baru belakangan aja.

Jika waktu yang dimaksud merujuk pada rentang waktu 2000-an sampai sekarang, saya bisa jawab, “Ya”. Di Bandung hip hop guyub dengan komunitas lainnya karena banyak faktor.

Homicide apakah bisa disebut sebagai perkawinan silang antara hardcore, punk, dan metal?

Tidak pernah kawin silang. Homicide itu 100% hip hop. Tapi inspirasi bisa dari mana saja, blues, soul, punk, hardcore, metal, musik tradisi lokal, musik avant garde, apa pun.

Selama ini Iwa K dianggap sebagai pembuka gerbang bagi meluasnya demam hip hop/rap di tanah air. Adakah sejarah yang harus dikoreksi dalam bagian ini?

Entahlah, sampai sekarang tidak ada scholar yang meriset sejauh itu. Mungkin itu tugas generasi sekarang untuk menelitinya. Tapi saya pikir fenomena musik rap dulu itu terjadi acak di banyak tempat pada saat yang bersamaan.

Banyak yang nge-rap sezaman dengan Iwa-K di kota-kota lain, hanya saja Iwa memiliki kesempatan merekam album duluan, selain tentunya Iwa adalah salah satu yang sangat serius menekuni rap sebagai art form kala itu.

Di Bandung, setahu saya sudah ada beberapa rapper sebelum Iwa yang tampil di diskotik-diskotik. Salah satunya ada yang namanya Sule, saya lupa nama panggungnya siapa, tapi saya ingat dulu ia dan krunya pernah menjuarai kontes rap sekitar taun 1988-89.

Bicara tentang Iwa, banyak yang mengira saya berseberangan dengannya, mungkin karena dia mainstrem, albumnya pop, dan sebagainya.

Padahal sebaliknya, saya justru menaruh hormat pada beliau. Pernah ada waktu, Iwa sering memandu acara hip hop di sebuah stasiun radio, dan saya penggemar acara itu. Soalnya, radio adalah satu-satunya kanal buat kita di sini untuk dapat referensi lagu-lagu hip hop di awal 90-an.

Pernah juga pas SMA, saya bertemu Iwa di satu toko kaset di Dago yang sekarang udah tutup. Dia kebetulan membeli kaset yang sama dengan yang saya beli; album ketiga Compton’s Most Wanted, saya masih ingat persis.

Saya sebetulnya ingin sok akrab menegur dia dan coba mengobrol soal Compton’s Most Wanted dan hip hop era itu. Tapi tidak kejadian karena segan. Ha-ha-ha.

Bagaimana Ucok melihat perubahan atau pergerakan hip hop di Indonesia?

Berkembang tentu saja. Apalagi jika bicara kuantitas, rap atau hip hop sudah eksis sebagai genre musik hari ini. Jumlah musisi/grup/MC jauh lebih banyak dibanding satu dekade terakhir.

Apalagi dibandingkan dengan pas zaman saya, 80-90-an. Bicara soal kualitas beda soal, meski MC berkualitas hari ini lebih banyak dari pas zaman saya, jumlahnya tidak berbanding lurus dengan banyaknya grup/MC yang bermunculan.

Dulu zaman saya sulit menemukan acara hip hop, saya sendiri dulu main di acara punk/hardcore selain atas alasan kami memang eksis dan besar di skena itu, juga karena memang tak ada acara hip hop.

Acara hip hop yang semua pengisinya grup hip hop itu di Bandung baru ada pada tahun 2000. Sekarang banyak banget.

Diaspora komunitas hip hop juga semakin luar biasa hari ini. Kalian bisa menemukan grup-grup bagus dari kota-kota kecil. Tak lagi langganan kota besar di Jawa.

Bahkan kawan-kawan sudah banyak yang membuat festival besar yang tak hanya MC manggung, tapi juga melibatkan komponen hip hop lain seperti breakdance, beatbox, graffiti ,dan DJ-ing.

Apalagi ditambah dengan mudahnya akses bagi generasi sekarang untuk belajar musik rap. Baik di departemen beatmaking-nya atau wilayah MCing-nya.

Internet memberi ruang yang luar biasa bagi generasi 2000-an sampe sekarang untuk tak hanya belajar tapi juga jadi media bagi mereka untuk lebih mudah berekspresi dan melahirkan karya.

Zaman dulu itu luar biasa sulit. Alat-alat produksi hip hop itu hanya bisa dimiliki oleh orang berduit. Teknologi membuat demokratisasi pola produksi itu.

Kalian tak harus punya sampler dalam bentuk hardware yang mahal untuk membuat musik hip hop.

Pakai laptop atau PC pun cukup. Juga dalam hal referensi, apa yang susah dicari di era Google hari ini? Apalagi dalam hal membuat album dan mendistribusikannya secara independen.

Generasi sekarang punya peluang sangat besar untuk berkarya tanpa harus didikte industri musik. Kalian bisa membuat album sesuka kalian. Dengan kondisi seperti ini, justru ironis kalau tidak berkembang, keterlaluan.

Jadi jika dulu saja dengan fasilitas dan environment yang terbatas kita bisa berbuat banyak, harusnya generasi sudah selayaknya jauh lebih advanced.

