Hera Mary: Moshpit Kita Milik Bersama

Wawancara tentang film dokumenter Ini Scene Kami Juga!

Oleh Titah Asmaning

Dalam frasa paling sederhana, Ini Scene Kami Juga! adalah film dokumenter yang berbicara tentang scene hardcore-punk yang seharusnya juga bisa jadi lahan bermain perempuan. Lahan yang seharusnya tidak dikotak-kotakkan berdasarkan gender, yang seharusnya diokupasi berdasarkan kontribusi personal, bukan jenis kelamin. Ini Scene Kami Juga! mendokumentasikan segelintir perempuan di scene musik hardcore-punk dan kiprah mereka dalam menghidupi scene ini. Ada yang aktif bermusik, membuat zine, memotret, memberdayakan prinsip DIY sampai mengorganisir gig. Perempuan seharusnya bukan lagi sekadar jadi pemanis atau pos penitipan barang saat berpesta di moshpit.

Sutradara sekaligus penggagas film ini, Hera Mary, adalah vokalis Oath, band sludge-metal yang berbasis di Bandung. Sebagai seorang perempuan yang sehari-hari bergerak di komunitas yang didominasi laki-laki, Hera Mary pasti tahu rasanya menjadi minoritas. Dan adalah umum bahwa sebagai minoritas, segala sesuatu kadang jadi sulit. Dari mulai kesulitan menemukan teman sesama perempuan, sampai resiko mengalami pelecehan seksual di moshpit.

Sebelum kabar pemutaran di Bandung tanggal 1 Mei esok, film yang melibatkan 14 perempuan ‘berpengaruh’ di scene hardcore-punk Indonesia ini sebelumnya dijadwalkan akan dirilis di gelaran LadyFast tanggal 2 April lalu. Tidak beruntungnya, bau-bau edukasi dalam kemasan acara unik ini diendus oleh ormas dan berakhir kacau. Seluruh rangkaian Lady Fast hari kedua dibatalkan, menyeret agenda pemutaran perdana Ini Scene Kami Juga! di dalamnya. Ditemui dua hari setelah insiden pembubaran LadyFast, Hera Mary menyambut WARN!NG dengan ramah di sebuah restoran di Prawirotaman. “Kecewa aja sih, gara-gara ormas yang kurang bertanggung jawab. Mungkin mereka nggak mikirin gitu ya kita mau ngapain, perjuangan menuju sini dan bikin soft launching itu yang bikin aku sedih,” tukasnya.

Beruntung WARN!NG bisa menonton Ini Scene Kami Juga! dalam sebuah kesempatan khusus sebagai bekal interviu ini. Selain memburu narasumber sendirian, ongkos produksi film ini juga diambil dari kocek pribadi Hera. Bukti keseriusannya dalam membuat film ini. Hasilnyapun setimpal, Ini Scene Kami Juga! secara gamblang menyoroti kiprah nyata beberapa perempuan dan berbagai wacana tentang perempuan yang berkembang di scene hardcore-punk. Scene yang oleh Hera diibaratkan seperti “naik satu wahana yang ditakutin tapi pas dicobain seru.”

Di film Ini Scene Kami Juga, aku lihat memang ada perlakuan berbeda ke perempuan di scene hardcore-punk. Perlakuan berbeda itu muncul sejak kapan?

Kalau katakanlah pelecehan atau perlakuan nggak enak sama temen-temen perempuan di komunitas sendiri, mungkin itu sudah ada dari jaman… ya sudah lama lah. Apalagi di Indonesia ya, yang budayanya sendiri memang dari dulu itu sangat kolot. Atau mungkin teman-teman yang berada di komunitas sendiri pun belum terlalu banyak tahu atau belum terlalu banyak baca tentang pelecehan seksual itu sesimpel apasih atau seperti apa bentuknya. Jadi mungkin sudah dari dulu, memang sudah mengakar dari sananya.

Apakah perlakuan diskriminatif kayak gitu cuma ada di moshpit atau ada di kegiatan-kegiatan lain juga?

