Punk is Here, Life is Elsewhere

Oleh Pam

“Don’t let my unseriousnerss make you think that it isn’t serious.”
–Chumbawamba

When I hear the word culture, I reach my wallet.”
–Marylin Monroe

Talsa, seorang perempuan muda yang kini menjadi kawan terdekatku ini tertawa saat ia menyadari bahwa kami bebeda usia 10 tahun lebih. Saat kami membicarakan mengenai apa yang terjadi dalam hidup kami 10 tahun ke belakang, ia berkata, “Masa-masa hidup kamu keras ya, Pam?”

“Keras? Saya cuman nongkrong tiap hari sama pengangguran yang dandan aneh dan dengerin musik aneh yang juga kamu dengerin. Nggak ada yang namanya hidup keras saat kamu beneran nongkrong tiap hari sama mereka.”

*

10 tahun yang lalu, berarti tahun 1995, aku masih nyaris menghabiskan seluruh hidupku dengan berada di jalanan. Menenggak alkohol nyaris setiap hari, mengoceh tentang apapun, tertawa lepas, memikirkan tentang bagaimana penampilaku hari ini dan apa yang terbaik untuk dikenakan esok hari, warna apa yang akan kuoleskan di rambutku apabila kebetulan warna merah menyala rambutku telah memudar, memikirkan darimana aku akan bisa mendapatkan spike dan stud (kurasa ini masih tak ada dalam kamus bahasa Indonesia) untuk kupasangkan pada sabuk atau jaket kulitku. Mungkin apa yang kujalani lebih mirip dengan apa yang dijalani para model dalam kesehariannya, hanya bedanya aku melakukannya di jalanan. Pasti seperti kawan-kawan modelmu, Talsa. Tidak lebih. Dan itu sama sekali bukan hidup yang keras.

Bagaimana bisa disebut keras, saat aku walaupun dalam ketidakpunyaanku atas materi, selalu nyaris bisa mendapatkan makanan gratis tanpa harus bersusah payah. Aku cukup bergaul dengan kawan-kawanku yang memiliki uang berlebih dan secara terus terang meminta mereka untuk mentraktirku makan, atau sekadar membeli gorengan. Bahkan aku juga bisa meminta mereka membelikan alkohol untuk kami minum bersama-sama. Aku tak pernah kelaparan sama sekali. Bukankah hidupmu lebih keras, Talsa? Engkau harus bekerja untuk sekedar membiayai hidupmu sendiri, bahkan kini engku kadang tidak makan seharian apabila gajimu ditunda pembayarannya.

Orang tuaku memang tidak membiayai hidupku sama sekali begitu aku memutuskan untuk tidak meneruskan kuliah. Aku mendapat uang dengan menjual koleksi kaset lamaku, atau bekerja kadang-kadang saat ada kawanku yang memintaku membantunya membuat desain-desain tertentu, atau juga sering aku terus terang meminta uang dari kawan-kawanku yang masih didukung dalam segi finansial oleh keluarganya. Toh buktinya sebagian besar kawan-kawanku, walau bergaya punk, masih mendapatkan dukungan penuh dari orang tuanya dalam segi finansial. Kultur punk di Indonesia masih tergolong sangat muda dan ia diadopsi pertama kali oleh anak-anak muda kelas menengah ke atas. Sangat kontras dengan apa yang terjadi di Inggris atau Amerika yang merupakan negeri tempat lahirnya subkultur punk ini, di mana sebagian besar partisipannya di era awal adalah para pengangguran dan gelandangan. Jadi bagi kebayakan dari kami, uang bukanlah sebuah masalah yang patut dipusingkan. Kami hanyalah anak-anak kelas menengah yang meromantisir hidup bohemiman. Menganggap bahwa hidup menggelandang di jalanan, tampil kotor dan berpakaian rombeng adalah sesuatu yang sangat cool.

Tapi begitulah, aku menjalani hidup seperti ini dari hari ke hari, sebagai sebuah perarian dari hidup keseharianku yang semakin tidak beres lagi. Apa yang harus kulakukan saat aku tak memiliki sumber ekonomi yang dapat kuandalkan, tinggal di rumah seharian bersama kedua orang tuaku yang sering mengomel mengenai bagaimana aku sama sekali tidak produktif sebagai anak muda? Aku melihat banyak ketidakmungkinan saat aku berada di lingkungan rumahku, sementara di tengah kawan-kawan punk-ku berbagai kemungkinan seakan terbuka luas.

