Ucok, Homicide, dan Perjuangan Hip Hop

Homicide tampil di toko buku Ultimus, Bandung, pada 2006.
Homicide tampil di toko buku Ultimus, Bandung, pada 2006. © Noorman/Istimewa

Oleh Andi Baso Djaya

“Generasi sekarang punya peluang sangat besar untuk berkarya tanpa harus didikte industri musik. Kalian bisa membuat album sesuka kalian.”

Berbeda dengan beberapa kompatriotnya yang merilis album bersama major label, Herry Sutresna alias Ucok sejak awal membentuk Homicide pada 1994 betah mengeluarkan karya melalui jalur label independen hingga sekarang.

Gelontoran rima yang disusunnya kadang penuh metafora, tapi tak jarang menyeruak lugas, sarkas, lagi bernas.

Di tangannya, kata berubah menjadi senjata. Suaranya lantang –jika tidak ingin disebut berteriak– memprotes fasisme, kesewenang-wenangan aparatus negara, rakusnya korporasi menghabisi petani, anti neoliberalisme, dan isu sosio-politik lainnya. Seperti pada album Tha Nekrophone Dayz (2006), yang menempati urutan ke-124 dalam daftar “150 Album Indonesia Terbaik” versi Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2007.

Ucok alias Morgue Vanguard tidak sekadar menyalak lewat rima, tapi juga terjun langsung dalam kesatuan aksi menghadapi angkara. Berbagai demo ia ikuti.

Setelah menamatkan perjalanan Homicide pada 2007, alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dan Sastra Inggris Universitas Padjajaran membentuk Trigger Mortis yang usianya ternyata tak lebih panjang dari Homicide.

Beberapa tahun belakangan, Ucok bersama Sarkasz alias Aszy Syamfizie –rekannya di Homicide– menjalankan proyek baru bernama Bars of Death.

Hasilnya adalah single “All Cops Are Gods” (termuat dalam album kompilasi Memobilisasi Kemuakan, 2014) dan “Tak Ada Garuda Di Dadaku” (Organize! : Benefit Comp for Community Empowerment, 2016).

Seolah belum berhenti sampai di situ, Ucok juga rajin menulis dan memproduksi zine. Beberapa yang pernah diterbitkannya adalah Membakar Batas, Gandhi Telah Mati, Lyssa Belum Tidur, dan Uprock’83.

Yang disebut terakhir spesifik membahas tentang hip hop, sesuatu yang jarang ditemukan dalam kancah hip hop tanah air. Hingga sekarang masih terus terbit dan telah memasuki edisi kelima.

Menurut John Norman Parapat dan Ferri Yuniardo dari hiphopindo.net, Ucok adalah contoh dari sedikit rapper yang mengerjakan tugasnya dengan baik dan konsisten.

Pendeknya, kancah hip hop di tanah air beruntung memiliki seorang Ucok yang gigih berjuang bukan hanya untuk scene hip hop, tapi juga penegakan hak asasi manusia.

Bagaimana Ucok memandang kondisi hip hop terkini di Indonesia dan desas-desus bahwa dirinya berseteru dengan Iwa K? Berikut hasil wawancara kami yang berlangsung melalui surel.

Ceritakan sedikit awal ketertarikan Ucok dengan hip hop?

Saat saya mulai mengenal hip hop, term hip hop belum eksis sebagai genre apalagi sebagai sebuah dunia.

Saya berkenalan dengan hip hop sebelum ia populer disebut hip hop lewat gelombang pertama tren breakdance yang datang ke Indonesia pas awal hingga pertengahan 80-an.

Hampir semua teman sekelas dan se-RT saya nge-break, kecuali saya karena memang tidak bisa. Saya hanya menyukai musiknya, yang merupakan musik proto hip hop yang sudah ada rap-nya namun masih belum seperti yang di kemudian hari berevolusi, seperti lagu Ice-T, “Reckless” misalnya.

Baru 2-3 tahun kemudian Run DMC, Beastie Boys dan LL.Cool J datang. Album-album awal mereka yang membuat saya kemudian memutuskan untuk belajar nge-rap.

Tapi tak ada yang membuat saya memutuskan untuk menekuni rap lebih serius lagi selain Public Enemy dan Rakim. Mempelajari flow, delivery, cadence, syllable, dan hal-hal teknis lainnya.

Dari situ semuanya mengalir seiring dengan progres musik rap yang semakin eksploratif, berpetualang dari dobrakan ke dobrakan artistik lainnya, rap mulai kokoh sebagai sebuah musik dan mulai disebut hip hop seperti yang kalian kenal sekarang.

