Sejarah Kancah Musik Indonesia

Oleh Anonim
Saya mencoba menyelamatkan sebuah arsip menarik yang penting tentang runutan sejarah perkembangan musik Rock Di Tanah Air. Untuk referensi dan sumber yang saya dapatkan dari hasil Googling ternyata berada dalam arsip mail seseorang. Silakan nikmati, niscaya anda akan seperti saya, yang terkaget-kaget membacanya. (Andrias)

Awal Mula

Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia.

Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones, hingga ELP.

Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album ketiga God Bless, “Semut Hitam”, yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.

Menjelang akhir era 80an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi “gods”-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut.

Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal.

Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (G ‘n R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary). Beberapa band di atas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal, Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi sekolah lama’, bangga menjadi band cover version! Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia.

Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock n’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya majalah HAI, tabloid Citra Musik dan majalah Vista.

Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai istri oleh (alm.) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan juga mantan vokalis Rotor.

Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini. Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock underground
manggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café).

Di luar itu, pentas seni MA dan acara musik kampus sering kali pula di-‘infiltrasi’ oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).

Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia, Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama setelah Sepultura sukses ‘membakar’ Jakarta dan Surabaya, band speed metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawah label Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album speed metal klasik Indonesia era 90an. Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, “Behind The 8th Ball” (AIRO).

Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim) lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding band seangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, Aquarius Musikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album “The Head Sucker”. Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.

Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air, mungkin baru di paruh pertama dekade 90an lah mulai banyak terbentuk scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal sering
terlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan internasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah.

Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin mengilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul “It’s A Proud To Vomit Him”. Album ini direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta, dengan sound engineer Harry Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan PAS).

Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground pertama di Jakarta, Brainwashed Zine. Edisi pertama Brainwashed terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay out cut n’ paste tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska.

Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997 Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di internet (www.bisik.com). Media-media serupa yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid Noise Zine, Gerilya Zine, Rottrevore Zine, Cosmic Zine dan
sebagainya.

29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café. Acara bernama “Underground Session” ini digelar tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaek Ahmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif.

Lahirnya scene brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Bequiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di sana, “Subnormal Revolution”, yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster Café di luar dugaan malah banyak melahirkan venue-venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie.

Café Kupu- Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 Café dan Café Gueni di Cikini untuk scene brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super-sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi.

Di antara semuanya, mungkin yang paling netral dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yang terletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen menghabisi riwayat mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen: Last Show Ever”, sebuah rentetan show akhir band Bandung ini sebelum membubarkan diri.

Scene Punk/Hardcore/Brit/Indie Pop

Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang diawal kiprahnya sering mengcover lagu-lagu Sex Pistols lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawk-nya. Uniknya, pada perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre british/indie pop ala The Stone Roses.

Konon, peristiwa historik ini kemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997 mereka sempat merilis album debut bertitel “…Jang Doeloe”. Generasi awal dari scene brit pop ini antara lain adalah Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V, Parklife dan Death Goes To The Disco.

Pestol Aer memang bukan band punk pertama ibukota. Di tahun 1989 sempat lahir band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II, pada akhir 1994. Album debut Antiseptic sendiri yang bertitel “Finally” baru rilis delapan tahun kemudian (1997) secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang memainkan musik ala Jane’s Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak sempat merilis rekaman.

Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots yang awalnya sering manggung mengcover lagu-lagu The Exploited. Tidak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel “Living Comfort In Anarchy” via label indie Movement Records. Komunitas-komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90an tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di Rawamangun.

Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth Against Fascism, Antiseptic, Straight Answer, Dirty Edge dan sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.

Scene Bandung

Di Bandung sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yang menjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya Studio Reverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio ini digagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketika semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro (akronim dari distribution store) yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya.

Selain distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang bertitel “Masaindahbangetsekalipisan”. Band-band indie yang ikut serta di kompilasi ini antara lain adalah Burgerkill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta.

Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain PAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel “Four Through The S.A.P” ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm.) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas tak bernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta.

Yang mengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End dari album Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamar Krisna. Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salah satu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002 sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) dan Puppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya, “Self-titled”. Album ini kemudian dibantu promosinya oleh majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonus kaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.

Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuah komunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana: Komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri Studio Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macam Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic Membrane, Infamy, Burgerkill dan sebagainya.

Di sinilah kemudian pada awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama Revograms Zine. Editornya, Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yang memiliki single unik berjudul “Golok Berbicara”. Revograms Zine tercatat sempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-band metal/hardcore lokal maupun internasional.

Kemudian tak lama kemudian fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestyle-nya. Trolley bangkrut tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis. Serunya di Bandung tak hanya musik ekstrim yang maju tapi juga scene indie popnya.

Sejak Pure Saturday muncul, berbagai band indie pop atau alternatif, seperti Cherry Bombshell, Sieve, Nasi Putih hingga yang terkini seperti The Milo, Mocca, Homogenic. Begitu pula scene ska yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum trend ska besar. Band seperti Noin Bullet dan Agent Skins sudah lama mengusung genre musik ini.

Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di-`baptis’ di sini belum afdhal rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiket masuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala oleh para calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini.

Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burgerkill, band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini. Belum lagi majalah Trolley (RIP) dan Ripple yang seakan menjadi reinkarnasi Aktuil di jaman sekarang, tetap loyal memberikan porsi terbesar liputannya bagi band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T. Coba cek webzine Bandung, Death Rock Star (www.deathrockstar.tk) untuk membuktikannya. Asli, kota yang satu ini memang nggak ada matinya!

Scene Jogjakarta

Kota pelajar adalah julukan formalnya, tapi siapa sangka kalau kota ini ternyata juga menjadi salah satu scene rock underground terkuat di Indonesia? Well, mari kita telusuri sedikit sejarahnya. Komunitas metal underground Jogjakarta salah satunya adalah Jogja Corpse Grinder (JCG). Komunitas ini sempat menerbitkan fanzine metal Human Waste, majalah Megaton dan menggelar acara metal legendaris di sana, Jogja Brebeg. Hingga kini acara tersebut sudah terselenggara sepuluh kali! Band-band metal underground lawas dari kota ini antara lain Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, Ruction.

Untuk scene punk/hardcore/industrial-nya yang bangkit sekitar awal 1997 tersebutlah nama Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti. Sedangkan untuk scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut di-highlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop sampai The Monophones. Selain itu, band ska paling keren yang pernah terlahir di Indonesia, Shaggy Dog, juga berasal dari kota ini.

Shaggy Dog yang kini dikontrak EMI belakangan malah sedang asyik menggelar tur konser keliling Eropa selama 3 bulan! Kota gudeg ini tercatat juga pernah menggelar Parkinsound, sebuah festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Parkinsound #3 yang diselenggarakan tanggal 6 Juli 2001, di antaranya menampilkan Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch hingga Mesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene underground rock di Surabaya bermula dengan semakin tumbuh-berkembangnya band-band independen beraliran death metal/grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Sejarah terbentuknya berawal dari event Surabaya Expo (semacam Jakarta Fair di DKI – Red) dimana band- band underground metal seperti, Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, Bushido manggung di sebuah acara musik di event tersebut.

Setelah event itu, masing-masing band tersebut kemudian sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen. Base camp dari organisasi yang tujuan dibentuknya sebagai wadah pemersatu serta sarana sosialisasi informasi antar musisi/band underground metal ini waktu itu dipusatkan di daerah Ngagel Mulyo atau tepatnya di studio milik band Retri Beauty (band death metal dengan semua personelnya cewek, kini sudah bubar–Red). Anggota dari organisasi yang merupakan cikal bakal terbentuknya scene underground metal di Surabaya ini memang sengaja dibatasi hanya sekitar 7-10 band saja.

Rencana pertama Independen waktu itu adalah menggelar konser underground rock di Taman Remaja, namun rencana ini ternyata gagal karena kesibukan melakukan konsolidasi di dalam scene. Setelah semakin jelas dan mulai berkembangnya scene underground metal di Surabaya pada akhir bulan Desember 1997 organisasi Independen resmi dibubarkan. Upaya ini dilakukan demi memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya organisasi Independen, divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buah album milik band-band death metal/grindcore Surabaya. Misalnya debut album milik Slowdeath yang bertitel “From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction” (September 1996), debut album Dry berjudul “Under The Veil of Religion” (1997), Brutal Torture “Carnal Abuse”, Wafat “Cemetery of Celerage” hingga debut album milik Fear Inside yang bertitel “Mindestruction”. Tahun-tahun berikutnya barulah underground metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan album milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Sebagai ganti Independen kemudian dibentuklah Surabaya Underground Society (S.U.S) tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 45, saat diselenggarakannya event AMUK I. Saat itu di Surabaya juga telah banyak bermunculan band-band baru dengan aliran musik black metal. Salah satu band death metal lama yaitu, Dry, kemudian berpindah konsep musik seiring dengan derasnya pengaruh musik black metal di Surabaya kala itu.

Hanya bertahan kurang lebih beberapa bulan saja, S.U.S di tahun yang sama dilanda perpecahan di dalamnya. Band-band yang beraliran black metal kemudian berpisah untuk membentuk sebuah wadah baru bernama Army of Darkness yang memiliki basis lokasi di daerah Karang Rejo. Berbeda dengan black metal, band-band death metal selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru.

Selanjutnya di bulan September 1997 digelar event AMUK II di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai event paling sukses di Surabaya kala itu. Sebanyak 25 band death metal dan black metal tampil sejak pagi hingga sore hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang. Arwah, band black metal asal Bekasi juga turut tampil di even tersebut sebagai band undangan.

Scene ekstrem metal di Surabaya pada masa itu lebih banyak didominasi oleh band-band black metal dibandingkan band death metal/grindcore. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black metal karena banyaknya jumlah band black metal yang muncul. Tercatat kemudian event black metal yang sukses digelar di Surabaya seperti Army of DarknessI dan II.

Tepat tanggal 1 Juni 1997 dibentuklah komunitas underground Inferno 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada (Jl. Prof. DR. Moestopo-Red). Di tempat yang agak mirip dengan rumah-toko (ruko) ini tercatat ada beberapa divisi usaha yaitu, distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet dan event organizer untuk acara-acara underground di Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh Inferno 178 antara lain adalah, Stop The Madness, Tegangan Tinggi I & II, hingga Bluekhutuq Live.

Band-band underground rock yang kini bernaung di bawah bendera Inferno 178 antara lain, Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, Bluekuthuq dan sebagainya. Fanzine metal asal komunitas Inferno 178, Surabaya bernama Post Mangled, pertama kali terbit kala itu di event Tegangan Tinggi I di kampus Universitas Airlangga dengan tampilnya band-band punk rock dan metal.

Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah event black metal. Sayangnya, hal ini juga diikuti dengan mandegnya proses penggarapan Post Mangled Zine yang tidak kunjung mengeluarkan edisi terbarunya hingga kini.

Maka, untuk mengantisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene, lahirlah kemudian Garis Keras Newsletter yang terbit pertama kali bulan Februari 1999. Newsletter dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman itu banyak mengulas berbagai aktivitas musik underground metal, punk hingga HC tak hanya di Surabaya saja, tetapi lebih luas lagi. Respons positif pun menurut mereka lebih banyak datang justru dari luar kota Surabaya itu sendiri.

Entah mengapa, menurut mereka publik underground rock di Surabaya kurang apresiatif dan minim dukungannya terhadap publikasi independen macam fanzine atau newsletter tersebut. Hingga akhir hayatnya Garis Keras Newsletter telah menerbitkan edisinya hingga ke-12.

Divisi indie label dari Inferno 178 paling tidak hingga sekitar 10 rilisan album masih tetap menggunakan nama Independen sebagai nama label mereka. Baru memasuki tahun 2000 yang lalu label Inferno 178 Productions resmi memproduksi album band punk tertua di Surabaya, The Sinners yang berjudul “Ajang Kebencian”.

Selanjutnya label Inferno 178 ini akan lebih berkonsentrasi untuk merilis produk-produk berkategori non-metal. Sedangkan untuk label khusus death metal/brutal death/grindcore dibentuklah kemudian Bloody Pigs Records oleh Samir (kini gitaris Tengkorak) dengan album kedua Slowdeath yang bertitel “Propaganda” sebagai proyek pertamanya yang dibarengi pula dengan menggelar konser promo tunggal Slowdeath di Café Flower sekitar bulan September 2000 yang dihadiri oleh 150-an penonton. Album ini sempat mencatat sold out walau masih dalam jumlah terbatas saja. Ludes 200 keping tanpa sisa.

Scene Malang

Kota berhawa dingin yang ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Surabaya ini ternyata memiliki scene rock underground yang ‘panas’ sejak awal dekade 90-an. Tersebutlah nama Total Suffer Community (T.S.C) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rock underground di Malang sejak awal 1995. Anggota komunitas ini terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, namun dominasinya tetap saja anak-anak metal. Konser rock underground yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini.

Acara bertajuk “Parade Musik Underground” tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai (grindcore), Ritual Orchestra (black metal), Sekarat (death metal), Knuckle Head (punk/hc), Grindpeace (industrial death metal), No Man’s Land (punk), The Babies (punk) dan juga band-band asal Surabaya, Slowdeath (grindcore) serta The Sinners (punk).

Beberapa band Malang lainnya yang patut diberi kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor style brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yang bertitel “Maggot Sickness” saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top notch.

Belakangan band ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast zine yang diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yang kini eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Sementara indie label pionir yang hingga kini masih bertahan serta tetap produktif merilis album di Malang adalah Confused Records.

Scene Bali

Berbicara scene underground di Bali kembali kita akan menemukan komunitas metal sebagai pelopornya. Penggerak awalnya adalah komunitas 1921 Bali Corpse Grinder di Denpasar. Ikut eksis di dalamnya antara lain, Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit di Jogjakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal Indonesia Corpsegrinder (kini Anorexia Orgasm) sejak 1998, Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali dan Moel adalah gitaris/vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser underground di sana. Nama 1921 sebenarnya diambil dari durasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise pada tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser underground besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- band luar Bali adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Jogjakarta).

Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival rock underground tahunan di sana. Salah satu alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead (SID). Mereka malah menjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tiga mereka dalam waktu dekat (tidak diketahui pertama kali catatan ini terbit-Red).

Memasuki era 2000-an scene indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan SID memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh SID secara konkret sudah membuktikan kalau band `putera daerah’ pun sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer SID, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara rock reguler di tempat ini.

Indie Indonesia Era 2000-an

Bagaimana pergerakan scene musik independen Indonesia era 2000-an? Kehadiran teknologi internet dan e-mail jelas memberikan kontribusi besar bagi perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan (networking) antar komunitas ini semakin luas di Indonesia. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan style musik yang lebih beragam. Trend indie label berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga menggembirakan, minimal ini adalah upaya pendokumentasian sejarah yang berguna puluhan tahun ke depan.

Yang menarik sekarang adalah dominasi penggunaan idiom`indie’ dan bukan underground untuk mendefinisikan sebuah scene musik non-mainstream lokal. Sempat terjadi polemik dan perdebatan klasik mengenai istilah `indie’ atau ‘underground’ ini di tanah air. Sebagian orang memandang istilah `underground’ semakin bias karena kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground yang ‘sell-out’, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga puluhan ribu keping.

Sementara sebagian lagi lebih senang menggunakan idiom ‘indie’ karena lebih elastis dan, misalnya, lebih friendly bagi band-band yang memang tidak memainkan style musik ekstrem. Walaupun terkesan lebih kompromis, istilah indie ini belakangan juga semakin sering digunakan oleh media massa nasional, jauh meninggalkan istilah ortodoks `underground’ itu tadi.

Di tengah serunya perdebatan indie/underground, major label atau indie label, ratusan band baru terlahir, puluhan indie label ramai-ramai merilis album, ribuan distro/clothing shop dibuka di seluruh Indonesia. Infrastruktur scene musik non-mainstream ini pun kian established dari hari ke hari. Mereka seakan tidak peduli lagi dengan polarisasi indie-major label yang makin tidak substansial. Bermain musik sebebas mungkin sembari bersenang-senang lebih menjadi `panglima’ sekarang ini.

…And history is still in the making here…..

 

Sumber: andrias-secangkirkopipagi.blogspot.co.id

Advertisements

Perkembangan Zine pada Komunitas Hardcore Punk di Bandung

Oleh Andrias

Introduksi

Sebagai salah satu bentuk media massa, majalah mempunyai fungsi pokok yakni sebagai sumber informasi dan sebagai fungsi komunikasi. Menurut Dominick, klasifikasi majalah dibagi ke dalam lima kategori utama, yakni : General consumer magazine (majalah konsumen umum), Business publication (majalah bisnis), Literacy reviews and academic journal (kritik sastra dan majalah ilmiah),Newsletter (majalah khusus terbitan berkala), dan Public relations magazines (majalah humas).

Dalam makalah ini yang menjadi pokok utama bahasan adalah zine yang menjadi media komunikasi khususnya di kalangan komunitas HC/Punk di Bandung. Tema mengenai zine ini diangkat karena dianggap sebagai fenomena yang cukup menarik yang berada diluar media komunikasi massa mainstream lainnya. Jika dimasukkan ke dalam klasifikasi Dominick, bisa termasuk ke dalam kelompok newsletter atau majalah khusus terbitan berkala walaupun ada sedikit yang berbeda. Dijadikannya zine ini sebagai tema utama dalam makalah ini karena merupakan sebuah fenomena yang menarik, dimana dalam penerbitannya ternyata membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap kondisi interaksi dan pemikiran di kalangan komunitas tempat zine itu muncul.

Dilihat dari kemunculannya yang berasal dari orang-orang di kalangan scene HC/Punk, perlu juga ditelaah lebih lanjut. Dimana kemunculannya itu berasal di sebuah komunitas yang sering disebut sebagai komunitas underground. Sehingga perlulah diterangkan sedikit mengenai komunitas HC/Punk ini, agar dapat dipahami mengenai munculnya zine sebagai media komunikasi.