Progres hip hop lokal ada di tangan mereka. Seruan banyak orang yang menyuruh saya untuk memajukan hip hop itu salah alamat, saya cuma rapper bangkotan yang dimakan umur dan aktifitas cari makan buat anak istri meski masih menulis musik.

Hip hop hari ini tampaknya hanya soal vibe, swag, dan personality alih-alih lirik yang seharusnya jadi kekuatan utama. Bagaimana menurut Ucok?

Wah, enggak juga. Perkara swag/vibing itu bukan barang baru di hip hop. Sama sekali tidak lahir di generasi ini. Dari dulu juga hip hop memang begitu. Jika kalian periksa lagi para legend seperti Rakim, EPMD, LL Cool J, dan sebagainya, itu mereka kurang swag apa?

Hanya saja dulu istilahnya bukan swag. Tapi cara mengekspresikan diri dengan braggadocio (tingkah arogan, red.) kelewatan itu adalah umum di hip hop. Hanya saja dulu braggadocio (termasuk dalam soal materi) tidak melulu mendominasi tema lirikal meski dominan dan disampaikan dengan teknik tinggi, wordplay menawan, wawasan luas, dan dengan musik yang eklektik.

Saya tak punya masalah dengan swag-ism, saya cuma punya masalah dengan lirik buruk. Ha-ha-ha.

Jika rapper model Chief Keef jadi parameter standar estetika anak sekarang dan disebut hip hop, maka saya lebih baik memilih untuk tidak diidentikan dengan hip hop.

Jangan disalahartikan bahwa lirik buruk itu identik dengan swag, dan lirik yang bagus itu adalah yang berkonten sosial-politik.

Saya lebih memilih mendengarkan rap bragadocio atau bahkan nonsense yang menarik dibanding mendengar lirik politis yang membosankan, kering, tidak menginspirasi, dan sama sekali tidak relevan dengan kenyataan praksis politik di luar sana.

Apalagi hanya terkesan dibuat-buat.Kalau cuma soal wacana politik doang, saya bisa menemukannya di lapangan atau di wilayah literasi. Tak perlu mendengarkan hip hop.

Meskipun demikian, saya tidak sepakat jika hip hop hari ini melulu soal itu. Jika mau lebih dalam lagi menelusuri dan mengekspos hip hop lain di luar hype media yang sekarang ada, kalian akan menemukan banyak talent luar biasa yang tak hanya ber-swag ria, dan membuat kalian berkesimpulan jika hip hop itu heterogen dan tidak statis.

Bagaimana proses kreatif seorang Ucok?

Saya biasanya menulis lagu dengan simultan, musik dan lirik. Saya bukan tipe orang yang bisa menulis sekaligus melakukan pekerjaan lain.

Biasanya saya meluangkan waktu, kontemplasi, dan mulai menulis musik atau lirik. Tapi cukup sulit melakukannya semakin ke sini, berbeda ketika saya dahulu belum berkeluarga.

Ini tentu saja berpengaruh, karena saya tidak cari makan di musik. Saya bukan musisi profesional. Otomatis sekarang menulis musik adalah perkara nomor dua setelah mencari nafkah untuk keluarga.

Soal lagu yang paling lama, mungkin hampir semua lagu di album Barisan Nisan. Saya melakukan revisi, bongkar-pasang hampir selama dua tahun sampai kemudian saya putuskan untuk dibungkus.

Rata-rata semua materi saya lama saya garap atas banyak alasan. Kecuali jika hanya menulis lirik yang tidak perlu terlalu mengkonsep, biasanya sih cepat.

Biasanya ini saya lakukan untuk beberapa permintaan feature dari beberapa kawan. Bahkan kadang saya langsung tulis di studio saat take vocal tanpa persiapan apa pun. Misalnya verse saya di lagu Eyefeelsix, “Obituari”, atau spoken words saya di lagu milik teman-teman Siksa Kubur.

Verse feature saya untuk teman-teman di BRNDLS juga misalnya, saya buat setengah jam sebelum saya pergi ke studio untuk take vocal.

Siapa rapper baru di Indonesia yang Ucok sekarang sukai?

Dari Bandung dulu deh. Saya menggemari Sandy dan Yansen, mereka tergabung di Iron Prose sekarang. Jagal Sangkakala juga bagus meski mereka kurang serius. Saya menaruh harapan besar pada salah satu MC di Jagal Sangkakala, Endo namanya. Dia berpotensi besar jadi MC hebat di hari depan.

Domdom juga bagus, tapi jika dia menggarap rap seserius dia ber-skateboarding (dia skateboarder pro), mungkin hasilnya akan beda.

Senartogok pun istimewa, musisi multitalenta juga. Kadang kalian bisa menemukan dia mengamen di perempatan jalanan Bandung, tak jarang juga di acara-acara komunitas atau Aksi Kamisan, misalnya.

Satu lagi mungkin, Krowbar. Dia orang lama sebetulnya, tapi baru belakangan ini saya mendengar dia nge-rap dan hasilnya luar biasa. Penggayaan rimanya mengingatkan saya pada rekan segrup saya, Sarkasz. Bisa dibilang gaya rima Krowbar adalah anak haram dari rima Sarkasz.

