Mantra Senyawa

oleh Irene Sarwindaningrum

Di perjalanan melintasi Sumatera Selatan, menembus hutan karet yang seolah tak bertepi, mendekati tengah malam, sang sopir yang awalnya sudah terkantuk-kantuk mendadak terbelalak mendengar suara yang keluar dari speaker somber mobilnya.

“Ya Allah, siapo lah nyanyi lagu ma’i ni?” serunya terbangun dari kantuknya.

Saya tertawa di sampingnya. “Senyawa Pak, ini Senyawa,” saya jawab sambil menurunkan volume.

Itu beberapa tahun lalu, saat Senyawa menemani perjalanan pulang di larut malam melintasi kegelapan jalan lintas tengah di Sumatera Selatan. Malam Jumat, Kamis (22/12), akhirnya saya bisa menonton mereka langsung di Jakarta.

Lagu yang dikeluhkan pak sopir Mulyadi, Abu judulnya. Alunannya menyayat setengah mistis karena menceritakan orang yang gugur dalam perang. Lagu-lagu lainnya di album Tanah + Air itu menghentak dan menjerit, cukup ampuh membuat Pak Mulyadi tak sempat ngantuk lagi.

Tak banyak kata-kata di lagu-lagu Senyawa. Bahkan ada yang tanpa kata sama sekali. Rully Shabara, sang vokalis, lebih banyak berteriak atau menggumam atau mendehemkan atau menggeram chant yang berakar pada tradisi berbagai daerah di Nusantara.

Chant, sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Tapi bangsa ini kaya akan chant. “cak cak” yang mengiringi tari Kecak dari Bali, misalnya, atau seruan Suku Dayak atau Papua yang bikin merinding.

Mari menyebutnya mantra.

Ya, musik Senyawa adalah musik mantra. Alat musik pengiring vokal Rully pun tak kalah ajaib. Wukir Suryadi, satu-satunya pemusik di Senyawa, menciptakan alat-alat musiknya sendiri. Yang paling klasik adalah alat petik dari seruas utuh batang bambu.

Malam Jumat di Gedung Kesenian Jakarta itu, Wukir mengenalkan alat bersenar dari garu, alat penggaruk padi. Tampilannya lumayan dahsyat, seperti mahkluk canggung dari era dinosaurus dari zaman Trias sampai Kretasius yang tiba-tiba dikirim ke masa depan ke panggung berbalut sinar lampu sorot dan laser proyektor.

Mahkluk itu dipetik, ditarik dan dibetot dan digesek. Mungkin garu, si bakal mahkluk, itu dipinjam dari pak tani di desa di Bantul atau Kulon Progo. Juga sothil, alias spatula khas desa, jadi alat musik semacam ukulele. Si sothil dipetik, dibetot, dan digaruk-garuk. Mungkin si sothil dicomot dari pawon ibu-ibu yang bisa jadi puyeng sothilnya hilang.

Konser Tanah + Air di malam Jumat di Gedung Kesenian Jakarta itu ditemani aroma harum kayu cendana di seantero ruangan. Di antara jeda pertunjukan, diputar lagu anak-anak “Mari Menanam Jagung” yang sepertinya direkam di tahun 1970-an.

Pertunjukan Senyawa ini terbilang langka. Dua orang yang bersenyawa di Jogja itu justru jarang manggung di tanah air. Mereka lebih sering ke luar negeri, dari Amerika Serikat, Eropa dan Australia. Baru-baru ini mereka luncurkan album terbaru di Denmark.

Selama 3,5 jam, 400-an penonton dihentak musik mantra Senyawa. Ada beberapa yang tertidur . Mungkin mereka lelah. Maklumlah, sebagian penonton adalah karyawan yang harus menerobos macet Jakarta yang brutal di tengah pekan sepulang kerja, ditambah efek hipnotis alunan mantra yang statis, pendek dan berulang.