Digunakannya zine sebagai media komunikasi dalam scene HC/Punk menjadi sesuatu yang menarik karena sebagai komunitas minor yang berada dan hidup di jalanan di kota-kota besar ternyata mampu mengorganisir dan dengan keterbatasannya itu bisa melakukan penyebaran informasi dengan efektif.

Zine Sebagai Media Komunikasi dan Ekspresi

Informasi yang dikomunikasikan dalam media zine di kalangan scene HC/Punk sekarang ini isinya sangat beragam seiiring dengan perkembangan jaman. Zine dibuat oleh setiap orang di kalangan scene HC/Punk itu sendiri, jadi setiap orang mempunyai kebebasan untuk membuatnya. Oleh karena itu isi zine sendiri tidak ada patokan atau batasan, karena setiap orang mempunyai kebebasan untuk mengisi zinenya itu dengan segala hal yang diinginkan. Apapun yang dimuat dalam zine itu tergantung dengan sang pembuatnya.

Dari zine-zine yang dibuat oleh scene HC/Punk hampir semuanya isinya sungguh bebas. Tidak adanya sensor atas segala isi yang ingin ditampilkan. Dari mulai gambar-gambar, tulisan, sampai lay out, semuanya tidak ada batasan. Sehingga merupakan sesuatu yang sangat lumrah jika ditemukan kata-kata yang sungguh kasar dan sarkasme dalam tulisan-tulisan di zine-zine itu atau gambar-gambar yang oleh orang timur dianggap tidak senonoh.

Selain sebagai media komunikasi, seringkali zine dijadikan media ekspresi sehingga maksud, tujuan dan perasaan yang ingin diungkapkan oleh pembuatnya dalam zine adalah tanpa batas. Mungkin sesuatu yang membatasi ekspresi itu hanyalah kesadaran si pembuatnya. Untuk menilai apakah zine ini baik atau tidaknya itu semua dikembalikan kepada pihak yang membacanya. Karena esensi dari zine yang tumbuh di kalangan scene HC/Punk ialah kebebasan sebab tidak adanya otoritas yang boleh mencampuri ekspresi manusia.

Ketika keadaan sekitar memungkinkan manusia untuk mengekpresikan perasaannya maka ia akan segera mencari media untuk mengekspresikannya. Begitupun dengan zine, di mana seorang Punk ingin mengekspresikan perasaan ataupun ingin menyampaikan pemikirannya melalui tulisan mengenai suatu hal maka zine bisa dijadikan media itu selain tentu saja musik. Sehingga di saat Punk dengan berbagai ide, pemikiran, dan ideologinya merasa usaha untuk mencapai tujuan yang ingin ia raih ialah melalui zine ini, maka dengan kebebasan yang dimiliki, ia akan membuatnya. Oleh karena itu, isi dari zine-zine yang ada di kalangan HC/Punk selain isinya mengenai segala hal yang berbau musik HC/Punk, mereka pun memuat tulisan-tulisan yang merupakan tanggapan atas keadaan sekitar. Banyak propaganda-propaganda sesuai dengan ideologi si pembuatnya yang dimuat dalam zine termasuk propaganda politik, dalam hal ini kebanyakan berkaitan dengan anarkis dan anti kapitalis. Walaupun ada sedikit kesamaan munculnya zine di berbagai daerah memunculkan kekhasannya tersendiri sesuai dengan situasi kelokalannya masing-masing.

Jika saja adanya peraturan atau perundang-undangan yang melarang dibuatnya tulisan-tulisan yang dianggap melawan pemerintah, itu tidak pernah menjadi kendala berarti dalam pembuatan dan penyebaran zine. Hal ini karena selain pembuatan dan penyebarannya yang terbatas ataupun dijual di tempat-tempat tertentu, biasanya sang pembuat tulisan akan menggunakan nama samaran atau inisial agar identitasnya tidak diketahui umum. Mungkin jika kita melihat peraturan di negara-negara barat yang menjamin kebebasan berekspresi, maka tidak aneh jika isu-isu politik yang kontra pemerintah bisa disebarkan secara luas. Coba bandingkan dengan di Indonesia yang peraturannya serba tidak jelas.

Contohnya ialah zine Profane Existence yang dibuat oleh sebuah kolektif yang namanya sama dengan nama zinenya. Profane Existence zine isinya kebanyakan adalah tulisan-tulisan mengenai tanggapan atas keadaan sosial politik di AS. Dimana informasi yang dimuat dalam zine itu salah satunya berisi data-data kebobrokan AS dalam perang di Timur Tengah, selain opini-opini dari perorangan yang menulis berbagai hal. Ada juga propaganda-propaganda untuk melakukan pemboikotan atau ajakan berdemo menentang kesewenang-wenangan pemerintah. Sebagian besar isu-isu yang diangkat dalam zine ini adalah isu sosial politik yang sedikit banyak berkaitan dengan scene HC/Punk. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa orang-orang dari kalangan scene HC/Punk bukanlah sekelompok pengacau atau pembuat onar, tetapi mereka juga mampu untuk berpikir ilmiah dan berperilaku intelek walaupun dengan bahasa mereka sendiri. Selain mengangkat isu sosial politik, zine yang dikeluarkan di scene Hardcore/Punk ada juga yang mengangkat isu animal liberation, vegetarian, feminisme, straight edge, pencemaran lingkungan, globalisasi dll.

Pada umumnya zine yang dibuat perorangan ataupun kolektif sering berformat fotokopian, sering juga disebut sebagaixeroxzine. Hal ini dimaksudkan agar biaya yang digunakan tidaklah besar karena tinggal memfotokopi. Paling penting dari penerbitan zine ini ialah bahwa mereka yang berasal dari scene Punk tidaklah pernah menganggap adanya aturan atau regulasi atas hak cipta, sehingga mereka sendiri –bisa dikatakan- tidak pernah memberi zine mereka label hak cipta (copyright). Bahkan untuk sebagian zine, si pembuat menulis ajakan untuk memperbanyak zinenya agar informasi yang ada di zine itu bisa disebarkan seluas-luasnya. Sehingga dalam penyebarannya tidak bisa diawasi secara jelas karena setiap orang yang memegang zine bebas untuk memperbanyak dan kemudian menyebarkannya. Ini adalah salah satu kunci keefektifan zine dengan tanpa copyright, yang mampu mengkomunikasikan informasi kepada semua pihak yang merasa tertarik.

Zine di Komunitas Hardcore/Punk Bandung

Musik Hardcore/Punk sendiri diperkirakan telah ada di Bandung sejak pertengahan tahun 1970-an. Sekitar pada tahun 1980-an musik Punk dapat dipastikan telah ada di Indonesia karena orang-orang yang pernah berkecimpung dalam scene Punk pun masih bisa dimintai keterangannya. Musik Punk mulai berkembang seiring dengan trend musik new wave ataupun tari kejang (breakdance) yang sempat mewabah pada tahun 1980-an.

Pada pertengahan tahun 1990-an bisa dikatakan baik musik Punk, Hardcore, maupun musik underground lainnya mengalami perkembangan yang cukup berarti. Hal ini dibuktikan dengan telah adanya beberapa band yang mengeluarkan album secara independen, dan juga mulai marak diadakannya acara-acara musik underground. Pada saat itu Punk di Bandung bisa katakan masih sekedar trend musik, belum dimengerti secara menyeluruh.

Komunitas Punk mulai jelas terlihat sekitar tahun-tahun 1994-1995an. Panggung-panggung untuk musik ini pun semakin banyak dari mulai acara tujuhbelas agustusan sampai acara yang diorganisir secara profesional. GOR Saparua adalah satu saksi bisu berkembangnya Punk di Bandung. Pada tahun-tahun di akhir 90-an, terutama di hari minggu sering diadakan acara musik underground. Tidak jarang dalam sebuah acara disertai dengan kericuhan seperti perkelahian yang sering berujung pemberhentian acara oleh pihak berwenang karena situasi dianggap sudah tidak kondusif. Diantaranya adalah muncul acara seperti Gorong-gorong 1&2, juga Punk Rock Party 1&2. Acara-acara itu juga melahirkan band-band Punk Rock semisal Keparat, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dll. Pada waktu itu komunitas Punk belum diakui oleh masyarakat seperti sekarang karena hanya dianggap sebagai sekelompok anak muda bergaya berandalan yang kerjaannya hanya mabuk-mabukan.

Saat itu Suharto masih berkuasa, dan militer masih sangat ditakuti, tidak ada yang berani mengritik kebijakan pemerintah apalagi menghina aparat. Tetapi hegemoni orde baru mungkin tidak berlaku bagi komunitas Punk/Hardcore. Seakan-akan tidak ada hukum yang berlaku, setiap penampilan panggungnya band Punk berani menghina-hina keotoriteran pemerintah ataupun mencaci aparat karena sewenang-wenang. Subversif mungkin pantas dikatakan untuk kelakuan seperti itu pada saat orde baru, tetapi toh tidak ada tanggapan serius dari pihak berwenang karena mungkin Punk pada saat itu masih dianggap sampah.

Salah satu komunitas Punk di Bandung ialah sekelompok anak Punk yang sering nongkrong di belakang pusat perbelajaan Bandung Indah Plaza (BIP) yang pada saat itu tengah ramai-ramainya karena belum ada mall saingan. Dari komunitas Punk yang sering disebut Barudak PI itu lahirlah sebuah record label yang diberi nama Riotic Record pada tahun 1997. Berawal dari keinginan Chaerul, Dadan “Ketu”, Pam, Azis, Awing.dkk untuk mendirikan sebuah record label yang bisa menjembatani keinginan band-band HC/Punk untuk membuat rekaman, jadilah record label itu didirikan beserta dengan distro(distribution outlet)nya.

Pada awal pendiriannya, Riotic record dan distro sering berpindah-pindah. Seperti pernah memilih di daerah Riung Bandung, Cicadas, Melong Green dan belakang BIP sendiri. Pada saat itu Riotic distro menjual berbagai pernak-pernik band, semisal t-shirt, kaset, dan stiker. Dari usaha untuk menjual pernak-pernik band itu, dibuatlah katalog barang-barang yang dijual di Riotic sebagai cara untuk menginformasikan kepada komunitas Punk lainnya. Dari munculnya katalog itulah cikal bakal dibuatnya zine dan newsletter Punk di Kota Bandung, mungkin juga bisa dikatakan di Indonesia.

Pada awalnya isi dari katalog itu hanya berisi daftar barang-barang yang dijual di Riotic dan hanya sedikit tulisan tentang Punk pada kertas katalog, itu pun agar ruang kosong di katalog tidak percuma. Setelah mempunyai jaringan di antara komunitas baik di beberapa kota besar di Indonesia maupun di luar negeri, mereka sering bertukar informasi maupun berupa barang dan salah satunya adalah dikirimnya sebuah zine -yang oleh anak-anak Riotic sendiri baik isi maupun lay outnya disebut jelek- oleh komunitas Punk dari Singapura. Setelah membaca dan mengamati tampilan zine dari Singapura itu, beberapa orang di Riotic sepakat untuk membuat zine. Dan lahirlah zine/newsletter pertama di kalangan Hardcore/Punk di Indonesia itu, namanya Submissive Riot.

Tahun 1998, di Indonesia apalagi di Bandung pembuatan zine belumlah membudaya seperti sekarang. Hanya ada satu-dua zine yang dibuat oleh komunitas underground Ujung Berung seperti Revogram dan Mindblast, akan tetapi karena peredarannya sangat terbatas sehingga tidak terlalu bisa dikatakan sebagai topangan yang jelas atas munculnya budaya pembuatan zine di Bandung. Paling-paling newsletter hanya bisa ditemukan di mesjid ketika jumatan ataupun di kampus-kampus, dan tidak pernah ada info mengenai anarkisme, pemboikotan korporasi, etos DIY, dan Punk Rock di newsletter mesjid.

Submissive Riot dibuat oleh tiga orang, yakni Pam, Linggo, dan Behom. Awalnya mereka membuat Submissive Riot karena merasa tertantang untuk membuat newsletter/zine yang lebih bagus dari zine yang dikirim oleh teman-temannya di Singapura. Isinya berisi hal-hal yang pada saat itu bisa dikatakan tidak umum, lebih tepatnya seluruh isinya adalah propaganda. Anarkisme bisa dikatakan sebagai ideologi yang sangat mempengaruhi tulisan-tulisan mereka, tidak adanya otoritas yang mendominasi adalah pokok utama tulisan yang mereka buat. Juga upaya pemboikotan perusahaan siap saji McDonnald yang dianggap sebagai perusahaan kapitalis cabang dari negara komprador AS pada saat itu.

Submissive Riot terbit setiap bulan, dalam setiap penerbitannya tiga sekawan itu paling-paling hanya membuat sekitar 30-40 eksemplar dengan format fotokopian. Setiap eksemplar biasanya hanya berisi 4-8 halaman ukuran A5. Zine atau newsletter itu dijual seharga Rp. 500,- sebagai ganti biaya produksi. Peredaran zine ini dijual hand-to-hand kepada teman-teman mereka sendiri, dan karena pada saat itu merupakan sebuah fenomena yang baru pada kultur Punk di Bandung sehingga setiap kali penerbitan selalu habis. Untuk setiap Submissive Riot yang dibeli selalu dianjurkan untuk memfotokopinya lagi untuk disebarkan, jadi jika setiap edisinya yang diketahui hanya ada sekitar 30-40 eksemplar tetapi untuk keseluruhan Submissive Riot yang tersebar tidaklah dapat diketahui jelas. Oleh karena itu penyebaran zine ini cakupannya sungguh luas, selain karena setiap orang mempunyai kebebasan untuk memperbanyaknya, distribusi zine ini juga disebarkan diantara komunitas-komunitas Punk di kota-kota besar di Indonesia. Submissive Riot dapat tersebar di beberapa kota selain Bandung seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Lampung, Medan, Pontianak, bahkan sampai ke Menado dan Ujung Pandang.

Munculnya Submissive Riot ternyata mendapat respon yang beragam. Pembuatan zine dan newsletter menjadi mewabah di kalangan scene HC/Punk baik di Bandung maupun kota-kota lainnya. Karena biasanya komunitas Punk lainnya yang mendapat newsletter ini, kemudian merasa tertarik untuk membuatnya sehingga ibarat jamur di musim hujan, pembuatan zine semakin banyak dan meluas. Tentu ini dampak yang positif, setidaknya budaya tulis dan baca meningkat walaupun hanya untuk segelintir pihak dalam komunitas.

Sedangkan tanggapan dari pihak aparat berwenang tidak ada sama sekali. Hal ini juga cukup menarik karena pihak pemerintah serta aparaturnya sering menjadi objek tulisan-tulisan mereka ini, apalagi ditulis dengan bahasa yang sarkasme, ternyata tidak memberi respon apa-apa. Bahkan jika digolongkan ke dalam ‘selebaran gelap’ subversif yang menghasut pun, newsletter ini tidak masuk kategori BAKIN. Penyebabnya ternyata tulisan-tulisan dalam Submissive Riot tidak dianggap secara serius atau bahkan dianggap bualan sesaat baik oleh pihak pemerintah ataupun masyarakat awam lainnya. Punk yang pada waktu hanya dianggap sebagai sekelompok anak muda yang berpakaian kotor seperti gembel menjadikan dikotomi itu melekat dalam benak masyarakat. Sehingga disaat mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataannya melalui tulisan, hal itu tidak ditanggapi sama sekali.

Submissive Riot hanya bertahan sekitar satu tahun, atau sekitar 12-13 edisi. Alasan berhentinya pembuatan zine ini kurang jelas tetapi bisa jadi karena tiga orang pembuatnya yang mulai memasuki kegiatan politik praktis. Sekitar tahun 1999, mereka bertiga telah dikenal sebagai “corong” PRD, bahkan bisa menempati posisi-posisi strategis dalam aliansi gerakan kota.

Selanjutnya akan dibeberkan mengenai salah satu zine yang cukup legendaris di kalangan scene Hardcore/Punk baik di Bandung maupun di kota lainnya. Zine yang baik format maupun tulisan-tulisannya banyak diperbincangkan bahkan diperdebatkan. Inilah zine yang ternyata membawa sang editornya ke pintu karir yang menjanjikan, ya inilah Tigabelas Zine.

Tigabelas zine mulai dibuat pada tahun 1998 oleh Arian yang pada waktu itu dikenal sebagai vokalis band yang menjadi ikon HC Indonesia, Puppen. Arian sebagai editor dalam pengerjaannya dibantu oleh Ucok Homicide sebagai kontributor tetap. Setelah kemunculan Submissive Riot di tahun yang sama, Arian membuatzine sebagai proyek sampingannya selain sibuk di bandnya. Edisi pertama Tigabelas zine terbit pada bulan Agustus 1998.

Format Tigabelas zine adalah fotokopian ukuran A5 dan dihadirkan dengan lay out yang eye catching setiap halamannya yang rata-rata berjumlah sekitar 60 halaman setiap edisinya. Terbitnya zine ini sangat tidak teratur, tergantung nasib sang editor, dan karena ini bukanlah sebuah penerbitan majalah yang terorganisir dengan baik jadi tidak ada deadline dalam pengumpulan materinya. Bahkan rentang waktu antara Tigabelas edisi ke edisi berikutnya selalu terlambat dari jadwal yang ditentukan sebelumnya. Tetapi karena zine ini merupakan sebuah fenomena yang sungguh menarik dalam dunia penerbitan media sehingga selalu di tunggu-tunggu oleh pembacanya baik dari kalangan scene Hardcore/Punk maupun luar.

Kolom-kolom yang ada dalam zine ini antara lain adalah :

Kolom 13. Dalam kolom ini terdapat opini tamu yang berasal dari teman-teman editor sendiri di scene HC/Punk di Bandung. Selain berisi opini mengenai perkembangan HC/Punk, sering juga berisi tulisan berbau politik, puisi, unek-unek, bahkan dumelan dari sang kontributor.

Scene Report. Dalam bagian ini berisi laporan-laporan dari perkembangan scene HC/Punk di luar kota Bandung, seperti dari Malang, Bekasi, Yogyakarta bahkan dari kota-kota di negara-negara Asia Tenggara. Laporan ini di dapat oleh sang editor dengan mengadakan kontak langsung dengan scenester di kota-kota itu, bisa sang editor datang langsung ke kota-kota itu ataupun scenester dari luar kota yang memberi laporan sendiri agar kegiatannya diliput, ataupun melalui email jika sang sumber berasal dari luar negeri.

