Gairah Hip Hop di Indonesia

Oleh Andi Baso Djaya

Pernyataan di atas menyembur dari mulut Doyz, salah satu rapper veteran lokal yang bersama Erik Probz mendirikan Black Kumuh, sempat memperkuat P-Squad, dan telah merilis dua album solo.

Kancah hip hop di tanah air saat ini memang (kembali) ramai. Young Lex (24) dan Rich Chigga (17) adalah dua di antaranya yang ikut bertanggung jawab membuat publik menoleh kembali ke arah scene hip hop lokal. Kiprah mereka banyak mendapat sorotan dari media massa.

Para penggemar musik seolah tersadarkan betapa ranah hip hop tanah air sesungguhnya terus eksis, heterogen, dan tidak statis. Kemunculan rapper baru menghasilkan beragam karya dengan caranya masing-masing tidak pernah sepi.

Laze yang pernah bersama Young Lex dalam Zero One, salah satu komunitas hip hop besar di Jakarta, menyadari ombak hip hop di Indonesia sekarang sedang besar.

“Kelas menengah atas lagi membicarakan Rich Chigga dengan karakternya. Role model kelas menengah ke bawah ada Young Lex. Gue tinggal ambil papan seluncur untuk menunggangi ombak itu,” kata rapper yang aslinya bernama Havie Parkasya.

Senada dengan Laze, Ferri Yuniardo, salah satu personel Sweet Martabak sekaligus pendiri situs web hiphopindo.net, menyebut kedua rapper itu memang berasal dari kutub berbeda.

Brian Imanuel alias Rich Chigga murni mewakili generasi milenial. Segala sesuatu dikerjakannya sendiri tanpa pernah melibatkan diri dengan komunitas.

“Hidupnya di internet. Kenal teman-temannya juga dari internet. Ibaratnya bukan kenal orang dari hasil nongkrong seperti kami dulu,” kata Ferri.

Berbeda dengan Young Lex. Pemilik nama asli Samuel Alexander Pieter itu merupakan gambaran generasi kiwari, tapi masih sempat bersentuhan dengan komunitas.

“Young Lex ini ada di tengah sebenarnya. Dia milenial, tapi dari komunitas juga,” tambah Ferri.

Kesamaan antara mereka adalah keberhasilan memanfaatkan medium internet sebagai kendaraan untuk menciptakan basis massa dan popularitas.

Rich Chigga (17) memulai semuanya dengan menerbitkan aneka video komedi melalui Twitter dan aplikasi Vine. Bungsu dari empat bersaudara ini baru serius menjadi rapper mulai 2014. Beberapa lirik lagu coba diciptakannya berbekal hasil belajar secara otodidak. Lagi-lagi melalui internet.

Usahanya mulai berbuah saat video klip lagu “Dat $tick” mengumpulkan lebih dari 27 juta views (hingga 2/12/2016) sejak hadir di YouTube pada 22 Februari 2016.

Pencapaian tersebut membuat sejumlah media arus utama dalam dan luar negeri seperti Time dan Vice seketika melirik dan berebut memuat profil Rich Chigga.

Bahkan rapper sekelas Ghostface Killah (46) dari grup kenamaan Wu-Tang Clan dan Kevin Pouya asal Miami, AS, ikut ambil bagian dalam versi remix lagu tersebut. Karya terbaru yang dirilis Rich Chigga adalah single “Who That Be” (29/11).

Young Lex (24) secara cerdik mengolah –bahkan menciptakan– berbagai kontroversi yang viral di internet sebagai amunisi. Mengajak selebgram Karin Novilda alias Awkarin yang sebelumnya banyak mendapat sorotan adalah bentuk ikhtiar tersebut.

“Itu bagian dari strategi agar musik rap meluas,” ungkapnya kepada Heru Triyono dan Yandi Mohammad dari Beritagar.id (14/10).

Selanjutnya ia menyebut, “Iwa K dianggap legend karena terkenal duluan, tetapi bukan karena kemampuannya. Iwa K populer di sini karena di luar negeri hip hop sedang booming.”

Kontan pernyataan tersebut jadi pembahasan ramai di media sosial. Hip hop lokal yang selama ini tidak entertainment friendly, menyitir pernyataan JFlow, kemudian hadir menghiasi acara gosip di berbagai stasiun televisi.

