Melawan Arus Para Pelawan Arus

Oleh Ferdhi Putra

Punk Muslim. Punk Islam. Mungkin kedua istilah itu sudah tidak terlalu asing lagi hari ini. Sejak beberapa tahun lalu, kemunculan kelompok agama dalam skena underground menjadi pembahasan yang menarik di banyak komunitas. Muncul berbagai respons atas kehadiran kelompok ini, dan respons negatif tentu saja mendominasi. Pasalnya, skena underground kadung ‘mapan’ dengan tata nilainya sendiri, sehingga seolah tidak ada celah bagi nilai-nilai lain untuk masuk dan menjadi bagian. Terlebih lagi nilai agama yang selama ini kerap menjadi oposan. Tetapi bukankah cara kerja setiap ide memang demikian? Mengeksklusi diri dan menjadikannya berbeda dari yang lain.

Buku Melawan Arus: Membedah Pemikiran Subkultur Punk Islam di Indonesia mungkin menjadi buku pertama yang ditulis oleh mereka yang menyebut diri sebagai Punk Islam. Buku ini berisi esei-esei pendek tentang topik-topik yang lazim menjadi bahan perbincangan di kalangan punk. Sebut saja misalnya, soal kebebasan, kapitalisme, anarkisme, feminisme, laku do it yourself, lingkungan, animal liberation, straight edge dan tentu saja, agama. Buku ini semacam manifesto ‘subkultur baru’ dalam subkultur punk. “Kami Punk Muslim hadir sebagai counter dari counter-culture itu sendiri!” (hlm. 104).

Adalah Aditya Rahman Yani alias Aik yang mewujudkan buku ini dan ingin menjadikannya sebagai tonggak pemikiran Punk Islam di Indonesia. Aik, scenester lawas asal Surabaya, mencoba mendekonstruksi topik-topik di atas dengan worldview Islam.

Buku tersebut dibuka dengan artikel “Mendefinisikan Punk, Islam dan Punk Islam” (hlm. 7-14). Artikel ini menjadi pintu masuk untuk memahami posisi Punk Islam di antara dua arus besar pemikiran yang menjadi latar belakang kemunculan kelompok ini, yakni punk dan Islam.

Memadukan punk dan Islam memang bukan perkara gampang. Punk dan Islam (sebagai agama yang terinstitusikan) sejak lama dipertentangkan oleh para pengikutnya, sehingga ketika ada pihak yang hendak menggabungkan keduanya, gejolak penolakan akan datang dari kedua kubu. Pendapat yang kerap kita temukan soal pertentangan itu, misalnya: “seorang punk tentu tidak beragama, dan menjadi seorang beragama tentu tidak bisa menjadi seorang punk.” Dalam rangka itulah, sepertinya, Aik mendefinisikan Punk Islam sebagai “mediasi, perantara, saluran bagi siapa pun di dalam subkultur punk yang mencoba kembali mengenal agamanya dan mulai tertarik untuk mengadopsi nilai-nilai Islam untuk kehidupan sehari-hari mereka.” (hlm. 6).

Sebelum Punk Islam populer di Indonesia, mungkin kita telah mengenal taqwacore. Taqwacore adalah buah imajinasi seseorang bernama Michael Muhammad Knight tentang perkawinan antara Islam dan punk. Imajinasi tersebut tertuang dalam novel berjudul The Taqwacore yang terbit pada 2001 secara indie dan terbatas—pada 2003 buku ini diproduksi massal karena animo besar. Novel inilah yang kemudian menginspirasi sekumpulan pemuda—scenester—dan mewujudkan taqwacore sebagai sebuah komunitas yang nyata. Beberapa tahun setelah novel itu terbit, sebuah band punk asal California, The Kominas, bersama Knight membuat video dokumenter yang merekam napak tilas para personil band tersebut ke kampung halamannya, Pakistan. Video tersebut kemudian dirilis dan diberi judul Taqwacore: The Birth of Punk Islam (2009).

Dari permukaan terlihat ada kesamaan, yakni upaya untuk menggabungkan dua konsep pemikiran yang selama ini dipertentangkan. Namun secara esensial, kedua gerakan tersebut sangat berbeda. Perbedaan tersebut ditekankan oleh Aik dalam tulisan “Dosa-dosa Taqwacore (I)” (hlm. 113). Ia bahkan menuliskan dua bagian dalam buku tersebut untuk mengritik gerakan taqwacore di Barat. Taqwacore menjadi salah satu motivasi utama Aik untuk membukukan esei-esei yang sebagian pernah dipublikasi melalui blog pribadinya. “Hal ini mendorong penulis untuk menyelesaikan buku ini, sebagai bentuk koreksi, sekaligus sebagai pernyataan sikap terhadap pemikiran-pemikiran sekuler yang mengakar dalam tubuh subkultur punk,” tulisnya. (hlm. #intro).

Menurutnya, taqwacore yang berkembang di Barat hanya manifestasi dari pemikiran liberalisme sebab ada “banyak penyimpangan (bahkan perlawanan) yang dilakukan orang-orang Taqwacore terhadap prinsip-prinsip Islam yang telah fix (qadh’i)” (hlm. 114). Ia menyebut beberapa contoh ‘penyimpangan’ a la taqwacore, di antaranya gaya hidup dan akhlak yang dianggap tidak islami—cenderung liberal, mendukung homoseksualitas, penampilan fisik yang tidak syariat, menentang otoritas ulama, dlsb. Intinya, taqwacore dinilai banyak melanggar prinsip dasar Islam, sehingga tidak layak disebut sebagai Punk Islam.