Luar Bandung, meski saya hanya memantau sekilas, ada beberapa grup/MC yang saya sangat sukai. D.P.M.B dari Yogya, mereka yang paling berjasa merevitalisasi sound boom bap hard funk New York 90-an di skena lokal pada era sekarang.

Begitu pula Anonymous Alliance dari Cirebon. Mereka memainkan hip hop yang retrospektif dengan beat boom bap yang soulful mirip Apollo Brown atau Statik Selektah.

Das Aufklarung dari Surabaya, Regia Oskar dari Aceh, Jere dari Medan, Matter dari Jakarta dan Insthinc yang entah dari mana dia, mungkin Planet Mars.

Tapi favorit saya hari ini dalam hal MC-ing adalah Joe Million. He’s the baddest youngin from this generation ever touch the mic.

Ada beberapa beberapa lagi yang saya tak ingat untuk saat ini. Alasan menyukainya ya karena mereka bagus dalam pemahaman estetika hip hop tentunya.

Young Lex dan Rich Chigga belakangan mendapat banyak sekali ekspos dari media mainstream. Bagaimana Ucok melihatnya fenomena mereka?

Sepertinya sudah saya jawab secara tidak langsung di pertanyaan sebelumnya. Bagus jika generasi sekarang bisa memanfaatkan teknologi informasi seperti sekarang. Peluang itu yang tidak bisa didapatkan oleh generasi 80-an/90-an.

Sebetulnya mereka bukan yang pertama yang memanfaatkan perkembangan media, Saykoji duluan memanfaatkannya meski saat itu teknologi informasi belum seperti sekarang.

Saykoji adalah rapper dengan skill tinggi yang bisa membuat rima sangat pintar tapi bisa meramunya dengan penetrasi ke pasar memanfaatkan demokratisasi media yang lahir gara-gara internet.

Saya pikir malah media mainstream tidak ada andil dalam naiknya nama-nama yang disebutkan tadi. Mereka datang belakangan setelah eksposurnya meledak.

Kalo soal pendapat pada subjeknya, entahlah, sebetulnya keduanya tidak berada dalam radar saya. Mereka MC generasi baru yang berbeda alam dengan hip hop saya.

Saya tidak menyukai hip hop dengan karakter musik seperti yang sekarang jadi trend. Which is fine. Toh generasi baru juga tidak harus suka dengan musik hip hop yang saya sukai atau yang saya buat.

Di luar tren, saya tidak bisa berkomentar banyak soal Rich Chigga. Cuma dengar satu lagu, dan dia ada di liga yang berbeda.

Dia memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam rap-nya. Tidak bisa diklasifikasikan dengan mereka yang mengeksplorasi bahasa Indonesia sebagai bangunan rima. Dan musiknya pun sama sekali bukan buat saya.

Soal Young Lex, saya tahu ia bagian dari kolektif Zero One. Dulu pernah main sepanggung di acara di Bandung dengan kawan-kawan lain. Baru belakangan saya dengar lagi namanya setelah anak saya bertanya “Bap, tau Young Lex?”

Saya berpikir jika anak SMP bertanya soal dia, sudah pasti namanya sedang membesar. Sama dengan musik Chigga, musik Young Lex bukan buat saya. Bukan hanya berbeda latar belakang musik, juga perspektif dalam melihat banyak hal. But, I respect his hustle.

Jangankan pas seumuran dia, sampai sekarang saja saya tak punya uang sebanyak dia. Ha-ha-ha.

Ia tak membiarkan industri mendiktenya, sebaliknya dengan memanfaatkan teknologi dan modal sosialnya, Young Lex membuat “industrinya” sendiri.

Hanya saja bagi generasi sekarang yang punya kekuatan ekonomi dan pengaruh sebesar itu baiknya selalu ingat bahwa “with great power comes great responsibility“.

Tergantung mereka, seperti apa dan bagaimana memanfaatkan kekuatan itu untuk hal yang lebih besar dari hip hop dan diri mereka.

Dari kacamata Ucok, apa perbedaan hip hop di tanah air dengan Barat?

Jelas beda, pelakunya punya latar belakang sejarah dan budaya yang berbeda dengan pelaku di barat. Hasilnya akan beda. Rakim said it best: Hip hop is not where you from, its where you at.

Terakhir, jika Ucok terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni dan hanya boleh membawa satu album rap lokal untuk didengarkan, album apa yang akan dibawa serta?

Madrotter – 18 Slingshot. Album ini merekam banyak hal, bukan hanya lagu, namun juga semangat dan passion dalam lima tahun pertama hip hop di Bandung muncul sebagai komunitas. Musik Henk begitu aneh, berlapis, dan terkesan melampaui zamannya. Album ini juga memiliki poin penting di mana banyak kawan-kawan yang berkontribusi nge-rap di album ini.

Sumber: Beritagar.id

Hera Mary: Moshpit Kita Milik Bersama

Wawancara tentang film dokumenter Ini Scene Kami Juga!