Fenomena di atas hanya gambaran kecil dari dinamika hip hop di Indonesia. Ada beragam kisah lainnya. Laporan khas kali ini mencoba menyajikan beberapa di antaranya.

“Kutukan” untuk Iwa K

Repro foto Iwa K di majalah Trax (2007)
Repro foto Iwa K di majalah Trax (2007) © Agan Harahap /Majalah Trax edisi November 2007


Menyebut hip hop lokal tanpa menyertakan Iwa K rasanya kurang sahih. Sejak pertama kali hadir mengisi bagian rap dalam mini album kelompok Guest Music bertajuk Ta’kan (1990), pemilik nama lengkap Iwa Kusuma yang kini genap berusia 46 tetap konsisten berada di jalur rap hingga sekarang.

Pun demikian, Iwa selalu menampik berbagai julukan prestisius yang diberikan kepadanya, mulai dari sebutan legenda, pionir, pelopor, hingga bapak rapper Indonesia.

“Buat gue gelar-gelar kayak gitu biasa saja. Orang mau menyebut apa sih terserah. Itu ekspresi mereka. Kalau memang mau mendefinisikan, gue itu murni penikmat musik. Kebetulan lewat musik rap. Sudah begitu saja. Makanya, kalau gue lihat ada rapper bagus, gue ikut senang,” tegas Iwa.

Muncul di Bronx, kawasan kumuh di bagian selatan New York, Amerika Serikat, sejak medio dekade 70-an, hip hop baru masuk ke Indonesia satu dekade kemudian.

Kemunculannya pun pada saat itu datang secara bertahap. Baik Iwa, Doyz, dan Herry Sutresna alias Ucok (ex-Homicide) mengaku berkenalan dengan breakdance terlebih dahulu.

Tari kejang alias breakdance merupakan salah satu unsur dalam dunia hip hop selain DJ (disc jockey), MC (master of ceremony), dan grafiti. Sepanjang dasawarsa 80-an, demam menari ala robot atau orang kesetrum itu mewabah di kalangan remaja Indonesia.

Film yang menangkap fenomena tersebut juga laris diproduksi. Sebutlah misalnya Tari Kejang Muda-Mudi, Demam Tari, hingga Gejolak Kawula Muda.

“Hampir semua teman sekelas dan se-RT saya nge-breakdance, kecuali saya karena memang tidak bisa. Saya hanya menyukai musiknya yang merupakan musik prototipe hip hop,” jelas Ucok kepada Beritagar.id melalui surat elektronik.

Beda cerita dengan Iwa K. Dalam wawancaranya yang termuat dalam majalah Trax edisi November 2007 (hal. 30), ia mengaku sangat menyukai breakdance bahkan menggelutinya dan mulai nge-rap untuk mengiringi teman-temannya menari.

Singkat cerita, Iwa kemudian makin serius menggeluti musik rap (saat itu istilah hip hop belum dikenal di Indonesia). Pada 1993, dibantu Guest Music Production, ia merilis album solo perdana, Kuingin Kembali, yang diedarkan Musica Studio’s.

Tak disangka, penjualannya menembus angka 100.000 keping. Padahal genre ini masih terbilang baru di dunia musik Tanah Air yang didominasi pop dan rock.

Gebrakan Iwa tersebut membuat majalah Rolling Stone Indonesia mereken Kuingin Kembali sebagai salah satu dari “150 Album Indonesia Terbaik”.

Album keduaTopeng dengan single “Bebas”, laris 260 ribu keping, semakin meroketkan nama Iwa K.

Oleh majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2009, “Bebas” ditempatkan pada peringkat 36 dalam daftar “150 Lagu Indonesia Terbaik”.

Selepas itu, Iwa menelurkan empat album lagi, termasuk Living in the Fastlane (2014) yang berisi enam lagu alias mini album.

Perihal namanya yang selalu hadir jika pembicaraan mengarah pada tumbuh kembang hip hop di tanah air, Iwa K menyebutnya sebagai kutukan. Dengan tulus ayah Mikala Saka Pandhiya Hamada (7) itu mengatakan bahwa rap bukan hanya dirinya.