Berhubung aku lebih ke kegiatan musiknya, kalau di musik-musikannya ya jelas sangat ada. Tapi kalau di aktivitas lain seperti zine, mungkin pelecehannya itu dalam bentuk perkataan. Misalkan kalau yang ngeband cewek ya lebih dilihat vokalisnya itu cakep, jadi kayak “oh ini nih gue pengen nonton band ini karena vokalisnya cewek cantik, pengen gue jadiin pacar”. Kalau pelecehan seksual mungkin yang lebih sering terjadi ya pada saat di moshpit itu atau waktu moshing. Beberapa narasumber sendiri kan juga mengiyakan. Bahkan ada yang sampai trauma nggak pernah mau moshing lagi karena mereka juga merasa tidak nyaman berada di moshpit.

Kalau memang isu ini sudah sejak dulu ada, apa yang membuat Anda memutuskan harus membuat film ini sekarang?

Ide awalnya itu dari aku punya blogzine, namanya Hungry Heart Project. Itu awalnya aku, Mbak Ika (Vantiani), Tria dan Nurul. Isi awalnya mengenai aktivitas apapun di skena HC/Punk ini. Karena masing-masing sibuk, sempat vakum beberapa tahun sampai aku mutusin jalan sendiri. Sempat bingung juga mau bahas apa sampai sadar “cewek-cewek di scene hardcore-punk kan sedikit ya”, lalu kenapa nggak aku dokumentasiin aja? Dari situ mulai dapat profil beberapa band, dan karena emang sedikit akhirnya kekurangan.

Sampai 2014 aku kepikiran “kenapa nggak bikin film dokumenter aja?”. Terus yaudah deh aku mau bikin film tentang cewek-cewek yang memang memberikan kontribusi di pergerakannya masing-masing. Udah mulai ngecengin beberapa narasumber wajib juga. Sampai mulai muncul kendala teknis kayak aku nggak punya kamera, uang produksi, sampai harddisk yang isinya materi awal sempat hilang juga, lalu sibuk skripsi.

Baru setelah wisuda mulai serius lagi. Bahwa emang pengen ngasih sesuatu juga buat temen-temen perempuan di skena HC/Punk ini. Tahun itu mulai cari materi baru, kecuali interviu Mbak Ika (Vantiani) itu materi lama. Kecuali itu semua baru. Bahkan juga ada narasumber yang melakukan interviu sendiri karena lagi di luar negeri.

Kalau kendala nonteknis ada nggak?

Ya, salah satunya itu. Karena kita dari dulu jarang mendokumentasikan kegiatan pas kita lagi nge-zine atau kita lagi pameran. Kan aku ngambilnya narasumber dari era 90’an dan 2000’an, nah narasumber 90’an itu nggak punya budaya dokumentasi karena nggak banyak yang punya kamera atau HP. Jadi di situ, mungkin dokumentasi yang paling susah. Itu aja sih kayanya.

Memang selama ini, perkembangan gerakan perempuan (di era 90’an-2000’an) di scene itu gimana sih?

Kalau dulu aku lihat pergerakan antar perempuan itu masih ada gap. Jadi misalkan aku dan kamu nih, di kota yang berbeda gitu. Terus karena jejaring sosial dan internet dulu itu nggak segampang sekarang, dan dengan budaya sikap malu-malu kita, jadi dulu itu lebih kompetitif. Lebih saing-saingan dalam pembuatan karya. Kalau sekarang itu lebih ke empowerment nyata gitu. Saling mendukung, lebih kolaboratif dan lebih minim konflik, bisa diatasin dengan mudah.

Dan pemikiran mereka sekarang juga lebih luas, lebih terbuka. Kalau dulu lebih individualistis dan terbagi ke grup-grup kecil. Jadi misal aku nongkrongnya sama daerah Bandung Selatan, sama Bandung Utara pun tegur sapa itu jarang. Nggak tahu deh kenapa, mungkin sudah gitu dari sananya. Sekarang lebih terbuka, dibantu dengan sosial media. Sekarang juga banyak perempuan yang ikut ke gigs, nggak cuma yang ikut-ikut cowoknya. Sekarang banyak yang proaktif, lebih asik, datang atas niat sendiri.

Tapi kompetitif dalam berkarya kan harusnya bagus?

Iya bener, masalahnya dulu susah banget mengakui karya orang lain itu lebih keren. Sinis-sinisan. Saling menjatuhkan. Kalau sekarang kan lebih bisa mendukung, ngomong “eh lo keren banget sih”.  Kalau dulu lebih ngerasa “gue yang paling aktif, yang paling berkontribusi”. Sekarang itu lebih support, nggak gengsi-gengsian.