Oleh Titah Asmaning

Dalam frasa paling sederhana, Ini Scene Kami Juga! adalah film dokumenter yang berbicara tentang scene hardcore-punk yang seharusnya juga bisa jadi lahan bermain perempuan. Lahan yang seharusnya tidak dikotak-kotakkan berdasarkan gender, yang seharusnya diokupasi berdasarkan kontribusi personal, bukan jenis kelamin. Ini Scene Kami Juga! mendokumentasikan segelintir perempuan di scene musik hardcore-punk dan kiprah mereka dalam menghidupi scene ini. Ada yang aktif bermusik, membuat zine, memotret, memberdayakan prinsip DIY sampai mengorganisir gig. Perempuan seharusnya bukan lagi sekadar jadi pemanis atau pos penitipan barang saat berpesta di moshpit.

Sutradara sekaligus penggagas film ini, Hera Mary, adalah vokalis Oath, band sludge-metal yang berbasis di Bandung. Sebagai seorang perempuan yang sehari-hari bergerak di komunitas yang didominasi laki-laki, Hera Mary pasti tahu rasanya menjadi minoritas. Dan adalah umum bahwa sebagai minoritas, segala sesuatu kadang jadi sulit. Dari mulai kesulitan menemukan teman sesama perempuan, sampai resiko mengalami pelecehan seksual di moshpit.

Sebelum kabar pemutaran di Bandung tanggal 1 Mei esok, film yang melibatkan 14 perempuan ‘berpengaruh’ di scene hardcore-punk Indonesia ini sebelumnya dijadwalkan akan dirilis di gelaran LadyFast tanggal 2 April lalu. Tidak beruntungnya, bau-bau edukasi dalam kemasan acara unik ini diendus oleh ormas dan berakhir kacau. Seluruh rangkaian Lady Fast hari kedua dibatalkan, menyeret agenda pemutaran perdana Ini Scene Kami Juga! di dalamnya. Ditemui dua hari setelah insiden pembubaran LadyFast, Hera Mary menyambut WARN!NG dengan ramah di sebuah restoran di Prawirotaman. “Kecewa aja sih, gara-gara ormas yang kurang bertanggung jawab. Mungkin mereka nggak mikirin gitu ya kita mau ngapain, perjuangan menuju sini dan bikin soft launching itu yang bikin aku sedih,” tukasnya.

Beruntung WARN!NG bisa menonton Ini Scene Kami Juga! dalam sebuah kesempatan khusus sebagai bekal interviu ini. Selain memburu narasumber sendirian, ongkos produksi film ini juga diambil dari kocek pribadi Hera. Bukti keseriusannya dalam membuat film ini. Hasilnyapun setimpal, Ini Scene Kami Juga! secara gamblang menyoroti kiprah nyata beberapa perempuan dan berbagai wacana tentang perempuan yang berkembang di scene hardcore-punk. Scene yang oleh Hera diibaratkan seperti “naik satu wahana yang ditakutin tapi pas dicobain seru.”

Di film Ini Scene Kami Juga, aku lihat memang ada perlakuan berbeda ke perempuan di scene hardcore-punk. Perlakuan berbeda itu muncul sejak kapan?

Kalau katakanlah pelecehan atau perlakuan nggak enak sama temen-temen perempuan di komunitas sendiri, mungkin itu sudah ada dari jaman… ya sudah lama lah. Apalagi di Indonesia ya, yang budayanya sendiri memang dari dulu itu sangat kolot. Atau mungkin teman-teman yang berada di komunitas sendiri pun belum terlalu banyak tahu atau belum terlalu banyak baca tentang pelecehan seksual itu sesimpel apasih atau seperti apa bentuknya. Jadi mungkin sudah dari dulu, memang sudah mengakar dari sananya.

Apakah perlakuan diskriminatif kayak gitu cuma ada di moshpit atau ada di kegiatan-kegiatan lain juga?

Berhubung aku lebih ke kegiatan musiknya, kalau di musik-musikannya ya jelas sangat ada. Tapi kalau di aktivitas lain seperti zine, mungkin pelecehannya itu dalam bentuk perkataan. Misalkan kalau yang ngeband cewek ya lebih dilihat vokalisnya itu cakep, jadi kayak “oh ini nih gue pengen nonton band ini karena vokalisnya cewek cantik, pengen gue jadiin pacar”. Kalau pelecehan seksual mungkin yang lebih sering terjadi ya pada saat di moshpit itu atau waktu moshing. Beberapa narasumber sendiri kan juga mengiyakan. Bahkan ada yang sampai trauma nggak pernah mau moshing lagi karena mereka juga merasa tidak nyaman berada di moshpit.

Kalau memang isu ini sudah sejak dulu ada, apa yang membuat Anda memutuskan harus membuat film ini sekarang?

Ide awalnya itu dari aku punya blogzine, namanya Hungry Heart Project. Itu awalnya aku, Mbak Ika (Vantiani), Tria dan Nurul. Isi awalnya mengenai aktivitas apapun di skena HC/Punk ini. Karena masing-masing sibuk, sempat vakum beberapa tahun sampai aku mutusin jalan sendiri. Sempat bingung juga mau bahas apa sampai sadar “cewek-cewek di scene hardcore-punk kan sedikit ya”, lalu kenapa nggak aku dokumentasiin aja? Dari situ mulai dapat profil beberapa band, dan karena emang sedikit akhirnya kekurangan.

