Moderasi Islam dalam Musik Metal

Oleh Putrawan Yuliandri

Membincang Islam dalam beragam artefak kebudayaan populer Indonesia kontemporer (termasuk di dalamnya musik metal) merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan. Selain karena faktor mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim (Maarif dikutip dalam Wahid, 2009: 7). Dinamika politik di masa akhir rezim Orde Baru yang membangun hubungan mesra dengan Islam menentukan perkembangan politik Islam selanjutnya, baik di masa awal pasca Orde Baru – hingga saat ini (Heryanto, 2012: 19). Hasilnya adalah peningkatan politik Islami di kalangan masyarakat Indonesia yang terus-menerus menguat. Hal ini ditandai dengan maraknya simbol-simbol Islam di ruang publik, penerapan hukum Syariah di beberapa daerah dan peningkatan gaya hidup Islami dikalangan masyarakat muda perkotaan (Heryanto, 2015).

Dalam konteks yang lebih luas, realita ini membingkai narasi besar kebangkitan Islam (Islamisasi) di Indonesia, atau bahkan sebuah kondisi atau proyek post-Islamisme (Bayat, 2002 dikutip dalam Heryanto, 2015). Gejala ini dapat dilihat melalui praktik Islamisasi yang lebih luwes dalam ranah kebudayaan populer. Seperti misalnya, banyaknya kaum muda perkotaan yang ingin tetap menikmati selera kebudayaan dan kemerdekaan terhadap modernitas, tanpa mengorbankan keimanannya atau status identitasnya sebagai pemeluk Islam (Heryanto, 2015: 53).

Konser musik metal sebagai proyek Islamisasi

Minggu 30 Oktober 2016 di Bulungan Outdoor, tempat yang tidak asing bagi penikmat musik metal atau metalhead untuk melakukan ritus kulturalnya yakni, menonton konser. Bagi seorang metalheadseperti saya, Kawasan Bulungan Jakarta Selatan menjadi semacam simbol para metalhead Jakarta merebut ruang publik sekaligus menunjukkan eksistensinya. Menjelang tengah malam, saya menyaksikan penyerahan donasi uang sebesar Rp. 54.361.000,- untuk korban perang saudara di Suriah. Rencananya, dana tersebut akan digunakan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), sebuah organisasi kemanusiaan di bidang medis, untuk membeli sebuah unit mobil ambulans, melalui program MER-C “Ambulance(s) and Medical Aid for Syria”. Hadir di atas panggung adalah Husein Alatas (runner up Indonesian Idol 2014 sekaligus vokalis Children of Gaza) yang secara simbolik menyerahkan baki berisi uang kepada Ir. Faried Thalib (Presidium MER-C) dan Ir. Idrus M. Alatas (Ketua Divisi Konstruksi MER-C)[1].

Penyerahan dana dari hasil penjualan tiket dan lelang merchandiseband ini merupakan susunan acara terakhir dari konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria” yang diprakarsai oleh Metalheads Respect. Metalheads Respect adalah sebuah simpul kolektif dari para grup musik metal yang secara sukarela mengadakan konser amal untuk menghimpun dana. Mengusung slogan “dari metalheads, oleh metalheads untuk kemanusiaan”, konser-konser ini diadakan sebagai bentuk solidaritas komunitas metal terhadap beragam musibah yang terjadi di dunia dan Indonesia.

Ketika saya mewawancarai Mehdy, vokalis Melody Maker dan pengisi acara tersebut, ia menyatakan:

“Acara ini adalah murni salah satu bentuk aksi peduli kemanusiaan dari anak-anak metal kepada korban perang saudara di Suriah. Suriah adalah negara Muslim, saudara kita yang sedang dalam musibah. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak turun tangan membantu mereka. Sama seperti beberapa event charity sebelumnya untuk Palestina dan Rohingya[2].”