*

“Berapa yang yang harus dibawa buat ke sana ya, Pam?” tanya Talsa saat kami berdua memutuskan untuk melarikan diri beberapa hari dari rutinitas harian kami, menuju Yogyakarta.

“Berapapun kamu punya, kita bisa pergi kok.”

“Kalo cuman punya 10 ribu?” ucapnya, bermaksud melucu, karena ia pikir sangat tak mungkin untuk dapat pergi ke Yogyakarta dengan sejumlah uang tersebut.

“Nggak masalah.”

*

Menjadi bohemian yang memiliki grup musik memang memudahkan hidup. Apalagi saat kita menjalin hubungan perkawanan dengan kawan-kawan setipe di kota lain. Kadang kala grup kita akan diundang untuk bermain di sana.

Dalam salah satu perjalanan kami ke Yogyakarta dengan kereta api, aku hanya mengantongi uang sejumlah Rp 5.000, setengah dari jumlah yang dalam leluconmu itu, Talsa. Dan aku tidak sendirian, dari sekitar tiga puluh orang yang turut pergi, paling tidak kurang dari setengahnya yang benar-benar memiliki uang cukup. Sisanya nekat berangkat. Tentu saja dengan kondisi demikian, kami memutuskan untuk tidak membeli tiket sama sekali. Tak seorangpun dari kami membeli tiket. Kami hanya mengumpulkan uang sekedarnya, untuk kami berikan pada kondektur kereta yang melakukan pemeriksaan tiket; bisa dibilang melakukan penyogokan, tetapi walaupun dengan jumlah uang sekedarnya, setidaknya uang tersebut dapat langsung masuk ke saku sang kondektur yang hanya mendapatkan gaji sangat minim setiap bulannya. Aku memberikan uang dari sakuku sejumlah Rp 1.000 saja. Dan biasanya, dengan mengendarai kereta kelas ekonomi seperti ini, anak-anak muda yang tampak seperti gembel ini akan dianggap wajar apabila tak membeli tiket. Tampil bohemian dalam beberapa hal memang menguntungkan.

Ini masih lebih baik daripada saat aku melakukan perjalanan pulang, di mana aku sama sekali tak membayar untuk ongkos perjalanan.

Romantis? Mungkin. Tapi saat kita beranjak dewasa, kita akan melihat bahwa ini bukanlah soal meromantisir sesuatu, melainkan ini adalah di mana kita dapat melakukan apapun yang kita inginkan tanpa terjebak dengan kondisi ekonomi. Ini adalah tentang bagaimana kita dapat hidup seminimal mungkin dalam konteks keterlibatan ekonomi. Seorang kawanku dari Cimahi bernama Tole, bahkan pernah melakukan perjalanan ke pantai Pangandaran dari Bandung dengan hanya berbekal Rp 200 pada tahun 1992. Uang yang ia belikan rokok persis sebelum ia tiba di terminal bus di Bandung yang dapat membawanya menuju pantai tersebut. Dan toh ia dapat kembali empat hari kemudian dengan segudang kisah menarik, dengan tak kekurangan suatu apapun.

Memang, perjalanan ke Yogyakarta yang kita alami kemarin ini sangat menyenangkan, Talsa. Pengalaman yang menarik dan kita setuju untuk melakukannya lain kali, ke tempat yang lain. Tapi bukankah untuk itu kita harus bekerja beberapa bulan di Bandung, agar mampu mendapatkan uang cukup banyak yang akan kita habiskan dalam perjalanan kita?

Saat masih bergabung dengan kawan-kawan punk-ku, aku sama sekali tak pernah harus berkutat berhari-hari atau berminggu-minggu agar dapat melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tidak seperti kita sekarang ini. Tak ada leisure-time dan work-time. Seluruh waktuku adalah leisure-time.

*

Saat aku begitu gembira karena mendapati Talsa ternyata memiliki satu folder MP3 berisi lagu dari The Breeders, ia berkata, “Dulu sempet pengen bikin band dan bawain musiknya kayak The Breeders, gitu.”

“Trus kok nggak jadi?”

“Nggak pede sama suara nih. Gak masuk aja kayaknya. Hahaha.”

Aku hanya tersenyum, mengingat bahwa diriku sendiri juga tak memiliki kemampuan vokal yang handal untuk dapat dikategorikan sebagai seorang vokalis. Tapi toh aku juga sempat beberapa kali memiliki grup musik.

*

Tanyakan pada kawan-kawanku dalam kultur punk, siapa saja yang sebenarnya mampu bernyanyi dengan baik, setidaknya dalam standar masyarakat umum. Pasti jawaban yang kau terima hanyalah ejekan dan tertawaan.