Saya baru membuat Homicide itu pas kuliah, saat baru bertemu teman-teman satu passion soal hip hop. Yang patut dicatat, bahkan pada era awal 90-an sekalipun sangat sulit menemukan teman yang memang menyukai musik rap yang melampaui Vanilla Ice, MC Hammer atau apa pun yang beredar di radio pada saat itu.

Teman sekelas saya rata-rata anak metal dan punk, begitu juga tetangga saya. Metal memang sangat mengakar di Bandung sehingga kalian bisa menemukan anak SD/SMP mendengarkan metal secara fanatik di era 80-90-an.

Adhi ex-Pure Saturday adalah sahabat saya sejak SMP. Pas SMP dia sudah sangat eksplor mendengarkan metal. Saat itu rap lebih identik dengan musik pop seperti Milli Vanilli. Sulit bagi awam untuk membedakan mana yang serpihan komersil dari musik rap dan yang rap yang betulan sebagai rap.

Adhi suka mencela habis-habisan jika saya membawa kaset LL Cool J ke sekolah. Kami teman sebangku, ia sering menggambar logo Slayer dan ikon Iron Maiden di meja kami, dan saat saya menulisi meja juga dengan logo Eric B & Rakim, ia coret silang dan menggambar logo Exodus di sebelahnya. Ha-ha-ha. Good old days.

Banyak alasan mengapa saya memilih rap, salah satunya adalah karena saya tak pernah bisa mahir bermain alat musik, tak satupun yang saya bisa. Jadi awalnya saya berpikir nge-rap adalah media aktualisasi dan ekspresi paling cocok buat saya.

Selain tentunya saya sangat menyukai sajak atau pantun. Saya selalu mendapat nilai tertinggi jika ada tes membuat pantun pas pelajaran Bahasa Indonesia saat SD. Ha-ha-ha.

Sebagai MC yang tumbuh dan berkembang di Bandung, seperti apa waktu itu iklim atau kondisi hip hop di sana?

Saat saya mulai menyukai hip hop, sama sekali tidak ada yang namanya iklim dan kondisi karena hip hop juga memang tidak ada, atau belum eksis sebagai komunitas.

Jangankan sebagai skena atau komunitas, sebagai musik pun belum dianggap sebagai sesuatu yang serius dan boro-boro diminati mayoritas. Bahkan ketika saya memulai Homicide, skena hip hop itu belum ada di Bandung, jika saya tidak bisa menyebut “belum ada di Indonesia”.

Saya (kebetulan atau tidak) bersikulasi di skena hardcore/punk/metal karena memang teman saya nyaris semuanya fans hardcore/punk/metal, selain memang saya menyukai musik-musik itu.

Saat fenomena skena independen hardcore/punk/metal menyeruak di Bandung, tidak ada yang namanya komunitas hip hop. Masih berupa musik yang digemari oleh satu dua orang yang tidak terkoneksi dan tidak berelasi sebagai sebuah kumpulan.

Hip hop sebagai komunitas itu baru bisa dibilang ada di Bandung di akhir 90-an atau awal 2000-an. Sedangkan hardcore/punk/metal itu eksis jauh hari sebelumnya. Tahun 1990 juga sudah ada mereka itu.Hiphop lahir sebagai sebuah habitat baru belakangan aja.

Jika waktu yang dimaksud merujuk pada rentang waktu 2000-an sampai sekarang, saya bisa jawab, “Ya”. Di Bandung hip hop guyub dengan komunitas lainnya karena banyak faktor.

Homicide apakah bisa disebut sebagai perkawinan silang antara hardcore, punk, dan metal?

Tidak pernah kawin silang. Homicide itu 100% hip hop. Tapi inspirasi bisa dari mana saja, blues, soul, punk, hardcore, metal, musik tradisi lokal, musik avant garde, apa pun.

Selama ini Iwa K dianggap sebagai pembuka gerbang bagi meluasnya demam hip hop/rap di tanah air. Adakah sejarah yang harus dikoreksi dalam bagian ini?

Entahlah, sampai sekarang tidak ada scholar yang meriset sejauh itu. Mungkin itu tugas generasi sekarang untuk menelitinya. Tapi saya pikir fenomena musik rap dulu itu terjadi acak di banyak tempat pada saat yang bersamaan.

Banyak yang nge-rap sezaman dengan Iwa-K di kota-kota lain, hanya saja Iwa memiliki kesempatan merekam album duluan, selain tentunya Iwa adalah salah satu yang sangat serius menekuni rap sebagai art form kala itu.

