Musik Indie Tidak Bisa jadi Pahlawan

Oleh Ferdhi Putra

 

Akhir dekade 1990-an adalah momen krusial bagi Indonesia. Suharto tumbang setelah 32 tahun bercokol sebagai penguasa tunggal, dan Indonesia memasuki fase transisi menuju demokrasi. Dalam banyak narasi sejarah mengenai periode tersebut, anak muda – terutama mahasiswa – kerap disebut sebagai biangnya. Sebagaimana periode 1965-66, mahasiswa angkatan 1998 juga memainkan peranan penting dalam proses peralihan kekuasaan. Bedanya, pada ‘98, ada kelompok anak muda lain yang dianggap turut berperan melengserkan Suharto. Mereka adalah para penikmat musik underground.

Esai etnomusikolog asal Amerika Serikat, Jeremy Wallach yang berjudul Underground Rock Music: And Democratization in Indonesia (2005) menyuratkan itu. Secara sederhana, Wallach mengajukan bahwa scene musik underground turut berperan dalam perubahan sosial pada tahun-tahun tersebut. Sebagai gerakan kebudayaan, musik populer — termasuk musik underground atau independen — memainkan peranan lain di luar Politik (dengan ‘P’ besar) selama kurun waktu krisis.

Scene inilah yang turut mempengaruhi perspektif anak muda, terutama yang bergiat dalam scene, agar mau ikut ambil pusing dalam urusan politik (dengan ‘p’ kecil). Bangkitnya kesadaran politik anak muda ini, tulis Wallach, terhitung penting setelah bertahun-tahun lamanya anak muda dijauhkan dari politik melalui berbagai kebijakan Orde Baru – mulai dari NKK/BKK hingga pelarangan rambut gondrong.

 Membaca selintas sejarah scene underground — termasuk punk — di Indonesia, kita akan menemukan banyak kisah mengenai bagaimana scene ini berdinamika pada senjakala hingga pasca kejatuhan Orde Baru. Di Bandung, misalnya komunitas-komunitas punk membentuk Front Anti Fasis (FAF) dan berafiliasi dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD), organisasi yang radikal pada masanya. Tidak hanya mengorganisir komunitas, ‘anak-anak punk’ ini terlibat dalam aksi politik kelompok lain, seperti aksi solidaritas pada Hari Buruh Internasional tahun 1997.

Pola serupa terjadi di Jakarta. Dalam tesisnya, Fathun Karib mencatat bahwa komunitas punk Jakarta terlibat dalam aktivitas politik seiring dengan memanasnya situasi nasional kala itu. Seperti di Bandung, komunitas punk Jakarta juga bergabung dengan PRD. Masih menurut Karib, pada masa itu PRD memang sengaja merekrut anak muda dari kelompok-kelompok punk di seluruh Indonesia. Meski sebetulnya, kecuali kasus Jakarta dan Bandung, saya belum menemukan literatur yang memperkuat kesimpulan itu.

Artinya, selain melalui gerakan kebudayaan seperti musik, konser, dan zine, sebagian anak punk atau scenester underground juga terlibat dalam gerakan politik. Hanya saja, tak banyak literatur yang menyorot keterlibatan punk dalam politik. Beberapa penelitian justru memberi panggung pada estetika musik underground semata, alih-alih politik. (Wallach 2003 & 2005, Martin-Iverson 2007 & 2014).

****

Dari sekian banyak produk budaya musik underground, lirik lagu-lagu underground memang kerap jadi favorit bagi para peneliti untuk membuktikan keberpihakan suatu subyek terhadap isu tertentu. Singkatnya, ia mudah diteliti. Wallach (2005), misalnya, mengambil contoh lirik band Death Metal bernama Slowdeath yang dianggapnya sangat tajam: “There’s no difference between Dutch Colonialism and the New Order! (Tak ada bedanya kolonialisme Belanda dan Orde Baru)”.

Bukan sekadar liriknya yang bikin Wallach terkesima. Lirik tersebut, yang diambil dari lagu berjudul The Pain Remains the Same, ditulis dan dinyanyikan di masa ketika Suharto masih berjaya. Tak banyak musisi – kalaupun ada – yang berani seterang-terangan itu mengkritik Orba ketika ia masih berkuasa.

Tapi, pertanyaannya: apakah analisis terhadap liri lagu – atau elemen kultural lainnya – sudah cukup representatif? Apakah dengan melihat 1-2 lirik lagu, kita bisa menyimpulkan bahwa ini adalah cikal bakal perubahan sosio-politik yang akan terjadi kelak?

 Salah satu eksponen gerakan ‘98 yang juga saksi hidup musik underground dan gerakan sosial di Bandung, Herry ‘Ucok’ Sutresna, meyakini bahwa musik tidak seperkasa itu. “Saya tidak percaya musik bisa berbicara banyak di gerakan sosial,” kata Ucok ketika diwawancarai Jurnal Ruang. “Kalau lu mau bikin gerakan sosial, terlibatlah. Turun dan organisir bersama masyarakat. Di luar itu, enggak ada hal lain. Para petani itu tidak akan tergerak untuk mereklaim lahan hanya karena mereka mendengar lagu lu.”

Pun pada kenyataannya, di Indonesia, lagu-lagu dengan lirik politis tidak serta merta menumbuhkan kesadaran politik para scenester underground. Salah satu buktinya, lirik-lirik bernada pembangkangan milik Sex Pistols, Crass, Black Flag atau Dead Kennedys, tidak berpengaruh apapun bagi Generasi Pertama Punk Jakarta. Kesadaran politik mereka baru tumbuh melalui zine seperti Profane Existence dan Maximum Rock N Roll, dan – ini kuncinya – infiltrasi organisasi politik seperti PRD (Karib, 2007).

Itulah mengapa meski hampir setiap produk lirik dari musik underground berisi nada-nada perlawanan nan politis, tidak semua scenester memiliki keinginan untuk berpolitik.

Yang Politis dan Apolitis

Sejatinya, perbedaan pilihan politik adalah kenyataan sosial yang tidak hanya terjadi di ranah underground. Ia terjadi di hampir setiap lapisan masyarakat. Tentu kita tidak membayangkan bahwa scene underground memiliki suara politik yang seragam – toh mereka bukan Orba. Tapi dalam konteks ini, pilihan politik sangat berimplikasi pada bagaimana kita melihat scene underground dan perannya dalam perubahan sosial.

Perbedaan pilihan politik ini, hemat saya, mestinya menjadi aspek yang penting digarisbawahi bila ingin melihat seberapa besar pengaruh scene underground terhadap perubahan sosial-politik. Sebab, di Jakarta dan Bandung misalnya, keberadaan punk politis diimbangi oleh keberadaan punk yang secara terang-terangan menolak politik.

Dalam risetnya, Fransiska Titiwening (2001; dalam Karib 2007) menemukan, perseteruan antara punk politis (anarcho-punk) dengan punk apolitis (street-punk) begitu mewarnai perjalanan komunitas punk Jakarta. Meski tidak ada konfrontasi fisik antara keduanya — beritahu saya jika ada — garis demarkasi ‘ideologis’-nya cukup jelas. Punk politis melihat bahwa keterlibatan dalam politik (bukan ‘P’ besar, artinya politik di sini dimaknai secara lebih luas) adalah sesuatu yang penting. Di masa-masa bergejolak, tidak sedikit scenester yang ikut mengorganisir massa, beradu batu dan molotov dengan aparat di jalanan, mengokupasi gedung radio milik pemerintah — laiknya Cakrabirawa pada 1 Oktober ‘65, hingga diculik dan disiksa oleh aparat (Yunus, 2004).

Sementara di sisi lain, punk apolitis melihat bahwa politik adalah omong kosong belaka. Tentu mereka tidak mempersetankan politik. Tapi, mereka cenderung enggan menyangkutpautkan politik dengan laku produksi dan konsumsi budaya mereka.

Di Bandung, Resmi Setia (2001; dalam Martin-Iverson, 2014) dalam studinya menemukan pola yang hampir serupa. Ada perbedaan yang cukup besar di salah satu tongkrongan punk di Bandung; antara scenester lawas dari kelas menengah yang punya komitmen kuat terhadap musik dan politik, dengan kelompok baru yang terdiri dari anak-anak jalanan kelas bawah yang hanya tertarik pada fashion dan gaya hidup ala punk.

Ini persoalan nyata yang masih bertahan sejak era awal punk di Indonesia hingga Pemilihan Presiden 2014 — dan mungkin pemilu-pemilu selanjutnya. Ada dua esai menarik dari Herry Sutresna yang berjudul Making Punk A Threat Again dan Rosemary, Punk Rock dan Endorsment Polisi: Garis Tipis antara Naif dan Moron. Keduanya ditulis berdasarkan peristiwa di lapangan, yang menurut saya mampu memperlihatkan anomali punk di Indonesia; bagaimana pilihan untuk menjadi politis atau apolitis akan sangat berdampak pada situasi kultural dan politik, bahkan dalam scene itu sendiri. Ini tidak hanya terjadi di scene punk, tapi juga di scene underground lain seperti metal, Hip Hop, dan alternatif — omong-omong, ini klasifikasi underground menurut Wallach.

Sejarah yang Berulang

Apa yang terjadi pada anak muda di senjakala kekuasaan Suharto, menurut saya, tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di penghujung kekuasaan Sukarno. Pada tahun 1965, 1998, serta fase setelah ’65 dan ’98, anak muda – terutama yang menyukai musik non-mainstream – hanya sedang merayakan kebebasannya tanpa memiliki kecenderungan politik apapun.

Seperti yang Wallach kutip dari pernyataan Yukie (Pas Band), “underground rock movement di Indonesia adalah bukti bahwa pemuda Indonesia sedang menentukan pilihannya sendiri,” (Wallach, 2005). Atau simak kesaksian Munif Bahasuan ketika diminta menggambarkan masa-masa pasca kejatuhan Sukarno: “Jujur saja, setelah Pak Harto berkuasa, semuanya jadi lebih terbuka. Kami merasakan masa-masa penuh kebebasan.”

Tentu saja kita bisa memaknai kedua pernyataan tersebut sebagai pilihan politik — toh saya meyakini kebebasan individual adalah tindakan politik. Tapi, apakah ini berdampak pada Politik (huruf ‘P’ besar) pada skala yang lebih besar? Belum tentu.

Ketika Orba membuka diri terhadap pengaruh Barat, termasuk budaya, para ‘pemuda’ berbondong-bondong mengadopsi gaya hidup ala Barat, lebih spesifik lagi budaya hippies. Jika di Amerika Serikat hippies melakukan pembangkangan budaya sekaligus politik, tidak demikian di Indonesia. Aria Wiratma dalam Dilarang Gondrong menyebut kelompok hippies di Indonesia sebagai hippies abal-abal (plastic hippies), karena hanya mengimitasi laku dipermukaan saja seperti berambut gondrong, mabuk-mabukan, seks bebas, dan mengkonsumsi musik rock.

Sejarah membuktikan, meruaknya kebebasan di setiap transisi tidak melulu bermakna politis. Ini hanya gejala industri budaya, yang membuat semangat perlawanan dalam hippies maupun gerakan underground beralihrupa menjadi komoditas belaka. Tak ada yang politis, kecuali kecenderungan untuk bebas mengonsumsi segala tetek bengek dari ‘budaya perlawanan’, tanpa peduli dengan perlawanan itu sendiri.

Dalam Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Dominic Strinati menyebut bahwa, “industri budaya telah membentuk selera dan kecenderungan massa, sehingga mencetak kesadaran mereka dengan cara menanamkan keinginan atas kebutuhan-kebutuhan palsu.” Boleh dikatakan, kebutuhan akan perubahan sistemik kondisi sosial-politik, disederhanakan menjadi perkara kebebasan berekspresi/menentukan pilihan sendiri belaka; menjadi perkara kebebasan memilih benda-benda atau gaya hidup ‘pembangkang’ yang sebetulnya sama sekali tidak menyentuh bagian yang substansial. Atau dalam bahasa Strinati, “mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan riil, konsep-konsep alternatif dan radikal, serta cara-cara berpikir dan bertindak oposisional politis.”