Interview. Dalam bagian ini memuat hasil interview/wawancara dengan band, editor zine atau orang-orang yang berkecimpung dalam scene HC/Punk lainnya. Interview dilakukan oleh sang editor dengan bertemu langsung si sumber, ataupun melalui email jika tempat si sumber berada di daerah yang cukup jauh, semisal interview dengan band dari New York, maka interview dilakukan via email. Selain itu, editor bisa juga memuat hasil interview dari majalah lain seperti hasil interview band The Business oleh majalah punk Maximum Rock’N’Roll, hasil interview itu dimuat dalam Tigabelas zine dengan mencantumkan pula sumbernya.

Artikel. Tema yang diangkat dalam tulisan di artikel pada zine bermacam-macam, seperti cerita mengenai tokoh antara lain Mahatma Gandhi dan Wiji Thukul, ataupun tema mengenai animal liberation, dan juga memuat tentang undang-undang yang menjamin kebebasan berpendapat yang bahannya di dapat LBH setempat.

Resensi Rekaman. Isinya adalah resensi rekaman yang dilakukan oleh Arian dan Ucok. Resensi adalah hal sangat subjektif, karena itu dalam resensi rekaman ini Arian dan Ucok mengeluarkan pendapatnya atas rekaman-rekaman yang mereka anggap menarik untuk di resensi. Tidak semua yang diresensi isinya bagus atau memuji karena terkadang sang peresensi melakukan sindiran dan kritik atas rekaman yang ia dapat.

Resensi Majalah dan Buku. Disini Arian dan Ucok melakukan resensi pada majalah atau buku yang mereka baca. Majalah yang diresensi biasanya adalah majalah atau zine yang berbau HC/Punk baik dari dalam maupun luar negeri. Sedangkan buku yang diresensi tidak hanya buku-buku yang ber’atmosfer’ HC/Punk tetapi juga ada buku ‘serius’ yang mereka resensi semisal buku-buku politik. Salah satunya ialah buku berjudul Pemikiran Karl Marx, yang masuk resensi dalam Tigabelas zine edisi ketiga. Selain berisi tulisan-tulisan yang semuanya mempunyai relevansi tehadap pergerakan scene HC/Punk, zine ini juga banyak menampilkan iklan-iklan yang masih berbau HC/Punk semisal desain iklan dari riotic record, reverse, ataupun kampanye-kampanye animal liberation.

Setiap edisinya Tigabelas zine dijual sekitar Rp.3000 – Rp.5000 tergantung ketebalannya, untuk mengganti ongkos produksi. Usaha penyebarannya secara hand-to-hand merupakan cara penjualan yang efektif, selain karena dijual di lingkungan sendiri, zine pada waktu itu juga masih merupakan (sekali lagi) fenomena baru di kalangan komunitas scene HC/Punk. Dari setiap edisinya pun zine ini selalu sold out.

Melalui media zine yang dibuat ini Arian dan Ucok secara tidak langsung memacu orang-orang untuk membuat zine dan mulai berpikir bahwa dibalik HC/Punk ada misi dan movement. Selain itu, melalui Tigabelas zine ini anak-anak muda dipacu untuk tidak hanya menyukai dan mendengarkan hardcore dan punk saja, tetapi lebih mendalaminya dan ber”attitude” dalam bermusik.

Karena sang editor tidak melabelkan hak cipta pada zine ini bahkan ia sendiri mengusulkan untuk memperbanyaknya sehingga penyebarannya sangat luas. Di komunitas scene HC/Punk sendiri baik tertulis maupun tidak, mereka tidak mengakui adanya hak cipta (copyright). Sehingga bukan sesuatu yang akan berbuntut masalah jika seseorang memperbanyak rekaman atau zine dari lingkungan HC/Punk sepanjang tidak untuk mendapat keuntungan.

Respon terhadap zine ini juga bermacam-macam. Banyak orang di kalangan komunitas musik underground lainnya kemudian mulai membuat zine juga, dan orang-orang di luar komunitas itu pun mulai melirik media zine sebagai media komunikasi alternatif.

Zine yang fenomenal ini hanya sanggup bertahan 4 edisi (terbit tahun 2001), dan merupakan suatu yang luar biasa pada saat itu dengan penjualan dari 4 edisi mencapai lebih dari 1000 eksemplar (menurut sang editor). Alasan berhentinya pembuatan zine ini pun dikarenakan editornya, Arian sibuk dengan kegiatannya yang lain. Sedangkan Ucok yang pada nomor empat sudah tidak lagi menjadi kontributor Tigabelas zine, di tahun 1999-2000 Ucok sempat meluncurkan zinenya sendiri yang diberi nama Membakar Batas.

Arian sendiri kemudian sempat ikut terlibat dengan pembuatan majalah-majalah yang dibuat secara independen, seperti majalah Ripple dan Trolley dimana ia menjadi musik director. Majalah Trolley sendiri akhirnya bangkrut setelah terbit kurang lebih 10 edisi (edisi terakhir terbit sebanyak 5000 eksemplar) karena kehabisan modal. Sedangkan majalah Ripple sampai sekarang mampu bertahan dan semakin berkembang, bahkan dianggap menjadi salah satu majalahavant-garde dalam media independen. Sekarang ini Arian bekerja sebagai seorang editor di majalah Playboy Indonesia, setelah sebelumnya sejak tahun 2002 bekerja di majalah MTV Trax sebagai senior editor.

Zine Hari Ini

Dua zine yang telah dibahas tersebut bisa dikatakan sebagai pencetus munculnya media komunikasi cetak yang dibuat secara independen. Baik Submissive Riot maupun Tigabelas zine merupakan salah satu bentuk media komunikasi alternatif diluar media yang telah ada sebelumnya.

Setelah era Submissive Riot dan Tigabelas Zine, muncul zine-zine baru baik dari kalangan scene HC/Punk maupun dari luar yang merasa tertarik dengan zine sebagai media baru. Dari orang-orang di kalangan scene HC/Punk kemudian muncul Kontaminasi Propaganda, Membakar Batas, Puncak Muak, Shaterred, Lysa Masih Bangun, Akuadalahaku, Emphaty Lies Far Beyond, New Noise, Rebelliousickness, Cukup Adalah Cukup, Lady Anarchy dll. Kesemuanya itu mengusung tema yang bermacam-macam seperti Cukup Adalah Cukup dan Lady Anarchy yang menjadikan isu feminisme sebagai isu utama zinenya, kemudian Emphaty Lies Far Beyond yang berisi semacam hal semisal globalisasi dan neo liberalisme, dsb. Tetapi kesemua zine itu sekarang ini bisa dikatakan sudah mati karena berbagai alasan.

Zine generasi terbaru (bisa dikatakan begitu) yang terbit di scene HC/Punk Bandung sekarang diantaranya Beyond The Barbed Wire, Lapuk, Hardcore Heroes vs Punk Partisans. Para pembuat zine itu tetap berasal dari scene HC/Punk yang masih ingin mempertahankan budaya penulisan zine ditengah gempuran majalah-majalah glossy anak muda yang hanya menjual gaya hidup.

Beyond The Barbed Wire (selanjutnya BtBW) dibuat oleh Tremor yang juga mantan vokalis band Rajasinga. Zine yang telah keluar dalam dua edisi ini dicetak rata-rata 100 eksemplar per edisinya, dengan harga edisi pertama Rp 3500 dan edisi kedua karena dibuat lebih tebal dijual seharga Rp 5000. Dengan adanya jaringan pertemanan yang cukup baik di dalam scene HC/Punk memudahkan pendistribusian zine dari kota ke kota. Dalam hal ini Dani mampu membuka jaringan sehingga BtBW bisa didistribusikan sampai ke berbagai kota di Jawa dan yang paling jauh ialah kota Menado. Caranya dengan mengirimkan master hasil print BtBW ke teman di kota lain, kemudian yang menerima master tersebut akan menggandakannya lagi untuk di sebarluaskan. Sedangkan keuntungan penjualannya seluruhnya untuk kemajuan scene HC/Punk di kota yang menyebarluaskannya, jadi dari penjualan itu Dani sama sekali tidak mendapat keuntungan.

Di zinenya, Tremor sebagai pembuatnya dibantu juga oleh teman-temannya yang lain. Mereka menyumbangkan tulisan-tulisan yang berkesesuai dengan tema yang diusung BtBW. Format BtBW sebenarnya sedikit mengingatkan dengan format Tigabelas zine. Di lay out dengan softwear desain secara rapi dan apik sehingga menghasilkan tampilan yang menarik. Berbeda dengan zine yang lain, BtBW setiap edisinya mempunyai tema. Pada edisi pertama bertemakan tentang punk dan definisinya kemudian yang kedua mengambil tema etika DIY. Pada edisi kedua, Dani memasang iklan, tetapi tidak sembarang iklan yang ia muat. Hanya iklan yang berasal dari kalangan scene HC/Punk yang mendukung DIY saja yang bisa terpasang di BtBW seperti PenitiPink dan Kolektif Dor Dar Gelap yang menawarkan pembuatan pin. Biaya iklan untuk setengah halaman kertas ukuran A5 paling mahal hanya dipatok sekitar Rp 10.000. Uang dari iklan tersebut sebenarnya adalah untuk menutupi biaya kirim BtBW ke kota lain jadi harga yang dipatok pun tidak mahal.

Sumber: andrias-secangkirkopipagi.blogspot.co.id

Menakar Resistensi Kultural Dalam Musik

Oleh Idhar Resmadi

Sekitar dua tahun lalu, sebuah konser bertajuk Brutalize in Darkness yang diselenggarakan di Bogor, Jawa Barat, sempat jadi buah bibir di media sosial. Acara yang diorganisir oleh Ki Gendeng Pamungkas ini diramaikan oleh band-band Metal yang sudah tidak asing lagi, seperti band Black Metal asal Norwegia, Gorgoroth, dan band Death Metal asal Belanda, Disavowed. Jagoan-jagoan lokal yang kerap tampil di kancah Metal dalam negeri seperti Burgerkill, Down For Life, hingga Dajjal pun turut meramaikan helatan tersebut.

Namun, kontroversi dimulai ketika Ki Gendeng Pamungkas tiba-tiba mengeluarkan pernyataan bernada rasis terhadap etnis Tionghoa. Politikus sekaligus paranormal itu dianggap menyebarkan hasutan dan kebencian. Imbasnya, Burgerkill dan Down For Life mundur dari acara tersebut. Bahkan, Burgerkill menulis pernyataan melalui akun Twitter resmi mereka: “Maaf kami tidak bisa ikut dengan pergerakan anti-ras tertentu. Metal yang kami percaya adalah musik yang tidak peduli ras dan latar belakang penggemarnya”. Sedangkan dalam akun Twitter-nya, band Down For Life menulis: “Kami memutuskan MUNDUR dari acara Brutalize in The Darkness di Bogor tanggal 10 Mei 2015 sampai ada klarifikasi dari panitia tentang propaganda rasisme”.

Dalam kasus ini, Pamungkas memakai musik Metal untuk menyuarakan ideologi nasionalisnya – walau tentu saja nasionalis salah kaprah – dan menyebar kebencian terhadap etnis tertentu yang menurutnya mengancam “Pribumi”. Upaya yang dilakukan oleh Ki Gendeng Pamungkas mengingatkan saya bahwa musik tak pernah sekadar menjadi komoditas ekonomi. Sepanjang perjalanannya, musik telah menjadi arena pertarungan atau kontestasi dalam bentuk politik dan ideologi. Sebagai medium kebudayaan yang populer dan memiliki daya tarik luar biasa, mustahil untuk tidak melihat potensi ini di musik.

Di Indonesia, seruan yang menautkan sentimen etnis dengan agama memang bukan hal baru. Sebelum insiden Pamungkas, pada tahun 2010 lalu muncul komunitas Metal Satu Jari yang dikomandoi oleh Ombat, vokalis dari grup Tengkorak. Komunitas ini membaurkan simbol-simbol agama ke dalam praktik musik Metal – misalnya, tanda devil horns yang diganti dengan lambang salam satu jari (dianggap merepresentasikan ke-Esaan Tuhan), serta lirik-lirik yang bernafaskan semangat Anti-Zionisme.

Akhirnya, pertanyaan lebih jauh kemudian muncul. Kenapa musik memiliki kaitan erat dengan ideologi, dan justru menjadi roda fasisme baru lewat sentimen berbau agama dan suku/etnis?

Beberapa tahun terakhir, musik selalu hadir sebagai suatu arena kontestasi ideologi yang diskursif, dan mulai rajin menyentuh isu-isu agama, etnis, dan spiritualitas – terutama di kancah musik Metal dan Punk. Kita bisa melihat bagaimana perkembangan atau dinamika musik lokal melahirkan praktik-praktik estetika yang bersifat hibrid. Mulai dari Metal Kasundaan, Punk Islam, Black Metal Kejawen, Hip Hop Jawa, hingga Metal Islam.

Di satu sisi, kita bisa memandang ini sebagai bentuk eksplorasi atau inovasi musikal. Namun, di sisi lain kita bisa melihat hal ini sebagai resistensi identitas yang justru meruncingkan semangat chauvinisme dan kebencian terhadap suku atau etnis tertentu.

Dalam konteks budaya populer, hal-hal yang bersifat hibrida seperti ini memang tidak aneh, terutama setelah kita memasuki era globalisasi yang justru berdampak pada terjadinya penyeragaman budaya. Malah, proses-proses diskursif inilah yang mendefinisikan identitas sebagai sesuatu yang cair, dinamis, dan tidak pernah ajeg.

Deleuze dan Guattari melihat kebudayaan sebagai rhizome, yang di dalamnya setiap unsur berhubungan – berinteraksi, berdialog, bersintesis, dan berkontestasi satu dengan yang lainnya. Budaya yang terbangun berdasarkan prinsip ini adalah budaya yang tidak berhenti menghubungkan rantai semiotik, tanda, simbol, makna, pengetahuan, dan kode-kode budayanya dengan kebudayan lain, dalam rangka menciptakan makna, pengetahuan, dan relasi sosial yang baru. Singkat kata, ia adalah kebudayaan yang tidak pernah berhenti berproses.

Oleh karena itu, tidak mengejutkan bahwa musik Metal – sebagai bentuk kebudayaan – terbentuk dari berbagai kontestasi yang terjadi di masyarakat yang melahirkannya, termasuk persoalan etnis dan agama. Jika konteks lokal ditelaah lebih jauh, sejarah musik Metal di Indonesia tentu berkelindan erat dengan kapitalisme global yang hadir di Indonesia, dan merekonstruksi gaya hidup dan nilai anak muda yang tumbuh besar mendengarkan musik Metal. Dengan memandang musik sebagai bentuk budaya, maka musik populer sesungguhnya bisa berfungsi sebagai media untuk membangun makna, dan karena itulah ia menjadi medan pertarungan hegemoni dan resistensi (Ibrahim, 2011: 49).

Resistensi Kultural

Resistensi kultural adalah kesadaran dan kemampuan individu untuk mengartikulasikan makna-makna alternatif terhadap konstruksi kelompok dominan. Resistensi ini juga menekankan kekuatan wacana dan simbol untuk mengorganisir dan mengaktifkan identitas kolektif, dan mewujud melalui jalan perubahan performatif seperti teater protes, lagu-lagu perlawanan, dan tarian perlawanan. (Boal, 1985, 1998; Chaterjee, 204, Hashmi, 2007, dalam Ibrahim, 2011: 47) Perlawanan beragam rupa ini tidak pernah jauh dari gagasan tentang kekuasaan, ketidakadilan, dan perubahan sosial.

Tentu, kita perlu membedakan musik dari ranah populer dan industri yang cenderung berorientasi pasar dan diproduksi massal, dengan musik subkultural yang lebih ‘bawah tanah’, resisten dan ideologis. Dalam musik independen di ranah subkultur, resistensi kultural berujung pada perlawanan terhadap institusi kekuasaan yang mapan dan dominan di masyarakat – yaitu negara, agama, dan kapitalisme global. Musik subkultural kemudian memosisikan diri sebagai subordinat yang ‘melawan’ kemapanan tersebut melalui beragam makna, simbol, dan tanda sebagai bentuk ekspresinya. Punk dan Hardcore, misalnya, muncul sebagai katarsis bagi para pemuda galau yang resah dengan kebijakan negara di Amerika Serikat dan Inggris yang neo-liberal dan meminggirkan kelas pekerja.

Selain negara dan kapitalisme global, resistensi kultural yang terjadi di musik juga memunculkan relasi berbeda antara musik subkultural dengan wacana agama. Musik Black Metal di Norwegia, misalnya, muncul sebagai bentuk resistensi terhadap kemapanan wacana agama Kristen. Tak hanya melalui lirik dan musik, perlawanan kancah Black Metal mewujud dalam tindakan nyata seperti pembakaran gereja-gereja yang menyebabkan ditangkapnya Varg Vikernes, vokalis grup Black Metal legendaris Burzum. Maka, musik muncul sebagai salah satu wadah untuk kontestasi dan komodifikasi ideologi.

Alasan untuk munculnya kantung-kantung kecil perlawanan ini sebetulnya sederhana. Ketika negara, agama, dan kapitalisme global yang masuk melalui budaya populer dianggap tidak memuaskan lagi oleh penikmat musik, mereka mencari simbol dan tatanan nilai baru melalui bentuk kebudayaan yang lebih hibrid. Hibriditas ini pun tidak mentok pada eksplorasi di ranah musikal, namun juga merambah ke tataran nilai dan simbol.

Menalar dan Menakar Indonesia

Persoalan serupa terjadi pula di Indonesia. Penikmatan mereka terhadap musik Metal – yang tentu saja adalah produk ‘Barat’ – berjalan seiring dengan ketidakpuasan mereka terhadap nilai-nilai yang dibawa oleh budaya Barat. Kemunculan praktik musik yang hibrid seperti Metal Islam, Black Metal Kejawen, Metal Sunda dan kawan-kawannya lahir dari kegamangan ini. Musik Metal yang dibawa oleh kapitalisme global dinilai tak ‘berbicara’ pada identitas mereka, dan tak mampu memberi pemaknaan yang memuaskan terhadap identitas serta kehidupan mereka sehari-hari.

