Tentang Konser Titik Nol: Approach Deen Avoid Sins

TITIK NOL adalah judul acara pertama dari rangkaian 10 kota tour Approach Deen Avoid Sins. Approach Deen Avoid Sins memiliki arti Mendekati Agama Menjauhi Dosa. Untuk penilaian tampilan dan bentuk musik, mainstream memang tidak berhak untuk menentukan selera publik. Tetapi tidak bisa dimungkiri adanya pernyataan mainstream bahwa komunitas musik underground identik dengan minuman alkohol, ganja dan narkoba, karena memang benar begitu adanya.

Sebagaimana juga di banyak lingkungan lain yang lebih mainstream, komunitas underground juga tidak luput dari pengaruh pergaulan sex bebas, dimana perzinahan dibenarkan dengan segala upaya pencegahan atas dua konsekuensinya: hamil atau penyakit kelamin. Bagaimanapun, tidak semua orang dalam komunitas underground ini menelan mentah-mentah pengaruh budaya Barat, apalagi yang membentur sisi keimanan atau keyakinan dalam beragama. Sejak masa awal musik underground mulai berpengaruh di sini (Indonesia), selalu ada musisi-musisi yang tidak pernah mencintai musik melebihi agama.

Dan seterusnya akan berlanjut demikian, karena memang agama merupakan bagian dari kehidupan sosial di sini. Acara Titik Nol ini adalah bukti nyata atas keberadaan musisi-musisi tersebut. Seluruh musisi yang terlibat dalam acara ini adalah juga penggagas, penyandang dana dan pengisi acara. Agama adalah urusan pribadi yang sensitif bagi masing-masing individu manusia. Maka berbagai macam pernyataan anti-agama atau bahkan pelecehan terhadap agama, adalah perbuatan yang membentur urusan pribadi yang sensitif itu.

Acara yang diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 2010 bertempat di lapangan outdoor Bulungan, Jakarta Selatan, merupakan reaksi dari adanya sikap anti-agama di dalam komunitas underground, yang bersifat langsung maupun yang dikemas sedemikian rupa dalam karya dan rangkaian kata-kata. Adanya pendapat yang kontra dengan acara ini adalah dari mereka yang belum menyadari, bahwa justru sikap anti-agama lah yang ‘membawa-bawa’ urusan agama dalam bermusik, dengan cara menentang nilai-nilai agama. Maka acara ini adalah pernyataan langsung, bahwa kalau ingin bermusik tidak perlu menentang agama.

Acara ini untuk umum, tidak dibuat khusus untuk orang-orang yang setuju dan sudah mengerti agama saja. Sebagaimana layaknya di banyak acara lain yang memperhatikan kualitas moral, etika dan menjaga kelancaran acara, maka kebijakan no drugs, no alcohol, no marijuana, no sex attitude diterapkan di area lokasi acara.

Komunitas Metal Satu Jari

Seperti ingar bingar beberapa waktu lalu, Urban Garage Festival, Alhamdulillah, telah melahirkan warna sendiri dalam ruang distorsi di belantika musik Indonesia. Melalui acara tersebut, tidak hanya lahir musisi cadas, tapi juga musisi yang berevolusi dalam attitude dan prinsip. Mereka telah membuat tradisi baru yang lebih dari sekedar musik. Acara yang digawangi oleh Komunitas Berandalan Puritan bekerja sama dengan Mogerz Infantry tersebut sukses membuat banyak orang melirik, dengan dinamika pro dan kontra-nya. Tapi apapun yang terjadi the show must go on!

Setelah pembubaran Berandalan Puritan oleh The Roots Of Madinah. Banyak kekecewaan dan kritik, juga pertanyaan lainnya dari para penghuni jagat raya musisi-musisi puritan ini! Tidak hanya The Roots Of Madinah dihinggapi kritik dari atas sikap ‘pembubaran’ Berandalan Puritan, tapi semua proses dalam jaringan puritan ini telah cukup menjadi perhatian serius dari beberapa musisi-musisi senior seperti Tengkorak, Purgatory hingga dewanya metal Indonesia, Irfan Rotor Sembiring.

Arif Attack salah satu frontman The Roots Of Madinah ketika dikonfirmasi berulang kali mengatakan bahwa Berandalan Puritan tidak pernah bubar, hanya coba mengganti nama dan label saja. Karena nama tersebut di pihak lain masih ada yang mengklaim dengan berbagai macam alasan.

