Tiga Alasan Pecinta Hip Hop Lokal Perlu Belajar Pada Wijilan

Oleh Herry Sutresna

Kampung Wijilan, Yogyakarta, menjadi kancah hip hop mengasyikkan berkat kiprah komunitas Hellhouse. Polemik dengan polisi berujung pada dihapusnya atribut Hellhouse, membuat komunitas itu makin penting kita dukung.

Hip Hop lokal, menurut saya, belum pernah semenggairahkan lima tahun belakangan. Tentu ada banyak faktor yang memicunya. Mayoritas mungkin berpatokan pada meroketnya popularitas Rich Brian di kancah musik Amerika Serikat dan Eropa, sebagai alasan utama hip hop lokal terasa menarik. Beberapa rekan lain lebih gembira lantaran geliat generasi baru MC dan beatmaker yang menyeruak berkat karya-karya fenomenal. Bakat-bakat muda ini tak ragu mengangkat sisi estetika dan teknik dari musik dan lirik rap berbahasa lokal ke level selanjutnya.

Ada pula yang beranggapan kancah hip hop jadi menarik, berkat keberhasilan diaspora genre ini mencapai pelosok Indonesia ditopang teknologi informasi. Hip hop bisa kalian temukan di daerah yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya, mulai dari pinggiran Danau Toba, Cirebon, Purwokerto, Banjarmasin, Flores, Ternate, maupun pelosok Papua.

Tapi, menurut saya, setiap penggemar hip hop lokal sebaiknya memalingkan perhatian ke satu lokasi paling panas: Wijilan, Yogyakarta. Bahkan insiden dengan polisi yang terjadi awal bulan ini tak akan menghentikan kiprah pegiat hip hop dari Wijilan.

Sebelum beranjak lebih jauh, perlu saya tekankan kalau Yogyakarta sejak dua dekade lalu sukses memperoleh tempat tersendiri dalam kancah hip hop lokal. Pada periode awal perkembangan hip hop di Indonesia, Yogyakarta memiliki peran yang sama pentingnya dengan kota lain seperti Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya. Unit hip hop legendaris G-Tribe masuk dalam album kompilasi Pesta Rap Vol.1 saat rilis 1993 dengan lirik sepenuhnya berbahasa Jawa.

Kendati begitu, tak bisa dipungkiri bahwa rentang waktu paling menarik dari hip hop di Yogyakarta adalah kurun lima tahun ke belakang. Tepatnya, sejak sebuah kolektif bernama Hellhouse lahir di tengah-tengah tongkrongan malam mingguan di ruas jalan jantung kota Yogyakarta bernama Wijilan.

Hellhouse berawal dari niatan kolektif membuat studio bersama, mengingat sulitnya akses bagi mereka merekam secara mandiri. Seiring waktu, tongkrongan itu menjadi medium bagi mereka merilis dan mendistribusikan album. Hellhouse telah merilis album Begundal Clan, D.P.M.B, dan debut veteran Boyz Got No Brain akhir tahun lalu. Meski begitu, pada dasarnya mereka mempromosikan pula materi lokal yang tidak melulu rilisan dari komunitasnya sendiri. Contohnya debut album Bacil Kill ANTIXUNIX dan single unit hardcore lokal Serigala Malam.

Hellhouse tak sekadar menjadi label rekaman. Komunitas ini menjadi medium bagi anak-anak muda yang mencintai hip hop untuk melakukan kegiatan bersama warga sekitar. Mulai dari menggalang event rap dan graffiti atau apapun yang beririsan dengan aktivitas mereka sebagai sekumpulan warga di satu teritori. Dari mulai “Watchout Dab”, “Angkringan Hip Hop” hingga “Beat Camp”.

Namun, jika harus membuat poin-poin signifikan untuk merangkum alasan, “apa pentingnya Wijilan?”, maka berikut tiga hal terpenting agar semua pegiat hip hop lokal memberi perhatian lebih kepada anak-anak muda yang menjaga api subkultur ini tetap menyala di Yogyakarta.

Wijilan Merevitalisasi Sound Boombap

Alasan pertama karena Hellhouse merupakan salah satu representasi wajah hip hop lokal dalam hal estetika musik yang berakar pada era keemasan rap dekade 90’an. Jika kalian sempat mendengarkan album D.P.M.B, kalian pasti sepakat pada argumen tersebut. Debut album Alex ‘Donnero’ Sinaga dan Heri ‘M2MX’ Wiyoso itu merupakan boombap yang mengandung DNA dari 3rd Bass, Lords of the Underground, Soul Assassin era awal, hingga Beatnutz. Alex dan Heri mengoplos semua pengaruh tadi sangat baik di album debut Re-Attitude, lengkap dengan shout rap yang siap dibawakan anthemic pada setiap panggung mereka dengan energi tinggi.

Jika kalian menyukai D.P.M.B, maka kalian akan menyukai pula Antixunix milik Bacill Kill. Demikian pula Bunga Trotoar Boyz Got No Brain—album yang seakan menjadi perpanjangan tangan apa yang mereka lakukan dengan G-Funk di 90-an. Kapan terakhir kali kalian mendengar lagu rap dengan sample Cheryl Lynn coba?
Atau jika mengikuti mereka di media sosial, kalian tak akan asing dengan salah satu roster Hellhouse, yaitu Mario Zwinkle. Meski Mario belum merilis album penuh, dua single-nya ‘Funk Yeah‘ dan ‘DIYU‘ yang dirilis via youtube, berakar pada Funkdoobiest dan James Brown. Cukup membuat kaum puritan hardfunk penasaran.