Saya tertegun dan cukup takjub mendengar pernyataan Mehdy yang memiliki empati luar biasa terhadap saudara Muslim di Suriah. Dalam benak saya kemudian, walaupun dibalut dengan aksi kemanusiaan, narasi kontemporer kebudayaan populer seperti ini setidaknya membingkai diskursus antara musik metal dan wacana kebangkitan Islam (Islamic Revivalism).

Meskipun bukan hal baru, preseden lain yang serupa namun bernuansa kental dengan praktik idoleogisasi Islam dalam musik metal telah terjadi sebelumnya pada awal 2010 lalu melalui beberapa momentum. Momentum pertama, melalui konser yang bertajuk Urban Garage Festival I. Acara konser musik yang diselenggarakan pada Maret 2010 di Rossi Music Center Fatmawati Jakarta Selatan ini menjadi penanda kemunculan gerakan politik kebudayaan Islam yang muncul dalam ranah musik metal.

Salah satu musisi metal senior yang menggaungkan gerakan baru ini adalah Ombat, vokalis dari kelompok musik metal Tengkorak. Dalam konser tersebut, ia mengumandangkan pergantian simbol metal yang tadinya berbentuk ‘kepala kambing’ atau biasa disebut baphomet[3], dengan salam tauhid satu jari yang berarti ikrar untuk mempercayai bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Esa. Menurut Ombat:

“Tidak ada patokan dalam simbol-simbol budaya metal. Simbol metal yang selama ini lekat dengan representasi kepala kambing (baphomet) merupakan simbol setan atau simbol yang digunakan oleh kaum Satanis (penyembah setan). Kita sebagai umat Islam tentu saja berperang dengan setan, makanya kita menggunakan simbol Tauhid. Kita tidak mau dijajah oleh budaya Barat melalui musik metal. Makanya, dengan budaya mereka kita menyerang balik. Kita ubah lirik lagu kita,  perilaku kita, kita jalanin juga agama kita”[4].

Melalui momentum tersebut, Ombat dan Tengkorak menyatakan dimulainya gerakan “Salam Satu Jari.”

Momentum kedua adalah acara lanjutan Urban Garage Festival II yang diadakan di lapangan basket SMA Yayasan Pendidikan Islam 45 di bilangan Bekasi, pada tanggal 16 Oktober 2010. Di sela-sela konser, para pengisi acara dan penonton shalat Isya berjamaah langsung di lapangan tersebut, bukan di Mushalla atau Masjid yang berada di lokasi konser. Grup musik yang tampil dalam acara ini serupa seperti kelompok musik yang tampil pada Urban Garage  Festival I. Yakni, grup musik metal yang memegang ideologi Islam, seperti Tengkorak, Purgatory, Children of Gaza, The Roots of Madinah, Qishash, Melody Maker dan lain sebagainya. Patut dicatat bahwa hasil penjualan tiket dari kedua konser ini didonasikan untuk membantu umat Muslim korban perang di Palestina.

Momentum selanjutnya yang tidak kalah penting, terjadi pada tanggal 25 Juli 2012. Salah satu grup musik kenamaan dalam kancah metal, Purgatory, memprakarsai konser yang bertajuk Approach Deen Avoid Sins I (ADAS I)[5]. Konser Approach Deen Avoid Sins I atau Dekati Agama Jauhi Dosa I dirancang sebagai sebuah ikhtiar restorasi keislaman dan syiar di kalangan metalheads. Dalam konser ini, Purgatory juga menyerukan untuk kembali ke “titik nol”, yaitu sebuah upaya sekaligus semangat untuk memulai dari awal gerakan perubahan budaya musik metal yang jauh dari nilai-nilai Islam dan mengembalikan Islam sebagai satu-satunya cara hidup.

