Moderasi Islam dalam Musik Metal

Oleh Putrawan Yuliandri

Membincang Islam dalam beragam artefak kebudayaan populer Indonesia kontemporer (termasuk di dalamnya musik metal) merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan. Selain karena faktor mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim (Maarif dikutip dalam Wahid, 2009: 7). Dinamika politik di masa akhir rezim Orde Baru yang membangun hubungan mesra dengan Islam menentukan perkembangan politik Islam selanjutnya, baik di masa awal pasca Orde Baru – hingga saat ini (Heryanto, 2012: 19). Hasilnya adalah peningkatan politik Islami di kalangan masyarakat Indonesia yang terus-menerus menguat. Hal ini ditandai dengan maraknya simbol-simbol Islam di ruang publik, penerapan hukum Syariah di beberapa daerah dan peningkatan gaya hidup Islami dikalangan masyarakat muda perkotaan (Heryanto, 2015).

Dalam konteks yang lebih luas, realita ini membingkai narasi besar kebangkitan Islam (Islamisasi) di Indonesia, atau bahkan sebuah kondisi atau proyek post-Islamisme (Bayat, 2002 dikutip dalam Heryanto, 2015). Gejala ini dapat dilihat melalui praktik Islamisasi yang lebih luwes dalam ranah kebudayaan populer. Seperti misalnya, banyaknya kaum muda perkotaan yang ingin tetap menikmati selera kebudayaan dan kemerdekaan terhadap modernitas, tanpa mengorbankan keimanannya atau status identitasnya sebagai pemeluk Islam (Heryanto, 2015: 53).

Konser musik metal sebagai proyek Islamisasi

Minggu 30 Oktober 2016 di Bulungan Outdoor, tempat yang tidak asing bagi penikmat musik metal atau metalhead untuk melakukan ritus kulturalnya yakni, menonton konser. Bagi seorang metalheadseperti saya, Kawasan Bulungan Jakarta Selatan menjadi semacam simbol para metalhead Jakarta merebut ruang publik sekaligus menunjukkan eksistensinya. Menjelang tengah malam, saya menyaksikan penyerahan donasi uang sebesar Rp. 54.361.000,- untuk korban perang saudara di Suriah. Rencananya, dana tersebut akan digunakan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), sebuah organisasi kemanusiaan di bidang medis, untuk membeli sebuah unit mobil ambulans, melalui program MER-C “Ambulance(s) and Medical Aid for Syria”. Hadir di atas panggung adalah Husein Alatas (runner up Indonesian Idol 2014 sekaligus vokalis Children of Gaza) yang secara simbolik menyerahkan baki berisi uang kepada Ir. Faried Thalib (Presidium MER-C) dan Ir. Idrus M. Alatas (Ketua Divisi Konstruksi MER-C)[1].

Penyerahan dana dari hasil penjualan tiket dan lelang merchandiseband ini merupakan susunan acara terakhir dari konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria” yang diprakarsai oleh Metalheads Respect. Metalheads Respect adalah sebuah simpul kolektif dari para grup musik metal yang secara sukarela mengadakan konser amal untuk menghimpun dana. Mengusung slogan “dari metalheads, oleh metalheads untuk kemanusiaan”, konser-konser ini diadakan sebagai bentuk solidaritas komunitas metal terhadap beragam musibah yang terjadi di dunia dan Indonesia.

Ketika saya mewawancarai Mehdy, vokalis Melody Maker dan pengisi acara tersebut, ia menyatakan:

“Acara ini adalah murni salah satu bentuk aksi peduli kemanusiaan dari anak-anak metal kepada korban perang saudara di Suriah. Suriah adalah negara Muslim, saudara kita yang sedang dalam musibah. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak turun tangan membantu mereka. Sama seperti beberapa event charity sebelumnya untuk Palestina dan Rohingya[2].”

Saya tertegun dan cukup takjub mendengar pernyataan Mehdy yang memiliki empati luar biasa terhadap saudara Muslim di Suriah. Dalam benak saya kemudian, walaupun dibalut dengan aksi kemanusiaan, narasi kontemporer kebudayaan populer seperti ini setidaknya membingkai diskursus antara musik metal dan wacana kebangkitan Islam (Islamic Revivalism).

Meskipun bukan hal baru, preseden lain yang serupa namun bernuansa kental dengan praktik idoleogisasi Islam dalam musik metal telah terjadi sebelumnya pada awal 2010 lalu melalui beberapa momentum. Momentum pertama, melalui konser yang bertajuk Urban Garage Festival I. Acara konser musik yang diselenggarakan pada Maret 2010 di Rossi Music Center Fatmawati Jakarta Selatan ini menjadi penanda kemunculan gerakan politik kebudayaan Islam yang muncul dalam ranah musik metal.

Salah satu musisi metal senior yang menggaungkan gerakan baru ini adalah Ombat, vokalis dari kelompok musik metal Tengkorak. Dalam konser tersebut, ia mengumandangkan pergantian simbol metal yang tadinya berbentuk ‘kepala kambing’ atau biasa disebut baphomet[3], dengan salam tauhid satu jari yang berarti ikrar untuk mempercayai bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Esa. Menurut Ombat:

“Tidak ada patokan dalam simbol-simbol budaya metal. Simbol metal yang selama ini lekat dengan representasi kepala kambing (baphomet) merupakan simbol setan atau simbol yang digunakan oleh kaum Satanis (penyembah setan). Kita sebagai umat Islam tentu saja berperang dengan setan, makanya kita menggunakan simbol Tauhid. Kita tidak mau dijajah oleh budaya Barat melalui musik metal. Makanya, dengan budaya mereka kita menyerang balik. Kita ubah lirik lagu kita,  perilaku kita, kita jalanin juga agama kita”[4].

Melalui momentum tersebut, Ombat dan Tengkorak menyatakan dimulainya gerakan “Salam Satu Jari.”

Momentum kedua adalah acara lanjutan Urban Garage Festival II yang diadakan di lapangan basket SMA Yayasan Pendidikan Islam 45 di bilangan Bekasi, pada tanggal 16 Oktober 2010. Di sela-sela konser, para pengisi acara dan penonton shalat Isya berjamaah langsung di lapangan tersebut, bukan di Mushalla atau Masjid yang berada di lokasi konser. Grup musik yang tampil dalam acara ini serupa seperti kelompok musik yang tampil pada Urban Garage  Festival I. Yakni, grup musik metal yang memegang ideologi Islam, seperti Tengkorak, Purgatory, Children of Gaza, The Roots of Madinah, Qishash, Melody Maker dan lain sebagainya. Patut dicatat bahwa hasil penjualan tiket dari kedua konser ini didonasikan untuk membantu umat Muslim korban perang di Palestina.

Momentum selanjutnya yang tidak kalah penting, terjadi pada tanggal 25 Juli 2012. Salah satu grup musik kenamaan dalam kancah metal, Purgatory, memprakarsai konser yang bertajuk Approach Deen Avoid Sins I (ADAS I)[5]. Konser Approach Deen Avoid Sins I atau Dekati Agama Jauhi Dosa I dirancang sebagai sebuah ikhtiar restorasi keislaman dan syiar di kalangan metalheads. Dalam konser ini, Purgatory juga menyerukan untuk kembali ke “titik nol”, yaitu sebuah upaya sekaligus semangat untuk memulai dari awal gerakan perubahan budaya musik metal yang jauh dari nilai-nilai Islam dan mengembalikan Islam sebagai satu-satunya cara hidup.

Sekilas, suasana dalam tiga konser itu (Urban Garage Festival I, II dan ADAS I) tak jauh beda dengan konser metal pada umumnya: dipadati oleh metalheads berbaju hitam, berambut gondrong dan diringi dengan gemuruh musik. Namun, beberapa hal yang membedakan ialah adanya peraturan yang melarang para metalhead untuk mabuk-mabukan dan melakukan “tindakan pornoaksi” di lokasi konser. Selain itu, grup musik metal yang tampil tidak diizinkan untuk membawakan tema-tema lagu dan orasi yang bersifat atheis, bertentangan dengan nilai agama, berpotensi memecah-belah, mencemooh agama lain, dan mempromosikan paham-paham liberal, sekuler, dan lain sebagainya. Tradisi baru yang marak pada ketiga konser tersebut adalah adanya orasi kegamaan (Islam) dari grup musik yang tampil, dan sekali-sekali diselingi oleh pekikan takbir para metalhead.

Mengapa Konser?

Secara global, tradisi penyalahgunaan narkoba dan minuman keras di kalangan penonton maupun kelompok musik metal menjadi ritus yang tidak dapat dilepaskan dari peristiwa konser musik metal. Praktik subkultural adalah bentuk dari ekspresi akan kebebasan dan keluarnya para partisipan dari penindasan budaya dominan (Arnett, 1995). Selain itu, hal-hal dengan kecenderungan ‘negatif’ yang kerap diperlihatkan oleh budaya musik metal, merupakan gambaran psikologi sosial terhadap budaya kaum muda baik itu musisi ataupun penikmat musik metal (metalheads). Pada awal kemunculannya, tak dapat dipungkiri bahwa anak muda yang terlibat dalam kancah musik metal memiliki hasrat akan sensasi yang tinggi dan kehendak melakukan hal-hal yang baru, termasuk menyalahgunakan narkoba dan minum-minuman keras (Arnett, 1996: 80).

Kontras terhadap tradisi kultural yang dipraktikkan secara global, band seperti Purgatory dan Tengkorak ‘meminjam’ idiom kultural musik metal serta konser untuk menyebarluaskan syiar Islam. Walaupun terkesan paradoks, praktik apropriasi seni ini berhasil memantik perdebatan di ranah metal Indonesia. Kecendrungan paradoksikal ini dapat dilihat dari narasi ambivalen yang saya uraikan di atas. Para metalheads Satu Jari dengan senang hati menjadikan musik metal sebagai ‘kendaraan’ untuk berdakwah. Di sisi lain, mereka menolak elemen-elemen ekstra-musikal yang melekat dengan subkultur metal, yang dinilai tidak sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai agama Islam.

Dalam konteks kekinian, konsistensi syiar tetap tercermin pada salah satu grup musik metal, Purgatory. Selain terus terlibat dalam konser musik yang bertema Islam, mereka juga menginisiasi tradisi baru dalam praktik subkultural musik metal: membuat kelompok-kelompok diskusi dan kajian agama Islam. Walaupun diskusi ini dibuka untuk umum, mereka yang hadir dalam diskusi ini kebanyakan adalah MOGERZ, singkatan dari Messenger of God Lovers or Followers, julukan untuk fans Purgatory dan siapapun yang mengidentifikasi dirinya sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan data terakhir yang diakses melalui fanpage atau grup publik di laman Purgatory’s Official Group of Mogerz, pengajian sekaligus fansclub ini telah memiliki 10.545 anggota[6].