****

Apa yang kemudian terjadi pasca-Orba tumbang? Dalam wawancara dengan Jurnal Ruang, Wallach memberikan pandangan yang lebih jelas: “Mungkin, anak-anak kelas menengah ini (para scenester underground) lelah. Setelah politis selama beberapa tahun, mereka mulai berpikir, ‘Kita sudah terlalu banyak bikin lagu anti-Suharto.’ Buat apa? Toh dia sudah lengser. Biarin aja, tinggal kita sekarang mau apa? Lantas, musik independen bergeser. Band yang sangat politis seperti Burgerkill dan Puppen disusul oleh band yang lebih eksperimental dan ‘nyeni’ seperti The Upstairs, White Shoes & The Couples Company, dan Mocca.”

Sebetulnya tidak berhenti di situ. Pergeseran yang terjadi bukan cuma dari politis menjadi ‘nyeni’, tetapi juga dari segi komersil. Demokrasi pasar pasca-Orba telah mengakibatkan disorientasi wacana dan gerakan scene underground, menyamarkan musuh, dan yang paling penting, membuka peluang bagi setiap individu untuk semakin terlibat di sistem. Industri budaya memastikan kelompok-kelompok ini turut serta dalam sistem (Strinati, 2016).

 Penelitian Martin-Iverson (2012) menemukan bahwa pada dekade 2000-an di Bandung, scene underground terus mengalami depolitisasi dan malah berorientasi pada urusan gaya hidup semata. Ada pergeseran motif dari politik menjadi ekonomi yang pada akhirnya menghilangkan identitas mereka sebagai kelompok ‘lawan’. Distro adalah salah satu manifestasinya: ia bermula sebagai ruang alternatif, kemudian beralih menjadi ruang transaksional dan menjadi mata rantai ekonomi neo-liberalisme.

“Para pengikutnya aman secara finansial,” tulis Strinati. “bisa membeli banyak barang yang mereka inginkan; atau yang mereka pikir mereka inginkan, dan tak lagi memiliki alasan-alasan sadar untuk menghendaki tumbangnya kapitalisme dan menggantikannya dengan sebuah masyarakat tanpa kelas dan tanpa negara.” Pada akhirnya semua pelaku di scene underground — yang politis maupun apolitis — menjadi betul-betul apolitis.

****

Dalam kesempatan diskusi di Jakarta beberapa waktu silam, ada satu pertanyaan menarik dari partisipan diskusi untuk Jeremy Wallach. Orang itu kira-kira bertanya: “Seberapa signifikan pengaruh musik populer bagi perubahan sosial, terutama pada periode ’98?”

Wallach kemudian menjawab, “Kalau tidak ada pengaruhnya, Orba (mungkin) masih bertahan sampai sekarang.”

Ada raut kekecewaan dari si penanya. Ia tidak puas. Demikian dengan saya. Selama beberapa waktu, pertanyaan orang itu juga membenak di kepala saya. Dan menurut saya, jawaban Wallach saat itu terlalu menyederhanakan. Entah memang itu jawaban yang ada di kepalanya, atau ia cuma sedang malas menjawab saja.

Kita bisa bersepakat bahwa setiap budaya tanding punya daya ubah. Tapi seberapa besar pengaruhnya? Bagaimana ia bekerja? Hingga level mana? Cukupkah lagu-lagu itu ‘menginspirasi’ massa — bukan cuma individu — untuk bergerak? Dan yang paling penting, apakah perubahan pada skala individu atau kelompok kecil dapat berpengaruh terhadap situasi yang lebih makro?

Tanpa ekosistem, sebuah elemen radikal – lirik lagu, misalnya – tidak akan berarti apa-apa. Sebuah laku budaya bisa dianggap memiliki daya ubah hanya apabila ia bekerja secara sistemik sehingga memengaruhi situasi yang lebih luas. Lebih jauh lagi, ia mampu menandingi ekosistem arus utama.

Ucok pernah bertutur dengan sinis: “Kalau sekadar soal musik sebagai produk artistik yang menghipnotis massa dan meruntuhkan tirani, saya rasa itu cuma dongeng.” Memang, musik tidak akan meruntuhkan tirani. Musik cuma bakal menarik tirani untuk menonton, mendengar, dan ikut bernyanyi. (*)

 

Sumber: Jurnal Ruang

Advertisements

Sejarah Kancah Musik Indonesia

Oleh Anonim
Saya mencoba menyelamatkan sebuah arsip menarik yang penting tentang runutan sejarah perkembangan musik Rock Di Tanah Air. Untuk referensi dan sumber yang saya dapatkan dari hasil Googling ternyata berada dalam arsip mail seseorang. Silakan nikmati, niscaya anda akan seperti saya, yang terkaget-kaget membacanya. (Andrias)

Awal Mula

Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia.

Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones, hingga ELP.

Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album ketiga God Bless, “Semut Hitam”, yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.

Menjelang akhir era 80an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi “gods”-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut.

Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal.

Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (G ‘n R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary). Beberapa band di atas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal, Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi sekolah lama’, bangga menjadi band cover version! Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia.

Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock n’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya majalah HAI, tabloid Citra Musik dan majalah Vista.

Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai istri oleh (alm.) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan juga mantan vokalis Rotor.

Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini. Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock underground
manggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café).

Di luar itu, pentas seni MA dan acara musik kampus sering kali pula di-‘infiltrasi’ oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).

Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia, Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama setelah Sepultura sukses ‘membakar’ Jakarta dan Surabaya, band speed metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawah label Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album speed metal klasik Indonesia era 90an. Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, “Behind The 8th Ball” (AIRO).

Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim) lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding band seangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, Aquarius Musikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album “The Head Sucker”. Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.

Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air, mungkin baru di paruh pertama dekade 90an lah mulai banyak terbentuk scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal sering
terlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan internasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah.

Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin mengilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul “It’s A Proud To Vomit Him”. Album ini direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta, dengan sound engineer Harry Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan PAS).

Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground pertama di Jakarta, Brainwashed Zine. Edisi pertama Brainwashed terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay out cut n’ paste tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska.

Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997 Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di internet (www.bisik.com). Media-media serupa yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid Noise Zine, Gerilya Zine, Rottrevore Zine, Cosmic Zine dan
sebagainya.

29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café. Acara bernama “Underground Session” ini digelar tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaek Ahmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif.

Lahirnya scene brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Bequiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di sana, “Subnormal Revolution”, yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster Café di luar dugaan malah banyak melahirkan venue-venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie.

Café Kupu- Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 Café dan Café Gueni di Cikini untuk scene brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super-sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi.

Di antara semuanya, mungkin yang paling netral dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yang terletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen menghabisi riwayat mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen: Last Show Ever”, sebuah rentetan show akhir band Bandung ini sebelum membubarkan diri.

Scene Punk/Hardcore/Brit/Indie Pop

Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang diawal kiprahnya sering mengcover lagu-lagu Sex Pistols lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawk-nya. Uniknya, pada perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre british/indie pop ala The Stone Roses.

Konon, peristiwa historik ini kemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997 mereka sempat merilis album debut bertitel “…Jang Doeloe”. Generasi awal dari scene brit pop ini antara lain adalah Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V, Parklife dan Death Goes To The Disco.

Pestol Aer memang bukan band punk pertama ibukota. Di tahun 1989 sempat lahir band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II, pada akhir 1994. Album debut Antiseptic sendiri yang bertitel “Finally” baru rilis delapan tahun kemudian (1997) secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang memainkan musik ala Jane’s Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak sempat merilis rekaman.

Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots yang awalnya sering manggung mengcover lagu-lagu The Exploited. Tidak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel “Living Comfort In Anarchy” via label indie Movement Records. Komunitas-komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90an tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di Rawamangun.

Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth Against Fascism, Antiseptic, Straight Answer, Dirty Edge dan sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.

Scene Bandung

Di Bandung sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yang menjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya Studio Reverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio ini digagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketika semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro (akronim dari distribution store) yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya.

Selain distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang bertitel “Masaindahbangetsekalipisan”. Band-band indie yang ikut serta di kompilasi ini antara lain adalah Burgerkill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta.

Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain PAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel “Four Through The S.A.P” ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm.) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas tak bernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta.

Yang mengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End dari album Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamar Krisna. Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salah satu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002 sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) dan Puppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya, “Self-titled”. Album ini kemudian dibantu promosinya oleh majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonus kaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.

Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuah komunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana: Komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri Studio Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macam Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic Membrane, Infamy, Burgerkill dan sebagainya.

Di sinilah kemudian pada awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama Revograms Zine. Editornya, Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yang memiliki single unik berjudul “Golok Berbicara”. Revograms Zine tercatat sempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-band metal/hardcore lokal maupun internasional.

Kemudian tak lama kemudian fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestyle-nya. Trolley bangkrut tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis. Serunya di Bandung tak hanya musik ekstrim yang maju tapi juga scene indie popnya.

Sejak Pure Saturday muncul, berbagai band indie pop atau alternatif, seperti Cherry Bombshell, Sieve, Nasi Putih hingga yang terkini seperti The Milo, Mocca, Homogenic. Begitu pula scene ska yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum trend ska besar. Band seperti Noin Bullet dan Agent Skins sudah lama mengusung genre musik ini.

Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di-`baptis’ di sini belum afdhal rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiket masuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala oleh para calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini.

Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burgerkill, band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini. Belum lagi majalah Trolley (RIP) dan Ripple yang seakan menjadi reinkarnasi Aktuil di jaman sekarang, tetap loyal memberikan porsi terbesar liputannya bagi band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T. Coba cek webzine Bandung, Death Rock Star (www.deathrockstar.tk) untuk membuktikannya. Asli, kota yang satu ini memang nggak ada matinya!

Scene Jogjakarta

Kota pelajar adalah julukan formalnya, tapi siapa sangka kalau kota ini ternyata juga menjadi salah satu scene rock underground terkuat di Indonesia? Well, mari kita telusuri sedikit sejarahnya. Komunitas metal underground Jogjakarta salah satunya adalah Jogja Corpse Grinder (JCG). Komunitas ini sempat menerbitkan fanzine metal Human Waste, majalah Megaton dan menggelar acara metal legendaris di sana, Jogja Brebeg. Hingga kini acara tersebut sudah terselenggara sepuluh kali! Band-band metal underground lawas dari kota ini antara lain Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, Ruction.

Untuk scene punk/hardcore/industrial-nya yang bangkit sekitar awal 1997 tersebutlah nama Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti. Sedangkan untuk scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut di-highlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop sampai The Monophones. Selain itu, band ska paling keren yang pernah terlahir di Indonesia, Shaggy Dog, juga berasal dari kota ini.

Shaggy Dog yang kini dikontrak EMI belakangan malah sedang asyik menggelar tur konser keliling Eropa selama 3 bulan! Kota gudeg ini tercatat juga pernah menggelar Parkinsound, sebuah festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Parkinsound #3 yang diselenggarakan tanggal 6 Juli 2001, di antaranya menampilkan Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch hingga Mesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene underground rock di Surabaya bermula dengan semakin tumbuh-berkembangnya band-band independen beraliran death metal/grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Sejarah terbentuknya berawal dari event Surabaya Expo (semacam Jakarta Fair di DKI – Red) dimana band- band underground metal seperti, Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, Bushido manggung di sebuah acara musik di event tersebut.

