Mereka yang Menjadi Marjinal

Oleh Raka Ibrahim

Tanyakan kenapa jari tengahnya rusak, ujarnya. Suruh Mike cerita.

Bobby Firman Adam tertawa terbahak-bahak, dan menyeruput kopinya dengan riang. Seorang anak kecil baru saja lolos dari genggamannya, dan berlari masuk ke dalam rumah. Anak itu berteriak meminta izin memainkan djembe yang berdiri di pojok ruangan. Bob menyahut balik, memberi restu asal djembe itu dikembalikan lagi pada tempatnya.

Rumah kecil di gang Setiabudi, Setu Babakan itu memang selalu ramai. Apalagi sore itu, sehari sebelum perayaan hari Kemerdekaan. Kami duduk bersama di teras, selagi anak itu bermain di ruang tamu yang dindingnya ditutupi poster. Saya mengenali beberapa poster tersebut dari aksi-aksi solidaritas dan protes yang ramai beberapa tahun belakangan – mulai dari Samin vs Semen, slogan Anti Korupsi, hingga Tolak Reklamasi.

Mereka menyebut rumah ini Taring Babi. Sejak tahun 2002, Taring Babi menjadi ruang berkreasi bagi Marjinal, salah satu kolektif punk paling kawakan di Indonesia. Hanya saja, mereka bukan band punk yang tipikal. Musik mereka mungkin lebih dekat dengan tradisi folk Leo Kristi dan Benyamin S ketimbang punk ala Sex Pistols dan Exploited. Reputasi mereka pun tidak dibangun di kancah musik independen Jakarta. Marjinal lebih sering tampil di aksi dan demonstrasi ketimbang di konser konvensional. Pada mulanya, nama mereka pun lebih dikenal di kalangan aktivis Reformasi ketimbang di antara para penikmat punk.

Obrolan saya dengan Bob diganggu oleh celoteh singkat itu. Ketika Mike masih ada tadi, saya tidak sadar bahwa jari tengahnya tidak bisa bengkok sebagaimana semestinya. Tawa Bob masih terngiang di kepala saya, bahkan berhari-hari kemudian – tanyakan kenapa jari tengahnya rusak. Suruh dia cerita.

****

Hikayat kita dimulai di Timor Leste, tahun 1975. Ratusan ribu serdadu Indonesia dikirim untuk menginvasi negara yang baru merdeka tersebut. Salah seorang tentara yang berangkat ke sana melewatkan kelahiran anaknya yang keempat. Bayi mungil yang kemudian diberi nama Mikail Israfil.

Bertahun-tahun kemudian, seorang bocah tanggung bernama Bob disuruh keluar dari rumah keluarganya di Cimanggis. Bapaknya beralasan bahwa lingkungan tempat mereka tinggal tak lagi kondusif. Saat itu, 12 teman sepermainan Bob tewas satu per satu karena narkoba. Ia pun tinggal sendiri, selagi melanjutkan pendidikan jenjang D-3. Di tongkrongan kampus ini ia berkenalan dengan Mikail, yang akrab disapa Mike.

“Gue anak kolong [istilah untuk anak tentara – RED] berpangkat rendah, yang secara ekonomi kurang,” kenang Mike. “Gue mau sekolah, tapi gue harus putus sekolah karena tidak bisa bayar SPP 7 bulan. Jadi, gue tumbuh sebagai anak yang penuh rasa marah dan tidak terima.”

Memasuki tahun 1990-an, kemuakan ini mulai menemukan jalan. “Pada masanya,” ucap Mike, “menjadi punk mewakili rasa marah dan tidak terima dari satu generasi.” Namun, kesadaran mereka belum terbangun sempurna. “Ada satu kegelisahan yang tidak bisa diterjemahkan dan dipahami oleh diri kami sendiri, sehingga kami perlu penyaluran,” tutur Mike.

Pada pertengahan dekade 1990-an, aktivis radikal dan mahasiswa makin rajin menggalang gerakan protes terhadap Orde Baru, serta mengadakan kelompok-kelompok studi kecil yang mendiskusikan persoalan sosial-politik. “Jika di kelompok itu ada yang berteman dengan orang di luar negeri, mereka bisa dapat literatur anti-fasis berbahasa Inggris,” kisah Bob. “Kami cari teman, lalu kami paksa dia terjemahin. Akhirnya kami kumpul, bedah bareng, dan kami perbanyak di tukang fotokopi yang kami percayai.”

