Nada Perlawanan Filastine & Nova

Ada satu permintaan khusus dari panitia ketika Filastine & Nova tampil di Calais Jungle, salah satu kamp pengungsian terbesar di Eropa. “Panitia bilang, penonton sangat ingin kami memulai konser tepat waktu,” tutur Grey Filastine. “Rupanya, setelah konser usai para penonton yang juga pengungsi ingin menghabiskan malam itu memanjat pagar perbatasan dan mencari tumpangan di truk atau kereta api.”

“Kami melempar £00T, uang masa depan yang kami ciptakan sendiri, di penutupan setiap konser,” ungkap Grey. Namun, melempar uang kertas palsu di ruangan sempit penuh pengungsi perang rupanya bukan ide bagus. Dua musisi yang tampil di kelompok tersebut nyaris sesak nafas diinjak-injak oleh massa. Ketika THUMP menemui Grey pada tahun 2016, ia berseloroh tanpa bermaksud sarkas: “Sebenarnya, penonton konser malam itu sempurna.”
Pada tahun 2009, Grey – seorang aktivis dan produser asal Amerika Serikat – bertemu dengan Nova Ruth, rapper sekaligus pemilik kedai kopi asal Malang, Jawa Timur. Sejak mulai berkolaborasi, duet lintas benua ini telah memainkan musik elektronik nan rancak tentang penambang sulfur di Kawah Ijen, tur keliling Indonesia dengan perahu pinisi, tampil di desa pesisir dan perumahan kumuh di lima benua, dan menyanyikan ulang salah satu lagu paling terlarang di Indonesia. Mereka dipuji Pitchfork sebagai “musik yang lain dunia”, dan digadang-gadang SPIN sebagai “musik latar keruntuhan peradaban urban.”

Melalui surel, kami mengobrol dengan Grey (G) dan Nova (N) tentang aktivisme radikal, Peristiwa 1965, dan konser mereka yang ‘dibubarkan’ oleh arwah penasaran.

Dalam sebuah wawancara, anda [Grey] berkata, “Saya bukan musisi yang menjadi radikal, melainkan seorang radikal yang menggunakan musik untuk mengekspresikan diri.” Seperti apa latar belakang kalian berdua, dan keterlibatan kalian pada isu sosial dan aktivisme?

G: Keterlibatan pertama saya ada di isu kehutanan. Saya terlibat di kelompok bernama Earth First! yang mengokupasi hutan-hutan kuno, agar tidak dibabat. Kemudian, saya mendirikan Infernal Noise Brigade – sebuah marching band yang dibentuk untuk mengiringi protes alter-globalisasi di awal tahun 2000-an. Selama ini saya tertarik pada isu-isu lingkungan, dan beberapa kali melakukan intervensi dengan medium bunyi di Konferensi Perubahan Iklim yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Belakangan, saya mulai lebih fokus pada isu migrasi. Saat ini saya tinggal di Eropa Selatan, dan isu tersebut mulai menjadi genting.

N: Kakek saya dulunya tentara. Tapi, ketika saya tumbuh besar, beliau sudah tidak bekerja lagi. Ia menderita diabetes dan akhirnya buta. Kakek saya terkenal anti korupsi, maka dari itu ia disingkirkan dan jabatannya baru dinaikkan ketika ia sudah meninggal. Maka, saya baru mengenal cara untuk bersikap lebih kritis ketika saya berusia 19 tahun. Sebelumnya, saya secara tidak sengaja saja dilengkapi dengan pengetahuan isu sosial ketika mendengarkan musik yang dimainkan Bapak saya – baik bersama Elpamas maupun bersama Iwan Fals, Kantata Takwa, dan Sirkus Barock.

Ketika saya mendirikan band Twin Sista, saya otomatis menulis lirik yang mengandung muatan isu sosial dan lingkungan. Untungnya, keluarga saya tidak hanya dari keluarga militer saja. Keluarga bapak saya, Toto Tewel, adalah keluarga Kristen yang sangat menyukai musik. Sebelum Kakek saya (dari sisi Bapak) menjadi pendeta, ia dulunya pemain biola di grup Orkes Melayu.

Apa yang mendorong kalian untuk bereksperimen dengan bunyi untuk aktivisme?

G: Tanpa gerakan sosial, tidak ada perubahan positif yang akan terjadi di dunia. Tapi, apa yang membuat orang tergerak untuk bergabung dengan gerakan? Tidak ada yang tertarik pada aktivisme hanya karena ia membaca buku teori membosankan dari Karl Marx atau Michel Foucault. Biasanya, orang terinspirasi oleh lagu, oleh film, oleh performans, atau novel tertentu. Budaya populer semacam inilah yang menjadi bibit-bibit awal kesadaran politik. Sedikit banyak, saya ingin musik dan performans kami menjadi salah satu bibit tersebut.

Musik adalah bahasa yang lebih tua dari kata-kata. Menurut saya, musik lebih bisa bermain dari sisi emosional ketimbang dari sisi intelektual. Pemikiran ini penting didedah lebih lanjut oleh produser seperti saya. Kami mengambil keputusan politis ketika kami memilih bagaimana metode kami memproduksi lagu, siapa yang kami ajak berkolaborasi, dan bagaimana cara kami membagikan musik kami di luar kanal-kanal yang mapan.