Penutup: Genre Baru – Metal Islam

Wacana penggabungan metal dan Islam (Metal Islam) yang digaungkan oleh grup musik Purgatory, Tengkorak, Melody Maker dan lain sebagainya dapat dilihat sebagai respon dan resistensi mereka terhadap hegemoni Barat. Hegemoni praktik kebudayaan Barat yang umumnya bercorak sekuler menjadi tantangan tersendiri tak hanya bagi pelaku subkultur metal Islam, namun juga bagi umat Islam secara umum.

Persoalan ini terangkum dalam pertanyaan klasik identitas Islam saat ini, yakni tantangan Islam dalam menghadapi modernitas. Islam dinilai harus selalu mawas diri terhadap berbagai dinamika dan perubahan sosio-kultural. Mengutip pemikiran Nurcholis Madjid, Islam adalah agama yang mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Islam memberi peluang bagi berlangsungnya perubahan dalam orientasi keagamaan dan kulturalnya, seperti tanggapannya terhadap tantangan waktu dan tempat, dan adaptasinya terhadap lingkungan temporal dan spasial yang berbeda beda (Madjid dikutip dalam Woodward, 1999: 105).

Gagasan Nurcholis Madjid merujuk pada salah satu surat dalam AlQuran (QS 2:62) yang menyatakan bahwa, “Kami tidak pernah mengutus seorang Utusan pun kecuali (untuk memberi pelajarandengan bahasa kaumnya, agar ia dapat membuat (segala sesuatunyajelas bagi mereka”.

Kemudian Nurcholis Madjid juga mengutip penafsiran Yusuf Ali dalam “The Holy Quran” atas ayat ini, berikut kutipannya:

Jika Pesan Suci (Risallah) adalah membuat sesuatu menjadi terang, maka ia harus disampaikan dalam bahasa yang digunakan di tengah masyarakat, yang kepada merekalah utusan itu dikirim. Melalui masyarakat tersebut, Pesan Suci itu dapat mencapai seluruh umat manusia. Bahkan ada pengertian yang lebih luas untuk ‘bahasa’. Ia tidak semata-mata masalah abjad, huruf, atau kata-kata. Setiap zaman atau masyarakat – atau dunia dalam pengertian psikologis – membentuk jalan pikirannya dalam cetakan atau bentuk tertentu. Pesan Suci Tuhan, karena bersifat universal, dapat diungkapkan dalam semua cetakan dan bentuk, dan sama-sama absah dan diperlukan untuk semua tingkatan manusia, dan karena itu harus diterangkan kepada masing-masing sesuai dengan kemampuannya atau daya penerimaannya. Dalam hal ini, Al-Quran menakjubkan. Ia sekaligus untuk orang yang paling sederhana dan untuk orang yang paling maju (Ali dikutip dalam Woodward, 1999: 106).

Keluwesan dan sifat universal AlQuran ini menjadikannya dinilai mampu beradaptasi dengan lingkungan kultural manapun – termasuk subkultur metal. Praksis musik metal Islam ini dinilai berhasil manakala banyak anak muda di subkultur metal merasa tergugah untuk kembali pada nilai-nilai Islam, tanpa berusaha keluar dari jalur musiknya.

Meski kondisi ini jelas paradoks, sentimen para metalheads Satu Jari tak jauh beda dengan pemikiran Madjid: ‘meminjam’ simbol-simbol budaya metal demi syiar Islam adalah praktik yang diperbolehkan, karena Islam sendiri dipandang sebagai agama yang universal dan mampu beradaptasi. Namun, mengutip Gellner (1981), upaya modernisasi Islam ini “harus berlangsung tanpa merusak keaslian dan otentisitasnya sebagai agama wahyu.”

Praktik pencipataan wacana Islam melalui musik metal yang dilakukan oleh kelompok Metal Satu Jari telah menjadi jalan para penikmat musik metal secara umum dalam membentuk identitas individualnya maupun identitas kolektifnya. Budaya populer – dalam hal ini musik metal – menjadi jalan para metalheads lokal untuk menemukan kembali nilai-nilai agama.

Terlepas dari soal apakah Metal Satu Jari berpotensi menjadi hegemoni baru di ranah musik metal Indonesia, metal Islam sebagai produk moderasi dapat dimaknai sebagai perkembangan genre baru dalam musik metal lokal.

 


Tentang Penulis

*Putrawan Yuliandri adalah lulusan Pascasarjana Fakultas Komunikasi UI. Pernah menjadi musisi metal bersama band Disagree. Memiliki minat yang tinggi pada kajian mengenai musik metal dan subkultur. Saat ini sedang menyelesaikan proyek buku mengenai musik metal dan Islam.

 


Catatan Kaki

[1] MER-C menjadi satu-satunya lembaga nirlaba penyalur dana sumbangan pada konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria”. Selain pada konser ini, MER-C juga pernah ikut menyalurkan dana sumbangan pada konser sebelumnya yaitu untuk membantu korban di Gaza Palsetina. Ulasan lengkap dapat dilihat melalui tautan dari laman : http://www.merc.org/index.php/Id/component/k2/item/791-dari-para-pecinta-musik-metal-untuk-suriah(diakses pada 27/05/2017)

[2] Kutipan ini adalah hasil obrolan saya di lokasi konser dengan Mehdy vokalis Melody Maker dan dilanjutkan dengan wawancara informal melalui email pada 24/11/2016

[3] Perdebatan mengenai simbol Baphomet (kepala kambing) sebagai simbol metal masih terus berlangsung, benang merah yang dapat ditarik mengenai sisi historisitas simbol ini, merujuk pada film dokumenter karya Samuel Dunn, Scot McFayden & Jessica Joy Wise (2005), yang berhasil mewawancarai Ronnie James Dio. Dio digadang-gadang sebagi orang yang menemukan dan mempopulerkan simbol Baphomet, sebagai sebuah simbol dari budaya metal. Dalam wawancara tersebut, Dio menjelaskan bahwa, simbol Baphomet atau tanduk kambing ini memiliki arti khusus yang diberikan oleh neneknya yang berasal dari Italy, sebagai sebuah simbol pertahanan diri dari niat jahat seseorang, kemudian simbol ini dipopulerkan Dio ketika konser-konser dihadapan para metalheads, hingga akhirnya diikuti olehmetalheads sebagai sebuah simbol metal. Kemudian, kontroversi mengenai simbol ini berlanjut, ketika simbol ini digunakan juga oleh Anton Szandor LaVey, seorang tokoh pendiri gereja setan (Church of Satan), sebagai tanda salam ketika menyembah Lucifer (iblis tertinggi), untuk lebih jelas mengenai Church Of Satan dapat dilihat pada situs: http://www.churchofsatan.com/pages/BaphometSigil.html (diakses pada 3/5/2016)

[4] Pernyataan ini adalah wawancara mendalam saya dengan Muhamad Hariadi Nasution atau yang akrab disapa Ombat pada 17 November 2012. Selain menjadi vokalis Tengkorak, Ombat juga disibukan dengan profesinya sebagai pengacara, wawancara ini pun dilakukan di kantor pengacara Ombat di Pesanggarahan Jakarta Selatan.

[5] Lihat ulasan lengkap mengenai konser Approach Deen Avoid Sins 1 versi Republika Online melalui situs:http://aqse2.blogspot.co.id/2010/08/republika-deen-avoid-sins.html diakses pada tanggal 3 Mei 2016

[6] diakses melalui laman fanpage Purgatory di facebook https://www.facebook.com/groups/78955924242/?fref=ts pada bulan Juni 2016

 


Daftar Pustaka

Gellner, Ernest. 1981. “Muslim Society.” Cambridge: Cambridge University Press.

Heryanto, Ariel (ed.). 2012. “Budaya Populer di Indonesia: Mencairnya Identitas Pasca Orde Baru.” Yogyakarta: Jalasutra

Heryanto, Ariel. 2015. “Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia.” Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.

Wahid, Abdurrachman (ed.). 2009. “Ilusi Negara IslamEkspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia.” Jakarta: The Wahid Institute

Wenstein, Deena. 2000. “Heavy MetalThe Music and Its Subcultures.” Cambridge: Da Capo Press.

Woodward, Mark R. Ed. 1999. “Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia” (Terjemahan Ihsan Ali Fauzi). Bandung: Mizan

Arnett, Jensen, Jeffrey. 1996. “Metalheads: Heavy Metal Music And Adolescent Alienation.” Boulder: West View Press

Sumber: Ruang Gramedia

Jalan Lain dan Batas Kompromi

Oleh Herry Sutresna

“What’s important about punk rock is its independence of government & of corporations & its network that exist outside of that. That is what is political…not the words, not the music as much as the independence…” —Tim Yohannan

Punk sudah lama mati. Itu pun jika memang pernah hidup di sini. Kecuali jika coretan-coretan Circle A di dinding-dinding kota, penampakan spikes di mall, kaos lusuh Discharge dan mohawk di perempatan jalanan kalian anggap demikian.

Pada satu siang, Kimung mengirim pesan teks. Dengan hawa sepanas siang itu seharusnya ia mengirim sebotol minuman dingin. Ia bertanya apakah saya berniat menulis tentang kondisi komunitas (musik) di Bandung hari ini. Dengan kesadaran penuh ia tahu bahwa saya sudah malas berurusan lagi dengan hal-hal seperti itu, pasti ada alasan penting baginya untuk bertanya demikian. Ia melanjutkan pesan teksnya dengan serentetan kegelisahannya tentang bagaimana hari ini komunitas terpeta-petakan relasi sosialnya berdasarkan program kampanye korporasi yang memberinya makan. Ini terdengar seperti album Strife pasca bubar lalu reunian. Baru tapi lama, nyaris redundan.

Tentu saja saya menolaknya. Saya menikmati waktu saya berjarak dengan urusan kritik-otokritik di wilayah yang hasilnya pun tak kemana-mana. Jika saya membutuhkan itu sekalipun, pastinya akan dilakukan dengan teh hangat dan lingkaran kecil obrolan. Kalau bisa di saat hujan.

Bukan karena tak tahan dengan segala label yang ditempelkan di jidat dan pantat, dari mulai Punk Police, Polisi Skena, Punk Khawarij atau Tukang Urus Urusan Orang. Namun lebih karena emansipasi ala punk tersebut tak lagi saya anggap sebagai kalimat dengan tanda seru. Lebih merupakan kata kerja. Seringnya bahkan bermain-main setelah bertemu dengan tanda tanya, dengan permasalahan nyata dan dengan kerendahan hati.

Membangun alternatif dari apa yang ada merupakan hal yang jauh lebih berguna dan produktif dibanding mencatat apapun yang tak saya sepakati di luar sana. Saya pernah berpikir mencatat pergulatan membenturkan ide dan praktek itu sama pentingnya dengan menjalani pilihan membangun alternatif  dan bisa dilakukan secara simultan. Tapi rasanya tidak demikian pasca beberapa tahun terakhir ini. Kritik otokritik hanya membuat yang melakukannya nampak seperti pertunjukan doger monyet. Hanya saja dalam hal ini tak ada yang tertawa. Sinis mungkin banyak.