Resistensi pun muncul, musik Metal dimodifikasi, dan mereka mulai mencari sesuatu yang bisa dijadikan “pegangan” nilai berikutnya. Yang jadi menarik adalah, sekalipun mereka telah menemukan pegangan nilai baru, mereka tetap mengekspresikan nilai-nilai tersebut melalui musik Metal.

Telaah terhadap hal-hal yang berbau etnik dan tradisional, misalnya, bisa kita baca sebagai resistensi yang lahir dari ketidakpuasan terhadap “homogenisasi” budaya yang dibawa oleh kapitalisme global. Sedangkan, simbol-simbol agama digunakan oleh komunitas Metal Satu Jari untuk melawan wacana Zionisme dan Kapitalisme yang – menurut hemat mereka – banyak merusak akhlak dan moral anak muda di Indonesia. Wacana ini mereka lawan dengan nilai-nilai Islam yang mereka syi’arkan (lagi-lagi) melalui musik Metal.

Merujuk pada pernyataan Mark Levine dalam buku Heavy Metal Islam (2008), pengalaman umat Islam saat ini terkait erat dengan kulturalisasi politik dan ekonomi sebagai momen yang menegaskan terjadinya globalisasi. Umat Islam saat ini melihat kehadiran globalisasi – atau dalam konteks ini, “Westernisasi” – dalam bidang politik, ekonomi, gaya hidup, dan budaya sebagai bentuk ghazwul fikri atau perang pemikiran. Di Indonesia, komunitas Islam di Indonesia mendapuk wacana abstrak “Westernisasi” sebagai musuh bersama yang patut diruntuhkan. Menariknya, wacana Barat ini justru mereka lawan dengan simbol kultural Metal, yang masuk ke Indonesia gara-gara “Westernisasi” itu sendiri.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa gerakan ini paradoksikal. Namun, di sisi lain, kita tak bisa menyangkal bahwa mereka mulai menemukan momentum dan mengakar di kalangan anak muda. Terlepas dari mundurnya Down for Life dan Burgerkill – dua nama besar di kancah Metal – dari konser Brutalize in Darkness, faktanya konser tersebut tetap berlangsung, dan Disavowed, legenda Death Metal dari Belanda, tetap datang dan tampil. Penonton pun didominasi oleh anak muda, yang entah tidak peduli, tidak tahu, atau – dan ini skenario terburuk – justru mengamini sentimen rasis yang digaungkan oleh Ki Gendeng Pamungkas. Upaya melakukan wacana tandingan pun dilakukan Wendi Putranto, seorang jurnalis musik, dengan membuat gelaran bertajuk “Metal Untuk Semua”. Gerakan ini seolah berusaha ‘menandingi’ wacana komunitas Metal Satu Jari, yang dinilai berpotensi memunculkan kembali sentimen fasisme.

Pada praktiknya, di tengah era globalisasi di mana sistem nilai menjadi beragam, selalu akan terjadi pertarungan atau kontestasi ideologi yang menjadikan musik sebagai kendaraan. Walau hanya terjadi di komunitas-komunitas yang terbilang ‘kecil’ dan tidak masuk radar arus utama, sejatinya perlawanan yang mewujud melalui Metal Satu Jari, Brutalize in Darkness, hingga Black Metal Kejawen adalah gejala sekaligus cermin dari perubahan lebih besar yang terjadi di masyarakat. Bahwa kita adalah bangsa yang tengah gamang – mengelu-elukan sekaligus mempersoalkan perubahan kultural yang seolah-olah terus ‘menyerang’ identitas budaya, agama, dan negara kita.

 


Tentang Penulis

Idhar Resmadi adalah dosen dan penulis. Bisa dikunjungi di alamat: www.idhar-resmadi.net

 


Bacaan

Pilliang, Yasraf Amir. 2011. “Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan.” Penerbit Matahari: Bandung

Ibrahim, Idy Subandi. 2011. “Aku Bernyanyi Menjadi Saksi: Hidup, Gitar, dan Perlawanan dalam Balada Musik Iwan Fals.” Penerbit Fiskontak: Bandung dan Jakarta

http://inpasonline.com/new/respon-umat-islam-terhadap-globalisasi/

http://www.punkjews.com/

https://tirto.id/ki-gendeng-dan-rasialisme-di-kancah-musik-metal-indonesia-couf

https://ruang.gramedia.com/read/1496924812-the-taqwacores-dan-islam-yang-resah

 

Sumber: Ruang Gramedia

Glokal Metal: Dari Black Metal Menuju Jawa yang Baru

Oleh Yuka Dian Narendra

Narasi Kraton, dengan seluruh artefak dan infrastruktur budayanya, telah membingkai karakteristik kebudayaan Jawa sebagai kebudayaan yang rumit, indah, halus, dan kukuh tak termakan waktu seperti Candi-Candinya. Tentu, kenyataan tak sesederhana itu. Globalisasi telah menjadi realita yang tak terelakkan. Memang, globalisasi takkan serta merta meruntuhkan candi Borobudur dan situs bersejarah lain. Namun,  globalisasi dapat mengubah aspirasi warga kebudayaan tertentu, sehingga merekalah yang kemudian menantang budaya induknya.

Tantangan ini tidak selalu bermakna perlawanan terhadap budaya dominan. Terkadang, tantangan ini hanyalah upaya untuk menegosiasi narasi budaya yang telah berusia ratusan tahun agar  narasi tersebut menjadi lebih kontekstual dengan realitas sehari-hari warga kebudayaan yang hidup di dalamnya.

Demikian pula Jawa dalam pusaran budaya populer global. Pertemuan budaya lokal, budaya tradisi atau apapun sebutannya dengan budaya populer bukan hal baru. Globalisasi, seperti yang dikatakan oleh Roland Robertson (1991), selalu memunculkan versi lokal dari budaya populer. Hal ini dapat dimaknai sebagai upaya negosiasi untuk membangun identitas budaya lokal yang khas, sekaligus menjadi sebentuk perayaan atas budaya populer global itu sendiri. Situasi demikianlah yang terjadi ketika musik Heavy Metal – sebagai bagian dari budaya populer global – masuk dan menyebar ke berbagai kota di Indonesia sepanjang dekade 1990-an (Wallach 2008: 36).

Kota-kota di Jawa – khusus dalam konteks artikel ini – tidak luput dari pengaruh subkultur tersebut. Metalhead[1] dari berbagai kota berlomba-lomba memosisikan diri di tengah pentas Metal nasional. Pendirian band, produksi album dan merchandise band, penyelenggaraan festival musik, artikulasi identitas kota asal mereka dalam bahasa subkultural khas Metal seperti semboyan “Metal Sak Modare” (atau: Metal sampai mati) dari Jogjakarta Corpsegrinder (perkumpulan pelaku kancah Metal – grindcore dari Jogjakarta) dan beragam artikulasi budaya lainnya tidak hanya menegaskan popularitas Metal sebagai subkultur musik anak muda. Lebih jauh lagi, kita dapat menemukan geografi budaya Jawa yang berbeda.

Pertanyaannya: Apakah Metal yang sedang diartikulasikan secara Jawa, atau sebaliknya, Jawa yang sedang diartikulasikan secara Metal? Seringkali, Jawa diasumsikan sebagai kebudayaan “tradisional” dan adiluhung yang selalu bertarung menghadapi gempuran budaya asing. Di sisi lain, Metal sebagai bagian dari budaya populer global dianggap memiliki kecenderungan mendominasi dan menggerus kebudayaan lokal tanpa ampun. Lantas, bagaimana mungkin kedua arus ini bertemu?

Javanese Black Metal: Jawa Dalam Imaji Budaya Populer

Semangat Metal yang melawan dominasi musik populer pada masanya membuat subkultur ini didapuk sebagai musik underground, atau ‘bawah tanah.’ Pada tahun 1990-an, perkembangan subkultur Metal lokal berjalan seiring dengan mencuatnya gerakan politik mahasiswa yang menuntut Reformasi (Wallach 2008: 162-166). Kenyataan ini membuat popularitas Metal menyebar lebih cepat di kalangan anak muda Indonesia pada masa itu.

Pada saat bersamaan,[2] terjadi perubahan drastis di wilayah produksi media yang disebabkan oleh kemunculan teknologi rekayasa digital. Di antaranya, perubahan ini memungkinkan para Metalheads untuk memproduksi sendiri media cetak berupa zinedan menyebarluaskan subkultur Metal. Praktik ini lantas memberi jalan bagi kaum muda untuk mengkonstruksi arena subkultural yang mereka narasikan sendiri, dan membuka ruang negosiasi terhadap kebudayaan populer global yang dominan.

Dari beragam sub-genre Metal yang populer di kalangan anak muda Indonesia, Black Metal cukup mendapat perhatian di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jika dirunut sejarahnya, Black Metal adalah turunan dari sub-genre Trash Metal yang populer di dekade 1980-an. Bedanya, apabila musik Trash Metal didominasi oleh tempo cepat yang dibungkus dengan harmonisasi kebisingan, Black Metal melangkah lebih jauh. Melalui lirik dan visualitas mereka, subkultur Black Metal mengangkat tema Satanisme, Paganisme, dan semangat perlawanan terhadap agama-agama Samawi.

Black Metal muncul ketika band asal Inggris bernama Venom – yang mengemas diri mereka dalam industri musik sebagai band Satanis – merilis album berjudul “Black Metal” pada tahun 1982.[3]Sejatinya, Venom merintis Black Metal sebagai kritik terhadap subkultur Metal secara keseluruhan yang menurut mereka sudah terlalu komersil dan mainstream. Oleh sebab itu pula, kualitas suara pada album-album Venom sengaja dibiarkan terdengar mentah dan cenderung kasar.

 

Arus perubahan ini tiba pula di tanah Jawa. Javanese Black Metal(seterusnya disingkat JBM) adalah ‘keturunan’ dari sub-genre Black Metal di Norwegia (seterusnya disingkat NBM). JBM sendiri mulai muncul di beberapa kota Jawa Tengah dan Jawa Timur pada dekade pertama abad 21. Solo, Kediri, dan Sidoarjo termasuk kota yang memiliki kancah JBM aktif, dengan band-band yang signifikan. Para pelaku Black Metal ini juga mulai mengadopsi seluruh praktik subkultur tersebut: mulai dari meniru gaya musik, sound, fesyen, hingga mengenakan corpse paint[4] semata agar terkesan jahat dan Satanik.[5]

Terlepas dari debat perihal estetika, peniruan tersebut adalah perpanjangan dari ekspresi ekstra-musikal yang tidak memiliki muatan ideologis signifikan. Menurut pengakuan mereka, peniruan ini adalah ekspresi fesyen dan gaya semata. Secara umum, gejala pelokalan justru tampak dari cara pelaku subkultur ini memaknai konteks “kegelapan” versi Barat yang mereka adopsi dari idola mereka.

Tema “kegelapan” dalam Black Metal – yang berasal dari Eropa – umumnya didominasi narasi Biblikal tentang Lucifer, yang disebut Satan dalam Bahasa Inggris dan dimaknai sebagai Dajjal dalam wacana Islam. Akan tetapi, narasi ini tidak serta merta diadopsi di Indonesia. “Satan” yang banyak dibicarakan dalam Black Metal Eropa, di sini lebih lekat dengan konsep “Syaitan” dalam agama Islam. Maka, “kegelapan” yang dinyanyikan oleh pelaku Black Metal lokal justru banyak bersinggungan dengan konsep kesesatan iman, dan kematian dalam narasi agama Samawi, terutama Islam.

Ada pula yang merelasikan kegelapan tersebut dengan setan/dedemit/hantu dalam konteks folklor – dan ini seringkali beririsan dengan gambaran setan ala budaya populer Indonesia, seperti yang digambarkan dalam film-film horror Indonesia tahun 1980-an. Alih-alih mentok di corpse paint, misalnya, Black Metal Indonesia justru menampilkan sosok hantu pocong.

Cara JBM merespon situasi keagamaan dan kebudayaan lokal tentu berbeda pula dengan respon Black Metal Eropa. Jika NBM banyak membahas Paganisme Viking dan semangat anti-Kristen, narasi JBM jauh lebih kompleks dan tumpang tindih antara narasi Jawa adiluhung (budaya tinggi) yang didominasi oleh historisitas Jawa versi Kraton dengan narasi Jawa modern.

Narasi tentang Jawa memang terlalu kompleks untuk sekadar diekspresikan dalam bentuk perlawanan ala NBM. Sejarah kemerdekaan, gerakan humanisme para biarawan (dan intelektual) Katolik, perjuangan kaum Islam modern dengan Islam tradisional (yang direpresentasikan oleh Nahdlatul Ulama), warisan tradisi Hindu-Buddha yang masih melembaga dalam praktik budaya sehari-hari masyarakat Jawa, paradigma kosmologi ala Kejawen, hingga pendidikan modern yang menanamkan rasionalitas Barat dan membumikan Jawa ke dalam bingkai keindonesiaan, merupakan sebagian kecil dari silang-sengkarutnya narasi tentang Jawa.

Para pelaku JBM mengganti narasi paganisme Viking dan semangat anti-Kristen dengan mitologi dan historisitas Jawa. Dari sini, mereka mulai mengeksplorasi narasi tentang para leluhur tanah Jawa dan alam mistis Jawa. Alih-alih mengambil narasi tentang wayang, para pelaku JBM justru membawa narasi tentang Kejawen dan historisitas Jawa pra-Islam.

Kejawen menjadi pintu masuk bagi sebagian para pelaku JBM untuk menggabungkan praktik spiritualisme, okultisme dan mistisisme khas Jawa. Kejawen sebenarnya merupakan bentuk kepercayaan tradisional Jawa yang telah berusia ratusan – bahkan ada yang mengklaim ribuan – tahun. Sebagai bentuk spiritualisme yang diformalkan, Kejawen memberikan tuntunan praktis tentang kehidupan dan alam semesta. Subject matter tentang Jawa ini mengisi ruang ekspresi verbal (lirik) dan visual (citra visual band seperti logo band, gaya fashion, sampul album hingga desain untuk merchandise) band di kancah JBM.

Namun, ada pula beberapa band yang berusaha untuk mencapai kejawaan tersebut dengan menginkorporasikan konsep bebunyian Jawa. Ada yang berusaha menciptakan lagu Metal dalam tangga nada pentatonik Jawa, seperti yang pernah dilakukan oleh band jazz Karimata pada dekade 1980-an. Ada pula yang menggabungkan gamelan Jawa dengan instrumen band Metal umumnya. Agar memberi kesan lebih autentik, subject matter ini dinarasikan secara liris dengan bahasa Jawa, mulai dari Jawa Rendah (ngoko) hingga yang tertinggi (kromo inggil), dan bahkan bahasa Jawa Kawi. Praktik ini memberi kesan bahwa lirik dan musik Black Metal Jawa menjadi tidak ubahnya suluk,[6] macapat[7] dan karawitan[8] Jawa gaya baru yang datang entah dari mana.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, terdapat beberapa band penting di kancah Black Metal Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di antaranya Santhet (Purwokerto), Makam (Solo), Bandhoso (Solo), Obor Setan (Sukoharjo), Sacrifice (Sidoarjo), Wisik (Sidoarjo), Dry (Surabaya), Sengkala Geni (Surabaya), Ritual Orchestra (Malang), Immortal Rites (Kediri), Emptys (Gresik), Diabolical (Gresik), Rajam (Sumenep) dan masih banyak lagi band JBM di Jawa yang tidak terdeteksi oleh radar.

Wilayah Solo Raya (Solo, Sukoharjo, Boyolali, Kartosuro) di Jawa Tengah, Surabaya (Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan) dan Kediri di Jawa Timur merupakan kota-kota yang memiliki kancah JBM yang signifikan.

 

Spiritualitas Jawa Sebagai Transgresi dan Ekstremitas

Djiwo adalah salah satu band Javanese Black Metal yang menjadi narasumber saya. Sebagai warga Solo yang beragama Katolik, Djiwo tahu betul bahwa secara historis kotanya berada di tengah pertarungan berbagai ideologi politik dan agama.[9] Sejak awal abad ke-20, Solo adalah kota yang memiliki faksi Islam transnasional (Hasani & Naipospos 2012) dan pengalaman sejarah tentang konflik antar etnis dan antar agama (ibid.: 44–68).

Album pertama Djiwo yang berjudul “Cakra Bhirawa[10] dirilis pada tahun 2013. Pada album tersebut, ia menggunakan mantra-mantra ritual kuno Jawa (pra-Islam) sebagai lirik lagu. Lirik lagu “Cakra Bhirawa” sendiri diambil dari mantra ritual rajah Kalacakra[11], mantra yang dibaca untuk melindungi diri dari serangan musuh dalam peperangan. Agar sesuai dengan kondisi masa kini, ia membalik mantra tersebut di liriknya. Praktik subkultural Djiwo tidak lain merupakan respon terhadap kekacauan kondisi sosial politik yang tengah melanda kotanya, terlebih lagi sejak meningkatnya isu radikalisme dan fundamentalisme Islam. Djiwo menggunakan Metal untuk menarasikan Jawa yang ia bayangkan: sebuah Jawa yang superior dan tidak rentan terhadap gejolak politisasi agama.

Djiwo sudah dibekali dengan modal kultural yang cukup. Latar belakangnya sebagai anak keluarga abdi dalem di Kraton membuka aksesnya terhadap pengetahuan praktis tentang kebudayaan Jawa. Di lain pihak, latar pendidikan Katolik membuatnya gemar menelusuri berbagai literatur tentang budaya Jawa, termasuk dari perpustakaan Kraton. Dapat dikatakan, praktik subkultural Djiwo dipenuhi dengan pertimbangan rasional dan balutan pengetahuan.

Djiwo hanya satu contoh pelaku JBM yang serius mencampurkan budaya lokal Jawa dengan Metal. Di Kediri, para pelaku JBM (melalui band Immortal Rites sebagai narasumber) mendekati narasi kejawaan dari sejarah kerajaan Kediri dan Dhaha. Secara geografis Kediri berada di kaki gunung Kelud, gunung berapi yang masih aktif hingga kini. Kejawaan yang mereka gali berorientasi dan bersumber pada dimensi spiritualitas yang mereka alami sehari-hari.