Rully dan Wukir sendiri, tampaknya, di ujung penampilan, mencapai trance (bukan kesurupan) di panggung, terhubung dengan alam bawah sadar, larut dalam alam semesta raya. Rully menari seperti pemain reog tapi bercelana jins ketat, bersepatu bot dan bertelanjang dada. Perutnya berhias tato besar “Father”. Wukir berguling-guling di panggung sambil memeluk sothilnya dengan rambut panjang yang awut-awutan.

Dalam matakuliah akustik diajarkan bagaimana efek frekuensi suara pada otak manusia. Mantra, seperti “cak cak” mengantar orang pada kondisi trance. Lalu “ohm” dari Tibet, India, Nepal, Bhutan dan sekitarnya yang membuat otak dalam kondisi tenang dan rileks. Penelitian neurosains dan frekuensi di ilmu akustik ini juga menjelaskan kenapa derit pintu yang dibuka perlahan membawa efek horor. Ini bukan jopa-japu.

Setiap daerah, tiap kultur, punya musik-musik mantra, chant-chant mereka sendiri. Chant Indian dan Aborigin sudah banyak direkam dalam album musik. Inilah ekspresi manusia paling purba untuk berhubungan dengan alam di luar dirinya sendiri, atau justru masuk dalam perjalanan ke dirinya sendiri.

Nusantara kaya-raya dengan khasanah mantra dan chant ini. Di sastra, puisi mantra bisa ditemukan dalam karya Sutarji Calzoum Bachri di era 1970-1980-an. Puisi Tarji kala itu, betul-betul mantra dalam bentuk teks.

Dalam kemininan kata, musik mantra meletakkan bebunyian dan suara dalam hakikatnya yang paling jujur. Ekspresi. Rasa. Emosi.

Di lidah peradaban yang kian lihai zaman ini, begitu mudah kata-kata digunakan mengkhianati kejujuran. Padahal, kata-kata adalah kemuliaan peradaban manusia. Tanpa kata-kata, pengetahuan tak bisa diturunkan ke generasi selanjutnya. Peradaban kita akan tak lebih dari peradaban kucing atau gajah. Meski kadang-kadang terpikir, justru lebih baik seperti itu.

Kini, kata-kata digelincirkan dari kemuliaannya, dipakai berdusta, merekayasa, komunikasi politik taikucing, dan senjata — termenyemenye dengan semua kelebihannya yang menjadi kekurangannya.

Mantra tak akan bisa digunakan seperti itu. Dalam kesederhanaan bunyinya, mantra tak bisa merangkai kebohongan. Dalam kebebasannya dari belenggu makna, mantra tak bisa merangkai basa-basi.

Zaman makin tak terbiasa dengan kejujuran seperti mantra. Maka di era berjubal kata-kata ini, banyak orang tak lagi paham atau tak mau paham mantra. Mungkin kejujuran jadi terlalu menakutkan. Mungkin kejujuran terlalu sulit dipahami. Mungkin, bagi peradaban yang ketagihan basa-basi ini, kejujuran menjadi terlalu kasar didengar. (Ice breaker baby, ice breaker! Begitu anak-anak sekarang memulai percakapan)

Toh, apa gunanya belajar jujur di zaman serba tak jujur. Belajar bohong atau basa-basi lebih penting untuk berlangsungnya penghidupan.

Hampir tanpa kata, musik mantra Senyawa dengan jujur menyampaikan amarah, duka, pengharapan, atau kutukan pada teror dan kekacauan. Penonton mengernyit, terpukau, terhipnotis, atau merinding di kursinya. Abu, termasuk salah satu yang dimainkan paling akhir.

Sayang, mereka tak bisa berjingkrak ikut trance. Tata ruang sarat kursi terpasang permanen memaksa penonton yang didominasi anak-anak muda bertato itu duduk manis.

Usai pertunjukan, malam sudah mencapai puncaknya. Mantra yang dingin tanpa rasa bergumam dari kendaraan yang masih saja ramai di jalanan metropolitan.

 

Sumber: Serunai.co

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s