Membaca Setelah Boombox Usai Menyalak

Oleh Ferdhi Putra

Saya adalah salah satu dari ribuan, atau bahkan lebih, penggemar tulisan Herry Sutresna. Melalui blognya, saya mendapati banyak kisah-kisah menarik tentang banyak hal. Membentang dari musik, aktivisme sosial, hingga filsafat. Saya termasuk generasi yang terlambat mengenal dunia musik bawah tanah, dengan demikian terlambat pula pertemuan saya dengan gagasan-gagasan brilian Herry Boogaloo ini. Tak ada saluran lain untuk membacanya kecuali lewat blog pribadi dan media-media musik daring masa kini yang sering memuat tulisannya, sehingga praktis tulisan-tulisannya di zine atau newsletter indie saya lewatkan. Sekali lagi, karena saya terlambat mengenalnya.

Jadi, ketika ada kabar bahwa ia akan menerbitkan buku kumpulan tulisan, saya adalah salah satu di antara sekian banyak orang yang antusias menantinya. Ini yang ditunggu-tunggu.

Ucok adalah seorang perangkai kata yang ulung. Saya rasa tidak ada yang menyangsikan itu. Taufiq Rahman, dalam pengantarnya mengatakan, “Ucok adalah penulis yang baik, sangat baik malah […] Ucok melebihi ekspektasi saya […] ia menulis dengan lugas tanpa metafora dan simbolisme yang biasanya menjadi titik lemah penulis berbahasa Indonesia,” (hlm. 1-2).

Saya tidak ragu dengan penilaian tersebut. Walaupun Ucok dengan cukup rendah hati membantahnya dan bilang, “[…] saya penulis yang buruk. Membaca tulisan-tulisan banyak kawan saat kuliah cukup membuat saya sungkan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan saya. Karena memang buruk” (hlm. 5). Persetan, kami tidak percaya.

Tulisan Ucok, dengan tema apapun, akan selalu menarik untuk disimak. Seperti kata Taufiq, bahkan jika ia menulis manual memasak sayur buncis pun, rangkaian-rangkaian katanya akan tetap hidup dan tidak membosankan.

Saya tidak betul-betul paham subyek yang ia paparkan di sejumlah tulisan. Saya acapkali mencari jeda waktu membaca tulisannya hanya untuk mencari tahu apa yang sedang ia biacarakan. Mungkin bisa dimaklumi, mengingat referensi saya tentang musik, khususnya hiphop—walaupun ia tak hanya membicarakan hiphop—tidak banyak, jika tidak dibilang nggak ada. Tapi, meski saya tidak begitu tahu, saya tidak pernah terpikir untuk berhenti membaca dan menutup blog—atau sekarang bukunya. Malah dari situ, referensi saya soal musik jadi bertambah.

Ucok, sangat mirip dengan karakter Bapanya—setidaknya dalam tangkapan saya. Ia tidak banyak ‘menasehati’ untuk menunjukkan betapa menariknya sebuah album, lagu, atau buku, atau kehidupan suburban yang lebih sering menjadi figuran dalam skenario makro masyarakat urban. Atau untuk menunjukkan seberapa pentingnya bersolidaritas pada kelompok-kelompok marjinal yang berhadap-hadapan dengan negara dan korporasi. Tidak heran jika lirik-lirik besutannya kerap direproduksi untuk berbagai kutipan di buku, kaos, atau bahkan status facebook. Selain karena sarat makna, kata-kata buatannya bisa membuat orang yang mereproduksinya terlihat keren. Ini serius (untuk yang satu ini, mungkin kita bisa lakukan survey bersama).

Beberapa tulisan di buku Setelah Boombox Usai Menyalak sudah pernah saya baca. Tapi tak ada sedikitpun keinginan untuk melewatinya. Mungkin lantaran ringan namun berbobot, sehingga membacanya ulang tidak menjadi sebuah kesia-siaan. Di beberapa tulisan yang mendedah album atau lagu—untuk menyebut beberapa misalnya, Got More Rhymes Than I Got Grey Hairs: RIP Adam Yauch, Tentang The Shape of Punk to Come Pasca Rilis Ulang Epitaph, 10 Lagu Protes Lokal Terbaik, dll.—saya sering mendadak berhenti membaca untuk kemudian menyalakan pemutar musik di komputer. Saya mencari album atau lagu yang ia sebut—dan yang saya punya tentunya—untuk bisa ikut mengalami apa yang dialaminya.

Brengsek betul, pikir saya. Saya jarang merasakan kuatnya distraksi yang dimunculkan oleh penulis dalam tulisannya, seperti yang Ucok lakukan. Ia tidak perlu memersuasi orang agar juga mendengarkan album atau lagu yang disebut. Ya, meskipun ia memang tidak sedang melakukan itu—kecuali di beberapa tulisan mixtape.