Dalam kultur punk, engkau tak harus dapat bernyanyi dengan baik hanya untuk sekadar dapat membentuk sebuah grup band. John Lydon cukup melakukan lip-sync atas lagu-lagu dari Alice Cooper saat ia diaudisi untuk menjadi vokalis The Sex Pistols. Dez Cadena juga sama sekali belum pernah bernyanyi sebelum ia direkrut untuk menjadi vokalis Black Flag. Bahkan para anggota grup Chumbawamba pada penampilan-penampilan perdananya di hadapan publik, sesungguhnya baru mulai untuk belajar memegang alat musik. Dan kau pikir siapa Jello Biafra sebelum ia menjadi frontman band hardcore punk legendaris, Dead Kennedys? Siapa Brian D sebelum bermain bersama Catharsis? Bagaimana dengan Dennis Lyxen? Kathleen Hanna? Orang-orang yang ahli dalam bidang olah vokal?

Kita tak perlu standar nilai masyarakat untuk menentukan apa yang akan kita lakukan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu untuk melakukan sesuatu, menciptakan sesuatu dan menerima segala bentuk kekurangan kita serta mentransformasikannya menjadi sesuatu yang menarik.

*

Menjadi punk, adalah membuka kemungkinan atas segala hal. Setidaknya itu nilai yang kudapat saat aku memutuskan untuk menjadi bagian dari kultur tersebut bertahuan-tahun lalu. Nilai itu pula yang membuatku seskitar lima tahun lalu untuk memutuskan meninggalkannya. Aku tertarik pada kultur ini sekitar tahun 1987, saat aku menghadiri event perpisahan SMP (sekarang SLTP atau junior high school, whatever) dengan tujuan mendekati seorang bintang sekolah adik kelasku. Dalam event tersebut, saat aku sedang asyik melancarkan rayuan pada gadis tersebut, di hadapan kami tampil teman-teman gadisku tersebut dengan membawa alat musik dan rambut acak-acakan berwarna kuning terang. Agak aneh sebenarnya, mengingat bahwa itu adalah event resmi perpisahan sekolah yang dihadiri oleh kepala sekolah dan seluruh jajaran staf guru.

Grup band ini tampil ajaib. Pada tahun 1987 nyaris seluruh dari kita akan terpana melihat rambut dengan potongan mohawk atau acak-acakan dan berwarna kuning terang. Mereka juga tampil setengah sadar, terlalu banyak menenggak alkohol. Lebih ajaib lagi adalah saat mereka mulai bernyanyi. Berteriak-teriak menyumpah serapah di setiap jeda lagu, lantas dalam lagu ketiga sang vokalis ambruk karena terlalu mabuk. Band tersebut pun turun panggung karena seorang guru berdiri menyuruh mereka untuk berhenti bermain. Aku begitu terpana dan mulai melupakan gadis di sebelahku. Aku memilih memburu para anggota band tadi ke belakang panggung untuk kemudian berkenalan dengan mereka. Berteman dengan mereka. Nama grup musik tersebut adalah Bagundal. Merekalah yang pertama kali memperkenalkanku pada punk rock. Mereka memberiku sebuah rekaman kaset The Sex Pistols, memberiku tulisan-tulisan soal band favorit mereka tersebut beserta foto-foto yang digunting dari berbagai sumber. Aku masih ingat saat vokalis Bagundal itu, Tommy, berkata padaku, “Maneh mah teu kudu bisa nyanyi atawa maen alat atuh jang bisa ngeband mah. Nu penting senang-senang weh.” (Kamu tidak perlu dapat bernyanyi atau bermain alat musik untuk dapat membentuk sebuah grup musik. Yang penting mah bersenang-senang).

Berawal dari situ, aku mulai memburu apapun yang berbau punk rock bersama seorang kawan dekatku yang biasa dipanggil dengan sebutan Anus (nama aslinya Octavianus). Kami menjual seluruh koleksi New Wave kami untuk menggantinya dengan koleksi punk rock. Mulai dari mencuri di toko-toko kaset, merekam kaset dari Tommy dan kawan-kawan, mengenakan pakaian-pakaian yang dianggap telah usang dan lapuk, mencicipi obat-obatan, mencari gara-gara dengan para yuppies di daerah Dago yang saat itu masih didominasi oleh kaum yuppies. Hingga sampai pada titik di mana aku memutuskan untuk keluar dari kuliahku di tahun 1993.