 

Sementara itu, di lokasi yang tidak jauh dari Porong (tempat kasus Lapindo), para pelaku JBM di Sidoarjo melakukan praktik subkulturalnya dengan menitikberatkan tema mistisisme dan spiritualisme Kejawen. Narasumber dari band Sacrifice[12]mengatakan bahwa subject matter dari lirik dan tema lagu hingga artwork untuk sampul album dan merchandise band merupakan pesan-pesan dari leluhur Tanah Jawa. Pesan-pesan tersebut, menurutnya, harus ia sampaikan ke generasi muda demi menyambut datangnya kebangkitan Nusantara.

Di sinilah, konteks sejarah, politik, sosial, dan budaya dari ruang tempat mereka tinggal mempengaruhi cara pandang mereka tentang Jawa. Baik Djiwo, Immortal Rites, Sacrifice, maupun pelaku JBM lain membayangkan Jawa versi mereka masing-masing. Sebuah Jawa imajiner yang dikonstruksi dari fragmen sejarah dan praktik kebudayaan sehari-hari yang mereka temui, lantas bercampur dengan praktik subkultural berbasis budaya populer. Fragmen sejarah Jawa ini bersandar pada dokumen literatur ilmiah resmi, sekaligus sisa-sisa pelajaran sejarah yang mereka terima di bangku sekolah.

Persoalannya, apakah mereka berangkat dari pemahaman yang sama tentang kesejarahan Jawa? Fragmen sejarah tentang Jawa selalu tumpang tindih dengan sejarah “tidak resmi” yang beredar di masyarakat sebagai folklor. Pada tataran ini, narasi mitologi begitu membaur dengan narasi sejarah, sehingga sulit untuk memisahkan mana yang fakta dan mana yang legenda. Ambil contoh tokoh Mahisa Sura dalam legenda Gunung Kelud, bauran kisah legenda dengan catatan sejarah dalam Babad Tanah Jawa, dan masih banyak lagi.

Keterputusan sejarah yang sekaligus membaur dengan mitologi ini membuat tidak seorangpun dapat melakukan perjalanan napak tilas ke masa lalu dengan sempurna. Hal ini hanya dapat terwujud jika seseorang melakukan perjalanan intergalaktik melalui wormhole, atau berangkat ke tanah Jawa mitologis menggunakan “pintu ke mana saja” milik Doraemon.

Keterputusan narasi ini membuat setiap orang yang mencoba menelusuri sejarah Jawa dapat tergelincir jatuh ke dalam lubang pemaknaannya sendiri. Ketika hal tersebut terjadi, seseorang dapat terjebak dalam praktik ritualistik yang pada akhirnya akan dipertentangkan dengan modernitas, perebutan klaim keaslian (kecenderungan ingin merapat ke Kraton dan mendapatkan pengakuan darah biru), praktik klenik dan spiritualisme, atau ekspresi kebudayaan yang dilakukan oleh para pelaku JBM.

Namun, ketergelinciran ini tetap merupakan bentuk partisipasi warga kebudayaan Jawa masa kini untuk meraih kembali autentisitasnya sebagai warga kebudayaan, dan mengukuhkan kembali Jawa yang autentik. Hal tersebut menjadi penting karena autentisitas budaya tersebut tidak lagi ditentukan secara mutlak oleh Kraton (baik itu Solo maupun Yogyakarta), dan karena Jawa yang autoritatif tidak lagi hadir dalam wujud kebudayaan yang adiluhung, melainkan dalam konstelasi pemerintahan Republik Indonesia. Semua ini menjadi narasi yang saling tumpang-tindih dan membuat warga kebudayaan Jawa mencari jalannya sendiri-sendiri menuju semesta pemaknaan baru tentang Jawa yang baru: Jawa dalam imaji budaya populer global. JBM sendiri membayangkan kembalinya Jawa yang autoritatif; sebuah Jawa yang adiluhung secara Metal.

Spiritualisme Kejawen yang dipraktikkan para pelaku JBM menjadi setara dengan mempraktikkan transgresi. Transgresi melalui praktik Kejawen yang dimasukkan ke dalam narasi subkultur Metal merupakan upaya untuk mempertegas sekaligus menantang batas-batas tatanan nilai dengan cara menampilkan bentuk-bentuk representasi yang tidak dapat didefinisikan, memuakkan, tanpa wujud, menakutkan dan mengancam. Kejawen, misalnya, tidak dapat didefinisikan dan diukur kebenarannya, sehingga menjadi “ancaman” terhadap rasionalitas dan juga terhadap “iman.”

Perwujudan dalam bentuk teks-teks media populer (album rekaman, websitefashion, buku, artwork dan merchandise) membuat mitos transgresi Kejawen menjadi setara dengan ekstremitas kemetalan. Ketika penanda kemetalan itu hadir bersamaan dengan penanda identitas Jawa, dapat dikatakan bahwa Jawa telah menemukan jalan menuju semesta yang baru: semesta Metal. Otoritas Jawa yang didorong untuk jadi “kembali dominan” oleh praktik Kejawen, kini telah memosisikan dirinya sebagai ideologi. Identitas Jawa telah dimaknai kembali sebagai bentuk perlawanan dalam konteks Metal.

 

Jawa Global, Metal Lokal

Lantas, bagaimana cara kita membingkai perilaku ini dalam konteks kajian subkultur budaya populer? JBM sendiri adalah wujud dari penjelasan Robertson (1991) tentang glokalitas – sebuah kondisi di mana globalisasi menciptakan arus balik yang mendorong lokalitas naik ke permukaan. Hal ini kemudian menimbulkan kesan bahwa hal-hal yang lokal adalah “global yang baru.” Secara bersamaan, globalitas tampak sedemikian terjangkau, sehingga dunia seolah menciut ke dalam narasi lokal.

Bauran rasa global dan lokal inilah yang dialami JBM. Namun, apakah kita bisa menganggap JBM sebagai “korban” globalisasi, dan Jawa sebagai “korban” gerusan budaya populer?

Lagi-lagi, kita harus bijak menimbang posisi kelokalan tersebut. Subkultur Metal – meski bersifat global – memberi ruang pada ekspresi budaya lokal. Dalam kasus JBM, subkultur Metal malah menawarkan perspektif baru kepada kaum muda untuk membaca kembali Jawa. Singkatnya, para pelaku JBM mencoba menemukan jati diri agar dapat memosisikan diri di tengah percaturan musik Metal dunia.

Munculnya dorongan subkultural ini tentu disebabkan oleh terhubungnya seluruh dunia melalui internet, dan jejaring produksi-konsumsi budaya populer global. Namun, Metal sendiri tidak dikonsumsi secara pasif. Melalui partisipasinya dalam kancah subkultur ini, para penggemar Metal menemukan jati dirinya dan mampu memosisikan diri sebagai pelaku aktif. Dengan demikian, jaringan produksi dan konsumsi musik akan terus berjalan. Dalam siklus kebudayaan seperti inilah, justru Jawa otoritatif yang ditengarai “hilang” itu menemukan celah untuk menampilkan dirinya kembali.

Berawal dari sekadar ingin terlihat “seram” dan meniru atribut Black Metal Eropa, para pelaku JBM tergelincir masuk ke ranah budaya tinggi Jawa yang terputus rangkaian sejarahnya. Sialnya, keterputusan sejarah ini tak diselesaikan oleh simbol otoritas budaya Jawa yang “sah” seperti Kraton, karena Kraton yang ada sekarang hanya mewakili sebagian dari seluruh kesejarahan Jawa. Jawa yang “hilang” tersebut justru hadir dalam wujud peninggalan bersejarah, mitologi dan dongeng, serta ritual budaya yang perlahan-lahan terkikis.

Sementara, narasi modernitas dan agama Samawi dinilai tak menyediakan narasi yang memadai bagi anak muda untuk memahami Kejawen – yang dianggap satu-satunya jalan menuju “kejawaan” yang utuh. Kejawen pun terlanjur dimaknai sebagai praktik klenik semata, dan diposisikan sebagai lawan dari modernitas dan “agama.” Maka masuk akal jika Kejawen justru ditelusuri oleh para pelaku JBM melalui praktik klenik, karena praktik tersebut adalah praktik subkultur Jawa yang dapat dijangkau lebih cepat.

Pada akhirnya, pertarungan makna yang tampak jelas pada fenomena JBM adalah proses pembentukan Jawa yang baru. Jawa ini adalah Jawa yang global sekaligus Metal, yang mewujud melalui imajinasi subkultur budaya populer.

 


Tentang Penulis

Yuka Dian Narendra lahir di Jakarta, 1972. Peneliti independen ini telah mengajar di berbagai Universitas selama 15 tahun. Kini ia menjadi staff pengajar tetap di Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Matana, Gading Serpong, Tangerang. Minat penelitiannya adalah hal remeh-temeh dalam kebudayaan populer Indonesia, terutama kajian tentang subkultur kaum muda, studi nasionalisme, dan kebudayaan urban.

Ia dapat dihubungi melalui surel yuka.narendra@gmail.com. Tulisan-tulisannya terkumpul di blog pribadinya, culturalidiot.blogspot.com.

 


Catatan Kaki

[1] Sebutan untuk penggemar musik Metal (Arnett 1996).

[2] Berdasarkan berbagai wawancara dengan para pelaku. Minimnya dokumentasi sejarah ilmiah tentang pergerakan subkultur Metal di Indonesia menyebabkan data ini menjadi sumir sehingga harus dikonfirmasi melalui wawancara dengan para pelaku kancah (scenester) Metal Indonesia yang masih aktif hingga kini. Buku setebal 800 halaman karya Kimung berjudul “Ujung Berung Rebels” adalah satu-satunya dokumentasi sejarah yang ada, terlepas dari sahih atau tidaknya. Buku itupun sebenarnya hanya bercerita tentang Ujung Berung dan Bandung (Penulis).

[3] Lihat Phillps & Cogan (2009)

[4] Corpse Paint adalah gaya make up yang digunakan oleh musisi Black Metal dalam penampilannya (Lihat Phillips dan Cogan 2009: 54). Sebagian menganggap bahwa Corpse Paint merupakan ekstensi dari citraan Metal yang dikreasikan oleh Kiss (salah satu pionir Heavy Metal asal Amerika sejak 1973 – ibid. 132-135) dan juga King Diamond (ibid.: 130). Akan tetapi sebagian lagi (lihat tulisan Chris Campion 2005, dalam The Guardian) mengatakan bahwa Dead (Per Ohlin, 1969-1991, ex-vokalis Mayhem) adalah orang pertama yang menggunakan Corpse Paint karena memang ingin terlihat seperti mayat.

[5] Berdasarkan obrolan santai dengan Bimo, pemilik Jenggala Records (label rekaman underground dari Surabaya) pada tanggal 29 Oktober 2013 di Surabaya. Bimo memperlihatkan beberapa foto tentang kancah Metal di kota tersebut di tahun 1990-an. Salah satunya tampak sebuah band (yang tidak diketahui namanya) di atas panggung sedang menggorok seekor kucing hingga putus kepalanya, lalu sang vokalis mengucurkan darah dari kepala kucing yang putus itu ke wajahnya. Meski memahami betul bahwa kesemuanya hanyalah bagian dari penampilan panggung, akan tetapi harus saya akui – sebagai seorang penyayang kucing –saya muak melihatnya (Penulis).

[6] Suluk adalah nyanyian yang dilantunkan oleh dalang untuk memberikan suasana tertetu dalam adegan-adegan pertunjukan wayang kulit. Lihat Murtiyoso, Bambang, et. al (2007: 37-39, 77)

[7] Macapat adalah tembang puisi tradisional Jawa. Lihat KBBI Online.

[8] Karawitan adalah seni musik tradisional Jawa yang berbasis pada orkestra gamelan. Lihat KBBI Online.

[9] Hal ini merujuk pada fenomena keterlibatan pesantren berideologi Islam transnasional yaitu pesantren Al-Mukmin di Ngruki, Sukoharjo, yang dipimpin oleh Abu Bakar Baasyir – yang dikenal sebagai tokoh Islam transnasional (Penulis).

[10] Judul ini sama sekali tidak merujuk pada narasi tentang PKI ataupun pasukan elit pengawal presiden Sukarno pada masa Orde Lama, melainkan terkait dengan ritual Kalacakra. Mneurut Djiwo, Cakra Bhirawa adalah sebutan bagi ksatria yang telah menjalankan ritual tersebut (Penulis).

[11] Menurut Djiwo, ritual rajah Kalacakra merupakan ritual yang wajib dilakukan para raja Jawa sebelum berangkat berperang. Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh mengenai ritual ini melalui literatur. Dari dunia maya, informasi yang beredar tentang Rajah Kalacakra sungguh beragam. Ada yang membingkainya sebagai ritual bersejarah dan ada pula yang mengemasnya sebagai mantra untuk mendapatkan kesaktian dan dapat diperjualbelikan lengkap dengan ajimatnya (Penulis).

[12] Narasumber tersebut kini bukan lagi frontman Sacrifice. Ia kini aktif sebagai ilustrator/artworker bertema mistik Jawa (Penulis)

 

Daftar Tautan

Djiwo

http://www.rollingstone.co.id/article/read/2015/07/31/140503009/1093/band-black-metal-asal-solo-djiwo-rilis-video-dokumenter-
https://www.metal-archives.com/bands/Djiwo/3540385013
https://www.facebook.com/DJIWO-531211920327690/
https://www.youtube.com/watch?v=cpCvblDpNnY
Immortal Rites

https://www.metal-archives.com/bands/Immortal_Rites/114488
https://www.facebook.com/Bhrawicaksono/
https://www.youtube.com/watch?v=1rY6VCP8BqA

 

Sacrifice

https://www.facebook.com/Sacrifice.idn
https://www.youtube.com/watch?v=e3St22ROtWI
http://www.film-documentaire.fr/4DACTION/w_fiche_film/39467_1
https://vimeo.com/62718067

 

Daftar Pustaka

Anderson, Bennedict (1991). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.
Arnett, Jeffrey J. (1996). Metalheads: Heavy Metal Music and Adolescent Alienation. Boulder: West View Press.
Baulch, Emma (2003). Gesturing Elsewhere: The Identity Politics of the Balinese Death/Thrash Metal Scene. Popular Music 22: 195-215.
Baulch, Emma (2007). Making Scenes: Reggae, Punk, and Death Metal in 1990s Bali. Durham and London: Duke University Press.
Bashe, Philip (2003). Heavy Metal Thunder: The Music, Its History, Its Heroes. Charlottesville: The University of Virginia Press.
Brown, Andy R. (2011) Heavy Genealogy: Mapping the Current, Contraflows and Conflicts of the Emergent Field of Metal Studies 1978 – 2010, Journal for Cultural Research, 15:3, 213-242.
Campion, Chris (2005). “In the Face of Death,” The Guardian Online. Tautan: http://www.theguardian.com/music/2005/feb/20/popandrock4
Chen, Kuan-Hsing (2010). Asia As Method: Toward Deimperialisation. Durham: Duke University Press.
Chen, Kuan-Hsing, Kuo Hsiu-Ling Kuo, Hans Hang & Hsu Ming-Chu, Eds. (1998). Trajectories: Inter-asia Cultural Studies. New York and London: Routledge.
Cordero, Jonathan (2009). Unveiling Satan’s Wrath: Aesthetics and Ideology in Anti-Christian Heavy Metal, dari Journal of Religion and Popular Culture Vol.21 (1): Spring 2009
Darianathan, I., Eugene (2009). Vedic Metal and the South Indian Community in Singapore: Problems and Prospects of Identity, dari Jurnal Inter-Asia Cultural Studies, Vo.10, No.4, 2009.
De Nora, Tia (2000). Music in Everyday Life. Cambridge and New York: Cambridge University Press.
Dunn, Samuel & Scot McFadyen, Dir. (2005). Metal: A Headbanger’s Journey. Toronto: Banger Films, Inc.
Dunn, Samuel & Scot McFadyen, Dir. (2007). Global Metal. Toronto: Banger Films, Inc.
Edensor, Tim (2002). National Identity, Popular Culture and Everyday Life. Oxford and New York: Berg Publishers.
Erlmann, Veit, Ed. (2004). Hearing Cultures: Essays on Sound, Listening and Modernity. Oxford & New York: Berg Publisher.
Fung, Owen (2010). The Construction of ‘Peoplehood’ in the Second Wave of Norwegian Black Metal, Reinvention: a Journal of Undergraduate Research, Volume 3, Issue 2. http://www.warwick.ac.uk/go/reinventionjournal/issues/volume3issue2/fung
Hall, Stuart & Paul du Gay, Eds. (1997). Questions on Cultural Identity. London: Sage Publication.
Hall, Stuart (1993). Cultural Identity and Diaspora, dalam Williams, Patrick & Laura Chrisman eds. Colonial Discourse & Postcolonial Theory: A Reader. Harvester Whaeatsheaf, 1993.
Handayani, Ingwuri, et. al. Eds. (2009). Kiai, Musik dan Kitab Kuning. Depok: Desantara
Hasan, Noorhaidi (2009). Transnational Islam in Indonesia. The National Bureau of Asian Research, NBR Project Report, April 2009.
Hasani, Ismail & Bonar Tigor Naipospos, Eds. (2012). Dari Radikalisme Menuju Terorisme: Studi Relasi dan Transformasi Organisasi Islam Radikal di Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara.
Hebdige, Dick (2002). Subculture: The Meaning of Style. London and New York: Routledge.
Hegarty, Paul & Martin Halliwell (2011). Beyond and Before: Progressive Rock Since the 1960s. London and New York: Continuum Books.
Heryanto, Ariel, Ed. (2008). Popular Culture in Indonesia: ?Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics. London and New York: Routledge.
Huq, Rupa (2006). Beyond Subculture: Pop, Youth and Identity in a Postcolonial World. London and New York: Routledge.
Kahn-Harris (2007). Extreme Metal: Music and Culture on the Edge. New York: Berg Publishers.
Kennedy, Paul & Catherine J. Danks (2001). Globalization and National Identities: Crisis or Opportunity? Hampshire and New York: Palgrave.
King, Richard (1999). Orientalism and Religion: Postcolonial Theory, India and ‘The Mystic East.’ London and New York: Routledge.
Le Vine, Mark (2008). Heavy Metal Islam: Rock, Resistance and the Struggle for the Soul of Islam. New York: Crown Publishing.
Liew, Kai Khiun, Kelly Fu (2006). Conjuring Tropical Spectres: Heavy Metal, Cultural Politics in Singapore and Malaysia. Inter-Asia Cultural Studies 7 (1), 99-112
Lipsitz, George (1994). Dangerous Crossroads: Popular Music, Postmodernism and the Poetics of Place. New York: Verso.
Lynch, Gordon (2005). Undestanding Theology and Popular Culture. Malden, Oxford & Cartlon: Blackwell Publishing.
Lynch, Gordon (2006). The Role of Popular Music in the Construction of Alternative Spiritual Identities and Ideologies. Journal for the Scientific Study of Religion (2006) 45 (4): 481-488
Macgregor Wise, J., (2008). Cultural globalization: A User’s Guide. Malden, Oxford & Victoria: Blackwell Publishing.
Mieszkowski, Smith, de Valck (2007). Sonic Interventions. Amsterdam and New York: Rodopi.
Monihan, Michael & Didrik Søderlind (2003). Lords of Chaos: The Bloody Rise of the Satanic Metal Underground. Washington: Feral House.
Mitchell, Tony (2009). Music and the Production of Place: Introduction. Tansforming Cultures eJournal Vol.4, No.1.
Murtiyoso, Bambang, et. al (2007), Teori Pedalangan. Surakarta: ISI Surakarta.
Negus, Keith (1992). Producing Pop: Culture and Conflict in The Popular Music Industry. London: Ewan Arnold.
Phillips, Williams & Brian Cogan (2009). Encyclopedia of Heavy Metal Music. Westport, Connecticut and London: Greenwood Press.
Purcell, Natalie, J. (2003). Death Metal Music: The Passion and Politics of a Subculture. Jefferson: Mc Farland & Co.
Scannell, John (2009). Music and the ‘Any-Space Whatever’: Translating Existential Chaos Into Artistic Composition. Tansforming Cultures eJournal Vol.4, No.1.
Wahid, Abdurrachman, Ed. (2009). Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia. Jakarta: The Wahid Institute
Wallach, Jeremy (2008). Living the Punk Lifestyle in Jakarta. Ethnomusicology, Vol. 52, No.1, Winter 2008. Society of Ethnomusicology.
Wallach, Jeremy (2008). Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1997-2001. Madison: University of Wisconsin Press.
Wald, Elijah (2009). How The Beatles Destroyed Rock ‘n’ Roll. New York: Oxford University Press.
Walser, Robert (1993). Running with the Devil: Power, Gender, and Madness in Heavy Metal Music. Midletown: Wesleyan University Press.
Wenstein, Deena (2000). Heavy Metal: The Music and Its Subcultures. Cambridge: Da Capo Press.
Weintraub, Andrew (2010). Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music. New York: Oxford University Press.
Williams, Patrick & L. Chrisman, Eds. (1994). Colonial Discourse and Post-colonial Theory: a Reader. London: Harvester Wheatsheaf.
Woodward, Kathryn, Ed. (1997). Identity and Difference. Cambridge: Sage Publication.
Woodward, Mark (2011). Java, Indonesia and Islam. London and New York: Springer.