Sikap kompetitif kayak gitu ada nggak sih pengaruhnya ke perlakuan diskriminatif dari cewek sendiri?

Karena dari dulu perempuan itu sedikit, kompetitifnya ya seputaran itu aja. Nggak yang sampai gimana-gimana gitu. Ya mungkin dari komunikasi yang jarang dan produktivitas sedikit, jadi yang lain merasa “yaudah gue gini aja”. Kalau sekarang kan kita lebih mempertanyakan diri kita, kita mau ngapain sih di sini? Apa kita cuma mau nonton aja? Apakah kita mau cuma sekedar jadi pemanis di scene aja? Sekarang kita lebih banyak instrospeksi diri lah.

Aku lihat narasumber dari berbagai kota, masalah yang dihadapi itu beneran sama ya?

Iya. Makanya di film ini lebih ke experience masing-masing. Apasih konflik–konflik yang mereka hadapi. Ternyata setelah digabungkan, kita ambil benang merahnya kan juga sama, pelecehan dan seksisme, sama jargon-jargon yang sejenis “di sini kita itu setara lho”, nyatanya bohong.

Apa ini cuma terjadi di scene hardcore-punk atau terjadi juga di scene-scene musik lain?

Aku rasa perbedaan, pengkotakan, pelecehan, di masyarakat umum pun ada. Ya makanya, banyak yang bilang di hardcore-punk adalah alternatif, sebenernya nggak alternatif juga. Karena di sini juga terjadi pelecehan, walaupun sekarang mulai terbentuk kesadaran dari cowoknya. Kalau dulu sih dianggap ada-nggak ada aja. Ada cewek juga nggak ngaruh, nggak ada juga nggak ngaruh. Sekarang lebih “gue ada dan gue melakukan sesuatu”. Tapi nggak bisa dipungkiri juga bahwa peran cewek di hardcore-punk itu masih banyak yang belum “ngeh” gitu. Ya adanya perempuan di sini itu bikin menarik. Bukan karena gendernya, tapi lebih ke kontribusinya.

Selama ini ada nggak sih wacana tentang feminisme di lingkaran-lingkaran punk indonesia?

Banyak. Dalam sehari-haripun beberapa di antaranya memang menerapkan feminisme itu kok. Mau laki-laki atau perempuannya. Tapi yang paling penting bukan tentang klaim dirinya, tapi bagaimana mereka bersikap dengan apa yang telah mereka suarakan.

Aku pernah lihat wacana feminisme itu dibahas di zine-zine punk, tapi untuk bagaimana dengan musik?

Ada. Yang gue tahu, Dead Alley band dari Kota Semarang contohnya. Liriknya banyak mengenai perlawanan akan banyak hal, menyuarakan kesetaraan gender dan lainnya. Lalu ada bandku sendiri yang di album baru nanti liriknya lebih banyak meyuarakan kemarahan atas ketidakadilan yang terjadi pada temen-temen perempuan dan laki-laki. Bagaimana kita selalu menjadi korban yang selalu disalahkan melulu. Victim Blaming masih wara-wiri dan mejadi hal biasa dalam kehidupan masyarakat kita, bahkan di dalam scene sendiri.

Di film tadi Alda (Negasi) menyebutkan soal ‘Punk Ignorant’ dan beberapa jenis punk lain, memangnya benar ada kelas-kelas di komunitas punk?

Ya makanya ada pertanyaan “di Punk manakah kamu berada?”. Kalau punk liberal lo mau ngapain juga nggak diribetin. Kalau di punk mainstream ya masih pelecehan, sama aja kayak di masyarakat umum.

Sebagai perempuan juga, awal Anda terjun di scene hardcore-punk ini sendiri gimana? Lalu apakah dari dulu sudah tahu situasinya akan seperti ini dan kenapa bertahan sampai sekarang?