Setelah event itu, masing-masing band tersebut kemudian sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen. Base camp dari organisasi yang tujuan dibentuknya sebagai wadah pemersatu serta sarana sosialisasi informasi antar musisi/band underground metal ini waktu itu dipusatkan di daerah Ngagel Mulyo atau tepatnya di studio milik band Retri Beauty (band death metal dengan semua personelnya cewek, kini sudah bubar–Red). Anggota dari organisasi yang merupakan cikal bakal terbentuknya scene underground metal di Surabaya ini memang sengaja dibatasi hanya sekitar 7-10 band saja.

Rencana pertama Independen waktu itu adalah menggelar konser underground rock di Taman Remaja, namun rencana ini ternyata gagal karena kesibukan melakukan konsolidasi di dalam scene. Setelah semakin jelas dan mulai berkembangnya scene underground metal di Surabaya pada akhir bulan Desember 1997 organisasi Independen resmi dibubarkan. Upaya ini dilakukan demi memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya organisasi Independen, divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buah album milik band-band death metal/grindcore Surabaya. Misalnya debut album milik Slowdeath yang bertitel “From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction” (September 1996), debut album Dry berjudul “Under The Veil of Religion” (1997), Brutal Torture “Carnal Abuse”, Wafat “Cemetery of Celerage” hingga debut album milik Fear Inside yang bertitel “Mindestruction”. Tahun-tahun berikutnya barulah underground metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan album milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Sebagai ganti Independen kemudian dibentuklah Surabaya Underground Society (S.U.S) tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 45, saat diselenggarakannya event AMUK I. Saat itu di Surabaya juga telah banyak bermunculan band-band baru dengan aliran musik black metal. Salah satu band death metal lama yaitu, Dry, kemudian berpindah konsep musik seiring dengan derasnya pengaruh musik black metal di Surabaya kala itu.

Hanya bertahan kurang lebih beberapa bulan saja, S.U.S di tahun yang sama dilanda perpecahan di dalamnya. Band-band yang beraliran black metal kemudian berpisah untuk membentuk sebuah wadah baru bernama Army of Darkness yang memiliki basis lokasi di daerah Karang Rejo. Berbeda dengan black metal, band-band death metal selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru.

Selanjutnya di bulan September 1997 digelar event AMUK II di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai event paling sukses di Surabaya kala itu. Sebanyak 25 band death metal dan black metal tampil sejak pagi hingga sore hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang. Arwah, band black metal asal Bekasi juga turut tampil di even tersebut sebagai band undangan.

Scene ekstrem metal di Surabaya pada masa itu lebih banyak didominasi oleh band-band black metal dibandingkan band death metal/grindcore. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black metal karena banyaknya jumlah band black metal yang muncul. Tercatat kemudian event black metal yang sukses digelar di Surabaya seperti Army of DarknessI dan II.

Tepat tanggal 1 Juni 1997 dibentuklah komunitas underground Inferno 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada (Jl. Prof. DR. Moestopo-Red). Di tempat yang agak mirip dengan rumah-toko (ruko) ini tercatat ada beberapa divisi usaha yaitu, distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet dan event organizer untuk acara-acara underground di Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh Inferno 178 antara lain adalah, Stop The Madness, Tegangan Tinggi I & II, hingga Bluekhutuq Live.

Band-band underground rock yang kini bernaung di bawah bendera Inferno 178 antara lain, Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, Bluekuthuq dan sebagainya. Fanzine metal asal komunitas Inferno 178, Surabaya bernama Post Mangled, pertama kali terbit kala itu di event Tegangan Tinggi I di kampus Universitas Airlangga dengan tampilnya band-band punk rock dan metal.

Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah event black metal. Sayangnya, hal ini juga diikuti dengan mandegnya proses penggarapan Post Mangled Zine yang tidak kunjung mengeluarkan edisi terbarunya hingga kini.

Maka, untuk mengantisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene, lahirlah kemudian Garis Keras Newsletter yang terbit pertama kali bulan Februari 1999. Newsletter dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman itu banyak mengulas berbagai aktivitas musik underground metal, punk hingga HC tak hanya di Surabaya saja, tetapi lebih luas lagi. Respons positif pun menurut mereka lebih banyak datang justru dari luar kota Surabaya itu sendiri.

Entah mengapa, menurut mereka publik underground rock di Surabaya kurang apresiatif dan minim dukungannya terhadap publikasi independen macam fanzine atau newsletter tersebut. Hingga akhir hayatnya Garis Keras Newsletter telah menerbitkan edisinya hingga ke-12.

Divisi indie label dari Inferno 178 paling tidak hingga sekitar 10 rilisan album masih tetap menggunakan nama Independen sebagai nama label mereka. Baru memasuki tahun 2000 yang lalu label Inferno 178 Productions resmi memproduksi album band punk tertua di Surabaya, The Sinners yang berjudul “Ajang Kebencian”.

Selanjutnya label Inferno 178 ini akan lebih berkonsentrasi untuk merilis produk-produk berkategori non-metal. Sedangkan untuk label khusus death metal/brutal death/grindcore dibentuklah kemudian Bloody Pigs Records oleh Samir (kini gitaris Tengkorak) dengan album kedua Slowdeath yang bertitel “Propaganda” sebagai proyek pertamanya yang dibarengi pula dengan menggelar konser promo tunggal Slowdeath di Café Flower sekitar bulan September 2000 yang dihadiri oleh 150-an penonton. Album ini sempat mencatat sold out walau masih dalam jumlah terbatas saja. Ludes 200 keping tanpa sisa.

Scene Malang

Kota berhawa dingin yang ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Surabaya ini ternyata memiliki scene rock underground yang ‘panas’ sejak awal dekade 90-an. Tersebutlah nama Total Suffer Community (T.S.C) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rock underground di Malang sejak awal 1995. Anggota komunitas ini terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, namun dominasinya tetap saja anak-anak metal. Konser rock underground yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini.

Acara bertajuk “Parade Musik Underground” tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai (grindcore), Ritual Orchestra (black metal), Sekarat (death metal), Knuckle Head (punk/hc), Grindpeace (industrial death metal), No Man’s Land (punk), The Babies (punk) dan juga band-band asal Surabaya, Slowdeath (grindcore) serta The Sinners (punk).

Beberapa band Malang lainnya yang patut diberi kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor style brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yang bertitel “Maggot Sickness” saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top notch.

Belakangan band ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast zine yang diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yang kini eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Sementara indie label pionir yang hingga kini masih bertahan serta tetap produktif merilis album di Malang adalah Confused Records.

Scene Bali

Berbicara scene underground di Bali kembali kita akan menemukan komunitas metal sebagai pelopornya. Penggerak awalnya adalah komunitas 1921 Bali Corpse Grinder di Denpasar. Ikut eksis di dalamnya antara lain, Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit di Jogjakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal Indonesia Corpsegrinder (kini Anorexia Orgasm) sejak 1998, Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali dan Moel adalah gitaris/vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser underground di sana. Nama 1921 sebenarnya diambil dari durasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise pada tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser underground besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- band luar Bali adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Jogjakarta).

Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival rock underground tahunan di sana. Salah satu alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead (SID). Mereka malah menjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tiga mereka dalam waktu dekat (tidak diketahui pertama kali catatan ini terbit-Red).

Memasuki era 2000-an scene indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan SID memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh SID secara konkret sudah membuktikan kalau band `putera daerah’ pun sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer SID, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara rock reguler di tempat ini.

Indie Indonesia Era 2000-an

Bagaimana pergerakan scene musik independen Indonesia era 2000-an? Kehadiran teknologi internet dan e-mail jelas memberikan kontribusi besar bagi perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan (networking) antar komunitas ini semakin luas di Indonesia. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan style musik yang lebih beragam. Trend indie label berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga menggembirakan, minimal ini adalah upaya pendokumentasian sejarah yang berguna puluhan tahun ke depan.

Yang menarik sekarang adalah dominasi penggunaan idiom`indie’ dan bukan underground untuk mendefinisikan sebuah scene musik non-mainstream lokal. Sempat terjadi polemik dan perdebatan klasik mengenai istilah `indie’ atau ‘underground’ ini di tanah air. Sebagian orang memandang istilah `underground’ semakin bias karena kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground yang ‘sell-out’, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga puluhan ribu keping.

Sementara sebagian lagi lebih senang menggunakan idiom ‘indie’ karena lebih elastis dan, misalnya, lebih friendly bagi band-band yang memang tidak memainkan style musik ekstrem. Walaupun terkesan lebih kompromis, istilah indie ini belakangan juga semakin sering digunakan oleh media massa nasional, jauh meninggalkan istilah ortodoks `underground’ itu tadi.

Di tengah serunya perdebatan indie/underground, major label atau indie label, ratusan band baru terlahir, puluhan indie label ramai-ramai merilis album, ribuan distro/clothing shop dibuka di seluruh Indonesia. Infrastruktur scene musik non-mainstream ini pun kian established dari hari ke hari. Mereka seakan tidak peduli lagi dengan polarisasi indie-major label yang makin tidak substansial. Bermain musik sebebas mungkin sembari bersenang-senang lebih menjadi `panglima’ sekarang ini.

…And history is still in the making here…..

 

Sumber: andrias-secangkirkopipagi.blogspot.co.id

Menakar Resistensi Kultural Dalam Musik

Oleh Idhar Resmadi

Sekitar dua tahun lalu, sebuah konser bertajuk Brutalize in Darkness yang diselenggarakan di Bogor, Jawa Barat, sempat jadi buah bibir di media sosial. Acara yang diorganisir oleh Ki Gendeng Pamungkas ini diramaikan oleh band-band Metal yang sudah tidak asing lagi, seperti band Black Metal asal Norwegia, Gorgoroth, dan band Death Metal asal Belanda, Disavowed. Jagoan-jagoan lokal yang kerap tampil di kancah Metal dalam negeri seperti Burgerkill, Down For Life, hingga Dajjal pun turut meramaikan helatan tersebut.

Namun, kontroversi dimulai ketika Ki Gendeng Pamungkas tiba-tiba mengeluarkan pernyataan bernada rasis terhadap etnis Tionghoa. Politikus sekaligus paranormal itu dianggap menyebarkan hasutan dan kebencian. Imbasnya, Burgerkill dan Down For Life mundur dari acara tersebut. Bahkan, Burgerkill menulis pernyataan melalui akun Twitter resmi mereka: “Maaf kami tidak bisa ikut dengan pergerakan anti-ras tertentu. Metal yang kami percaya adalah musik yang tidak peduli ras dan latar belakang penggemarnya”. Sedangkan dalam akun Twitter-nya, band Down For Life menulis: “Kami memutuskan MUNDUR dari acara Brutalize in The Darkness di Bogor tanggal 10 Mei 2015 sampai ada klarifikasi dari panitia tentang propaganda rasisme”.

Dalam kasus ini, Pamungkas memakai musik Metal untuk menyuarakan ideologi nasionalisnya – walau tentu saja nasionalis salah kaprah – dan menyebar kebencian terhadap etnis tertentu yang menurutnya mengancam “Pribumi”. Upaya yang dilakukan oleh Ki Gendeng Pamungkas mengingatkan saya bahwa musik tak pernah sekadar menjadi komoditas ekonomi. Sepanjang perjalanannya, musik telah menjadi arena pertarungan atau kontestasi dalam bentuk politik dan ideologi. Sebagai medium kebudayaan yang populer dan memiliki daya tarik luar biasa, mustahil untuk tidak melihat potensi ini di musik.

Di Indonesia, seruan yang menautkan sentimen etnis dengan agama memang bukan hal baru. Sebelum insiden Pamungkas, pada tahun 2010 lalu muncul komunitas Metal Satu Jari yang dikomandoi oleh Ombat, vokalis dari grup Tengkorak. Komunitas ini membaurkan simbol-simbol agama ke dalam praktik musik Metal – misalnya, tanda devil horns yang diganti dengan lambang salam satu jari (dianggap merepresentasikan ke-Esaan Tuhan), serta lirik-lirik yang bernafaskan semangat Anti-Zionisme.