Wawan vokalis Aftermath termasuk yang mengkritik keras perihal pembubaran Berandalan Puritan tersebut. “Saya termasuk orang yang kecewa dengan keputusan tersebut,” begitu kata Wawan ketika ditemui di Café Rock Roll Pizza, Bekasi dalam acara silaturahim Trigger Record beberapa waktu lalu.

Dan sikap ini juga diikuti oleh beberapa suporter seperti rapper pendatang baru, Salameh Hamzah, hingga beberapa clothing yang selalu menjadi sponsor penting dalam komunitas ini seperti, End One Clothing dan sebagainya.

Thufail Al Ghifari juga lebih banyak memilih tidak bicara ketika ditanya mengenai proses pembubaran Berandalan Puritan tersebut.

Mogerz Bukan Fansclub Purgatory Lagi

Di sisi lain, informasi juga masuk dari band metal Purgatory. Setelah beberapa tahun ini Purgatory selalu diidentikan dengan sebuah komunitas bernama Mogerz yang lebih banyak dikenal sebagai fansclub Purgatory. Sepertinya setelah pembubaran Berandalan Puritan, isu hangat lainnya adalah sikap keras Purgatory untuk meluruskan bahwa Mogerz bukanlah komunitas fansclub Purgatory. Madmor salah satu lead vocal Purgatory ketika dikonfirmasi saat konser Purgatory di daerah Bintaro Jakarta mengatakan bahwa Mogerz adalah kumpulan para pecinta Rasulullah Saw.

“Jika ada yang mengatakan Mogerz adalah fansclub Purgatory, maka mereka salah besar! Mogerz adalah komunitas pecinta Rasulullah saw,” begitu penjelasan Madmor.

Sesuai dengan kepanjangan dari M.O.G yaitu Messenger Of God yang maksudnya adalah Rasulullah Saw ditambah dengan kata belakang lovers yang huruf ‘s’-nya diubah jadi ‘z’ maka jadilah kata Mogerz lahir.

Salam Metal Satu Jari

Dari sinilah semua dinamika itu semakin mengerucut, hingga akhirnya kami mendapatkan info update tentang komunitas metal satu jari. Komunitas metal satu jari sendiri merupakan penggabungan dari berbagai macam komunitas yang memiliki visi dan misi yang sama, yaitu menjadikan musik dan seni sebagai sarana syiar untuk membentengi generasi mudah dari bahaya westernisasi pemikiran.

Metal satu jari ini memang pertama kali dideklarasikan oleh Ombat (Tengkorak) di acara Urban Garage Festival. Dengan nama inilah komunitas Berandalan Puritan, Mogerz dan beberapa komunitas lain sepakat untuk berjabat tangan dalam satu label Metal Satu Jari.

Untuk perkenalan awal, mereka telah membuat sebuah account group facebook dengan nama Salam Metal Satu Jari! yang kini telah berjumlah lebih dari 1.000 orang anggota pendukungnya. Namun untuk memaksimalkan perkembangannya, Komunitas Metal Satu Jari menolak untuk hanya eksis di dunia maya.

Melalui salah satu event organizer andalan Komunitas Metal Satu Jari, yaitu Mogerz Infantry, mereka menjawab semua kerinduan terhadap Urban Garage Festival. Maka Mogerz Infantry menggelar acara konser tur Approach Deen Avoid Sins pada tanggal 25 Juli 2010 di lapangan outdoor Bulungan, Jakarta Selatan.
Tur yang akan melewati 10 kota di Indonesia ini, Insya Alloh akan digawangi oleh Tengkorak, Purgatory, Kodusa, Qishash, Aftermath, Punk Muslim, Melody Maker, The Roots Of Madinah, Killua, Salameh Hamzah, Barathagut, End Of Journey, Multiple Personal Disorder dan beberapa band yang masih dalam konfirmasi. Bahkan nama Irfan Rotor Sembiring pun telah menjadi isu bahwa beliau akan menjadi salah satu kejutan di acara ini.