Sampai 2014 aku kepikiran “kenapa nggak bikin film dokumenter aja?”. Terus yaudah deh aku mau bikin film tentang cewek-cewek yang memang memberikan kontribusi di pergerakannya masing-masing. Udah mulai ngecengin beberapa narasumber wajib juga. Sampai mulai muncul kendala teknis kayak aku nggak punya kamera, uang produksi, sampai harddisk yang isinya materi awal sempat hilang juga, lalu sibuk skripsi.

Baru setelah wisuda mulai serius lagi. Bahwa emang pengen ngasih sesuatu juga buat temen-temen perempuan di skena HC/Punk ini. Tahun itu mulai cari materi baru, kecuali interviu Mbak Ika (Vantiani) itu materi lama. Kecuali itu semua baru. Bahkan juga ada narasumber yang melakukan interviu sendiri karena lagi di luar negeri.

Kalau kendala nonteknis ada nggak?

Ya, salah satunya itu. Karena kita dari dulu jarang mendokumentasikan kegiatan pas kita lagi nge-zine atau kita lagi pameran. Kan aku ngambilnya narasumber dari era 90’an dan 2000’an, nah narasumber 90’an itu nggak punya budaya dokumentasi karena nggak banyak yang punya kamera atau HP. Jadi di situ, mungkin dokumentasi yang paling susah. Itu aja sih kayanya.

Memang selama ini, perkembangan gerakan perempuan (di era 90’an-2000’an) di scene itu gimana sih?

Kalau dulu aku lihat pergerakan antar perempuan itu masih ada gap. Jadi misalkan aku dan kamu nih, di kota yang berbeda gitu. Terus karena jejaring sosial dan internet dulu itu nggak segampang sekarang, dan dengan budaya sikap malu-malu kita, jadi dulu itu lebih kompetitif. Lebih saing-saingan dalam pembuatan karya. Kalau sekarang itu lebih ke empowerment nyata gitu. Saling mendukung, lebih kolaboratif dan lebih minim konflik, bisa diatasin dengan mudah.

Dan pemikiran mereka sekarang juga lebih luas, lebih terbuka. Kalau dulu lebih individualistis dan terbagi ke grup-grup kecil. Jadi misal aku nongkrongnya sama daerah Bandung Selatan, sama Bandung Utara pun tegur sapa itu jarang. Nggak tahu deh kenapa, mungkin sudah gitu dari sananya. Sekarang lebih terbuka, dibantu dengan sosial media. Sekarang juga banyak perempuan yang ikut ke gigs, nggak cuma yang ikut-ikut cowoknya. Sekarang banyak yang proaktif, lebih asik, datang atas niat sendiri.

Tapi kompetitif dalam berkarya kan harusnya bagus?

Iya bener, masalahnya dulu susah banget mengakui karya orang lain itu lebih keren. Sinis-sinisan. Saling menjatuhkan. Kalau sekarang kan lebih bisa mendukung, ngomong “eh lo keren banget sih”.  Kalau dulu lebih ngerasa “gue yang paling aktif, yang paling berkontribusi”. Sekarang itu lebih support, nggak gengsi-gengsian.

Sikap kompetitif kayak gitu ada nggak sih pengaruhnya ke perlakuan diskriminatif dari cewek sendiri?

Karena dari dulu perempuan itu sedikit, kompetitifnya ya seputaran itu aja. Nggak yang sampai gimana-gimana gitu. Ya mungkin dari komunikasi yang jarang dan produktivitas sedikit, jadi yang lain merasa “yaudah gue gini aja”. Kalau sekarang kan kita lebih mempertanyakan diri kita, kita mau ngapain sih di sini? Apa kita cuma mau nonton aja? Apakah kita mau cuma sekedar jadi pemanis di scene aja? Sekarang kita lebih banyak instrospeksi diri lah.

Aku lihat narasumber dari berbagai kota, masalah yang dihadapi itu beneran sama ya?

Iya. Makanya di film ini lebih ke experience masing-masing. Apasih konflik–konflik yang mereka hadapi. Ternyata setelah digabungkan, kita ambil benang merahnya kan juga sama, pelecehan dan seksisme, sama jargon-jargon yang sejenis “di sini kita itu setara lho”, nyatanya bohong.

Apa ini cuma terjadi di scene hardcore-punk atau terjadi juga di scene-scene musik lain?

Aku rasa perbedaan, pengkotakan, pelecehan, di masyarakat umum pun ada. Ya makanya, banyak yang bilang di hardcore-punk adalah alternatif, sebenernya nggak alternatif juga. Karena di sini juga terjadi pelecehan, walaupun sekarang mulai terbentuk kesadaran dari cowoknya. Kalau dulu sih dianggap ada-nggak ada aja. Ada cewek juga nggak ngaruh, nggak ada juga nggak ngaruh. Sekarang lebih “gue ada dan gue melakukan sesuatu”. Tapi nggak bisa dipungkiri juga bahwa peran cewek di hardcore-punk itu masih banyak yang belum “ngeh” gitu. Ya adanya perempuan di sini itu bikin menarik. Bukan karena gendernya, tapi lebih ke kontribusinya.

Selama ini ada nggak sih wacana tentang feminisme di lingkaran-lingkaran punk indonesia?

Banyak. Dalam sehari-haripun beberapa di antaranya memang menerapkan feminisme itu kok. Mau laki-laki atau perempuannya. Tapi yang paling penting bukan tentang klaim dirinya, tapi bagaimana mereka bersikap dengan apa yang telah mereka suarakan.