Akhirnya, pertanyaan lebih jauh kemudian muncul. Kenapa musik memiliki kaitan erat dengan ideologi, dan justru menjadi roda fasisme baru lewat sentimen berbau agama dan suku/etnis?

Beberapa tahun terakhir, musik selalu hadir sebagai suatu arena kontestasi ideologi yang diskursif, dan mulai rajin menyentuh isu-isu agama, etnis, dan spiritualitas – terutama di kancah musik Metal dan Punk. Kita bisa melihat bagaimana perkembangan atau dinamika musik lokal melahirkan praktik-praktik estetika yang bersifat hibrid. Mulai dari Metal Kasundaan, Punk Islam, Black Metal Kejawen, Hip Hop Jawa, hingga Metal Islam.

Di satu sisi, kita bisa memandang ini sebagai bentuk eksplorasi atau inovasi musikal. Namun, di sisi lain kita bisa melihat hal ini sebagai resistensi identitas yang justru meruncingkan semangat chauvinisme dan kebencian terhadap suku atau etnis tertentu.

Dalam konteks budaya populer, hal-hal yang bersifat hibrida seperti ini memang tidak aneh, terutama setelah kita memasuki era globalisasi yang justru berdampak pada terjadinya penyeragaman budaya. Malah, proses-proses diskursif inilah yang mendefinisikan identitas sebagai sesuatu yang cair, dinamis, dan tidak pernah ajeg.

Deleuze dan Guattari melihat kebudayaan sebagai rhizome, yang di dalamnya setiap unsur berhubungan – berinteraksi, berdialog, bersintesis, dan berkontestasi satu dengan yang lainnya. Budaya yang terbangun berdasarkan prinsip ini adalah budaya yang tidak berhenti menghubungkan rantai semiotik, tanda, simbol, makna, pengetahuan, dan kode-kode budayanya dengan kebudayan lain, dalam rangka menciptakan makna, pengetahuan, dan relasi sosial yang baru. Singkat kata, ia adalah kebudayaan yang tidak pernah berhenti berproses.

Oleh karena itu, tidak mengejutkan bahwa musik Metal – sebagai bentuk kebudayaan – terbentuk dari berbagai kontestasi yang terjadi di masyarakat yang melahirkannya, termasuk persoalan etnis dan agama. Jika konteks lokal ditelaah lebih jauh, sejarah musik Metal di Indonesia tentu berkelindan erat dengan kapitalisme global yang hadir di Indonesia, dan merekonstruksi gaya hidup dan nilai anak muda yang tumbuh besar mendengarkan musik Metal. Dengan memandang musik sebagai bentuk budaya, maka musik populer sesungguhnya bisa berfungsi sebagai media untuk membangun makna, dan karena itulah ia menjadi medan pertarungan hegemoni dan resistensi (Ibrahim, 2011: 49).

Resistensi Kultural

Resistensi kultural adalah kesadaran dan kemampuan individu untuk mengartikulasikan makna-makna alternatif terhadap konstruksi kelompok dominan. Resistensi ini juga menekankan kekuatan wacana dan simbol untuk mengorganisir dan mengaktifkan identitas kolektif, dan mewujud melalui jalan perubahan performatif seperti teater protes, lagu-lagu perlawanan, dan tarian perlawanan. (Boal, 1985, 1998; Chaterjee, 204, Hashmi, 2007, dalam Ibrahim, 2011: 47) Perlawanan beragam rupa ini tidak pernah jauh dari gagasan tentang kekuasaan, ketidakadilan, dan perubahan sosial.

Tentu, kita perlu membedakan musik dari ranah populer dan industri yang cenderung berorientasi pasar dan diproduksi massal, dengan musik subkultural yang lebih ‘bawah tanah’, resisten dan ideologis. Dalam musik independen di ranah subkultur, resistensi kultural berujung pada perlawanan terhadap institusi kekuasaan yang mapan dan dominan di masyarakat – yaitu negara, agama, dan kapitalisme global. Musik subkultural kemudian memosisikan diri sebagai subordinat yang ‘melawan’ kemapanan tersebut melalui beragam makna, simbol, dan tanda sebagai bentuk ekspresinya. Punk dan Hardcore, misalnya, muncul sebagai katarsis bagi para pemuda galau yang resah dengan kebijakan negara di Amerika Serikat dan Inggris yang neo-liberal dan meminggirkan kelas pekerja.

Selain negara dan kapitalisme global, resistensi kultural yang terjadi di musik juga memunculkan relasi berbeda antara musik subkultural dengan wacana agama. Musik Black Metal di Norwegia, misalnya, muncul sebagai bentuk resistensi terhadap kemapanan wacana agama Kristen. Tak hanya melalui lirik dan musik, perlawanan kancah Black Metal mewujud dalam tindakan nyata seperti pembakaran gereja-gereja yang menyebabkan ditangkapnya Varg Vikernes, vokalis grup Black Metal legendaris Burzum. Maka, musik muncul sebagai salah satu wadah untuk kontestasi dan komodifikasi ideologi.

Alasan untuk munculnya kantung-kantung kecil perlawanan ini sebetulnya sederhana. Ketika negara, agama, dan kapitalisme global yang masuk melalui budaya populer dianggap tidak memuaskan lagi oleh penikmat musik, mereka mencari simbol dan tatanan nilai baru melalui bentuk kebudayaan yang lebih hibrid. Hibriditas ini pun tidak mentok pada eksplorasi di ranah musikal, namun juga merambah ke tataran nilai dan simbol.

Menalar dan Menakar Indonesia

Persoalan serupa terjadi pula di Indonesia. Penikmatan mereka terhadap musik Metal – yang tentu saja adalah produk ‘Barat’ – berjalan seiring dengan ketidakpuasan mereka terhadap nilai-nilai yang dibawa oleh budaya Barat. Kemunculan praktik musik yang hibrid seperti Metal Islam, Black Metal Kejawen, Metal Sunda dan kawan-kawannya lahir dari kegamangan ini. Musik Metal yang dibawa oleh kapitalisme global dinilai tak ‘berbicara’ pada identitas mereka, dan tak mampu memberi pemaknaan yang memuaskan terhadap identitas serta kehidupan mereka sehari-hari.

Resistensi pun muncul, musik Metal dimodifikasi, dan mereka mulai mencari sesuatu yang bisa dijadikan “pegangan” nilai berikutnya. Yang jadi menarik adalah, sekalipun mereka telah menemukan pegangan nilai baru, mereka tetap mengekspresikan nilai-nilai tersebut melalui musik Metal.

Telaah terhadap hal-hal yang berbau etnik dan tradisional, misalnya, bisa kita baca sebagai resistensi yang lahir dari ketidakpuasan terhadap “homogenisasi” budaya yang dibawa oleh kapitalisme global. Sedangkan, simbol-simbol agama digunakan oleh komunitas Metal Satu Jari untuk melawan wacana Zionisme dan Kapitalisme yang – menurut hemat mereka – banyak merusak akhlak dan moral anak muda di Indonesia. Wacana ini mereka lawan dengan nilai-nilai Islam yang mereka syi’arkan (lagi-lagi) melalui musik Metal.

Merujuk pada pernyataan Mark Levine dalam buku Heavy Metal Islam (2008), pengalaman umat Islam saat ini terkait erat dengan kulturalisasi politik dan ekonomi sebagai momen yang menegaskan terjadinya globalisasi. Umat Islam saat ini melihat kehadiran globalisasi – atau dalam konteks ini, “Westernisasi” – dalam bidang politik, ekonomi, gaya hidup, dan budaya sebagai bentuk ghazwul fikri atau perang pemikiran. Di Indonesia, komunitas Islam di Indonesia mendapuk wacana abstrak “Westernisasi” sebagai musuh bersama yang patut diruntuhkan. Menariknya, wacana Barat ini justru mereka lawan dengan simbol kultural Metal, yang masuk ke Indonesia gara-gara “Westernisasi” itu sendiri.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa gerakan ini paradoksikal. Namun, di sisi lain, kita tak bisa menyangkal bahwa mereka mulai menemukan momentum dan mengakar di kalangan anak muda. Terlepas dari mundurnya Down for Life dan Burgerkill – dua nama besar di kancah Metal – dari konser Brutalize in Darkness, faktanya konser tersebut tetap berlangsung, dan Disavowed, legenda Death Metal dari Belanda, tetap datang dan tampil. Penonton pun didominasi oleh anak muda, yang entah tidak peduli, tidak tahu, atau – dan ini skenario terburuk – justru mengamini sentimen rasis yang digaungkan oleh Ki Gendeng Pamungkas. Upaya melakukan wacana tandingan pun dilakukan Wendi Putranto, seorang jurnalis musik, dengan membuat gelaran bertajuk “Metal Untuk Semua”. Gerakan ini seolah berusaha ‘menandingi’ wacana komunitas Metal Satu Jari, yang dinilai berpotensi memunculkan kembali sentimen fasisme.

Pada praktiknya, di tengah era globalisasi di mana sistem nilai menjadi beragam, selalu akan terjadi pertarungan atau kontestasi ideologi yang menjadikan musik sebagai kendaraan. Walau hanya terjadi di komunitas-komunitas yang terbilang ‘kecil’ dan tidak masuk radar arus utama, sejatinya perlawanan yang mewujud melalui Metal Satu Jari, Brutalize in Darkness, hingga Black Metal Kejawen adalah gejala sekaligus cermin dari perubahan lebih besar yang terjadi di masyarakat. Bahwa kita adalah bangsa yang tengah gamang – mengelu-elukan sekaligus mempersoalkan perubahan kultural yang seolah-olah terus ‘menyerang’ identitas budaya, agama, dan negara kita.

 


Tentang Penulis

Idhar Resmadi adalah dosen dan penulis. Bisa dikunjungi di alamat: www.idhar-resmadi.net

 


Bacaan

Pilliang, Yasraf Amir. 2011. “Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan.” Penerbit Matahari: Bandung

Ibrahim, Idy Subandi. 2011. “Aku Bernyanyi Menjadi Saksi: Hidup, Gitar, dan Perlawanan dalam Balada Musik Iwan Fals.” Penerbit Fiskontak: Bandung dan Jakarta

http://inpasonline.com/new/respon-umat-islam-terhadap-globalisasi/

http://www.punkjews.com/

https://tirto.id/ki-gendeng-dan-rasialisme-di-kancah-musik-metal-indonesia-couf

https://ruang.gramedia.com/read/1496924812-the-taqwacores-dan-islam-yang-resah

 

Sumber: Ruang Gramedia

Moderasi Islam dalam Musik Metal

Oleh Putrawan Yuliandri

Membincang Islam dalam beragam artefak kebudayaan populer Indonesia kontemporer (termasuk di dalamnya musik metal) merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan. Selain karena faktor mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim (Maarif dikutip dalam Wahid, 2009: 7). Dinamika politik di masa akhir rezim Orde Baru yang membangun hubungan mesra dengan Islam menentukan perkembangan politik Islam selanjutnya, baik di masa awal pasca Orde Baru – hingga saat ini (Heryanto, 2012: 19). Hasilnya adalah peningkatan politik Islami di kalangan masyarakat Indonesia yang terus-menerus menguat. Hal ini ditandai dengan maraknya simbol-simbol Islam di ruang publik, penerapan hukum Syariah di beberapa daerah dan peningkatan gaya hidup Islami dikalangan masyarakat muda perkotaan (Heryanto, 2015).