Aku menghentikan penggunaan obat-obatan sekitar tahun 1995, kecuali melanjutkan penggunaan alkohol (yang sempat kuhentikan beberapa kali), ganja dan mushroom. Di tahun tersebut aku mulai mengenal bahwa ada sesuatu di balik kultur punk ini, sesuatu yang mulai kutemui karena aku mulai membaca lirik-lirik dari band-band punk rock yang lebih serius seperti Crass, 7 Seconds, Minor Threat dan Dead Kennedys (aku mengenal band ini sekitar tahun 1990, tapi entahlah, di tahun itu aku tak tertarik untuk mengkaji liriknya). Dengan ini dimulailah pencarianku akan sesuatu yang lebih dari sekadar musik dan vokal yang tak sesuai dengan standar nilai bagus masyarakat. Aku mulai berkenalan dengan anarkisme dan berbagai ideologi sejenis.

Dari sekadar ingin tahu dan mengenal internet di tahun 1996, aku mendapat sejumlah besar informasi mengenai punk rock. Aku mulai mengenal konsep straight-edge dan isu animal liberation yang diusung oleh grup-grup sejenisnya. Aku juga mulai mencoba mempraktekkan konsep DIY (do-it-yourself) yang begitu populer di luar negeri. Awal tahun 1997, aku bahkan mentahbiskan diriku sebagai seorang vegan-anarkis-punk.

Di tahun itu juga aku bersama beberapa punk lainnya membentuk Riotic Recs/Distro, karena kami tak melihat ada kemungkinan bagi kami semua untuk dapat memiliki rekaman band-band yang kami sukai apabila kita tak melakukannya sendiri untuk memproduksinya. Lagipula ini didorong karena kami banyak membaca mengenai sejarah perkembangan kultur punk yang kami dapat dari pemanfaatan teknologi internet. Kami juga mulai untuk menyusun media fotokopian kami sendiri, membangun jaringan perkawanan kami sendiri dan mendorong kawan-kawan kami di luar kota untuk melakukan hal yang sama.

Mungkin beberapa dari kami terlalu penuh keingintahuan akan segala sesuatu. Sikap yang membawaku dan beberapa punk lainnya untuk mulai berkenalan dengan PRD dan ideologi komunisme. Didorong juga oleh momen politik yang memang memanas dan ketidakmampuan kami untuk menerapkan konsep-konsep anarkisme yang kami dapat dari internet ke dalam kehidupan harian di Indonesia, khususnya di Bandung. PRD-lah yang mengajarkanku banyak hal tentang arti kapitalisme, mengapa ia menelurkan rasisme, fasisme, kemiskinan dan lain sebagainya; akar-akar masalah yang sesungguhnya juga menerbitkan subkultur punk sebagai anti-tesisnya di Eropa dan Amerika Utara di tahun 1970-an. Aku mulai mengerti mengapa konsep DIY menjadi sangat berpengaruh, dan ia bukan sekadar sebagai sebuah alat eksistensi belaka. DIY adalah sikap politik yang menjadi sangat radikal, terlebih lagi saat segala sesuatu di sekeliling kita mendorong kita untuk mengonsumsi dan terus mengonsusmsi. Aku mulai melihat keterkaitan segala sesuatu yang kulakukan selama bertahun-tahun dengan gaya hidup punk dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Aku mulai mendapatkan mata rantaiku yang hilang.

Ini juga yang mendorongku untuk mulai membentuk sebuah grup musik yang lebih politis, baik dalam lirik maupun dalam sikap hidup kesehariannya. Tahun 1999, Kontaminasi Kapitalis lahir, dan seluruh anggotanya adalah punk-komunis. Kami mulai menyerang kawan-kawan kami sendiri yang menganggap bahwa punk hanyalah sekadar musik yang dapat menghasilkan uang, sebuah komoditi musikal. Membuat garis batas menjadi penting di saat kultur punk mulai sedikit demi sedikit terkomodifikasi. Dalam tahun-tahun tersebut, banyak dari punk di Bandung mulai mentransformasikan kultur ini menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan dari segi ekonomi. Tentu, sikap seperti ini membuat kami mendapat banyak kecaman, cercaan dari kawan-kawan kami sendiri.