Album Pesta Rap

Setelah Iwa K melejit dengan dua album awalnya, Guest Music Production tidak berhenti mencari talenta rapper baru. Pasalnya, menurut Masaru Riupassa dari Guest Music, dengan kondisi pasar yang sudah mulai terbuka untuk rap, sangat disayangkan jika hanya Iwa yang berkibar.

“Akhirnya Guest Music bikin semacam festival rap, kerjasama dengan majalah Kawanku. Dari situ dapatlah nama-nama baru seperti Sweet Martabak, Black Skin, Black Kumuh, Yacko, Boyz Got No Brain, Paper Clip, Sound Da Clan, dan lainnya yang kita keluarin dalam album kompilasi Pesta Rap,” cerita Macang, sapaan akrab Masaru.

Bagian pertama album Pesta Rap meluncur 1995. Terpilih sebagai lagu jagoan kala itu adalah “Cewek Matre” dari Black Skin. Dibandingkan dua album solo awal Iwa K, kompilasi perdana Pesta Rap dari segi penjualan mencatat kenaikan karena laku 270 ribu keping.

Pesta Rap 2 menyusul setahun kemudian dan berakhir pada Pesta Rap 3 (1997).

Kehadiran trilogi album Pesta Rap memberikan pilihan lebih luas kepada khalayak yang sebelumnya melulu terpaku Iwa K.

Bak mendapat angin, berbagai rilisan album kompilasi rap (juga solo MC/grup) kemudian hadir setelah itu. Bersamaan dengan mulai menggeliatnya kancah musik sidestream, beberapa album juga beredar dengan pola distribusi independen.

Untuk menyebutkan beberapa dari album kompilasi tersebut, antara lain Berontak dan Berontak Kembali (Rontak Production), Perang Rap (Pasukan Record), Provocateur (Hiphopindo), Rapteritorial (Musica Studio’s), Rapvolusi (Alfa Records), serta dua seri album Poetry Battle (Jogja Hip Hop Foundation).

Salah kaprah tentang hiphopindo.net

Rap makin berkembang di Indonesia. Namun, tak seperti di negara asalnya, AS, belum ada media yang khusus membahas tentang genre musik tersebut. Hingga lahirnya hiphopindo.net.

Beritagar.id bertemu dengan John Norman Parapat dan Ferri Yuniardo, motor penggerak utama situs web tersebut, di kompleks La Codefin, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (24/11).

Mereka adalah eksponen saat hip hop mulai merebak di seluruh Indonesia pada pertengahan dekade 90-an. Melalui kelompok Sweet Martabak, John dan Ferri mengisi album Pesta Rap 2 bermodalkan lagu “Metropolitan”.

Nama duo asal Pekanbaru ini baru benar-benar terangkat setelah “Tididit” terpilih menjadi lagu jagoan untuk Pesta Rap 3.

Pada awalnya, jelas John, motivasi mendirikan hiphopindo.net karena melihat di Indonesia saat itu tidak ada media yang isinya khusus membahas perkembangan hip hop Indonesia.

“Awalnya gue dan Ferri malah mau bikin zine. Namanya Basement. Ternyata ongkosnya mahal. Akhirnya Ferri usul bikin situs web karena kebetulan dia kuliahnya di bidang IT,” kenang John.

Tarikh 2000 situs tersebut hadir pertama kali di dunia maya menggunakan nama hiphopindo.com. Saat itu masih nebeng dengan namezero.com yang menyediakan layanan pemakaian situs web gratis selama dua tahun.

Kesal karena terlalu banyak iklan yang mengganggu, duo ini memutuskan cabut. Ferri kemudian membeli domain baru melalui kartu kredit abangnya. Lahirlah hiphopindo.net.

Tidak ingin hanya terpaku mengurusi ranah dalam jaringan, hiphopindo.net kerap menyelenggarakan acara off air. Sebutlah misalnya Sunday Noize, Boombox Therapy, atau Ground Zero.

Aktivitas tersebut terhenti karena John merasa capai sekaligus kesal karena dituduh terlalu mengejar keuntungan dengan menjual tiket masuk.