Dalam konteks yang lebih luas, realita ini membingkai narasi besar kebangkitan Islam (Islamisasi) di Indonesia, atau bahkan sebuah kondisi atau proyek post-Islamisme (Bayat, 2002 dikutip dalam Heryanto, 2015). Gejala ini dapat dilihat melalui praktik Islamisasi yang lebih luwes dalam ranah kebudayaan populer. Seperti misalnya, banyaknya kaum muda perkotaan yang ingin tetap menikmati selera kebudayaan dan kemerdekaan terhadap modernitas, tanpa mengorbankan keimanannya atau status identitasnya sebagai pemeluk Islam (Heryanto, 2015: 53).

Konser musik metal sebagai proyek Islamisasi

Minggu 30 Oktober 2016 di Bulungan Outdoor, tempat yang tidak asing bagi penikmat musik metal atau metalhead untuk melakukan ritus kulturalnya yakni, menonton konser. Bagi seorang metalheadseperti saya, Kawasan Bulungan Jakarta Selatan menjadi semacam simbol para metalhead Jakarta merebut ruang publik sekaligus menunjukkan eksistensinya. Menjelang tengah malam, saya menyaksikan penyerahan donasi uang sebesar Rp. 54.361.000,- untuk korban perang saudara di Suriah. Rencananya, dana tersebut akan digunakan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), sebuah organisasi kemanusiaan di bidang medis, untuk membeli sebuah unit mobil ambulans, melalui program MER-C “Ambulance(s) and Medical Aid for Syria”. Hadir di atas panggung adalah Husein Alatas (runner up Indonesian Idol 2014 sekaligus vokalis Children of Gaza) yang secara simbolik menyerahkan baki berisi uang kepada Ir. Faried Thalib (Presidium MER-C) dan Ir. Idrus M. Alatas (Ketua Divisi Konstruksi MER-C)[1].

Penyerahan dana dari hasil penjualan tiket dan lelang merchandiseband ini merupakan susunan acara terakhir dari konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria” yang diprakarsai oleh Metalheads Respect. Metalheads Respect adalah sebuah simpul kolektif dari para grup musik metal yang secara sukarela mengadakan konser amal untuk menghimpun dana. Mengusung slogan “dari metalheads, oleh metalheads untuk kemanusiaan”, konser-konser ini diadakan sebagai bentuk solidaritas komunitas metal terhadap beragam musibah yang terjadi di dunia dan Indonesia.

Ketika saya mewawancarai Mehdy, vokalis Melody Maker dan pengisi acara tersebut, ia menyatakan:

“Acara ini adalah murni salah satu bentuk aksi peduli kemanusiaan dari anak-anak metal kepada korban perang saudara di Suriah. Suriah adalah negara Muslim, saudara kita yang sedang dalam musibah. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak turun tangan membantu mereka. Sama seperti beberapa event charity sebelumnya untuk Palestina dan Rohingya[2].”

Saya tertegun dan cukup takjub mendengar pernyataan Mehdy yang memiliki empati luar biasa terhadap saudara Muslim di Suriah. Dalam benak saya kemudian, walaupun dibalut dengan aksi kemanusiaan, narasi kontemporer kebudayaan populer seperti ini setidaknya membingkai diskursus antara musik metal dan wacana kebangkitan Islam (Islamic Revivalism).

Meskipun bukan hal baru, preseden lain yang serupa namun bernuansa kental dengan praktik idoleogisasi Islam dalam musik metal telah terjadi sebelumnya pada awal 2010 lalu melalui beberapa momentum. Momentum pertama, melalui konser yang bertajuk Urban Garage Festival I. Acara konser musik yang diselenggarakan pada Maret 2010 di Rossi Music Center Fatmawati Jakarta Selatan ini menjadi penanda kemunculan gerakan politik kebudayaan Islam yang muncul dalam ranah musik metal.

Salah satu musisi metal senior yang menggaungkan gerakan baru ini adalah Ombat, vokalis dari kelompok musik metal Tengkorak. Dalam konser tersebut, ia mengumandangkan pergantian simbol metal yang tadinya berbentuk ‘kepala kambing’ atau biasa disebut baphomet[3], dengan salam tauhid satu jari yang berarti ikrar untuk mempercayai bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Esa. Menurut Ombat:

“Tidak ada patokan dalam simbol-simbol budaya metal. Simbol metal yang selama ini lekat dengan representasi kepala kambing (baphomet) merupakan simbol setan atau simbol yang digunakan oleh kaum Satanis (penyembah setan). Kita sebagai umat Islam tentu saja berperang dengan setan, makanya kita menggunakan simbol Tauhid. Kita tidak mau dijajah oleh budaya Barat melalui musik metal. Makanya, dengan budaya mereka kita menyerang balik. Kita ubah lirik lagu kita,  perilaku kita, kita jalanin juga agama kita”[4].

Melalui momentum tersebut, Ombat dan Tengkorak menyatakan dimulainya gerakan “Salam Satu Jari.”

Momentum kedua adalah acara lanjutan Urban Garage Festival II yang diadakan di lapangan basket SMA Yayasan Pendidikan Islam 45 di bilangan Bekasi, pada tanggal 16 Oktober 2010. Di sela-sela konser, para pengisi acara dan penonton shalat Isya berjamaah langsung di lapangan tersebut, bukan di Mushalla atau Masjid yang berada di lokasi konser. Grup musik yang tampil dalam acara ini serupa seperti kelompok musik yang tampil pada Urban Garage  Festival I. Yakni, grup musik metal yang memegang ideologi Islam, seperti Tengkorak, Purgatory, Children of Gaza, The Roots of Madinah, Qishash, Melody Maker dan lain sebagainya. Patut dicatat bahwa hasil penjualan tiket dari kedua konser ini didonasikan untuk membantu umat Muslim korban perang di Palestina.

Momentum selanjutnya yang tidak kalah penting, terjadi pada tanggal 25 Juli 2012. Salah satu grup musik kenamaan dalam kancah metal, Purgatory, memprakarsai konser yang bertajuk Approach Deen Avoid Sins I (ADAS I)[5]. Konser Approach Deen Avoid Sins I atau Dekati Agama Jauhi Dosa I dirancang sebagai sebuah ikhtiar restorasi keislaman dan syiar di kalangan metalheads. Dalam konser ini, Purgatory juga menyerukan untuk kembali ke “titik nol”, yaitu sebuah upaya sekaligus semangat untuk memulai dari awal gerakan perubahan budaya musik metal yang jauh dari nilai-nilai Islam dan mengembalikan Islam sebagai satu-satunya cara hidup.

Sekilas, suasana dalam tiga konser itu (Urban Garage Festival I, II dan ADAS I) tak jauh beda dengan konser metal pada umumnya: dipadati oleh metalheads berbaju hitam, berambut gondrong dan diringi dengan gemuruh musik. Namun, beberapa hal yang membedakan ialah adanya peraturan yang melarang para metalhead untuk mabuk-mabukan dan melakukan “tindakan pornoaksi” di lokasi konser. Selain itu, grup musik metal yang tampil tidak diizinkan untuk membawakan tema-tema lagu dan orasi yang bersifat atheis, bertentangan dengan nilai agama, berpotensi memecah-belah, mencemooh agama lain, dan mempromosikan paham-paham liberal, sekuler, dan lain sebagainya. Tradisi baru yang marak pada ketiga konser tersebut adalah adanya orasi kegamaan (Islam) dari grup musik yang tampil, dan sekali-sekali diselingi oleh pekikan takbir para metalhead.

Mengapa Konser?

Secara global, tradisi penyalahgunaan narkoba dan minuman keras di kalangan penonton maupun kelompok musik metal menjadi ritus yang tidak dapat dilepaskan dari peristiwa konser musik metal. Praktik subkultural adalah bentuk dari ekspresi akan kebebasan dan keluarnya para partisipan dari penindasan budaya dominan (Arnett, 1995). Selain itu, hal-hal dengan kecenderungan ‘negatif’ yang kerap diperlihatkan oleh budaya musik metal, merupakan gambaran psikologi sosial terhadap budaya kaum muda baik itu musisi ataupun penikmat musik metal (metalheads). Pada awal kemunculannya, tak dapat dipungkiri bahwa anak muda yang terlibat dalam kancah musik metal memiliki hasrat akan sensasi yang tinggi dan kehendak melakukan hal-hal yang baru, termasuk menyalahgunakan narkoba dan minum-minuman keras (Arnett, 1996: 80).

Kontras terhadap tradisi kultural yang dipraktikkan secara global, band seperti Purgatory dan Tengkorak ‘meminjam’ idiom kultural musik metal serta konser untuk menyebarluaskan syiar Islam. Walaupun terkesan paradoks, praktik apropriasi seni ini berhasil memantik perdebatan di ranah metal Indonesia. Kecendrungan paradoksikal ini dapat dilihat dari narasi ambivalen yang saya uraikan di atas. Para metalheads Satu Jari dengan senang hati menjadikan musik metal sebagai ‘kendaraan’ untuk berdakwah. Di sisi lain, mereka menolak elemen-elemen ekstra-musikal yang melekat dengan subkultur metal, yang dinilai tidak sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai agama Islam.

Dalam konteks kekinian, konsistensi syiar tetap tercermin pada salah satu grup musik metal, Purgatory. Selain terus terlibat dalam konser musik yang bertema Islam, mereka juga menginisiasi tradisi baru dalam praktik subkultural musik metal: membuat kelompok-kelompok diskusi dan kajian agama Islam. Walaupun diskusi ini dibuka untuk umum, mereka yang hadir dalam diskusi ini kebanyakan adalah MOGERZ, singkatan dari Messenger of God Lovers or Followers, julukan untuk fans Purgatory dan siapapun yang mengidentifikasi dirinya sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan data terakhir yang diakses melalui fanpage atau grup publik di laman Purgatory’s Official Group of Mogerz, pengajian sekaligus fansclub ini telah memiliki 10.545 anggota[6].

Penutup: Genre Baru – Metal Islam

Wacana penggabungan metal dan Islam (Metal Islam) yang digaungkan oleh grup musik Purgatory, Tengkorak, Melody Maker dan lain sebagainya dapat dilihat sebagai respon dan resistensi mereka terhadap hegemoni Barat. Hegemoni praktik kebudayaan Barat yang umumnya bercorak sekuler menjadi tantangan tersendiri tak hanya bagi pelaku subkultur metal Islam, namun juga bagi umat Islam secara umum.

Persoalan ini terangkum dalam pertanyaan klasik identitas Islam saat ini, yakni tantangan Islam dalam menghadapi modernitas. Islam dinilai harus selalu mawas diri terhadap berbagai dinamika dan perubahan sosio-kultural. Mengutip pemikiran Nurcholis Madjid, Islam adalah agama yang mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Islam memberi peluang bagi berlangsungnya perubahan dalam orientasi keagamaan dan kulturalnya, seperti tanggapannya terhadap tantangan waktu dan tempat, dan adaptasinya terhadap lingkungan temporal dan spasial yang berbeda beda (Madjid dikutip dalam Woodward, 1999: 105).

Gagasan Nurcholis Madjid merujuk pada salah satu surat dalam AlQuran (QS 2:62) yang menyatakan bahwa, “Kami tidak pernah mengutus seorang Utusan pun kecuali (untuk memberi pelajarandengan bahasa kaumnya, agar ia dapat membuat (segala sesuatunyajelas bagi mereka”.

Kemudian Nurcholis Madjid juga mengutip penafsiran Yusuf Ali dalam “The Holy Quran” atas ayat ini, berikut kutipannya:

Jika Pesan Suci (Risallah) adalah membuat sesuatu menjadi terang, maka ia harus disampaikan dalam bahasa yang digunakan di tengah masyarakat, yang kepada merekalah utusan itu dikirim. Melalui masyarakat tersebut, Pesan Suci itu dapat mencapai seluruh umat manusia. Bahkan ada pengertian yang lebih luas untuk ‘bahasa’. Ia tidak semata-mata masalah abjad, huruf, atau kata-kata. Setiap zaman atau masyarakat – atau dunia dalam pengertian psikologis – membentuk jalan pikirannya dalam cetakan atau bentuk tertentu. Pesan Suci Tuhan, karena bersifat universal, dapat diungkapkan dalam semua cetakan dan bentuk, dan sama-sama absah dan diperlukan untuk semua tingkatan manusia, dan karena itu harus diterangkan kepada masing-masing sesuai dengan kemampuannya atau daya penerimaannya. Dalam hal ini, Al-Quran menakjubkan. Ia sekaligus untuk orang yang paling sederhana dan untuk orang yang paling maju (Ali dikutip dalam Woodward, 1999: 106).