Sekilas, suasana dalam tiga konser itu (Urban Garage Festival I, II dan ADAS I) tak jauh beda dengan konser metal pada umumnya: dipadati oleh metalheads berbaju hitam, berambut gondrong dan diringi dengan gemuruh musik. Namun, beberapa hal yang membedakan ialah adanya peraturan yang melarang para metalhead untuk mabuk-mabukan dan melakukan “tindakan pornoaksi” di lokasi konser. Selain itu, grup musik metal yang tampil tidak diizinkan untuk membawakan tema-tema lagu dan orasi yang bersifat atheis, bertentangan dengan nilai agama, berpotensi memecah-belah, mencemooh agama lain, dan mempromosikan paham-paham liberal, sekuler, dan lain sebagainya. Tradisi baru yang marak pada ketiga konser tersebut adalah adanya orasi kegamaan (Islam) dari grup musik yang tampil, dan sekali-sekali diselingi oleh pekikan takbir para metalhead.

Mengapa Konser?

Secara global, tradisi penyalahgunaan narkoba dan minuman keras di kalangan penonton maupun kelompok musik metal menjadi ritus yang tidak dapat dilepaskan dari peristiwa konser musik metal. Praktik subkultural adalah bentuk dari ekspresi akan kebebasan dan keluarnya para partisipan dari penindasan budaya dominan (Arnett, 1995). Selain itu, hal-hal dengan kecenderungan ‘negatif’ yang kerap diperlihatkan oleh budaya musik metal, merupakan gambaran psikologi sosial terhadap budaya kaum muda baik itu musisi ataupun penikmat musik metal (metalheads). Pada awal kemunculannya, tak dapat dipungkiri bahwa anak muda yang terlibat dalam kancah musik metal memiliki hasrat akan sensasi yang tinggi dan kehendak melakukan hal-hal yang baru, termasuk menyalahgunakan narkoba dan minum-minuman keras (Arnett, 1996: 80).

Kontras terhadap tradisi kultural yang dipraktikkan secara global, band seperti Purgatory dan Tengkorak ‘meminjam’ idiom kultural musik metal serta konser untuk menyebarluaskan syiar Islam. Walaupun terkesan paradoks, praktik apropriasi seni ini berhasil memantik perdebatan di ranah metal Indonesia. Kecendrungan paradoksikal ini dapat dilihat dari narasi ambivalen yang saya uraikan di atas. Para metalheads Satu Jari dengan senang hati menjadikan musik metal sebagai ‘kendaraan’ untuk berdakwah. Di sisi lain, mereka menolak elemen-elemen ekstra-musikal yang melekat dengan subkultur metal, yang dinilai tidak sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai agama Islam.

Dalam konteks kekinian, konsistensi syiar tetap tercermin pada salah satu grup musik metal, Purgatory. Selain terus terlibat dalam konser musik yang bertema Islam, mereka juga menginisiasi tradisi baru dalam praktik subkultural musik metal: membuat kelompok-kelompok diskusi dan kajian agama Islam. Walaupun diskusi ini dibuka untuk umum, mereka yang hadir dalam diskusi ini kebanyakan adalah MOGERZ, singkatan dari Messenger of God Lovers or Followers, julukan untuk fans Purgatory dan siapapun yang mengidentifikasi dirinya sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan data terakhir yang diakses melalui fanpage atau grup publik di laman Purgatory’s Official Group of Mogerz, pengajian sekaligus fansclub ini telah memiliki 10.545 anggota[6].

Penutup: Genre Baru – Metal Islam

Wacana penggabungan metal dan Islam (Metal Islam) yang digaungkan oleh grup musik Purgatory, Tengkorak, Melody Maker dan lain sebagainya dapat dilihat sebagai respon dan resistensi mereka terhadap hegemoni Barat. Hegemoni praktik kebudayaan Barat yang umumnya bercorak sekuler menjadi tantangan tersendiri tak hanya bagi pelaku subkultur metal Islam, namun juga bagi umat Islam secara umum.