“Mereka mengundang orang ke lingkaran itu atas dasar kepercayaan,” lanjut Mike. “Kami juga saling pinjam buku yang menurut kami layak dibaca.” Di lingkar kecil ini, buku ‘berbahaya’ seperti Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno, Madilog karya Tan Malaka, hingga Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer disebar secara sembunyi-sembunyi, dan dipinjamkan dalam jangka waktu terbatas.

“Salah satu buku yang paling sering disebarluaskan itu Nyanyian Sunyi Seorang Bisu-nya Pramoedya,” kenang Bob. “Gue enggak pernah tahu pemilik asli buku itu siapa. Dan belum tentu pemiliknya melepas secara ikhlas – mungkin buku itu dicuri, atau ‘lupa’ dikembalikan.”

****

“Rupanya, lingkar diskusi dan buku-buku ini penting untuk mengenali persoalan yang membentuk masa kecil gue,” tutur Mike. “Ternyata tidak ada sesuatu yang tanpa sebab, dan ada alasan di balik semua yang menjadi kemarahan dan kegelisahan kami semua.”

Pencerahan ini membuat Mike bersitegang dengan Ayahnya. “Kami dikasih kebebasan sebagai anak tentara,” kenang Mike, geram. “Sehingga kami bisa petantang-petenteng, tapi secara kehidupan kami tidak ada. Kami tetap diabaikan negara. Kami seperti binatang yang diizinkan untuk mengumbar diri, kemudian harus kembali masuk kandang. Tidak ada kemerdekaan di sana.”

“Gue pun marah dengan apa yang gue lihat,” lanjut Mike. “Gue ditinggalkan oleh orang tua gue bertahun-tahun, bahkan Bokap enggak ada ketika gue lahir karena beliau lagi tugas, tapi kami tetap sengsara. Ini permasalahan yang tidak bisa gue terjemahkan waktu itu. Baru pada akhirnya, gue sadar bahwa ada hak yang diabaikan.”

Mike tampak gusar ketika mengenang perdebatannya dengan almarhum Ayahnya. “Gue bilang, ‘Ayah sudah betul! Ayah sudah bekerja benar sebagai tentara!’” kenangnya. “Tapi bukan berarti Ayah harus otomatis tunduk pada Presiden. Ayah punya hak! Kita boleh bicara soal nasionalisme, tapi kebanggaan tidak semestinya berhenti pada kata iya.”

Percakapan itu meyakinkan keluarga Mike bahwa sikapnya dapat ia pertanggungjawabkan. Pada tahun 1996, ia membentuk band punk bernama Anti-ABRI dengan formasi awal Romi Jahat (vokal), Mike (gitar), Bob (bass), dan Stevie (drum). “Kami biasanya main di truk paling depan, sementara di belakang ada demonstran,” kenang Bob. Jelang dan sesudah Reformasi, mereka aktif dalam jaringan anti-fasis bernama Anti Fascist and Racist Action, atau AFRA.

Menurut Mike, mereka merilis album perdana pada tahun 1997. “Nasib album kami sama dengan buku-buku yang dulu kami ‘pinjam,’” ujar Bob. “Kami kasih master-nya ke teman, kami suruh dia perbanyak sendiri, lalu berpindah dari tangan ke tangan. Terakhir, kami menemukan master tape itu di daerah Blitar!”

Setahun kemudian, Reformasi terjadi. “Sebenarnya, masyarakat Indonesia tidak pernah menciptakan momen,” kritik Mike. “Momen itu diciptakan oleh Orde Baru demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Kita tidak dikonstruksi sebagai masyarakat yang berkesadaran, sehingga apa yang kita anggap sebagai ‘kemerosotan’ pasca 1998 itu sebenarnya konsekuensi logis. Masyarakat akan membunuh dirinya sendiri. Masyarakat akan menggagalkan semangat perubahan yang mereka bangun sendiri.”