Di Balik Approach Deen Avoid Sins

Punk Muslim termasuk salah satu band terakhir yang konfirmasi untuk bergabung. Beberapa kali SMS dari manajemen Punk Muslim masuk ke redaksi kami untuk menanyakan siapa di balik acara Approach Deen Avoid Sins ini? Namun kami mengklarifikasi bahwa portal berita RootsLineNews hanya bertugas sebagai media untuk membantu promosi suport acara ini.

Adapun bocoran yang kami dapat adalah, semua pembiayaan acara ini disuport dari biaya tur Purgatory keliling Pulau Jawa. Purgatory mendedikasikan semua hasil royalti panggung dari tur keliling pulau Jawa-nya kemarin untuk membiayai acara Approach Deen Avoid Sins.

“Tadinya sih sebenarnya kita mau patungan kolektifan, tapi ternyata Purgatory udah ngasih dana infak total. Ya sudah, yang harus kami lakukan selanjutnya adalah mempersiapkan penampilan maksimal,” begitu jawab Thufail Al Ghifari di sela-sela kesibukan rekaman The Roots Of Madinah.

Bounty, bassis Purgatory pun memberi penjelasan. “Approach Deen Avoid Sins ini acara bersama, kebetulan Purgatory dapat rejeki dari tur sana sini, ya inilah untuk kebersamaan kita,” begitu penjelasan beliau ketika ditemui redaksi RootsLineNews di area parkir Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan.

“Ya tapi tetap ada juga dana kolektif dari kawan-kawan pengisi acara,” tambah Odoy, ketua dari EO Mogerz Infantry.

Metal Satu Jari dan Evolusi Mogerz dan Berandalan Puritan

Bagi kami sendiri, tur Approach Deen Avoid Sins ini bukan hanya sebuah konser biasa, tapi memang sarat makna dan kepentingan positif.

“Apalagi kepentingan utama kami kalau bukan menjelaskan seluas-luasnya betapa busuk dan buruknya zionisme dengan semua invasinya baik militer maupun pemikiran,” begitu penjelasan Boyoy (Qishash).

Selain itu juga, moment Approach Deen Avoid Sins inilah jawaban penting bagi akselerasi perkembangan visi dan misi yang pernah diteriakan di Urban Garage Festival, Maret 2010 lalu. Di sinilah fiksasi komunitas puritan ini semakin solid terasa.

“Esensi pembubaran Berandalan Puritan itu sebenarnya bukan masalah isu perpecahan, tapi lebih kepada melatih diri kita untuk tidak terjebak pada fanatisme simbol dan golongan. Dan strategi itu insya Alloh berhasil,” tambah Thufail Al Ghifari.

Sedangkan dari perwakilan Purgatory menjelaskan, “Mogerz itu yang penting dilihat bukan armpad-nya (ikat lengan tanda mogerz) saja, tapi lebih kepada iman dan perilaku yang ngaku Mogerz. Makanya setiap yang mau pakai armpad selalu kami kasih tahu penjelasan apa itu Mogerz melalui kertas kecil di dalam kemasan armpad Mogerz yang mereka beli. Keanggotaan Mogerz sendiri tidak dinilai dari armpad tapi lebih kepada attitude kita sebagai muslim.”

Ombat, vokalis Tengkorak, pun tidak kalah vokal. Beliau bilang, “kalau gue lebih suka kita semua lepas dari semua keterikatan label. Biar nggak kaku kayak partai politik atau ormas. Dan nggak mudah disusupi. Yang penting kita udah tahu dengan siapa kita berkordinasi dan kita jaga niat kita. Kalau semua niatnya karena Alloh, insya Alloh tidak akan nada perpecahan.”

“Ya gue ngerasa sih, sekarang kita mau ganti nama pakai Berandalan Puritan kek, Mogerz kek, atau apapun saat ini sudah nggak ngaruh, karena kita udah lumayan terlatih dalam pendewasaan, dalam menghapi perbedaan pendapat dan perpecahan selalu dikembalikan ke iman kita. Jadi label apapun menjadi nomor dua, selama iman kita kuat, imanlah yang menyatukan kita walau label harus gonta-ganti pakai ini dan itu semuanya nggak ngaruh lagi sekarang,” begitu jawaban ringan Arif Attack.