Persoalan ini terangkum dalam pertanyaan klasik identitas Islam saat ini, yakni tantangan Islam dalam menghadapi modernitas. Islam dinilai harus selalu mawas diri terhadap berbagai dinamika dan perubahan sosio-kultural. Mengutip pemikiran Nurcholis Madjid, Islam adalah agama yang mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Islam memberi peluang bagi berlangsungnya perubahan dalam orientasi keagamaan dan kulturalnya, seperti tanggapannya terhadap tantangan waktu dan tempat, dan adaptasinya terhadap lingkungan temporal dan spasial yang berbeda beda (Madjid dikutip dalam Woodward, 1999: 105).

Gagasan Nurcholis Madjid merujuk pada salah satu surat dalam AlQuran (QS 2:62) yang menyatakan bahwa, “Kami tidak pernah mengutus seorang Utusan pun kecuali (untuk memberi pelajarandengan bahasa kaumnya, agar ia dapat membuat (segala sesuatunyajelas bagi mereka”.

Kemudian Nurcholis Madjid juga mengutip penafsiran Yusuf Ali dalam “The Holy Quran” atas ayat ini, berikut kutipannya:

Jika Pesan Suci (Risallah) adalah membuat sesuatu menjadi terang, maka ia harus disampaikan dalam bahasa yang digunakan di tengah masyarakat, yang kepada merekalah utusan itu dikirim. Melalui masyarakat tersebut, Pesan Suci itu dapat mencapai seluruh umat manusia. Bahkan ada pengertian yang lebih luas untuk ‘bahasa’. Ia tidak semata-mata masalah abjad, huruf, atau kata-kata. Setiap zaman atau masyarakat – atau dunia dalam pengertian psikologis – membentuk jalan pikirannya dalam cetakan atau bentuk tertentu. Pesan Suci Tuhan, karena bersifat universal, dapat diungkapkan dalam semua cetakan dan bentuk, dan sama-sama absah dan diperlukan untuk semua tingkatan manusia, dan karena itu harus diterangkan kepada masing-masing sesuai dengan kemampuannya atau daya penerimaannya. Dalam hal ini, Al-Quran menakjubkan. Ia sekaligus untuk orang yang paling sederhana dan untuk orang yang paling maju (Ali dikutip dalam Woodward, 1999: 106).

Keluwesan dan sifat universal AlQuran ini menjadikannya dinilai mampu beradaptasi dengan lingkungan kultural manapun – termasuk subkultur metal. Praksis musik metal Islam ini dinilai berhasil manakala banyak anak muda di subkultur metal merasa tergugah untuk kembali pada nilai-nilai Islam, tanpa berusaha keluar dari jalur musiknya.

Meski kondisi ini jelas paradoks, sentimen para metalheads Satu Jari tak jauh beda dengan pemikiran Madjid: ‘meminjam’ simbol-simbol budaya metal demi syiar Islam adalah praktik yang diperbolehkan, karena Islam sendiri dipandang sebagai agama yang universal dan mampu beradaptasi. Namun, mengutip Gellner (1981), upaya modernisasi Islam ini “harus berlangsung tanpa merusak keaslian dan otentisitasnya sebagai agama wahyu.”

Praktik pencipataan wacana Islam melalui musik metal yang dilakukan oleh kelompok Metal Satu Jari telah menjadi jalan para penikmat musik metal secara umum dalam membentuk identitas individualnya maupun identitas kolektifnya. Budaya populer – dalam hal ini musik metal – menjadi jalan para metalheads lokal untuk menemukan kembali nilai-nilai agama.

Terlepas dari soal apakah Metal Satu Jari berpotensi menjadi hegemoni baru di ranah musik metal Indonesia, metal Islam sebagai produk moderasi dapat dimaknai sebagai perkembangan genre baru dalam musik metal lokal.

 


Tentang Penulis

*Putrawan Yuliandri adalah lulusan Pascasarjana Fakultas Komunikasi UI. Pernah menjadi musisi metal bersama band Disagree. Memiliki minat yang tinggi pada kajian mengenai musik metal dan subkultur. Saat ini sedang menyelesaikan proyek buku mengenai musik metal dan Islam.