Di Bandung, setahu saya sudah ada beberapa rapper sebelum Iwa yang tampil di diskotik-diskotik. Salah satunya ada yang namanya Sule, saya lupa nama panggungnya siapa, tapi saya ingat dulu ia dan krunya pernah menjuarai kontes rap sekitar taun 1988-89.

Bicara tentang Iwa, banyak yang mengira saya berseberangan dengannya, mungkin karena dia mainstrem, albumnya pop, dan sebagainya.

Padahal sebaliknya, saya justru menaruh hormat pada beliau. Pernah ada waktu, Iwa sering memandu acara hip hop di sebuah stasiun radio, dan saya penggemar acara itu. Soalnya, radio adalah satu-satunya kanal buat kita di sini untuk dapat referensi lagu-lagu hip hop di awal 90-an.

Pernah juga pas SMA, saya bertemu Iwa di satu toko kaset di Dago yang sekarang udah tutup. Dia kebetulan membeli kaset yang sama dengan yang saya beli; album ketiga Compton’s Most Wanted, saya masih ingat persis.

Saya sebetulnya ingin sok akrab menegur dia dan coba mengobrol soal Compton’s Most Wanted dan hip hop era itu. Tapi tidak kejadian karena segan. Ha-ha-ha.

Bagaimana Ucok melihat perubahan atau pergerakan hip hop di Indonesia?

Berkembang tentu saja. Apalagi jika bicara kuantitas, rap atau hip hop sudah eksis sebagai genre musik hari ini. Jumlah musisi/grup/MC jauh lebih banyak dibanding satu dekade terakhir.

Apalagi dibandingkan dengan pas zaman saya, 80-90-an. Bicara soal kualitas beda soal, meski MC berkualitas hari ini lebih banyak dari pas zaman saya, jumlahnya tidak berbanding lurus dengan banyaknya grup/MC yang bermunculan.

Dulu zaman saya sulit menemukan acara hip hop, saya sendiri dulu main di acara punk/hardcore selain atas alasan kami memang eksis dan besar di skena itu, juga karena memang tak ada acara hip hop.

Acara hip hop yang semua pengisinya grup hip hop itu di Bandung baru ada pada tahun 2000. Sekarang banyak banget.

Diaspora komunitas hip hop juga semakin luar biasa hari ini. Kalian bisa menemukan grup-grup bagus dari kota-kota kecil. Tak lagi langganan kota besar di Jawa.

Bahkan kawan-kawan sudah banyak yang membuat festival besar yang tak hanya MC manggung, tapi juga melibatkan komponen hip hop lain seperti breakdance, beatbox, graffiti ,dan DJ-ing.

Apalagi ditambah dengan mudahnya akses bagi generasi sekarang untuk belajar musik rap. Baik di departemen beatmaking-nya atau wilayah MCing-nya.

Internet memberi ruang yang luar biasa bagi generasi 2000-an sampe sekarang untuk tak hanya belajar tapi juga jadi media bagi mereka untuk lebih mudah berekspresi dan melahirkan karya.

Zaman dulu itu luar biasa sulit. Alat-alat produksi hip hop itu hanya bisa dimiliki oleh orang berduit. Teknologi membuat demokratisasi pola produksi itu.

Kalian tak harus punya sampler dalam bentuk hardware yang mahal untuk membuat musik hip hop.

Pakai laptop atau PC pun cukup. Juga dalam hal referensi, apa yang susah dicari di era Google hari ini? Apalagi dalam hal membuat album dan mendistribusikannya secara independen.

Generasi sekarang punya peluang sangat besar untuk berkarya tanpa harus didikte industri musik. Kalian bisa membuat album sesuka kalian. Dengan kondisi seperti ini, justru ironis kalau tidak berkembang, keterlaluan.

Jadi jika dulu saja dengan fasilitas dan environment yang terbatas kita bisa berbuat banyak, harusnya generasi sudah selayaknya jauh lebih advanced.

Progres hip hop lokal ada di tangan mereka. Seruan banyak orang yang menyuruh saya untuk memajukan hip hop itu salah alamat, saya cuma rapper bangkotan yang dimakan umur dan aktifitas cari makan buat anak istri meski masih menulis musik.

Hip hop hari ini tampaknya hanya soal vibe, swag, dan personality alih-alih lirik yang seharusnya jadi kekuatan utama. Bagaimana menurut Ucok?

Wah, enggak juga. Perkara swag/vibing itu bukan barang baru di hip hop. Sama sekali tidak lahir di generasi ini. Dari dulu juga hip hop memang begitu. Jika kalian periksa lagi para legend seperti Rakim, EPMD, LL Cool J, dan sebagainya, itu mereka kurang swag apa?