Tanggapan Terhadap Mereka yang Kontra

Hadirnya Metal Satu Jari juga menuai kontra yang cukup banyak. Isu untuk mempolitisir dan memecah belah komunitas metal, hingga cercaan sok suci, munafik dan sebagainya juga bermunculan. Luthfi gitaris Purgatory menanggapi dengan tegas, “kalau underground itu sebuah gerakan anti kemapanan, kenapa harus ada kemapanan baru dengan pelabelan seakan underground itu harus pagan, harus setan, harus mabok dan sebagainya.”

“Lagipula jika seni adalah kejujuran, banyak orang menganggap bahwa menulis syair mabuk, kebebasan, hedonisme, satanis dan sebagainya adalah kejujuran, begitupun kami. Di musik kami memang jauh dari budaya Islam yang kaffah, karena kami menggunakan musik sebagai media ekspresi kami. Setidaknya dari titik inilah sebuah batu loncatan dimulai. Batu loncatan untuk terus memperbaiki diri. Kami memulai motivasi itu dengan mengubah format lagu dan musik kami. Dan itulah kejujuran bagi kami, itulah titik awalnya, itulah yang dimaksud TITIK NOL dari proses Approach Deen Avoid Sins itu sendiri,” tambah Reno, gitaris Aftermath sekaligus Drumer dari The Roots Of Madinah.

“Lo suka lo datang, lo nggak suka ya nggak usah datang. Gampangkan solusinya? Hahahaha. Lagian kenapa harus merasa terusik? Toh kita nggak ngusik kok. Metal Satu Jari punya definisi dan kulturnya sendiri, kalau nggak setuju, ya boikot saja. Insya Alloh saya jamin ngak ngaruh secuil pun sama kami hahaha,” jawab rapper Thufail Al Ghifari dengan santai.

Sedangkan Rully Mix Mix, drummer Aftermath cuma bilang, “kok mereka jadi norak begitu ya?”

Semua boleh mengeluarkan pendapat. Tapi apapun bentuk penilaiannya, suka atau tidak pada hakikatnya komunitas Metal Satu Jari telah eksis dan siap tampil pada akhirnya. Sebuah kultur baru, warna baru dan semangat baru. Setiap orang boleh bersikap pro dan kontra, namun keputusan akhirnya tetap ada pada para pelaku dari jaringan Metal Satu Jari ini.

Jika mental dan karakter jati diri sudah kuat, apapun bentuk cercaan Metal Satu Jari memang momok ancaman. Dan suka atau tidak, komunitas ini sepertinya memang bukan Cuma sekedar musik saja, tapi sarat makna dan pesan edukasi. Walau secara eksplisit pada bab aplikasi, setiap orang berproses sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dan itulah salah satu hakikat dakwah, yaitu memulai dari apa yang bisa kita mulai untuk memperbaiki diri.

“Kami hanya takut kepada Alloh,” begitu kalau statemen dari band Melody Maker.

Dan inilah jawaban fase selanjutnya dari sebuah warna baru, konser Approach Deen Avoid Sins adalah gerbang pembuka setelah pemanasan sederhana di Urban Garage Festival Maret lalu. Setiap yang tidak suka sangat dipersilahkan untuk tidak datang, karena yang pastinya insya Alloh yang datang pun tidak kalah banyak. Karena konfirmasi panitia hingga hari ini para gerilyawan Metal Satu Jari dari daerah luar Jabotabek pun sudah banyak yang konfirmasi dan memberi dukungan bahkan mereka janji akan terbang ke Jakarta untuk tidak melewatkan momen ini.

Ya di sinilah, dimana semua orang bisa belajar bersama mengenal dan mengamalkan Islam (Approach Deen) dan pelan pelan mengurangi dosa (Avoid Sins). Di sini tempat persaudaraan lahir karena ikatan iman, lahir karena kepentingan hijrah, dimana setiap penghuninya hidup untuk saling memotivasi dalam kebaikan. Tidak perduli apa kata orang, jika perkataan itu hanya untuk melemahkan perjuangan ini, maka menutup kuping lebih baik daripada meladeni kebodohan dengan sikap yang bodoh. Salut untuk komunitas Metal Satu Jari. Pencerahan dan sebuah gerakan yang dibangun dari bahan dasar sebuah perubahan adalah warna tersendiri yang insya Alloh akan segera menginspirasi banyak orang yang haus akan motivasi hijrah, sekaligus menjadi ancaman bagi mereka yang terus menerus membanggakan kebatilan!
Sumber: RootLineNews

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s