 


Catatan Kaki

[1] MER-C menjadi satu-satunya lembaga nirlaba penyalur dana sumbangan pada konser “Peduli Damai dan Anti Perang: Solidarity for Syria”. Selain pada konser ini, MER-C juga pernah ikut menyalurkan dana sumbangan pada konser sebelumnya yaitu untuk membantu korban di Gaza Palsetina. Ulasan lengkap dapat dilihat melalui tautan dari laman : http://www.merc.org/index.php/Id/component/k2/item/791-dari-para-pecinta-musik-metal-untuk-suriah(diakses pada 27/05/2017)

[2] Kutipan ini adalah hasil obrolan saya di lokasi konser dengan Mehdy vokalis Melody Maker dan dilanjutkan dengan wawancara informal melalui email pada 24/11/2016

[3] Perdebatan mengenai simbol Baphomet (kepala kambing) sebagai simbol metal masih terus berlangsung, benang merah yang dapat ditarik mengenai sisi historisitas simbol ini, merujuk pada film dokumenter karya Samuel Dunn, Scot McFayden & Jessica Joy Wise (2005), yang berhasil mewawancarai Ronnie James Dio. Dio digadang-gadang sebagi orang yang menemukan dan mempopulerkan simbol Baphomet, sebagai sebuah simbol dari budaya metal. Dalam wawancara tersebut, Dio menjelaskan bahwa, simbol Baphomet atau tanduk kambing ini memiliki arti khusus yang diberikan oleh neneknya yang berasal dari Italy, sebagai sebuah simbol pertahanan diri dari niat jahat seseorang, kemudian simbol ini dipopulerkan Dio ketika konser-konser dihadapan para metalheads, hingga akhirnya diikuti olehmetalheads sebagai sebuah simbol metal. Kemudian, kontroversi mengenai simbol ini berlanjut, ketika simbol ini digunakan juga oleh Anton Szandor LaVey, seorang tokoh pendiri gereja setan (Church of Satan), sebagai tanda salam ketika menyembah Lucifer (iblis tertinggi), untuk lebih jelas mengenai Church Of Satan dapat dilihat pada situs: http://www.churchofsatan.com/pages/BaphometSigil.html (diakses pada 3/5/2016)

[4] Pernyataan ini adalah wawancara mendalam saya dengan Muhamad Hariadi Nasution atau yang akrab disapa Ombat pada 17 November 2012. Selain menjadi vokalis Tengkorak, Ombat juga disibukan dengan profesinya sebagai pengacara, wawancara ini pun dilakukan di kantor pengacara Ombat di Pesanggarahan Jakarta Selatan.

[5] Lihat ulasan lengkap mengenai konser Approach Deen Avoid Sins 1 versi Republika Online melalui situs:http://aqse2.blogspot.co.id/2010/08/republika-deen-avoid-sins.html diakses pada tanggal 3 Mei 2016

[6] diakses melalui laman fanpage Purgatory di facebook https://www.facebook.com/groups/78955924242/?fref=ts pada bulan Juni 2016

 


Daftar Pustaka

Gellner, Ernest. 1981. “Muslim Society.” Cambridge: Cambridge University Press.

Heryanto, Ariel (ed.). 2012. “Budaya Populer di Indonesia: Mencairnya Identitas Pasca Orde Baru.” Yogyakarta: Jalasutra

Heryanto, Ariel. 2015. “Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia.” Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.

Wahid, Abdurrachman (ed.). 2009. “Ilusi Negara IslamEkspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia.” Jakarta: The Wahid Institute

Wenstein, Deena. 2000. “Heavy MetalThe Music and Its Subcultures.” Cambridge: Da Capo Press.

Woodward, Mark R. Ed. 1999. “Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia” (Terjemahan Ihsan Ali Fauzi). Bandung: Mizan

Arnett, Jensen, Jeffrey. 1996. “Metalheads: Heavy Metal Music And Adolescent Alienation.” Boulder: West View Press

Sumber: Ruang Gramedia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s