Perpustakaan Jalanan: Oposisi (Kota) yang Berserak

Oleh Frans Ari Prasetyo

Praktiknya, ruang publik adalah arena konflik dan perjuangan antara fungsi dan kepentingan yang berbeda. Kontestasi praktik keruangan kota ditandai oleh dualitas kekacauan dan keteraturan[1]. Menanggapi keragaman sosial (Bandung), dan meningkat menuju pertanyaan mengenai perbedaan, akses dan spasialisasinya, praktik penggunaan ruang berusaha untuk memahami bagaimana ruang dan publik beroperasi dalam waktu tertentu. Daripada menganggap ini di skala makro, ada pilihan untuk melihat, mengaktivasi  struktur ruang dan publik perkotaan di skala mikro, seperti jalanan, trotoar atau taman-taman kota. Kesatuan ruang-waktu-aktor bekerja sebagai landmark dari produksi-konsumsi yang dimaknai sebagai ruang publik dan berkembang menjadi ruang heterotopia yang muncul sebagai spatial activation[2].

Ruang-ruang publik kota (Bandung) mulai dan sudah dijadikan arena komoditi privat yang bekerja secara silent melalui skema-skema CSR (Corporate Social Responsibility) atau PPP (Public Private Partnership) yang tentu saja sebagai pertautan yang sempurna antara legitimasi kekuasaan dan struktur kapital. Munculnya ruang-ruang publik yang diproduksi/direproduksi oleh pertautan ini, memang menyuguhkan ruang publik yang dirasa lebih estetik dari sebelumnya serta ‘layak’ untuk dijadikan ruang bersama untuk waktu sekarang ini. Walaupun seiring waktu, ruang-ruang ini menjadi ‘tidak layak’ karena inkonsistensi daya pemeliharaan dari kuasa kota yang disertai menurunnya apresiasi publik akibat personality, kosmetika yang mulai luntur dan merenggangnya pertautan sebelumnya.

Penggunaan ruang publik, khususnya trotoar atau taman kota merupakan upaya dalam menyerap arus informasi pengetahuan dan konstruksi infrastruktur untuk berkontestasi dengan cara berinteraksi sebagai aktor untuk dikontesktualisasikan dengan lingkungan perkotaan. Perpustakaan Jalanan (Perpusja) melakukannya dengan caranya sendiri untuk berkontestasi sebagai bagian dari spatial activation yang bersinggungan dengan hiruk-pikuk publik perkotaan lainnya melalui distribusi pengetahuan, dalam hal ini perpustakaan melalui komoditas buku. Bernama Perpusja, karena perpustakaan ini bekerja temporer di jalanan (kota) termasuk di trotoar atau taman kota yang bersinggungan dengan jalan.

Umumnya, Perpusja beroperasi berhimpitan dengan trotoar dan cenderung berada sudut-sudut taman-taman kota, tanpa mengganggu akses pejalan kaki dan pengguna taman sebagai upaya agar dapat menjadi pusat perhatian dan menggugah publik untuk mampir, membaca buku bersama bahkan berkontribusi lebih lanjut tanpa paksaan dan pamrih.

Perpusja sebagai ruang atau sebagai kelompok (aktor) kerja otonom melakukan inisiasi buttom-up dalam upaya aktivasi ruang kota dengan menghela isu bersama, khususnya pendidikan melalui akses dan distribusi pengetahuan secara informal melalui kerja perpustakaan publik. Aktivasi ruang-ruang kota ini memberikan penegasan atas pengambilalihan hak warga kota atas (ruang) kotanya. Aktivasi melalui aktivitas perpustakaan (temporer) yang menegaskan hak-hak warga dan kepentingan yang lebih luas dari warga kota (Bandung), terhadap dominasi negara/kota atau privatisasi neoliberal dalam konteks ruang maupun substasnsi yang bersingungan dengan isu perpustakaan (di jalan), yaitu pendidikan dan distribusi pengetahuan melalui komoditas buku. Upaya realisasi dari aktitivatas Perpusja di ruang publik  untuk menjadi tempat bertutur, berbagi dan bertukar bahan bacaan, menyediakan akses buku dan bacaan yang mudah bagi semua orang, mengadakan semacam kegiatan diskusi, bedah buku, skill sharing, atau semacamnya di setiap pertemuannya[3].