Namun demikian saya sungguh sadar, Bandung pula bukan skena DC dengan Positive Force-nya. Dengan sejumlah kawan yang tersisa hari ini, sangat tidak mungkin untuk mengeliminir relasi sosial berdasarkan asosiasi mereka dengan korporasi besar.  Bukan karena saya tak yakin dengan pilihan dan konsekuensi dari pilihan saya. Namun jika tetap dilakukan, bisa-bisa saya nyaris tak punya teman. Untuk hal sepele seperti merilis rekaman dari band satu kota yang sirkulasi aktivitasnya intim di lingkaran komunitas saja sudah sulit, apalagi jika dilengkapi dengan syarat tak pernah berurusan dengan kampanye korporasi di komunitas. Bisa dibayangkan upaya lain yang lebih besar lagi seperti membangun ruang alternatif di kota misalnya.

Faktor itu sudah lama saya skip. Sejauh yang saya ingat, kritik saya pada helatan akbar di Gasibu lampau pun lebih karena terseretnya komunitas pada acara kampanye calon pemimpin daerah (baca: politik elektoral). Bukan persoalan ekspansi korporasi di tengah komunitas yang bahkan jauh hari sebelum saya menulis itu pun sudah saya anggap sebuah ‘bukan masalah’. Bagian dari ‘toleransi’. Pilihan kompromis.

Dan ketika suatu hari politik elektoral itu mentradisi dan kecenderungan baru hadir dalam modus lama, saya masih bisa memalingkan muka. Saya bisa tak peduli sejuta orang di komunitas ini beririsan dengan pemerintah kota dan walikotanya, selama saya masih punya banyak kawan yang masih bersepakat untuk membangun tradisi dan jejaring alternatif lain di luar itu semua. Melawan konformitas bersama-sama. Tapi rasanya saya keliru, atau mungkin memang terlalu berekspektasi tinggi. Karena saya sadar ‘banyak kawan’ dalam kalimat tadi adalah hiperbola, atau bisa disebut sebagai upaya menghibur diri sendiri ketika melihat realitasnya hanya tinggal ‘sedikit saja kawan’.

Tentu saja hal tersebut lagi-lagi bisa dikompromikan. Siapa bilang tidak bisa? Bisa kita pedulisetankan apapun yang pernah kita baca tentang ide-ide ‘alternatif’ itu. Ayolah, punk sudah bukan lagi sesuatu yang relevan. Eksistensinya sudah mirip parodi yang sulit dianggap lucu. Bagian dari jokes generasi milenial, hadir di meme-meme. Ia hanya stasiun pemberhentian sementara bagi kawan-kawan yang hari ini berumur 30/40-an. Bahkan sebagian besar mencampakkannya ketika umur belum mencapai 20-an. Bagian dari banyak cerita-cerita penyesalan orang “insyaf”. Seburuk itu memang punk.

Ayo kita tarik kendor lagi, siapa bilang tidak bisa? Tinggal kita hapus garis batas lama dan melihat sampai di mana garis kompromi yang baru. Sampai semua kawan disponsori partai? sampai semua rekan menjadi corong kampanye calon pemimpin daerah? bermain band di acara tentara? sampai semua teman beririsan dengan ormas fasis? sampai band metal kanan kiri kalian bermain di acara megaloman rasis? Lupakan semua etos punk yang tak lagi relevan itu, mari buat garis baru. Sampai mana? Kagok edan.

Punk memang tak pernah lagi relevan. Siapapun yang meredefinisinya akan kecolongan dan berteriak copet. Sama halnya dengan berharap para punks terlibat di dalam pergolakan sosial. Tentu kalian paham yang saya maksud. Bukan solidaritas sosial seperti donor darah, kerja bakti, membantu yang tidak beruntung dan hal-hal filantrofis lain. Jika itu yang dimaksud, tentu saya sudah melecehkan dengan amat sangat, seolah komunitas di Bandung tidak melakukan itu. Persis isi kotbah para pejabat menjelang Mayday.

Rentang waktu punk hadir sebagai pencerahan dengan tanda seru sudah lewat. Saya pernah bisa bersyukur, paling tidak masih menemukan teman yang masih sepakat untuk menjalani jalan lain itu. Itu sudah lebih dari cukup, sampai beberapa minggu kemarin ketika saya sadar saya keliru. Ada baiknya saya merevisi lagi makna dari ‘paling tidak’ yang biasa saya ingat-ingat. Mereka tetap teman, sahabat dan kerabat. Hanya saja “Jalan Lain” tak lebih dari sekedar judul buku almarhum Mansour Fakih. Tak lebih.

Saya tak lagi percaya kalimat “Punk Is Dead”, jangan-jangan memang punk tak pernah lahir di kota ini. Hanya desas-desus mitos yang kalian dengar pernah hadir di dua dekade lampau, atau dalam versi generiknya; berupa tajuk kecil “punk diciduk saat mengemis” di satu sudut kolom surat kabar tak terkenal. Fosil dan gaib. Saya hampir tak percaya saya membahasnya lagi.

Jika ada yang bertanya soal jejaknya, paling tidak hari ini saya bisa menunjuk ke segilintir kepala yang hadir pada penghadangan penggusuran di satu sudut kota, di sekitar berisik toa pada aksi solidaritas terhadap penangkapan petani Majalengka yang bergaung sampai ke Bandung seperti halnya ke kota lain. Di deretan buku yang dijejerkan saat aksi simbolik bagi kawan-kawan Perpustakaan Jalanan yang disikat militer di tengah kota kita sendiri, di antara rintik hujan menggotong pompa penyedot air hasil udunan menuju lokasi banjir di Bale Endah. Di ruang-ruang sempit kontrakan membuat ruang belajar alternatif dan lingkar studi koperasi. Tapi saya yakin, tak akan ada yang bertanya.

Saya menolak tawaran Kimung hari itu, pun tulisan ini bukan penggantinya. Di tengah badai perang politik identitas dan huru-hara politik elektoral, seharusnya ia mengirim saya satu termos minuman hangat. Dan saya masih menyukai album baru Strife pasca reunian meski terdengar generik dan redundan.

Sumber: gutterspit.com

Memelihara Nyala dan Berbagi Api: Sebuah Pengantar

Oleh Herry Sutresna

Skena musik Bandung memiliki sejarah yang cukup panjang jika melihat konteksnya dengan dinamika kota yang melahirkannnya. Berbicara tentang lahirnya komunitas musik yang mandiri di Bandung tak bisa dilepaskan dari persoalan bagaimana secara sosiologis mereka terhubungkan oleh semangat petualangan. Petualangan yang menggiring pada ide-ide dan praktek-praktek aktivitas di luar sistem yang ada.

Pada awal hingga pertengahan 90-an, ketika alternatif tidak tersedia di luar sana, komunitas musik di Bandung pada awalnya merupakan salah satu contoh bagaimana upaya membangun infrastruktur mereka sendiri untuk menjawab kebutuhan itu. Dari mulai menguasai pengetahuan atas proses produksi hingga membuat jejaring (network) distribusi produk dan informasinya sendiri.

Persoalan musik dan komunitas ini menjadi lebih penting lagi ketika melihat fase berikutnya, saat melihat bagaimana mereka yang menjadi bagian dari skena musik adalah mereka yang terlibat dalam perubahan di sudut-sudut kota, disadari atau tidak. Pernah ada waktu komunitas yang lahir dari kecintaan terhadap musik ini pula terlibat dalam pergolakan pada waktu-waktu krusial, dalam skala nasional maupun regional. Paling tidak jejaknya dapat dilacak sejak momen transisi sebelum dan sesudah 1998.

Sejak akhir 90-an, komunitas musik memiliki arti lebih dari sekadar sejumlah orang yang mencintai musik dan membuat ‘klub sosial’. Secara organik, komunitas-komunitas tersebut tak hanya berdiaspora namun juga bersimbiosa dengan komunitas lain membuat simpul-simpul, ruang-ruang baru dan memperluas aktivitasnya ke ranah sosial-politik lebih intens dari sebelumnya. Berbekal kemandirian ketika memulai skena musik, para individu ini melebarkan definisi kemandirian ini ke wilayah-wilayah yang lebih besar lagi, tak hanya lingkaran budaya, juga wilayah ekonomi-politik. Tak hanya beririsan dengan komunitas kultural seperti lingkaran literasi namun juga dengan kelompo-kelompok yang termarjinalkan secara sosial dan politik seperti buruh dan kaum miskin kota.

Bandung pada rentang waktu awal hingga akhir 2000-an merupakan tempat yang subur bagi eksperimen-eksperimen komunitas di wilayah sosial-politik tersebut, terutama yang beririsan dengan isu-isu kota. Pada rentang waktu itu lahir ruang-ruang publik yang diinisiasi individu-individu dengan beragam latar belakang. Ruang-ruang tersebut merupakan arena bermain, belajar dan tempat individu-individu berdialektika dalam proses aktualisasi dan jati diri mereka. Tempat individualitas dan komunitas menciptakan dan menumbuhkan satu sama lain. Di mana secara politik memperkuat wilayah personal dan memberdayakan, dan sebaliknya, domain personal memperkuat ranah politik karena ia memperkayanya. Individu dan kolektivitas saling memelihara bukan saling menundukkan satu sama lain.

Dengan segala keterbatasannya, tempat-tempat itu menjadi titik temu bagi individu dari lintas komunitas dapat bertemu pada banyak momen dan melahirkan lagi kemungkinan-kemungkinan aktivitas kolektif lainnya. Gigs musik dibuat beririsan dengan isu-isu dan aktivitas pemberdayaan yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan di sekitar mereka (kasus penggusuran, perampasan lahan dan konsolidasi bencana alam, misalnya), pameran seni rupa, festival zine, dan fotografi dari para punks pula berbicara tentang pergulatan di keseharian para buruh. Acara literasi berdampingan dengan diskusi isu warga dan solidaritas bagi mereka yang berjuang seperti para korban penggusuran, misalnya. Ruang-ruang baca hadir bersama dengan penolakan terhadap pemberangusan buku dan kebebasan berekspresi, berkumpul dan berorganisasi. Para kurun waktu itu individu dan komunitas memasuki fase penting menjadikan musik bagian yang tak terpisahkan dari dinamika sosial politik yang hadir di kota. Musik dan aktivisme secara organik bersenyawa. Meruntuhkan dinding penyekat antara definisi musisi, aktivis dan warga kota. Dengan relasi sosial sedemikian rupa, musik berkesempatan menjadi elemen perubahan sebagai bagian dari yang partisipatoris dan egaliter, tidak lagi menjadi media komoditas politik pasif yang selama ini kita alami di rezim orde baru (atau bahkan hingga hari ini ketika dangdutan hadir pada masa kampanye dan musisi menjadi caleg dan pimpinan daerah).

Ketika ruang-ruang itu melenyap satu persatu saat akhir 2000-an dan memasuki duaribubelasan, dinamika komunitas yang otonom dan egaliter tersebut sedikit demi sedikit mengendur. Aktivitas politik warga yang partisipatoris semakin terkikis dan teralienasi. Ruang-ruang itu harus menyerah pada hal-hal yag pragmatis yang tak siap diantisipasi oleh individu-individu di komunitasnya, sebut saja salah satunya, semakin mahalnya uang sewa tempat/lokasi.