 

Pada tahun 2012, kalian merekam ulang lagu Gendjer-Gendjer. Mengapa kalian memilih lagu ini? Terutama mengingat latar belakang keluarga anda [Nova]?

N: Saya langsung merinding saat mendengarkan Lilis Suryani menyanyikannya. Ketika saya pindah ke Yogyakarta, informasi tentang Peristiwa 1965 semakin keras. Pada waktu bersamaan, saya mulai bertanya-tanya ke Ibu saya, apakah ia ingat kejadian tersebut walau saat itu ia masih berumur 6 tahun? Rupanya, beliau sangat ingat bagaimana tegangnya suasana di tahun 1965. Pada kenyataannya, semua orang dan keluarganya menjadi korban dari Peristiwa ini – baik mereka yang dituduh Komunis, para seniman, maupun pihak militer. Setiap malam, keluarga kami [militer] pun diancam oleh pihak-pihak tertentu yang ‘ingin membalas dendam’ soal 1965.

Namun, bukan berarti negara ini lepas dari kesalahan. Kejadian tersebut adalah tanggung jawab bersama. Dan menyanyikan lagi Gendjer-Gendjer adalah salah satu bentuk tanggung jawab. Jika kita sebangsa tidak berani mengakui kesalahan, kemakmuran dan kemajuan akan semakin sulit kita capai.

Anda sempat menuliskan pengalaman anda tampil di salah satu venue, di mana ‘arwah’ para tahanan politik mengganggu performans kalian saat kalian memainkan Gendjer-Gendjer.

N: Oh iya. Mau tidak mau, percaya tidak percaya, hampir semua dari kita orang Indonesia percaya pada keberadaan hal-hal yang bersifat metafisik. Di kampung tempat kami tampil itu, semua warga tahu bahwa di lingkungan mereka terdapat kuburan massal bagi korban pembantaian yang dituduh PKI. Maka, warga pun percaya bahwa arwah penasaran para korban masih ‘terperangkap’ di desa mereka.

Saya akui saya memang bebal. Juru kunci dari kuburan tersebut melarang saya untuk menyanyikan Gendjer-Gendjer, tapi tetap saya nyanyikan dengan dalih bahwa saya tidak berniat jahat. Ketika saya mulai bernyanyi, lampu seluruh desa langsung padam. Generator untuk berjaga-jaga jika listrik padam pun tidak bisa dinyalakan. Suasana sempat cukup mencekam.

Penduduk desa menyuruh kami berpegangan tangan supaya tidak ada yang menjadi sasaran kemarahan arwah penasaran. Baru setelah sekitar setengah jam, lampu menyala lagi. Saya lekas dipanggil juru kunci untuk menyiapkan sesajen. Kata arwah-arwah tersebut, mereka cukup tersinggung, ‘Kenapa ada pesta, namun mereka tidak diundang?’ Sejak kejadian tersebut, akhirnya saya berteman dengan salah satu petani anggur yang tinggal di dekat kuburan massal, dan saya beberapa kali datang lagi ke sana.

Apakah menurut anda, Indonesia telah berusaha menghadapi masa lalunya dengan lebih baik?

N: Ada contoh yang bisa kita ambil dari Australia. Sejak tahun 1998, setiap tanggal 26 Mei mereka memperingati National Sorry Day atau Hari Permintaan Maaf Nasional. Hari ini diperingati sebagai permohonan maaf negara – dan secara simbolik, rakyat Australia – pada perlakuan buruk terhadap suku bangsa Aborigin oleh imigran kulit putih. Namun, kenyataannya hingga kini pemerintah mereka malah membuat rangkaian kebijakan tentang imigran yang sangat tidak progresif. Tidak ada perubahan yang mengakar dari pemerintah.

Jadi, mungkin pernyataan maaf dari ‘pemerintah’ tak akan otomatis jadi solusi bagi segala kesalahan yang kita lakukan dari masa lalu. Namun, permintaan maaf bisa menjadi awal yang baik bila diteruskan dengan terwujudnya pemerintahan yang memang adil dan bijaksana. Ruang rekonsiliasi independen seperti yang dilakukan kelompok Taman 65 di Bali, misalnya, adalah contoh yang baik. Di sana, baik keluarga militer maupun korban tertuduh Komunis bekerjasama dalam proyek-proyek seni dan budaya.

Salah satu proyek terbaru kalian adalah serial ABANDON, yang berbicara tentang “pembebasan dari pekerjaan hina.” Bagaimana pengaruh latar belakang kalian sendiri dalam produksi serial tersebut?

G: Ketika masih tinggal di Amerika Serikat, saya menjadi sopir taksi selama hampir 10 tahun. Pengalaman itu sangat mengubah pemahaman saya tentang kemanusiaan, dan karya yang saya hasilkan. Tapi, khusus serial ABANDON, saya terinspirasi dari beberapa pekerjaan ‘hina’ yang pernah saya lakukan.