Aku pernah lihat wacana feminisme itu dibahas di zine-zine punk, tapi untuk bagaimana dengan musik?

Ada. Yang gue tahu, Dead Alley band dari Kota Semarang contohnya. Liriknya banyak mengenai perlawanan akan banyak hal, menyuarakan kesetaraan gender dan lainnya. Lalu ada bandku sendiri yang di album baru nanti liriknya lebih banyak meyuarakan kemarahan atas ketidakadilan yang terjadi pada temen-temen perempuan dan laki-laki. Bagaimana kita selalu menjadi korban yang selalu disalahkan melulu. Victim Blaming masih wara-wiri dan mejadi hal biasa dalam kehidupan masyarakat kita, bahkan di dalam scene sendiri.

Di film tadi Alda (Negasi) menyebutkan soal ‘Punk Ignorant’ dan beberapa jenis punk lain, memangnya benar ada kelas-kelas di komunitas punk?

Ya makanya ada pertanyaan “di Punk manakah kamu berada?”. Kalau punk liberal lo mau ngapain juga nggak diribetin. Kalau di punk mainstream ya masih pelecehan, sama aja kayak di masyarakat umum.

Sebagai perempuan juga, awal Anda terjun di scene hardcore-punk ini sendiri gimana? Lalu apakah dari dulu sudah tahu situasinya akan seperti ini dan kenapa bertahan sampai sekarang?

Jadi dulu tertarik sama sampul buku temen sekelas pas SMP yang gambarnya fotokopian zine review band Keparat dari Bandung. Penasaran banget sampai nabung buat nonton mereka di GOR Saparua, itu tahun 90’an legendaris banget, tiap minggu ada acara underground. Dateng kesana, rasanya unik dan sempet takut karena dandanan orang-orangnya ya, tapi pas masuk ke dalam GOR rasanya kayak naik satu wahana yang ditakutin tapi pas dicobain seru, kayak gitu rasanya. Dari situ juga belum tahu punk itu apa, cuma setelannya keren. Setelah keluar SMA langsung bikin band cewek-cewek namanya D’Ponis. Dari situ baru tahu lah ideologi punk itu gimana, pemikiran cowok-cowok ke punk itu juga gimana. Tapi di sini pergaulan ceweknya nggak asik. Kemudian aku bikin band baru namanya Kroia, dari ini lah semua muncul. Pergaulan yang lebih luas, karena tur jadi temen-temen makin banyak.

Di situ baru sadar kalau d HC/Punk itu ceweknya nggak banyak. Semisalkan pas main kok ceweknya cuma aku. Dari situ mulai bertanya apakah ini tidak menarik atau menakutkan buat temen-temen cewek. Dari situlah bikin film ini, pengen nunjukkin kalau HC/Punk ini asik, walaupun banyak yang nyebelin. Banyak peculiarity yang nggak bisa kita dapat di tempat lain. Dari situ kepikiran temen-temen perempuan butuh diangkat. Dari situ juga bertanya apa yang sudah gue lakuin buat temen-temen perempuan. Gue ngapain sih, udah ngasih apa sih? Ini salah satu caraku buat nge-support temen-temen perempuan buat tetep ada. Jangan nyerah apapun yang lo lakuin di sini. Karena lo udah ngasih kontribusi besar di sini, lanjutinlah jangan berhenti disini.

Kalau dari pengalaman pribadi selama ini sendiri sudah pernah mengalami sexual harrasment kah?

Kalau pas ada di moshpit belum pernah. Di lingkungan scene belum pernah ngalamin sih, kalau ada yang berani ya pasti saya lawan dan peringati. Tapi kalau di masyarakat umumya pernah beberapa kali. Yang paling saya ingat pas SMA pernah ngalami pas jalan rame-rame di trotoar terus dihadang sekelompok laki-laki terus dipegang-pegang, kita udah ngelawan sampai nonjok juga, malah ribut sampai dipisahin orang yang lewat. Gila, sekelompok orang itu udah tahu salah masih bisa ngelawan.

Kalau mengalami itu di moshpit, apa yang sebaiknya dilakukan korban?

Hal pertama yang mesti dilakuin adalah lihat sekelilingmu apakah ada teman-teman yang kamu kenali? Kalau kamu seorang diri di moshpit dan kamu merasa takut untuk memperingatkan orang yang melecehkan kamu, baiknya kamu bilang dan cerita kepada teman-teman terdekat yang berada di sekitarmu.

Yang kedua adalah ambil sikap atau tindakan langsung. Menegurnya dengan tegas atau teriakin aja langsung kalau itu adalah hal yang nggak bener. Kalau dia nggak terima dengan teguran atau teriakan kamu, ya serang fisik aja. Toh gimanapun pelecehan itu nggak benar. dan diberi tindakan biar tahu rasa. Nggak seenaknya melakukan apapun untuk menyenangkan dirinya aja.

Berarti di film ini memang ada semacam edukasi tentang gender equality juga ya?