“Padahal maksudnya biar dapat pemasukan sebagai modal untuk bikin acara lagi,” gerutu John.

John dan Ferri mengaku tidak pernah menangguk laba dengan memanfaatkan nama hiphopindo.net. Bahkan hingga sekarang keberlangsungan situs web tersebut masih bergantung pada pendanaan dari kocek pribadi mereka.

Situs tersebut kerap dituding terlalu Jawa sentris, namun Ferri membantah mereka dengan sengaja melakukannya.

“Sebenarnya ada banyak MC/grup potensial dari luar Jawa. Hanya saja mereka kerap menampik jika profil dan karya mereka mau kita muat. Alasannya karena hanya ingin menjadi rapper dalam kamar, tanpa mau profilnya muncul apalagi manggung,” jelas Ferri.

Ada juga yang salah kaprah menganggap hiphopindo.net adalah payung atau induk dari semua komunitas hip hop di Indonesia.

“Kami ini hanya media kecil yang coba memberikan alternatif karena belum ada media yang spesifik membahas soal kancah hip hop Tanah Air,” ucap John dan Ferri kompak.

Hip hop dan kearifan lokal

JHHF saat berada di San Francisco, AS (2012)
JHHF saat berada di San Francisco, AS (2012) © hiphopdiningrat.com


Saat gerbong musik rap pertama yang dimotori Iwa K dan kawan-kawan masuk ke Indonesia, usaha untuk melekatkan local wisdom ke dalam musik rap sebenarnya mulai hadir perlahan.

Pada awalnya hanya sebatas memasukkan bahasa daerah ke dalam lirik, seperti yang dilakukan Iwa dalam lagu “Batman Kasarung”.

Lambat laun unsur tersebut semakin kental terasa. Jogja Hip Hop Foundation (JHHF) yang terbentuk pada 2003 adalah contohnya.

Kill the DJ (Marzuki Mohamad), Jahanam (Heri Wiyoso aka Mamok dan Balance alias Perdana Putra), Rotra (Janu Prihaminanto), Radjapati (Lukman), serta DJ Vanda dan pesinden Soimah Pancawati tidak sekadar mengenakan batik bermotif Jawa setiap tampil.

Mereka juga meleburkan beat urban hip hop dengan gamelan dan bahasa Jawa. Tak jarang lirik mereka berasal dari karya sastra seperti Serat Centhini dan mantra tradisional.

Diakui Juki, panggilan Marzuki, ide membentuk JHHF datang karena melihat beberapa MC asal Yogyakarta kerap nge-rap menggunakan bahasa Jawa. Salah satunya Rotra.

Bersama G-Tribe, Rotra telah mengenalkan rap berbahasa Jawa sejak album Pesta Rap lewat lagu “Watchout Dab”.

Menurut Juki, alasan penggunaan bahasa dan musik pentatonik ala Jawa dalam musik JHHF terjadi secara natural.

“Bahasa Jawa dan gamelan sudah jadi bagian dari keseharian kami,” tambahnya saat ditemui Beritagar.id pada malam puncak Festival Film Indonesia 2016 (6/11).

Direktur Ruang MES 56 dan inisiator netlabel Yes No Wave, Woto Wibowo alias Wok the Rock, mengatakan bahwa ada sebuah tradisi di Jawa yang mirip dengan hip hop.

“Namanya mocopat. Masyarakat Yogya jadinya lebih mudah menerima suguhan hip hop JHHF. Apalagi dengan tambahan aransemen pentatonik yang mirip bunyi gamelan sebagai pengiringnya,” jelas Wok.

Saat ramuan hip hop ala JHHF terasa sudah jamak, NDX A.K.A Familia yang berasal dari Imogiri, Bantul, hadir menawarkan alternatif.

“NDX mengawinkan hip hop dengan campursari. Menurut saya itu nilai paling kuat dari komposisi yang mereka miliki,” pungkas Wok.

Dari Bandung muncul Sundanis. Dalam akun Twitter-nya, kelompok yang terbentuk sejak 2007 itu mengidentifikasi diri mereka sebagai “sundanese hip hop ethnic contemporer”.

Sundanis mengombinasikan hip hop dengan musik etnik sunda seperti kendang, suling, kacapi, bonang, tarompet, dan karinding. Lirik setiap lagunya sebagian besar menggunakan bahasa Sunda.

