Aku Cinta Zine

Oleh Tomi Wibisono

Melihat antusiasme Bandung Zine Fest (BZF) yang ku tangkap via media sosial, langsung membuatku bergairah lagi dengan zine. Ternyata zine belum mati, dan masih dirayakan—dengan munculnya zine-zine baru. Tentu ini kabar yang menggembirakan. Karena aku banyak berhutang pada kultur zine, yang mengajariku banyak hal.

Pertama kali baca zine di akhir tahun 2006. Waktu itu baca Arus Bawah, sebuah zine nakal dari Surabaya. Lalu mendapati zine yang lahir dari kotaku, Balikpapan tercinta, Mirror dan ThrashxMedia. Dari Deni, editor ThrashxMedia aku dapat banyak zine-zine lain dari pulau Jawa. Dari situ kemudian mencoba-coba bikin zine juga. Waktu itu kelas 3 SMP (tahun 2007), dan hanya dibagi ke teman-teman sekelas. Isinya mengambil teks-teks dan foto dari internet tentang band-band favorit. Pola tersebut bertahan sampai edisi ke-4.

Di masa peralihan SMP ke SMA, aku memberanikan diri untuk membuat tulisan-tulisan sendiri dan melakukan beberapa interview. Tak main-main, yang diwawancara kala itu adalah Antiphaty dan Error Crew, dua band favorit yang sering didengarkan kala guru-guru mulai membosankan. Tentu senang bukan kepalang, bagaimana mungkin band-band punk kondang itu mau menjawab interview dari anak kecil yang baru lulus SMP?

Masuk di edisi ke-5, aku mulai memberanikan untuk barter zine. Dan percayalah, semua editor zine yang dihubungi merespons positif tawaran barter dariku. Sebelumnya tidak ada yang tau, seperti apa wujud dan isi zine yang kuberi nama Salah Cetax ini. mengapa mereka tetap mau? Nah inilah salah satu budaya yang mulia di zine.

Tatkala mulai sering barter zine, akku selalu mendapat kejutan dari amplop-amplop yang datang dari pak pos. Selain zine, selalu ada surat-surat yang ditulis tangan, memberi kabar dan semangat serta bonus-bonus CD, stiker, flayer, dll. Sungguh mengharukan ketika aku hanya mengirim satu buah zine tapi mendapat balasan hingga 10 item, dan itu terjadi beberapa kali. Dari situ baru aku paham, di kultur zine, bahkan barter tak se-transaksional itu. Semangat berbagi itu nyata adanya. Dari situ kemudian aku belajar untuk berbagi lebih.

Barter dengan sesama editor zine juga menjadi jalan ampuh untuk mendistribusikan zine di kota-kota lain. Biasanya para editor zine juga merangkap sebagai aktivis yang menggandakan zine (tak hanya zine-nya sendiri), untuk kemudian disebarkan di kota asalnya. Makanya tidak heran kalau zine bisa tersebar ke banyak kota hanya dengan sekali kirim ke masing-masing kota tersebut.

Untuk zine ku sendiri, misalnya ada 500 zine yang beredar, mungkin hanya 50% yang keluar dari aku pribadi. Awalnya suka kaget, kok ada yang dapat zineku, padahal belum pernah mengirim ke kota itu. Walau ya, kadang-kadang kelemahannya adalah, tidak semua fotokopi-an hitam pekat, beruntunglah kalian editor-editor zine yang ada di kota-kota besar yang punya fasilitas fotokopian cemerlang.

Setelah barter zine, sesama editor biasanya juga akan saling me-review zine. Ini yang menarik. sepengalamanku, teman-teman baik itu selalu memberi dukungan dan masukan. Zine review juga menjadi sarana promosi tersendiri. Beberapa orang kemudian kerap menghubungiku untuk mengorder zine setelah membaca review di zine lain. Soal review, ada salah satu yang paling berkesan untukku, yakni dari Wasted Rockers. Sebuah review yang, ketika masuk kuliah, baru sadar ternyata beliau berkata “memuji di luar konten”, karena memang isinya (tulisan) jauh dari keren. Tapi kala itu, sungguh senang luar biasa. Kalau pakai bahasa sekarang, semacam mood booster-lah. (Ohya, omong-omong soal mood, ini adalah kata yang paling sering keluar di pengantar atau editorial sebagai apologi telatnya zine yang terbit).