Konklusi pahit ini tidak perlu menjadi warisan pamungkas dari Reformasi. “Kita harus akui bahwa kita tidak dibiasakan untuk merdeka sejak dalam pikiran, sehingga pola pikir kita harus diubah. Titik utama untuk membangun kesadaran ada di masyarakat,” ucap Bob. “Kita enggak bisa mengajari masyarakat, kita yang harus belajar bersama mereka. Mereka yang secara sadar mengubah mindset mereka sendiri.”

“Setelah 1998, kuantitas tidak lagi mewakili kualitas,” tutur Mike. “Kalau kita yakin bahwa masyarakat adalah aset perubahan, kita tidak bisa berdiam diri pada idealisme semata. Idealisme itu harus diuji dengan konteks dan realita sosial. Biarkan masyarakat menentukan pilihan mereka sendiri. Biarkan mereka menjadi diri sendiri.”

Pada akhirnya, praktik seperti ini (semestinya) melahirkan solusi yang lebih masuk akal dan kontekstual. “Buat apa kita ribut di sini soal Zapatista?” tanya Mike. “Persoalan petani lo itu sudah jelas ada di Kendeng. Kenapa lo enggak bisa memunculkan teori dan analogi baru yang lebih pas dengan konteks kita, dan mengawali era perubahan yang sudah semestinya?”

“Lo akan jadi seperti punk lokal yang sibuk teriak All Cops are Bastards [semua polisi bajingan – RED] hanya karena punk di luar sana bilang begitu,” ucap Bob. “Padahal, di sini polisi dan tentara juga orang susah kayak lo.”

Berangkat dari kesadaran tersebut, mereka kian berkembang setelah Reformasi. Kelompok tersebut berubah nama menjadi Anti-Military, sebelum mengganti nama lagi menjadi Marjinal pada tahun 2001. Lantas, Mike berganti tugas menjadi vokalis sekaligus gitaris grup tersebut, dan mereka merilis album Marsinah pada tahun 2003, disusul Predator (2005), parTAI Marjinal (2009), dan Kita Perangi Korupsi (2015).

****

Malam jatuh di Gang Setiabudi. Lapangan kecil di sebelah Taring Babi sedang ramai, penuh warga yang bahu membahu memasang dekorasi 17-an. Selusin anak-anak dari rumah tetangga datang berduyun-duyun ke Taring Babi, menginvasi ruang tamu dan menjajal setiap alat musik yang ada di sana. Di teras, Bob menyulut rokok dan tersenyum lebar.

“Sudah di sini sejak kapan, Bang?” tanya saya.

“Sejak 2002 akhir,” balas Bob, santai. “Awalnya kami enggak diterima. Sampai dibikin rapat khusus di Mushola. Bu Haji yang dulu punya rumah ini ditegur, kok bisa sewain kontrakan ke anak-anak seperti kami? Akhirnya kami dikasih kesempatan 3 bulan untuk membuktikan diri. Dari awal anak-anak sudah sepakat, ‘Kita yang harus membaur. Kita yang belajar dari mereka.’”

“Menarik juga,” komentar saya. “Lo bilang kalian yang harus belajar dan membaur. Bukan sebaliknya,”

“Kesadaran memang harus dibangun, termasuk persepsi mereka soal orang-orang kayak kita ini,” balas Bob. “Sesederhana ini deh: orang tua kita tahu kalau kita kayak begini? Mereka sepakat? Lo sempat berdialog atau enggak?”

Ayah Bob seorang guru mengaji. Setelah Bob dikirim pergi dari rumah dan disuruh tinggal sendiri, ia menyambung hidup dengan berjualan buku di daerah Blok M. Sebelum akhirnya, ia banting setir menjadi penjaja kartu ucapan selamat yang ia bikin bersama Mike.

“Gue orang pertama di keluarga gue yang bertato,” kisah Bob. “Untung, orang tua gue enggak kolot-kolot amat. Mereka bisa menyelesaikan masalah dengan dialog. Jadi saat mereka gelisah karena gue bertato dan terlibat di punk, mereka panggil gue ke rumah.”

Kegiatan Marjinal di Taring Babi meluluhkan hati guru mengaji tua itu. “Tempat ini memang selalu terbuka bagi siapa saja,” ucap Bob. “Kita juga membuktikan kalau kita bisa membaur dengan masyarakat. Akhirnya Bokap bilang, ‘Rumah lo keren juga, Bob! Karena semua orang masuk tanpa lihat latar belakangnya apa!’ Beliau jadi tahu kalau di sini, kami sedang berbuat sesuatu.”