 

Sumber: Ruang Gramedia

Moderasi Islam dalam Musik Metal

Oleh Putrawan Yuliandri

Membincang Islam dalam beragam artefak kebudayaan populer Indonesia kontemporer (termasuk di dalamnya musik metal) merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan. Selain karena faktor mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim (Maarif dikutip dalam Wahid, 2009: 7). Dinamika politik di masa akhir rezim Orde Baru yang membangun hubungan mesra dengan Islam menentukan perkembangan politik Islam selanjutnya, baik di masa awal pasca Orde Baru – hingga saat ini (Heryanto, 2012: 19). Hasilnya adalah peningkatan politik Islami di kalangan masyarakat Indonesia yang terus-menerus menguat. Hal ini ditandai dengan maraknya simbol-simbol Islam di ruang publik, penerapan hukum Syariah di beberapa daerah dan peningkatan gaya hidup Islami dikalangan masyarakat muda perkotaan (Heryanto, 2015).

Dalam konteks yang lebih luas, realita ini membingkai narasi besar kebangkitan Islam (Islamisasi) di Indonesia, atau bahkan sebuah kondisi atau proyek post-Islamisme (Bayat, 2002 dikutip dalam Heryanto, 2015). Gejala ini dapat dilihat melalui praktik Islamisasi yang lebih luwes dalam ranah kebudayaan populer. Seperti misalnya, banyaknya kaum muda perkotaan yang ingin tetap menikmati selera kebudayaan dan kemerdekaan terhadap modernitas, tanpa mengorbankan keimanannya atau status identitasnya sebagai pemeluk Islam (Heryanto, 2015: 53).

Konser musik metal sebagai proyek Islamisasi

Minggu 30 Oktober 2016 di Bulungan Outdoor, tempat yang tidak asing bagi penikmat musik metal atau metalhead untuk melakukan ritus kulturalnya yakni, menonton konser. Bagi seorang metalheadseperti saya, Kawasan Bulungan Jakarta Selatan menjadi semacam simbol para metalhead Jakarta merebut ruang publik sekaligus menunjukkan eksistensinya. Menjelang tengah malam, saya menyaksikan penyerahan donasi uang sebesar Rp. 54.361.000,- untuk korban perang saudara di Suriah. Rencananya, dana tersebut akan digunakan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), sebuah organisasi kemanusiaan di bidang medis, untuk membeli sebuah unit mobil ambulans, melalui program MER-C “Ambulance(s) and Medical Aid for Syria”. Hadir di atas panggung adalah Husein Alatas (runner up Indonesian Idol 2014 sekaligus vokalis Children of Gaza) yang secara simbolik menyerahkan baki berisi uang kepada Ir. Faried Thalib (Presidium MER-C) dan Ir. Idrus M. Alatas (Ketua Divisi Konstruksi MER-C)[1].

Penyerahan dana dari hasil penjualan tiket dan lelang merchandiseband ini merupakan susunan acara terakhir dari konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria” yang diprakarsai oleh Metalheads Respect. Metalheads Respect adalah sebuah simpul kolektif dari para grup musik metal yang secara sukarela mengadakan konser amal untuk menghimpun dana. Mengusung slogan “dari metalheads, oleh metalheads untuk kemanusiaan”, konser-konser ini diadakan sebagai bentuk solidaritas komunitas metal terhadap beragam musibah yang terjadi di dunia dan Indonesia.

Ketika saya mewawancarai Mehdy, vokalis Melody Maker dan pengisi acara tersebut, ia menyatakan:

“Acara ini adalah murni salah satu bentuk aksi peduli kemanusiaan dari anak-anak metal kepada korban perang saudara di Suriah. Suriah adalah negara Muslim, saudara kita yang sedang dalam musibah. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak turun tangan membantu mereka. Sama seperti beberapa event charity sebelumnya untuk Palestina dan Rohingya[2].”

Saya tertegun dan cukup takjub mendengar pernyataan Mehdy yang memiliki empati luar biasa terhadap saudara Muslim di Suriah. Dalam benak saya kemudian, walaupun dibalut dengan aksi kemanusiaan, narasi kontemporer kebudayaan populer seperti ini setidaknya membingkai diskursus antara musik metal dan wacana kebangkitan Islam (Islamic Revivalism).

Meskipun bukan hal baru, preseden lain yang serupa namun bernuansa kental dengan praktik idoleogisasi Islam dalam musik metal telah terjadi sebelumnya pada awal 2010 lalu melalui beberapa momentum. Momentum pertama, melalui konser yang bertajuk Urban Garage Festival I. Acara konser musik yang diselenggarakan pada Maret 2010 di Rossi Music Center Fatmawati Jakarta Selatan ini menjadi penanda kemunculan gerakan politik kebudayaan Islam yang muncul dalam ranah musik metal.

Salah satu musisi metal senior yang menggaungkan gerakan baru ini adalah Ombat, vokalis dari kelompok musik metal Tengkorak. Dalam konser tersebut, ia mengumandangkan pergantian simbol metal yang tadinya berbentuk ‘kepala kambing’ atau biasa disebut baphomet[3], dengan salam tauhid satu jari yang berarti ikrar untuk mempercayai bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Esa. Menurut Ombat:

“Tidak ada patokan dalam simbol-simbol budaya metal. Simbol metal yang selama ini lekat dengan representasi kepala kambing (baphomet) merupakan simbol setan atau simbol yang digunakan oleh kaum Satanis (penyembah setan). Kita sebagai umat Islam tentu saja berperang dengan setan, makanya kita menggunakan simbol Tauhid. Kita tidak mau dijajah oleh budaya Barat melalui musik metal. Makanya, dengan budaya mereka kita menyerang balik. Kita ubah lirik lagu kita,  perilaku kita, kita jalanin juga agama kita”[4].

Melalui momentum tersebut, Ombat dan Tengkorak menyatakan dimulainya gerakan “Salam Satu Jari.”

Momentum kedua adalah acara lanjutan Urban Garage Festival II yang diadakan di lapangan basket SMA Yayasan Pendidikan Islam 45 di bilangan Bekasi, pada tanggal 16 Oktober 2010. Di sela-sela konser, para pengisi acara dan penonton shalat Isya berjamaah langsung di lapangan tersebut, bukan di Mushalla atau Masjid yang berada di lokasi konser. Grup musik yang tampil dalam acara ini serupa seperti kelompok musik yang tampil pada Urban Garage  Festival I. Yakni, grup musik metal yang memegang ideologi Islam, seperti Tengkorak, Purgatory, Children of Gaza, The Roots of Madinah, Qishash, Melody Maker dan lain sebagainya. Patut dicatat bahwa hasil penjualan tiket dari kedua konser ini didonasikan untuk membantu umat Muslim korban perang di Palestina.

Momentum selanjutnya yang tidak kalah penting, terjadi pada tanggal 25 Juli 2012. Salah satu grup musik kenamaan dalam kancah metal, Purgatory, memprakarsai konser yang bertajuk Approach Deen Avoid Sins I (ADAS I)[5]. Konser Approach Deen Avoid Sins I atau Dekati Agama Jauhi Dosa I dirancang sebagai sebuah ikhtiar restorasi keislaman dan syiar di kalangan metalheads. Dalam konser ini, Purgatory juga menyerukan untuk kembali ke “titik nol”, yaitu sebuah upaya sekaligus semangat untuk memulai dari awal gerakan perubahan budaya musik metal yang jauh dari nilai-nilai Islam dan mengembalikan Islam sebagai satu-satunya cara hidup.

Sekilas, suasana dalam tiga konser itu (Urban Garage Festival I, II dan ADAS I) tak jauh beda dengan konser metal pada umumnya: dipadati oleh metalheads berbaju hitam, berambut gondrong dan diringi dengan gemuruh musik. Namun, beberapa hal yang membedakan ialah adanya peraturan yang melarang para metalhead untuk mabuk-mabukan dan melakukan “tindakan pornoaksi” di lokasi konser. Selain itu, grup musik metal yang tampil tidak diizinkan untuk membawakan tema-tema lagu dan orasi yang bersifat atheis, bertentangan dengan nilai agama, berpotensi memecah-belah, mencemooh agama lain, dan mempromosikan paham-paham liberal, sekuler, dan lain sebagainya. Tradisi baru yang marak pada ketiga konser tersebut adalah adanya orasi kegamaan (Islam) dari grup musik yang tampil, dan sekali-sekali diselingi oleh pekikan takbir para metalhead.

Mengapa Konser?

Secara global, tradisi penyalahgunaan narkoba dan minuman keras di kalangan penonton maupun kelompok musik metal menjadi ritus yang tidak dapat dilepaskan dari peristiwa konser musik metal. Praktik subkultural adalah bentuk dari ekspresi akan kebebasan dan keluarnya para partisipan dari penindasan budaya dominan (Arnett, 1995). Selain itu, hal-hal dengan kecenderungan ‘negatif’ yang kerap diperlihatkan oleh budaya musik metal, merupakan gambaran psikologi sosial terhadap budaya kaum muda baik itu musisi ataupun penikmat musik metal (metalheads). Pada awal kemunculannya, tak dapat dipungkiri bahwa anak muda yang terlibat dalam kancah musik metal memiliki hasrat akan sensasi yang tinggi dan kehendak melakukan hal-hal yang baru, termasuk menyalahgunakan narkoba dan minum-minuman keras (Arnett, 1996: 80).

Kontras terhadap tradisi kultural yang dipraktikkan secara global, band seperti Purgatory dan Tengkorak ‘meminjam’ idiom kultural musik metal serta konser untuk menyebarluaskan syiar Islam. Walaupun terkesan paradoks, praktik apropriasi seni ini berhasil memantik perdebatan di ranah metal Indonesia. Kecendrungan paradoksikal ini dapat dilihat dari narasi ambivalen yang saya uraikan di atas. Para metalheads Satu Jari dengan senang hati menjadikan musik metal sebagai ‘kendaraan’ untuk berdakwah. Di sisi lain, mereka menolak elemen-elemen ekstra-musikal yang melekat dengan subkultur metal, yang dinilai tidak sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai agama Islam.

Dalam konteks kekinian, konsistensi syiar tetap tercermin pada salah satu grup musik metal, Purgatory. Selain terus terlibat dalam konser musik yang bertema Islam, mereka juga menginisiasi tradisi baru dalam praktik subkultural musik metal: membuat kelompok-kelompok diskusi dan kajian agama Islam. Walaupun diskusi ini dibuka untuk umum, mereka yang hadir dalam diskusi ini kebanyakan adalah MOGERZ, singkatan dari Messenger of God Lovers or Followers, julukan untuk fans Purgatory dan siapapun yang mengidentifikasi dirinya sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan data terakhir yang diakses melalui fanpage atau grup publik di laman Purgatory’s Official Group of Mogerz, pengajian sekaligus fansclub ini telah memiliki 10.545 anggota[6].

Penutup: Genre Baru – Metal Islam

Wacana penggabungan metal dan Islam (Metal Islam) yang digaungkan oleh grup musik Purgatory, Tengkorak, Melody Maker dan lain sebagainya dapat dilihat sebagai respon dan resistensi mereka terhadap hegemoni Barat. Hegemoni praktik kebudayaan Barat yang umumnya bercorak sekuler menjadi tantangan tersendiri tak hanya bagi pelaku subkultur metal Islam, namun juga bagi umat Islam secara umum.

Persoalan ini terangkum dalam pertanyaan klasik identitas Islam saat ini, yakni tantangan Islam dalam menghadapi modernitas. Islam dinilai harus selalu mawas diri terhadap berbagai dinamika dan perubahan sosio-kultural. Mengutip pemikiran Nurcholis Madjid, Islam adalah agama yang mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Islam memberi peluang bagi berlangsungnya perubahan dalam orientasi keagamaan dan kulturalnya, seperti tanggapannya terhadap tantangan waktu dan tempat, dan adaptasinya terhadap lingkungan temporal dan spasial yang berbeda beda (Madjid dikutip dalam Woodward, 1999: 105).

Gagasan Nurcholis Madjid merujuk pada salah satu surat dalam AlQuran (QS 2:62) yang menyatakan bahwa, “Kami tidak pernah mengutus seorang Utusan pun kecuali (untuk memberi pelajarandengan bahasa kaumnya, agar ia dapat membuat (segala sesuatunyajelas bagi mereka”.

Kemudian Nurcholis Madjid juga mengutip penafsiran Yusuf Ali dalam “The Holy Quran” atas ayat ini, berikut kutipannya:

Jika Pesan Suci (Risallah) adalah membuat sesuatu menjadi terang, maka ia harus disampaikan dalam bahasa yang digunakan di tengah masyarakat, yang kepada merekalah utusan itu dikirim. Melalui masyarakat tersebut, Pesan Suci itu dapat mencapai seluruh umat manusia. Bahkan ada pengertian yang lebih luas untuk ‘bahasa’. Ia tidak semata-mata masalah abjad, huruf, atau kata-kata. Setiap zaman atau masyarakat – atau dunia dalam pengertian psikologis – membentuk jalan pikirannya dalam cetakan atau bentuk tertentu. Pesan Suci Tuhan, karena bersifat universal, dapat diungkapkan dalam semua cetakan dan bentuk, dan sama-sama absah dan diperlukan untuk semua tingkatan manusia, dan karena itu harus diterangkan kepada masing-masing sesuai dengan kemampuannya atau daya penerimaannya. Dalam hal ini, Al-Quran menakjubkan. Ia sekaligus untuk orang yang paling sederhana dan untuk orang yang paling maju (Ali dikutip dalam Woodward, 1999: 106).

Keluwesan dan sifat universal AlQuran ini menjadikannya dinilai mampu beradaptasi dengan lingkungan kultural manapun – termasuk subkultur metal. Praksis musik metal Islam ini dinilai berhasil manakala banyak anak muda di subkultur metal merasa tergugah untuk kembali pada nilai-nilai Islam, tanpa berusaha keluar dari jalur musiknya.

Meski kondisi ini jelas paradoks, sentimen para metalheads Satu Jari tak jauh beda dengan pemikiran Madjid: ‘meminjam’ simbol-simbol budaya metal demi syiar Islam adalah praktik yang diperbolehkan, karena Islam sendiri dipandang sebagai agama yang universal dan mampu beradaptasi. Namun, mengutip Gellner (1981), upaya modernisasi Islam ini “harus berlangsung tanpa merusak keaslian dan otentisitasnya sebagai agama wahyu.”

Praktik pencipataan wacana Islam melalui musik metal yang dilakukan oleh kelompok Metal Satu Jari telah menjadi jalan para penikmat musik metal secara umum dalam membentuk identitas individualnya maupun identitas kolektifnya. Budaya populer – dalam hal ini musik metal – menjadi jalan para metalheads lokal untuk menemukan kembali nilai-nilai agama.