Fokus pada margin perkotaan yang secara fisik menempel pada budaya, jauh dari lanskap simbolis dominan dan bergengsi dari narasi kota ‘kelas dunia’ yang dianugerahkan[4]. Sesuatu hal yang sangat berlaku di kota (Bandung) dewasa ini. Perpusja mencoba menempelkan (ke)budaya(an) melalui seni menggunakan ruang publik, seni membaca, seni berbagi ruang dan waktu serta pengetahuan melalui komoditi buku yang dipinjamkan dan diperbincangkan. Mengaktivasi ruang dan melakukan aktivitas dengan label perpustakaan jalanan, walaupun label ini tidak penting, tapi setidaknya menjadi identitas bersama atas sesuatu hal yang konsisten dilakukan sejak November 2010 melalui upaya pertukaran informasi dan pengetahuan melalui sistem perpustakaan yang berada di jalanan (dalam hal ini jalanan bisa dianggap sebagai ruang publik). Setting jalanan ini kemudian bergeser lebih luas menuju ke ruang–ruang publik kota yang awalnya sebagai tempat aktivitas leisure menjadi ruang edukasi alternatif, bahkan cenderung oposisi dari arus dominan yang ada. Perpusja sebagai upaya berjenis tindakan politis terhadap kota, menjadi secuil oposisi yang berserak dalam pusaran politik perkotaan. Sebagai kelompok otonom dengan wacana radikal yang menyasar bentuk-bentuk demokrasi partisipatoris yang lebih berorientasi kepada kemasyarakatan (publik)[5].

Tetapi, tidak ingin disebut oposisi nyatanya Perpusja melakukan kerja oposisi terhadap penggunaan ruang-ruang publik dan juga memberikan suguhan alternatif (kalo boleh juga disebut oposisi) ruang membaca dalam bentuk perpustakaan (temporer) jalanan yang berbeda dengan arus domiman perpustakaan yang diproduksi oleh struktur kekuasaan dan kapital yang kental. Memberikan dinding antara inisiasi melalui label dari upaya kekuasaan dan label dari upaya warganya. Tidak adanya pola-pola administrasi dan hierarki, menjadikan Perpusja bekerja secara otomom dengan kekuatannya sendiri dan semua orang bisa berpartisipasi tanpa syarat dan pamrih. Do It Yourself, begitulah kira-kira bagaimana mesin Perpusja ini bekerja. Ikut meramaikan aktivitas Perpusja dengan hadir, mengobrol, berbagi pengetahuan dan pengalaman juga diskusi tentang sebuah buku yang dilakukan setiap hari Sabtu sore hingga larut malam sampai mendonasikan buku untuk sirkulasi perpustakaan. Selain itu, praktek oposisi juga bisa dilihat dari jenis komoditi buku-bukunya yang ditampilkan, hampir 70% bermuatan wacana kritis,  tetapi buku-buku dengan topik dan tema beragam pun ditampilkan disini layaknya perpustakaan di gedung-gedung atau toko buku versi kaki lima. Walau jumlahnya sedikit, mulai dari wacana kanan jauh sampai kiri mentok ada. Dari buku tentang Sukarno,Tan Malaka, Suharto, Steve Jobs hingga George Soros. Dari majalah Rolling Stone, majalah Bobo hingga majalah Hidayah, dari buku kalkulus untuk universitas hingga buku pelajaran SMP/SMA, dari buku akuntansi dan pajak, tuntunan ibadah hingga buku-buku motivasi seperti cara cepat menjadi sukses/kaya.

Di sini juga dilakukan pertukaran fisik dan pengetahuan terkait produk subculture lainnya seperti zine, stiker, artwork, t-shirt, kaset, CD dll. Terkadang Perpusja juga melakukan kerja dengan bersama Lapak Gratis yang menyediakan sistem tukar barang atau ambil yang diperlukan dan berikan yang tidak diperlukan kepada orang lain yang memerlukan. Dikarenakan berada di ruang publik yang tidak terbatas orang untuk berkunjung, banyak buku yang hilang tapi banyak pula yang datang karena sumbangan dari berbagai pihak. Tapi inilah skema kerja Perpusja, semua berdasarkan etos pertemanan, konsensus bersama dan kepercayaan, serta tidak ada hierarki karena semua yang terlibat berada setara dan sebagai volunteer.