Alkisah, keterbukaan Taring Babi menginspirasi ayah Bob mendirikan program pesantren bernama Santri Jalanan. “Yang ikut ngaji sama dia itu dari mulai preman pasar di Cibinong, jagoan di sana, sampai anak punk dan polisi,” kisah Bob dengan bangga. “Preman yang tadinya selesaikan masalah pakai tangan, sekarang cuma pakai omongan. Wah, seru ini!”

“Bokap pernah bilang, ‘Ingat, Bob, hati lo harus selalu terbuka! Lo harus belajar dari semua orang, berteman dengan semua orang. Karena mereka manusia juga, siapapun itu,’” lanjut Bob. “Dan setelah gue lihat ke belakang, gue baru sadar: ternyata Bokap itu dari dulu kalau punya rumah enggak pernah dikasih pagar. Lucu, ya?”

Kami menatap pagar Taring Babi yang terbuka lebar. Dari lapangan sebelah, beberapa orang anak berlarian dengan raut wajah ceria ke teras rumah. Mereka menarik-narik Bob dan kompak memintanya bermain gitar. Lelaki berpenampilan sangar itu tersipu malu. Ia menyuruh mereka masuk duluan, dan berjanji akan menyusul sebentar lagi.

“Almarhum Bokap akhirnya ketemu sama Almarhum Bapaknya Mike, dan mereka jadi teman,” kenang Bob. “Sering ngopi di sini, main catur, sharing sama teman-teman. Kami buktikan juga kalau keluarga yang jalan hidupnya berbeda bisa harmonis. Orang kampung sini saja sempat kaget lihat hal itu,”

Bocah terkecil dari gerombolan itu kembali ke teras dan menarik-narik kerah baju Bob. Ia tertawa, dan masuk ke ruang tamu. Anak-anak itu semua telah mengambil posisi – ada yang duduk bersila dengan tambourine di tangan, ada yang memegang ukulele, sementara kawannya bersandar di dinding dengan djembe diapit kedua kaki. Bob mengambil gitar dan duduk di tengah mereka, berlagak seperti dirigen. “Tanah Airku tidak kulupakan,” ia bernyanyi, disambut koor meriah anak-anak. “Kan terkenang sepanjang hidupku…”

Di luar sana, kembang api pertama Hari Kemerdekaan meledak di udara, dan pikiran saya berpaling pada masa lalu yang tak pernah saya saksikan. Ketika seorang guru mengaji dan tentara duduk bersila di ruang tengah, bermain catur berdua, dan menyeruput kopi dikelilingi poster-poster perlawanan.

****

Kemudian, Mike terdiam dan saya teringat lagi akan seruan Bob. Tanyakan kenapa jari tengahnya rusak. Suruh Mike cerita.

“Jadi,” ucap saya. “Jari tengah lo itu kenapa, bang?”

Ia terkekeh dan menggaruk lehernya. “Kejadiannya tahun 1998,” tuturnya. “Setelah aksi di Komnas HAM, kami diundang main di gigs. Di sana…” ia terdiam lagi, sejenak. “Terjadi suatu tontonan yang bikin gue yakin bahwa militerisme itu bukan soal seragam, tapi soal bagaimana pola pemikiran kita selalu mengedepankan kekerasan dan dominasi.”

“Jadi dulu begini, Ka,” ucapnya. “Kalau lo dan tongkrongan lo ‘memegang’ kekuatan di scene atau venue tertentu, lo boleh bertindak seenaknya. Dan semua orang mengakui itu. Kalau lagi ada acara, mereka bakal pilih satu orang di antara penonton – enggak peduli itu siapa – dan mereka akan pukuli, mereka tendangi orang itu. Hanya agar semua orang tahu siapa yang berkuasa di sana. Kebetulan, hari itu yang ‘kena’ teman kami.”

Saya terdiam. Asap rokok mengepul di udara.

“Ini cermin dari fasisme,” lanjutnya. “Kalau kami diam saja, kami jadi bagian dari fasis itu sendiri.”

“Jadi?”