Hanya saja dulu istilahnya bukan swag. Tapi cara mengekspresikan diri dengan braggadocio (tingkah arogan, red.) kelewatan itu adalah umum di hip hop. Hanya saja dulu braggadocio (termasuk dalam soal materi) tidak melulu mendominasi tema lirikal meski dominan dan disampaikan dengan teknik tinggi, wordplay menawan, wawasan luas, dan dengan musik yang eklektik.

Saya tak punya masalah dengan swag-ism, saya cuma punya masalah dengan lirik buruk. Ha-ha-ha.

Jika rapper model Chief Keef jadi parameter standar estetika anak sekarang dan disebut hip hop, maka saya lebih baik memilih untuk tidak diidentikan dengan hip hop.

Jangan disalahartikan bahwa lirik buruk itu identik dengan swag, dan lirik yang bagus itu adalah yang berkonten sosial-politik.

Saya lebih memilih mendengarkan rap bragadocio atau bahkan nonsense yang menarik dibanding mendengar lirik politis yang membosankan, kering, tidak menginspirasi, dan sama sekali tidak relevan dengan kenyataan praksis politik di luar sana.

Apalagi hanya terkesan dibuat-buat.Kalau cuma soal wacana politik doang, saya bisa menemukannya di lapangan atau di wilayah literasi. Tak perlu mendengarkan hip hop.

Meskipun demikian, saya tidak sepakat jika hip hop hari ini melulu soal itu. Jika mau lebih dalam lagi menelusuri dan mengekspos hip hop lain di luar hype media yang sekarang ada, kalian akan menemukan banyak talent luar biasa yang tak hanya ber-swag ria, dan membuat kalian berkesimpulan jika hip hop itu heterogen dan tidak statis.

Bagaimana proses kreatif seorang Ucok?

Saya biasanya menulis lagu dengan simultan, musik dan lirik. Saya bukan tipe orang yang bisa menulis sekaligus melakukan pekerjaan lain.

Biasanya saya meluangkan waktu, kontemplasi, dan mulai menulis musik atau lirik. Tapi cukup sulit melakukannya semakin ke sini, berbeda ketika saya dahulu belum berkeluarga.

Ini tentu saja berpengaruh, karena saya tidak cari makan di musik. Saya bukan musisi profesional. Otomatis sekarang menulis musik adalah perkara nomor dua setelah mencari nafkah untuk keluarga.

Soal lagu yang paling lama, mungkin hampir semua lagu di album Barisan Nisan. Saya melakukan revisi, bongkar-pasang hampir selama dua tahun sampai kemudian saya putuskan untuk dibungkus.

Rata-rata semua materi saya lama saya garap atas banyak alasan. Kecuali jika hanya menulis lirik yang tidak perlu terlalu mengkonsep, biasanya sih cepat.

Biasanya ini saya lakukan untuk beberapa permintaan feature dari beberapa kawan. Bahkan kadang saya langsung tulis di studio saat take vocal tanpa persiapan apa pun. Misalnya verse saya di lagu Eyefeelsix, “Obituari”, atau spoken words saya di lagu milik teman-teman Siksa Kubur.

Verse feature saya untuk teman-teman di BRNDLS juga misalnya, saya buat setengah jam sebelum saya pergi ke studio untuk take vocal.

Siapa rapper baru di Indonesia yang Ucok sekarang sukai?

Dari Bandung dulu deh. Saya menggemari Sandy dan Yansen, mereka tergabung di Iron Prose sekarang. Jagal Sangkakala juga bagus meski mereka kurang serius. Saya menaruh harapan besar pada salah satu MC di Jagal Sangkakala, Endo namanya. Dia berpotensi besar jadi MC hebat di hari depan.

Domdom juga bagus, tapi jika dia menggarap rap seserius dia ber-skateboarding (dia skateboarder pro), mungkin hasilnya akan beda.

Senartogok pun istimewa, musisi multitalenta juga. Kadang kalian bisa menemukan dia mengamen di perempatan jalanan Bandung, tak jarang juga di acara-acara komunitas atau Aksi Kamisan, misalnya.

Satu lagi mungkin, Krowbar. Dia orang lama sebetulnya, tapi baru belakangan ini saya mendengar dia nge-rap dan hasilnya luar biasa. Penggayaan rimanya mengingatkan saya pada rekan segrup saya, Sarkasz. Bisa dibilang gaya rima Krowbar adalah anak haram dari rima Sarkasz.

Luar Bandung, meski saya hanya memantau sekilas, ada beberapa grup/MC yang saya sangat sukai. D.P.M.B dari Yogya, mereka yang paling berjasa merevitalisasi sound boom bap hard funk New York 90-an di skena lokal pada era sekarang.