Jadi dulu tertarik sama sampul buku temen sekelas pas SMP yang gambarnya fotokopian zine review band Keparat dari Bandung. Penasaran banget sampai nabung buat nonton mereka di GOR Saparua, itu tahun 90’an legendaris banget, tiap minggu ada acara underground. Dateng kesana, rasanya unik dan sempet takut karena dandanan orang-orangnya ya, tapi pas masuk ke dalam GOR rasanya kayak naik satu wahana yang ditakutin tapi pas dicobain seru, kayak gitu rasanya. Dari situ juga belum tahu punk itu apa, cuma setelannya keren. Setelah keluar SMA langsung bikin band cewek-cewek namanya D’Ponis. Dari situ baru tahu lah ideologi punk itu gimana, pemikiran cowok-cowok ke punk itu juga gimana. Tapi di sini pergaulan ceweknya nggak asik. Kemudian aku bikin band baru namanya Kroia, dari ini lah semua muncul. Pergaulan yang lebih luas, karena tur jadi temen-temen makin banyak.

Di situ baru sadar kalau d HC/Punk itu ceweknya nggak banyak. Semisalkan pas main kok ceweknya cuma aku. Dari situ mulai bertanya apakah ini tidak menarik atau menakutkan buat temen-temen cewek. Dari situlah bikin film ini, pengen nunjukkin kalau HC/Punk ini asik, walaupun banyak yang nyebelin. Banyak peculiarity yang nggak bisa kita dapat di tempat lain. Dari situ kepikiran temen-temen perempuan butuh diangkat. Dari situ juga bertanya apa yang sudah gue lakuin buat temen-temen perempuan. Gue ngapain sih, udah ngasih apa sih? Ini salah satu caraku buat nge-support temen-temen perempuan buat tetep ada. Jangan nyerah apapun yang lo lakuin di sini. Karena lo udah ngasih kontribusi besar di sini, lanjutinlah jangan berhenti disini.

Kalau dari pengalaman pribadi selama ini sendiri sudah pernah mengalami sexual harrasment kah?

Kalau pas ada di moshpit belum pernah. Di lingkungan scene belum pernah ngalamin sih, kalau ada yang berani ya pasti saya lawan dan peringati. Tapi kalau di masyarakat umumya pernah beberapa kali. Yang paling saya ingat pas SMA pernah ngalami pas jalan rame-rame di trotoar terus dihadang sekelompok laki-laki terus dipegang-pegang, kita udah ngelawan sampai nonjok juga, malah ribut sampai dipisahin orang yang lewat. Gila, sekelompok orang itu udah tahu salah masih bisa ngelawan.

Kalau mengalami itu di moshpit, apa yang sebaiknya dilakukan korban?

Hal pertama yang mesti dilakuin adalah lihat sekelilingmu apakah ada teman-teman yang kamu kenali? Kalau kamu seorang diri di moshpit dan kamu merasa takut untuk memperingatkan orang yang melecehkan kamu, baiknya kamu bilang dan cerita kepada teman-teman terdekat yang berada di sekitarmu.

Yang kedua adalah ambil sikap atau tindakan langsung. Menegurnya dengan tegas atau teriakin aja langsung kalau itu adalah hal yang nggak bener. Kalau dia nggak terima dengan teguran atau teriakan kamu, ya serang fisik aja. Toh gimanapun pelecehan itu nggak benar. dan diberi tindakan biar tahu rasa. Nggak seenaknya melakukan apapun untuk menyenangkan dirinya aja.

Berarti di film ini memang ada semacam edukasi tentang gender equality juga ya?

Enggak sih, film ini secara umum cuma pengen memberitakan temen-temen perempuan yang emang hebat. Bukan berarti mau mengeksklusifkan si narasumbernya. Tapi maksudnya tuh, masih banyak lho temen-temen cewek, yang emang ngasih kontribusi besar, dan membuat scene ini tuh lebih hidup. Nggak cuma sekedar nonton acara atau datang cuma diajakin cowoknya, walaupun nggap apa-apa juga. Tapi di sini aku pengen nunjukkin ke temen-temen perempuan bahwa ini itu nggak serem-serem amat. Kan banyak orang tua yang bilang ngapain sih jadi anak punk? Mau jadi apa?

Sebenernya nggak seseram itu. Banyak temen-temen punk yang hidup mandiri, misal Dinda (Advena) dan pamerannya atau Mbak Ika Vantiani. Maksudnya, kemandirian ini yang membuat mereka seperti sekarang ini. Bahwa peran perempuan itu sama pentingnya sama laki laki, jangan jadi pemanis aja. Pengen ngebuktiin itu sih.

