Menakar Resistensi Kultural Dalam Musik

Oleh Idhar Resmadi

Sekitar dua tahun lalu, sebuah konser bertajuk Brutalize in Darkness yang diselenggarakan di Bogor, Jawa Barat, sempat jadi buah bibir di media sosial. Acara yang diorganisir oleh Ki Gendeng Pamungkas ini diramaikan oleh band-band Metal yang sudah tidak asing lagi, seperti band Black Metal asal Norwegia, Gorgoroth, dan band Death Metal asal Belanda, Disavowed. Jagoan-jagoan lokal yang kerap tampil di kancah Metal dalam negeri seperti Burgerkill, Down For Life, hingga Dajjal pun turut meramaikan helatan tersebut.

Namun, kontroversi dimulai ketika Ki Gendeng Pamungkas tiba-tiba mengeluarkan pernyataan bernada rasis terhadap etnis Tionghoa. Politikus sekaligus paranormal itu dianggap menyebarkan hasutan dan kebencian. Imbasnya, Burgerkill dan Down For Life mundur dari acara tersebut. Bahkan, Burgerkill menulis pernyataan melalui akun Twitter resmi mereka: “Maaf kami tidak bisa ikut dengan pergerakan anti-ras tertentu. Metal yang kami percaya adalah musik yang tidak peduli ras dan latar belakang penggemarnya”. Sedangkan dalam akun Twitter-nya, band Down For Life menulis: “Kami memutuskan MUNDUR dari acara Brutalize in The Darkness di Bogor tanggal 10 Mei 2015 sampai ada klarifikasi dari panitia tentang propaganda rasisme”.

Dalam kasus ini, Pamungkas memakai musik Metal untuk menyuarakan ideologi nasionalisnya – walau tentu saja nasionalis salah kaprah – dan menyebar kebencian terhadap etnis tertentu yang menurutnya mengancam “Pribumi”. Upaya yang dilakukan oleh Ki Gendeng Pamungkas mengingatkan saya bahwa musik tak pernah sekadar menjadi komoditas ekonomi. Sepanjang perjalanannya, musik telah menjadi arena pertarungan atau kontestasi dalam bentuk politik dan ideologi. Sebagai medium kebudayaan yang populer dan memiliki daya tarik luar biasa, mustahil untuk tidak melihat potensi ini di musik.

Di Indonesia, seruan yang menautkan sentimen etnis dengan agama memang bukan hal baru. Sebelum insiden Pamungkas, pada tahun 2010 lalu muncul komunitas Metal Satu Jari yang dikomandoi oleh Ombat, vokalis dari grup Tengkorak. Komunitas ini membaurkan simbol-simbol agama ke dalam praktik musik Metal – misalnya, tanda devil horns yang diganti dengan lambang salam satu jari (dianggap merepresentasikan ke-Esaan Tuhan), serta lirik-lirik yang bernafaskan semangat Anti-Zionisme.

Akhirnya, pertanyaan lebih jauh kemudian muncul. Kenapa musik memiliki kaitan erat dengan ideologi, dan justru menjadi roda fasisme baru lewat sentimen berbau agama dan suku/etnis?

Beberapa tahun terakhir, musik selalu hadir sebagai suatu arena kontestasi ideologi yang diskursif, dan mulai rajin menyentuh isu-isu agama, etnis, dan spiritualitas – terutama di kancah musik Metal dan Punk. Kita bisa melihat bagaimana perkembangan atau dinamika musik lokal melahirkan praktik-praktik estetika yang bersifat hibrid. Mulai dari Metal Kasundaan, Punk Islam, Black Metal Kejawen, Hip Hop Jawa, hingga Metal Islam.

Di satu sisi, kita bisa memandang ini sebagai bentuk eksplorasi atau inovasi musikal. Namun, di sisi lain kita bisa melihat hal ini sebagai resistensi identitas yang justru meruncingkan semangat chauvinisme dan kebencian terhadap suku atau etnis tertentu.

Dalam konteks budaya populer, hal-hal yang bersifat hibrida seperti ini memang tidak aneh, terutama setelah kita memasuki era globalisasi yang justru berdampak pada terjadinya penyeragaman budaya. Malah, proses-proses diskursif inilah yang mendefinisikan identitas sebagai sesuatu yang cair, dinamis, dan tidak pernah ajeg.