Ini diperburuk dengan fenomena pembatasan ruang berekspresi di Bandung dalam bentuk politik perizinan dan terkooptasinya relasi sosial otonom yang mandiri dan egaliter digantikan oleh proses kooptasi perusahaan besar/korporasi dalam memfasilitasi kebutuhan di skena musik. Ditambah pula oleh bergantinya generasi di dalam skena Bandung sendiri tanpa sempat terjadi transformasi pengalaman mempertahankan tradisi yang sudah dicapai.

Apa yang terjadi dalam lima tahun ke belakang merupakan sebuah hasil dari proses dekadensi itu. Namun ada beberapa hal yang menggembirakan kiranya lahir di Bandung seiring dengan munculnya generasi baru yang bergulat dalam ruang-ruang dan pilihan-pilihan yang terbatas itu. Generasi ini adalah mereka yang tak lagi menyerah pada keterbatasan ruang mandiri yang melenyap ditelan pragmatisme. Mereka justru mencoba membawanya keluar dari zona aman, dan melakukan pertaruangan di ruang-ruang publik kota.

Kali ini, meski mereka tak lagi terlalu mengidentifikasikan diri sebagai komunitas berbasiskan musik, namun kita bisa melihat dari individu yang terlibat, mereka datang dari latar belakang yang sama dengan pendahulu mereka, tak hanya membuat acara-acara musik otonom, mereka pula secara inklusif membaur dengan warga (marjinal) kota dan elemen-elemen progresif lain seraya memberi solidaritasnya bagi mereka yang sedang berada dalam krisis dan berjuang di luar Bandung.

Tak hanya terlibat dalam pengorganisiran aktivitas warga seperti ruang-ruang belajar anak, juga terlibat dalam pengkonsolidasian bantuan bencana alam, pendistribusian akses literasi, krisis konflik ruang hidup di kota hingga bahu membahu bersama elemen lain melawan kebangkitan fasisme yang belakangan kembali menyeruak dalam bentuk pelarangan acara, pemberangusan bacaan dan penyerbuan markas-markas/tempat-tempat berkumpul. Mereka menantang dan berpikir ulang perihal ruang publik, aktivitas (publik) otonom, hingga gerakan sosial dalam konteks yang lebih luas.

Dengan berkaca pada pengalaman selama dua dekade ke belakang, kita dapat memahami mengapa kemudian keberhasilan ikhtiar mengubah kota selama ini di Bandung tak pernah terlepas dari ruang dan pertarungan untuk merebutnya.

Sumber: Booklet CD Organize! Benefit Compilation for Community Empowerment

Konser Metal Untuk Semua

Oleh anonim

“Tadi sempat hujan deras, tapi sekarang sudah berhenti. Ini adalah bukti bahwa Tuhan memberkati musik setan,” kata Daniel vokalis Deadsquad dengan lantang dan jelas. Ucapan itu kemudian diamini para metalheads dengan mengangkat tangan mereka yang membentuk devil horns tinggi-tinggi ke udara.

Tentu saja ribuan manusia yang Minggu (17/10) sore itu berada di Bulungan Outdoor tidak sedang melakukan prosesi pemujaan setan ataupun upacara penyembahan berhala. Melainkan, sebuah konser musik metal sedang berlangsung di sana.

Deadsquad adalah band terakhir yang tampil sebelum break Maghrib. Minus pemain gitar Choky, Deadsquad menggempur telinga metalheads dengan komposisi-komposisi padat namun estetis mereka dari album Horror Vision (2009).

Setelah menuntaskan lagu ketiga, “Hiperbola Dogma Monoteis”, pemain bass Boni yang memiliki gaya khas mencabik-cabik 4-strings dengan rokok tersemat di bibir itu mengajak penonton berinteraksi. “Coba gue mau lihat tangannya dong,” pintanya kepada para penonton. Sontak ribuan devil horns kembali terlihat lagi di udara.

Tampak puas, Boni kemudian melanjutkan, “Ada yang bilang ini adalah simbol Zionis. Salah berat. Mereka nggak tahu kalau ini dipopulerkan oleh Ronnie James Dio? Bertahun-tahun main musik metal nggak kenal siapa Dio?”

Seperti yang tertulis dalam keterangan di situs jejaring sosial, konser yang diselenggarakan kolektif Bandar Metal yang diberi tajuk Metal Untuk Semua itu, “Bertujuan mengkampanyekan perdamaian, menghargai perbedaan dan menjunjung toleransi antarumat beragama yang belakangan mulai terganggu dengan aksi-aksi kekerasan/teror berkedok agama.” Menengok pada konteksnya sebagai kampanye, maka wajar rasanya bila hari itu para musisi yang tampil terlihat berapi-api dalam menyuarakan aspirasi mereka masing-masing dari atas panggung.

Seluruh band yang tampil di acara tanpa sponsor ini tidak ada satu pun yang dibayar, mereka secara sukarela ikut serta di acara ini untuk ikut mengampanyekan perlawanan terhadap terorisme dan menghargai perbedaan. Sementara keuntungan yang di dapat dari acara ini nantinya akan dibagi secara rata bagi seluruh band yang tampil.

Soal devil horns atau metal horns, yang sempat jadi polemik di kalangan metalheads Jakarta, hari itu tampaknya menjadi isu seksi yang terus menerus disinggung para musisi yang naik ke atas panggung. Tema acara “Konser Pro-Pluralisme & Anti-Terorisme” juga sepertinya sengaja dirancang untuk merespon propaganda yang coba menggiring subkultur metal menjadi eksklusif hanya bagi satu golongan atau agama tertentu saja.

Secara tersirat, tema ini tampaknya telah dipahami dengan baik oleh semua yang hadir, “Pro-Pluralisme” menjadi pesan: Musik heavy metal dan subgenrenya adalah untuk semua yang hadir, yang tidak perlu dipolitisir dengan ajaran-ajaran agama tertentu sehingga berpotensi menyulut perpecahan komunitas di dalam subkultur yang telah sejak puluhan tahun lamanya hidup dalam aneka perbedaan agama, suku, ras, status sosial, dan sebagainya.

Tema “Anti-Terorisme” adalah untuk meng-counter upaya infiltrasi doktrin teror dengan kekerasan yang berkedok agama kepada segenap metalheads muda yang mayoritas mudah dipengaruhi. Fakta membuktikan bahwa beberapa dari ”pengantin” (pelaku terorisme) di Indonesia adalah kalangan ABG. Ada indikasi kuat pula bahwa kini para teroris berkedok agama coba menggunakan medium musik metal sebagai salah satu proses rekrutmen ”pengantin.”

Sebelum Deadsquad, Panic Disorder memborbardir para pecandu distorsi dari atas panggung dengan nomor-nomor beringas mereka. Bak hewan buas yang berada di dalam kerangkeng, para metalhead di barisan terdepan ber-headbanging sembari mengguncang-guncangkan pagar barikade yang membatasi mereka dengan panggung.

Seorang remaja puteri yang baju dan rambutnya tampak basah karena siraman hujan beberapa waktu sebelumnya memilih untuk melakukan sesuatu yang lebih liar lagi: Berdiri di atas pagar barikade, dan mengguncang-guncangkan kepalanya di sana selama beberapa saat. Panic Disorder menyudahi kegilaan itu dengan lagu terakhir, “Doktrin Penghancur”.

Hujan gerimis masih turun tatkala band sebelum Panic Disorder tampil, Seringai. Tapi para metalheads tak gentar oleh butir-butir air yang terus berjatuhan di atas kepala mereka. Sebaliknya mereka terlihat lebih berapi-api saat mengepalkan tangan ke udara sembari berteriak bersama-sama, “Individu / Individu Merdeka!!!”

Seakan menolak tunduk pada dogma apapun yang selalu mencoba mengontrol pikiran mereka. Melihat pemandangan ini mengingatkan pada salah satu bagian penting signature Roger Waters eks-Pink Floyd, “The Wall”: “We don’t need no education / We don’t need no thought control…”

Vokalis Arian13 seakan menemukan ruang untuk menyampaikan pandangan-pandangan politisnya secara leluasa di sini. Mereka yang sepekan sebelumnya sempat menyaksikan penampilan Seringai di Pantai Karnaval, Ancol, pasti menyadari bahwa set list Seringai sore itu tidak jauh berbeda. Dan masih sama pula seperti pekan sebelumnya, orasi Arian sore itu juga berisi seputar kritiknya pada aparat kepolisian Bandung yang susah memberikan ijin untuk mengadakan acara musik dan juga mengkritisi kebijakan sensor internet oleh Menkominfo Tifatul Sembiring.

“Dia pernah mengatakan bahwa bencana alam yang terjadi di Indonesia itu karena perbuatan tidak bermoral. Sehingga dia merasa perlu untuk memblokir situs porno,” kata Arian. “Itu sih karena letak geografis Indonesia saja yang berada di daerah rawan gempa.”

Selain nomor-nomor lama, Seringai membawakan dua lagu baru lainnya yaitu: “Dilarang di Bandung” dan “Program Party Seringai”. Dan hujan pun mulai reda.

Sebelumnya tampil cadas pula band old school death metal Jakarta, Ritual Doom yang masih digawangi oleh gitaris perempuan Vivi dan kini bersama vokalis Arry Fajar (eks-Purgatory). Band brutal death metal Funeral Inception membuka konser sore hari itu dengan meng-cover nomor milik Nile yang berjudul ”Kafir.” Doni Iblis, vokalis sekaligus show director Metal Untuk Semua termasuk salah satu yang berorasi cukup keras sore itu.

Metal is about fun! Metal tidak ngajari kita untuk ngebom, tidak ngajari kita untuk membenci atau anti terhadap agama lain, it’s about fun!” Tak lama setelah ia berorasi mendadak hujan pun turun cukup deras.

Band grindcore yang sangat plural komposisi personelnya, Noxa, tampil cukup pagi di acara tersebut. Karena beberapa orang personel mereka harus bekerja di hari Minggu. Walau tampil pagi bukan berarti para penggemar tidak ada, venue yang awalnya masih sepi mendadak ramai begitu Noxa mengentak dengan nomor-nomor brutal cepat dan pendek mereka.

Pluralisme memang bukanlah sesuatu yang aneh di dalam Noxa. Tak ada personelnya yang bersuku dan beragama sama di dalamnya. Vokalis Tonny beragama Kristen dan bersuku Batak, gitaris Ade adalah Muslim dan bersuku Jawa, bassis Nyoman adalah Hindu dan berasal dari Bali sementara drummer baru mereka, Alvin beragama Katolik dan berasal dari Jakarta. Semuanya berjalan dengan baik di dalam band ini tanpa menghiraukan apapun latar belakang mereka masing-masing.

Beberapa yang tampil kemudian di Metal Untuk Semua di antaranya adalah band metalcore Straightout, gothic power metal Gelap, death thrash metal Death Valley, veteran death metal Trauma, Sabor hingga Death’s Gray. Semuanya sama-sama meneriakkan perlawanan terhadap terorisme dan pesan-pesan toleransi antarumat beragama.