Terlepas dari soal apakah Metal Satu Jari berpotensi menjadi hegemoni baru di ranah musik metal Indonesia, metal Islam sebagai produk moderasi dapat dimaknai sebagai perkembangan genre baru dalam musik metal lokal.

 


Tentang Penulis

*Putrawan Yuliandri adalah lulusan Pascasarjana Fakultas Komunikasi UI. Pernah menjadi musisi metal bersama band Disagree. Memiliki minat yang tinggi pada kajian mengenai musik metal dan subkultur. Saat ini sedang menyelesaikan proyek buku mengenai musik metal dan Islam.

 


Catatan Kaki

[1] MER-C menjadi satu-satunya lembaga nirlaba penyalur dana sumbangan pada konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria”. Selain pada konser ini, MER-C juga pernah ikut menyalurkan dana sumbangan pada konser sebelumnya yaitu untuk membantu korban di Gaza Palsetina. Ulasan lengkap dapat dilihat melalui tautan dari laman : http://www.merc.org/index.php/Id/component/k2/item/791-dari-para-pecinta-musik-metal-untuk-suriah(diakses pada 27/05/2017)

[2] Kutipan ini adalah hasil obrolan saya di lokasi konser dengan Mehdy vokalis Melody Maker dan dilanjutkan dengan wawancara informal melalui email pada 24/11/2016

[3] Perdebatan mengenai simbol Baphomet (kepala kambing) sebagai simbol metal masih terus berlangsung, benang merah yang dapat ditarik mengenai sisi historisitas simbol ini, merujuk pada film dokumenter karya Samuel Dunn, Scot McFayden & Jessica Joy Wise (2005), yang berhasil mewawancarai Ronnie James Dio. Dio digadang-gadang sebagi orang yang menemukan dan mempopulerkan simbol Baphomet, sebagai sebuah simbol dari budaya metal. Dalam wawancara tersebut, Dio menjelaskan bahwa, simbol Baphomet atau tanduk kambing ini memiliki arti khusus yang diberikan oleh neneknya yang berasal dari Italy, sebagai sebuah simbol pertahanan diri dari niat jahat seseorang, kemudian simbol ini dipopulerkan Dio ketika konser-konser dihadapan para metalheads, hingga akhirnya diikuti olehmetalheads sebagai sebuah simbol metal. Kemudian, kontroversi mengenai simbol ini berlanjut, ketika simbol ini digunakan juga oleh Anton Szandor LaVey, seorang tokoh pendiri gereja setan (Church of Satan), sebagai tanda salam ketika menyembah Lucifer (iblis tertinggi), untuk lebih jelas mengenai Church Of Satan dapat dilihat pada situs: http://www.churchofsatan.com/pages/BaphometSigil.html (diakses pada 3/5/2016)

[4] Pernyataan ini adalah wawancara mendalam saya dengan Muhamad Hariadi Nasution atau yang akrab disapa Ombat pada 17 November 2012. Selain menjadi vokalis Tengkorak, Ombat juga disibukan dengan profesinya sebagai pengacara, wawancara ini pun dilakukan di kantor pengacara Ombat di Pesanggarahan Jakarta Selatan.

[5] Lihat ulasan lengkap mengenai konser Approach Deen Avoid Sins 1 versi Republika Online melalui situs:http://aqse2.blogspot.co.id/2010/08/republika-deen-avoid-sins.html diakses pada tanggal 3 Mei 2016

[6] diakses melalui laman fanpage Purgatory di facebook https://www.facebook.com/groups/78955924242/?fref=ts pada bulan Juni 2016

 


Daftar Pustaka

Gellner, Ernest. 1981. “Muslim Society.” Cambridge: Cambridge University Press.

Heryanto, Ariel (ed.). 2012. “Budaya Populer di Indonesia: Mencairnya Identitas Pasca Orde Baru.” Yogyakarta: Jalasutra

Heryanto, Ariel. 2015. “Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia.” Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.

Wahid, Abdurrachman (ed.). 2009. “Ilusi Negara IslamEkspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia.” Jakarta: The Wahid Institute

Wenstein, Deena. 2000. “Heavy MetalThe Music and Its Subcultures.” Cambridge: Da Capo Press.

Woodward, Mark R. Ed. 1999. “Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia” (Terjemahan Ihsan Ali Fauzi). Bandung: Mizan

Arnett, Jensen, Jeffrey. 1996. “Metalheads: Heavy Metal Music And Adolescent Alienation.” Boulder: West View Press

Sumber: Ruang Gramedia

Nada Perlawanan Filastine & Nova

Ada satu permintaan khusus dari panitia ketika Filastine & Nova tampil di Calais Jungle, salah satu kamp pengungsian terbesar di Eropa. “Panitia bilang, penonton sangat ingin kami memulai konser tepat waktu,” tutur Grey Filastine. “Rupanya, setelah konser usai para penonton yang juga pengungsi ingin menghabiskan malam itu memanjat pagar perbatasan dan mencari tumpangan di truk atau kereta api.”

“Kami melempar £00T, uang masa depan yang kami ciptakan sendiri, di penutupan setiap konser,” ungkap Grey. Namun, melempar uang kertas palsu di ruangan sempit penuh pengungsi perang rupanya bukan ide bagus. Dua musisi yang tampil di kelompok tersebut nyaris sesak nafas diinjak-injak oleh massa. Ketika THUMP menemui Grey pada tahun 2016, ia berseloroh tanpa bermaksud sarkas: “Sebenarnya, penonton konser malam itu sempurna.”
Pada tahun 2009, Grey – seorang aktivis dan produser asal Amerika Serikat – bertemu dengan Nova Ruth, rapper sekaligus pemilik kedai kopi asal Malang, Jawa Timur. Sejak mulai berkolaborasi, duet lintas benua ini telah memainkan musik elektronik nan rancak tentang penambang sulfur di Kawah Ijen, tur keliling Indonesia dengan perahu pinisi, tampil di desa pesisir dan perumahan kumuh di lima benua, dan menyanyikan ulang salah satu lagu paling terlarang di Indonesia. Mereka dipuji Pitchfork sebagai “musik yang lain dunia”, dan digadang-gadang SPIN sebagai “musik latar keruntuhan peradaban urban.”

Melalui surel, kami mengobrol dengan Grey (G) dan Nova (N) tentang aktivisme radikal, Peristiwa 1965, dan konser mereka yang ‘dibubarkan’ oleh arwah penasaran.

Dalam sebuah wawancara, anda [Grey] berkata, “Saya bukan musisi yang menjadi radikal, melainkan seorang radikal yang menggunakan musik untuk mengekspresikan diri.” Seperti apa latar belakang kalian berdua, dan keterlibatan kalian pada isu sosial dan aktivisme?

G: Keterlibatan pertama saya ada di isu kehutanan. Saya terlibat di kelompok bernama Earth First! yang mengokupasi hutan-hutan kuno, agar tidak dibabat. Kemudian, saya mendirikan Infernal Noise Brigade – sebuah marching band yang dibentuk untuk mengiringi protes alter-globalisasi di awal tahun 2000-an. Selama ini saya tertarik pada isu-isu lingkungan, dan beberapa kali melakukan intervensi dengan medium bunyi di Konferensi Perubahan Iklim yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Belakangan, saya mulai lebih fokus pada isu migrasi. Saat ini saya tinggal di Eropa Selatan, dan isu tersebut mulai menjadi genting.

N: Kakek saya dulunya tentara. Tapi, ketika saya tumbuh besar, beliau sudah tidak bekerja lagi. Ia menderita diabetes dan akhirnya buta. Kakek saya terkenal anti korupsi, maka dari itu ia disingkirkan dan jabatannya baru dinaikkan ketika ia sudah meninggal. Maka, saya baru mengenal cara untuk bersikap lebih kritis ketika saya berusia 19 tahun. Sebelumnya, saya secara tidak sengaja saja dilengkapi dengan pengetahuan isu sosial ketika mendengarkan musik yang dimainkan Bapak saya – baik bersama Elpamas maupun bersama Iwan Fals, Kantata Takwa, dan Sirkus Barock.

Ketika saya mendirikan band Twin Sista, saya otomatis menulis lirik yang mengandung muatan isu sosial dan lingkungan. Untungnya, keluarga saya tidak hanya dari keluarga militer saja. Keluarga bapak saya, Toto Tewel, adalah keluarga Kristen yang sangat menyukai musik. Sebelum Kakek saya (dari sisi Bapak) menjadi pendeta, ia dulunya pemain biola di grup Orkes Melayu.

Apa yang mendorong kalian untuk bereksperimen dengan bunyi untuk aktivisme?

G: Tanpa gerakan sosial, tidak ada perubahan positif yang akan terjadi di dunia. Tapi, apa yang membuat orang tergerak untuk bergabung dengan gerakan? Tidak ada yang tertarik pada aktivisme hanya karena ia membaca buku teori membosankan dari Karl Marx atau Michel Foucault. Biasanya, orang terinspirasi oleh lagu, oleh film, oleh performans, atau novel tertentu. Budaya populer semacam inilah yang menjadi bibit-bibit awal kesadaran politik. Sedikit banyak, saya ingin musik dan performans kami menjadi salah satu bibit tersebut.

Musik adalah bahasa yang lebih tua dari kata-kata. Menurut saya, musik lebih bisa bermain dari sisi emosional ketimbang dari sisi intelektual. Pemikiran ini penting didedah lebih lanjut oleh produser seperti saya. Kami mengambil keputusan politis ketika kami memilih bagaimana metode kami memproduksi lagu, siapa yang kami ajak berkolaborasi, dan bagaimana cara kami membagikan musik kami di luar kanal-kanal yang mapan.

 

Pada tahun 2012, kalian merekam ulang lagu Gendjer-Gendjer. Mengapa kalian memilih lagu ini? Terutama mengingat latar belakang keluarga anda [Nova]?

N: Saya langsung merinding saat mendengarkan Lilis Suryani menyanyikannya. Ketika saya pindah ke Yogyakarta, informasi tentang Peristiwa 1965 semakin keras. Pada waktu bersamaan, saya mulai bertanya-tanya ke Ibu saya, apakah ia ingat kejadian tersebut walau saat itu ia masih berumur 6 tahun? Rupanya, beliau sangat ingat bagaimana tegangnya suasana di tahun 1965. Pada kenyataannya, semua orang dan keluarganya menjadi korban dari Peristiwa ini – baik mereka yang dituduh Komunis, para seniman, maupun pihak militer. Setiap malam, keluarga kami [militer] pun diancam oleh pihak-pihak tertentu yang ‘ingin membalas dendam’ soal 1965.

Namun, bukan berarti negara ini lepas dari kesalahan. Kejadian tersebut adalah tanggung jawab bersama. Dan menyanyikan lagi Gendjer-Gendjer adalah salah satu bentuk tanggung jawab. Jika kita sebangsa tidak berani mengakui kesalahan, kemakmuran dan kemajuan akan semakin sulit kita capai.

Anda sempat menuliskan pengalaman anda tampil di salah satu venue, di mana ‘arwah’ para tahanan politik mengganggu performans kalian saat kalian memainkan Gendjer-Gendjer.

N: Oh iya. Mau tidak mau, percaya tidak percaya, hampir semua dari kita orang Indonesia percaya pada keberadaan hal-hal yang bersifat metafisik. Di kampung tempat kami tampil itu, semua warga tahu bahwa di lingkungan mereka terdapat kuburan massal bagi korban pembantaian yang dituduh PKI. Maka, warga pun percaya bahwa arwah penasaran para korban masih ‘terperangkap’ di desa mereka.

Saya akui saya memang bebal. Juru kunci dari kuburan tersebut melarang saya untuk menyanyikan Gendjer-Gendjer, tapi tetap saya nyanyikan dengan dalih bahwa saya tidak berniat jahat. Ketika saya mulai bernyanyi, lampu seluruh desa langsung padam. Generator untuk berjaga-jaga jika listrik padam pun tidak bisa dinyalakan. Suasana sempat cukup mencekam.

Penduduk desa menyuruh kami berpegangan tangan supaya tidak ada yang menjadi sasaran kemarahan arwah penasaran. Baru setelah sekitar setengah jam, lampu menyala lagi. Saya lekas dipanggil juru kunci untuk menyiapkan sesajen. Kata arwah-arwah tersebut, mereka cukup tersinggung, ‘Kenapa ada pesta, namun mereka tidak diundang?’ Sejak kejadian tersebut, akhirnya saya berteman dengan salah satu petani anggur yang tinggal di dekat kuburan massal, dan saya beberapa kali datang lagi ke sana.

Apakah menurut anda, Indonesia telah berusaha menghadapi masa lalunya dengan lebih baik?

N: Ada contoh yang bisa kita ambil dari Australia. Sejak tahun 1998, setiap tanggal 26 Mei mereka memperingati National Sorry Day atau Hari Permintaan Maaf Nasional. Hari ini diperingati sebagai permohonan maaf negara – dan secara simbolik, rakyat Australia – pada perlakuan buruk terhadap suku bangsa Aborigin oleh imigran kulit putih. Namun, kenyataannya hingga kini pemerintah mereka malah membuat rangkaian kebijakan tentang imigran yang sangat tidak progresif. Tidak ada perubahan yang mengakar dari pemerintah.

Jadi, mungkin pernyataan maaf dari ‘pemerintah’ tak akan otomatis jadi solusi bagi segala kesalahan yang kita lakukan dari masa lalu. Namun, permintaan maaf bisa menjadi awal yang baik bila diteruskan dengan terwujudnya pemerintahan yang memang adil dan bijaksana. Ruang rekonsiliasi independen seperti yang dilakukan kelompok Taman 65 di Bali, misalnya, adalah contoh yang baik. Di sana, baik keluarga militer maupun korban tertuduh Komunis bekerjasama dalam proyek-proyek seni dan budaya.

Salah satu proyek terbaru kalian adalah serial ABANDON, yang berbicara tentang “pembebasan dari pekerjaan hina.” Bagaimana pengaruh latar belakang kalian sendiri dalam produksi serial tersebut?

G: Ketika masih tinggal di Amerika Serikat, saya menjadi sopir taksi selama hampir 10 tahun. Pengalaman itu sangat mengubah pemahaman saya tentang kemanusiaan, dan karya yang saya hasilkan. Tapi, khusus serial ABANDON, saya terinspirasi dari beberapa pekerjaan ‘hina’ yang pernah saya lakukan.

Pekerjaan pertama saya adalah di gerai ayam goreng fast food di sebuah pusat perbelanjaan di Oklahoma, Amerika Serikat. Pemilik gerai itu adalah korporasi dengan nilai-nilai Fundamentalis Kristen yang sangat ketat, dan mereka mengancam akan memecat siapapun yang tak selalu tersenyum bagi pembeli. Pekerjaan saya yang paling buruk adalah di sebuah tempat live peepshow [tempat di mana pelanggan bisa mengintip orang lain berhubungan seks – Red] bernama The Lusty Lady. Tempat itu sangat mencurigakan, tak ada jendela, dan lampunya merah menyala. Tugas saya adalah membersihkan sisa-sisa sperma yang ditinggalkan pelanggan setelah mereka merancap.

Pengalaman-pengalaman seperti ini yang menjadi latar belakang ABANDON. Pekerjaan yang merendahkan diri anda, dan sebenarnya juga tidak baik bagi lingkungan hidup. Pekerjaan yang sepenuhnya bersifat transaksi – karena anda tak mungkin mengambil pekerjaan semacam itu secara sukarela. Mereka murni membeli waktu hidup anda dengan uang.

 

Anda memilih empat profesi sebagai subyek – ada alasan khusus di balik pemilihan tersebut?

G: Kami merasa perlu membuat karya yang berbicara tentang ekstraksi bahan bakar fosil, jadi kami memilih The Miner [Sang Penambang – Red] sebagai serial pertama. Nova dan saya sama-sama terobsesi dengan isu ini, karena banyak orang di Indonesia tidak paham betapa parahnya penambangan batubara di pulau Kalimantan.

Setelah itu, kami memilih The Cleaner [Sang Pembantu – Red] untuk mengkritik pekerjaan yang bias gender dan tidak manusiawi. Kami banyak merenung tentang awal mula era Internet sebelum memproduksi lagu The Salarymen [Sang Pekerja Kantoran – Red]. Mendadak, kita semua seharian mendekam di depan layar komputer – entah apa yang kita lakukan sebelum tahun 1990-an akhir. Saya ingat masa-masa di mana para pekerja diharuskan menggunakan seluruh tubuh, tidak hanya jemari dan mata untuk mengetik.

Kemudian, The Chatarreros [julukan untuk pemulung besi bekas di Spanyol – Red] adalah cara kami untuk berbicara tentang ekonomi di Eropa Selatan yang mulai kolaps, pilihan-pilihan hidup yang mulai hilang bagi migran dari Afrika, dan pengaruh satu pekerjaan pada lingkungan.

Apa rencana kalian di tahun 2017? Ada tempat yang masih ingin dikunjungi untuk konser?

G: Ini tahun yang penting bagi kami. Kami akan merilis album baru (Drapetomania) dan performans baru, jadi sepanjang tahun ini kami akan tur untuk berbagi dengan sebanyak mungkin orang. Salah satu tempat yang belum pernah kami sambangi adalah Amerika Latin, jadi ini target kami tahun depan. Kami ingin mampir dan tampil di Meksiko, Kolombia, Cile, dan Brazil, misalnya. Nova mulai fasih berbahasa Spanyol, jadi mungkin sekarang tur ini lebih mudah kami wujudkan.

Mungkin ini pertanyaan yang terlalu sederhana. Tapi, apakah menurut kalian tak ada harapan lagi bagi kemanusiaan dan sebaiknya kita menunggu mati saja?

G: Justru, ini salah satu pertanyaan paling kompleks yang bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri. Pertama-tama, abaikan fakta bahwa dalam beberapa juta tahun dari sekarang, matahari akan memuai dan membakar Bumi. Jutaan tahun dari sekarang, manusia mungkin sudah berevolusi menjadi spesies yang berbeda, atau sudah bermigrasi dari bumi. Kemungkinan ini terlalu jauh dan tak terlalu relevan. Mari bicara tentang ratusan, dan ribuan tahun ke depan.