Keluwesan dan sifat universal AlQuran ini menjadikannya dinilai mampu beradaptasi dengan lingkungan kultural manapun – termasuk subkultur metal. Praksis musik metal Islam ini dinilai berhasil manakala banyak anak muda di subkultur metal merasa tergugah untuk kembali pada nilai-nilai Islam, tanpa berusaha keluar dari jalur musiknya.

Meski kondisi ini jelas paradoks, sentimen para metalheads Satu Jari tak jauh beda dengan pemikiran Madjid: ‘meminjam’ simbol-simbol budaya metal demi syiar Islam adalah praktik yang diperbolehkan, karena Islam sendiri dipandang sebagai agama yang universal dan mampu beradaptasi. Namun, mengutip Gellner (1981), upaya modernisasi Islam ini “harus berlangsung tanpa merusak keaslian dan otentisitasnya sebagai agama wahyu.”

Praktik pencipataan wacana Islam melalui musik metal yang dilakukan oleh kelompok Metal Satu Jari telah menjadi jalan para penikmat musik metal secara umum dalam membentuk identitas individualnya maupun identitas kolektifnya. Budaya populer – dalam hal ini musik metal – menjadi jalan para metalheads lokal untuk menemukan kembali nilai-nilai agama.

Terlepas dari soal apakah Metal Satu Jari berpotensi menjadi hegemoni baru di ranah musik metal Indonesia, metal Islam sebagai produk moderasi dapat dimaknai sebagai perkembangan genre baru dalam musik metal lokal.

 


Tentang Penulis

*Putrawan Yuliandri adalah lulusan Pascasarjana Fakultas Komunikasi UI. Pernah menjadi musisi metal bersama band Disagree. Memiliki minat yang tinggi pada kajian mengenai musik metal dan subkultur. Saat ini sedang menyelesaikan proyek buku mengenai musik metal dan Islam.

 


Catatan Kaki

[1] MER-C menjadi satu-satunya lembaga nirlaba penyalur dana sumbangan pada konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria”. Selain pada konser ini, MER-C juga pernah ikut menyalurkan dana sumbangan pada konser sebelumnya yaitu untuk membantu korban di Gaza Palsetina. Ulasan lengkap dapat dilihat melalui tautan dari laman : http://www.merc.org/index.php/Id/component/k2/item/791-dari-para-pecinta-musik-metal-untuk-suriah(diakses pada 27/05/2017)

[2] Kutipan ini adalah hasil obrolan saya di lokasi konser dengan Mehdy vokalis Melody Maker dan dilanjutkan dengan wawancara informal melalui email pada 24/11/2016

[3] Perdebatan mengenai simbol Baphomet (kepala kambing) sebagai simbol metal masih terus berlangsung, benang merah yang dapat ditarik mengenai sisi historisitas simbol ini, merujuk pada film dokumenter karya Samuel Dunn, Scot McFayden & Jessica Joy Wise (2005), yang berhasil mewawancarai Ronnie James Dio. Dio digadang-gadang sebagi orang yang menemukan dan mempopulerkan simbol Baphomet, sebagai sebuah simbol dari budaya metal. Dalam wawancara tersebut, Dio menjelaskan bahwa, simbol Baphomet atau tanduk kambing ini memiliki arti khusus yang diberikan oleh neneknya yang berasal dari Italy, sebagai sebuah simbol pertahanan diri dari niat jahat seseorang, kemudian simbol ini dipopulerkan Dio ketika konser-konser dihadapan para metalheads, hingga akhirnya diikuti olehmetalheads sebagai sebuah simbol metal. Kemudian, kontroversi mengenai simbol ini berlanjut, ketika simbol ini digunakan juga oleh Anton Szandor LaVey, seorang tokoh pendiri gereja setan (Church of Satan), sebagai tanda salam ketika menyembah Lucifer (iblis tertinggi), untuk lebih jelas mengenai Church Of Satan dapat dilihat pada situs: http://www.churchofsatan.com/pages/BaphometSigil.html (diakses pada 3/5/2016)

[4] Pernyataan ini adalah wawancara mendalam saya dengan Muhamad Hariadi Nasution atau yang akrab disapa Ombat pada 17 November 2012. Selain menjadi vokalis Tengkorak, Ombat juga disibukan dengan profesinya sebagai pengacara, wawancara ini pun dilakukan di kantor pengacara Ombat di Pesanggarahan Jakarta Selatan.

[5] Lihat ulasan lengkap mengenai konser Approach Deen Avoid Sins 1 versi Republika Online melalui situs:http://aqse2.blogspot.co.id/2010/08/republika-deen-avoid-sins.html diakses pada tanggal 3 Mei 2016

[6] diakses melalui laman fanpage Purgatory di facebook https://www.facebook.com/groups/78955924242/?fref=ts pada bulan Juni 2016

 


Daftar Pustaka

Gellner, Ernest. 1981. “Muslim Society.” Cambridge: Cambridge University Press.

Heryanto, Ariel (ed.). 2012. “Budaya Populer di Indonesia: Mencairnya Identitas Pasca Orde Baru.” Yogyakarta: Jalasutra

Heryanto, Ariel. 2015. “Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia.” Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.

Wahid, Abdurrachman (ed.). 2009. “Ilusi Negara IslamEkspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia.” Jakarta: The Wahid Institute

Wenstein, Deena. 2000. “Heavy MetalThe Music and Its Subcultures.” Cambridge: Da Capo Press.

Woodward, Mark R. Ed. 1999. “Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia” (Terjemahan Ihsan Ali Fauzi). Bandung: Mizan

Arnett, Jensen, Jeffrey. 1996. “Metalheads: Heavy Metal Music And Adolescent Alienation.” Boulder: West View Press

Sumber: Ruang Gramedia

Jalan Lain dan Batas Kompromi

Oleh Herry Sutresna

“What’s important about punk rock is its independence of government & of corporations & its network that exist outside of that. That is what is political…not the words, not the music as much as the independence…” —Tim Yohannan

Punk sudah lama mati. Itu pun jika memang pernah hidup di sini. Kecuali jika coretan-coretan Circle A di dinding-dinding kota, penampakan spikes di mall, kaos lusuh Discharge dan mohawk di perempatan jalanan kalian anggap demikian.

Pada satu siang, Kimung mengirim pesan teks. Dengan hawa sepanas siang itu seharusnya ia mengirim sebotol minuman dingin. Ia bertanya apakah saya berniat menulis tentang kondisi komunitas (musik) di Bandung hari ini. Dengan kesadaran penuh ia tahu bahwa saya sudah malas berurusan lagi dengan hal-hal seperti itu, pasti ada alasan penting baginya untuk bertanya demikian. Ia melanjutkan pesan teksnya dengan serentetan kegelisahannya tentang bagaimana hari ini komunitas terpeta-petakan relasi sosialnya berdasarkan program kampanye korporasi yang memberinya makan. Ini terdengar seperti album Strife pasca bubar lalu reunian. Baru tapi lama, nyaris redundan.

Tentu saja saya menolaknya. Saya menikmati waktu saya berjarak dengan urusan kritik-otokritik di wilayah yang hasilnya pun tak kemana-mana. Jika saya membutuhkan itu sekalipun, pastinya akan dilakukan dengan teh hangat dan lingkaran kecil obrolan. Kalau bisa di saat hujan.

Bukan karena tak tahan dengan segala label yang ditempelkan di jidat dan pantat, dari mulai Punk Police, Polisi Skena, Punk Khawarij atau Tukang Urus Urusan Orang. Namun lebih karena emansipasi ala punk tersebut tak lagi saya anggap sebagai kalimat dengan tanda seru. Lebih merupakan kata kerja. Seringnya bahkan bermain-main setelah bertemu dengan tanda tanya, dengan permasalahan nyata dan dengan kerendahan hati.

Membangun alternatif dari apa yang ada merupakan hal yang jauh lebih berguna dan produktif dibanding mencatat apapun yang tak saya sepakati di luar sana. Saya pernah berpikir mencatat pergulatan membenturkan ide dan praktek itu sama pentingnya dengan menjalani pilihan membangun alternatif  dan bisa dilakukan secara simultan. Tapi rasanya tidak demikian pasca beberapa tahun terakhir ini. Kritik otokritik hanya membuat yang melakukannya nampak seperti pertunjukan doger monyet. Hanya saja dalam hal ini tak ada yang tertawa. Sinis mungkin banyak.

Namun demikian saya sungguh sadar, Bandung pula bukan skena DC dengan Positive Force-nya. Dengan sejumlah kawan yang tersisa hari ini, sangat tidak mungkin untuk mengeliminir relasi sosial berdasarkan asosiasi mereka dengan korporasi besar.  Bukan karena saya tak yakin dengan pilihan dan konsekuensi dari pilihan saya. Namun jika tetap dilakukan, bisa-bisa saya nyaris tak punya teman. Untuk hal sepele seperti merilis rekaman dari band satu kota yang sirkulasi aktivitasnya intim di lingkaran komunitas saja sudah sulit, apalagi jika dilengkapi dengan syarat tak pernah berurusan dengan kampanye korporasi di komunitas. Bisa dibayangkan upaya lain yang lebih besar lagi seperti membangun ruang alternatif di kota misalnya.

Faktor itu sudah lama saya skip. Sejauh yang saya ingat, kritik saya pada helatan akbar di Gasibu lampau pun lebih karena terseretnya komunitas pada acara kampanye calon pemimpin daerah (baca: politik elektoral). Bukan persoalan ekspansi korporasi di tengah komunitas yang bahkan jauh hari sebelum saya menulis itu pun sudah saya anggap sebuah ‘bukan masalah’. Bagian dari ‘toleransi’. Pilihan kompromis.

Dan ketika suatu hari politik elektoral itu mentradisi dan kecenderungan baru hadir dalam modus lama, saya masih bisa memalingkan muka. Saya bisa tak peduli sejuta orang di komunitas ini beririsan dengan pemerintah kota dan walikotanya, selama saya masih punya banyak kawan yang masih bersepakat untuk membangun tradisi dan jejaring alternatif lain di luar itu semua. Melawan konformitas bersama-sama. Tapi rasanya saya keliru, atau mungkin memang terlalu berekspektasi tinggi. Karena saya sadar ‘banyak kawan’ dalam kalimat tadi adalah hiperbola, atau bisa disebut sebagai upaya menghibur diri sendiri ketika melihat realitasnya hanya tinggal ‘sedikit saja kawan’.

Tentu saja hal tersebut lagi-lagi bisa dikompromikan. Siapa bilang tidak bisa? Bisa kita pedulisetankan apapun yang pernah kita baca tentang ide-ide ‘alternatif’ itu. Ayolah, punk sudah bukan lagi sesuatu yang relevan. Eksistensinya sudah mirip parodi yang sulit dianggap lucu. Bagian dari jokes generasi milenial, hadir di meme-meme. Ia hanya stasiun pemberhentian sementara bagi kawan-kawan yang hari ini berumur 30/40-an. Bahkan sebagian besar mencampakkannya ketika umur belum mencapai 20-an. Bagian dari banyak cerita-cerita penyesalan orang “insyaf”. Seburuk itu memang punk.