Jumlah penonton tidak berkurang secara signifikan ketika band thrash Oracle tampil membuka sesi kedua setelah break maghrib. Vokalis Troy Adam dengan rendah hati berterima kasih karena bandnya telah diundang di acara ini. Kemudian mereka kembali memanaskan amplifier dengan lima lagu, yang tiga di antaranya merupakan lagu dari album mereka No Truth, No Justice (2010): “Blessed in Funeral”, “K.P.K” dan “Calo Bangsat (Airlines).”

Dreamer juga menjadi band yang ditunggu-tunggu penonton malam itu. Vokalis perempuan Rika Ariga yang malam itu tampil cantik dan lebih leluasa untuk ber-headbanging setelah melahirkan, berhasil menjadi faktor penarik penonton untuk merapat ke depan panggung. Mereka membawakan dua lagu sendiri “Bait Suci” dan “Seroja 1975”, sebelum mengundang vokalis heavy metal legendaris Arul Efansyah untuk naik ke atas panggung.

“Selamat malam, Rakyat Metal!” teriak vokalis band Power Metal itu dengan suara melengkingnya yang khas. Kemudian bersama Arul, Dreamer membawakan dua lagu Power Metal, “Angkara” dan “Timur Tragedi”. Untuk beberapa saat venue jadi terasa berada di tengah pusaran puting beliung akibat pertemuan energi dari panggung dan penonton yang sama besarnya.

Tak lama berselang setelah penampilan Dreamer usai, band death metal Jakarta Timur, Siksakubur, kembali membuat ribuan orang yang masih bertahan di sana menjadi kehilangan kendali. Instrumental “Darah Terpilih” yang angker itu terdengar ketika pemain gitar Andre Tiranda, pemain bass Ewin, pemain gitar Nyoman dan pemain drum Prama sudah siap di atas panggung.

Ketika intro lagu “Anak Lelaki dan Serigala” yang menghentak terdengar, dan vokalis Japs muncul, metalheads pun langsung mengangkat devil horns mereka tinggi-tinggi sekali lagi. Dan Siksakubur pun tak segan menggempur mereka dengan lagu dari album terakhir mereka itu, Tentara Merah Darah (2010).

“Coba gue mau lihat tangan kalian semua. Gue mau melihat apakah jari kalian masih baik-baik saja,” kata pemain gitar Andre Tiranda kepada penonton setelah memainkan lagu kedua, “Menanduk Melawan Tunduk”. Dan tanduk-tanduk setan itu pun terlihat kembali.

“Ternyata jari kita masih baik-baik saja, ya,” kata Andre kemudian sedikit tertawa. Siksakubur pun melanjutkan dengan “Destitusi Menuju Mati” dari album Eye Cry (2003), serta dua lagu lagi dari album terakhir mereka “Dewa yang Terluka” dan “Memoar Sang Pengobar”.

Sebagai penutup acara, Bandar Metal mendaulat band thrash metal legendaris Roxx sebagai pemungkas acara. Roxx barangkali satu-satunya band yang paling santai malam itu. Meski di belakang panggung terpampang spanduk acara berukuran besar, lengkap dengan nama acara dan temanya, gitaris Jaya berkata pada satu jeda, “Prularisme! Apaan tuh? Gue nggak ngerti. Yang gue ngerti cuma kemaluan!” Para penonton pun spontan terbahak-bahak mendengar guyonan Jaya.

Namun, penonton tampaknya telah mahfum dengan karakter gitaris berambut keriwil yang senang bersenda gurau itu. Sehingga ucapan tersebut tidak menjadi sesuatu yang dianggap kontra terhadap tema acara. Roxx membawakan tujuh lagu malam itu, di antaranya “Price,” “Rock Bergema,” serta “Heroin”—yang mereka tulis untuk mantan pemain drum almarhum Arry Yanuar. Sebagai penutup, tak lupa Roxx membawakan satu nomor milik Metallica, “Seek & Destroy,” yang mungkin sengaja dipilih untuk menyatukan semangat melawan terorisme.

Legenda thrash metal Indonesia Roxx, vokalis legendaris heavy metal/power metal Arul Efansyah, serta band-band metal besar lainnya telah tampil menyuarakan dukungan terhadap kemajemukan—atau yang biasa kita sebut dengan Bhineka Tunggal Ika. Maka masih perlukah kita membangun eksklusivitas golongan? Jelas tidak!

 

Sumber: Rollfreakz

Catatan Terbuka Bagi Kawan-kawan Ujungberung Rebels

Oleh Herry Sutresna

Angin mulai menggantikan rutinitas hujan mengunjungi Bandung. Untuk beberapa malam agak tidak aman berkendara di atas jalan layang Pasupati menggunakan motor dengan kecepatan tinggi karena angin kencang dari samping dapat tiba-tiba membuat motor oleng. Bagi saya, pukul  8 malam agak terlalu dini untuk keluar, mengingat itu masih dalam lingkaran waktu krusial menemani anak-anak saya mengerjakan pekerjaan rumah. Kawan-kawan bersepakat bertemu pukul 8 malam dan saat itu sudah hampir pukul 9. Saya terlambat, seperti biasa. Oleh karenanya tak peduli angin gerubuk, saya tetap memutuskan melewati Pasupati untuk menghindari forum berjalan lebih ngaret lagi.

Sesampai disana kawan-kawan menyambut dengan sindiran atas keterlambatan, tawaran kopi susu hangat dan laporan awal perihal sebuah billboard dan acara peluncuran buku di sebuah kafe yang cukup mengagetkan kami. Isu adanya pejabat pemerintahan dan desas-desus kooptasi plus penggiringan komunitas pada isu kampanye terselubung itulah yang membuat kami berkumpul. Beberapa kawan dari komunitas Ujungberung pula hadir disana untuk berbagi info tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Scene Bandung (atau bisa dimanapun) nampaknya sudah melewati persoalan ko-optasi lebih dari satu dekade lalu. Persoalan kooptasi, selling-out, komersialisme sudah terlalu basi untuk dijadikan wacana kritis setelah menahun dibahas dengan banal-nya. Bagi saya pribadi, urusan menjadikan karya dan aktivitas personal dan komunal bebas dari unsur keterlibatan korporasi, sudah saya jadikan doktrin personal. Cukup dipraktekan sendiri dan peduli setan apa yang orang lakukan. Dan rasanya sejauh ini cara itu adalah yang paling nyaman, indah dan efektif. Saya hanya perlu memfokuskan diri pada apa yang saya dan kawan-kawan saya yakini (merilis/mendistribusikan rekaman, membuat media dan acara komunitas) secara independen tanpa korporasi, dan tak perlu lagi membuang energi mengkritik mereka yang tak sejalan. Bagi yang sejalan, kita bisa bekerja bareng, bagi yang tidak, mereka bisa menikmati hidup dengan jalan mereka. Sesimpel itu, karena selain masalah ini tidak hitam-putih, pula karena toh pada akhirnya semuanya adalah pilihan.

Bahkan ketika belakangan fenomena endorsement Djarum Super semakin menggila di komunitas-komunitas di Bandung, saya -sumpah mampus- tidak peduli. Berjalan bersama kawan-kawan di scene Bandung sejak hampir 20 tahun lalu, saya belajar banyak hal dimana tidak semudah itu menilai fenomena ko-optasi dan integritas, bukan hanya karena pergeseran nilai semata, namun faktor-faktor dan apa yang terjadi diluar sana sangat kompleks. Bukan hanya karena saya tidak hidup di ruang dan waktu saat Tim Yohannon membuat Maximmum RockNRoll, namun yang ini paling beralasan; banyak hal lain yang lebih penting dan lebih layak secara strategis kita perhatikan dibanding mempermasalahkan hal-hal itu.

Pada level kultural agaknya lebih mudah untuk membuat toleransi dan memahami nilai. Tapi belakangan fenomena menjijikan nampak mulai menyeruak di Bandung ketika kooptasi mencapai level Politik (dengan P besar, tentunya), persis ketika ada nama pejabat diarak-arak ke tengah lingkaran ‘underground’ (whatever the fuck that means). Banyak kawan yang segan untuk menyikapi dan memberi pernyataannya karena banyak hal. Misalnya pertemanan, kondusifitas komunitas dan tentunya; nama besar pluralisme dan toleransi yang komunitas di Bandung usung sejak lama.

Saya tidak sedang berkata bahwa kawan-kawan sedang lupa perihal politik kekuasaan yang menyebalkan dan dampaknya pada komunitas. Namun rasanya ada yang menggelikan saat komunitas yang besar tumbuh mandiri, tidak tidak dibesarkan oleh kekuasaan dan tidak bergantung pada bantuan korporasi, namun di kemudian hari mengusung para elit politik ke tengah-tengah komunitas terutama di waktu-waktu ketika angin pemungutan suara mulai bertiup kencang seperti angin malam di atas Pasupati yang bisa membuat motor kalian oleng. Terlebih dengan sadar menempatkan diri di tengah pacuan kuda kepentingan politik para elit adalah sesuatu yang kebablasan kalo tidak bisa disebut keterlaluan.

Sebelum ini jadi salah paham, saya tekankan bahwa saya tidak sedang mempermasalahkan kerja bareng banyak kawan dengan Djarum Super, meski bagi saya pribadi mengguritanya tentakel mereka adalah sumber masalah. (Sudah bukan rahasia lagi kedekatan orang dalam Djarum dengan beberapa calon Walikota berurusan dengan dana kampanye dan berujung pada negosiasi politik). Selama ini, identifikasi Djarum sebagai korporasi musuh hanya sebagai strategi di kalangan kami yang bekerja di ruang-ruang ‘politik’ dan ‘aktivisme’, bukan sebagai alasan untuk tidak menghormati pilihan kawan-kawan lain di wilayah kultural.

Adalah hak mereka untuk bekerja sama dengan korporasi manapun termasuk Djarum, meski bagi kami Djarum sama busuknya dalam mengacak-ngacak Bandung, terutama sebagai korporasi cerdik oportunis yang menunggangi sempitnya ruang gerak komunitas di kota ini pasca tragedi AACC yang menelan korban jiwa, dimana pasca tragedi itu muncul politik perizinan yang hanya mengizinkan mereka yang berduit dan dekat dengan kekuasaan yang bisa membuat acara musik secara intens. Kondisi ini menghasilkan lebih banyak lagi broker event dan EO-EO oportunis yang sebelum kasus AACC terjadi jarang muncul karena tak laku di tengah-tengah kemandirian komunitas.

Momen AACC itu seolah jadi titik balik bagi Bandung, seolah menjadi pembenaran otoritas untuk membatasi acara kawan-kawan yang selama ini tak pernah bermasalah juga menjadi lahan empuk bagi aparat kepolisian untuk mendapatkan sumber dana segar tambahan. Anehnya, Bandung seolah ikut larut pada plot yang mereka setting. Kondisi ini akhirnya membuat banyak legitimasi baru; mulai dari kebutuhan kita pada belas kasihan finansial korporasi, dukungan partai politik hingga pembenaran bahwa rasa aman hanya datang dari militer, dampak dari saking seringnya acara dibuat di daerah militer untuk menghindari gangguan polisi.