Begitu pula Anonymous Alliance dari Cirebon. Mereka memainkan hip hop yang retrospektif dengan beat boom bap yang soulful mirip Apollo Brown atau Statik Selektah.

Das Aufklarung dari Surabaya, Regia Oskar dari Aceh, Jere dari Medan, Matter dari Jakarta dan Insthinc yang entah dari mana dia, mungkin Planet Mars.

Tapi favorit saya hari ini dalam hal MC-ing adalah Joe Million. He’s the baddest youngin from this generation ever touch the mic.

Ada beberapa beberapa lagi yang saya tak ingat untuk saat ini. Alasan menyukainya ya karena mereka bagus dalam pemahaman estetika hip hop tentunya.

Young Lex dan Rich Chigga belakangan mendapat banyak sekali ekspos dari media mainstream. Bagaimana Ucok melihatnya fenomena mereka?

Sepertinya sudah saya jawab secara tidak langsung di pertanyaan sebelumnya. Bagus jika generasi sekarang bisa memanfaatkan teknologi informasi seperti sekarang. Peluang itu yang tidak bisa didapatkan oleh generasi 80-an/90-an.

Sebetulnya mereka bukan yang pertama yang memanfaatkan perkembangan media, Saykoji duluan memanfaatkannya meski saat itu teknologi informasi belum seperti sekarang.

Saykoji adalah rapper dengan skill tinggi yang bisa membuat rima sangat pintar tapi bisa meramunya dengan penetrasi ke pasar memanfaatkan demokratisasi media yang lahir gara-gara internet.

Saya pikir malah media mainstream tidak ada andil dalam naiknya nama-nama yang disebutkan tadi. Mereka datang belakangan setelah eksposurnya meledak.

Kalo soal pendapat pada subjeknya, entahlah, sebetulnya keduanya tidak berada dalam radar saya. Mereka MC generasi baru yang berbeda alam dengan hip hop saya.

Saya tidak menyukai hip hop dengan karakter musik seperti yang sekarang jadi trend. Which is fine. Toh generasi baru juga tidak harus suka dengan musik hip hop yang saya sukai atau yang saya buat.

Di luar tren, saya tidak bisa berkomentar banyak soal Rich Chigga. Cuma dengar satu lagu, dan dia ada di liga yang berbeda.

Dia memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam rap-nya. Tidak bisa diklasifikasikan dengan mereka yang mengeksplorasi bahasa Indonesia sebagai bangunan rima. Dan musiknya pun sama sekali bukan buat saya.

Soal Young Lex, saya tahu ia bagian dari kolektif Zero One. Dulu pernah main sepanggung di acara di Bandung dengan kawan-kawan lain. Baru belakangan saya dengar lagi namanya setelah anak saya bertanya “Bap, tau Young Lex?”

Saya berpikir jika anak SMP bertanya soal dia, sudah pasti namanya sedang membesar. Sama dengan musik Chigga, musik Young Lex bukan buat saya. Bukan hanya berbeda latar belakang musik, juga perspektif dalam melihat banyak hal. But, I respect his hustle.

Jangankan pas seumuran dia, sampai sekarang saja saya tak punya uang sebanyak dia. Ha-ha-ha.

Ia tak membiarkan industri mendiktenya, sebaliknya dengan memanfaatkan teknologi dan modal sosialnya, Young Lex membuat “industrinya” sendiri.

Hanya saja bagi generasi sekarang yang punya kekuatan ekonomi dan pengaruh sebesar itu baiknya selalu ingat bahwa “with great power comes great responsibility“.

Tergantung mereka, seperti apa dan bagaimana memanfaatkan kekuatan itu untuk hal yang lebih besar dari hip hop dan diri mereka.

Dari kacamata Ucok, apa perbedaan hip hop di tanah air dengan Barat?

Jelas beda, pelakunya punya latar belakang sejarah dan budaya yang berbeda dengan pelaku di barat. Hasilnya akan beda. Rakim said it best: Hip hop is not where you from, its where you at.

Terakhir, jika Ucok terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni dan hanya boleh membawa satu album rap lokal untuk didengarkan, album apa yang akan dibawa serta?

Madrotter – 18 Slingshot. Album ini merekam banyak hal, bukan hanya lagu, namun juga semangat dan passion dalam lima tahun pertama hip hop di Bandung muncul sebagai komunitas. Musik Henk begitu aneh, berlapis, dan terkesan melampaui zamannya. Album ini juga memiliki poin penting di mana banyak kawan-kawan yang berkontribusi nge-rap di album ini.

Sumber: Beritagar.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s