Ayo kita tarik kendor lagi, siapa bilang tidak bisa? Tinggal kita hapus garis batas lama dan melihat sampai di mana garis kompromi yang baru. Sampai semua kawan disponsori partai? sampai semua rekan menjadi corong kampanye calon pemimpin daerah? bermain band di acara tentara? sampai semua teman beririsan dengan ormas fasis? sampai band metal kanan kiri kalian bermain di acara megaloman rasis? Lupakan semua etos punk yang tak lagi relevan itu, mari buat garis baru. Sampai mana? Kagok edan.

Punk memang tak pernah lagi relevan. Siapapun yang meredefinisinya akan kecolongan dan berteriak copet. Sama halnya dengan berharap para punks terlibat di dalam pergolakan sosial. Tentu kalian paham yang saya maksud. Bukan solidaritas sosial seperti donor darah, kerja bakti, membantu yang tidak beruntung dan hal-hal filantrofis lain. Jika itu yang dimaksud, tentu saya sudah melecehkan dengan amat sangat, seolah komunitas di Bandung tidak melakukan itu. Persis isi kotbah para pejabat menjelang Mayday.

Rentang waktu punk hadir sebagai pencerahan dengan tanda seru sudah lewat. Saya pernah bisa bersyukur, paling tidak masih menemukan teman yang masih sepakat untuk menjalani jalan lain itu. Itu sudah lebih dari cukup, sampai beberapa minggu kemarin ketika saya sadar saya keliru. Ada baiknya saya merevisi lagi makna dari ‘paling tidak’ yang biasa saya ingat-ingat. Mereka tetap teman, sahabat dan kerabat. Hanya saja “Jalan Lain” tak lebih dari sekedar judul buku almarhum Mansour Fakih. Tak lebih.

Saya tak lagi percaya kalimat “Punk Is Dead”, jangan-jangan memang punk tak pernah lahir di kota ini. Hanya desas-desus mitos yang kalian dengar pernah hadir di dua dekade lampau, atau dalam versi generiknya; berupa tajuk kecil “punk diciduk saat mengemis” di satu sudut kolom surat kabar tak terkenal. Fosil dan gaib. Saya hampir tak percaya saya membahasnya lagi.

Jika ada yang bertanya soal jejaknya, paling tidak hari ini saya bisa menunjuk ke segilintir kepala yang hadir pada penghadangan penggusuran di satu sudut kota, di sekitar berisik toa pada aksi solidaritas terhadap penangkapan petani Majalengka yang bergaung sampai ke Bandung seperti halnya ke kota lain. Di deretan buku yang dijejerkan saat aksi simbolik bagi kawan-kawan Perpustakaan Jalanan yang disikat militer di tengah kota kita sendiri, di antara rintik hujan menggotong pompa penyedot air hasil udunan menuju lokasi banjir di Bale Endah. Di ruang-ruang sempit kontrakan membuat ruang belajar alternatif dan lingkar studi koperasi. Tapi saya yakin, tak akan ada yang bertanya.

Saya menolak tawaran Kimung hari itu, pun tulisan ini bukan penggantinya. Di tengah badai perang politik identitas dan huru-hara politik elektoral, seharusnya ia mengirim saya satu termos minuman hangat. Dan saya masih menyukai album baru Strife pasca reunian meski terdengar generik dan redundan.

Sumber: gutterspit.com

Memelihara Nyala dan Berbagi Api: Sebuah Pengantar

Oleh Herry Sutresna

Skena musik Bandung memiliki sejarah yang cukup panjang jika melihat konteksnya dengan dinamika kota yang melahirkannnya. Berbicara tentang lahirnya komunitas musik yang mandiri di Bandung tak bisa dilepaskan dari persoalan bagaimana secara sosiologis mereka terhubungkan oleh semangat petualangan. Petualangan yang menggiring pada ide-ide dan praktek-praktek aktivitas di luar sistem yang ada.

Pada awal hingga pertengahan 90-an, ketika alternatif tidak tersedia di luar sana, komunitas musik di Bandung pada awalnya merupakan salah satu contoh bagaimana upaya membangun infrastruktur mereka sendiri untuk menjawab kebutuhan itu. Dari mulai menguasai pengetahuan atas proses produksi hingga membuat jejaring (network) distribusi produk dan informasinya sendiri.

Persoalan musik dan komunitas ini menjadi lebih penting lagi ketika melihat fase berikutnya, saat melihat bagaimana mereka yang menjadi bagian dari skena musik adalah mereka yang terlibat dalam perubahan di sudut-sudut kota, disadari atau tidak. Pernah ada waktu komunitas yang lahir dari kecintaan terhadap musik ini pula terlibat dalam pergolakan pada waktu-waktu krusial, dalam skala nasional maupun regional. Paling tidak jejaknya dapat dilacak sejak momen transisi sebelum dan sesudah 1998.

Sejak akhir 90-an, komunitas musik memiliki arti lebih dari sekadar sejumlah orang yang mencintai musik dan membuat ‘klub sosial’. Secara organik, komunitas-komunitas tersebut tak hanya berdiaspora namun juga bersimbiosa dengan komunitas lain membuat simpul-simpul, ruang-ruang baru dan memperluas aktivitasnya ke ranah sosial-politik lebih intens dari sebelumnya. Berbekal kemandirian ketika memulai skena musik, para individu ini melebarkan definisi kemandirian ini ke wilayah-wilayah yang lebih besar lagi, tak hanya lingkaran budaya, juga wilayah ekonomi-politik. Tak hanya beririsan dengan komunitas kultural seperti lingkaran literasi namun juga dengan kelompo-kelompok yang termarjinalkan secara sosial dan politik seperti buruh dan kaum miskin kota.

Bandung pada rentang waktu awal hingga akhir 2000-an merupakan tempat yang subur bagi eksperimen-eksperimen komunitas di wilayah sosial-politik tersebut, terutama yang beririsan dengan isu-isu kota. Pada rentang waktu itu lahir ruang-ruang publik yang diinisiasi individu-individu dengan beragam latar belakang. Ruang-ruang tersebut merupakan arena bermain, belajar dan tempat individu-individu berdialektika dalam proses aktualisasi dan jati diri mereka. Tempat individualitas dan komunitas menciptakan dan menumbuhkan satu sama lain. Di mana secara politik memperkuat wilayah personal dan memberdayakan, dan sebaliknya, domain personal memperkuat ranah politik karena ia memperkayanya. Individu dan kolektivitas saling memelihara bukan saling menundukkan satu sama lain.

Dengan segala keterbatasannya, tempat-tempat itu menjadi titik temu bagi individu dari lintas komunitas dapat bertemu pada banyak momen dan melahirkan lagi kemungkinan-kemungkinan aktivitas kolektif lainnya. Gigs musik dibuat beririsan dengan isu-isu dan aktivitas pemberdayaan yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan di sekitar mereka (kasus penggusuran, perampasan lahan dan konsolidasi bencana alam, misalnya), pameran seni rupa, festival zine, dan fotografi dari para punks pula berbicara tentang pergulatan di keseharian para buruh. Acara literasi berdampingan dengan diskusi isu warga dan solidaritas bagi mereka yang berjuang seperti para korban penggusuran, misalnya. Ruang-ruang baca hadir bersama dengan penolakan terhadap pemberangusan buku dan kebebasan berekspresi, berkumpul dan berorganisasi. Para kurun waktu itu individu dan komunitas memasuki fase penting menjadikan musik bagian yang tak terpisahkan dari dinamika sosial politik yang hadir di kota. Musik dan aktivisme secara organik bersenyawa. Meruntuhkan dinding penyekat antara definisi musisi, aktivis dan warga kota. Dengan relasi sosial sedemikian rupa, musik berkesempatan menjadi elemen perubahan sebagai bagian dari yang partisipatoris dan egaliter, tidak lagi menjadi media komoditas politik pasif yang selama ini kita alami di rezim orde baru (atau bahkan hingga hari ini ketika dangdutan hadir pada masa kampanye dan musisi menjadi caleg dan pimpinan daerah).

Ketika ruang-ruang itu melenyap satu persatu saat akhir 2000-an dan memasuki duaribubelasan, dinamika komunitas yang otonom dan egaliter tersebut sedikit demi sedikit mengendur. Aktivitas politik warga yang partisipatoris semakin terkikis dan teralienasi. Ruang-ruang itu harus menyerah pada hal-hal yag pragmatis yang tak siap diantisipasi oleh individu-individu di komunitasnya, sebut saja salah satunya, semakin mahalnya uang sewa tempat/lokasi.

Ini diperburuk dengan fenomena pembatasan ruang berekspresi di Bandung dalam bentuk politik perizinan dan terkooptasinya relasi sosial otonom yang mandiri dan egaliter digantikan oleh proses kooptasi perusahaan besar/korporasi dalam memfasilitasi kebutuhan di skena musik. Ditambah pula oleh bergantinya generasi di dalam skena Bandung sendiri tanpa sempat terjadi transformasi pengalaman mempertahankan tradisi yang sudah dicapai.

Apa yang terjadi dalam lima tahun ke belakang merupakan sebuah hasil dari proses dekadensi itu. Namun ada beberapa hal yang menggembirakan kiranya lahir di Bandung seiring dengan munculnya generasi baru yang bergulat dalam ruang-ruang dan pilihan-pilihan yang terbatas itu. Generasi ini adalah mereka yang tak lagi menyerah pada keterbatasan ruang mandiri yang melenyap ditelan pragmatisme. Mereka justru mencoba membawanya keluar dari zona aman, dan melakukan pertaruangan di ruang-ruang publik kota.

Kali ini, meski mereka tak lagi terlalu mengidentifikasikan diri sebagai komunitas berbasiskan musik, namun kita bisa melihat dari individu yang terlibat, mereka datang dari latar belakang yang sama dengan pendahulu mereka, tak hanya membuat acara-acara musik otonom, mereka pula secara inklusif membaur dengan warga (marjinal) kota dan elemen-elemen progresif lain seraya memberi solidaritasnya bagi mereka yang sedang berada dalam krisis dan berjuang di luar Bandung.

Tak hanya terlibat dalam pengorganisiran aktivitas warga seperti ruang-ruang belajar anak, juga terlibat dalam pengkonsolidasian bantuan bencana alam, pendistribusian akses literasi, krisis konflik ruang hidup di kota hingga bahu membahu bersama elemen lain melawan kebangkitan fasisme yang belakangan kembali menyeruak dalam bentuk pelarangan acara, pemberangusan bacaan dan penyerbuan markas-markas/tempat-tempat berkumpul. Mereka menantang dan berpikir ulang perihal ruang publik, aktivitas (publik) otonom, hingga gerakan sosial dalam konteks yang lebih luas.

Dengan berkaca pada pengalaman selama dua dekade ke belakang, kita dapat memahami mengapa kemudian keberhasilan ikhtiar mengubah kota selama ini di Bandung tak pernah terlepas dari ruang dan pertarungan untuk merebutnya.

Sumber: Booklet CD Organize! Benefit Compilation for Community Empowerment

Konser Metal Untuk Semua

Oleh anonim

“Tadi sempat hujan deras, tapi sekarang sudah berhenti. Ini adalah bukti bahwa Tuhan memberkati musik setan,” kata Daniel vokalis Deadsquad dengan lantang dan jelas. Ucapan itu kemudian diamini para metalheads dengan mengangkat tangan mereka yang membentuk devil horns tinggi-tinggi ke udara.

Tentu saja ribuan manusia yang Minggu (17/10) sore itu berada di Bulungan Outdoor tidak sedang melakukan prosesi pemujaan setan ataupun upacara penyembahan berhala. Melainkan, sebuah konser musik metal sedang berlangsung di sana.

Deadsquad adalah band terakhir yang tampil sebelum break Maghrib. Minus pemain gitar Choky, Deadsquad menggempur telinga metalheads dengan komposisi-komposisi padat namun estetis mereka dari album Horror Vision (2009).