Tahun 2001, gitaris kami meninggal dunia karena keingintahuan yang terlalu jauh atas hidup ini, hingga ia mencapai sebuah titik yang tak memiliki kemungkinan untuk kembali. Bertepatan dengan semakin menguatnya dorongan depolitisasi subkultur punk di Bandung (kecuali ideologi nasionalisme dan chauvinisme yang semakin menguat di kalangan subkultur skinhead yang anehnya di Indonesia bergabung bersama punk). Aku telah mengundurkan dari Riotic Recs/Distro semenjak pertama kali aku melihat sebuah gejala komodifikasi di dalamnya di tahun 1999. (toh aku tidak salah, memasuki abad 21, Riotic mulai sepenuhnya bertransformasi menjadi sebuah bisnis korporat). Ditambah dengan meninggalya kawan dekatku karena overdosis, menguatnya depolitisasi radikal yang berbarengan dengan penguatan ideologi yang cenderung fasistik dan gejala komodifikasi kultural yang semakin hari semakin menguat, membuatku memutuskan untuk meninggalkan subkultur ini.

Saat melampaui batas yang ditetapkan pada dirimu bukan oleh dirimu sendiri adalah apa yang diajarkan oleh subkultur punk sejak pertama kali ia lahir, saat kompromisme adalah apa yang dihindari sejauh mungkin oleh para penerus generasi pertama punk yang bertransformasi ke dalam berbagai variannya, saat independensi adalah salah satu poin penting dalam subkultur ini, maka adalah sangat punk bagiku untuk memutuskan untuk tak berafiliasi lagi dengan apa yang disebut punk di tengah kondisi seperti yang kutulis di atas. Saat menjadi punk justru membatasi diriku untuk berafiliasi dengan siapapun di luar subkultur punk, saat menjadi punk adalah menjadi nasionalis banal yang sok merasa diri paling benar dan menafikan dialog, saat menjadi punk adalah berarti menjadi seorang bisnismen yang mampu menjual apapun demi kepentingan dompet sendiri, saat menjadi punk adalah kompromi dengan sistem yang ditentang mati-matian di awal kelahiran punk itu sendiri, saat menjadi punk adalah memapankan budaya feodal yang mengungkung, bagiku adalah punk untuk tidak lagi menjadi seorang punk.

Hidup masih terbentang luas untuk terus dieksplorasi dengan nilai-nilai yang kudapat dari perjalanan hidupku selama aku bergabung dalam komunitas punk lokal, nilai-nilai yang masih menancap dalam diriku dan tak kutemui lagi dalam subkultur punk lokal. Bagi komunitas punk lokal, punk hanyalah fase menjadi anak nakal untuk kemudian menjadi dewasa dan kompromistik saat engkau berusia 25 tahun ke atas. Bagi komunitas punk lokal, punk adalah bagaimana engkau berdandan dan bermain musik keras, serta mendapat banyak uang darinya. Aku memang juga demikian saat pertama kali mengenal punk, tapi kondisi saat itu adalah masa di mana tak ada informasi sama sekali mengenai apa itu punk, kini dengan keberadaan internet, literatur bahasa Indonesia, banyaknya kawan-kawan yang telah lama berkecimpung dalam komunitas punk, semua apologi tentang ketidaktahuan itu menjadi gundukan sampah di hadapanku. Dan maaf, itu bukan jalanku. Aku terlalu bebas untuk dapat diikat dengan satu subkultur.

*

“Kok ngeburn-nya MP3 indiepop semua sih? Eks-vokalis band punk dengernya indiepop? Hihihi,” katamu. Rupanya engkau heran karena aku selalu berteriak gembira saat menemukan folder-folder indiepop MP3 miliknya, bukannya mencari-cari MP3 hardcore punk.

“Temen-temen kamu tuh sekarang bisa pada idup dari jadi punk. Jeruji misalnya. Atau Riotic yang sekarang bisa jadi cukup gede itu. Sayang kamu justru ngejauh dari itu semua, Pam,” ujarmu lagi saat aku tersenyum-senyum begitu kutemukan folder MP3 The Exploited terselip di antara jajaran folder-folder MP3mu yang sekian banyak itu.

“Karena saya dapet banyak hal waktu saya masih jadi punk. Banyak yang saya pelajarin bahwa idup ini memang perlu duit, tapi sekaligus bahwa duit itu bukan apa-apa di idup ini. Banyak hal yang lebih penting daripada sekadar nyari duit. Itu yang saya dapet dari punk.”

“Seperti?”

“Seperti jadi bukan punk. Soalnya sekarang punk artinya tentang gimana kamu bisa dapet duit trus terkenal.”

Sumber: Zine Beyond the Barbed Wire #1 [2005]
Ditik ulang oleh Nibiru Semesta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s