Saya sendiri hingga hari ini tidak pernah betul-betul tahu apakah taqwacore yang tergambar dalam novel dan film adalah bayangan ideal seorang Knight akan penggabungan kedua ide tersebut. Ataukah sebenarnya ia memiliki bayangan ideal tersendiri tentang Punk Islam.

Dalam sebuah kolom di media massa, Knight pernah bercerita tentang pengalamannya sewaktu membedah bukunya di Jerman. Ia mengatakan, “Selama bedah buku terakhirku di Berlin, seseorang mengatakan bahwa novelku mendapat apresiasi yang luar biasa di Jerman, itu membuktikan bahwa orang-orang Jerman begitu terbuka dan toleran terhadap kaum Muslim. Aku menjawab: buku itu dipenuhi oleh narasi Muslim yang mabuk-mabukan, merokok, berhubungan seks, menelantarkan komunitasnya dan menghina Nabi; itu hanya memenuhi fantasi orang-orang Eropa tentang bagaimana Muslim seharusnya berlaku. Aku berkata kepada orang itu, jika orang-orang Jerman ingin membuktikan bahwa mereka betul-betul terbuka, mereka bisa menemukan lebih banyak jenis Muslim untuk bisa diterima di masyarakat mereka.”

Tulisan itu dibuat sebagai refleksi sepuluh tahun setelah novel The Taqwacore terbit. “Menulis Taqwacore tidak mengajarkan saya Islam secara utuh, sebab ternyata masih ada Muslim konservatif yang menerima saya sebagai saudaranya setelah membaca novel tersebut,” katanya (Vice, 2012).

Dari paparan tersebut, saya menangkap bahwa Knight sendiri tidak melihat taqwacore sebagai sebuah konsep yang final. Hal itu dapat dipahami mengingat ia menulisnya di masa-masa peralihannya menjadi seorang Muslim. Proses ‘pencariannya’ boleh jadi masih berlangsung hingga kini.

Kita kembali ke buku Melawan Arus. Bagi saya, ide-ide dalam buku tersebut sangat menarik sebagai sebuah kritik, terlepas dari tawaran nilai yang diajukan menimbulkan kontroversi. Punk sebagai ideologi kritis dengan ‘kemapanannya’ kini, misalnya, perlu digugat lantaran kian mengalami dekadensi. Dalam bukunya yang fenomenal, Subculture: The Meaning of Style, Dick Hebdige mengatakan, “punk begitu otentik hanya pada saat ia muncul sebagai sebuah gagasan yang inovatif, namun setelah industri budaya menghegemoni punk berubah menjadi komoditas yang kemudian dijual kembali kepada konsumen generasi mendatang.” Pun dengan agama yang selama ini dipahami begitu eksklusif. Sebagian kalangan tentu mempertanyakan konsep Punk Islam: bagaimana mungkin punk—yang diterjemahkan sebagai ‘sesuatu’ yang urakan beserta stigma negatif lain yang melekat padanya—bisa mengklaim dirinya Islam? Bahkan boleh jadi Punk Islam dituding sebagai bid’ah lantaran tidak sesuai dengan syariat.

Terlepas bahwa ide-ide dalam buku tersebut menarik untuk dilihat sebagai dinamika subkultur, khususnya di Indonesia, bagi saya argumentasi yang dipaparkan Aik cenderung lemah. Saya merasa tulisan-tulisan tersebut masih berupa luapan reaktif untuk merespons tudingan-tudingan yang selama ini ditujukan ke Islam—atau Punk Muslim?.

Ketika hal yang diperdebatkan berada di ranah teologis, Aik seharusnya bisa memaparkan lebih jauh tentang punk dari perspektif Islam dengan pijakan yang lebih kokoh. Misalnya, dari perspektif fikih (kaidah hukum), sebagaimana yang pernah ia tulis tentang “fikih pertemanan dalam skena underground” dalam blognya. Jadi tidak cuma argumen yang mengacu pada ayat dan hadis yang dikutip seadanya, sebab kuatir menjadi sekadar debat kusir soal “bagaimana seharusnya ber-Islam”.

Dalam film fiksi Taqwacore (2012) karya Eyad Zahra yang merupakan hasil adopsi dari novel Knight, ada beberapa adegan yang mempertontonkan bagaimana pengutipan ayat dan hadis seadanya untuk melegitimasi apa yang mereka yakini. Misalnya dalam sejumlah adegan khotbah Jumat, beberapa tokoh yang berperan sebagai khatib shalat Jumat mengutip ayat-ayat untuk meneguhkan makna Islam menurutnya. Artinya siapapun yang berkepentingan bisa mengutip ayat ‘yang dibutuhkan’ untuk memperkuat argumennya. Padahal dalam kitab itu sendiri, ada banyak ragam ‘cerita’ dengan konteks sosialnya masing-masing, sehingga kadang terlihat kontradiktif. Kalam-kalam tersebut hanya akan bisa dipahami dengan utuh apabila ditelaah melalui kajian-kajian yang komprehensif.

Hemat saya, karena Aik berusaha menarik punk ke ranah teologis, maka sudah sepatutnya pembedahannya pun bisa lebih dalam dari sekadar pengutipan ayat. Tetapi mungkin ekspektasi saya pun terlalu tinggi. Sebab jika apa yang saya katakan di atas benar-benar dilakukan, boleh jadi yang terbit bukan buku kumpulan esei ini, melainkan kitab fikih tentang punk. Tapi, namanya juga manifesto.

 

Judul buku : Melawan Arus, Membedah Pemikiran Subkultur Punk Islam di Indonesia
Penulis : Aditya Rahman Yani
Penerbit : Kanzun Books
Halaman : 124 hlm
Tahun terbit : 2016

 

Sumber: Serunai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s