Tentu saja upaya Perpusja ini bukan tanpa kendala yang mengancam konsistensinya. Faktor internal seperti inkonsistensi aktor terkait personality dan waktu aktivitasnya serta terbatasnya jumlah buku yang menjadi sirkulasi komoditi yang dipertukarkan dari perpustakaan (jalanan). Sedangkan, faktor eksternalnya seperti pengetatan penggunaan ruang publik oleh kekuasaan kota melalui skema kerja ‘jam malam’ dengan dalih untuk pengamanan kota sehingga memaksa aktivitas di ruang publik termasuk yang terjadi pada Perpusja akan dikurangi bahkan dibubarkan oleh pihak keamanan (polisi/satpol PP/militer), padahal kegiatan ini berada di ruang publik yang sah dan dalam waktu yang senggang/libur (weekend) dan hal ini pernah terjadi pada tahun lalu (2015). Hal-hal diatas ini yang akan menjadi rintangan-rintangan yang terjal dalam inisiasi buttom-up tanpa pamrih, tanpa pesanan politik, tanpa sponsor dan tanpa birokrasi tapi tetap politis, kritis dan berwacana dalam aktivasi publik dan ruang publiknya. Sebuah upaya yang sangat remeh-temeh, sangat berdampak kecil dan tidak signifikan terhadap indeks-indeks kota, tetapi memberikan atmosfer lain dalam kehidupan ruang dan masyarakat (kota), sebagai mesin sosial dalam sabuk transmisi perubahan masyarakat kota yang lebih kontemporer dan urbanis.

Menantang dan berpikir ulang mengenai ruang publik, aktivitas (publik) otonom, hingga social movement dalam konteks yang lebih luas termasuk Perpusja ini untuk memahami pertanyaan sentral dalam perdebatan kebijakan (kota). Meminjam pengertian yang disediakan Lefebvre[6] maka ruang publik dalam konteks ini adalah  jalanan atau trotoar merupakan “suatu ruang bermain yang berkoeksis dan memfasilitasi ruang pertukaran dan sirkulasi politik-kultural”. Ruang (trotoar/jalanan yang menjadi bagian dari Perpusja ini berkerja) tidak bisa lagi dipandang secara telanjang hanya sebagai ruang dengan fungsi fisikal-material mobilitas warga, lebih dari itu, ruang tersebut menyediakan kemungkinan-kemungkinan partisipasi politik-kultural bagi warganya, tidak hanya menjadi objek melainkan memimpin peran dalam pengaturan interaksi sosial, dan reflektif aktif dalam proses sosial. Ruang yang dimaksud itu adalah ruang subversi yang disediakan oleh lansekap perkotaan untuk kemudian diapropriasi oleh Perpusja untuk berposisi dengan menjadi bagian yang berserak di kota dalam melakukan peran sosial-politiknya di ruang publik (politis).

 

Catatan akhir

[1] Lihat Prasetyo, Frans Ari. (2015). Sidewalks : Production of Thirdspace in Contemporary Urban Public Space. Japan Foundation

[2] Ibid. p3

[3] Lihat https://perpustakaanjalanan.wordpress.com/2013/09/13/tentang-perpustakaan-jalanan/ diakses 20 jan 2015)

[4] Lihat Hall, Suzanne. (2012). City, Street and Citizen: the Measure of the Ordinary: Routledge.

[5] Lihat Uhlin, Andres. (1997). Indonesia and the Third Wave of Democratization : The Indonesia Pro-Democracy Movement in A Changing World. London. Curzon Press.

[6] Lihat Lefebvre, H. (1991). The Production of Space (D. Nicholshon-Smith, Trans.): Oxford : Blackwell.

 

Sumber:

Perpustakaan Jalanan (22 Januari 2016)

Frans Ari Prasetyo (22 Agustus 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s