Saya tak tahu apakah ini dekadensi bagi Bandung atau bukan, namun yang saya tahu, Bandung dari tahun ke tahun hidup dari nyawa acara-acara kecil namun intens, dimana komunitas berkumpul dengan intim berkomunikasi. Dimana band-band baru bermunculan dan belajar bersama tentang komunitas. Acara besar hanya sebagai perayaan selingan seperti hari raya, penting namun bukan nyawa komunitas. Acara bagi kami dahulu bukan sekedar menonton band manggung seperti layaknya panggung-panggung musik diluar sana pada umumnya. Disana terjadi tak hanya tontonan hiburan belaka (which is still the best part of our world), namun juga pertukaran informasi, skill, wacana bahkan aktifitas ekonomi yang organik dan otonomus.

Dengan adanya politik perizinan, semuanya bubar. Setelah itu cerita kemandirian berangsur berganti makna menjadi cerita bagaimana banyak kawan ‘mandiri’ dalam memilih bekerja sama dengan dompet-dompet tebal dan menyesuaikan dengan izin legalitas yang ada dibanding mengorganisasikan diri sebagai kesatuan identitas dalam melawan politik perizinan yang diskriminatif ini. Hanya sedikit saja kawan-kawan di Bandung yang tetap mengorganisir acara sendiri seperti kawan-kawan di kolektif Alternaiv/Balkot, kolektif Hardkor Kios dan kolektif Pyrate Punx yang memiliki sound system sendiri sehingga bisa bergerilya mengadakan gigs mikro. Tapi mereka hanyalah minoritas.

Meski saya tahu tak ada seorangpun di komunitas Bandung ini berniat, aksi kawan-kawan itu jika terus menerus dan ditradisikan sama artinya dengan menihilkan keberadaan komunitas-komunitas kecil yang tak punya daya tawar apa-apa untuk membuat acara selain niat, passion dan ketulusan mereka. Beruntung bagi mereka yang punya cukup duit, dekat dengan broker event dan pintu-pintu duit korporasi (seperti Pak Herman Djarum Super itu) atau dekat dengan partai politik atau elit politik/ pejabat tertentu. Yang tidak? silahkan bermain di studio gigs, diam duduk manis atau bikin acara yang siap digerus dan siap-siap berhadapan dengan aparat atau ormas-ormas fasis.

Sekali lagi, semua berhak memilih keterlibatan mereka dengan pihak manapun jika berbicara di level kultural. Bahkan dengan Freeport sekalipun saya bisa tak ambil peduli. Invasi dalam ruang kebudayaan hanya bisa ditandingi oleh kultur tandingan, bukan dengan boikot acara yang hanya menggesek secara permukaan saja dan menciptakan potensi konflik horizontal dengan sesama kawan yang notabene hanyalah korban dan tentu saja; kontra-produktif. Namun permasalahan akan sama sekali beda jika fenomena dukungan mulai pula mengusung-ngusung seorang (atau lebih) elit politik seolah selama ini komunitas menjadi besar atas keterlibatannya.

Gelagatnya dimulai jauh hari, mulai nampak aneh ketika suatu hari di bulan Juni tahun lalu saat saya mendengar perihal konferensi pers event “Bandung Berisik” di sebuah kafe, dihadiri oleh Wakil Walikota, anggota dewan asal fraksi Golkar (what the fukk?!) dan beberapa kawan dari komunitas Bandung. Memang hanya sekedar dialog, tatap muka/ramah tamah namun fenomena itu tetap menggelikan, meski akhirnya bisa kami anggap itu sebuah blunder yang diperlukan oleh kawan-kawan agar acara sukses.

 

Konferensi Pers “Bandung Berisik” Juni 2011, gambar dipinjam dari http://www.bandung-underground.com

Enam bulan kemudian, datanglah hari samber geledek itu. Beberapa minggu lalu. Terus terang meski muak, saya sudah terbiasa melihat neonbox dan billboard Djarum Super di hampir tiap pojokan Bandung. Namun kali ini saya sungguh terkejut pada suatu hari melihat tak hanya Djarum bersanding dengan nama kawan-kawan, tapi pula nama Ayi Vivananda. Seorang yang kita tahu hari ini menjabat sebagai Wakil Walikota Bandung, dan sedang dalam usaha kampanye terselubungnya sebagai salahsatu calon Walikota dalam pertarungan Pilkada mendatang. Meski hanya promosi sebuah diskusi pada peluncuran satu buku seorang bule yang membahas musik ‘Underground’, penampakan pada billboard itu menjadi tidak biasa karena nama sang wakil walikota terpampang sebagai salahsatu pembicara. Saya langsung ngeh, bahwa fase kooptasi memasuki sebuah fase yang krusial, dengan begitu terang-terangannya.

Yang saya ketahui sejak dahulu scene Bandung berusaha menjauh dari hal-hal yang berbau usung-mengusung pejabat. Tak perlu menjadi seoraang aktivis, anarkis atau orang melek politik untuk tahu bahwa pejabat di negeri ini punya kepentingan tersendiri yang akan selalu berada dibalik kepentingan ekonomi. Mereka akan selalu berpihak pada kekuasaan modal bukan kepentingan warga. Contoh sepelenya: jika benar pembersihan pedagang kaki lima di area Dago untuk kebersihan dan ketertiban, lalu mengapa setelah aksi K3 itu bertaburan FO-FO dan butik fashion/kuliner keparat yang justru memacetkan Dago dan memproduksi sampah lebih banyak dari pedagang kaki lima. Atau kasus perusakan lingkungan di Cimenyan, kalian tentu tak perlu jadi orang pintar untuk tahu siapa yang membekingi para kontraktor brengsek itu. Atau kasus undang-undang tata ruang yang memberi jalan lebar bagi pengelolaan ruang publik secara komersil dan hubungannya dengan kriminalisasi Pak Haji Atjeng dan kasus Ciosa. Atau kasus kebebasan berekspresi dan berpendapat sekalipun, jika kalian pikir kasus penyerbuan dan pembubaran diskusi di Ultimus lampau oleh ormas itu tanpa sepengetahuan pemerintah dan aparat, silahkan buat diskusi sejenis secara terbuka (bukan sembunyi-sembunyi) untuk mengetesnya besok hari.

Puncaknya, hari ini, yang seharusnya menjadi hari yang membanggakan, betapa tidak, pada akhirnya kawan-kawan Ujung Berung merayakan hari mereka sebagai komunitas; membuat acara besar bertajuk “REBEL NATION” yang lebih dari sekedar acara musik namun juga pameran dokumentasi perjalanan komunitas, drawing workshop, penulisan dan bazaar produk-produk lokal dsb dalam dua hari. Ini cukup berarti karena sudah seharusnya mereka mendapatkan kredit atas apa yang telah mereka lakukan.

Bagi saya pribadi, saya memiliki hutang inspirasi tersendiri pada mereka, sejak hampir dua dekade lampau saat saya pertama kali menemukan zine lokal pertama dalam hidup saya, Revogram, yang inspiratif dan membukakan saya pintu ke ruang yang lebih luas lagi atas pemaknaan musik, komunitas, kemandirian dan pergulatan eksistensi. Dimana seiring dengan berjalannya waktu, sebagian besar dari mereka bukan hanya menjadi sekedar sesama scenester di Bandung, namun terlebih telah menjadi sahabat dan keluarga. Pernah bertukar keringat dan suara di mosh pit, berdarah bersama di era meruntuhkan rezim Suharto, pernah menggelandang bersama,  makan dari piring yang sama di era tak menentu mencari pemaknaan atas kebenaran di antara bumi dan langit bahkan bersama pula memakamkan beberapa kawan.

Hari ini yang seharusnya saya bisa yakin bahwa menjadi besar, solid, bertahan dari amukan waktu hanya bisa dibuktikan oleh komunitas Ujung Berung. Komunitas yang memiliki band dari yang sangat radikal hingga yang paling kompromis dalam hal berurusan dengan korporasi namun tak satupun yang jelek secara estetis. Komunitas dengan ikatan emosional antar anggotanya yang tak pernah saya temukan padanannya di pojok Bandung manapun. Namun lagi-lagi, entah mengapa nama Ayi Vivananda muncul lagi di event ini, membuat saya tak habis pikir mengapa kawan-kawan bisa kecolongan masuk dalam plot politik pencitraan mereka, atau memang bukan kecolongan a.k.a disengaja?

Saya selalu berharap ini juga blunder, meski agak absurd menganggap blunder dilakukan berkali-kali, namun tak ada salahnya berharap demikian dengan harapan tak ada lagi endorsement sejenis di esok hari. Karena saya yakin tak seorangpun dari kawan-kawan yang rela disodomi secara politis dengan cara menjadi bagian dari kosmetik kampanye mereka. Saya sangat optimis ini tidak berulang, karena saya dengar tak semua dari kalian setuju beririsan dengan politik kekuasaan, saya dengar pula friksi kecil dimana kalian berdebat hingga sampai pada titik kesimpulan bahwa akhirnya acara harus tetap jalan. Salut saya berikan bagi mereka yang tak setuju namun ogah meninggalkan kawan satu komunitas menjalankan acara tanpa bantuan. Sikap seperti ini yang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa komunitas kalian begitu solid dan bertahan selama itu.

Dan saya yakin tulisan ini tidak kawan-kawan Ujungberung anggap sebagai sesuatu yang ofensif. Anggap saja ini tulisan seorang sahabat yang tak ikhlas kawan-kawannya menjadi bagian dari para penghisap kontol dan penjilat pantat seperti kebanyakan dari mereka di arena politik sana. Sebagai penutup, saya mengingatkan sedikit kredo lama yang pernah kita yakini: “Yang lebih hina dari diperintah adalah memilih mereka yang akan memerintah”, namun kita sekarang nampaknya harus pula menambahkan; “Dan yang lebih hina lagi adalah ikut terlibat mempromosikan mereka yang akan memerintah”.

mista, maja, utama nyanghareupan taun mamprang.
-Ucok.

 

Sumber: Gutterspit

Tato

Oleh Andre Barahamin

 

Saya punya tato.

Beberapa tato. Dan tentu saja, saya bukan satu-satunya di dunia ini yang memiliki tato. Sudah pasti bahwa ada jutaan orang yang memiliki tato di tubuh mereka. Jumlah-nya tak saya ketahui dengan pasti karena sependek pengetahuan ini, belum ada survey resmi tentang jumlah orang yang bertato. Sejauh ini, survey-survey masih diarahkan untuk sekedar menghitung transaksi ekonomi atau politik. Dua item ini adalah mesin utama pendorong kalkulasi massa dilakukan dengan seperangkat tes untuk memprediksi nilai sesuatu dalam skala yang sudah ditentukan sebelumnya.

Nah, kembali lagi ke persoalan tentang tato sebelum kalimat-kalimat saya lebih kacau karena penggunaan terminologi ekonomi dan aljabar.