“Jadi kami gempur mereka, Ka,” balasnya, penuh semangat. Setelah pertarungan heboh di tengah konser tersebut, tangan Mike terluka parah. Ia dilarikan ke klinik, dijahit oleh perawat, dan tangannya dibebat perban. Habis perkara.

“Besoknya, kami diundang aksi di depan Polda, menolak DOM Aceh,” lanjut Mike. “Ketika kami aksi dan duduk di jalan, kami ditangkap. Pasukan yang menjaga kami di sana ada sebagian dari Polda, dan ada juga tentara yang dipanggil dari Aceh untuk dihadapkan dengan kami. Kami menolak mengosongkan area, dan mereka menyerang.”

“Mereka memukuli kami, menendangi kami,” lanjut Mike. “Kami dipaksa masuk mobil tahanan. Salah satu dari mereka melihat tangan ogut dibebat perban. Ogut ingat sekali sampai sekarang – dia tahu ogut terluka. Dia sadar ogut punya luka, dan tangan itu yang sengaja dia injak pakai sepatu lars.”

“Dari situ, gue langsung dilempar ke truk, dimasukkan ke sel, dan ditahan dua hari. Tanpa perawatan apa-apa. Ogutpakai perban yang sama – berdarah-darah.”

Ia bermain-main dengan jari tengahnya. Jika jari itu dibengkokkan secara paksa dengan tangannya yang lain, ia akan bertekuk lutut. Selebihnya, jari itu akan berdiri tegap dan merepotkan pemiliknya. Termasuk sekarang, saat Mike mencoba merogoh korek api.

“Setelah akhirnya lepas dari Polda, ogut ke klinik lagi,” ucap Mike. “Ogut ingat betul, ogut enggak ada duit, tapi ada pager. Karena enggak bisa bayar, ogut masuk klinik dengan ‘jaminan’ pager. Setelah diobati, dijahit lagi, tetap tidak ada perkembangan.”

Mike menyeruput kopinya dan termenung agak lama. Berbulan-bulan setelah kejadian tersebut, ia masih rajin membebat tangannya, mengganti perban tersebut ketika perlu. “Gue masih percaya bahwa tangan gue sedang dalam proses penyembuhan,” tuturnya. Selama itu pula, ia berhenti bermain gitar. Jari tengahnya tak bisa bergerak sama sekali, dan terus berdiri seperti tentara sedang memberi hormat.

Kisah ini berakhir bahagia. Syahdan, di lingkungan tempatnya tinggal, terdapat seorang teman yang “terbiasa hidup dalam kesialan.” Si Sial ini sejatinya adalah gitaris jagoan, namun ia menyambung hidup sebagai buruh di percetakan. Suatu ketika, jari telunjuk lelaki malang ini terpotong satu ruas akibat kecelakaan di kantor. Si Sial membebat jemarinya yang tumpul dengan kain, lantas menyambangi tongkrongan Marjinal seperti biasa.

“Kami tanya, ‘kenapa jari lo diperban?’” kisah Mike. “Dan dia dengan entengnya bilang, ‘Jari gue kepotong.’ Busyet!” Lebih brengseknya lagi, Si Sial ini hanya tertawa terbahak-bahak, lantas mengambil gitar dan bernyanyi.

“Itu yang memotivasi gue,” kenang Mike. “Oke, gue coba lagi. Gue lanjutkan hidup gue. Gue main gitar lagi. Akhirnya, keterusan sampai sekarang.”

Saya tersenyum, dan menyeruput sisa teh sampai tandas. Mike terkekeh dan mengintip jam di ponselnya. Sudah lewat jam 2 siang – sebelum wawancara, ia berujar bahwa ia janji akan ke empang untuk mengajar anak-anak di sana. Mike mengangguk perlahan, seolah mengingatkan saya.

“Tuhan memang punya selera humor yang bagus,” tutupnya,. “Pas nyanyi gue harus bilang persetan ke seluruh dunia. Padahal, kan bisa saja jari telunjuk atau kelingking gue yang rusak?”

Mike menyalakan satu batang rokok pamungkas, dan mengakhiri wawancara kami. Ia berpura-pura mengecek jam, tersenyum lebar, lantas berangkat dengan jari tengah mengacung ke udara. (*)

 

Sumber: Jurnal Ruang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s