Kita spesies yang tangguh, jadi kita takkan binasa sepenuhnya. Tapi, mungkin kita terkutuk untuk menghabisi semua spesies liar lain dan tinggal di dunia yang penuh dengan polusi dan sampah manusia. Saya tidak mau tinggal di dunia seperti itu. Saya juga tak mau terus melangkah di jalur yang akan membuat kita mewariskan dunia semacam itu pada generasi-generasi berikutnya. Bisa dibilang, ini motivasi yang kuat untuk menciptakan karya seni dan mendorong munculnya jalur berbeda. Persoalannya, setiap hari kita tinggal di dunia yang semakin padat dan lelah secara ekologis. Jadi, mudah sekali bagi kita untuk berpulang lagi pada tribalisme, nasionalisme dan sentimen agama yang ekstrim.

Anggap saja ini The Trump Effect – sekarang, semua orang bertarung untuk kepentingan individu, suku, kepercayaan, atau rasnya sendiri, bukannya memperjuangkan sesuatu yang penting bagi semua orang di bumi.

Bahaya Laten Herry Sutresna

Oleh Raka Ibrahim

“Tambah gendut aja lu, Ka,” sambutnya, menjabat tangan saya erat-erat.

“Lu juga sama,” balas saya. “Bagaimana, nikmat hidup jadi orang kiri?”

Herry Sutresna tertawa terbahak-bahak dan mempersilakan saya berkeliling. Kantor Grimloc Records, label rekaman yang ia dirikan, sedang ditata ulang. Mata saya langsung tertuju pada ratusan CD dan kaset yang menumpuk di ruang tengah, sebagian tercecer dari kardusnya dan bertebaran di lantai. Ucok – begitu ia akrab disapa – menjelaskan bahwa koleksi lama ini hampir musnah dimakan rayap di gudang. Saya tersenyum sendiri ketika ia menghampiri tumpukan CD tersebut, dan mulai menimang-nimang CD Public Enemy seperti anak sendiri.

Pada tahun 1994, ia bersama dua rapper muda lain – Sarkasz (M. Aszy Syamfizie) dan Punish (Adolf ‘Lephe’ Triasmoro) – mendirikan Homicide, salah satu kolektif hip hop paling legendaris di Indonesia. Selama 13 tahun berikutnya, mereka mengguncang scene hip hop lokal dengan musik mereka yang bising, rima yang berbahaya dan sarat referensi, serta keterlibatan mereka dengan gerakan revolusioner pasca-Reformasi.

“Enaknya kita ngobrolin apa?” tanya Ucok, sembari menyeruput kopi.

“Agak klise,” balas saya. “Musik yang berpihak. Gerakan sosial. Kira-kira seperti itu, lah.”

Ucok mengangguk. “Mungkin, apa yang kita anggap klise sebenarnya perlu dibicarakan lebih jauh.” Tuturnya. “Konteks selalu berubah. Apa yang klise bagi gue, mungkin masih baru bagi orang lain. Dan pemahamannya bisa berbeda sama sekali.”

Ia menyulut rokok, lantas terdiam agak lama. “Jadi,” ucapnya, menyeringai. “Sejak kapan lu jadi kapitalis?”

“Karena buku sejarah, ditulis dengan darah, dengan anggur dan nanah, dengan khotbah dan sampah;

Maka argumen terlahir dari kerongkongan korban, digorok di pagi buta di lapangan pedesaan.”

– Homicide, “Rima Ababil” (2006)

—-

Bandung adalah kawah candradimuka yang tepat bagi calon pemberontak. Pada awal dekade 1990-an, scene musik independen di sana tumbuh menjadi arus perlawanan yang solid terhadap dominasi industri musik. “Logika bahwa kita harus kirim demo ke label besar dan tanda tangan kontrak mulai hancur,” kenang Ucok. “Secara politis, di budaya ini sudah terbentuk semangat untuk menandingi sesuatu yang dominan, paling tidak di wilayah produksi dan distribusi.” Pengetahuan tentang cara memproduksi dan mendistribusikan musik secara mandiri mulai menyebar, dan membuka jalan bagi scenester muda Bandung untuk membangun ranah sendiri.

Pada saat bersamaan, kelompok belajar independen mulai bermunculan di berbagai kampus. Buku karya Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer, kisah Ucok, tersebar “dari tangan ke tangan, dari fotokopian ke fotokopian,” sama halnya dengan literatur dari scene punk, semisal zine Profane Existence dan Maximum Rock N Roll. Setelah Reformasi, scene musik Bandung kian berkelindan erat dengan gerakan radikal. Tempat berkumpul pegiat musik independen mulai sering menjadi tuan rumah rapat pengorganisiran aksi, dan musisi di scene independen Bandung mulai ikut terlibat dalam aksi massa.

Homicide besar dari semangat zaman ini. Berbekal kosakata dan referensi serupa – Public Enemy, BDP, Rakim, Gangstarr, dan EPMD – tiga MC yang tergabung di kolektif tersebut mulai tampil di panggung-panggung kecil bersama grup hardcore, punk, dan metal Bandung. Mereka merekam demo perdana di tahun 1998, lantas bergabung dengan kolektif Front Anti-Fasis (FAF) yang isinya mayoritas penghuni scene hardcore punk Bandung.

Perlahan-lahan, pertemuan scene independen Bandung dengan gerakan radikal mulai disorot oleh aparat. “Mereka bahkan pernah menyamar jadi tukang bakso tahu!” kisah Ucok sembari tergelak. “Awalnya kami sudah curiga – dia datang pergi seenaknya, dagangannya diambilin sama anak-anak dia enggak pernah komplain.” Suatu ketika, tukang bakso tahu yang murah hati itu datang ke markas mereka di Cihampelas yang juga distro punk hardcore. “Pas seorang teman nepok buat nanya kabar, ada surat jatuh dari punggungnya, dan kop suratnya dari Kodam. ‘Oh, ternyata lu intel!’ Buat apa coba tukang bakso tahu bawa surat tugas dari Kodam? Akhirnya dia kabur!”

Satu per satu, instrumen gerakan radikal dipreteli. Sementara media mengecap mereka sebagai gerakan amoral dan aparat tak kunjung jemu merongrong para aktivis, gerakan itu sendiri mengalami perpecahan internal. Puncaknya, gerakan mahasiswa radikal berkonflik dengan Partai Rakyat Demokratik, salah satu partai yang menjadi naungan aktivis-aktivis anti Orde Baru. “Kami mulai capek, termasuk saya sendiri,” kenang Ucok. “Kawan-kawan ada yang lari ke narkoba, ada yang keluar dari Bandung, ada yang menyebrang ke gerakan kanan, ada yang berhenti dari gerakan. Banyak yang pergi, dan banyak yang kami tinggalkan.”

Ucok sendiri mengambil langkah yang tak lazim. Pada tahun 2001, ia memutuskan untuk menikah dan berkeluarga.

—-

Ada yang bangkit setelah molotov terakhir terlempar di Semanggi, dan FAF mulai memudar. Ucok dan Aszy mulai mengaktifkan lagi Homicide. Pada tahun 2002, setelah delapan tahun terbentuk dan ribuan alasan penundaan, kolektif itu akhirnya merilis EP perdana berjudul Godzkilla Necronometry.

Hanya Homicide yang berani membuka EP dengan rima brengsek macam “jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov/dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov” (Boombox Monger), atau menghabisi fasisme berkedok agama dengan seruan “jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap, maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap” (Puritan). Ketika Sarkasz berdeklarasi di nomor Semiotika Rajatega bahwa hip hop hanya memiliki empat unsur (“dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur!”), Bandung mendadak memiliki duet MC paling berbahaya di ranah hip hop lokal.

Di bawah tanah, kemerosotan gerakan radikal berlanjut pasca Godzkilla. Tamparan paling keras datang pada tahun 2004, ketika aktivis Munir Said Thalib dibunuh di udara dalam perjalanan ke Belanda. Tahun itu pula, Aszy memutuskan untuk menyusul Lephe dan mundur dari Homicide. “Saat itu, ada perasaan kalah yang luar biasa,” kenang Ucok. “Seperti ada utopia yang hilang.” Hampir sendirian, Ucok yang nyaris patah arang merekam EP Barisan Nisan, dan merilisnya pada tahun 2004.

“Itu album kami yang paling gelap,” kisah Ucok. Didapuk menjadi MC tunggal, ia mengisi verse EP tersebut dengan rima tentang gerakan yang sekarat, musuh yang menjelma jadi raksasa, dan pemberontakan yang menolak padam. Pada Rima Ababil, ia bernyanyi tentang “menaruh rima di atas hitungan ritme pukulan rotan Brimob.” Sementara di nomor Belati Kalam Profan, ia berpegang teguh pada sisa-sisa perlawanan. “Berlindung di balik kosakata stabilitas dan konstitusi, belati para profan,” sembur Ucok. “Di bawah serapahmu kami bersumpah, lebih baik kami mati terlupakan daripada selamanya dikenang orang karena menyerah!

Kegagalan gerakan radikal pasca 1998 memaksa Ucok mengubah perspektifnya. “Kalau fondasinya tidak kuat, perubahan monumental tidak akan jadi apa-apa,” tutur Ucok. “Akhirnya kami bakal dikooptasi, atau kami terpatok pada figur. Warga pun tidak sadar apa yang diperjuangkan dan cuma ikut-ikutan. Sedangkan, kami tidak mau itu. Kami mau ada gerakan sosial yang berkesadaran dan lebih desentralis. Lebih baik kami bikin sel-sel otonom yang banyak dan kuat, ketimbang bikin satu gerakan massa yang besar tapi keropos.”

Momentum politik baru ini membuat EP mereka berikutnya, Illshurekshun, terdengar lebih optimis dan berapi-api. “Di saat dinding keterasingan hasrat menjadi kota terlarang,” nyanyi mereka di Klandestin. “Kami tak meminta Valhalla, kami jadikan surga kalian rampasan perang!” Namun, kesadaran baru itu datang seiring dengan habisnya energi Ucok di Homicide. Mereka membubarkan diri, lantas melepas EP tersebut pada tahun 2008.

—-

Percakapan kami dipotong oleh telepon penting yang harus diangkat Ucok. Selagi ia berceloteh di ponsel, saya memeriksa buku yang tergeletak di meja teras tempat kami berjumpa. Ia baru selesai membaca Hikayat Tirai Besi, karya filsuf anarkis Alexander Berkman yang baru diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saat saya tiba, ia sedang iseng menjajal kumpulan esai Reading Capital, yang ditulis Louis Althusser dan kawan-kawan.

Suka tidak suka, telah tiba saatnya untuk membahas perkara klise yang saya bawa dari Jakarta: bagaimana musik bisa berperan dalam perubahan sosial? Pertanyaan mengawang yang, pikir saya, akan dibantai habis-habisan oleh mulut nyinyir Ucok.

Ia menutup telpon dan meminta saya mengulangi pertanyaan. Setelah saya selesai berbicara, Ucok mengangguk dan lanjut bercerita. “Dulu, ada yang pernah bilang ke saya, ‘Kalau kamu memang mau bikin musik yang menyentuh rakyat, kamu harus bikin lirik yang bisa dicerna oleh tukang becak!’”

Saya tersenyum. “Lalu?”

“Saya tidak sepakat. Kalau mau mendekati warga, jangan bikin lagu. Terlibat saja langsung!” balas Ucok. “Saya tidak percaya musik bisa berbicara banyak di gerakan sosial. Kalau lu mau bikin gerakan sosial, terlibatlah. Turun dan organisir bersama masyarakat. Di luar itu, enggak ada hal lain. Para petani itu tidak akan tergerak untuk mereklaim lahan hanya karena mereka mendengar lagu lu.”

Scene musik, tuturnya, harus mencari cara yang lebih inovatif untuk mendorong perubahan sosial. “Persoalan kebebasan berekspresi dan ‘melawan industri’ itu sudah selesai,” tuturnya. “Teknologi sudah membunuh mereka. Semua orang bisa bikin musik di kamar masing-masing tanpa embel-embel perlawanan. Sekarang, bagaimana caranya supaya pemberdayaan seperti itu menyebar keluar dari kota dan orang-orang yang memiliki privilege? Dalam wilayah ekonomi politik, bagaimana caranya musik bisa memberdayakan masyarakat?”

“Bagaimana caranya kawan-kawan yang tadinya enggak punya alat produksi, kemudian jadi punya alat produksi baru bernama musik?” ujar Ucok. “Kita bisa terlibat di titik penggusuran, misalnya, dan bikin sesuatu secara swadaya dengan warga. Lalu, musik itu sendiri bisa menjadi alternatif untuk menghidupi mereka.”

“Misalkan ada label yang dikelola secara swadaya oleh warga di titik penggusuran,” ucap saya, mengandaikan. “Dan mereka mampu berdiri sendiri. Terlepas dari seperti apa musik yang mereka mainkan, mereka politis?”

Ucok mengangguk. “Bukan produk artistiknya yang jadi masalah. Yang politis justru ekosistemnya, konteksnya. Walau pergulatan politis seperti itu pasti tercermin dalam musiknya.”

Dalam waktu dekat, ia dan kawan-kawan di scene musik lokal berencana mengembangkan ruang kota di salah satu kampung kota di Bandung. Banyak pegiat scene lokal tinggal atau berasal dari daerah tersebut, dan hubungan scene musik independen dengan warga di sana telah terjalin erat. “Ada lapangan basket yang bisa kita pakai di sana,” kisah Ucok. “Kami terpikir untuk bikin tempat permanen di mana warga bisa berjualan, dan teman-teman di scene musik bisa bikin acara,” lanjutnya. “Ruang itu penting. Kami berkali-kali kalah hanya karena tak punya ruang.”

“Saya pikir, pemberdayaan ekonomi politik semacam itu yang justru mengubah keadaan,” tuturnya. “Kalau sekadar soal musik sebagai produk artistik yang menghipnotis massa dan meruntuhkan tirani, saya rasa itu cuma dongeng.”

“Aku katakan sebuah sabda rajah batu kepada lidah-lidah api;

Bahwa ada adalah tiada dan kekosongan itu bernyawa;

Bahwa ketidakberujungan semesta adalah kehampaan bernyala;

Bagi mereka yang bernazar hidup tanpa hamba dan paduka.”

– Homicide, “Siti Jenar Cypher Drive” (2008)

—-

Setelah percakapan kami usai, Ucok pamit sebentar untuk menjemput anak-anaknya dari sekolah. Sekitar satu jam kemudian, ia baru bergabung lagi dengan kami di beranda Grimloc. “Anak gue lumayan suka baca buku,” kisahnya, bangga. “Gue ada kesepakatan dengan dia. Jadi, kalau dia mau beli buku baru, dia harus tulis ulasan buku yang belum dia baca dulu, lalu didiskusikan dengan gue.”

“Lo sudah kasih buku-buku yang radikal?” tanya saya.

“Wah, pelan-pelan itu!” balasnya, tergelak. “Tapi kemarin dia sudah mulai nanya-nanya soal Pramoedya. Ya sudah, gue kasih yang gampang-gampang dulu. Gadis Pantai, misalnya. Baru nanti gue cekokin Tetralogi Buru.”

Saya tidak pulang dari Bandung dengan tangan kosong. Ucok menghibahkan satu kopi zine Uprock’83 yang ia terbitkan sendiri, dan buku kumpulan esainya, Setelah Boombox Usai Menyalak. Dirilis oleh Elevation Books, buku itu baru saja dicetak ulang untuk kali ketiga. “Ternyata, ada juga yang mau baca, ya?” selorohnya. Seperti lirik Ucok di Homicide dan Bars Of Death (proyek terbarunya), esai di buku itu sarat dengan referensi bacaan dan musik yang penuh kejutan – mulai dari obituari bagi Adam Yauch, pembangkangan sipil, menggunakan Marx dan Nietzsche untuk mendedah Company Flow, hingga surat cinta yang panjang bagi Godspeed You! Black Emperor.

Ada satu esai yang masih menghantui hingga kini. Di esai Bapa, Ucok menulis dengan sangat personal tentang Ayahnya – seorang eks-loyalis Soekarno yang pernah bergabung dalam organisasi pelajar yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Tumbuh dewasa di bawah kuasa Orde Baru, Ucok menulis tentang sore-sore girang di mana Ayahnya mengenalkan sang anak pada Black Sabbath, The Beatles, hingga Koes Plus.

“[Ibu] selalu mengingatkan Bapak untuk tidak terlalu banyak mendidik anaknya dengan perspektif politik yang ia yakini,” tulis Ucok. “Namun, Bapa tetaplah Bapa. Tanpa banyak menasehati dan berkata-kata, ia memberikan perspektif tentang kehidupan di luar sana yang tak baik-baik saja […] Membawa saya ke tempat-tempat di mana langit tak berpihak dan pojokan-pojokan yang nampak ogah disinggahi malaikat.” Nasihat tanpa kata ini ia pegang erat-erat pada tahun 1999, saat Ucok dan kawan-kawannya menghindari desingan peluru aparat di pelataran Semanggi.

Sore itu, setelah anaknya aman di rumah, Ucok tetap berniat mampir ke diskusi tentang pembangunan kota yang berkelanjutan di kantor LBH Bandung. Seperti Bapa di esai tersebut, perlawanan bisa dinyatakan dengan cara yang lebih terselubung. Berbulan-bulan setelah pertemuan kami, saya tertegun saat menyadari bahwa Ababil bukan saja judul salah satu lagu Homicide dengan lirik paling beringas (Rima Ababil), namun juga nama anak bungsunya. Saya pun teringat lagi, bahwa nomor Barisan Nisan yang menyindir kapitalisme habis-habisan itu ia akhiri dengan sumpah seorang Ayah kepada anaknya – “Zahraku, Mentariku.”

Kami bertukar lelucon nyinyir dan berjabat tangan erat-erat, sebelum berpisah menjelang Maghrib. Setibanya saya di pintu gerbang, Ucok mendadak berdeklamasi: “Hidup perjuangan kelas… menengah!”

Satir, untungnya.

Sumber: Ruang Gramedia