Sebagai orang bertato, saya tentu saja merasa berbeda dengan orang yang tidak bertato. Perasaan yang sama sewaktu pernah dengan sengaja menghadiri pesta pernikahan kawan dengan sendal jepit dan celana olahraga dan kaos oblong, sementara di sekeliling saya ramai orang berpakaian dengan standar berbeda. Seperti ketika saya memilih menonton turnamen sepakbola antar kampung di dekat tempat saya tinggal ketimbang ikut membantu kawan-kawan lain yang sedang mengorganisir persiapan pentas musik di suatu sore. Tak jauh berbeda ketika di suatu siang saya menolak untuk terlibat acara memasak yang digagas oleh FNB dan memilih mengantarkan seorang teman mengikut seleksi kontes menyanyi populer di salah satu mall. Perasaan berbeda itu adalah satu dari sekian stimulus bagi seseorang -seperti saya- untuk melakukan hal yang tak sama atau bahkan sama sekali bertentangan dengan orang lain.

Buat saya pribadi, merasa berbeda adalah yang alami.

Itu natural seperti juga seseorang merasa memiliki kesamaan dengan orang lain, entah itu selera makanan, film yang ditonton, jenis musik yang didengarkan atau hal lain. Kecenderungan untuk mengasosiasikan diri dengan orang lain ataupun mengidentifikasi sebagai yang bertolak belakang, adalah dua kutub yang eksis bersamaan dalam manusia. Tidak ada sisi yang lebih baik dari yang lain. Antagonisme itu yang justru dalam pandangan saya membuat hidup seseorang menjadi menarik.

Di masyarakat yang memilih mengubur hidup-hidup tradisi merajah tubuh leluhurnya, kemudian menukarkan itu dengan agama, modernitas dan moralitas ala masyarakat industri, memiliki tato tentu tak pernah menjadi hal yang mudah. Meski sebenarnya bagi saya, hal itu cukup simple.

Karena melihat tato secara sederhana, membuat saya tak habis pikir dengan upaya keras dari beberapa orang untuk membela tato dan orang bertato. Sebabnya, saya sudah beberapa kali berjumpa dengan individu-individu yang menggunakan kaos dengan tulisan-tulisan yang membela tato. Beberapa kali juga mesti menahan diri agar tidak terlibat dalam perdebatan yang -saya anggap- konyol tentang tato. Lalu, ada sebuah lagu dari band punk (maksud saya tentu saja Marjinal) yang juga berbicara dalam kanal yang sama: bahwa tato bukanlah kejahatan. Seakan-akan bahwa tato adalah sebuah prestige yang mesti didudukkan di tempat yang selayaknya. Bagi saya yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan urban, ketiadaan diskriminasi hanya terjadi di dalam mekanisme ekonomi. Bahwa setiap orang di bawah sistem jual beli adalah sama. Hari ini, satu-satunya kesetaraan yang kita miliki adalah bahwa semua orang adalah konsumen.

Bagi para tattoo rights defenders, tato dan mereka yang memiliki tato telah mengalami diskriminasi oleh mayoritas yang tak bertato. Itu mengapa sudah selayaknya melakukan perjuangan untuk kesetaraan antara yang bertato dan tidak. Entah mengapa, saya justru tak sepakat soal isu-isu tentang kesetaraan, termasuk soal tato ini.

Dalam subjektif saya, tato memang diskriminatif. Itu fitrah-nya. Tato selalu bersifat minor sejak awal sejarahnya. Perbedaan motif tato antar komunal, adalah salah satu bukti buat saya. Bagaimana sebuah desain rupa dari tato sangat bergantung pada interpretasi sebuah kelompok atau seseorang terhadap sesuatu atau sebuah peristiwa. Bentuk-bentuk yang beragam itu merupakan hasil dari proses pemberian makna yang prosesnya sangat diskriminatif. Kesepakatan akan makna yang timbul dari bentuk tato dalam sebuah kelompok atau bagi seseorang tentu tunggal, alias hanya memiliki satu pengertian semata.

Di sini, tak ada yang namanya keragaman interpretasi.

Tato juga selalu bersifat individual di saat yang bersamaan.  Karena itu tak pernah akan kita temukan, satu tato melekat di dua tubuh yang berbeda. Karena itu kita tak akan pernah menemukan tato sebagai perekat fisikal bagi dua orang. Satu tato dengan satu arti untuk satu orang. Meski desain tato tersebut sama. Dengan kata lain, tidak ada tato yang identik seratus persen. Karena itu tato tidak memiliki fungsi dan sifat seperti kaos yang dapat kau gunakan, lalu bisa dipinjamkan kepada teman agar bisa dia gunakan. Tato melekat dan menjadi bagian personal dari seseorang. Sesuatu yang datang dari luar dan kemudian menjadi menjalin permufakatan setelah mendapatkan izin dari pemilik tubuh.

Hal lain adalah kenyataan bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi homogenitas. Dan tentu saja ketika mayoritas adalah mereka yang tak bersepakat dengan tato, tentu saja orang-orang yang memiliki tato akan memiliki kendala-kendala yang merupakan konsekuensi langsung dari hal tersebut. Ketika seseorang tidak mendapatkan perlakuan yang selayaknya karena banyaknya tato di tubuhnya, tentu saja itu adalah sesuatu yang natural. Jika anda mengalami penolakan dari seseorang karena adanya tato di tubuh anda, tentu tak perlu kaget. Seperti juga anda tak pernah kaget ketika melihat asap saat menghisap rokok. Itu persis bagaimana saya tidak kaget jika melihat seseorang mengalami kecelakaan di jalan raya.

Membela tato justru bagi saya membuat para tattoo rights defenders terlihat seperti remaja kaya cengeng sedang mogok bicara dengan orang tuanya karena menuntut naiknya jatah uang jajan bulanan.

Secara pribadi, saya juga memiliki momen-momen yang dapat dikategorikan diskriminatif karena tato yang saya miliki. Misal, saya pernah ditolak oleh seorang perempuan  ketika menyatakan cinta karena tato. Perempuan yang melahirkan saya juga berkali-kali mewanti-wanti agar tak lagi menambah tato ketika ia kaget melihat tubuh saya yang telah dirajah. Salah satu teman masa kecil juga pernah menceramahi saya tentang mengapa tato tak baik bagi tubuh dengan setumpuk argumentasi yang ia kutip dari alkitab. Namun saya tak mau mengatakan mereka itu diskriminatif. Mereka tentu saja tepat karena bertindak sesuai norma dan nilai yang mereka percayai. Itu yang mereka yakini. Seperti juga saya memiliki keyakinan dan interpretasi sendiri tentang tato dan maknanya bagi saya.

Tato bagi saya adalah perkara subjektif yang bukan merupakan konsumsi publik. Seperti prosesi membuang air besar atau ketika melakukan onani yang saya nikmati dengan baik ketika sendirian di kamar mandi. Itu mengapa, saya tidak merasa perlu untuk membuatnya menjadi konsumsi publik atau setidaknya berupaya meyakinkan orang lain tentang hal itu. Saya memilih bertato karena alasan-alasan personal yang tidak ada kait mengait apakah orang lain suka atau tidak. Jikapun ada konfrontasi akibat pilihan individual ini, maka hanya saya yang berhak bertarung dan saya merasa tidak perlu mengundang orang lain yang sama sekali tak ada kaitannya meskipun ia juga bertato.

Memperjuangkan tato agar dipandang sebagai sesuatu yang legal, baik, harmless atau terminologi lain sejenis itu adalah sesuatu yang tak masuk akal bagi saya. Ini seperti harapan untuk memperbaiki sistem ekonomi demi keadilan distribusi profit. Mengapa? Karena bagi saya, tato berada di di luar garis linear utara-selatan, hitam-putih, benar-salah, baik-buruk, dan semua oposisi biner serupa. Tato adalah tato. Ia adalah sebuah rupa yang dirajah ke kulit untuk kemudian mengokupasi ruang dengan batasan tertentu di luas tubuh seseorang. Ia bukan dagelan politik atau simbol dengan nilai yang sama bagi setiap orang. Tato bagi orang Dayak, saya dan seorang tukang tato tentu saja memiliki arti yang berbeda satu dengan yang lain. Namun itu bukan berarti melahirkan kebutuhan untuk membuat sebuah pengertian tunggal di atas multi-interpretasi ini. Alasannya juga sederhana. Karena saya, tukang tato dan orang Dayak tidaklah berbagi nilai hidup yang sama.

Saya tidak pernah menganggap bahwa tato saya jauh lebih baik dari tato orang Dayak atau bahkan menilainya lebih buruk. Tato saya adalah pemenang dari kompetisi diskriminatif di dalam diri saya, di mana hanya saya sendiri merupakan pesertanya. Kompetisi di mana saya adalah juri tunggal yang memiliki kuasa absolut atas seluruh keputusan. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusan ini. Jika ada revisi di kemudian hari, tentu saja itu atas seizin saya sendiri. Itu mengapa posisi saya soal tato tak pernah netral, melainkan sangat subjektif. Saya tidak akan tinggal diam begitu saja ketika ada seseorang menghina tato saya. Namun itu tak serta merta membuat saya merasa cukup alasan untuk ikut-ikutan membela tentang tato demi kepentingan umat. Bagi saya, setiap orang mesti mempertahankan dirinya sendiri dari setiap serangan yang datang kepadanya. Hidup mati seorang manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, bagaimana ia bertahan dan bagaimana ia menyerang.

Itu sebabnya, setiap kali melihat seseorang mengenakan kaos bertuliskan Masyarakat Bertato membuat saya sering tersenyum sendiri. Kalian tahu mengapa? Karena itu justru terlihat seperti kaos partai bagi otak dangkal saya.

 

Sumber: Andrebarahamin

Punk: Nasionalisme

Oleh Andre Barahamin

surat kepada kawan.

Maaf aku terkesan membuang waktu yang cukup banyak sebelum bisa menjawab surat elektronik mu yang terakhir. Bukan karena tak ada akses internet, tapi memang sedang malas. Setidaknya, aku harus memiliki balansi yang sempurna sebelum menulis surat ini. Semata-mata karena alkohol dan ganja, belakangan sering menemani malam-malam ku. Itu tentu saja berarti bahwa otak ku sedang berada di zona privat yang membuatku enggan menanggapi surat mu.

Namun pertanyaan mu sukses memantik dorongan untuk menjawabnya. Kau selalu tahu cara yang tepat untuk memprovokasi sisi penasaran dalam diriku yang berupaya ku bekap agar tak ke mana-mana.

Untuk itu, aku akan memulai dengan mengatakan bahwa itu tak salah. Tak ada yang salah ketika seorang punk adalah juga seorang nasionalis. Benar-benar tak salah. Pilihan itu bukanlah sesuatu yang menyimpang.

Nasionalisme, atau cinta tanah air bukanlah aib. Meskipun itu terjadi pada mereka yang mengaku dirinya punk. Semenjak injeksi tentang ideologi ini telah dimulai ketika kau bahkan belum layak berada di bangku sekolah dasar. Dari umur yang sangat muda, kita telah dipertontonkan dan tak jarang dilibatkan dalam ritual-ritual nasionalisme. Proses meng-install ini dilakukan hampir begitu sempurna hingga hanya dalam kasus-kasus tertentu yang jumlahnya tidak seberapa, dapat dijumpai mereka yang berhasil menghancurleburkan konstruksi semangat pemujaan tersebut. Jadi jika kau berjumpa dengan seorang punk yang dengan mesra menciumi nasionalisme, biarkanlah. Mengganggunya akan membuat dirimu tampak seperti mengail ikan di kolam renang.