Kenapa di film ini nggak ada narasumber cowoknya? Ini kan juga masalah di kedua pihak.

Sebetulnya ada, kita sudah interviu beberapa cowok. Cuma setelah dipikir gitu, kayaknya nggak usah bikin tandingannya. Bukannya nggak perlu, tapi karena ini film tentang perempuan, jadi ya perempuan aja. Mungkin nanti pendapat-pendapat temen-temen laki laki akan dimasukkan jadi materi di website.

Kemarin kan sempet berencana merilis film ini di Lady Fast Jogja, bagaimana pendapatmu tentang batalnya acara itu karena insiden kemarin?

Sebenernya lebih ke sedih aja sih. Karena setelah insiden itu masih banyak yang nyari aku mau nonton filmnya padahal udah aku sebar flyer yang cancel itu. Tapi kan nggak semua orang akses sosial media. Banyak yang sudah datang, ada yang dari Malang sampai WhatsApp aku “mbak Hera kok nggak jadi, aku udah di sini”, itu rasanya “anjiir”.

Terus sempet ngomong sama Kolektif Betina untuk bikin screening tapi masih pada ribet kan, kasihan juga. Kecewa aja sih, gara-gara ormas yang kurang bertanggung jawab. Mungkin mereka nggak mikirin gitu ya kita mau ngapain, perjuangan menuju sini dan bikin soft launching itu yang bikin aku sedih. Yang bikin gue nggak enak bahkan narasumbernya pun belum nonton, kamu tuh orang pertama yang nonton lho. Sedih sih, tapi ya karena nggak kondusif juga. Masak di kondisi kayak gitu aku masih mikirin film aku sih, walaupun sebenarnya ya mikirin.

Terus setelah ini, film Ini Scene Kami Juga! mau dibawa kemana? Seperti target penonton misalnya.

Kalau target penonton sih nggak ada ya. Kalau misalnya mau nonton ya nonton, kalau argumentasinya udah “ini apaan sih?” yaudah lo mendingan nggak nonton. Kalau distribusi sendiri sih karena aku di bantuin sama dua Label tadi. Jadi distribusinya dari aku dan dua label itu, DVDnya bakal dirilis awal Mei gitu lah.

Menonton film ini, mau nggak mau aku relate dengan Punk Singer dan Kathleen Hanna, emang terinspirasi dari situ atau gimana?

Sebenernya inspirasi buat film ini, itu datangnya dari diri sendiri ya. Pas kemarin Punk Singer dirilis aku juga udah jalanin ini beberapa tahun sebelumnya. Tapi nggak bisa dipungkiri sih. Cuma aku lebih ke film dokumenter From the Back of the Room. Dari situ sih kayak “kok sama sih, isu isu yang diambil” tentang perempuan di komunitas hardcore-punk. Yang keren-keren gitu.

Apakah film ini adalah langkah awal Anda sebagai filmmaker atau berhenti di proyek ini aja?

Enggak kepikiran buat apa-apa lagi. Ini sih iseng-iseng berhadiah, kayak nggak terlalu diseriusin mau jadi filmmaker atau apa. Cuma dari dulu aku lebih suka dokumentasiin lewat video daripada foto. Nggak tahu kalau video lebih menceritakan apa yang terjadi. Jadi kita nggak bisa berasumsi lain-lain.

Ada pesen nggak buat perempuan-perempuan yang ingin aktif di komunitas hardocore-punk ?

Pesennya jangan takut mau ngelakuin hal sekecil apapun itu, jangan takut kehilangan. Awalnya aku juga nggak percaya diri, takutnya nggak diapresiasi. Terus kalau dipikir-pikir ngapain mikirin orang, orang juga nggak mikirin kita. Yaudah kalau mau ngelakuin apapun, ya lakuin aja. Yang penting rasa puasnya dulu. Setelah puas kan lo baru ngerasain hasilnya buat diri lo sendiri. Percaya diri.

#sarapanmusik

Wah kalau pagi-pagi nggak bisa dengerin musik. Sekarang lagi suka sama lagu-lagu folk-country, folk-metal, folk-akustik gitu, menjernihkan otak dengan petikan gitar.

Sumber: Warning! Magz

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s