Setelah menuntaskan lagu ketiga, “Hiperbola Dogma Monoteis”, pemain bass Boni yang memiliki gaya khas mencabik-cabik 4-strings dengan rokok tersemat di bibir itu mengajak penonton berinteraksi. “Coba gue mau lihat tangannya dong,” pintanya kepada para penonton. Sontak ribuan devil horns kembali terlihat lagi di udara.

Tampak puas, Boni kemudian melanjutkan, “Ada yang bilang ini adalah simbol Zionis. Salah berat. Mereka nggak tahu kalau ini dipopulerkan oleh Ronnie James Dio? Bertahun-tahun main musik metal nggak kenal siapa Dio?”

Seperti yang tertulis dalam keterangan di situs jejaring sosial, konser yang diselenggarakan kolektif Bandar Metal yang diberi tajuk Metal Untuk Semua itu, “Bertujuan mengkampanyekan perdamaian, menghargai perbedaan dan menjunjung toleransi antarumat beragama yang belakangan mulai terganggu dengan aksi-aksi kekerasan/teror berkedok agama.” Menengok pada konteksnya sebagai kampanye, maka wajar rasanya bila hari itu para musisi yang tampil terlihat berapi-api dalam menyuarakan aspirasi mereka masing-masing dari atas panggung.

Seluruh band yang tampil di acara tanpa sponsor ini tidak ada satu pun yang dibayar, mereka secara sukarela ikut serta di acara ini untuk ikut mengampanyekan perlawanan terhadap terorisme dan menghargai perbedaan. Sementara keuntungan yang di dapat dari acara ini nantinya akan dibagi secara rata bagi seluruh band yang tampil.

Soal devil horns atau metal horns, yang sempat jadi polemik di kalangan metalheads Jakarta, hari itu tampaknya menjadi isu seksi yang terus menerus disinggung para musisi yang naik ke atas panggung. Tema acara “Konser Pro-Pluralisme & Anti-Terorisme” juga sepertinya sengaja dirancang untuk merespon propaganda yang coba menggiring subkultur metal menjadi eksklusif hanya bagi satu golongan atau agama tertentu saja.

Secara tersirat, tema ini tampaknya telah dipahami dengan baik oleh semua yang hadir, “Pro-Pluralisme” menjadi pesan: Musik heavy metal dan subgenrenya adalah untuk semua yang hadir, yang tidak perlu dipolitisir dengan ajaran-ajaran agama tertentu sehingga berpotensi menyulut perpecahan komunitas di dalam subkultur yang telah sejak puluhan tahun lamanya hidup dalam aneka perbedaan agama, suku, ras, status sosial, dan sebagainya.

Tema “Anti-Terorisme” adalah untuk meng-counter upaya infiltrasi doktrin teror dengan kekerasan yang berkedok agama kepada segenap metalheads muda yang mayoritas mudah dipengaruhi. Fakta membuktikan bahwa beberapa dari ”pengantin” (pelaku terorisme) di Indonesia adalah kalangan ABG. Ada indikasi kuat pula bahwa kini para teroris berkedok agama coba menggunakan medium musik metal sebagai salah satu proses rekrutmen ”pengantin.”

Sebelum Deadsquad, Panic Disorder memborbardir para pecandu distorsi dari atas panggung dengan nomor-nomor beringas mereka. Bak hewan buas yang berada di dalam kerangkeng, para metalhead di barisan terdepan ber-headbanging sembari mengguncang-guncangkan pagar barikade yang membatasi mereka dengan panggung.

Seorang remaja puteri yang baju dan rambutnya tampak basah karena siraman hujan beberapa waktu sebelumnya memilih untuk melakukan sesuatu yang lebih liar lagi: Berdiri di atas pagar barikade, dan mengguncang-guncangkan kepalanya di sana selama beberapa saat. Panic Disorder menyudahi kegilaan itu dengan lagu terakhir, “Doktrin Penghancur”.

Hujan gerimis masih turun tatkala band sebelum Panic Disorder tampil, Seringai. Tapi para metalheads tak gentar oleh butir-butir air yang terus berjatuhan di atas kepala mereka. Sebaliknya mereka terlihat lebih berapi-api saat mengepalkan tangan ke udara sembari berteriak bersama-sama, “Individu / Individu Merdeka!!!”

Seakan menolak tunduk pada dogma apapun yang selalu mencoba mengontrol pikiran mereka. Melihat pemandangan ini mengingatkan pada salah satu bagian penting signature Roger Waters eks-Pink Floyd, “The Wall”: “We don’t need no education / We don’t need no thought control…”

Vokalis Arian13 seakan menemukan ruang untuk menyampaikan pandangan-pandangan politisnya secara leluasa di sini. Mereka yang sepekan sebelumnya sempat menyaksikan penampilan Seringai di Pantai Karnaval, Ancol, pasti menyadari bahwa set list Seringai sore itu tidak jauh berbeda. Dan masih sama pula seperti pekan sebelumnya, orasi Arian sore itu juga berisi seputar kritiknya pada aparat kepolisian Bandung yang susah memberikan ijin untuk mengadakan acara musik dan juga mengkritisi kebijakan sensor internet oleh Menkominfo Tifatul Sembiring.

“Dia pernah mengatakan bahwa bencana alam yang terjadi di Indonesia itu karena perbuatan tidak bermoral. Sehingga dia merasa perlu untuk memblokir situs porno,” kata Arian. “Itu sih karena letak geografis Indonesia saja yang berada di daerah rawan gempa.”

Selain nomor-nomor lama, Seringai membawakan dua lagu baru lainnya yaitu: “Dilarang di Bandung” dan “Program Party Seringai”. Dan hujan pun mulai reda.

Sebelumnya tampil cadas pula band old school death metal Jakarta, Ritual Doom yang masih digawangi oleh gitaris perempuan Vivi dan kini bersama vokalis Arry Fajar (eks-Purgatory). Band brutal death metal Funeral Inception membuka konser sore hari itu dengan meng-cover nomor milik Nile yang berjudul ”Kafir.” Doni Iblis, vokalis sekaligus show director Metal Untuk Semua termasuk salah satu yang berorasi cukup keras sore itu.

Metal is about fun! Metal tidak ngajari kita untuk ngebom, tidak ngajari kita untuk membenci atau anti terhadap agama lain, it’s about fun!” Tak lama setelah ia berorasi mendadak hujan pun turun cukup deras.

Band grindcore yang sangat plural komposisi personelnya, Noxa, tampil cukup pagi di acara tersebut. Karena beberapa orang personel mereka harus bekerja di hari Minggu. Walau tampil pagi bukan berarti para penggemar tidak ada, venue yang awalnya masih sepi mendadak ramai begitu Noxa mengentak dengan nomor-nomor brutal cepat dan pendek mereka.

Pluralisme memang bukanlah sesuatu yang aneh di dalam Noxa. Tak ada personelnya yang bersuku dan beragama sama di dalamnya. Vokalis Tonny beragama Kristen dan bersuku Batak, gitaris Ade adalah Muslim dan bersuku Jawa, bassis Nyoman adalah Hindu dan berasal dari Bali sementara drummer baru mereka, Alvin beragama Katolik dan berasal dari Jakarta. Semuanya berjalan dengan baik di dalam band ini tanpa menghiraukan apapun latar belakang mereka masing-masing.

Beberapa yang tampil kemudian di Metal Untuk Semua di antaranya adalah band metalcore Straightout, gothic power metal Gelap, death thrash metal Death Valley, veteran death metal Trauma, Sabor hingga Death’s Gray. Semuanya sama-sama meneriakkan perlawanan terhadap terorisme dan pesan-pesan toleransi antarumat beragama.

Jumlah penonton tidak berkurang secara signifikan ketika band thrash Oracle tampil membuka sesi kedua setelah break maghrib. Vokalis Troy Adam dengan rendah hati berterima kasih karena bandnya telah diundang di acara ini. Kemudian mereka kembali memanaskan amplifier dengan lima lagu, yang tiga di antaranya merupakan lagu dari album mereka No Truth, No Justice (2010): “Blessed in Funeral”, “K.P.K” dan “Calo Bangsat (Airlines).”

Dreamer juga menjadi band yang ditunggu-tunggu penonton malam itu. Vokalis perempuan Rika Ariga yang malam itu tampil cantik dan lebih leluasa untuk ber-headbanging setelah melahirkan, berhasil menjadi faktor penarik penonton untuk merapat ke depan panggung. Mereka membawakan dua lagu sendiri “Bait Suci” dan “Seroja 1975”, sebelum mengundang vokalis heavy metal legendaris Arul Efansyah untuk naik ke atas panggung.

“Selamat malam, Rakyat Metal!” teriak vokalis band Power Metal itu dengan suara melengkingnya yang khas. Kemudian bersama Arul, Dreamer membawakan dua lagu Power Metal, “Angkara” dan “Timur Tragedi”. Untuk beberapa saat venue jadi terasa berada di tengah pusaran puting beliung akibat pertemuan energi dari panggung dan penonton yang sama besarnya.

Tak lama berselang setelah penampilan Dreamer usai, band death metal Jakarta Timur, Siksakubur, kembali membuat ribuan orang yang masih bertahan di sana menjadi kehilangan kendali. Instrumental “Darah Terpilih” yang angker itu terdengar ketika pemain gitar Andre Tiranda, pemain bass Ewin, pemain gitar Nyoman dan pemain drum Prama sudah siap di atas panggung.

Ketika intro lagu “Anak Lelaki dan Serigala” yang menghentak terdengar, dan vokalis Japs muncul, metalheads pun langsung mengangkat devil horns mereka tinggi-tinggi sekali lagi. Dan Siksakubur pun tak segan menggempur mereka dengan lagu dari album terakhir mereka itu, Tentara Merah Darah (2010).

“Coba gue mau lihat tangan kalian semua. Gue mau melihat apakah jari kalian masih baik-baik saja,” kata pemain gitar Andre Tiranda kepada penonton setelah memainkan lagu kedua, “Menanduk Melawan Tunduk”. Dan tanduk-tanduk setan itu pun terlihat kembali.

“Ternyata jari kita masih baik-baik saja, ya,” kata Andre kemudian sedikit tertawa. Siksakubur pun melanjutkan dengan “Destitusi Menuju Mati” dari album Eye Cry (2003), serta dua lagu lagi dari album terakhir mereka “Dewa yang Terluka” dan “Memoar Sang Pengobar”.

Sebagai penutup acara, Bandar Metal mendaulat band thrash metal legendaris Roxx sebagai pemungkas acara. Roxx barangkali satu-satunya band yang paling santai malam itu. Meski di belakang panggung terpampang spanduk acara berukuran besar, lengkap dengan nama acara dan temanya, gitaris Jaya berkata pada satu jeda, “Prularisme! Apaan tuh? Gue nggak ngerti. Yang gue ngerti cuma kemaluan!” Para penonton pun spontan terbahak-bahak mendengar guyonan Jaya.

Namun, penonton tampaknya telah mahfum dengan karakter gitaris berambut keriwil yang senang bersenda gurau itu. Sehingga ucapan tersebut tidak menjadi sesuatu yang dianggap kontra terhadap tema acara. Roxx membawakan tujuh lagu malam itu, di antaranya “Price,” “Rock Bergema,” serta “Heroin”—yang mereka tulis untuk mantan pemain drum almarhum Arry Yanuar. Sebagai penutup, tak lupa Roxx membawakan satu nomor milik Metallica, “Seek & Destroy,” yang mungkin sengaja dipilih untuk menyatukan semangat melawan terorisme.

Legenda thrash metal Indonesia Roxx, vokalis legendaris heavy metal/power metal Arul Efansyah, serta band-band metal besar lainnya telah tampil menyuarakan dukungan terhadap kemajemukan—atau yang biasa kita sebut dengan Bhineka Tunggal Ika. Maka masih perlukah kita membangun eksklusivitas golongan? Jelas tidak!

 

Sumber: Rollfreakz