Enggak sih, film ini secara umum cuma pengen memberitakan temen-temen perempuan yang emang hebat. Bukan berarti mau mengeksklusifkan si narasumbernya. Tapi maksudnya tuh, masih banyak lho temen-temen cewek, yang emang ngasih kontribusi besar, dan membuat scene ini tuh lebih hidup. Nggak cuma sekedar nonton acara atau datang cuma diajakin cowoknya, walaupun nggap apa-apa juga. Tapi di sini aku pengen nunjukkin ke temen-temen perempuan bahwa ini itu nggak serem-serem amat. Kan banyak orang tua yang bilang ngapain sih jadi anak punk? Mau jadi apa?

Sebenernya nggak seseram itu. Banyak temen-temen punk yang hidup mandiri, misal Dinda (Advena) dan pamerannya atau Mbak Ika Vantiani. Maksudnya, kemandirian ini yang membuat mereka seperti sekarang ini. Bahwa peran perempuan itu sama pentingnya sama laki laki, jangan jadi pemanis aja. Pengen ngebuktiin itu sih.

Kenapa di film ini nggak ada narasumber cowoknya? Ini kan juga masalah di kedua pihak.

Sebetulnya ada, kita sudah interviu beberapa cowok. Cuma setelah dipikir gitu, kayaknya nggak usah bikin tandingannya. Bukannya nggak perlu, tapi karena ini film tentang perempuan, jadi ya perempuan aja. Mungkin nanti pendapat-pendapat temen-temen laki laki akan dimasukkan jadi materi di website.

Kemarin kan sempet berencana merilis film ini di Lady Fast Jogja, bagaimana pendapatmu tentang batalnya acara itu karena insiden kemarin?

Sebenernya lebih ke sedih aja sih. Karena setelah insiden itu masih banyak yang nyari aku mau nonton filmnya padahal udah aku sebar flyer yang cancel itu. Tapi kan nggak semua orang akses sosial media. Banyak yang sudah datang, ada yang dari Malang sampai WhatsApp aku “mbak Hera kok nggak jadi, aku udah di sini”, itu rasanya “anjiir”.

Terus sempet ngomong sama Kolektif Betina untuk bikin screening tapi masih pada ribet kan, kasihan juga. Kecewa aja sih, gara-gara ormas yang kurang bertanggung jawab. Mungkin mereka nggak mikirin gitu ya kita mau ngapain, perjuangan menuju sini dan bikin soft launching itu yang bikin aku sedih. Yang bikin gue nggak enak bahkan narasumbernya pun belum nonton, kamu tuh orang pertama yang nonton lho. Sedih sih, tapi ya karena nggak kondusif juga. Masak di kondisi kayak gitu aku masih mikirin film aku sih, walaupun sebenarnya ya mikirin.

Terus setelah ini, film Ini Scene Kami Juga! mau dibawa kemana? Seperti target penonton misalnya.

Kalau target penonton sih nggak ada ya. Kalau misalnya mau nonton ya nonton, kalau argumentasinya udah “ini apaan sih?” yaudah lo mendingan nggak nonton. Kalau distribusi sendiri sih karena aku di bantuin sama dua Label tadi. Jadi distribusinya dari aku dan dua label itu, DVDnya bakal dirilis awal Mei gitu lah.

Menonton film ini, mau nggak mau aku relate dengan Punk Singer dan Kathleen Hanna, emang terinspirasi dari situ atau gimana?

Sebenernya inspirasi buat film ini, itu datangnya dari diri sendiri ya. Pas kemarin Punk Singer dirilis aku juga udah jalanin ini beberapa tahun sebelumnya. Tapi nggak bisa dipungkiri sih. Cuma aku lebih ke film dokumenter From the Back of the Room. Dari situ sih kayak “kok sama sih, isu isu yang diambil” tentang perempuan di komunitas hardcore-punk. Yang keren-keren gitu.

Apakah film ini adalah langkah awal Anda sebagai filmmaker atau berhenti di proyek ini aja?

Enggak kepikiran buat apa-apa lagi. Ini sih iseng-iseng berhadiah, kayak nggak terlalu diseriusin mau jadi filmmaker atau apa. Cuma dari dulu aku lebih suka dokumentasiin lewat video daripada foto. Nggak tahu kalau video lebih menceritakan apa yang terjadi. Jadi kita nggak bisa berasumsi lain-lain.

Ada pesen nggak buat perempuan-perempuan yang ingin aktif di komunitas hardocore-punk ?

Pesennya jangan takut mau ngelakuin hal sekecil apapun itu, jangan takut kehilangan. Awalnya aku juga nggak percaya diri, takutnya nggak diapresiasi. Terus kalau dipikir-pikir ngapain mikirin orang, orang juga nggak mikirin kita. Yaudah kalau mau ngelakuin apapun, ya lakuin aja. Yang penting rasa puasnya dulu. Setelah puas kan lo baru ngerasain hasilnya buat diri lo sendiri. Percaya diri.

#sarapanmusik

Wah kalau pagi-pagi nggak bisa dengerin musik. Sekarang lagi suka sama lagu-lagu folk-country, folk-metal, folk-akustik gitu, menjernihkan otak dengan petikan gitar.

Sumber: Warning! Magz

Mengenal Komunitas Zine di Indonesia

Oleh Nicole Curby

 

Setelah melewati gang yang berkelok-kelok dengan cat dinding yang sudah mengelupas, saya akhirnya tiba di sebuah gudang yang dipenuhi anak punk, seniman dan alunan musik.