Motivasi Rudi Supriyadi a.k.a Ghetto Rude membentuk Sundanis berawal dari keresahan melihat kultur Sunda yang mulai terlupakan oleh generasi muda. Laiknya JHHF, kelompok ini juga telah sering tampil di mancanegara, mulai dari Malaysia, Singapura, dan Belanda.

“Hip hop itu memang kita impor dari Amerika Serikat. Tapi ibarat pohon, saat kita tanam di sini, rasanya menjadi Indonesia,” ujar Iwa K saat tampil dalam peresmian layanan pengaliran musik Yonder di Jakarta (23/5).

Darah muda hip hop lokal

Young Lex mewakili rapper muda yang digandrungi para remaja
Young Lex mewakili rapper muda yang digandrungi para remaja © Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id


Ramai sorotan media ke ranah hip hop muncul kembali setelah melihat pencapaian Young Lex dan Rich Chigga. Memanfaatkan kanal internet, keduanya berkarya, mengumpulkan massa, hingga akhirnya meraih popularitas. Tentu saja untuk mencapai posisi tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan.

“Saya pribadi tidak mempunyai kesamaan selera dengan musik ataupun konten lirik baik dari Young Lex maupun Rich Chigga. Tapi saya angkat topi dengan kerja keras mereka menggapai pencapaiannya sekarang,” tutur Doyz.

Selain dua nama tadi sesungguhnya masih ada sederet rapper generasi baru lainnya yang tak kalah berbakat. Datangnya dari seantero Indonesia, mulai Lhokseumawe hingga Manokwari. Tebaran karya mereka ada di YouTube, Soundcloud, atau Reverbnation.

John dan Ferri mengakui hal tersebut. “Kami banyak menemukan talenta-talenta baru. Mereka bisa bikin video klip yang oke, lirik mereka jago, flow-nya asyik, musiknya juga keren. Tinggal merapikan dandanan orang-orangnya alias packaging-nya,” ungkap Ferri.

Maraknya grup atau MC yang bermekaran di daerah bikin John senang. “Sekarang para penggemar hip hop bisa punya rapper idola dari daerahnya masing-masing. Ada local pride lah. Tidak melulu mengidolakan rapper asal Jakarta misalnya.”

Hal tersebut dimungkinkan karena kemudahan teknologi yang ada sekarang di mana setiap orang bisa merekam dan mempublikasikan karyanya sendiri, bahkan dari dalam kamar.

Dalam artikel “10 Penggawa Hip Hop Indonesia Terkini” yang termuat dalam majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 (halaman 72-79), selain Young Lex muncul nama Laze, Niska, dan A. Nayaka dari Jakarta, Sonjah (Surabaya), Rain City Rap Crew (Bogor), Legit! (Semarang), Jere (Medan), serta Dua Petaka Membawa Bencana (DPMB) dan Begundal Clan wakil dari Yogyakarta.

Nama-nama rapper baru tanah air yang menjadi pilihan Doyz saat ini adalah Insthinc, Regia Oskar, Matter, dan Scario da Sylva alias Mila Nabilah.

“Tuan 13, Jagal Sangkakala, Retorika, Das Aufklarung, dan juga DPMB bagus. Termasuk favorit saya. Namun mereka masih terbilang senior, di banding nama-nama yang saya sebut sebelumnya,” sebut Adoy, sapaan Doyz.

Favorit Ucok adalah Joe Million asal Papua. “He’s the baddest youngin from this generation ever touch the mic.”

Ucok, yang sudah menggeluti rap sejak awal 90-an, menyatakan sangat menghargai para rapper muda yang bermunculan dan kemudian menjadi besar itu, walau “alam hip hop mereka berbeda dengan alam saya.”

“Hanya saja bagi generasi sekarang yang punya kekuatan ekonomi dan pengaruh sebesar itu baiknya selalu ingat bahwa ‘with great power comes great responsibility‘,” tuturnya.

“Tergantung mereka, seperti apa dan bagaimana memanfaatkan kekuatan itu untuk hal yang lebih besar dari hip hop dan diri mereka.”

Sumber: Beritagar.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s