Deleuze dan Guattari melihat kebudayaan sebagai rhizome, yang di dalamnya setiap unsur berhubungan – berinteraksi, berdialog, bersintesis, dan berkontestasi satu dengan yang lainnya. Budaya yang terbangun berdasarkan prinsip ini adalah budaya yang tidak berhenti menghubungkan rantai semiotik, tanda, simbol, makna, pengetahuan, dan kode-kode budayanya dengan kebudayan lain, dalam rangka menciptakan makna, pengetahuan, dan relasi sosial yang baru. Singkat kata, ia adalah kebudayaan yang tidak pernah berhenti berproses.

Oleh karena itu, tidak mengejutkan bahwa musik Metal – sebagai bentuk kebudayaan – terbentuk dari berbagai kontestasi yang terjadi di masyarakat yang melahirkannya, termasuk persoalan etnis dan agama. Jika konteks lokal ditelaah lebih jauh, sejarah musik Metal di Indonesia tentu berkelindan erat dengan kapitalisme global yang hadir di Indonesia, dan merekonstruksi gaya hidup dan nilai anak muda yang tumbuh besar mendengarkan musik Metal. Dengan memandang musik sebagai bentuk budaya, maka musik populer sesungguhnya bisa berfungsi sebagai media untuk membangun makna, dan karena itulah ia menjadi medan pertarungan hegemoni dan resistensi (Ibrahim, 2011: 49).

Resistensi Kultural

Resistensi kultural adalah kesadaran dan kemampuan individu untuk mengartikulasikan makna-makna alternatif terhadap konstruksi kelompok dominan. Resistensi ini juga menekankan kekuatan wacana dan simbol untuk mengorganisir dan mengaktifkan identitas kolektif, dan mewujud melalui jalan perubahan performatif seperti teater protes, lagu-lagu perlawanan, dan tarian perlawanan. (Boal, 1985, 1998; Chaterjee, 204, Hashmi, 2007, dalam Ibrahim, 2011: 47) Perlawanan beragam rupa ini tidak pernah jauh dari gagasan tentang kekuasaan, ketidakadilan, dan perubahan sosial.

Tentu, kita perlu membedakan musik dari ranah populer dan industri yang cenderung berorientasi pasar dan diproduksi massal, dengan musik subkultural yang lebih ‘bawah tanah’, resisten dan ideologis. Dalam musik independen di ranah subkultur, resistensi kultural berujung pada perlawanan terhadap institusi kekuasaan yang mapan dan dominan di masyarakat – yaitu negara, agama, dan kapitalisme global. Musik subkultural kemudian memosisikan diri sebagai subordinat yang ‘melawan’ kemapanan tersebut melalui beragam makna, simbol, dan tanda sebagai bentuk ekspresinya. Punk dan Hardcore, misalnya, muncul sebagai katarsis bagi para pemuda galau yang resah dengan kebijakan negara di Amerika Serikat dan Inggris yang neo-liberal dan meminggirkan kelas pekerja.

Selain negara dan kapitalisme global, resistensi kultural yang terjadi di musik juga memunculkan relasi berbeda antara musik subkultural dengan wacana agama. Musik Black Metal di Norwegia, misalnya, muncul sebagai bentuk resistensi terhadap kemapanan wacana agama Kristen. Tak hanya melalui lirik dan musik, perlawanan kancah Black Metal mewujud dalam tindakan nyata seperti pembakaran gereja-gereja yang menyebabkan ditangkapnya Varg Vikernes, vokalis grup Black Metal legendaris Burzum. Maka, musik muncul sebagai salah satu wadah untuk kontestasi dan komodifikasi ideologi.

Alasan untuk munculnya kantung-kantung kecil perlawanan ini sebetulnya sederhana. Ketika negara, agama, dan kapitalisme global yang masuk melalui budaya populer dianggap tidak memuaskan lagi oleh penikmat musik, mereka mencari simbol dan tatanan nilai baru melalui bentuk kebudayaan yang lebih hibrid. Hibriditas ini pun tidak mentok pada eksplorasi di ranah musikal, namun juga merambah ke tataran nilai dan simbol.

Menalar dan Menakar Indonesia

Persoalan serupa terjadi pula di Indonesia. Penikmatan mereka terhadap musik Metal – yang tentu saja adalah produk ‘Barat’ – berjalan seiring dengan ketidakpuasan mereka terhadap nilai-nilai yang dibawa oleh budaya Barat. Kemunculan praktik musik yang hibrid seperti Metal Islam, Black Metal Kejawen, Metal Sunda dan kawan-kawannya lahir dari kegamangan ini. Musik Metal yang dibawa oleh kapitalisme global dinilai tak ‘berbicara’ pada identitas mereka, dan tak mampu memberi pemaknaan yang memuaskan terhadap identitas serta kehidupan mereka sehari-hari.