Di Indonesia, yang sejarahnya dikencingi oleh tiap generasi -seperti juga yang terjadi di banyak tempat lain, menjadi ahistoris adalah cacat lahir setiap orang. Sisi liar kita telah ditundukkan dari dalam pikiran sehingga bertumbuh sebagai seorang budak. Dan sebagai budak, tentu saja kita memiliki level kepatuhan terhadap sesuatu yang menguasai dan empunya kuasa. Level kepatuhan ini juga berbeda kadarnya di tiap-tiap orang. Kadar ini di kemudian hari yang akan menentukan seberapa besar kemungkinan lahirnya semangat antagonis berupa pembangkangan.

Nah, level kepatuhan itu juga tak stabil. Sebaliknya ia dinamis dan bergerak naik turun seiring waktu pertumbuhan psikologis seseorang. Ada masa di mana ia berkurang dan ada tempo di mana ia justru bertambah. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup seseorang di masa lalu sangat mempengaruhi level kepatuhan. Semakin objektif iven-iven psikologis tersebut, maka semakin merekah semangat nasionalisme seseorang. Sebaliknya jika benturan-benturan tersebut berkarakter subjektif, maka akan ada degradasi level nasionalisme. Hanya ada segelintir kecil kasus di mana seseorang benar-benar berhasil menggerus nasionalisme di dalam dirinya hingga habis. Sangat kecil.

Tapi jangan kau tanya aku tentang segelintir kecil orang-orang tersebut. Aku tak ingin bercerita apapun tentang mereka. Bukan karena aku tak tahu, tapi aku telah muak menceritakan kembali tentang mereka. Sudah cukup. Aku akan menjelaskan kepadamu yang mayoritas saja. Sebab beginilah metode menakar di dalam kehidupan sosial hari ini yang mereka namakan: demokrasi.

Itu mengapa bukanlah sesuatu yang tak pantas membuat kita heran ketika menemukan seorang punk terlibat begitu semangat dengan euforia 17 Agustus -yang tak jarang dihelat di puncak gunung, di tepi danau, di pantai, atau bahkan mungkin di lingkungannya sendiri. Itu biasa.

Kau tahu mengapa?

Karena memang itulah kultur mayoritas di skena-skena punk di Indonesia. Sebagian besar adalah mereka yang berhasil menghidupi sekaligus dua kutub yang beroposisi secara esensi. Sebuah campuran aneh yang uniknya eksis dalam saat yang bersamaan pada satu persona. Hebat bukan?

Ini bukan tanpa sebab. Karena memang hal ini diwariskan. Seperti yang sudah ku bilang di atas, ideologi ini direproduksi dengan sempurna di dalam lingkup skena-skena punk itu sendiri. Ia dihidupkan dalam praktek dan di ajarkan oleh generasi yang satu kepada generasi berikut. Direplikasi dan terus menerus diperbaharui dengan argumen-argumen objektif yang bertujuan agar jangan sampai terlihat borok-borok zaman yang melekat di patung nasionalisme tersebut. Tentu saja hal ini dilakukan sembari memastikan bahwa level kepatuhan seseorang tetap berada di zona aman.

Kalau kau selidiki baik-baik, akan dengan mudah kau menemukan lirik lagu-lagu punk yang kental dengan semangat nasionalisme. Hal itu bukan dilakukan tanpa sadar. Karena tentu saja sebuah lagu bukan hasil dari ketidaksengajaan atau kecelakaan waktu. Sebuah lagu merupakan ekstraksi dari isi kepala penulis dan komposer lagu tersebut. Setiap kata telah melalui seleksi ketat dalam otak melalui proses kognitif sebelum kemudian terangkai. Karena itu lagu bukan produk sim sala bim. Setiap lagu merupakan produk historis yang memberi penjelasan tentang si penulisnya.

Saya teringat sebuah kalimat sederhana dari guru statistik semasa kuliah dahulu. “Tak peduli apa cara yang kau gunakan, jika tahu prosesnya, kau tentu akan mendapatkan hasil yang tepat.” Aku tak terlalu suka dengan pelajaran statistik. Tapi aku tak menyangkal bahwa kalimat itu masih terasa nyantol di telinga.

Di skena-skena punk, hadirnya perilaku-perilaku yang melanggengkan semangat nasionalisme tersebut dianggap lumrah dan sangat jarang dipertanyakan. Sebabnya, tak ada keberanian untuk memeriksa kembali esensi dari setiap tindak-tanduk pribadi. Ketidakberanian ini berkait erat dengan ketakutan untuk berhadapan dengan ketidakmungkinan dan tragedi yang akan terjadi di kemudian hari. Seperti layaknya peramal yang bisa menebak masa depan, banyak punk yang enggan untuk mempertaruhkan hidup dan kehidupannya yang telah berada di zona nyaman dengan sesuatu yang masih belum terprediksi. Itu seperti berjudi. Dan untungnya, banyak punk bukanlah penjudi.

Untuk berjudi, diperlukan dua hal: tahu dan berani. Seorang penjudi yang baik adalah seseorang yang tahu dengan benar apa yang sedang dihadapinya dan konsekuensi yang bakal menjadi ganjaran. Di saat yang bersamaan ia juga mesti berani untuk mempertaruhkan semua yang ia miliki. Kebanyakan punk di Indonesia tak punya itu. Mereka tak tahu dan tak berani.

Sebab untuk tahu sesuatu, kamu mesti berani melakukan pengorbanan. Mengorbankan waktu, uang, relasi sosial dan bahkan cinta. Untuk mendapatkan pengetahuan, seorang punk mesti menantang diri sekaligus menerima tragedi dengan tangan terbuka. Agar seseorang berani melakukan itu semua, ia mesti tahu dengan dirinya, lingkungan sosial dan alam di sekitar dirinya. Dia mesti mengenali apa kebutuhan, kemampuan dan batas-batas imajiner lain yang akan dilampaui. Tanpa itu semua, seperti menuju medan pertempuran tanpa persiapan dan senjata.

Tahu dan berani adalah proses yang berjalan beriringan dan mesti dihentak bersamaan geraknya. Jika hanya menyalakan salah satu, imbalansi yang akan menjadi hasil. Memiliki pengetahuan tetapi penakut atau kemudian menjadi pemberani tanpa pengetahuan. Jika orang dengan ketidakseimbangan seperti itu menghadapi perang, tentu saja ia berakhir menyedihkan. Dan itulah yang kau lihat.

Mereka yang kau lihat adalah punk yang eksis bertahun-tahun dan menjadi legenda (seperti SID dan Marjinal, misal) justru adalah orang-orang dari kedua tipe yang ku sebutkan sebelumnya. Bagaimana akan dengan mudah kau temukan orang-orang bermulut besar dengan heroik mengumandangkan semangat ke-Indonesia-annya di skena-skena punk. Juga mereka yang hanya mampu menggerutu sembari memandangi kafilah nasionalistik itu berlalu. Dua tipe yang akan terus hadir karena itu adalah kutukan abadi. Seperti abadinya kemungkinan bahwa celah sekecil apapun akan membuka jalan bagi domba-domba yang berevolusi menjadi serigala dan berlari meninggalkan kawanan tersebut.

Tapi mesti lagi ku ulang, aku tak ingin menceritakan tentang para serigala tersebut. Biarlah cerita-cerita mereka hidup dalam percakapan-percakapan rahasia dan romantik antar dua orang. Jangan lagi kisah-kisah itu dibawa di panggung pertunjukan, seperti bagaimana punk hari ini.

Jadi, janganlah lagi kau membuang energi untuk bertanya soal itu, kepada ku tentunya. Tak ada lagi energi yang cukup dalam diriku untuk hal-hal seperti ini. Membiarkan scenester-scenester punk melilit leher sendiri dengan rantai perbudakan, adalah jalan yang terbaik. Sebagaimana juga banyak punk itu sendiri yang menyebarkan wabah nasionalisme dan bagaimana hal ini sebagai penyakit dalam diri yang tidak perlu diobati. Agar nanti kau tak akan terkejut ketika misalnya mendapati punk yang sedang menghormat kepada bendera merah putih. Punk yang dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau bahkan menciptakan lagu tentang betapa berbahagia dan bangganya mereka menjadi bangsa Indonesia. Itu sama seperti menemukan seseorang dengan dandanan punk lengkap dengan logo swastika di salah satu bagian jaket atau jeans-nya. Tak usah di tegur karena itu hanya akan membuat mu terlihat sebagai polisi punk.

Setiap orang di skena-skena punk memiliki kebebasan untuk berekspresi. Entah itu ekspresi seorang budak atau menjadi seorang penurut dengan rasa cinta tanah air yang hanya bisa disaingi militan-militan para militer.

Biarkan saja punk di Indonesia dengan semangat cinta tanah airnya. Itu adalah permata imitasi yang mereka kenakan agar bisa diterima sebagai bagian dari masyarakat hipokrit hari ini. Itu bukan sebuah kesalahan. Tak ada yang memiliki hak untuk mengatakan bahwa perjuangan punk agar diakui keberadaannya di tengah-tengah warga negara yang lain, bukanlah sesuatu yang adalah kekeliruan. Tidak. Itu tidak keliru.

Karena punk nasionalis adalah wajah mayoritas skena-skena di Indonesia. Dan kau, serta beberapa orang lain yang tak ingin ku ceritakan, merupakan minoritas tak punya hak untuk komplain atau protes. Sebab menjadi minoritas di Indonesia dalam formasi kelompok apapun, termasuk punk itu sendiri, berarti membuatmu kehilangan hak untuk mengutarakan pendapat. Punk di Indonesia adalah mereka yang memiliki kecanduan dengan persoalan kuantitas. Terobsesi dengan jumlah atau kawanan yang besar. Ketergandungan yang menjelaskan kenapa punk bermental gerombolan karena tak memiliki keberanian yang cukup untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Itu mengapa aku menyarankan kau untuk merayakan posisi minoritas mu dan acuhkan saja mereka yang berada di seberang. Lalu biarkan aroma pesta barbekyu-mu, menyebar dan mengundang rasa penasaran dari satu dua orang untuk datang mencicipi.

Aku mungkin tak akan menghadiri pesta mu. Aku sendiri, telah mendedikasikan diri sepenuhnya untuk mengejar tren dan menenggelamkan diri di dalamnya. Menjadi peselancar di dunia yang penuh histeria temporer dan delusi-delusi yang selalu membuatku orgasme saat membantingku dengan keras ke lantai kenyataan. Aku membiarkan tipuan-tipuan mencekik leher kebebasanku agar semakin sedikit oksigen yang bisa dihirup.

Kini, aku adalah hipster.

 

Sumber: Andrebarahamin