Hellhouse sekaligus menjadi rumah bagi salah satu beatmaker terbaik lokal saat ini: Lacos. Bersenjatakan MPC dan Boss SP–nya, ia memproduksi musik bagi beragam rapper; mulai dari roster Hellhouse seperti Optizilla hingga veteran macam Yacko, sekali lagi dengan mahzab sound dari kurun boombap menjadi kiblat tentunya.
Hellhouse adalah Komunitas dalam Arti Sesungguhnya

Ini alasan kedua. Hellhouse lebih dari sekedar musik. Jika kebanyakan ‘komunitas hip hop’ hari ini sinonim dengan sekumpulan orang yang berlokasi berjauhan terhubung oleh internet, Hellhouse merupakan komunitas dalam artian yang paling literal.

Hellhouse adalah tongkrongan di mana para pegiatnya berinteraksi dan bertemu muka hampir setiap hari di satu tempat. Yogyakarta selalu menjadi tempat nomor satu bila bicara soal populasi hiphopheads. Selain faktor kota yang tak begitu besar dan guyub, nampaknya faktor ini pula yang memungkinkan Hellhouse menjadi sebuah sebuah kumpulan intim, sekaligus membuat mereka berhasil mengakar bersama masyarakat sekitar.

Bila kalian selama ini menganggap hip hop adalah musik teralienasi yang hanya hidup di klub-klub, silakan datang ke jalan Wijilan. Mungkin saja kalian sedang beruntung menemukan mereka sedang menggarap gig angkringan, melapak produk mereka, mengajari pemuda lokal teknik graffiti, atau bahkan mengorganisir workshop beat dan rima bagi anak-anak kecil seperti yang mereka lakukan Maret lalu. Yang terakhir saya sebut merupakan sebuah keistimewaan tersendiri, karena di akhir workshop mereka membuat sebuah acara dengan panggung memblokade jalan, lantas membawa anak-anak kecil tadi manggung membawakan materi hasil workshop mereka. Itu semua perlu ditambahkan catatan penting (yang cukup langka hari ini), bahwa Hellhouse melakukan semuanya mandiri. Tak ada sponsor rokok atau keterlibatan korporasi pada prosesnya.

Hellhouse Yakin pada Nilai Emansipatif dan Partisipatif, Sekalipun tak Didukung Aparat

Inilah alasan ketiga, sekaligus yang terakhir. Di Wijilan, kalian dapat melihat manifestasi basa-basi budaya ketimuran yang sudah bertetangga dekat dengan kekonyolan. Dengan komitmen mereka yang tanpa kompromi terhadap anak muda sekitar, nyatanya kiprah Hellhouse tak selalu disambut positif.

Insiden terjadi pada 1 April lalu, ketika Kepolisian Sektor Wijilan mendadak mendatangi markas Hellhouse, menuntut para pegiat hip hop itu menghapus menghapus segala bentuk tulisan “Hellhouse” di Wijilan, baik dalam bentuk graffiti, tagging, atau bahkan stiker di etalase toko mereka. Tekanan polisi terjadi berselang satu hari setelah komunitas ini sukses menggelar acara “It’s Wijilan yang dihadiri lebih dari 1.000 penggemar hip hop seantero Yogyakarta.

Aparat polsek berasumsi nama ‘Hellhouse’ jika diartikan harfiah bermakna negatif terhadap Wijilan. “Mereka beranggapan [Wijilan] ini keraton, tempat berbudaya, begitu ada ‘rumah neraka’, mereka takut itu bisa merusak citranya. Atau merusak moral warganya,” kata Alex Sinaga saat dihubungi terpisah. Bahkan, arisan ibu-ibu setempat turut membahas logo Hellhouse.

Alex, mewakili Hellhouse, lantas diajak dalam rapat bersama pejabat-pejabat di wilayah keraton melibatkan RT, RW, camat, lurah, koramil, satpol PP, serta tentu saja polsek. Keputusan aparat dan para birokrat kadung bulat, semua atribut Hellhouse harus dihapus dari Wijilan.

“Kami keep it low, mengalah,” kata Alex.

Benarkah bila banyak orang hilir mudik di sana bakal tergoyahkan imannya gara-gara masuk rumah neraka pegiat hip hop? Kalau benar, tentu itu mencoreng peradaban manusia timur. Atau lebih tepatnya Yogyakarta. It’s ok tho. Toh faktanya, bagi banyak orang, Hellhouse kadung melekat sebagai nama lokus yang emansipatif dan inspiratif.Seandainya kelak komunitas ini dipaksa ganti nama menjadi “Heavenhouse” sekalipun, tetap tak bisa menghapus kesan positif kami—sebagai sesama pecinta hip hop lokal—terhadap keberhasilan mereka meresureksi frasa LL Cool J tiga dekade lampau: “Rock the Bells, Hard as Hell.”


Herry ‘Ucok’ Sutresna telah dua dekade berkecimpung di komunitas hip hop Bandung. Kini dia aktif mengelola Grimloc Records dan tergabung dalam kolektif hip hop Bars of Death.

 

Sumber: Vice.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s