Salah satunya adalah musisi dan pembuat zine, Kartika Jahja.

“Nama saya Kartika dan saat ini kami ada di  Bandung untuk mengikuti Bandung Zine Festival. Ini adalah acara tahunan yang diadakan sebuah komunitas di Bandung bagi para pembuat dan pencinta zine dan yang ingin tahu lebih banyak soal zine. Jadi hari ini ada ada para pembuat zine dari seluruh Indonesia.”

Ini adalah Festival Zine Bandung yang ketiga. Festival ini pertama kali diadakan pada 2012.

Rian, seorang fotografer dan pembuat zine asal Depok, menyatakan keheranannya karena banyak orang yang datang di festival ini.

Saya bertanya padanya apa itu zine.

“Zine adalah seperti sejenis publikasi cetak. Temanya beragam mulai dari yang santai sampai yang serius bahkan soal kehidupan. Semua itu kami visualisasikan. Kadang-kadang kami menggunakan tulisan, gambar, atau foto,” jelas Rian.

Meja-meja dipenuhi berbagai terbitan buatan rumah yang diperbanyak dengan cara difotokopi.

Selama satu hari ini, para pembuat dan pecinta zine saling bertukar, menjual dan membagikan kreasi mereka.

Pembuat dan distributor zine dari Jakarta Selatan, Ika Vantiani, menjelaskan bagaimana dia membuat zine.

“Sebagian besar zine saya buatan tangan. Bahan dan alatnya hanya kertas, lem dan gunting. Hanya itu yang saya pakai.”

Biaya pembuatan zine cenderung murah karena biaya yang dikeluarkan hanya biaya fotokopi. Dan karena menerbitkan sendiri, penulis zine bisa menulis dan menggambar apa saja di dalamnya.

Ika bercerita bagaimana dia pertama kali menemukan zine 16 tahun yang lalu.

“Suatu malam, di belakang mobil teman saya yang baru pulang dari Bandung, saya melihat zine. Saya membacanya dan sangat tertarik. Saya tidak pernah kepikiran membuat semacam ini, menerbitkan tulisan saya sendiri,” kisah Ika.

“Tapi malam itu mencerahkan saya. Ini adalah sesuatu yang selalu saya ingin lakukan, jadi mengapa tidak saya lakukan sendiri. Jadi saya menerbitkan zine saya sendiri pada tahun 2000.”

Zine penuh dengan hal-hal yang tidak akan pernah dicetak di media lain.

Saya menemukan zine bersampul merah. Isinya tentang menstruasi dan tulisan para perempuan tentang tubuh mereka. Ada juga zine yang berisi soal bersin, lengkap dengan sketsa orang sedang bersin. Selain itu ada zine yang berisi tulisan-tulisan tentang politik dan bahkan ada zine yang memuat pengakuan yang sangat pribadi.

Selain berisi karya seni, ada juga zine yang berupa coretan-coretan kasar, dan ada yang digabungkan dengan CD musik.

Panita penyelenggara Festival Zine, Deden Erwin Suherman, mengatakan dalam beberapa tahun zine mengalami perubahan.

“Mungkin dulu banyak kawan-kawan hanya bikin zine dari photostate, xerox, tapi sekarang mereka sudah ada yang colourful , mulai dari cetakannya, mulai dari packaging. Banyak progress di zine zine local di Bandung dan juga mungkin di Indonesia. Progress sangat bagus,” kata Deden.

Tidak hanya bentuk zine yang berubah. Saat ini makin banyak perempuan yang terlibat dan isinya juga berbeda kata Deden.

“Kalau dulu mungkin karena di Bandung, wacana-wancara seperti anarchism, punk, isu-isu politik, gitu masih banyak, masalah left-wing gitu. Tapi sekarang bervariasi mulai dari musik, sport, makanan, wanita. Jadi sekarang  tema-tema sudah banyak berubah dari mulai dulu yang hanya tentang politik, anarchism, tapi sekarang sudah mulai banyak tema.”

Dan bahkan saat media sosial dan internet telah menyusup di setiap sudut dunia, zine masih memiliki tempat khusus, kata penyelenggara Deden Erwin Suherman.

“Orang-orang masih memilih zine mungkin karena dari situ, mereka masih bebas. Tidak ada rules untuk how to make zine. Mereka bebas saja. Tidak ada deadline, tidak ada apapun, tapi sekarang banyak orang yang mungkin yang lebih mereka fokus bikin zine.”

“Dengan masih dengan basic style zine dengan bahasa mereka sendiri. Tidak ada benturan modal, tidak ada di situ, tidak ada yang censorship atau apapun. Menjadi saingan dari media mainstream dan zine hari ini masih ada penting untuk bisa terus di cetak dan disebarkan kepada siapa pun.

Semua orang punya kemampuan untuk menciptakan sesuatu seperti ini, kata Ika Vantiani.

“Semua orang harus mengalami sekali dalam hidupnya, bagaimana rasanya membuat zine dengan tangan mereka. Sehingga Anda tahu kalau Anda punya kemampuan untuk menerbitkan media, tidak hanya menerima media, seperti yang setiap hari kita alami.”

 

Sumber: kbr.id