Resistensi pun muncul, musik Metal dimodifikasi, dan mereka mulai mencari sesuatu yang bisa dijadikan “pegangan” nilai berikutnya. Yang jadi menarik adalah, sekalipun mereka telah menemukan pegangan nilai baru, mereka tetap mengekspresikan nilai-nilai tersebut melalui musik Metal.

Telaah terhadap hal-hal yang berbau etnik dan tradisional, misalnya, bisa kita baca sebagai resistensi yang lahir dari ketidakpuasan terhadap “homogenisasi” budaya yang dibawa oleh kapitalisme global. Sedangkan, simbol-simbol agama digunakan oleh komunitas Metal Satu Jari untuk melawan wacana Zionisme dan Kapitalisme yang – menurut hemat mereka – banyak merusak akhlak dan moral anak muda di Indonesia. Wacana ini mereka lawan dengan nilai-nilai Islam yang mereka syi’arkan (lagi-lagi) melalui musik Metal.

Merujuk pada pernyataan Mark Levine dalam buku Heavy Metal Islam (2008), pengalaman umat Islam saat ini terkait erat dengan kulturalisasi politik dan ekonomi sebagai momen yang menegaskan terjadinya globalisasi. Umat Islam saat ini melihat kehadiran globalisasi – atau dalam konteks ini, “Westernisasi” – dalam bidang politik, ekonomi, gaya hidup, dan budaya sebagai bentuk ghazwul fikri atau perang pemikiran. Di Indonesia, komunitas Islam di Indonesia mendapuk wacana abstrak “Westernisasi” sebagai musuh bersama yang patut diruntuhkan. Menariknya, wacana Barat ini justru mereka lawan dengan simbol kultural Metal, yang masuk ke Indonesia gara-gara “Westernisasi” itu sendiri.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa gerakan ini paradoksikal. Namun, di sisi lain, kita tak bisa menyangkal bahwa mereka mulai menemukan momentum dan mengakar di kalangan anak muda. Terlepas dari mundurnya Down for Life dan Burgerkill – dua nama besar di kancah Metal – dari konser Brutalize in Darkness, faktanya konser tersebut tetap berlangsung, dan Disavowed, legenda Death Metal dari Belanda, tetap datang dan tampil. Penonton pun didominasi oleh anak muda, yang entah tidak peduli, tidak tahu, atau – dan ini skenario terburuk – justru mengamini sentimen rasis yang digaungkan oleh Ki Gendeng Pamungkas. Upaya melakukan wacana tandingan pun dilakukan Wendi Putranto, seorang jurnalis musik, dengan membuat gelaran bertajuk “Metal Untuk Semua”. Gerakan ini seolah berusaha ‘menandingi’ wacana komunitas Metal Satu Jari, yang dinilai berpotensi memunculkan kembali sentimen fasisme.

Pada praktiknya, di tengah era globalisasi di mana sistem nilai menjadi beragam, selalu akan terjadi pertarungan atau kontestasi ideologi yang menjadikan musik sebagai kendaraan. Walau hanya terjadi di komunitas-komunitas yang terbilang ‘kecil’ dan tidak masuk radar arus utama, sejatinya perlawanan yang mewujud melalui Metal Satu Jari, Brutalize in Darkness, hingga Black Metal Kejawen adalah gejala sekaligus cermin dari perubahan lebih besar yang terjadi di masyarakat. Bahwa kita adalah bangsa yang tengah gamang – mengelu-elukan sekaligus mempersoalkan perubahan kultural yang seolah-olah terus ‘menyerang’ identitas budaya, agama, dan negara kita.

 


Tentang Penulis

Idhar Resmadi adalah dosen dan penulis. Bisa dikunjungi di alamat: www.idhar-resmadi.net

 


Bacaan

Pilliang, Yasraf Amir. 2011. “Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan.” Penerbit Matahari: Bandung

Ibrahim, Idy Subandi. 2011. “Aku Bernyanyi Menjadi Saksi: Hidup, Gitar, dan Perlawanan dalam Balada Musik Iwan Fals.” Penerbit Fiskontak: Bandung dan Jakarta

http://inpasonline.com/new/respon-umat-islam-terhadap-globalisasi/

http://www.punkjews.com/

https://tirto.id/ki-gendeng-dan-rasialisme-di-kancah-musik-metal-indonesia-couf

https://ruang.gramedia.com/read/1496924812-the-taqwacores-dan-islam-yang-resah

 

Sumber: Ruang Gramedia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s