Pekerjaan pertama saya adalah di gerai ayam goreng fast food di sebuah pusat perbelanjaan di Oklahoma, Amerika Serikat. Pemilik gerai itu adalah korporasi dengan nilai-nilai Fundamentalis Kristen yang sangat ketat, dan mereka mengancam akan memecat siapapun yang tak selalu tersenyum bagi pembeli. Pekerjaan saya yang paling buruk adalah di sebuah tempat live peepshow [tempat di mana pelanggan bisa mengintip orang lain berhubungan seks – Red] bernama The Lusty Lady. Tempat itu sangat mencurigakan, tak ada jendela, dan lampunya merah menyala. Tugas saya adalah membersihkan sisa-sisa sperma yang ditinggalkan pelanggan setelah mereka merancap.

Pengalaman-pengalaman seperti ini yang menjadi latar belakang ABANDON. Pekerjaan yang merendahkan diri anda, dan sebenarnya juga tidak baik bagi lingkungan hidup. Pekerjaan yang sepenuhnya bersifat transaksi – karena anda tak mungkin mengambil pekerjaan semacam itu secara sukarela. Mereka murni membeli waktu hidup anda dengan uang.

 

Anda memilih empat profesi sebagai subyek – ada alasan khusus di balik pemilihan tersebut?

G: Kami merasa perlu membuat karya yang berbicara tentang ekstraksi bahan bakar fosil, jadi kami memilih The Miner [Sang Penambang – Red] sebagai serial pertama. Nova dan saya sama-sama terobsesi dengan isu ini, karena banyak orang di Indonesia tidak paham betapa parahnya penambangan batubara di pulau Kalimantan.

Setelah itu, kami memilih The Cleaner [Sang Pembantu – Red] untuk mengkritik pekerjaan yang bias gender dan tidak manusiawi. Kami banyak merenung tentang awal mula era Internet sebelum memproduksi lagu The Salarymen [Sang Pekerja Kantoran – Red]. Mendadak, kita semua seharian mendekam di depan layar komputer – entah apa yang kita lakukan sebelum tahun 1990-an akhir. Saya ingat masa-masa di mana para pekerja diharuskan menggunakan seluruh tubuh, tidak hanya jemari dan mata untuk mengetik.

Kemudian, The Chatarreros [julukan untuk pemulung besi bekas di Spanyol – Red] adalah cara kami untuk berbicara tentang ekonomi di Eropa Selatan yang mulai kolaps, pilihan-pilihan hidup yang mulai hilang bagi migran dari Afrika, dan pengaruh satu pekerjaan pada lingkungan.

Apa rencana kalian di tahun 2017? Ada tempat yang masih ingin dikunjungi untuk konser?

G: Ini tahun yang penting bagi kami. Kami akan merilis album baru (Drapetomania) dan performans baru, jadi sepanjang tahun ini kami akan tur untuk berbagi dengan sebanyak mungkin orang. Salah satu tempat yang belum pernah kami sambangi adalah Amerika Latin, jadi ini target kami tahun depan. Kami ingin mampir dan tampil di Meksiko, Kolombia, Cile, dan Brazil, misalnya. Nova mulai fasih berbahasa Spanyol, jadi mungkin sekarang tur ini lebih mudah kami wujudkan.

Mungkin ini pertanyaan yang terlalu sederhana. Tapi, apakah menurut kalian tak ada harapan lagi bagi kemanusiaan dan sebaiknya kita menunggu mati saja?

G: Justru, ini salah satu pertanyaan paling kompleks yang bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri. Pertama-tama, abaikan fakta bahwa dalam beberapa juta tahun dari sekarang, matahari akan memuai dan membakar Bumi. Jutaan tahun dari sekarang, manusia mungkin sudah berevolusi menjadi spesies yang berbeda, atau sudah bermigrasi dari bumi. Kemungkinan ini terlalu jauh dan tak terlalu relevan. Mari bicara tentang ratusan, dan ribuan tahun ke depan.

Kita spesies yang tangguh, jadi kita takkan binasa sepenuhnya. Tapi, mungkin kita terkutuk untuk menghabisi semua spesies liar lain dan tinggal di dunia yang penuh dengan polusi dan sampah manusia. Saya tidak mau tinggal di dunia seperti itu. Saya juga tak mau terus melangkah di jalur yang akan membuat kita mewariskan dunia semacam itu pada generasi-generasi berikutnya. Bisa dibilang, ini motivasi yang kuat untuk menciptakan karya seni dan mendorong munculnya jalur berbeda. Persoalannya, setiap hari kita tinggal di dunia yang semakin padat dan lelah secara ekologis. Jadi, mudah sekali bagi kita untuk berpulang lagi pada tribalisme, nasionalisme dan sentimen agama yang ekstrim.

Anggap saja ini The Trump Effect – sekarang, semua orang bertarung untuk kepentingan individu, suku, kepercayaan, atau rasnya sendiri, bukannya memperjuangkan sesuatu yang penting bagi semua orang di bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s