Pemilihan diksi yang ciamik dan penentuan alur yang asik membuat tulisan-tulisan dalam buku ini seperti, meminjam frasa umum dalam resensi buku, “menggoda kita untuk terus membuka halaman-halaman berikutnya dan menemukan kejutan.” Yang membuatnya begitu luwes adalah karena ia sangat menguasai topik—tentu saja!—dan sangat intim. Pertemuan seseorang dengan sesuatu yang mengubah—atau memengaruhi—hidupnya selalu menarik untuk disimak. Apalagi orang sekaliber dirinya. Saya tidak sedang meninggi-ninggikan, karena faktanya memang demikian. Siapa yang bisa memungkiri bahwa ia memiliki penggemar yang bertebaran dari ujung barat hingga timur.

Sebagai contoh, dalam Bapa, ia dengan akrab menceritakan sejarah bagaimana keluarga, khususnya ayahnya yang begitu mencintai seni, telah menancapkan fondasi utama yang membentuk Ucok hari ini. “Bapa lah orang yang pertama kali mengenalkan saya pada sisi lain kehidupan yang bisa meriah jika dijalani dengan passion yang pedal gasnya diinjak hingga pol dan sebisa mungkin tidak menginjak rem,” (hlm. 17).

Pengalaman-pengalamannya dengan piringan hitam, kaset dan boombox pertamanya, menjadi penanda awal perjalanannya sebagai seorang yang “membaktikan 75 persen hidupnya untuk musik yang dia cintai.” Entah siapa yang memutuskan menempatkan Bapa sebagai tulisan pembuka—Ucok atau Taufiq sebagai penyunting—menurut saya, ia berada di tempat yang sangat tepat.

Kendati sejak awal dikatakan bahwa musik menjadi tema utama buku ini, kita akan bisa menemukan banyak sisipan—jika bukan yang utama—topik selainnya. Salah satu yang menjadi ciri khas Ucok sebagai seorang ‘penulis musik’ adalah, ia tidak pernah membiarkan musik berdiri sendiri dan terisolasi dari konteks sosial yang melahirkannya. Di sejumlah tulisan, kita akan dengan mudah menemukan pola semacam itu. Sangat kentara terlihat pada tulisan misalnya, Making Punk a Threat Again, Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan, Mixtape Boikot “Bela Negara”, dlsb. Ucok kadang terlihat seperti Gonawan Mohammad (maaf jika ada yang tidak berkenan saya menyandingkan MV dengan GM) yang sering bermain-main dengan ruang dan waktu. Melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dari abad lampau, ke masa kini. Begitu reflektif.

Pada tulisan Amiri Baraka, Kelas Menengah dan Pembangkangan Sipil, dengan latar sedikit gloomy, ia mengisahkan ‘kekalahan’ perjuangan warga urban Bandung menghadapi penggusuran. Lagu Amiri Baraka yang dikutip, seakan menjadi lagu pengantar sebelum meninggalkan lokasi. Tapi tidak untuk meratap. Lagu itu menjadi suplemen untuk menjaga kepala tetap tegak di tengah tudingan ‘kelas menengah kurang kerjaan’. Setidaknya, untuk ‘menghibur’ diri atau ‘masturbasi’. That’s the way of things in town.”

Setelah Boombox Usai Menyalak adalah kisah otentik dari seorang scenester organik. Tiap cerita yang diguratkan di dalamnya boleh jadi merupakan representasi skena underground Bandung–dan Indonesia—yang sahih. Hingga hari ini, saya belum menemukan orang, meski sarjana sekalipun, yang menuliskan sejarah skena lokal dengan begitu baik.

Saat menulis ini, tiba-tiba terbersit adegan futuris di kepala saya: andai ia punya kepala ditempeli kabel-kabel yang terhubung dengan komputer canggih yang dapat merekam memorinya, maka kita akan mendapatkan ensiklopedi skenaunderground Bandung yang sangat lengkap. Lengkap beserta analisis-analisis tajamnya.

Di beberapa kesempatan, baik lewat tulisan maupun diskusi, saya menyaksikan Ucok dengan sangat apik mengonstruksi babak-babak sejarah skena musik di Kota Kembang. Saya membayangkan jika ia menulis seperti Stacy Thompson dalam buku Punk Productions: Unfinished Business, maka akan purna sudah tugas sarjana studi budaya untuk menelanjangi fenomena-fenomena skena musik di Bandung. Tapi pertanyaannya kemudian, apakah Ucok mau melakukannya? Cuma ia yang bisa menjawabnya.

Buku ini mungkin menjadi awalan yang bagus buat Ucok untuk mau mengarsipkan tulisan-tulisannya di kemudian hari. Seberapa pun kuatnya ia menolak (silakan baca catatan pengantar olehnya, orang ini terlalu rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya lebih dari yang ia pikir), ada begitu banyak orang yang menantikan olahan kalimat-kalimat canggih yang keluar dari kepalanya. Jika kami masih harus menunggu untuk bisa mendengarkan lirik-lirik sakti Bars of Death, mengapa tidak bukukan saja tulisan-tulisan lainnya yang masih tercecer?

Setelah boombox usai menyalak, lalu apalagi?

Judul buku : Setelah Boombox Usai Menyalak
Penulis : Herry Sutresna
Penerbit : Elevation Books
Halaman : 227 hlm
Tahun terbit : 2016

Sumber: Serunai.co
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s