Karena mendapat banyak dukungan, akhirnya aku mencoba sesuatu yang baru. Cukup nekat, di edisi ke-9 (kelas 2 SMA), aku coba-coba bikin pakai bahasa inggris. Tentu saja grammar berantakan. Tapi semua ide liar yang diseriusi pasti berdampak positif, dan akhirnya mendapat jackpot: bisa wawancara dengan idola yanng bahkan dibayangin aja sudah senang. Ya, di edisi ini, dapat interview dengan Mark Unseen, vokalis The Unseen yang mohawk itu! Yang posternya terpajang di kamarku! haha. Dari situ, lalu mulai pede buat menghubungi band-band internasional lain, sampai akhirnya sekarang bisa kesampaian wawancara Buzzcocks, Discharge, Anti-Flag, Doom, dll.

Dari zine, aku juga bisa tahu cara bikin kompilasi. Dan waktu itu juga sempat bikin label, menghasilkan V/A Salah Rekam. Saat itu di era Myspace, yang ikut dari Kanada sampai Chili. Dengan modal keinginan, sedikit belajar, banyak nekat, akhirnya tercipta juga. Tapi jangan dikira bikin label berarti punya duit banyak. Tidak! Kala itu pakai sistem kompilasi kontribusi, dimana tiap band ikut menyumbang. Jadi aku dan band-band yang ikut, bareng-bareng ngewujudin kompilasi ini. (Sistem kaya gini masih ada gak ya hari ini?).

Lulus SMA 2010, aku lalu masuk kuliah. Aku mengalami kemunduran. Selama dua tahun hanya bikin dua zine, karena sibuk belajar hal lain. Zine juga menjadi alasan utama kenapa milih jurusan komunikasi. Ketika masuk, banyak mendapat hal yang sebelumnya sudah didapat dari zine-zine koleksi di rumah.

Zine ternyata gak populer di kampus. Dalam beberapa kali kesempatan aku coba berbagi topik ini untuk beberapa tugas kuliah, juga lewat presentasi-presentasi. Tak cukup di situ, aku masih penasaran, apakah zine bisa diterima khalayak umum (dalam konteks mahasiswa), atau memang benar pembaca zine ekslusif di komunitas punk? Karena penasaran, aku coba buat pameran zine di kampus. Sengaja tidak mengundang kawanan punk (walau akhirnya datang juga, namanya juga punk) dan ternyata, respons cukup positif. Pameran ramai, banyak yang baca, banyak pula yang pesan untuk digandakan.

Setelah kuliah, aku dapat banyak akses ke buku dan baru sadar kalau ternyata tulisan selama ini jelek banget. Mulai berbenah dikit-dikit sembari terus membuat zine. Pasca edisi ke-12 (2012) terbit dapat kabar menggembirakan lagi. Untuk kali pertama, ada yang kirim surat penggemar—ada-ada saja—tapi cukup mengharukan. Kabar mengejutkan lainnya, ketika zine legendaris dari Amrik, Maximum RocknRoll, memasukan Salah Cetax di list best zine-nya. Mungkin ini hal yang biasa, tapi bagi saya sangat menyenangkan, entah bagaimana bisa sampai sana.

Modal membuat zine juga memudahkan banyak hal. Sesederhana misalnya ketika kita berkunjung ke kota lain, dan tidak tau mau tidur di mana, pergi ke mana, tetapi bisa dengan mudah mengontak editor-editor zine di kota tersebut. Seperti bagaimana mereka sangat suportif dengan karya di dunia maya, mereka juga sama friendly-nya di dunia nyata. Ah iya, dulu waktu pertama kali sampai Jogja, dan malu untuk datang ke gigs, editor Mati Gaya (scenester paling baik se-Jogja, yang sekarang tambah tenar itu), mau menjemput untuk kemudian mengenalkan ke beberapa orang. Ya, semua berawal dari hubungan yang terjalin saat membuat zine.

Terciptanya majalah Warning juga berangkat dari zine. Sedikit-banyak masih menggunakan metode-motode yang dipakai dari zine. Banyak hal seperti produksi, meminta kontribusi—juga menagih tulisan, hingga distribusi, ya dengan berbekal pengalaman membuat zine. Bedanya yang paling mencolok, paling, Salah Cetax anti-EYD. Dengan pembenaran anti-orba (padahal ya gak ngerti aja) sedangkan Warning malah menerapkan EYD. Pun begitu ketika ada ide untuk membuat buku Questioning Everything, juga menerapkan beberapa pola dari zine.

Pengaruh paling besar yang kurasa adalah semangat kemandirian. Karena percaya—dan sudah terbukti—semangat-semangat baik pasti direspons positif. Oleh karena itu sampai sekarang, ketika pengen bikin apa-apa, gak pernah tergantung dengan orang lain. Ketika Warning Magz sudah berjalan beberapa tahun, saya kerap ditanya, gimana dengan saingan Warning? Nah, jawaban dari pertanyaan ini juga terpengaruh dari kultur zine: saya percaya sistem saling dukung bisa menggantikan sistem kompetisi, seperti yang sudah terbangun dalam budaya zine.

Zine juga mengajarkan bahwa gak perlu jadi spesialis untuk melakukan apapun, tidak perlu jadi mahasiswa jurnalistik untuk bikin reportase, malah bisa langsung bikin media, jadi bos di media sendiri. Gak perlu jadi mahasiswa desain untuk bisa nge-layout dan produksi media sendiri. Dan gak perlu punya modal besar untuk berkarya dan menyebarkan karya. Oh, nikmat apalagi yang kau dustakan.

So, apakah zine masih relevan hari ini? Aku sih haqqul yakin. Dengan semua kesenangan itu dan kemudahan yang ada hari ini, seharusnya lebih banyak zine lahir. Percayalah, membuat zine mudah sekali. Dalam seminggu aku dan teman-teman di Warning coba bereksperimen, dan menghasilkan 6 zine yang siap hadir di BZF besok (2016). Jika ada teman-teman yang tertarik bikin zine, saya siap membantu berbagi referensi zine dan info soal produksi yang murah tanpa mengurangi keindahan konsep yang diinginkan. Dan soal stereotip yang beredar di internet, bahwa zinemaker itu kesepian, nerd, dll., percayalah itu tidak relevan di sini.Teman-teman saya yang buat zine pada nakal-nakal, suka bergaul dan keren-keren, kok.

Aku cinta baca berita, tapi benci dengan media yang ada, ingat hanya ada satu hashtag: #AyoBikinZine

***

Tulisan ini dibuat sebagai tribute untuk zine, yang telah banyak memengaruhi hidupku. Selain sebagai penghormatan untuk teman-teman Bandung ZINE FEST. dan teman-teman yang dulu sering barter Ringo Erwin, Pramilla Deva, Indra Menus, Aldiman Sinaga, Alfian Putra A, Deden Erwin, Ysp Yosep Ysp, Iman Euy, Anitha Silvia, Agung Prabowo, Anto Anto Head, Aditya Budhi Suteja,Choking Hazard, Wasted Rockers, Hit Me dan lain-lain. Hihi.

Ohya, satu minggu sebelum BZF aku juga mencoba bereksperimen membuat 2 zine baru. Sekarang sedang di-layout. Manikera (sebuah zine cinta) dan Salah Cetax edisi khusus.

Sampai Jumpa di Bandung Zine Fest 2016!

 

Sumber: Tomi Wibisono (FB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s